Senin, 18 Mei 2009

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2640

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (16 Messages)

Messages

1.1.

File - Moderator Sekolah Kehidupan

Posted by: "sekolah-kehidupan@yahoogroups.com" sekolah-kehidupan@yahoogroups.com

Sun May 17, 2009 3:12 am (PDT)




(Moderator) INFO: Cara Mudah Baca Email

Para anggota milis sekolah-kehidupan Yth.,

Dari pengamatan yang kami lakukan, jumlah postingan yang masuk ke milis kita rata-rata 20-30 email sehari baik berupa artikel maupun postingan lainnya. Sehubungan dengan itu maka kami menyarankan bagi semua anggota agar email-box tidak cepat penuh maka disarankan agar mengubah status posting-emailnya dari individual email menjadi digest atau web-only. Tetapi dari pengalaman yang kami lakukan, hal yang terbaik bila kita memilih option web-only. Dengan pilihan ini maka kita hanya bisa membaca seluruh postingan dengan cara membuka mail site, juga untuk membalas postingan, serta mengirim email langsung ke si penulis.

1. Cara mengubah sistem info email dari individual email ke digest atau web-only
Ketik http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan,
Sign in dulu, kemudian klik Edit Membership
Kemudian di bawah ubah pilihan dari individual email ke pilihan digest atau web-only.
Kemudian akhiri dengan klik tanda SAVE

2. Cara mudah untuk membuka mail-group.
Bila kita sudah ingin memilih dengan web-only, berarti informasi semua postingan harus
dilihat di mail site. Untuk itu ketik http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan.
Sign in dulu, kemudian klik view all, untuk melihat semua postingan dari dulu yang paling
lama sampai yang terbaru.
Untuk memudahkan membuka mail-site kita di waktu-waktu berikutnya maka alamat mail
tadi yang di awali dengan http://....., sebaiknya di book-mark atau di masukkan dalam
daftar favorite (ada di ujung atas sebelah kiri layar monitor). Klik Favorites, dan add.

Demikian yang dapat disampaikan. Terima kasih.

Salam Hormat,
Moderator Bersama


2a.

Re: [catcil] Dengan Menikah, Bisa Berubah

Posted by: "aris El Durra" apri_eldurra@yahoo.com   aris_eldurra

Sun May 17, 2009 3:34 pm (PDT)



Dicoba aja mbak..ntar aku lihat..he..he....
Tapi Benar juga emang berubah kalau sudah menikah...

2b.

Re: [catcil] Dengan Menikah, Bisa Berubah

Posted by: "deenie_25" deenie_25@yahoo.co.id   deenie_25

Sun May 17, 2009 3:34 pm (PDT)



hm, kalo gitu kpan ya aku bisa 'berubah', hehehe ...

3.

TIPS MENULIS CERPEN

Posted by: "radinal88" radinal88@yahoo.co.id   radinal88

Sun May 17, 2009 3:36 pm (PDT)



kepada teman2 yang kepingin untuk menulis cerpen, berikut tips dari saya yang
dimuat di menuliskreatif.osolihin.com

silahkan di klik...

http://menuliskreatif.osolihin.com/2009/05/tips-menulis-cerpen/

saya menunggu teman2 disana untuk berdiskusi dan berkomentar!!! jangan sampai
ketinggalan...

Radinal Mukhtar Harahap
Alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah Medan

Blog
http://kumpulan-q.blogspot.com

No. HP
081331185527

4.

[sekolah kehidupan] (catcil) I LOVE THEM

Posted by: "Lia Anggraini" ao_zora90@yahoo.co.id   ao_zora90

Sun May 17, 2009 3:38 pm (PDT)




I LOVE THEM
Oleh : Lia_chan

Tidak terasa air mata ini mengalir saat mendapatkan jawaban dari Manager-san1 saat aku menanyakan tentang keluarganya.
"I don't have brother and sister. I'm just single in my family."
"How about your father?"
Agak lama menunggu jawaban darinya.
"My Dad and Mom had died because car accident."

Saat itu juga air mata ini tumpah ruah. Tidak memiliki orang tua dan seorang yatim piatu. Mendengar cerita dari Manager-san, seketika aku teringat dengan Ayah dan Ibu. Kadang-kadang hati ini merasa tidak suka, jika salah satu dari mereka berdua menyuruh melakukan pekerjaan rumah di saat aku sedang tidak ingin diganggu seperti belajar. Jika begitu, aku hanya diam dan melakukan pekerjaan itu dengan wajah cemberut. Dan kadang kala pula, saat keinginanku tidak dipenuhi, aku hanya diam dan tidak mau mendengarkan perintah mereka.

Hati ini miris sekali mengingat apa saja yang telah aku lakukan pada mereka. Padahal jika dibandingkan dengan pengorbanan beliau berdua selama ini, apa yang kulakukan belum bisa membalas atas kebaikan dan pengorbanan mereka.

Teringat dengan Ayah yang setiap hari selalu mengantar dan menjemputku semenjak aku duduk di bangku SD sampai dengan SMA. Ditambah lagi saat pergi ke tempat bimbel. Dua belas tahun beliau setia dengan motornya untuk mengantar diriku pergi menuntut ilmu. Dan hati ini miris saat tahu bahwa aku belum pernah sekalipun mengucapkan rasa terima kasih atas perjuangan beliau itu. Wajahnya tidak pernah menyiratkan kelelahan jika aku minta diantar ke suatu tempat bahkan saat aku ingin pergi menaiki angkutan umum, beliau masih setia menawarkan jasanya. Beliau tidak ingin aku merasa kecapekan dan berpanas-panasan dibawah terik matahari.

Jika aku minta ingin mengikuti les pelajaran ini, beliau pasti akan mengabulkan. Padahal saat itu aku tahu bahwa beliau udah pensiun dari tugasnya sebagai seorang pegawai negeri. Sudah dapat dipastikan bahwa gajinya tidak sebanyak saat ia bekerja dulu. Jika dipikir-pikir, aku yang terlahir sebagai anak bungsu merupakan anak yang cukup beruntung dari dua kakakku lainnya. Akulah satu-satunya anak yang sudah enam tahun mengikuti bimbel diluar dibandingkan dengan dua kakak lainnya yang hanya mengikuti bimbel saat mereka berada di kelas tiga SMA. Ayah memang tidak peduli berapa uang yang harus ia keluarkan, beliau hanya ingin satu hal : semua anak-anaknya harus menjadi orang yang sukses dan lebih baik kehidupannya dari beliau yanga hanya seorang pegawai negeri. Dan semakin aku mengadakan perjalanan waktu ke belakang, semakin banyak saja pengorbanan yang sudah beliau lakukan untukku. Dari kecil sampai sekarang, apa pun yang aku inginkan pasti beliau akan
kabulkan. Sunggu besar cinta beliau selama ini kepadaku.

Teringat dengan Ibu, aku masih belum bisa membalas jasa kebaikannya dari aku masih dalam kandungan bahkan menginjak dewasa sekarang ini. Aku merasa bersalah jika diriku masih suka membantah dan tidak mau melakukan pekerjaan rumah yang beliau suruh kepadaku. Ibu tidak pernah sama sekali meminta balas jasa kepada kami, anak-anaknya, atas pengorbanan beliau. Sehabis pulang sekolah, diatas meja sudah terhidang makan siang yang sudah dibuatkan Ibu sebelumnya. Jika beliau tidak ada, mungkin aku akan kelimpungan memasak makanan apalagi mengingat jadwal pulang sekolah yang selalu sore setiap harinya. Jika Ibu membuat makannan yang aku tidak sukai, aku hanya ngedumel dalam hati dan tidak makan saat itu juga.

Astaghfirullah.. Ya Allah ampunilah atas segala dosa hamba terhadap beliau berdua. Hamba selalu lupa akan pengorbanan mereka berdua yang sampai saat ini belum bisa hamba hitung berapa banyaknya. Yang bisa hamba lakukan hanya mendoakan mereka berdua. Jadikanlah seluruh pengorbanannya kepada kami, anak-anaknya, menjadi amalan kebaikan yang akan membawa mereka memasuki surga-Mu. Berilah kesehatan,umur, dan kesempatan untuk menyaksikan hamba menjadi orang sukses.

Air mata ini masih mengalir. Aku masih beruntung dari Manager-san, masih memiliki Ayah dan Ibu. Dan sampai sekarang ini, mereka berdua masih sehat wal afiat. Tanpa bantuan mereka, mungkin aku tidak bisa apa-apa. Makan siang akan jadi terlambat jika Ibu tidak ada, pergi ke sekolah akan terlambat jika tidak ada Ayah yang mengantarku. Sungguh banyak lagi bantuan dan pengorbanan mereka kepadaku.

Ayah, Ibu, aku sungguh mencintai kalian berdua...
Moga Allah memberikan balasan yang setimpal atas pengorbanan kalian berdua. Dan maafkanlah anakmu ini...

1. My future Husband (I called him 'Manager-san')

http://aozorahime.wordpress.com

Berbagi video sambil chatting dengan teman di Messenger. Sekarang bisa dengan Yahoo! Messenger baru. http://id.messenger.yahoo.com

5.

(etalase) Lomba Cerpen SIFIC

Posted by: "selvya mulyani" selvyamulyani@yahoo.com   selvyamulyani

Sun May 17, 2009 3:39 pm (PDT)



SCIENCE FICTION 2009
Selasa, 28 April 2009 17:00 WIB

"Fiksi ilmiah akan memungkinkan kita semua untuk mengupas realitas dan menemukan kebenaran di dalamnya."(Arthur C. Clarke)

Fiksi ilmiah adalah suatu bentuk fiksi spekulatif yang terutama membahas tentang pengaruh sains dan teknologi yang diimajinasikan terhadap masyarakat dan para individual. Di dunia sastra Indonesia, genre yang satu ini agak jarang disentuh. Tetapi di dunia sastra internasional, genre ini adalah genre yang sudah ada sejak pertengahan Abad 19. Jules Verne, yang kerap disebut-sebut sebagai Bapak Fiksi Sains menerbangkan balon udara dalam cerita mengelilingi dunia dengan balon selama delapan belas hari, sebelum Zeppelin menemukan balon udara; membantu NASA meluncurkan Apollo 11 dalam novelnya From The Earth to the Moon. Verne tidak menganggap novel-novelnya hanyalah khayalan. Dia yakin ada ilmuwan yang dapat mewujudkan imajinasi-imajinasinya itu.

Di situlah letak keindahan sebuah fiksi-sains, bercerita melebihi jamannya. Yang patut digaris bawahi adalah pandangan pengarang tentang masa depan tidak hanya berpijak pada sudut pandang imajinasi semata, melainkan juga dari kaca mata ilmu pengetahuan. Berdasarkan kalkulasi akurat tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan dimasa sekarang, pengarang menciptakan sebuah imaji masa depan tentang keadaan masyarakat atau makhluk lain yang berada di luar khayalan manusia di abadnya. Kemudian timbul pula pertanyaan, mengapa di Indonesia masih sedikit penulis fiksi ilmiah? Apakah karena para ilmuwan kita tidak memiliki bakat mengarang dan para pengarang kita tidak punya latar belakang sains.

Menjawab pertanyaan ini maka Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFIS) Universitas Brawijaya, Malang akan mengadakan acara Science Fiction dengan

Tema : Leading our future with imagination

Dengan Sub Tema Sebagai berikut:

- Bagaimana sains merubah masa depan Indonesia
- Mitologi Indonesia dalam Bingkai Sains
- Indonesia tahun 2030

Peserta : Umum

Biaya Pendaftaran : Rp 20.000,00/cerpen

Pembayaran : a.n Selvya Mulyani
Bank BCA KCP Dinoyo
No rek 3150712717

Pengumpulam : 4 Mei - 4 Juni 2009

Persyaratan cerpen yang dilombakan :

- Cerpen harus karya asli penulis/pengarang; bukan terjemahan atau saduran
- Cerpen mengandung unsur sains, pendidikan, tidak bermuatan pornografi dan SARA.
- Cerpen belum pernah dipublikasikan di media massa, dan tidak sedang diikutsertakan dalam perlombaan lain
- Kertas A4, margin 4-3-3-3 spasi 1,5. Panjang 4 - 8 halaman; Times New Roman font 12
- Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 judul cerpen sesuai dengan tema
- Pendaftaran Rp. 20.000 / Cerpen
- Karya dikirim dalam bentuk hard copy dan harus disertai soft copy (dalam CD), formulir pendaftaran yang bisa di download pada situs http://himafis.brawijaya.ac.id/sific2009.html dan fotokopi pengenal (KTP/KTM/SIM/ Paspor), dan bukti pembayaran.
- Naskah dikirim ke Panitia Science Fiction (SIFIC) Kesekretariatan Himpunan Mahasiswa Fisika Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya. Jl. Veteran no 1 Malang 65145 atau atau bisa melalui email himafis@gmail.com (termasuk biodata, fotokopi pengenal (KTP / KTM / SIM), dan scan bukti pembayaran)
- Batas terakhir pengiriman naskah 4 Juni 2009 (Cap Pos)
- Semua naskah cerpen yang masuk sudah menjadi hak milik panitia
- Dipilih 30 nominator yang cerpennya akan diterbitkan oleh Bisnis2030 Online Publisher (Internet Business Provider)

Webstore: www.bookoopedia.com

Aspek- Aspek yang dinilai adalah :

- Base on Science (30%)
- Kesesuaian dengan tema (25%)
- Unsur-unsur Instrinsik (plot, setting, penokohan dll) (25%)
- Pesan moral (25%)

Hadiah

Hadiah : Juara I Rp 700.000,00 + Piagam + Trophy
Juara II Rp 500.000,00 + Piagam + Trophy
Juara III Rp 300.000,00 + Piagam + Trophy

Bagi 27 nominator yang terpilih akan mendapatkan kenang-kenangan dari panitia.

Dewan juri

1. Evi Widiarti { dari Bisnis2030, PIC Divisi Penerbitan buku POD (Printing On Demand)}
2. Ir. D.J Djoko. H.S M.Phil.,Ph.D (Dosen Fisika, Pelaku seni, dan Pemerhati Social Science)

Contact Person:

1. Selvya Mulyani ( 085731800901 )
2. Irwan ( 085646664052 )
3. Eka ( 085259365207 )

Pengumuman pemenang Juara I, II, III dan nominator akan diumumkan pada acara seminar kepenulisan "Fiksi Ilmiah dalam sastra indonesia" pada tanggal 13 juni 2009 atau bisa langsung dilihat web HIMAFIS : http://himafis.brawijaya.ac.id

6.

[cerpen] sms ifah

Posted by: "ifan yudianto" ifanxlv@yahoo.com   ifanxlv

Sun May 17, 2009 3:40 pm (PDT)



Rasanya jatuh hati.
Pernahkah kalian menyukai seseorang yg senantiasa kebetulan hadir di hari-hari anda?
Inilah kisahku yang singkat tentang bagaimana aku tertarik kepada seseorang yg aku panggil adik.
Aku hoby chatting, kbetulan aku kenalan dgn seseorang yg bernama ifah. Anakny polos dan kalem dgn jilbabnya berwarna putih, sungguh manis foto yg kudapat darinya. Sesekali aku telepon dan sms, lama kelamaan menjadi lbh keseringan. Hingga akhrny seperti pinang dibelah dua, kompak dlm diskusi apa saja,sampai ke hal-hal keseharian dari cuci muka sampai cuci kaki.
Tiap hari lebih kurang 3 jam waktuku bersama ifah, ada saja bhn pembicraan. Sayang jarak bgt kejam terhadap kami,hingga sampai saat ini kami belum ditakdirkan untuk ketemu langsung &bertatap muka. Hanya foto mungil dan beberapa puluh lembar surat yg menjadi bukti keakraban kami.
Ifah baru semester kedua dan aku sendiri sudah menginjak semester terakhir, persamaan jurusan yg diambil membuatku sedikit berbangga karena aku dapat mengajari ifah apa yg belum dia ketahui, aku senang, rasanya aku memiliki adik perempuan.
Ifah juga bukan kepalang senangnya karena tahu kalo aku telah menjadi kakaknya, walau bukan kandung. Hari-hari berlalu dgn indahnya, hubungan kami masih terjaga, terkadang berbumbu canda dan duka, kami tetap setia walau bukan pacaran.
Setelah aku wisuda, dengan penuh rasa canggung, aku mencoba menembaknya, atau lebih tepatnya menjadikannya kekasih.
Dengan hati resah aku tunggu jawaban yg dia janjikan pada malam ini.
Sms masuk seperti biasanya. Aku senang sekali! Ini dari adik ifah. Asik

"Assalamualaikum wahai kkqu tersayang,
Adik senang sekali bahwasannya kk sgt menyayangiku, dan demikian pula adik. Sesungguhny Ifah kini sedang dlm kebimbangan, ada ikhwan yg melamar adik. Dan hari ini pula ifah hrs memblas lamaran tsbt.sebenarny ifah syg kakak,tetapi ifah lebih sayang ALLAH. Ifah tdk ingin trjbk oleh hawa nafsu dgn berpcrn, maka ifah menerima lamran tsb. Smga kk2 sadar&mau memaafkan adikmu.. ws"

7.

[sekolah kehidupan] [catcil] (pengalaman) Diantara Dua Pilihan~PART

Posted by: "Lia Anggraini" ao_zora90@yahoo.co.id   ao_zora90

Sun May 17, 2009 3:41 pm (PDT)



Diantara Dua Pilihan ~PART 2~
Oleh : Lia_chan

Ini kelanjutan kisah Lia. Minggu lalu, akhirnya si orang Jepang ini yang pengen banget jadi Lia menjadi istrinya berkata, bahwa dia akan menunggu Lia sampai Lia lulus dari Undergraduate. Lia sama sekali nggak menyangka melihat keteguhan hatinya itu. Kalo dihitung-hitung berarti dia bakalan nunggu Lia selama enam tahun atau tujuh tahun paling lama. Subhanallah, saat Lia tahu dengan hal itu, Lia masih belum percaya dengannya sampai sekarang.

Dan bukan itu yang membuat Lia masih belum percaya dengannya atau lebih tepatnya penuh dengan kejutan adalah bahwa dia adalah seorang muslim. Lima belas tahun yang lalu, ia memilih islam sebagai agama satu-satunya yang ia yakini kebenarannya. Dan walaupun dia seorang muallaf, dia memiliki hafalan Qur'an yang lebih baik dari Lia.

Melihat keteguhan hati dan keinginannya untuk menjadikan Lia menjadi istrinya, Lia hanya bisa berdoa. Hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa membukakan kebingungan Lia saat ini. Lia nggak tahu apakah dia memang benar jodoh Lia di saat enam atau tujuh tahun yang akan datang nanti? Waktu selama itu kan bisa mengalami perubahan. Bisa saja dia mengubah niatnya dan mendapatkan yang lebih baik dari Lia. Kita tidak tahu pasti apa yang akan kita hadapi nanti atau esok hari. Jodoh itu memang tidak akan kemana, pasti suatu saat nanti akan datang dengan sendirinya.

Tiba-tiba Lia teringat dengan pembicaraan sama teman setahun yang lalu,
"Lia udah punya pacar?" tanya seorang teman.
"Nggak punya. Tapi aku punya calon suami di Jepang. Dia sedang menungguku saat ini." Di dalam hati Lia hanya bercanda, tidak serius sama sekali.

Sekarang Lia hanya tersenyum sendiri mengingat obrolan yang berisi candaan itu. Apakah perkataan itu memang terjadi sekarang? Perkataan adalah doa. Dan bisa jadi orang Jepang yang Lia bilang itu adalah dia. Wallahuallam...

Tapi, teringat lagi dengan impian waktu kecil, yaitu pengen punya suami yaitu orang Jepang.

http://aozorahime.wordpress.com

Yahoo! Mail Sekarang Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya! http://id.mail.yahoo.com

8.

[sekolah kehidupan] [catcil] (pengalaman) Diantara Dua Pilihan

Posted by: "Lia Anggraini" ao_zora90@yahoo.co.id   ao_zora90

Sun May 17, 2009 3:43 pm (PDT)



Diantara Dua Pilihan
Oleh : Lia_chan

"Would you be my wife?"
"What????"
I'm completely surprised when I got that question. Never expected! Lia bingung harus menjawab apa. Baru kenalan selama setengah jam, kok udah mengajukan pertanyaan diluar dugaan. Akhirnya, Lia hanya anggap lalu pertanyaan itu dan hanya diam tidak menjawab.

NIKAH. Satu kata itu memang belum pernah Lia pikirkan sama sekali. Rencana nikah udah ada tapi hal itu akan terjadi tujuh tahun mendatang, lebih tepatnya saat Lia udah menyelesaikan kuliah. Tapi, jika diajukan pertanyaan seperti itu Lia jadi bingung setengah mati. Gimana nggak bingung? Lia masih berumur delapan belas tahun dan lagipula masih fokus dengan studi. Apalagi masih banyak impian yang ingin diraih selama tujuh tahun itu. Membayangkan Lia akan menikah dini, Lia nggak sanggup sama sekali. Menikah itu kan butuh persiapan yang lebih matang. Bukan hanya kesiapan kita membina rumah tangga tetapi juga lebih kepada mental dan jiwa.

Walaupun sampai sekarang orang yang mengajak Lia nikah itu masih mengajukan pertanyaan yang sama, Lia hanya berkata bahwa Lia belum siap sama sekali. Karena Lia ingin fokus dengan studi dan tidak ingin terganggu dengan hal itu. Memilih antara studi dulu baru nikah atau sebaliknya memang sebuah pilihan yang cukup sulit dan tidak boleh main-main dalam mengambil keputusan. Kalo niat memang sanggup membina rumah tangga sekaligus kuliah, hal itu tidak masalah. Tapi jika niat emang belum matang dan belum siap, jangan dipaksakan Yah, intinya Lia memang belum siap seratus persen jika harus nikah lalu kuliah. Mengingat Lia itu orangnya yang dalam belajar tidak bisa diganggu dengan hal-hal lain. Harus benar-benar konsentrasi penuh. Sedikit saja terganggu, bisa hancur semua apa yang udah dipelajari Jika Lia milih nikah lalu kuliah, nanti malahan penyesalan yang akan datang disebabkan sifat Lia yang harus konsentrasi dalam belajar. Begitulah pikir Lia waktu itu.

Orang yang mengajak nikah ini adalah orang Jepang ^^. Seorang manajer di sebuah perusahaan mobil ternama di Jepang. Dari segi materi, dia memang tidak mengalami kesusahan. Saat ditanya kenapa nggak milih wanita Jepang untuk dijadikan istri, ia menjawab ia pernah dikhianati oleh seorang wanita dan membawa seluruh uangnya. Semenjak itulah, dia tidak percaya lagi dengan wanita Jepang manapun dan hanya menginginkan seorang istri dari Indonesia atau Filipina..

Sampai sekarang, dia masih tetap mengajukan pertanyaan yang sama. Saat Lia bilang Lia adalah seorang muslim, dia tidak peduli dengan hal itu.. Ia hanya menginginkan Lia menjadi istrinya. Dan saat Lia bilang dia belum dewasa dan belum siap, dia menjawab tidak peduli dengan hal itu dan akan bisa mengatasinya.

Yang bisa saat ini Lia lakukan hanyalah berdoa. Jika memang dia jodoh Lia, pertemukan kami dengan baik. Tapi, kalo nggak tidak masalah. Yang penting Lia hanya menyerahkan semua pada-Nya. Jodoh masing-masing sudah ditentukan sebelum kita lahir dan sudah tertulis di dalam Lauh Mahfudz. Jadi, yang Lia lakukan hanya menunggu sampai saat paling terindah itu yaitu pernikahan datang ke dalam kehidupan Lia. Semoga Allah memberi kemudahan.

Tapi, kalo menurut pembaca apakah Lia harus menerima orang Jepang itu atau tidak?

http://aozorahime.wordpress.com

Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

9.

FW: [eXplore aLong eVolution] Kos

Posted by: "ifan yudianto" ifanxlv@yahoo.com   ifanxlv

Sun May 17, 2009 5:21 pm (PDT)





----- Original Message -----
Subject: [eXplore aLong eVolution] Kos
Date: Sat, 16 May 2009 7:07:13
From: xLv <ifanxlv@gmail.com>
To: <ifanxlv@yahoo.com>

Di sebuah kamar syarat akan ketenangan, ada tv 14 inchi, ada buku di rak yang aku koleksi sejak kuliah di universitas swasta di bandung, namun sayang, mengingat untuk melanjutkan ke jenjang sarjana memerlukan biaya yang tidak sedikit maka aku terpaksa rehat sementara, menunggu uang kembali terkumpul. Kembali ke kamarku yang jika ada teman berkunjung akan terasa pengap, aliran udara hanya berputar saja. Sering kali pintu kamar aku biarkan terbuka, namun tidak begitu lama. Tempat tidurku yang empuk lengkap dengan perkakas penanak nasi. Semua serba ada di kamarku. Inilah rupa kamar kos, penuh sesak barang rumah tangga yang seharusnya tidak ditempatkan dalam satu ruang. Benda kesayanganku adalah komputer, jendela antar dunia mimpi dan nyata, yang merupakan temanku dikala sepi. Aku serasa hidup di duniaku sendiri. Kamar ini adalah tempat dimana aku bisa habiskan waktu, dengan membaca buku, nonton film, dengerin musik, membuat karya tulisan yang kelak akan
membuatku kaya raya terlepas dari belenggu hutang dan kebodohan. Aku benci dikuasai uang, aku ingin uang yang bertekuk lutut di hadapanku. Tampa uang studyku akan sirna, namun aku sungguh benci diatur uang. Ada teman yang mengingatkanku agar tidak terlalu banyak berada di kamar kos, bisa-bisa ketinggalan jaman kata mereka. Beberapa bulan berkarya, akhirnya novelku jadi dan beruntung lagi, ada penerbit yang tertarik, aku sangat senang, namun tidak disangka-sangka aku didera sakit yang berkepanjangan mataku sakit dan tubuhku lemas karena kurang olah raga, itu kata dokter. Sekarang aku harus opname di rumah sakit, dan uang hasil penjualan buku novel habis digunakan untuk biaya pengobatan, lagi-lagi aku harus menunda melanjutkan kuliah s1, dan parahnya uang kuliah juga harus dikumpulkan dari awal lagi. Andai saja aku kemarin mau keluar kamar beberapa jam dalam sehari. Tentu semua ini tidak akan terjadi. Doakan kesembuhanku! Makasih. Special thanks to kak
Novi oleh A A bil Haq
--
Posted By xLv to eXplore aLong eVolution at 5/16/2009 02:07:00 PM

10.

Gaji 233 M Sebulan Menganggap Dirinya Bermewah-Mewahan Jika Makan Le

Posted by: "MIFTAH ROHMAN" miftah_madiun@yahoo.co.id   miftah_madiun

Sun May 17, 2009 5:21 pm (PDT)





Gaji 233 M Sebulan Menganggap Dirinya Bermewah-Mewahan Jika Makan Lebih Dari
Dua Lauk Dalam Satu Hidangan

 

 

 

Sejak lama saya mengenal [lebih tepatnya
beragama] Islam dan berusaha mengenal perjalanan hidup Rasulullah dan para
sahabat. Tapi saat saya membuka website http://spiritualpreneurship.com/?id=sirohproperti  saya mendapatkan fakta
Umar sang sahabat utama Rasul adalah seorang milyarder dengan penghasilan 233 M
sebulan. Meskipun penghasilan beliau sebesar itu, Umar ra
menganggap dirinya bermewahmewahan jika makan lebih dari dua lauk dalam satu
hidangan.

 

Dalam sebuah pengajian, saya pernah mendapati
seorang ustadz menyampaikan:

 

"Kita selalu mempelajari Sirah Nabawiyah dan
Sirah para Sahabat, akan tetapi kita selalu membicarakan masalah akhlaq,
keimanan, Tawakkat, ibadah dan pengorbanan mereka."

 

"Kenapa kita tidak pernah menanyakan
bagaimana kehidupan mereka ketika dikatakan dalam Sirah tersebut bahwa Umar
menginfaq-kan separoh harta kekayaannya untuk perjuangan Rasulullah dan Abu
Bakar seluruh kekayaannya diinfaq-kan?"

 

"Seakan kita hendak meneladani semua perilaku
semua ibadah dan ketundukan para sahabat dalam mengejar Syurga dan tak pernah
kita mencontoh bagaimana para sahabat memenuhi kebutuhan keluarga dan mengapa
mereka bisa berinfaq demikian luar biasa?"

 

"Seakan-akan kita tak membutuhkan bekal untuk
hidup di dunia dengan mengabaikan pelajaran pola hidup mereka dalam menghadapi
kehidupan. Betul sekali keyakinan kita akan halnya para sahabat yang sangat
zuhud dengan dunia, akan tetapi mereka juga mengejar dunia dengan semangat luar
biasa."

 

"Apakah kalian tidak ingat akan sebuah hadits
– beramallah kalian untuk kehidupan akhirat 
seakan-akan kalian akan mati esok hari dan beramallah kalian untuk
kehidupan dunia seakan-akan kalian hendak hidup selamanya?"

 

"Kalian yang ada di majelis ini, jangan hanya
akherat saja yang kalian kejar. Kalian menjadi Zuhud yang kebablasan. Kalian
tidak pernah bekerja untuk mengajar dunia kalian. Isyarat hadits ini adalah
bagaimana kita menjadi Muslim yang seimbang."

 

"sementara di luar sana, kebanyakan manusia
mengejar dunia mati-matian, tapi lupa mempersiapkan kehidupan Akherat mereka,
meski tak semua diantara mereka menjadi kaya raya, tapi perlu kalian catat
bahwa banyak diantara mereka betul-betul melalaikan akheratnya."

 

Saudara, itulah nasihat sang Ustadz.
Sayangnya kita sering lupa. Bahwa kita harus Kaya kalau mau naik haji. Diantara
kita jarang yang mempersiapkan kekayaan untuk naik haji. Diantara kita ketika
sudah memiliki kekayaan, banyak yang lupa untuk mempersiapkan diri menunaikan
ibadah haji.

 

Masih dari website tadi. Saya juga baru
menemukan daftar kekayaan para sahabat. Dan satu tauladan yang patut kita tiru,
meski Umar Ra memiliki penghasilan 233 Miliar sebulan, beliau menganggap
dirinya bermewahan jika makan lebih dari dua lauk dalam satu hidangan...

 

Satu nasihat yang sangat baik untu kita
kapanpun dan dimanapun adalah agar kita tidak menghabiskan gaji yang kita teima
untuk konsumsi. Melainkan disisihkan untuk berinvestasi. Agar uang kita tidak
habis hanya untuk dimakan.

 

Kalau menginginkan artikel lengkap silakan
klik di http://spiritualpreneurship.com/?id=sirohproperti

 

Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
11.

Artikel: Pertanda Apakah Kejemuan Terhadap Pekerjaan Itu?

Posted by: "dkadarusman" dkadarusman@yahoo.com   dkadarusman

Sun May 17, 2009 7:30 pm (PDT)



Artikel: Pertanda Apakah Kejemuan Terhadap Pekerjaan Itu?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Jika tidak pernah merasa jemu dalam pekerjaan, mungkin kita belum cukup lama menjalaninya. Sebab, agak aneh juga jika hal-hal rutin yang kita lakukan dalam jangka panjang masih bersifat 'biasa-biasa' saja. Bukahkah kita merasa jemu jika hidup kita menjadi datar? Sebaliknya, 'percikan-percikan' kecil bisa memberi nuansa yang lebih berwarna bagi perjalanan karir kita. Jadi, jika suatu saat kelak menemui kejemuan; tidak perlu terlalu risau. Karena sesungguhnya hal itu merupakan pertanda yang mengirim sinyal supaya kita mendefinisikan ulang premis-premis hidup yang selama ini dipegang teguh.

Kadang-kadang kita keliru mengartikan kejemuan sebagai sinyal untuk berpindah. Sehingga kalau kita merasa jemu, hal pertama yang terpikirkan adalah; bagaimana menemukan pekerjaan baru? Padahal, dalam banyak situasi kita tidak benar-benar pindah kepada pekerjaan yang sungguh-sungguh baru. Melainkan sekedar kepada 'tempat' baru. Faktanya, kita pindah ke perusahaan lain untuk mengerjakan pekerjaan yang sama. Jika saya orang marketing di perusahaan A, saya pindah ke perusahaan B dengan fungsi sebagai tenaga marketing juga. Sebagai engineer handal diperusahaan C, saya pindah ke perusahaan D untuk menjadi engineer juga. Akuntan, pindah tempat untuk menjadi akuntan juga. Dan sebagainya. Hanya sedikit perusahaan yang mau menerima kita untuk melakukan sesuatu yang benar-benar 'baru' sehingga kita bisa mulai lagi dari nol besar.

Padahal tidak semua kejemuan terhadap pekerjaan bisa diobati dengan perpindahan. Boleh jadi yang sesungguhnya kita butuhkan adalah menantang diri sendiri untuk berkreasi. Membuat sesuatu yang baru dengan tugas kita sehari-hari. Sebut saja itu sebagai 'perpindahan micro', yaitu perpindahan dari mengerjakan sesuatu sebatas rutinitas menjadi 'tempat melahirkan' gagasan-gagasan baru. Dengan begitu, kita selalu memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk 'melakukan hal-hal baru'. Sebab, hal baru bisa menjadi jawaban atas kejemuan. Dan lebih dari itu perusahaan tempat kita bekerja pun mendapatkan kegembiraan yang tiada tara. Sebab, ketika anda berubah dari karyawan yang tengah dilanda oleh kejemuan menjadi karyawan yang haus untuk melahirkan inovasi demi inovasi; maka perusahaan itu menjadi semakin tidak tertandingi. Bayangkan, jika semua karyawan diperusahaan menjadi seperti itu? Tidak terhingga dampak positif yang ditimbulkannya bukan?

Sekarang bayangkan lagi; jika anda bisa menjadi motor penggerak inovasi diperusahaan seperti itu. Kira-kira keuntungan apa yang bisa anda dapatkan? Pertama, anda terbebas dari kejemuan itu. Kedua, anda bisa menjadi role model bagi orang-orang yang anda pimpin dan rekan-rekan lain. Ketiga, anda bisa menjadi pilihan utama jika perusahaan harus memilih seseorang untuk diberi tanggungjawab yang lebih besar. Keempat, perusahaan tidak akan membiarkan anda pergi begitu saja. Kelima, halah banyak sekali keuntungan yang anda bisa dapat itu rupanya?

Sebaliknya, jika anda memilih untuk menjadi karyawan yang membiarkan diri terpenjara oleh kejemuan itu. Cepat atau lambat, kinerja anda akan menurun. Sehingga para pendatang baru akan mengambil alih pamor yang selama ini anda miliki. Dan ketika itu terjadi, sangat logis jika perusahaan menganggap anda sebagai masa lalu.

Jadi, situasi mana yang anda pilih?

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/
Managing Partner & Learning Facilitator IFSHA Strategic

Catatan Kaki:
Ingatlah ketika pertama kali kita mendapatkan pekerjaan itu. Kita begitu bersemangat. Sehingga setiap hari, kita tidak sabar untuk segera masuk ke kantor.

Jika Anda membutuhkan Artikel Gratis untuk Mading kantor silakan
hubungi kami japri dengan subjek "Artikel Mading" ke dkadarusman@yahoo.com

Jika ingin mengundang Dadang Kadarusman untuk In-House Program di perusahaan Anda, silakan kirim email ke undang@dadangkadarusman.com

12a.

(ruang baca) perjalanan panjang menemukan jalan cahaya

Posted by: "Bu CaturCatriks" punya_retno@yahoo.com   punya_retno

Sun May 17, 2009 7:42 pm (PDT)



Perjalanan Panjang Menemukan Jalan Cahaya
Oleh Retnadi Nur'aini

Judul buku: Hikari no Michi (Jalan Cahaya), Catatan Cinta Mualaf dari Negeri Matahari Terbit
Penulis : Takanobu Muto, Tethy Ezokanzo, Rose FN, dan para penulis FLP Jepang
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House (LPPH)
Jumlah hal: 192 hal

Kita adalah jiwa-jiwa yang gelisah.

Seperti Lionel Wallace, tokoh yang terdapat dalam salah satu cerpen karya H.G. Wells. Dalam cerpen berjudul The Door in the Wall ini, Lionel yang gelisah menemukan Happy Garden (Taman Kebahagiaan). Sebuah taman dimana seluruh warna di dunia tampil dengan demikian terangnya, demikian cantiknya. Suatu tempat dimana seluruh aroma duka nestapa menguap, dan setiap napas yang terhembus adalah bahagia. Sebuah taman kebahagiaan.

Happy Garden sulit ditemukan. Lionel pertama kali mengenalnya saat ia masih berusia 5 tahun. Kala itu ia menemukan sebuah pintu berwarna hijau yang menempel pada sebentuk dinding putih. Kemunculan tiba-tiba tembok berpintu sebagai gerbang Happy Garden ini, seketika melahirkan obsesi tersendiri bagi seorang Lionel. Karena sejak saat itu, nyaris seumur hidupnya dihabiskan untuk mencari pertanda akan keberadaan Happy Garden dan gerbangnya.

Cerpen surealis ini ditulis oleh H.G. Wells sekitar abad 18. Namun tetap saja saya kagum pada kekuatan imajinasi dan kedalaman filosofi H.G. Wells akan "makna sebuah pencarian." Betapa sebagai khalifah dan musafir di bumi ini, manusia selalu berada dalam perjalanan. Proses pencarian akan suatu kebenaran dan kebahagiaan yang hakiki.

Betapa Happy Garden versi H.G. Wells masih dapat diterjemahkan secara luas dalam beragam symbol dan definisi. Dan dalam buku Hikari no Michi ini, definisi itu bernama: Jalan Cahaya.

Betapa di jalan ini, kebenaran yang hakiki adalah kebenaran Ilahi. Kebenaran yang bersumber dari Allah, hanya diucapkan dan bisa dijanjikan oleh Allah. Asyhadu ala ilaa ha illallahu…wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. (Hamba bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan hamba bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).
***

Jalan Cahaya bisa ditemukan melalui banyak rute dan peta yang berbeda.

Ada yang menemukannya dalam kesunyian. Ada yang menemukannya saat berada di kedalaman titik nol kilometer jurang depresi. Ada yang menemukannya lewat diskusi intelektual dan proses belajar membandingkan sejumlah kitab suci. Ada yang menemukannya lewat perantara kekasih dan pendamping hati. Bahkan ada yang menemukannya lewat perantara yure (jin) dan mimpi, suatu rute penemuan hidayah yang sungguh-sungguh di luar akal dan keterbatasan pikiran manusia. Subhanallah.

Abe Yukie-san, Suguro-san, Halimah-san, Takeda-san, Suguro-san, Tokita-san, Muto-san, Najia-san, Shiori-san, Ikuko-san, Sinji, dan Abdussalam adalah sebagian dari mereka. Dimana proses pengenalan Islam awalnya hanya berdasarkan ketertarikan akan hal-hal yang mereka dengar tentang Islam. Seperti misalnya larangan makan babi dan perintah Allah bagi muslimah untuk mengenakan jilbab.

Namun tak jarang, ketertarikan mereka akan Islam juga berawal dari hal-hal sederhana dalam Islam. Seperti misalnya, budaya tolong menolong, mengucapkan salam, menghormati dan mencium tangan Ibu. Betapa indahnya ucapan salam saling mendoakan keselamatan antar sesama muslim dan muslimah. Betapa mulianya keberadaan Ibu dalam Islam. Dan betapa menyejukkan hati, alunan ayat suci Allah yang dilantunkan dengan sepenuh hati. Seperti yang dirasakan oleh Ikuko-san (dituturkan oleh Lia Octavia, dengan judul artikel "Sekuntum Cinta dari Negeri Sakura", hal 39): "Hangat menyelimuti seluruh jiwanya. Menerobos masuk ke dalam sudut-sudut kesadarannya yang terdalam. Jalan yang lurus. Jalan itu lurus bersimbah cahaya. Di kiri, kanan, dan juga di atasnya. Cahaya itu menggenggam jiwa Ikuko erat. Seluruh tubuhnya berguncang. Mimpikah ia? Tidak. Ikuko tidak sedang bermimpi. Cahaya itu ada di hadapannya. Dan kalaupun ia sedang bermimpi, Ikuko tidak mau bangun lagi. Jalan itu… jalan yang lurus"
Subhanallah.
***

Namun, meski lurus dan bersimbah cahaya, Jalan Cahaya bukanlah jalan yang serta merta mudah dan bebas hambatan. Setelah berikrar sebagai muslim, para mualaf dalam kisah-kisah buku ini pun menemui satu demi satu cobaannya. Ada yang berupa reaksi keras penolakan keluarga besar. Ada yang berupa tekanan dalam pekerjaan dan pengucilan dalam pergaulan. Ada yang berupa kekerasan hati dari pasangan.

Betapapun berwarna-warni cobaan itu, mereka berusaha menghadapinya dengan tabah. Dan betapa dengan segala keterbatasan mereka sebagai mualaf, mereka tetap berusaha keras mengamalkan ajaran Islam dalam setiap sel kehidupan.

Usaha pengamalan Islam yang membuat saya terharu seketika.

Sungguh saya terharu akan kelapangan Suguro-san menyodorkan uang senilai lima ribu yen pada Lisza Anggraeny (dituturkan oleh Lisza Anggraeny, dengan judul artikel "Tachikawa, Disini Ada Cerita", hal 31) yang kehilangan dompet dan kartu langganan kereta, dengan ucapan Suguro-san setelahnya "Kita muslim, harus saling bantu, kan?"

Hal sama yang juga dilakukan oleh Abdussalam (dituturkan oleh Tethy Ezokanzo, dengan judul artikel "Meniti Jalan Hidayah" hal 94-96) ketika mengantar orang-orang Indonesia JICA ke Bandara Narita, sekaligus mengajak mereka makan di restoran. Tak hanya itu, saat itu, Abdussalam juga memberikan seluruh sisa uang miliknya saat itu pada seorang muslimah yang kekurangan uang untuk membeli karcis ke Saitama. Sedekah yang membuat Abdussalam memutuskan untuk berjalan kaki ke rumahnya, yang memakan waktu dua jam perjalanan. Sedekah yang saat itu juga langsung diganti Allah, ketika seorang teman menelpon Abdussalam mengajak minum teh di sebuah kafe dan seketika mengeluarkan seluruh isi uang di dompetnya, yang totalnya berjumlah tujuh puluh ribu yen. Subhanallah. Sungguh besar kuasa Allah.

Sama terharunya saya saat sosok Mbak Sumi dengan bahagia mengabarkan via e-mail pada Sri Zein (dituturkan oleh Sri Zein, dengan judul artikel "Menjaga Mutiara Hati", hal 68-69), bahwa Takeda-san, suami Mbak Sumi, sudah mau makan daging halal. "Duh senangnya, akhirnya sekarang saya tidak sembunyi-sembunyi lagi untuk membeli daging halal, Mbak…" tulis Mbak Sumi dalam e-mailnya.

Usaha pengamalan dan pendalaman mereka akan Islam, juga membuat saya salut dan berdecak kagum.

Sungguh saya salut akan keputusan Abe Yukie-san menggunakan uang hasil kerja paruh waktunya untuk belajar Islam di Malaysia (dituturkan oleh Rose FN, dengan judul artikel "Nisa-san, Sang Mualaf Plus", hal 21), dan Sinji untuk belajar Islam selama sebulan di Surabaya (dituturkan oleh Mulla Kemalawaty, dengan judul artikel "Di Serambi Mekkah Kutemukan Hidayah", hal 119) setelah sebelumnya mulai mengenal kehangatan cinta kasih Islam di Aceh.

Sungguh saya kagum akan perjuangan seorang muslimah Jepang, istri orang Rusia, yang walau sedang hamil tujuh bulan memutuskan untuk bersepeda menuju masjid di tengah cuaca dingin, demi menunaikan ibadah shalat tarawih pertamanya (dituturkan oleh Tethy Ezokanzo, dengan judul artikel "Tetesan Hidayah di Bulan Penuh Berkah" hal 54). Dan betapa wanita itu masih sanggup berdiri sampai rakaat selesai. Subhanallah.

Sama kagumnya saya akan sosok Aminah-san (dituturkan oleh Rose FN, dengan judul artikel "Allah Memanggil Hati Aminah-san", hal 63), yang di waktu luangnya diamalkan untuk mencari para homeless yang terdampar di pinggir jalan, di emperan stasiun kereta, juga taman-taman di Jepang. Dengan telaten, Aminah-san akan mencarikan rumah penampungan, mengecek kebutuhan makanan dan minuman mereka, sekaligus mengetahui kemajuan berislam mereka. Semua dengan satu niatan tulus Aminah-san "Saya ingin berbuat sesuatu untuk agama saya, ingin mempunyai lebih banyak saudara seiman dan sebangsa."

Niatan tulus sama juga diikrarkan oleh sekelompok orang Pakistan yang datang ke Jepang tahun 1982 (dituturkan oleh Tethy Ezokanzo, dengan judul artikel "Islam, Cinta Pertamanya", hal 145-147). Tanpa informasi yang memadai tentang komunitas muslim di Jepang, rombongan Pakistan ini menginap di bandara selama satu minggu. Tempat dimana mereka melaksanakan program harian, membaca Al Quran, shalat, dan taklim.

Setelah akhirnya dilarang untuk menginap di bandara, mereka pun menyewa sebuah apato mungil di Tokyo, yang dilanjutkan dengan perjalanan ke Kyushu. Semua dengan niatan murni, untuk berdakwah mengenalkan Islam ke setiap orang yang mereka temui.

Dan haru ini semakin memuncaki dada, saat saya membaca sosok Najia-san (dituturkan oleh Tethy Ezokanzo, dengan judul artikel "Mukena Cantik Najia-san" hal 139), yang berupaya keras mencari mukena di Sapporo. Karena kesulitan menemukannya, Najia-san pun kemudian memodifikasi sprei berbunga-bunga miliknya menjadi sebuah mukena. Subhanallah.

Air mata saya pun meleleh seketika saat membaca perjuangan suami Rose FN untuk mengucapkan salam dan kalimat "Fii amanillah" dalam suatu simulasi setelah pengajian di Jepang (dituturkan oleh Rose FN, dengan judul artikel "Mualaf, Salam, dan Myouji Islam", hal 43). Betapa dengan lidah orang Jepang yang terbiasa berbahasa Jepang, suami Rose FN berulang kali salah melafalkan L sebagai R. Dan betapa buah hati mereka dengan bersemangatnya, mendukung ayah mereka dengan meneriakkan yel-yel "Ayo berjuang, Papa!"

Ah, Cinta …
***

Sulit rasanya untuk tidak berkaca pada buku ini.

Apalagi saya sebagai seorang muslimah, yang terlahir di keluarga muslim, dan dibesarkan di Negara yang mayoritas muslim. Tempat dimana saya tidak kesulitan menemukan mushalla atau masjid untuk menunaikan shalat, juga tak perlu resah mencari makanan dan minuman halal. Berbagai kemudahan yang mungkin jadi terlupakan nikmatnya. Taken for granted.

Padahal, di lain sisi, kemudahan yang saya rasakan justru merupakan hal-hal yang terasa mewah bagi komunitas muslim di Jepang. Seringkali, untuk menunaikan shalat tepat waktu, mereka harus siap melakukannya di tempat umum. Seperti misalnya di taman, atau museum. Dengan bermodalkan kompas, dan beralaskan sehelai kain sederhana, mereka menghadap Sang Pencipta.

Tak jarang, muncul pandangan aneh dari masyarakat Jepang yang kebetulan menyaksikan seorang muslim sedang shalat di tempat umum. Namun seperti yang dituliskan Rose FN di hal 168 "Menyikapi perlakuan seperti ini, sikap hanif harus ditunjukkan. Jika kita sudah berlapang dada tas ketidaktahuan mereka, maka dengan sendirinya kita akan nyaman untuk melaksanakan shalat di tempat umum, bahkan nantinya akan timbul keinginan kuat dalam hati kita untuk semakin mengenalkan shalat sebagai wujud dakwah amal kita". Insya Allah.

Dan kepada para saudara muslim saya di Jepang, perkenankan saya menghaturkan sekuntum doa dari jauh: "Bismillahirahmanirrahiim, Alhamdulillaahi Rabbil `aalamiin. Arrahmaanir Rahiim, Maaliki yaumid diiin. Iyyaka na'buduwa iyyaka nasta'iin. Ihdinas siraatal mustaqiim. Siraatal ladziina an'amta `alayhim ghayril magduubi `alayhim waladdaalliin. Amiin.." (Surat Al Fatihah)

Selamat menyusuri Jalan Cahaya.
***

Dipersembahkan untuk para penulis Hikari no Michi: Ani Bowolaksono, Bainah Sari Dewi, Banyumili, Ellnovianty Nine, Hifizah Nur, Lia Octavia, Lisman Suryanegara, Lisza Anggraeny, Mulla Kemalawatyu, Rose FN, Sri Zein, Takanobu Muto, Tethy Ezokanzo. Terima kasih banyak untuk menuliskan kisah-kisah cinta ini dengan sepenuh jiwa. Sungguh, membaca buku ini, membuat saya berkaca dan jatuh cinta lagi padaNya.

12b.

Re: (ruang baca) perjalanan panjang menemukan jalan cahaya

Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com   octavialia

Sun May 17, 2009 7:58 pm (PDT)



Subhanallah... Alhamdulillah... Allahu Akbar! Allah Sungguh Maha Besar!
Saya sungguh terharu dan nyaris tak bisa berkata-kata membaca resensi bagus
ini dari Mbak Retno.
Hanya puji syukur yang bisa saya panjatkan dan doa semoga tulisan-tulisan di
buku ini dapat bermanfaat dan membawakan cinta pada-Nya bagi para
pembacanya.
Cinta pada Sang Maha Cinta...

Terima kasih banyak, Mbak Retno. Resensinya aku copas untuk di milis
teman-teman FLP Jepang ya... ^_^

Salam
Lia

2009/5/18 Bu CaturCatriks <punya_retno@yahoo.com>

>
>
> Perjalanan Panjang Menemukan Jalan Cahaya
> Oleh Retnadi Nur'aini
>
> Judul buku: Hikari no Michi (Jalan Cahaya), Catatan Cinta Mualaf dari
> Negeri Matahari Terbit
> Penulis : Takanobu Muto, Tethy Ezokanzo, Rose FN, dan para penulis FLP
> Jepang
> Penerbit: Lingkar Pena Publishing House (LPPH)
> Jumlah hal: 192 hal
>
> Kita adalah jiwa-jiwa yang gelisah.
>
> Seperti Lionel Wallace, tokoh yang terdapat dalam salah satu cerpen karya
> H.G. Wells. Dalam cerpen berjudul The Door in the Wall ini, Lionel yang
> gelisah menemukan Happy Garden (Taman Kebahagiaan). Sebuah taman dimana
> seluruh warna di dunia tampil dengan demikian terangnya, demikian cantiknya.
> Suatu tempat dimana seluruh aroma duka nestapa menguap, dan setiap napas
> yang terhembus adalah bahagia. Sebuah taman kebahagiaan.
>
> Happy Garden sulit ditemukan. Lionel pertama kali mengenalnya saat ia masih
> berusia 5 tahun. Kala itu ia menemukan sebuah pintu berwarna hijau yang
> menempel pada sebentuk dinding putih. Kemunculan tiba-tiba tembok berpintu
> sebagai gerbang Happy Garden ini, seketika melahirkan obsesi tersendiri bagi
> seorang Lionel. Karena sejak saat itu, nyaris seumur hidupnya dihabiskan
> untuk mencari pertanda akan keberadaan Happy Garden dan gerbangnya.
>
> Cerpen surealis ini ditulis oleh H.G. Wells sekitar abad 18. Namun tetap
> saja saya kagum pada kekuatan imajinasi dan kedalaman filosofi H.G. Wells
> akan "makna sebuah pencarian." Betapa sebagai khalifah dan musafir di bumi
> ini, manusia selalu berada dalam perjalanan. Proses pencarian akan suatu
> kebenaran dan kebahagiaan yang hakiki.
>
> Betapa Happy Garden versi H.G. Wells masih dapat diterjemahkan secara luas
> dalam beragam symbol dan definisi. Dan dalam buku Hikari no Michi ini,
> definisi itu bernama: Jalan Cahaya.
>
> Betapa di jalan ini, kebenaran yang hakiki adalah kebenaran Ilahi.
> Kebenaran yang bersumber dari Allah, hanya diucapkan dan bisa dijanjikan
> oleh Allah. Asyhadu ala ilaa ha illallahu�wa asyhadu anna Muhammadar
> Rasulullah. (Hamba bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain
> Allah dan hamba bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).
> ***
>
> Jalan Cahaya bisa ditemukan melalui banyak rute dan peta yang berbeda.
>
> Ada yang menemukannya dalam kesunyian. Ada yang menemukannya saat berada di
> kedalaman titik nol kilometer jurang depresi. Ada yang menemukannya lewat
> diskusi intelektual dan proses belajar membandingkan sejumlah kitab suci.
> Ada yang menemukannya lewat perantara kekasih dan pendamping hati. Bahkan
> ada yang menemukannya lewat perantara yure (jin) dan mimpi, suatu rute
> penemuan hidayah yang sungguh-sungguh di luar akal dan keterbatasan pikiran
> manusia. Subhanallah.
>
> Abe Yukie-san, Suguro-san, Halimah-san, Takeda-san, Suguro-san, Tokita-san,
> Muto-san, Najia-san, Shiori-san, Ikuko-san, Sinji, dan Abdussalam adalah
> sebagian dari mereka. Dimana proses pengenalan Islam awalnya hanya
> berdasarkan ketertarikan akan hal-hal yang mereka dengar tentang Islam.
> Seperti misalnya larangan makan babi dan perintah Allah bagi muslimah untuk
> mengenakan jilbab.
>
> Namun tak jarang, ketertarikan mereka akan Islam juga berawal dari hal-hal
> sederhana dalam Islam. Seperti misalnya, budaya tolong menolong, mengucapkan
> salam, menghormati dan mencium tangan Ibu. Betapa indahnya ucapan salam
> saling mendoakan keselamatan antar sesama muslim dan muslimah. Betapa
> mulianya keberadaan Ibu dalam Islam. Dan betapa menyejukkan hati, alunan
> ayat suci Allah yang dilantunkan dengan sepenuh hati. Seperti yang dirasakan
> oleh Ikuko-san (dituturkan oleh Lia Octavia, dengan judul artikel "Sekuntum
> Cinta dari Negeri Sakura", hal 39): "Hangat menyelimuti seluruh jiwanya.
> Menerobos masuk ke dalam sudut-sudut kesadarannya yang terdalam. Jalan yang
> lurus. Jalan itu lurus bersimbah cahaya. Di kiri, kanan, dan juga di
> atasnya. Cahaya itu menggenggam jiwa Ikuko erat. Seluruh tubuhnya
> berguncang. Mimpikah ia? Tidak. Ikuko tidak sedang bermimpi. Cahaya itu ada
> di hadapannya. Dan kalaupun ia sedang bermimpi, Ikuko tidak mau bangun lagi.
> Jalan itu� jalan yang lurus"
> Subhanallah.
> ***
>
> Namun, meski lurus dan bersimbah cahaya, Jalan Cahaya bukanlah jalan yang
> serta merta mudah dan bebas hambatan. Setelah berikrar sebagai muslim, para
> mualaf dalam kisah-kisah buku ini pun menemui satu demi satu cobaannya. Ada
> yang berupa reaksi keras penolakan keluarga besar. Ada yang berupa tekanan
> dalam pekerjaan dan pengucilan dalam pergaulan. Ada yang berupa kekerasan
> hati dari pasangan.
>
> Betapapun berwarna-warni cobaan itu, mereka berusaha menghadapinya dengan
> tabah. Dan betapa dengan segala keterbatasan mereka sebagai mualaf, mereka
> tetap berusaha keras mengamalkan ajaran Islam dalam setiap sel kehidupan.
>
> Usaha pengamalan Islam yang membuat saya terharu seketika.
>
> Sungguh saya terharu akan kelapangan Suguro-san menyodorkan uang senilai
> lima ribu yen pada Lisza Anggraeny (dituturkan oleh Lisza Anggraeny, dengan
> judul artikel "Tachikawa, Disini Ada Cerita", hal 31) yang kehilangan dompet
> dan kartu langganan kereta, dengan ucapan Suguro-san setelahnya "Kita
> muslim, harus saling bantu, kan?"
>
> Hal sama yang juga dilakukan oleh Abdussalam (dituturkan oleh Tethy
> Ezokanzo, dengan judul artikel "Meniti Jalan Hidayah" hal 94-96) ketika
> mengantar orang-orang Indonesia JICA ke Bandara Narita, sekaligus mengajak
> mereka makan di restoran. Tak hanya itu, saat itu, Abdussalam juga
> memberikan seluruh sisa uang miliknya saat itu pada seorang muslimah yang
> kekurangan uang untuk membeli karcis ke Saitama. Sedekah yang membuat
> Abdussalam memutuskan untuk berjalan kaki ke rumahnya, yang memakan waktu
> dua jam perjalanan. Sedekah yang saat itu juga langsung diganti Allah,
> ketika seorang teman menelpon Abdussalam mengajak minum teh di sebuah kafe
> dan seketika mengeluarkan seluruh isi uang di dompetnya, yang totalnya
> berjumlah tujuh puluh ribu yen. Subhanallah. Sungguh besar kuasa Allah.
>
> Sama terharunya saya saat sosok Mbak Sumi dengan bahagia mengabarkan via
> e-mail pada Sri Zein (dituturkan oleh Sri Zein, dengan judul artikel
> "Menjaga Mutiara Hati", hal 68-69), bahwa Takeda-san, suami Mbak Sumi, sudah
> mau makan daging halal. "Duh senangnya, akhirnya sekarang saya tidak
> sembunyi-sembunyi lagi untuk membeli daging halal, Mbak�" tulis Mbak Sumi
> dalam e-mailnya.
>
> Usaha pengamalan dan pendalaman mereka akan Islam, juga membuat saya salut
> dan berdecak kagum.
>
> Sungguh saya salut akan keputusan Abe Yukie-san menggunakan uang hasil
> kerja paruh waktunya untuk belajar Islam di Malaysia (dituturkan oleh Rose
> FN, dengan judul artikel "Nisa-san, Sang Mualaf Plus", hal 21), dan Sinji
> untuk belajar Islam selama sebulan di Surabaya (dituturkan oleh Mulla
> Kemalawaty, dengan judul artikel "Di Serambi Mekkah Kutemukan Hidayah", hal
> 119) setelah sebelumnya mulai mengenal kehangatan cinta kasih Islam di Aceh.
>
>
> Sungguh saya kagum akan perjuangan seorang muslimah Jepang, istri orang
> Rusia, yang walau sedang hamil tujuh bulan memutuskan untuk bersepeda menuju
> masjid di tengah cuaca dingin, demi menunaikan ibadah shalat tarawih
> pertamanya (dituturkan oleh Tethy Ezokanzo, dengan judul artikel "Tetesan
> Hidayah di Bulan Penuh Berkah" hal 54). Dan betapa wanita itu masih sanggup
> berdiri sampai rakaat selesai. Subhanallah.
>
> Sama kagumnya saya akan sosok Aminah-san (dituturkan oleh Rose FN, dengan
> judul artikel "Allah Memanggil Hati Aminah-san", hal 63), yang di waktu
> luangnya diamalkan untuk mencari para homeless yang terdampar di pinggir
> jalan, di emperan stasiun kereta, juga taman-taman di Jepang. Dengan
> telaten, Aminah-san akan mencarikan rumah penampungan, mengecek kebutuhan
> makanan dan minuman mereka, sekaligus mengetahui kemajuan berislam mereka.
> Semua dengan satu niatan tulus Aminah-san "Saya ingin berbuat sesuatu untuk
> agama saya, ingin mempunyai lebih banyak saudara seiman dan sebangsa."
>
> Niatan tulus sama juga diikrarkan oleh sekelompok orang Pakistan yang
> datang ke Jepang tahun 1982 (dituturkan oleh Tethy Ezokanzo, dengan judul
> artikel "Islam, Cinta Pertamanya", hal 145-147). Tanpa informasi yang
> memadai tentang komunitas muslim di Jepang, rombongan Pakistan ini menginap
> di bandara selama satu minggu. Tempat dimana mereka melaksanakan program
> harian, membaca Al Quran, shalat, dan taklim.
>
> Setelah akhirnya dilarang untuk menginap di bandara, mereka pun menyewa
> sebuah apato mungil di Tokyo, yang dilanjutkan dengan perjalanan ke Kyushu.
> Semua dengan niatan murni, untuk berdakwah mengenalkan Islam ke setiap orang
> yang mereka temui.
>
> Dan haru ini semakin memuncaki dada, saat saya membaca sosok Najia-san
> (dituturkan oleh Tethy Ezokanzo, dengan judul artikel "Mukena Cantik
> Najia-san" hal 139), yang berupaya keras mencari mukena di Sapporo. Karena
> kesulitan menemukannya, Najia-san pun kemudian memodifikasi sprei
> berbunga-bunga miliknya menjadi sebuah mukena. Subhanallah.
>
> Air mata saya pun meleleh seketika saat membaca perjuangan suami Rose FN
> untuk mengucapkan salam dan kalimat "Fii amanillah" dalam suatu simulasi
> setelah pengajian di Jepang (dituturkan oleh Rose FN, dengan judul artikel
> "Mualaf, Salam, dan Myouji Islam", hal 43). Betapa dengan lidah orang Jepang
> yang terbiasa berbahasa Jepang, suami Rose FN berulang kali salah melafalkan
> L sebagai R. Dan betapa buah hati mereka dengan bersemangatnya, mendukung
> ayah mereka dengan meneriakkan yel-yel "Ayo berjuang, Papa!"
>
> Ah, Cinta �
> ***
>
> Sulit rasanya untuk tidak berkaca pada buku ini.
>
> Apalagi saya sebagai seorang muslimah, yang terlahir di keluarga muslim,
> dan dibesarkan di Negara yang mayoritas muslim. Tempat dimana saya tidak
> kesulitan menemukan mushalla atau masjid untuk menunaikan shalat, juga tak
> perlu resah mencari makanan dan minuman halal. Berbagai kemudahan yang
> mungkin jadi terlupakan nikmatnya. Taken for granted.
>
> Padahal, di lain sisi, kemudahan yang saya rasakan justru merupakan hal-hal
> yang terasa mewah bagi komunitas muslim di Jepang. Seringkali, untuk
> menunaikan shalat tepat waktu, mereka harus siap melakukannya di tempat
> umum. Seperti misalnya di taman, atau museum. Dengan bermodalkan kompas, dan
> beralaskan sehelai kain sederhana, mereka menghadap Sang Pencipta.
>
> Tak jarang, muncul pandangan aneh dari masyarakat Jepang yang kebetulan
> menyaksikan seorang muslim sedang shalat di tempat umum. Namun seperti yang
> dituliskan Rose FN di hal 168 "Menyikapi perlakuan seperti ini, sikap hanif
> harus ditunjukkan. Jika kita sudah berlapang dada tas ketidaktahuan mereka,
> maka dengan sendirinya kita akan nyaman untuk melaksanakan shalat di tempat
> umum, bahkan nantinya akan timbul keinginan kuat dalam hati kita untuk
> semakin mengenalkan shalat sebagai wujud dakwah amal kita". Insya Allah.
>
> Dan kepada para saudara muslim saya di Jepang, perkenankan saya
> menghaturkan sekuntum doa dari jauh: "Bismillahirahmanirrahiim,
> Alhamdulillaahi Rabbil `aalamiin. Arrahmaanir Rahiim, Maaliki yaumid diiin.
> Iyyaka na'buduwa iyyaka nasta'iin. Ihdinas siraatal mustaqiim. Siraatal
> ladziina an'amta `alayhim ghayril magduubi `alayhim waladdaalliin. Amiin.."
> (Surat Al Fatihah)
>
> Selamat menyusuri Jalan Cahaya.
> ***
>
> Dipersembahkan untuk para penulis Hikari no Michi: Ani Bowolaksono, Bainah
> Sari Dewi, Banyumili, Ellnovianty Nine, Hifizah Nur, Lia Octavia, Lisman
> Suryanegara, Lisza Anggraeny, Mulla Kemalawatyu, Rose FN, Sri Zein, Takanobu
> Muto, Tethy Ezokanzo. Terima kasih banyak untuk menuliskan kisah-kisah cinta
> ini dengan sepenuh jiwa. Sungguh, membaca buku ini, membuat saya berkaca dan
> jatuh cinta lagi padaNya.
>
>
>
12c.

Re: (ruang baca) perjalanan panjang menemukan jalan cahaya

Posted by: "Bu CaturCatriks" punya_retno@yahoo.com   punya_retno

Sun May 17, 2009 8:39 pm (PDT)



alhamdulillah mbak lia :). senang sekali mbak lia menyukainya. makasih juga utk menghadiahkan buku ini utkku. aku bener2 blajar banyak, alhamdulillah.
silakan di-copas mbak. salam hangat utk teman2 flp jepang :)

-retno-

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Lia Octavia <liaoctavia@...> wrote:
>
> Subhanallah... Alhamdulillah... Allahu Akbar! Allah Sungguh Maha Besar!
> Saya sungguh terharu dan nyaris tak bisa berkata-kata membaca resensi bagus
> ini dari Mbak Retno.
> Hanya puji syukur yang bisa saya panjatkan dan doa semoga tulisan-tulisan di
> buku ini dapat bermanfaat dan membawakan cinta pada-Nya bagi para
> pembacanya.
> Cinta pada Sang Maha Cinta...
>
> Terima kasih banyak, Mbak Retno. Resensinya aku copas untuk di milis
> teman-teman FLP Jepang ya... ^_^
>
> Salam
> Lia
>
> 2009/5/18 Bu CaturCatriks <punya_retno@...>
>
> >
> >
> > Perjalanan Panjang Menemukan Jalan Cahaya
> > Oleh Retnadi Nur'aini
> >
> > Judul buku: Hikari no Michi (Jalan Cahaya), Catatan Cinta Mualaf dari
> > Negeri Matahari Terbit
> > Penulis : Takanobu Muto, Tethy Ezokanzo, Rose FN, dan para penulis FLP
> > Jepang
> > Penerbit: Lingkar Pena Publishing House (LPPH)
> > Jumlah hal: 192 hal
> >
> > Kita adalah jiwa-jiwa yang gelisah.
> >
> > Seperti Lionel Wallace, tokoh yang terdapat dalam salah satu cerpen karya
> > H.G. Wells. Dalam cerpen berjudul The Door in the Wall ini, Lionel yang
> > gelisah menemukan Happy Garden (Taman Kebahagiaan). Sebuah taman dimana
> > seluruh warna di dunia tampil dengan demikian terangnya, demikian cantiknya.
> > Suatu tempat dimana seluruh aroma duka nestapa menguap, dan setiap napas
> > yang terhembus adalah bahagia. Sebuah taman kebahagiaan.
> >
> > Happy Garden sulit ditemukan. Lionel pertama kali mengenalnya saat ia masih
> > berusia 5 tahun. Kala itu ia menemukan sebuah pintu berwarna hijau yang
> > menempel pada sebentuk dinding putih. Kemunculan tiba-tiba tembok berpintu
> > sebagai gerbang Happy Garden ini, seketika melahirkan obsesi tersendiri bagi
> > seorang Lionel. Karena sejak saat itu, nyaris seumur hidupnya dihabiskan
> > untuk mencari pertanda akan keberadaan Happy Garden dan gerbangnya.
> >
> > Cerpen surealis ini ditulis oleh H.G. Wells sekitar abad 18. Namun tetap
> > saja saya kagum pada kekuatan imajinasi dan kedalaman filosofi H.G. Wells
> > akan "makna sebuah pencarian." Betapa sebagai khalifah dan musafir di bumi
> > ini, manusia selalu berada dalam perjalanan. Proses pencarian akan suatu
> > kebenaran dan kebahagiaan yang hakiki.
> >
> > Betapa Happy Garden versi H.G. Wells masih dapat diterjemahkan secara luas
> > dalam beragam symbol dan definisi. Dan dalam buku Hikari no Michi ini,
> > definisi itu bernama: Jalan Cahaya.
> >
> > Betapa di jalan ini, kebenaran yang hakiki adalah kebenaran Ilahi.
> > Kebenaran yang bersumber dari Allah, hanya diucapkan dan bisa dijanjikan
> > oleh Allah. Asyhadu ala ilaa ha illallahu…wa asyhadu anna Muhammadar
> > Rasulullah. (Hamba bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain
> > Allah dan hamba bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).
> > ***
> >
> > Jalan Cahaya bisa ditemukan melalui banyak rute dan peta yang berbeda.
> >
> > Ada yang menemukannya dalam kesunyian. Ada yang menemukannya saat berada di
> > kedalaman titik nol kilometer jurang depresi. Ada yang menemukannya lewat
> > diskusi intelektual dan proses belajar membandingkan sejumlah kitab suci.
> > Ada yang menemukannya lewat perantara kekasih dan pendamping hati. Bahkan
> > ada yang menemukannya lewat perantara yure (jin) dan mimpi, suatu rute
> > penemuan hidayah yang sungguh-sungguh di luar akal dan keterbatasan pikiran
> > manusia. Subhanallah.
> >
> > Abe Yukie-san, Suguro-san, Halimah-san, Takeda-san, Suguro-san, Tokita-san,
> > Muto-san, Najia-san, Shiori-san, Ikuko-san, Sinji, dan Abdussalam adalah
> > sebagian dari mereka. Dimana proses pengenalan Islam awalnya hanya
> > berdasarkan ketertarikan akan hal-hal yang mereka dengar tentang Islam.
> > Seperti misalnya larangan makan babi dan perintah Allah bagi muslimah untuk
> > mengenakan jilbab.
> >
> > Namun tak jarang, ketertarikan mereka akan Islam juga berawal dari hal-hal
> > sederhana dalam Islam. Seperti misalnya, budaya tolong menolong, mengucapkan
> > salam, menghormati dan mencium tangan Ibu. Betapa indahnya ucapan salam
> > saling mendoakan keselamatan antar sesama muslim dan muslimah. Betapa
> > mulianya keberadaan Ibu dalam Islam. Dan betapa menyejukkan hati, alunan
> > ayat suci Allah yang dilantunkan dengan sepenuh hati. Seperti yang dirasakan
> > oleh Ikuko-san (dituturkan oleh Lia Octavia, dengan judul artikel "Sekuntum
> > Cinta dari Negeri Sakura", hal 39): "Hangat menyelimuti seluruh jiwanya.
> > Menerobos masuk ke dalam sudut-sudut kesadarannya yang terdalam. Jalan yang
> > lurus. Jalan itu lurus bersimbah cahaya. Di kiri, kanan, dan juga di
> > atasnya. Cahaya itu menggenggam jiwa Ikuko erat. Seluruh tubuhnya
> > berguncang. Mimpikah ia? Tidak. Ikuko tidak sedang bermimpi. Cahaya itu ada
> > di hadapannya. Dan kalaupun ia sedang bermimpi, Ikuko tidak mau bangun lagi.
> > Jalan itu… jalan yang lurus"
> > Subhanallah.
> > ***
> >
> > Namun, meski lurus dan bersimbah cahaya, Jalan Cahaya bukanlah jalan yang
> > serta merta mudah dan bebas hambatan. Setelah berikrar sebagai muslim, para
> > mualaf dalam kisah-kisah buku ini pun menemui satu demi satu cobaannya. Ada
> > yang berupa reaksi keras penolakan keluarga besar. Ada yang berupa tekanan
> > dalam pekerjaan dan pengucilan dalam pergaulan. Ada yang berupa kekerasan
> > hati dari pasangan.
> >
> > Betapapun berwarna-warni cobaan itu, mereka berusaha menghadapinya dengan
> > tabah. Dan betapa dengan segala keterbatasan mereka sebagai mualaf, mereka
> > tetap berusaha keras mengamalkan ajaran Islam dalam setiap sel kehidupan.
> >
> > Usaha pengamalan Islam yang membuat saya terharu seketika.
> >
> > Sungguh saya terharu akan kelapangan Suguro-san menyodorkan uang senilai
> > lima ribu yen pada Lisza Anggraeny (dituturkan oleh Lisza Anggraeny, dengan
> > judul artikel "Tachikawa, Disini Ada Cerita", hal 31) yang kehilangan dompet
> > dan kartu langganan kereta, dengan ucapan Suguro-san setelahnya "Kita
> > muslim, harus saling bantu, kan?"
> >
> > Hal sama yang juga dilakukan oleh Abdussalam (dituturkan oleh Tethy
> > Ezokanzo, dengan judul artikel "Meniti Jalan Hidayah" hal 94-96) ketika
> > mengantar orang-orang Indonesia JICA ke Bandara Narita, sekaligus mengajak
> > mereka makan di restoran. Tak hanya itu, saat itu, Abdussalam juga
> > memberikan seluruh sisa uang miliknya saat itu pada seorang muslimah yang
> > kekurangan uang untuk membeli karcis ke Saitama. Sedekah yang membuat
> > Abdussalam memutuskan untuk berjalan kaki ke rumahnya, yang memakan waktu
> > dua jam perjalanan. Sedekah yang saat itu juga langsung diganti Allah,
> > ketika seorang teman menelpon Abdussalam mengajak minum teh di sebuah kafe
> > dan seketika mengeluarkan seluruh isi uang di dompetnya, yang totalnya
> > berjumlah tujuh puluh ribu yen. Subhanallah. Sungguh besar kuasa Allah.
> >
> > Sama terharunya saya saat sosok Mbak Sumi dengan bahagia mengabarkan via
> > e-mail pada Sri Zein (dituturkan oleh Sri Zein, dengan judul artikel
> > "Menjaga Mutiara Hati", hal 68-69), bahwa Takeda-san, suami Mbak Sumi, sudah
> > mau makan daging halal. "Duh senangnya, akhirnya sekarang saya tidak
> > sembunyi-sembunyi lagi untuk membeli daging halal, Mbak…" tulis Mbak Sumi
> > dalam e-mailnya.
> >
> > Usaha pengamalan dan pendalaman mereka akan Islam, juga membuat saya salut
> > dan berdecak kagum.
> >
> > Sungguh saya salut akan keputusan Abe Yukie-san menggunakan uang hasil
> > kerja paruh waktunya untuk belajar Islam di Malaysia (dituturkan oleh Rose
> > FN, dengan judul artikel "Nisa-san, Sang Mualaf Plus", hal 21), dan Sinji
> > untuk belajar Islam selama sebulan di Surabaya (dituturkan oleh Mulla
> > Kemalawaty, dengan judul artikel "Di Serambi Mekkah Kutemukan Hidayah", hal
> > 119) setelah sebelumnya mulai mengenal kehangatan cinta kasih Islam di Aceh.
> >
> >
> > Sungguh saya kagum akan perjuangan seorang muslimah Jepang, istri orang
> > Rusia, yang walau sedang hamil tujuh bulan memutuskan untuk bersepeda menuju
> > masjid di tengah cuaca dingin, demi menunaikan ibadah shalat tarawih
> > pertamanya (dituturkan oleh Tethy Ezokanzo, dengan judul artikel "Tetesan
> > Hidayah di Bulan Penuh Berkah" hal 54). Dan betapa wanita itu masih sanggup
> > berdiri sampai rakaat selesai. Subhanallah.
> >
> > Sama kagumnya saya akan sosok Aminah-san (dituturkan oleh Rose FN, dengan
> > judul artikel "Allah Memanggil Hati Aminah-san", hal 63), yang di waktu
> > luangnya diamalkan untuk mencari para homeless yang terdampar di pinggir
> > jalan, di emperan stasiun kereta, juga taman-taman di Jepang. Dengan
> > telaten, Aminah-san akan mencarikan rumah penampungan, mengecek kebutuhan
> > makanan dan minuman mereka, sekaligus mengetahui kemajuan berislam mereka.
> > Semua dengan satu niatan tulus Aminah-san "Saya ingin berbuat sesuatu untuk
> > agama saya, ingin mempunyai lebih banyak saudara seiman dan sebangsa."
> >
> > Niatan tulus sama juga diikrarkan oleh sekelompok orang Pakistan yang
> > datang ke Jepang tahun 1982 (dituturkan oleh Tethy Ezokanzo, dengan judul
> > artikel "Islam, Cinta Pertamanya", hal 145-147). Tanpa informasi yang
> > memadai tentang komunitas muslim di Jepang, rombongan Pakistan ini menginap
> > di bandara selama satu minggu. Tempat dimana mereka melaksanakan program
> > harian, membaca Al Quran, shalat, dan taklim.
> >
> > Setelah akhirnya dilarang untuk menginap di bandara, mereka pun menyewa
> > sebuah apato mungil di Tokyo, yang dilanjutkan dengan perjalanan ke Kyushu.
> > Semua dengan niatan murni, untuk berdakwah mengenalkan Islam ke setiap orang
> > yang mereka temui.
> >
> > Dan haru ini semakin memuncaki dada, saat saya membaca sosok Najia-san
> > (dituturkan oleh Tethy Ezokanzo, dengan judul artikel "Mukena Cantik
> > Najia-san" hal 139), yang berupaya keras mencari mukena di Sapporo. Karena
> > kesulitan menemukannya, Najia-san pun kemudian memodifikasi sprei
> > berbunga-bunga miliknya menjadi sebuah mukena. Subhanallah.
> >
> > Air mata saya pun meleleh seketika saat membaca perjuangan suami Rose FN
> > untuk mengucapkan salam dan kalimat "Fii amanillah" dalam suatu simulasi
> > setelah pengajian di Jepang (dituturkan oleh Rose FN, dengan judul artikel
> > "Mualaf, Salam, dan Myouji Islam", hal 43). Betapa dengan lidah orang Jepang
> > yang terbiasa berbahasa Jepang, suami Rose FN berulang kali salah melafalkan
> > L sebagai R. Dan betapa buah hati mereka dengan bersemangatnya, mendukung
> > ayah mereka dengan meneriakkan yel-yel "Ayo berjuang, Papa!"
> >
> > Ah, Cinta …
> > ***
> >
> > Sulit rasanya untuk tidak berkaca pada buku ini.
> >
> > Apalagi saya sebagai seorang muslimah, yang terlahir di keluarga muslim,
> > dan dibesarkan di Negara yang mayoritas muslim. Tempat dimana saya tidak
> > kesulitan menemukan mushalla atau masjid untuk menunaikan shalat, juga tak
> > perlu resah mencari makanan dan minuman halal. Berbagai kemudahan yang
> > mungkin jadi terlupakan nikmatnya. Taken for granted.
> >
> > Padahal, di lain sisi, kemudahan yang saya rasakan justru merupakan hal-hal
> > yang terasa mewah bagi komunitas muslim di Jepang. Seringkali, untuk
> > menunaikan shalat tepat waktu, mereka harus siap melakukannya di tempat
> > umum. Seperti misalnya di taman, atau museum. Dengan bermodalkan kompas, dan
> > beralaskan sehelai kain sederhana, mereka menghadap Sang Pencipta.
> >
> > Tak jarang, muncul pandangan aneh dari masyarakat Jepang yang kebetulan
> > menyaksikan seorang muslim sedang shalat di tempat umum. Namun seperti yang
> > dituliskan Rose FN di hal 168 "Menyikapi perlakuan seperti ini, sikap hanif
> > harus ditunjukkan. Jika kita sudah berlapang dada tas ketidaktahuan mereka,
> > maka dengan sendirinya kita akan nyaman untuk melaksanakan shalat di tempat
> > umum, bahkan nantinya akan timbul keinginan kuat dalam hati kita untuk
> > semakin mengenalkan shalat sebagai wujud dakwah amal kita". Insya Allah.
> >
> > Dan kepada para saudara muslim saya di Jepang, perkenankan saya
> > menghaturkan sekuntum doa dari jauh: "Bismillahirahmanirrahiim,
> > Alhamdulillaahi Rabbil `aalamiin. Arrahmaanir Rahiim, Maaliki yaumid diiin.
> > Iyyaka na'buduwa iyyaka nasta'iin. Ihdinas siraatal mustaqiim. Siraatal
> > ladziina an'amta `alayhim ghayril magduubi `alayhim waladdaalliin. Amiin.."
> > (Surat Al Fatihah)
> >
> > Selamat menyusuri Jalan Cahaya.
> > ***
> >
> > Dipersembahkan untuk para penulis Hikari no Michi: Ani Bowolaksono, Bainah
> > Sari Dewi, Banyumili, Ellnovianty Nine, Hifizah Nur, Lia Octavia, Lisman
> > Suryanegara, Lisza Anggraeny, Mulla Kemalawatyu, Rose FN, Sri Zein, Takanobu
> > Muto, Tethy Ezokanzo. Terima kasih banyak untuk menuliskan kisah-kisah cinta
> > ini dengan sepenuh jiwa. Sungguh, membaca buku ini, membuat saya berkaca dan
> > jatuh cinta lagi padaNya.
> >
> >
> >
>

13.

(catcil) Kebahagiaan Itu Keindahan

Posted by: "agussyafii" agussyafii@yahoo.com   agussyafii

Sun May 17, 2009 10:59 pm (PDT)



(catcil) Kebahagiaan Itu Keindahan

By: agussyafii

Pernahkah anda menyambut pagi hari dengan penuh kebahagiaan? Itulah yang dirasakan Ari dihari Ahad kemaren. Pada hari Ahad kemaren kegiatan 'Amalia Cinta Bumi' jam 6.30 pagi Ari sudah datang. Duduk rapih dengan membawa tasnya dan sambil membaca puisinya yang berjudul 'kupu-kupu.' Tak lama kemudian datang juga anak-anak Amalia yang lainnya seperti Mona, Ratna, Lusi, Atun, Arif, Fajar, Apoy, Dedek.

Kebahagiaan itu keindahan yang tak terlupakan bagi anak-anak Amalia. Sudah seminggu yang lalu hati mereka berdebar-debar menunggu tiba hari kegiatan ACIBU (Amalia Cinta Bumi). Kegiatan ini sudah menjadi bahan diskusi anak-anak Amalia tentang apa saja kegiatan yang hendak dilakukan. Kami, kakak pembina membagi anak-anak Amalia menjadi dua kelompok. Kelompok A terdiri dari kelas 1 sampai dengan kelas 3. Kelompok B terdiri dari kelas 4 sampai kelas 7. Untuk kelompok A dengan mendongeng oleh Bunda Jus (beliau penggiat Lingkungan dari UN, United Nation) ditemani oleh dua bidadari cantik, keponakannya dan juga bunda Nani. Sementara kelompok B mengadakan kegiatan Outbond yang bertema 'Amalia Cinta Bumi.'

terdengar suara riuh anak-anak Amalia ketika acara sedang dimulai. Saya membuka bersama bunda Nani untuk terlebih dahulu membaca doa, 'rodhitubillahi robba, wabil islamidina, wabi muhamadiyu warosulla..robbi dzitni ilma warzukni fahma...' Anak-anak Amalia mendongeng oleh Bunda Jus..sangat menarik sekali.

Anak-anak Amalia kelompok B yang ikut outbond terbagi menjadi 4 kelompok. Para peserta outbond sebagai penyelamat bumi. Mereka bertugas untuk menjaga bumi dari kerusakan. Dari pos utama mereka harus menuju Pos Bumi dan Pos Amalia, terlebih dahulu mereka harus menyelesaikan 'Game petani Bingung' yang dilaluinya. Ada petani bersama seekor kambing, seekor harimau, dan sekeranjang rumput. Petani harus melewati jembatan hanya boleh membawa satu aja agar bisa melewati jembatan. Kelompok Abu Bakar Assidiq begitu bersemangat, kata dani, 'Gamenya aneh..tapi seru juga kak agus.' setelah mereka melewati game 'petani bingung' menuju pos bumi yang harus menyelesaikan tugasnya yaitu menanam pohon dan memanfaatkan sampah untuk didaur ulang. Game yang kedua yang harus dilalui oleh peserta outbond adalah game 'ranjau darat.'

kata para peserta game 'ranjau darat' game yang agak susah karena mereka tidak dikasih tanda ranjau daratnya. 'tapi asyik deh' kata kak asep, salahsatu kakak pembina. Kak Yusman nampak juga bersemangat untuk mendampingi anak-anak Amalia. Setelah mereka berkumpul kembali. Kelompok yang kalah mendapatkan tugas untuk membersihkan halaman dan kelompok yang menang mendapatkan hadiah dari kakak pembina.

Di dinding kesan dan pesan komentar, fajar mengatakan, "Kak agus, sering-sering ya ngadain outbond.' sementara komentar Dede', belajar dan bermain bersama paling seru dan mengasyikkan.' Diakhir acara setelah makan siang, kakak pembina menjelaskan perlunya mengurangi kantong plastik dan selanjutnya membagikan tas belanja sebagai pengganti kantong plastik sebagai tanda cinta kak Fred untuk anak-anak Amalia yang didalamnya juga terdapat hadiah peralatan sekolah.

Alhamdulillah, kegiatan Amalia Cinta Bumi (ACIBU) berjalan dengan lancar. saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-beesarnya untuk Bunda Nani, Bunda Sus, Kak Yusman, Kak Rani, Kak Asep, Teh Euis, Teh Murni yang telah berkenan terlibat dalam kegiatan Amalia Cinta Bumi (ACIBU) dan juga Mas Fred yang sudah berkenan menyediakan Tas, Kak Anti Cake & Pudingnya. dan juga para bunda, kakak2 dan juga teman2 semua yang tidak bisa kami sebutkan lagi satu persatu.

semoga Alloh SWT membalas kebaikan bunda2, kakak2 dan juga teman2 semua..amin ya robbal alamin..

Wassalam,
agussyafii

Terima kasih atas dukungan teman semua atas terselenggaranya program kegiatan 'Amalia Cinta Bumi (ACIBU) Minggu, tanggal 17 Mei 2009, di Rumah Amalia, Jl. Subagyo Blok ii 1, no.23 Komplek Peruri, RT 001 RW 09, Sudimara Timur, Ciledug. TNG. Program 'Amalia Cinta Bumi (ACIBU)' mengajak. 'Mari, hindari penggunaan kantong plastik berlebihan, bawalah kantong belanja sendiri. Sebab Kantong plastik jenis polimer sintetik sulit terurai- Bila dibakar, menimbulkan senyawa dioksin yang membahayakan- Proses produksinya menimbulkan efek berbahaya bagi lingkungan.' Mari lanjutkan, kirimkan dukungan anda pada program 'Amalia Cinta Bumi' (ACIBU) melalui http://agussyafii.blogspot.com, http://id-id.facebook.com/people/Agus-Syafii-Muhamad/861635703 atau sms 087 8777 12431


Recent Activity
Visit Your Group
Share Photos

Put your favorite

photos and

more online.

Yahoo! Groups

Mom Power

Find wholesome recipes

and more. Go Moms Go!

Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web

Tidak ada komentar: