Sunnah terhadap pemerintah Muslim. Ceramah ini disampaikan dalam menanggapi
bom bunuh diri di Hotel JW Marriot dan Ritz akhir-akhir ini. Di sampaikan
oleh Ust. Badrussalam, Lc. Selamat menyimak dan semoga bermanfaat.
DOWNLOAD CERAMAH DISINI ->
http://www.radiorodja.com/podpress_trac/web/1250/0/HukumBomBunuhDiri.mp3
Faidah yang dapat diambil dari ceramah:
1. Islam adalah agama yang datang untuk memperbaiki, bukan merusak.
2. Barangsiapa yang membunuh seorang muslim dengan sengaja maka dia masuk
neraka jahannam, Allah murka kepadanya, dan Allah akan melaknatnya.
3. Tidak boleh membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah tanpa hak yang
benar
4. Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena tiga perkara: orang yang
membunuh, orang yang berzina tetapi telah menikah, dan orang yang murtad.
Ini dengan catatan bahwa yang menghukumnya adalah pihak yang berwajib.
5. Membunuh orang kafir yang berada dalam perlindungan/ perjanjian
orang-orang Islam adalah haram bahkan dalam sebuah hadits dikatakan bahwa
dia tidak akan mencium bau surga.
6. Islam melarang seorang muslim bunuh diri.
7. Orang yang mati karena bunuh diri kelak akan disiksa dengan cara yang
sama bagaimana dia bunuh diri.
8. Tidak ada maslahatnya melakukan bom bunuh diri seperti yang terjadi
akhir-akhir ini, justru yang ada malah kaum muslimin manjadi alergi dengan
sunnah, orang yang berjenggot –karena sunnah- dianggap teroris, dan
sebagainya.
9. Diantara keyakinan Ahlussunnah adalah wajib taat kepada pemimpin kaum
muslimin selama mereka tidak memerinthakan untuk berbuat kemaksiatan,
meskipun mereka adalah pemerintah yang dzalim. Bukan justru
gampang-gampangnya mengkafirkan pemerintah sehingga menyebabkan munculnya
bom-bom disana-sini yang sebenarnya akarnya adalah karena menanggap
pemerintah telah kafir.
10. Keyakinan Ahlussunnah, bahwa berhukum dengan selain hukum Allah adalah
dosa besar, tetapi tidak otomatis langsung kafir.
11. Penafsiran Ibnu Abbas atas ayat Allah, "Dan siapa yang berhukum dengan
hukum selain Allah adalah kafir", yang dimaksud adalah "kufrun duuna
kufrin", artinya kufur yang tidak mengkafirkan. Atsar ini shahih.
12. Sebagai penguat lagi adalah Raja Najasyi, seorang raja yang
menyembunyikan ke-Islamannya, yang tentu saja dalam pemerintahnya tidak
berhukum dengan hukum Allah, tetapi Nabi justru melaksanakan sholat ghoib
ketika Raja Najasyi meninggal, yang hal ini menandakan bahwa Raja Najasyi
adalah muslim yang tidak kafir karena tidak berhukum dengan hukum Allah
dalam pemerintahnya. Seandainya Raja Najasyi kafir karena tidak berhukum
dengan hukum Allah dalam pemerintahnya, tentu Nabi dan sahabat tidak akan
mensholatinya.
13. Masalah mengkafirkan seorang muslim adalah perkara yang sangat berat,
justru dalam sebuah hadits dikatakan bahwa jika seseorang menuduh orang
kafir, maka bisa kembali tuduhan tersebut kepada si penuduh jika tuduhan
tersebut tidak benar.
14. Ahlusunnah bersepakat dalam masalah mengkafirkan seseorang harus
terpenuhi padanya (yang melakukan perbuatan kufur) empat syarat: (1). Orang
yang melakukannya telah baligh dan berakal. (2). Orang tersebut
melakukannya dengan kerelaan, tanpa adanya paksaan. Dengan dalil kisahnya
Ammar bin Yasir. (3). Sudah tegak padanya hujjah/ dalil, dia sudah paham
hujjah yang disampaikan dan tidak ada syubhat. (4). Dia melakukan kekufuran
tersebut tidak karena muta-awwil / adanya syubhat sehingga menganggapnya
sebagai suatu hal yang diperbolehkan. Dengan dalil kisah Muadz bin Jabbal
radliyallahu'anhu yang sujud kepada Nabi shallallahu'alaihi wa sallam.
15. Syaikhul Islam mengatakan: "Tidaklah kaum muslimin memberontak kepada
pemimpin yang sah, kecuali Allah akan berikan kepada mereka berbagai macam
kehinaan."
16. Terjadinya pemimpin-pemimpin yang dzalim itu semua adalah kesalahan
rakyatnya. Allah tidak akan memberikan suatu pemimpin suatu kaum melainkan
sesuai dengan keadaan rakyatnya. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)
17. Pemimpin adalah cermin bagi rakyatnya (Ibnu Qayyim)
18. Terlarangnya mencela pemerintah dihadapan khalayak ramai.
19. Menasehati pemerintah adalah dengan cara yang baik, dan dengan
menyendiri dengan mereka. Nabi bersabda, "Barangsiapa yang ingin menasehati
penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia
pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar
nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila si penguasa itu enggan (tidak
menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang
dibebankan kepadanya." (HR. Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah).
sumber link ceramah: http://radiorodja.com
DUKUNG GRUP " UMAT ISLAM INDONESIA MENENTANG AKSI TERORISME" DI FACEBOOK :
http://www.facebook.com/home.php#/group.php?gid=105274974510&ref=ts
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Send big files for free. Simple steps. No registration.
Visit now http://www.nawelny.com
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
mailto:daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar