Sabtu, 11 Juni 2011

[daarut-tauhiid] Orang-Orang Yang Merdeka

 

Orang-Orang Yang Merdeka

Cape Town, Afrika Selatan, 07 Juni 2011

Abdassamad Clarke -

Ilusi kebebasan terus memenjara manusia di "Zaman Hutang" ini dalam
perbudakan. Bagaimana membebaskan diri darinya?

Laki-laki dan perempuan merdeka merupakan fondasi tatanan masyarakat yang
sehat. Mereka dibedakan dari para budak. Secara klasik ada dua rute ke
perbudakan: peperangan dan utang, karena jika seseorang bangkrut di masa itu
ia menjadi budak kreditornya. Kondisi yang terakhir ini memiliki resonansi
khusus untuk kita hari ini yang dengan cepat telah menjadi Zaman Utang.

Ada beberapa jenis budak yang berbeda. Ada budak rumahan dan pertanian dan
ada budak yang bisa keluar dan bekerja di dunia luar dengan keahlian atau
keterampilan yang mereka miliki dan atas imbalan untuk membayar daribah
kepada pemiliknya demi izin untuk hal itu. Sekarang daribah dipahami oleh
setiap orang Arab modern sebagai 'pajak penghasilan' (PPh). Dengan begitu,
sifat terselubung dari kondisi zaman kita kini menjadi terungkap jelas: kita
adalah budak yang diizinkan untuk bekerja dan mendapatkan uang di luar
dengan syarat bahwa kita membayar pemilik kita, dalam hal ini negara, berupa
pajak penghasilan (PPh) atas penghasilan dan kerja keras kita.

Bagi seorang muslim, satu-satunya 'pajak' adalah membayar zakat, yang
diambil oleh kolektor (amil) yang ditunjuk oleh seorang amir dan diberikan
olehnya kepada delapan kategori yang diperbolehkan untuk menerimanya. Jadi,
sementara kita memperdebatkan kebebasan berbicara dan kebebasan dalam
pemilu, dll, kita telah kehilangan kemampuan melihat fakta bahwa kita telah
lama menyerahkan kebebasan penting untuk menolak perampasan kekayaan kita
melalui perpajakan, dan menerimanya sebagai imbalan atas hak demokratis
untuk memilih orang yang akan mengambil dan mengelola perpajakan itu 'atas
nama kita', seolah-olah kita secara mental atau secara hukum tidak kompeten,
atau memang, seperti budak yang tergantung pada pemiliknya. Namun, masih ada
yang lebih buruk lagi.

Slave Master Yang Tersembunyi

Ternyata, pemerintah terpilih yang berperilaku sebagai tuan kita itu sendiri
tidak lebih dari pelayan yang diwajibkan bertugas untuk mengatur pengumpulan
dan pembayaran daribah yang bermuara ke bank, yang sampai saat ini terus
tetap tersembunyi sebagai slavemasters yang sebenarnya. Oleh karena itu,
situasi kita bahkan lebih buruk daripada budak, dapat dibandingkan lebih
dekat dengan ternak yang digembala oleh para budak itu.

Tingkat daribah yang diminta oleh bank, bahkan lebih hebat lagi dalam
menghancurkan kekayaan dan kebebasan kita, lewat berbagai perangkat
akuntansi yang memungkinkan mereka untuk menciptakan uang dari udara hampa,
dan kemudian mengenakan bunga majemuk baik kepada pemerintah, perusahaan,
maupun perorangan, yang memiliki sedikit pilihan selain meminjam dari uang
beredar yang tanpa henti terus disulap itu. Hal ini menyebabkan munculnya
tidak saja berbagai biaya tambahan dan pajak yang dikenakan pada hampir
setiap tahap dari proses hidup kita, tapi juga inflasi umum yang menggerus
kekayaan kita yang sudah berkurang itu.

Kerusuhan sipil yang tengah terjadi di Timur Tengah seolah telah mengangkat
'bendera kebebasan', tetapi tetap berada dalam kungkungan budak dan
perbudakan. Mereka ingin memilih secara bebas dan adil 'budak-budak' yang
kemudian akan memerah mereka seperti kambing yang diperah susunya, sementara
mereka pasti tidak akan punya pilihan atas bank yang menerbitkan uang
bohongan - uang kertas yang tak bernilai- dan menarik upeti dari pemerintah
dengan cara yang, cepat atau lambat, mengakibatkan kehancuran ekonomi secara
keseluruhan dan seluruh masyarakat itu sendiri.

Peringatan kami di sini, dari Barat [kedua penulis adalah warga Norwich,
Inggris, red] untuk saudara-saudara muda kita di Timur Tengah, adalah bahwa
tidak adanya perbudakan tidak berarti ada kebebasan. Tanpa laki-laki dan
perempuan yang merdeka secara spiritual dan memiliki integritas intelektual
menuntut kemandirian atas naluri makhluk individual mereka, bukan saja tidak
ada jalan untuk melarikan diri dari tirani terbuka itu, tetapi juga tidak
ada perlindungan dari ilusi tentang kebebasan.

Di manakah orang-orang yang benar-benar bebas merdeka itu? Mereka ada dalam
diri Anda (jika Anda tidak terlalu membuang-buang waktu), mereka adalah di
antara Anda (jika kondisi mendukung mereka), atau boleh jadi mereka masih
harus dilahirkan, apapun kondisinya, mereka harus diberdayakan. Ilmu-ilmu
din kita yang mulia yang telah diabaikan memegang kunci untuk pemulihan
mereka, dan tanpa membuka kunci kombinasi dinamika dalam dan luarnya, Anda
tidak akan menciptakan kondisi untuk munculnya mereka, dan Anda tidak akan
tahu bagaimana mengenali mereka atau bagaimana membina mereka - tapi tahu
bahwa tanpa mereka, Anda akan tetap terpenjara dalam sebuah labirin asap dan
cermin yang memperlihatkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya dalam
sejarah umat manusia.

La haula wa la quwata ila 'billahi alliyil' azhiim.

Abdassamad Clarke dan Uthman Ibrahim- Morrison

Dibaca : 460 kali

http://www.wakalanusantara.com/detilurl/Orang-Orang.Yang.Merdeka./832/id

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
.

__,_._,___

Tidak ada komentar: