----- Original Message -----
From: "Mailinglist Alsofwah" <ustadz@alsofwah.or.id>
DARI RUMAH UMMU SULAIM
Ummu Sulaim ar-Rumaisha` binti Milhan al-Anshariyah, bersuamikan Malik
bin an-Nashr, dari suaminya ini Ummu Sulaim melahirkan Anas bin Malik.
Ummu Sulaim masuk Islam, dia mengajak Malik suaminya, tetapi ajakannya
ditolak. Malik marah karenanya, kemudian dia meninggalkan Ummu Sulaim
dan pergi ke Syam, di sanalah Malik menemui ajal.
Ummu Sulaim menjanda, karena kemuliaannya dan keluhurannya, tidak
sedikit hati laki-laki yang berhasrat menikahinya, salah satunya
adalah pemanah ulung kota Yatsrib -nama lama Madinah- Abu Thalhah.
Abu Thalhah datang melamar Ummu Sulaim. Ummu Sulaim menjawab, "Wahai
Abu Thalhah, orang sepertimu tidak pantas ditolak, sayang engkau kafir
dan aku seorang muslimah, aku tidak mungkin menikah denganmu." Abu
Thalhah menjawab, "Bukan itu maksudmu kan?" Ummu Sulaim berkata, "Lalu
apa maksudku?" Abu Thalhah menjawab, "Emas dan perak, kamu memilih
orang yang beremas dan berperak lebih dariku" Ummu Sulaim berkata,
"Aku tidak berharap emas dan perak, aku ingin Islam darimu. Jika kamu
masuk Islam maka itulah maharku, aku tidak minta yang lain." Abu
Thalhah menjawab, "Siapa yang menunjukkan Islam kepadaku?" Ummu Sulaim
menjawab, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam."
Berangkatlah Abu Thalhah menuju Rasulullah shallallaahu 'alaihi
wasallam, pada saat itu beliau sedang duduk bersama para sahabat.
Manakala beliau melihatnya beliau berkata, "Abu Thalhah datang,
terlihat cahaya Islam di kedua mata-nya." Abu Thalhah menyampaikan apa
yang diucapkan oleh Ummu Sulaim. Seterusnya Abu Thalhah menikahinya
dengan maskawin keislamannya. Tsabit al-Bunani, -rawi kisah ini dari
Anas - berkata, "Kami tidak mengetahui mahar yang lebih agung darinya.
Dia rela Islam sebagai maharnya."
Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim, seorang wanita yang bermata indah
lagi sipit. Dari pernikahan ini Ummu Sulaim melahirkan seorang anak
yang begitu dicintai oleh ayahnya, Abu Thalhah.
Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas berkata, anak
laki-laki Abu Thalhah sakit, Abu Thalhah keluar dan anak tersebut
wafat, ketika Abu Thalhah pulang, dia bertanya, "Bagaimana anakku?"
Ummu Sulaim, ibu anak itu menjawab, "Wahai Abu Thalhah, sejak dia
sakit dia tidak pernah setenang seperti sekarang." Ummu Sulaim
menyiapkan makan malam, Abu Thalhah menyantapnya, setelah itu Abu
Thalhah menggauli istrinya, setelahnya Ummu Sulaim berkata,
"Kuburkanlah anak ini." Di pagi hari Abu Thalhah datang kepada Nabi
shallallaahu 'alaihi wasallam, beliau bertanya, "Apakah semalam kamu
berhubungan?" Abu Thalhah menjawab, "Ya." Nabi shallallaahu 'alaihi
wasallam bersabda, "Ya Allah, berkahilah keduanya." Maka Ummu Sulaim
melahirkan seorang anak laki-laki. Abu Thalhah berkata kepadaku,
"Bawalah adikmu ini kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam." Sambil
memberikan beberapa butir kurma. Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam
bertanya kepada Anas, "Ada sesuatu bersamanya?" Anas menjawab, "Ada
beberapa butir kurma." Lalu Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam
mengambilnya dan mengunyahnya lalu meletakkannya di mulut anak itu,
beliau mentahniknya dan menamakannya Abdullah.
Dalam sebuah riwayat al-Bukhari, Ibnu Uyainah berkata, seorang
laki-laki Anshar berkata, "Aku melihat sepuluh anak, semuanya hafal
al-Qur`an." Yakni anak Abdullah bin Abu Thalhah.
Dalam riwayat Muslim, anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim wafat, Ummu
Sulaim berkata kepada keluarganya, "Jangan menyampaikan kepada Abu
Thalhah, biarkan aku sendiri yang berbicara." Abu Thalhah pulang, Ummu
Sulaim menghidangkan makan malam, Abu Thalhah makan dan minum,
kemudian Ummu Sulaim berhias untuknya sebaik-baiknya seperti yang dia
lakukan sebelumnya, maka Abu Thalhah mendatanginya, setelah Abu
Thalhah kenyang dan mendapatkan keinginannya, Ummu Sulaim berkata,
"Wahai Abu Thalhah, menurutmu seandainya ada suatu kaum yang meminjam
sesuatu, lalu pemiliknya memintanya, apakah mereka berhak menahannya?"
Abu Thalhah menjawab, "Tidak." Ummu Sulaim berkata, "Memohonlah pahala
kepada Allah dengan kematian anakmu."
Abu Thalhah marah dan berkata, "Kamu membiarkanku sampai aku terkotori
oleh perbuatan ini kemudian kamu mengatakan tentang anakku?" Abu
Thalhah mendatangi Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan
menyampaikan apa yang terjadi. Rasulullah shallallaahu 'alaihi
wasallam bersabda, "Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua." Dia
berkata, maka Ummu Sulaim hamil.
Dia berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam sedang dalam
perjalanan, Abu Thalhah dengan Ummu Sulaim termasuk di dalam
rombongan, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam sendiri pada saat
pulang ke Madinah dari suatu perjalanan beliau tidak pernah masuk kota
di waktu malam, rombongan telah mendekati Madinah, Ummu Sulaim
merasakan tanda-tanda persalinan, akibatnya Abu Thalhah sibuk
mengurusinya, padahal Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam terus
berjalan. Abu Thalhah berkata, "Ya Rabbi, Engkau mengetahui bahwa aku
menyukai berangkat bersama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam
jika beliau berangkat dan pulang jika beliau pulang, padahal saat ini
aku tertahan karena sesuatu yang telah Engkau ketahui." Ummu Sulaim
berkata, "Wahai Abu Thalhah, apa yang aku rasakan telah hilang, kita
berjalan." Ummu Sulaim melahirkan pada saat tiba di Madinah, bayinya
laki-laki. Maka ibuku berkata kepadaku, "Wahai Anas, bawalah dia
kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam sebelum dia disusui
oleh seseorang." di pagi hari aku membawanya kepada Rasulullah
shallallaahu 'alaihi wasallam .. Dan dia menyebutkan hadits seperti
sebelumnya.
Kisah ini mengandung beberapa keteladanan bagi keluarga muslim:
1- Tanggung jawab seorang istri muslimah dalam berdakwah kepada suami,
hal ini terlihat dari ajakan Ummu Sulaim kepada suaminya yang pertama,
Malik bin Nashr, walaupun dia menolak. Dan dakwah Ummu Sulaim kepada
Abu Thalhah agar masuk Islam, dan dia menerima.
Jangan dikira bahwa tanggung jawab berdakwah hanya ada di pundak suami
muslim semata, akan tetapi tanggung jawab ini juga ada di pundak istri
dalam kadar yang sepadan, inilah yang dipahami oleh Ummu Sulaim.
2- Hendaknya seorang muslimah tidak mementingkan harta benda di atas
agama. Lihatlah Ummu Sulaim, dia menolak emas dan perak, meskipun dia
mungkin mendapatkannya, dia lebih mengedepankan agama di atas semua
itu.
Berbeda dengan yang terlihat di zaman ini, kecenderungan para wanita
kepada suami yang tajir walaupun dia sama sekali tidak memiliki
perhatian kepada agamanya. Ini adalah sebuah kerugian bagi rumah
tangga dan menjadi sebab problem rumit di antara suami istri di
kemudian hari.
3- Meringankan mahar atas suami sehingga pernikahan membawa berkah,
ini merupakan sebab penting dalam mengatasi problem perawan tua, di
samping membuka pintu pernikahan kepada para pemuda, dengan itu
pintu-pintu perzinahan bisa di segel dan ditutup
4- Istri sebagai sumber ketenangan dan ketenteraman rumah dengan
menyambut suami diiringi ucapan lembut dan mesra, memperhatikan
urusan-urusannya, tidak mengejutkannya dengan perkara yang terjadi di
rumah yang bisa memicu kemarahan dan kesedihannya.
Suami pulang ke rumah untuk mengambil hak istirahat, jika istri
menyambutnya dengan sodoran problem-problem rumah sementara dia dalam
keadaan lelah, tidak menutup kemungkinan dia akan bertindak tidak baik
akibat dari kelelahan. Maka istri harus menjaga suami sehingga dia
beristirahat terlebih dahulu, setelah itu dia mulai menyampaikan
problem rumah dengan cara yang diterima olehnya. Hal ini terlihat
jelas dari sikap Ummu Sulaim setelah putranya meninggal, dia menyambut
suaminya dengan sangat baik dan meyakinkannya dengan cara yang
diterima olehnya, bahkan dia sempat berhias dan memberikan kenikmatan
kepada suami. Baru setelah suami tenang, dia menyampaikan apa yang
terjadi, walaupun Abu Thalhah sempat marah, akan tetapi tidak sebesar
jika apa yang terjadi disampaikan kepadanya tidak dalam kondisi
tersebut.
5- Kesabaran istri muslimah terhadap musibah dan menerima dengan
lapang dada, ini ditunjukkan oleh Ummu Sulaim sebagai bukti nyata
kekuatan imannya, walaupun yang wafat adalah jantung hatinya, dia
tetap sabar dan karenanya Allah menggantikannya dengan seorang putra
yang di kemudian hari memiliki sepuluh anak laki-laki, para huffazh
al-Qur`an.
Dalam hadits Ummu Salamah berkata, aku telah mendengar Rasulullah
shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak ada seorang muslim yang
ditimpa musibah lalu dia berkata, "Innalillahi wainna ilaihi raji'un
ya Allah berikanlah pahala kepadaku dalam musibahku dan berikan ganti
kepadaku yang lebih baik darinya, kecuali Allah memberinya pahala dan
ganti yang lebih baik."
Ummu Salamah berkata, "Manakala Abu Salamah wafat aku berkata,
"Siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah, keluarga pertama yang
hijrah kepada Allah. Lalu aku mengucapkan doa di atas, maka Allah
memberiku gantinya yaitu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam."
Diriwayatkan oleh Muslim.
( Oleh: Ust. Izzudin Karimi, Lc).
----------------------------------------------------------
dari: YAYASAN AL-SOFWA Jakarta
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 Kode Pos:12810
Jakarta Selatan - Indonesia
Telp.: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326.
e-mail: info@alsofwah.or.id
website: www.alsofwah.or.id
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar