Sabtu, 08 Agustus 2009

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2764

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (22 Messages)

1a.
Re: [Ralat Maklumat] Takziyah Ke Rumah Nia, Yuk From: r widhiatma
1b.
Re: [Ralat Maklumat] Takziyah Ke Rumah Nia, Yuk From: Nursalam AR
1c.
Re: [Ralat Maklumat] Takziyah Ke Rumah Nia, Yuk TAUFIQ From: tendo_cbn
2.1.
Re: (Catcil) Potong rambut From: bujang kumbang
3.
(Catcil) Pengangguran Sukses From: fiyan arjun
4a.
(Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa From: fiyan arjun
4b.
Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dew From: Ramaditya Skywalker
4c.
Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dew From: Hamasah
4d.
Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dew From: fil_ardy
4e.
Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dew From: Ramaditya Skywalker
4f.
Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku--Kang Dhani From: bujang kumbang
4g.
Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dew From: dayat, cendana2000
4h.
(Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan  Aku--Mas Rama From: bujang kumbang
4i.
Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku--Mas Rama From: Ramaditya Skywalker
4j.
Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dew From: Ramaditya Skywalker
5a.
(catatan dikaki) SK Jakarta (Insya Allah) Mau Bikin Paket Bubar From: fiyan arjun
5b.
(catatan dikaki) Rapat Perdana Paket Bubar  tgl, 17 Agustus 2009 From: bujang kumbang
6.1.
Re: Trilogi Lima Bidadari - Buat Rama From: Ramaditya Skywalker
7.
(Iklan) BUKU-BUKU KHUSUS DI BULAN RAMADHAN ANJU ONLINE BOOKSHOP From: fiyan arjun
8.
BU, FADHIYAH NYAMBEL! From: uncle vant
9.
Nado From: dudesaito
10.
KANTOR PARTAI From: uncle vant

Messages

1a.

Re: [Ralat Maklumat] Takziyah Ke Rumah Nia, Yuk

Posted by: "r widhiatma" r_widhiatma@yahoo.com   r_widhiatma

Fri Aug 7, 2009 5:00 am (PDT)




wa'alaikumsalam wr wb

hmm... kalau hari Ahad saya ndak bisa datang.
tadinya kalau hari Sabtu saya bisa.

maaf ya Nia..
maaf ya teman-teman..

salam

raul wid

--- On Fri, 8/7/09, fil_ardy <fil_ardy@yahoo.com> wrote:

From: fil_ardy <fil_ardy@yahoo.com>
Subject: [sekolah-kehidupan] [Ralat Maklumat] Takziyah Ke Rumah Nia, Yuk
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Friday, August 7, 2009, 9:58 AM

 

Assalamualaikum WrWb

Selamat pagi.. siang.. sore dan malam..

Sahabat, seperti duka yang dialami oleh sahabat kita saudari Nia Robie' atas berpulangnya sang ayahanda,plus silaturahim dan sebagai sarana dzikrul maut bagi kita semua, yang juga pasti mengalaminya. Kami mengajak sahabat SK dimanapun berada untuk bersama-sama takziyah dan bersilaturrahim ke kediaman Saudari Nia Robie' (bagi yang belum sempat ke sana).

Jika ada yang mempunyai keluangan waktu, kami tunggu kedatangannnya untuk bersama-sama berkunjung ke sana. Kita kumpul di Masjid Parung

Hari : AHAD 09 Agustus 2009 (LUSA),

Jam : 10 (berangkat bareng2 dari sana)

(maaf saya lupa nama masjidnya, letaknya sekitar 100 meter sebelum pasar parung, kalo dari arah Lebak Bulus ada di sebelah kanan jalan. Biar mudah, bilang aja ke sopir angkotnya turun di Masjid besar sebelum pasar Parung).

InsyaAlloh beberapa sahabat sudah confirm akan hadir jika tidak ada aral melintang *tsaah, aral melintaaang* beberapa sahabat tersebut adalah:

1. Dani, Endah dan Nibras

2. Novi Ningsih

3. Divin

4. Catur

5. Taufik Bogor

6. Mas Nursalam*

7. R Widhiatman*

8. Galih*

9. Mbak Lia*

10. ???

11. ???

yang mau ikut silakan absennya diteruskan sendiri. Sekian, ditunggu kehadirannya.

Wassalamualaikum WrWb

DANI

* Sedang dikonfirmasi











1b.

Re: [Ralat Maklumat] Takziyah Ke Rumah Nia, Yuk

Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com

Fri Aug 7, 2009 5:10 am (PDT)



Kang Dani, terima kasih untuk woro-woronya. Tapi, jika berubah jadi Ahad,
saya masih mempertimbangkan. Moga ada celah waktu pada hari Ahad setelah
acara keluarga di pihak keluarga istri. Tadinya, seperti saya konfirmasikan
ke Mas Catur yang meng-sms saya tentang rencana melayat (takziah) hari
Sabtu, saya bisa jika Sabtu. Yah, bagaimanapun dan apapun nantinya, doa dan
belasungkawa dari kami sekeluarga untuk Nia dan keluarga.

Tabik,
-kami sekeluarga -
Nursalam AR, Yuni Meganingrum & Muhammad Alham Navid

On 8/7/09, r widhiatma <r_widhiatma@yahoo.com> wrote:
>
>
>
>
> wa'alaikumsalam wr wb
>
> hmm... kalau hari Ahad saya ndak bisa datang.
> tadinya kalau hari Sabtu saya bisa.
>
> maaf ya Nia..
> maaf ya teman-teman..
>
>
> salam
>
> raul wid
>
>
>
> --- On *Fri, 8/7/09, fil_ardy <fil_ardy@yahoo.com>* wrote:
>
>
> From: fil_ardy <fil_ardy@yahoo.com>
> Subject: [sekolah-kehidupan] [Ralat Maklumat] Takziyah Ke Rumah Nia, Yuk
> To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
> Date: Friday, August 7, 2009, 9:58 AM
>
>
>
> Assalamualaikum WrWb
>
> Selamat pagi.. siang.. sore dan malam..
>
> Sahabat, seperti duka yang dialami oleh sahabat kita saudari Nia Robie'
> atas berpulangnya sang ayahanda,plus silaturahim dan sebagai sarana dzikrul
> maut bagi kita semua, yang juga pasti mengalaminya. Kami mengajak sahabat SK
> dimanapun berada untuk bersama-sama takziyah dan bersilaturrahim ke kediaman
> Saudari Nia Robie' (bagi yang belum sempat ke sana).
>
> Jika ada yang mempunyai keluangan waktu, kami tunggu kedatangannnya untuk
> bersama-sama berkunjung ke sana. Kita kumpul di Masjid Parung
>
> Hari : AHAD 09 Agustus 2009 (LUSA),
> Jam : 10 (berangkat bareng2 dari sana)
>
> (maaf saya lupa nama masjidnya, letaknya sekitar 100 meter sebelum pasar
> parung, kalo dari arah Lebak Bulus ada di sebelah kanan jalan. Biar mudah,
> bilang aja ke sopir angkotnya turun di Masjid besar sebelum pasar Parung).
>
> InsyaAlloh beberapa sahabat sudah confirm akan hadir jika tidak ada aral
> melintang *tsaah, aral melintaaang* beberapa sahabat tersebut adalah:
>
> 1. Dani, Endah dan Nibras
> 2.. Novi Ningsih
> 3. Divin
> 4. Catur
> 5. Taufik Bogor
> 6. Mas Nursalam*
> 7. R Widhiatman*
> 8. Galih*
> 9. Mbak Lia*
> 10. ???
> 11. ???
>
> yang mau ikut silakan absennya diteruskan sendiri. Sekian, ditunggu
> kehadirannya.
>
> Wassalamualaikum WrWb
>
> DANI
>
> * Sedang dikonfirmasi
>
>
>
>

--
"Open up your mind and fly!"

Nursalam AR
Penerjemah, Penulis & Editor
0813-10040723
021-92727391
www.nursalam.multiply.com
www.facebook.com/nursalam.ar
1c.

Re: [Ralat Maklumat] Takziyah Ke Rumah Nia, Yuk TAUFIQ

Posted by: "tendo_cbn" tendo_cbn@yahoo.co.id   tendo_cbn

Fri Aug 7, 2009 8:33 pm (PDT)



Assalam..wrwb..
Kang, sadaya punten abdi teu tiasa ngiring pami minggu mah, insyaAllah ada syukuran Tujuh bulan istri, sekalian syukuran rumah baru. insyaAllah mau langsung pindahan..

Sekali lagi ane minta maaf, gak bisa hadir.

salam,
Taufiq

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Nursalam AR <nursalam.ar@...> wrote:
>
> Kang Dani, terima kasih untuk woro-woronya. Tapi, jika berubah jadi Ahad,
> saya masih mempertimbangkan. Moga ada celah waktu pada hari Ahad setelah
> acara keluarga di pihak keluarga istri. Tadinya, seperti saya konfirmasikan
> ke Mas Catur yang meng-sms saya tentang rencana melayat (takziah) hari
> Sabtu, saya bisa jika Sabtu. Yah, bagaimanapun dan apapun nantinya, doa dan
> belasungkawa dari kami sekeluarga untuk Nia dan keluarga.
>
> Tabik,
> -kami sekeluarga -
> Nursalam AR, Yuni Meganingrum & Muhammad Alham Navid
>

2.1.

Re: (Catcil) Potong rambut

Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id   bujangkumbang

Fri Aug 7, 2009 8:31 am (PDT)



wukakakakak...
pkbr Bro?
udah lm gak bersua...
gmn sehat2 ajakan...
amin!

--- Pada Kam, 6/8/09, Lia Octavia <liaoctavia@gmail.com> menulis:

Dari: Lia Octavia <liaoctavia@gmail.com>
Judul: Re: [sekolah-kehidupan] (Catcil) Potong rambut
Kepada: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Cc: ketik_galih@yahoo.co.id, lydia@asmo.co.id
Tanggal: Kamis, 6 Agustus, 2009, 1:37 PM

 

Kang Galih, aku tersenyum-senyum membaca catcilmu kali ini... Pengalaman salah potong rambut yang dulu pernah juga kualami membuat aku mengeramas rambutku setiap hari agar cepat panjang lagi ^_^
Walau kini memakai kerudung, aku tetap memerhatikan model rambut yang dipotong oleh stylist dan perawatannya tentunya... selain dianggap sbg mahkota, rambut juga berperan penting dalam membentuk image tampilan seseorang.. ^_^
 
Semoga rambut kang Galih cepat panjang ya... (keramas ajah tiap hari ^_^)
 
Salam
Lia
 
p.s.: jadi pengen liat Kang Galih nih hehehehehe  

 
On 8/6/09, galih@asmo.co. id <galih@asmo.co. id> wrote:

 

POTONG RAMBUT
Sebuah kisah sedih di awal bulan.

Dalam soal memotong rambut saya sring merasa tidak puas dengan hasil potongan si tukang cukur. Entah itu dicukur di asgar (Asli Garut) ataupun di salon saya sering merasa kecewa dengan hasilnya. Selalu saja tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan.

Lagi, untuk yang sekian kali saya merasa tidak sesuai dengan model rambut saya sekarang. Aneh, dan selalu memicu tawa bagi siapa saja yang melihatnya. Benar-benar menghancurkan rasa percaya diri.

Semalam saya mencukur rambut di sebuah salon. Sengaja saya memilih salon mengingat tingkat kegagalannya lebih kecil dibandingkan tempat-tempat cukur selain salon. Di salon umumnya memliki teknik memotong yang baik dan tidak asal potong seperti selain salon, tapi ini menurut saya.

Sengaja saya memilih salon yang sudah dua kali saya kunjungi. Tentu saja saya mulai merasa cocok mengingat dua kali potong rambut hasilnya tidak begitu mengecewakan.

Saya pun menuju meja recepcionist untuk mendaftar nama saya. Seperti biasa saya hanya memilih paket potong rambut saja tanpa perawatan-perawatan yang lain. Maklum budget potong rambut tidak boleh lebih dari Rp 20.000.

Seperti biasa sebelum dipotong rambut di cuci terlebih dahulu dan ini hal yang wajar. Setelah itu saya dipersilahkan menuju tempat dimana saya akan dipotong rambut. Tidak lama datanglah seorang wanita menhampiri saya. Saya pikir inilah sang eksekutor bagi rambut saya malam ini.

Sang eksekutor berbeda dengan yang biasa memotong rambut saya. Saya melihat kesamping ternyata orang  yang biasa memotong rambut saya sedang memotong rambut pelanggan yang lain. Ya sudah, dengan yang ada saja. tapi entah kenapa pada saat itu terpikirkan bahwa jika orang baru yang memotong rambut aka hasilnya akan lain.

Sekitar 30 menit berlalu dan diperlihatkanlah model rambut yang katanya sesuai dengan permintaan saya. Oh my God, itu gumam saya dalam hati. Aneh benar model rambut, pendek tidak karuan dan tampak jadul. Weleh-weleh, pertanda kurang baik nih kalau seperti ini.

"Mbak, kok kurang bagus ya?" tanyaku kepada sang eksekutor.
"Iya, sih!" Jawab sang eksekutor.
"Gubraks!" Diiyakan lagi.
"Ya udah, pinggirnya ditipiskan saja tapi jangan terlalu tipis. Saya tidak mau modelnya seperti mandarin." Pinta saya.

Beraksilah sang eksekutor itu memangkas rambut saya di semua bagian. Tidak berapa lama dia memperlihatkan lagi hasil kerjanya.

Fiyuh.....
Kok jadi seperti batok yak? Aduh...jadi tambah gak karuan. Potongannya tipis sebelah dan tidak rata. Ancur....!

Melihat model rambut saya yang sukses berbentuk seperti batok jadi ngenes rasanya. Mau dipaksakan untuk dibuat panjangnya 2 cm namun terlalu tipis dan saya memiliki sesuatu di kepala ini yang harus saya sembunyikan.

Akhirnya saya terpaksa menerima model yang tidak saya inginkan ini. Kemudian saya menuju kasir dan ternyata jumlah yang harus saya bayar lebih dari Rp. 20.000. Aneh, padahal tidak ada yang beda antara potong rambut yang sebelumnya dengan yang sekarang. Ya sudah saya bayarkan dan pergi tanpa meberikan tips pada si pemotong rambut.

Terbayang deh apa yang akan terjadi keesokan hari di kantor. Ledak tawa akan memenuhi telinga saya.

Pagi ini dikantor, apa yang saya khwatirkan terjadi. Seharusnya saya berfikir yang lebih positif sehingga efek yang terjadi juga positif. Karena sudah terpikirkan hal-hal yang negatis maka terjadilah.

"Gal, cukur rambut gak paka kaca ya?"
"Gal, kok rambutnya gak sama antara yang kiri dan kanan? Terus bagian atasnya kok begitu?"
"Galih potong rambutnya yang gratisan sih....begitu deh hasilnya."

Banyak lagi komentar-komentar yang membuat percara diri saya makin anjlok. Akhirnya saya memutuskan untuk memakai topi selama saya dikantor. Saya pikir itu ide yang terbaik daripada mendengan ocehan-ocehan perusak percaya diri.

Aduh....hei rambut cepatlah panjang lagi........

Cibitung, 06 Agustus 2009

Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com
3.

(Catcil) Pengangguran Sukses

Posted by: "fiyan arjun" fiyanarjun@gmail.com

Fri Aug 7, 2009 8:46 am (PDT)



*Pengangguran Sukses*

*Fiyan 'Anju' Arjun*

Sekarang ini ada julukan lagi yang menempel di tubuh saya. Julukan itu kalau
tidak salah saya dengar baru-baru ini. Dan itu pun membuat saya terkejut
kenapa julukan bisa menempel ke saya. Padahal yang saya tahu julukan itu tak
pantas saya sandang terlebih pada sekarang ini. Tapi ketika julukan itu
terus bergulir kepada saya akhir-akhir ini, hmm…, ternyata asyik juga.

Mau tahu siapa yang menjuluki julukan itu kepada saya akhir-akhir ini? Tak
lain tak bukan keponakan laki-laki saya—yang tahu betul kegiatan saya
lakukan setiap hari. Dan dialah orang yang pertama kali menjuluki julukan
itu.

"Wah, sekarang makin sukses aja, *Cing*. Sudah punya laptop dan juga dagang
buku *online*," kata keponakan saya yang baru lulus SMU tahun ini suatu hari
ketika melihat saya sedang mendata list buku-buku dagangan yang saya jual
dengan memanfaatkan fasilitas dunia maya. Dalam bentuk *online*.

Saya yang dibilang begitu hanya tersenyum. Entah apakah keponakan saya itu
berkata serius atau hanya dagelan saja. Seperti kebisaannya suka 'ngecengin'
orang. Suka berkelakar tanpa lihat sikon. Situasi kondisi. Dia pasti asal
nyablak saja seperti kebanyakan orang-orang yang ada disekitar saya. Kalau
bicara tidak ada filternya. Kalau sudah bicara tak peduli sama perasaan
orang lain. Tancap gas saja tanpa melihat lagi kaca spion. Mungkin mereka
anggap mulut cuman dia saja yang punya. Jadi bebas seperti jalan tol tanpa
hambatan. Ada-ada saja.

"Kalau orang-orang penggangguran diam aja. Lha lo *Cing *ada aja kerjaan.
Ya, nggak menulis di laptop kadang ke toko buku. Terus ada aja acara sama
teman-teman lo. Pantas aja kalo gue bilang lo itu menjadi pengangguran
tapi…, menjadi pengangguran sukses. Nggak kayak orang-orang," lanjutnya. Dan
itu benar-benar membuat saya yang saat itu sedang mendata list jadi salah
tulis. Mungkin gragi kali ya dibilang begitu?

Saya sendiri juga heran kenapa keponakan saya bisa menjuluki seperti itu.
Yang saya tahu namanya penggangguran ya tetap saja penggangguran tanpa ada
embel-embel di belakang. Lha ini pas saya menjadi pengangguran. Belum ada
pekerjaan tetap ada saja embel-embel di belakang saya segala. Nah, yang
menjadi pertanyaan saya adalah kalau seperti saya saja disebut pengangguran
sukses. Lha, kalau yang belum atau jauh dibawah atau juga di atas saya jadi
apa dong? Julukan apa yang pantas. Pengangguran amatiran? Atau, pengangguran
professional? Bagi saya sih tidak ada yang mempengaruhi hidup saya. Yang
saya perlu pikirkan adalah asal bisa dilakukan yang saya bisa bagi saya itu
sudah lebih dari cukup. Apalagi perlu dapat *reward* atau tidak. Itu tidak
perlu! Toh, saya sudah melakukan dengan senang itu sudah lebih dari cukup
daripada saya harus ikut mencampuri urusan dapur orang. Atau, hanya
memerhatikan apa rumput tetangga lebih menguning dari rumput saya atau
tidak. Sedangkan di rumah saya saja tidak ada rumputnya. Gundul.

Ya, begitulah awal julukan saya itu terjadi. Walau saya tidak meminta
apalagi menyuruh memanggil saya dengan julukan itu. Mungkin karena keponakan
saya melihat saya tidak bekerja tetapi ada saja fasilitas untuk saya
gunakan. Entah itu untuk menulis, menghubungi dan membalas pelanggan baru
yang ingin memesan buku kepada saya. Padahal bagi saya hal itu tak ada
istimewanya. Biasa-biasa saja. Tetapi kenapa keponakan saya bisa mendapatkan
ide cemerlang itu—untuk menjuluki julukan itu kepada saya? Saya sendiri
juga tidak tahu darimana keponakan saya itu mendapatkan julukan seperti itu.
Julukan yang menurut saya keren BGT sih…hehe

Seperti yang sudah-sudah saya lihat di televisi ketika para publik figur
mengklaim julukan-julukan yang sudah melekat pada diri mereka masing-masing
bahwa itu miliknya. Bahkan menjadi *brand new*.

Sebut saja Dewi Perssik—yang terkenal dengan julukan goyang gergaji. Tapi
tahu tidak jika awal mulanya goyangan itu pernah diklaim oleh Uut
Permatasari saat ia baru merambah dan menanjak ke dunia hiburan. Menjadi
penyanyi dangdut. Bahwa goyang gergaji itu miliknya. Betapa Uut Permatasari
habis-habisan perang argumen kepada Dewi Perssik. Ingat doble 's' jika
menulis nama Perssik—begitu kalau saya ingat ketika si goyang gergaji itu
mengklarifikasikan nama bekennya pada sebuat infotainment gossip. *Deuh,
segethonya….*

* *

Dan baru-baru ini yang sedang trend di dunia fashion adalah *trend
setter*ala Manohara. Dari tas—yang mendapatkan label tas Manohara.
Dimana-mana
semua yang *fashionholic *memburu tas itu. Baik di outlet-outlet maupun di
butik. Pun kaum hawa yang doyan *window shopping* pun tak mau ketinggalan.
Bahkan membelinya sekaligus dua atau tiga untuk bisa digonti-ganti dalam
acara ritual mereka. Ya, arisan, kongkow-kongkow bahkan sampai dugem dengan
kelompok mereka. Begitu pun dengan *casing *blackberry bling-bling yang
pernah di pakai Manohara—artis yang naik daun lantaran kasus KDRT dengan
Pangeran Kelatan. Naik daun bukan karena eksistensinya mengharumkan nama
negara. Tetapi kasusnya dan menjadi pemburuan kuli tinta dengan kasusnya
itu. Ironi memang.

Mungkin inilah gambaran wajah Indonesia jika ada hal yang baru dan menjadi
trend setter tentu akan diburu hingga dapat. Kalau tidak dapat di sini ya
keluar negeri. Kan gampang. Beres! Tak perlu desak-desakan lagi. Kalau
julukan-julukan itu masih menjadi trend di sini *so what*? Sikat. Kalau
perlu borong semua. Seperti halnya tas manohara yang berasal dari kulit itu.
Entah kulit apa? Saya juga tidak tahu. Asal jangan berasal dari kulit
manusia saja jadi tambah heboh lagi berita tentang Manohara.

Tetapi kalau membicarakan julukan lebih lanjut, julukan saya itu
*sould out*tidak ya jika dijual dan juga dijadikan
*brand new* di sini? Halnya tas dan *casing *blackberry bling-bilngnya
Manohara itu? Julukan pengangguran sukses hasil ide cemerlang keponakan saya
itu? Meneketehe.

*Ulujami—Pesanggrahan,05 Juli 2009*

--
"Books inside you"
Fiyan 'Anju' Arjun
Anju Online Bookshop
Jl.Ulujami Rt.012/04 No.14 Jak- Sel
www.bukumurahku.multiply.com
fb:bujangkumbanf@yahoo.co.id <fb%3Abujangkumbanf@yahoo.co.id>
Tlp:(021) 7379858
Hp:0852-8758-0079
4a.

(Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa

Posted by: "fiyan arjun" fiyanarjun@gmail.com

Fri Aug 7, 2009 8:48 am (PDT)



*Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa*

*Fiyan 'Anju' Arjun*

* *

*Pernahkah kau bicara*

*Tapi tak didengar*

*Tak dianggap*

*Sama sekali*

*Pernahkah kau tak salah*

*Tapi disalahkan?*

*Tak diberi kesempatan*

*(Teruskanlah—Agnes Monica)*

* *

Sering kali aku mendengar atau mendapatkan kalimat-kalimat dibawah ini:**

* *

*Sikap lo nggak ada dewasa banget, seh!*

* *

*Jangan kayak anak-anak donk! Dewasa dikit kenapa?!*

* *

*Lo nggak ada dewasanya sama sekali deh!*

* *

*Childist banget seh, lo!*

* *

Hari ini, Kamis tertanggal 06 Juli 09 tepatnya pukul 13:05 aku baru
mendapatkan pelajaran dari '*seseorang' *dari balik ponsel. Dari balik
ponsel itu orang tersebut pertama bicara tentang kehidupan masa
depannya—dengan pilihan sesuai kriteria dirinya maupun orangtuanya. Dan itu
masih aku terima. Toh, siapa sih orang yang tidak menginginkan masa depan
yang cerah. Cemerlang. Bahkan sukses. Aku sendiri pun tidak akan menolak
dengan hal itu. Kalau pun ada yang tidak menginginkan hal demikian wajib
dipertanyakan orang itu. Apakah sehat atau tidak? Atau, perlu diperiksakan
kejiwaannya. Stabil atau tidak jiwanya itu. Bukan begitu?**

Madesu. Akronim, masa depan suram. Tentu kita pasti akan menolaknya bila hal
itu benar-benar menjadi pilihan kita. Siapa lagi yang mau memiliki masa
depan seperti itu. Mimpi saja tentu tidak mau. Apalagi menjadi kenyataan.
Tentu akan menolaknya mentah-mentah. Kalau perlu buang jauh-jauh deh dari
kehidupan kita.

Lagi-lagi kita juga tak bisa menolak takdir bila hal itu terjadi pada diri
kita. Aku harapkan sih tidak! Apalagi aku. Tentu aku saja menolaknya apalagi
untuk mendekatinya. Dan tentunya bila kita berpikiran realitis kita ingin
masa depan yang cerah. Cemerlang. Bahkan sukses, bukan? Kalau sudah begitu
dengan kita memilih kehidupan seperti itu apakah kita sudah dapat dikatakan
sudah berpikiran dewasa Aku rasa cetek sekali pikiran kita bila hanya
menganggap dan mengukur hal bersikap dewasa itu hanya diniliai dari masalah
itu saja.

Aku pun menjadi heran jika ada orang mengatakan kepadaku jadilah untuk bisa
menjadi orang dewasa. Saking herannya sampai aku banyak baca buku semua dan
tak ada satu pun yang mengatakan secara rinci tentang sikap dewasa itu
seperti apa? Halnya hari itu 'seseorang' mengatakan kepadaku.

"Menurut teman-teman mas belum dewasa!" katanya di balik ponsel.

Aku yang mendengar akhirnya menfilter suara dari balik ponsel itu.

"Hmm…menurut teman-teman? Lha kata lo sendiri apa? Kok kata teman-teman.
Kalau begitu yang belum dewasa lo atau gue. Mau aja dengarin kata orang.
Kalau mendengar kata orang sih nggak ada habisnya perkara. Apa orang lain
terjun ke jurang apa harus ikut terjun ke jurang juga. Nggak mungkinkan?
Lagi pula apa sih yang tahu tentang pribadi gue. Sotoy banget tuh
orang-orang menilai tentang pribadi gue. Kecuali dia itu saudara, kakak,
adik atau keponakan gue. Lha ini aja tidak ada hubungan apa-apa bisa banget
menilai gue. Kalau ingin menilai orang lain beli kaca dulu deh. Kok
bisa-bisa ngurusin orang lain. Katanya orang beriman tetapi masih aja
ngurusin orang lain. Cape dehh!" bathinku bagai memegang sekam dalam hati.

Okay, jika aku yang salah. Aku terima! Aku minta maaf! Tapi tolong ajarkan
aku sikap dewasa itu seperti apa? Apakah seperti pelaku bom hotel RITZ
Kuningan? Atau, seperti anggota dewan yang sering rebut kursi sampai
bertingkai di ruang rapat. Main gontok-gontokan? Atau, para koruptor yang
merajarela? Tentunya mereka itu semua adalah orang-orang yang pernah
mengenyam pendidikan formal yang sangat tinggi. Tentu mereka lebih tahu
sikap dan sifat yang mana dikatakan berpikiran dewasa? *Untuk itu ajarkanlah
aku untuk menjadi orang yang benar-benar dikatakan dewasa itu hai suara di
balik telepon? Ajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa? *

* *

Hingga saat itu aku diingatkan sebuah kisah klasik yang cukup membuatku
menjadi patokan untuk bermuhasabbah diri sekaligus berintropeksi diri. Tentu
Anda pastinya sudah mendengarnya. Kisah klasiknya seperti ini:

Ada seorang Ayah dan anaknya selalu memegang tali kekang keledai setiap kali
dalam perjalanan. Dalam perjalanan itu mereka berdua akhirnya memasuki
perkampungan demi perkampungan. Dan diujilah kesabaran Ayah dan anak itu
dengan berbagai cobaan dalam hal ini perkataan-perkataan setiap mereka
berdua melewati sebuah perkampungan. Perkataan itu tak lain terlontar dari
mulut orang-orang yang tinggal di perkampungan itu.

Dan lewatlah mereka berdua di sebuah perkampungan pertama. Dengan pedenya
mereka berdua melewati perkampungan itu dengan membawa keledai dengan
memegang tali kekang hewan itu.

Belum sampai dipertengahan jalan perkampungan itu tiba-tiba mereka berdua
mendengar celetukan dari para penghuni kampung itu.

"Lihat saja Ayah dan anak itu berdua sama-sama bodohnya. Ada keledai bukan
ditumpangi (naiki) ini malah didiami saja." Begitu celetukan penghuni di
perkampungan yang mereka berdua lewati. Kemudian mereka sampai pada di
sebuah perkampungan yang kedua. Mereka berdua pun masih sama. Masih memegang
tali kekang keledai. Namun karena berdua sudah mendapatkan pelajaran di
perkampungan pertama Ayah dari anak itu buka suara," sekarang kamu naik saja
di punggung keledai ini. Ayah ingin tahu celetukan apa yang Ayah dengar dari
perkampungan yang kita lewati ini." Usul Ayah kepada anaknya. Anak itu pun
menuruti perkataan Ayahnya.

Benar. Pikiran seorang Ayah. Belum sampai mereka dipertengahan jalan di
perkampungan yang kedua mereka dapat celetukan lagi.

"Anak itu tidak tahu budi. Tidak punya rasa hormat saja. Masa Ayahnya yang
diperintahkan menuntun keledai. Dan di atasnya ia seorang diri. Benar-benar
anak tak tahu diri," celetukan perkampungan kedua pun terlontar juga.
Begitulah seterusnya sampai-sampai mereka berdua tetap seperti sedia kala.

Begitulah dalam kehidupan yang kita jalani. Terkadang kita selalu menuruti
perkataan orang lain. Dan kita bahkan sampai mengikutinya walau dalam hati
kita sering bertolak belakang akhirnya yang timbul adalah tidak memiliki
rasa kepedean bahkan tak punya pendirian. Apa kata orang dianggapnya benar!
Padahal malah sebaliknya. Menjerumuskan diri bahkan mendekati sikap tak
terpuji. Ghibah pun malah tak terelakan. Bahkan bisa jadi menfitnah tanpa
dasar yang sesungguhnya. Entahlah. Tapi bagi aku sekarang ini hal semacam
itu sudah menjadi makanan aku sehari-hari. Seperti halnya ketika 'seseorang'
mengatakan kepadaku dibalik ponsel hari itu dengan mengatakan," menurut
teman-teman mas belum dewasa!" katanya di balik ponsel.

"Terima kasih sudah menilaiku seperti itu!"

Jadi benar juga apa kata La Rouchefoucauld *"Alam memberi kita satu lidah
akan tetapi memberi kita dua telinga, agar supaya kita dua kali banyak
mendengar daripada berbicara." *

* *

Yup, terkadang kita memilki dua telinga bukan untuk mendengar yang berguna
dan manfaat melainkan ini hanya untuk mendengar omongan yang tak bergizi.
Alias, mendengar omongan sampah saja! Menambah dosa dan mengurangi timbangan
pahala kita. (Ma'af dalam masalah ini aku bukan Tuhan yang mengurusi segala
masalah dosa dan pahala. Itu sih tanggungan masing-masing pribadi saja)

Lagi-lagi aku juga tak mau egois biar bagaimana pun aku harus mengucapkan
rasa berterima kasih kepada orang yang telah meneleponku dari balik ponsel
hari itu. Karena dialah aku semakin mengerti dan semakin tahu dimana letak
orang yang memiliki tingkat kedewasaan. Yang bukan hanya melulu mendengarkan
omongan orang belaka yang tak bermutu.(fy)

* *

Fy,

Mencoba lebih banyak intropeksi diri.

* Ulujami—Pesanggrahan, 06 Juli 2009*

* *

* Tulisan ini aku tulis disaat ditemani oleh Agnes Monica dengan
lembut dan sabar dia mengajarkan aku tentang kehidupan bagaimana menghargai,
menjadi pendengar yang baik bukan menjadi pendikte yang ulung serta bersikap
peduli dengan orang lain hingga aku begitu larut didalamnya…Hingga dia
bilang kepadaku: "Teruskanlah…Teruskanlah dengan duniamu. Jangan peduli
perkataan orang lain. EGP aja!" Terima kasih Agnes Monicaku telah
mengajarkan aku tentang banyak hal. (Gini ya rasanya ditemani sama penyanyi
beken bikin grogi dan nervous…Mimpi kalee…hahaha)*

* *

*Bonus Track.*

Teruskanlah

Voc: Agnes Monica

*Pernahkah kau bicara*

*Tapi tak didengar*

*Tak dianggap*

*Sama sekali*

*Pernahkah kau tak salah*

*Tapi disalahkan?*

*Tak diberi kesempatan*

*Kuhidup dengan siapa*

*Tak tahu kau siapa*

*Kau kekasihku*

*Tapi orang lain bagiku*

*Kau dengan dirimu saja*

*Kau dengan duniamu saja*

*Teuskanlah....Teruskanlah…*

*Kau begitu….*

*Kau tak butuh diriku*

*Aku patung bagimu*

*Cinta bukan*

*Tuk kebutuhanmu.*

* *

* *Reff:

* Kuhidup dengan siapa*

*Tak tahu kau siapa*

*Kau kekasihku*

*Tapi orang lain bagiku*

Reff:* Kau dengan dirimu saja*

*Kau dengan duniamu saja*

*Teuskanlah....Teruskanlah…*

* *

* *Chorus:

* Kau dengan dirimu saja*

*Kau dengan duniamu saja*

*Teuskanlah....Teruskanlah…*

* Kau begitu….*

* Teruskanlah…Teruskanlah…*

--
"Books inside you"
Fiyan 'Anju' Arjun
Anju Online Bookshop
Jl.Ulujami Rt.012/04 No.14 Jak- Sel
www.bukumurahku.multiply.com
fb:bujangkumbanf@yahoo.co.id <fb%3Abujangkumbanf@yahoo.co.id>
Tlp:(021) 7379858
Hp:0852-8758-0079
4b.

Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dew

Posted by: "Ramaditya Skywalker" ramavgm@gmail.com

Fri Aug 7, 2009 7:41 pm (PDT)



Setiap orang memiliki definisi "dewasa" sendiri-sendiri. Ada yang
beranggapan bahwa dewasa itu dinilai dari tua usianya, ada juga yang
menilai dewasa itu dari sikap dan perilakunya.

Untuk saya pribadi, kedewasaan berarti memiliki kematangan dalam
berpikir, bersikap, dan berperilaku. Ingat kata matang? Matang berarti
telah siap untuk berlaku, bersikap, serta berpikir. Tentu saja
kesiapan yang saya maksud adalah kesiapan dalam bentuk yang positif.

Menjadi dewasa sendiri sebenarnya tidaklah mutlak untuk seluruh elemen
dalam hidup kita. Nonton film kartun atau main video game misalnya,
biasa dilakukan anak-anak (termasuk saya, hehehe). Namun, itu bukan
jadi patokan bahwa kita tidak memiliki kedewasaan berpikir, bersikap,
dan berperilaku.

Kalau dijabarkan mungkin akan panjang sekali, tapi saya ingin mencoba
fokus pada isi e-mail terdahulu (yang kali ini saya balas).

Kepada sang penyebut: Menurut saya, akan lebih baik apabila kita
menghindari penggunaan kalimat atau pemberian status "tidak dewasa"
kepada seseorang, pasalnya tiap orang memiliki standarisasi kedewasaan
yang berbeda, dan ditambah lagi dengan variabel-variabel lain (contoh,
lingkungan, teman-teman main, dll) yang tentunya ikut berperan
membentuk pribadi seseorang. Ya, mencoba memahami latar belakang lawan
bicara kita mungkin merupakan cara yang paling bijaksana untuk dapat
menghargainya. Oh ya, menerima saran dan pendapat dari teman dalam hal
menilai itu memang tidak ada salahnya. Namun, sebagai manusia yang
diberi akal dan pikiran, hendaknyalah kita dapat memberi penilaian
sendiri terhadap apa yang kita lihat, apa yang kita rasa, dan apa yang
kita dengar. Jadi, apa yang berasal dari luar hanyalah merupakan bahan
rujukan saja (disini lihat mayoritas dan minoritasnya, saya rasa Anda
sudah tahu soal ini). Soal Anda menerima atau tidak, itu adalah 100
persen hak Anda, dan hendaknyalah lawan bicara Anda dapat menghargai
hal tersebut.

Kepada sang tersebut: Well well, yuk duduk tenang dulu. Tarik napas
panjang, minum es atau sirup juga boleh (mumpung belum puasa nih!).
Hmmm, ada pertanyaan yang sangat simpel. "Apakah Anda merasa yang
disebutkan sang penyebut itu benar karakter Anda?" Kalau jawabannya
"Ya" berarti sudah selayaknyalah kita introspeksi diri. Tapi kalau
jawabannya "Tidak," so why should you be upset? Hehehe, saya pribadi
juga sering kok disebut "tidak dewasa," "childish," dll, cuma
gara-gara saya hobby main game, nonton film kartun, dan main
pedang-pedangan (liat aja ramaditya.multiply.com). Tapi saya merasa
hal tersebut bukanlah hal yang masuk kriteria kematangan berpikir,
bersikap, dan berperilaku. Apakah itu akan mempengaruhi sikap saya dan
interaksi saya dengan individu lain? Saya rasa tidak. So, kita bisa
gunakan ukuran itu, saya rasa. Nah, apalagi kalau kita hendak
berinteraksi, dalam hal ini coba menyatukan dua individu jadi satu.
Tentu saja akan banyak terjadi perbedaan kepentingan dan pemikiran.
Nah hal inilah yang harusnya disatukan, karena kalau kedua belah pihak
cuma jalan sendiri-sendiri dengan standarisasinya, hmmm, you know the
rest. Jadi, tenang sajalah. Bersabar dan bisa menerima dengan lapang
dada apa kata orang adalah yang paling bisa kita lakukan.

On 8/7/09, fiyan arjun <fiyanarjun@gmail.com> wrote:
> *Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa*
>
> *Fiyan 'Anju' Arjun*
>
> * *
>
> *Pernahkah kau bicara*
>
> *Tapi tak didengar*
>
> *Tak dianggap*
>
> *Sama sekali*
>
> *Pernahkah kau tak salah*
>
> *Tapi disalahkan?*
>
> *Tak diberi kesempatan*
>
> *(Teruskanlah—Agnes Monica)*
>
> * *
>
> Sering kali aku mendengar atau mendapatkan kalimat-kalimat dibawah ini:**
>
> * *
>
> *Sikap lo nggak ada dewasa banget, seh!*
>
> * *
>
> *Jangan kayak anak-anak donk! Dewasa dikit kenapa?!*
>
> * *
>
> *Lo nggak ada dewasanya sama sekali deh!*
>
> * *
>
> *Childist banget seh, lo!*
>
> * *
>
> Hari ini, Kamis tertanggal 06 Juli 09 tepatnya pukul 13:05 aku baru
> mendapatkan pelajaran dari '*seseorang' *dari balik ponsel. Dari balik
> ponsel itu orang tersebut pertama bicara tentang kehidupan masa
> depannya—dengan pilihan sesuai kriteria dirinya maupun orangtuanya. Dan itu
> masih aku terima. Toh, siapa sih orang yang tidak menginginkan masa depan
> yang cerah. Cemerlang. Bahkan sukses. Aku sendiri pun tidak akan menolak
> dengan hal itu. Kalau pun ada yang tidak menginginkan hal demikian wajib
> dipertanyakan orang itu. Apakah sehat atau tidak? Atau, perlu diperiksakan
> kejiwaannya. Stabil atau tidak jiwanya itu. Bukan begitu?**
>
>
>
> Madesu. Akronim, masa depan suram. Tentu kita pasti akan menolaknya bila hal
> itu benar-benar menjadi pilihan kita. Siapa lagi yang mau memiliki masa
> depan seperti itu. Mimpi saja tentu tidak mau. Apalagi menjadi kenyataan.
> Tentu akan menolaknya mentah-mentah. Kalau perlu buang jauh-jauh deh dari
> kehidupan kita.
>
>
>
> Lagi-lagi kita juga tak bisa menolak takdir bila hal itu terjadi pada diri
> kita. Aku harapkan sih tidak! Apalagi aku. Tentu aku saja menolaknya apalagi
> untuk mendekatinya. Dan tentunya bila kita berpikiran realitis kita ingin
> masa depan yang cerah. Cemerlang. Bahkan sukses, bukan? Kalau sudah begitu
> dengan kita memilih kehidupan seperti itu apakah kita sudah dapat dikatakan
> sudah berpikiran dewasa Aku rasa cetek sekali pikiran kita bila hanya
> menganggap dan mengukur hal bersikap dewasa itu hanya diniliai dari masalah
> itu saja.
>
>
>
> Aku pun menjadi heran jika ada orang mengatakan kepadaku jadilah untuk bisa
> menjadi orang dewasa. Saking herannya sampai aku banyak baca buku semua dan
> tak ada satu pun yang mengatakan secara rinci tentang sikap dewasa itu
> seperti apa? Halnya hari itu 'seseorang' mengatakan kepadaku.
>
>
>
> "Menurut teman-teman mas belum dewasa!" katanya di balik ponsel.
>
>
>
> Aku yang mendengar akhirnya menfilter suara dari balik ponsel itu.
>
>
>
> "Hmm…menurut teman-teman? Lha kata lo sendiri apa? Kok kata teman-teman.
> Kalau begitu yang belum dewasa lo atau gue. Mau aja dengarin kata orang.
> Kalau mendengar kata orang sih nggak ada habisnya perkara. Apa orang lain
> terjun ke jurang apa harus ikut terjun ke jurang juga. Nggak mungkinkan?
> Lagi pula apa sih yang tahu tentang pribadi gue. Sotoy banget tuh
> orang-orang menilai tentang pribadi gue. Kecuali dia itu saudara, kakak,
> adik atau keponakan gue. Lha ini aja tidak ada hubungan apa-apa bisa banget
> menilai gue. Kalau ingin menilai orang lain beli kaca dulu deh. Kok
> bisa-bisa ngurusin orang lain. Katanya orang beriman tetapi masih aja
> ngurusin orang lain. Cape dehh!" bathinku bagai memegang sekam dalam hati.
>
>
>
> Okay, jika aku yang salah. Aku terima! Aku minta maaf! Tapi tolong ajarkan
> aku sikap dewasa itu seperti apa? Apakah seperti pelaku bom hotel RITZ
> Kuningan? Atau, seperti anggota dewan yang sering rebut kursi sampai
> bertingkai di ruang rapat. Main gontok-gontokan? Atau, para koruptor yang
> merajarela? Tentunya mereka itu semua adalah orang-orang yang pernah
> mengenyam pendidikan formal yang sangat tinggi. Tentu mereka lebih tahu
> sikap dan sifat yang mana dikatakan berpikiran dewasa? *Untuk itu ajarkanlah
> aku untuk menjadi orang yang benar-benar dikatakan dewasa itu hai suara di
> balik telepon? Ajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa? *
>
> * *
>
> Hingga saat itu aku diingatkan sebuah kisah klasik yang cukup membuatku
> menjadi patokan untuk bermuhasabbah diri sekaligus berintropeksi diri. Tentu
> Anda pastinya sudah mendengarnya. Kisah klasiknya seperti ini:
>
>
>
> Ada seorang Ayah dan anaknya selalu memegang tali kekang keledai setiap kali
> dalam perjalanan. Dalam perjalanan itu mereka berdua akhirnya memasuki
> perkampungan demi perkampungan. Dan diujilah kesabaran Ayah dan anak itu
> dengan berbagai cobaan dalam hal ini perkataan-perkataan setiap mereka
> berdua melewati sebuah perkampungan. Perkataan itu tak lain terlontar dari
> mulut orang-orang yang tinggal di perkampungan itu.
>
>
>
> Dan lewatlah mereka berdua di sebuah perkampungan pertama. Dengan pedenya
> mereka berdua melewati perkampungan itu dengan membawa keledai dengan
> memegang tali kekang hewan itu.
>
>
>
> Belum sampai dipertengahan jalan perkampungan itu tiba-tiba mereka berdua
> mendengar celetukan dari para penghuni kampung itu.
>
>
>
> "Lihat saja Ayah dan anak itu berdua sama-sama bodohnya. Ada keledai bukan
> ditumpangi (naiki) ini malah didiami saja." Begitu celetukan penghuni di
> perkampungan yang mereka berdua lewati. Kemudian mereka sampai pada di
> sebuah perkampungan yang kedua. Mereka berdua pun masih sama. Masih memegang
> tali kekang keledai. Namun karena berdua sudah mendapatkan pelajaran di
> perkampungan pertama Ayah dari anak itu buka suara," sekarang kamu naik saja
> di punggung keledai ini. Ayah ingin tahu celetukan apa yang Ayah dengar dari
> perkampungan yang kita lewati ini." Usul Ayah kepada anaknya. Anak itu pun
> menuruti perkataan Ayahnya.
>
>
>
> Benar. Pikiran seorang Ayah. Belum sampai mereka dipertengahan jalan di
> perkampungan yang kedua mereka dapat celetukan lagi.
>
>
>
> "Anak itu tidak tahu budi. Tidak punya rasa hormat saja. Masa Ayahnya yang
> diperintahkan menuntun keledai. Dan di atasnya ia seorang diri. Benar-benar
> anak tak tahu diri," celetukan perkampungan kedua pun terlontar juga.
> Begitulah seterusnya sampai-sampai mereka berdua tetap seperti sedia kala.
>
>
>
> Begitulah dalam kehidupan yang kita jalani. Terkadang kita selalu menuruti
> perkataan orang lain. Dan kita bahkan sampai mengikutinya walau dalam hati
> kita sering bertolak belakang akhirnya yang timbul adalah tidak memiliki
> rasa kepedean bahkan tak punya pendirian. Apa kata orang dianggapnya benar!
> Padahal malah sebaliknya. Menjerumuskan diri bahkan mendekati sikap tak
> terpuji. Ghibah pun malah tak terelakan. Bahkan bisa jadi menfitnah tanpa
> dasar yang sesungguhnya. Entahlah. Tapi bagi aku sekarang ini hal semacam
> itu sudah menjadi makanan aku sehari-hari. Seperti halnya ketika 'seseorang'
> mengatakan kepadaku dibalik ponsel hari itu dengan mengatakan," menurut
> teman-teman mas belum dewasa!" katanya di balik ponsel.
>
>
>
> "Terima kasih sudah menilaiku seperti itu!"
>
>
>
> Jadi benar juga apa kata La Rouchefoucauld *"Alam memberi kita satu lidah
> akan tetapi memberi kita dua telinga, agar supaya kita dua kali banyak
> mendengar daripada berbicara." *
>
> * *
>
> Yup, terkadang kita memilki dua telinga bukan untuk mendengar yang berguna
> dan manfaat melainkan ini hanya untuk mendengar omongan yang tak bergizi.
> Alias, mendengar omongan sampah saja! Menambah dosa dan mengurangi timbangan
> pahala kita. (Ma'af dalam masalah ini aku bukan Tuhan yang mengurusi segala
> masalah dosa dan pahala. Itu sih tanggungan masing-masing pribadi saja)
>
>
>
> Lagi-lagi aku juga tak mau egois biar bagaimana pun aku harus mengucapkan
> rasa berterima kasih kepada orang yang telah meneleponku dari balik ponsel
> hari itu. Karena dialah aku semakin mengerti dan semakin tahu dimana letak
> orang yang memiliki tingkat kedewasaan. Yang bukan hanya melulu mendengarkan
> omongan orang belaka yang tak bermutu.(fy)
>
> * *
>
> Fy,
>
> Mencoba lebih banyak intropeksi diri.
>
>
>
> * Ulujami—Pesanggrahan, 06 Juli 2009*
>
> * *
>
> * Tulisan ini aku tulis disaat ditemani oleh Agnes Monica dengan
> lembut dan sabar dia mengajarkan aku tentang kehidupan bagaimana menghargai,
> menjadi pendengar yang baik bukan menjadi pendikte yang ulung serta bersikap
> peduli dengan orang lain hingga aku begitu larut didalamnya…Hingga dia
> bilang kepadaku: "Teruskanlah…Teruskanlah dengan duniamu. Jangan peduli
> perkataan orang lain. EGP aja!" Terima kasih Agnes Monicaku telah
> mengajarkan aku tentang banyak hal. (Gini ya rasanya ditemani sama penyanyi
> beken bikin grogi dan nervous…Mimpi kalee…hahaha)*
>
> * *
>
> *Bonus Track.*
>
>
>
> Teruskanlah
>
> Voc: Agnes Monica
>
>
>
> *Pernahkah kau bicara*
>
> *Tapi tak didengar*
>
> *Tak dianggap*
>
> *Sama sekali*
>
> *Pernahkah kau tak salah*
>
> *Tapi disalahkan?*
>
> *Tak diberi kesempatan*
>
> *Kuhidup dengan siapa*
>
> *Tak tahu kau siapa*
>
> *Kau kekasihku*
>
> *Tapi orang lain bagiku*
>
> *Kau dengan dirimu saja*
>
> *Kau dengan duniamu saja*
>
> *Teuskanlah....Teruskanlah…*
>
> *Kau begitu….*
>
> *Kau tak butuh diriku*
>
> *Aku patung bagimu*
>
> *Cinta bukan*
>
> *Tuk kebutuhanmu.*
>
> * *
>
> * *Reff:
>
> * Kuhidup dengan siapa*
>
> *Tak tahu kau siapa*
>
> *Kau kekasihku*
>
> *Tapi orang lain bagiku*
>
> Reff:* Kau dengan dirimu saja*
>
> *Kau dengan duniamu saja*
>
> *Teuskanlah....Teruskanlah…*
>
> * *
>
> * *Chorus:
>
> * Kau dengan dirimu saja*
>
> *Kau dengan duniamu saja*
>
> *Teuskanlah....Teruskanlah…*
>
> * Kau begitu….*
>
> * Teruskanlah…Teruskanlah…*
>
>
> --
> "Books inside you"
> Fiyan 'Anju' Arjun
> Anju Online Bookshop
> Jl.Ulujami Rt.012/04 No.14 Jak- Sel
> www.bukumurahku.multiply.com
> fb:bujangkumbanf@yahoo.co.id <fb%3Abujangkumbanf@yahoo.co.id>
> Tlp:(021) 7379858
> Hp:0852-8758-0079
>

--
"Ramaditya Skywalker: The Indonesian game music lover"

- Eko Ramaditya Adikara
http://www.ramaditya.com

4c.

Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dew

Posted by: "Hamasah" widayati_endah@yahoo.com   hamasahputri

Fri Aug 7, 2009 9:33 pm (PDT)



Saya menikmati jawaban mas Rama, euy :D

Bang Fiyan, kedewasaan itu proses, bukan kesmipulan. Saya berani mengatakan kalau orang yang sudah mengaku dewasa adalah orang yang kekanak-kanakan.Menolak untuk mengakui kalau kita tidak dewasa adalah sikap kekanak-kanakan. Sebaliknya, mengakui jika kita masih kekanak-kanakan adalah sikap dewasa itu sendiri.Si penelepon mengatakan kalu Bang fiyan belum dewasa, bukan berarti dia sendiri sudah dewasa. Mungkin dia merasa proses yang dia alami dalam menuju kedewasaan berbeda dengan yang bang fiyan lakukan. Atau mungkin dia lebih memilih menerima masukan dengan lebih legowo daripada bang fiyan dalam menerima masukan. Karena orang2 dewasa itu biasanya lebih ikhlas dari pada anak2.

Jika si penelepon mengatakan bahwa bang Fiyan belum dewasa berdasarkan survey yang ia lakukan, lalu hasil survey tersebut mengatakan bahwa bang fiyan belum dewasa, maka pilihan bagi bang fiyan adalah bermuhasabah. Betapa selama ini bang fiyan sudah berusaha bersikap dewasa namun orang lain menilai sebaliknya adalah variabel nilai seperti yang dikatakan oleh mas Rama sebelumnya.

Mari kita buat study kasus kecil2an atas kedewasaan Bang Fiyan yang hasilnya nanti tentu saja subjektif dari saya atas tulisan2 bang fiyan. Karena selama ini, interaksi bang fiyan dengan orang2 lebih banyak lewat tulisan. Jadi, penilaian orang2 terhadap bang fiyan, lebih banyak dipengaruhi oleh hasil membaca tulisan2 bang fiyan. Sederhananya tulisan bang fiyan adalah cerminan seberapa dewasanya bang fiyan, bahkan saya sendiri :) :

1. Menerima nasihat, masukan, support, kritikan dengan tanpa menuduh mereka sebagai orang2 yang hanya bisa menghakimi, menghina, menjatuhkan, tidak tahu situasi, sok tau, adalah sikap dewasa.

2. Menerima hadiah dari pak sinang berupa laptop, TANPA merasa itu semua adalah karena prestasi bang fiyan sebagai bintang SK, bukan hasil kerja keras kampanye bintang SK. Tapi semata-mata karena kemurahan kasih sayang Allah SWT yang sudah menggerakkan hati Pak Sinang untuk melakukannya, adalah sikap dewasa.

3. Berfikir atau mengatakan hal ini:

"Mau aja dengarin kata orang.Kalau mendengar kata orang sih nggak ada habisnya perkara. Apa orang lain terjun ke jurang apa harus ikut terjun ke jurang juga. Nggak mungkinkan? Lagi pula apa sih yang tahu tentang pribadi gue. Sotoy banget tuh orang-orang menilai tentang pribadi gue. Kecuali dia itu saudara, kakak, adik atau keponakan gue. Lha ini aja tidak ada hubungan apa-apa bisa banget menilai gue. Kalau ingin menilai orang lain beli kaca dulu deh. Kok bisa-bisa ngurusin orang lain. Katanya orang beriman tetapi masih aja ngurusin orang lain. Cape dehh!"

Adalah sikap kekanak-kanakan.

4. berfikit atau mengatakan hal ini:

"Tapi tolong ajarkan aku sikap dewasa itu seperti apa? Apakah seperti pelaku bom hotel RITZ Kuningan? Atau, seperti anggota dewan yang sering rebut kursi sampai bertingkai di ruang rapat. Main gontok-gontokan? Atau, para koruptor yang merajarela?"

Adalah sikap kekanak-kanakan. (Sejak kapan kedewasaan disimbolkan dengan terorisme?, korupsi dan kekerasan?)

5. Merenungi dan bermuhasabah atas hikayat tentang seorang ayah, anak dan keledai seperti yang bang fiyan tulis, adalah sikap dewasa.

6. merenungi dan bermuhasabah atas perkataan La Rouchefoucauld :Alam memberi kita satu lidah akan tetapi memberi kita dua telinga, agar supaya kita dua kali banyak mendengar daripada berbicara. Adalah sikap dewasa. Apakah Bang Fiyan sudah melakukannya? Lebih banyak mendengar?

7. Menganggap nasihat atau masukan sebagai omongan sampah adalah sikap kekanak-kanakan.

8. Menulis sambil ditemani lagu agnes monica adalah sikaap.... eeemm sikap apa yaaa? Hehehee, sikap romantis deh. Hihihihii

9. Membuka toko buku online Anju adalah sikap dewasa dan bertanggung jawab pada diri dan masa depan. Hebat!

10. Merasa tersinggung, kesal, marah atas study kasus yang saya lakukan ini adalah sikap kekanak-kanakan.

Demikian, Bang Fiyan. Silakan dihitung hasil study kasus ini, dan buat renungkan. Masih banyak variabel yang tidak saya masukan dalam study kasus ini karena keterbatasan ruang dan waktu. Saya yakin, orang2 yang sering kali dituduh oleh bang fiyan sebagai orang-orang yang sok tau, orang-orang yang ga mau ngertiin, orang2 yang hanya bisa mengkritik tanpa solusi konkrit, adalah orang2 yang sayang sama bang fiyan karena Allah swt. Tinggal seberapa dewasa kita mau mengakuinya.

Haturnuhun, semoga bermanfaat bagi kita semua.Maafkan kata-kata saya yang kekanak-kanakan (tsaaah.. ngaku anak2 biar dianggap dewasa. Hahaha)

DANI

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, fiyan arjun <fiyanarjun@...> wrote:
>
> *Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa*
>
> mendapatkan pelajaran dari `*seseorang' *dari balik ponsel. Dari balik
> ponsel itu orang tersebut pertama bicara tentang kehidupan masa
> depannya—dengan pilihan sesuai kriteria dirinya maupun orangtuanya. Dan itu
> masih aku terima. Toh, siapa sih orang yang tidak menginginkan masa depan
> yang cerah. Cemerlang. Bahkan sukses. Aku sendiri pun tidak akan menolak
> dengan hal itu. Kalau pun ada yang tidak menginginkan hal demikian wajib
> dipertanyakan orang itu. Apakah sehat atau tidak? Atau, perlu diperiksakan
> kejiwaannya. Stabil atau tidak jiwanya itu. Bukan begitu?**

4d.

Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dew

Posted by: "fil_ardy" fil_ardy@yahoo.com   fil_ardy

Fri Aug 7, 2009 9:45 pm (PDT)



Maaf, sebelumnya tanpa sengaja saya pake alamat email istri saya :D
Dan sudah saya delet dari group, tapi maaf kalu sudah terlanjur masuk
ke individual email.
-------------------------------------------------

Saya menikmati jawaban mas Rama, euy :D

Bang Fiyan, kedewasaan itu proses, bukan kesmipulan. Saya berani mengatakan
kalau orang yang sudah mengaku dewasa adalah orang yang kekanak-kanakan.Menolak
untuk mengakui kalau kita tidak dewasa adalah sikap kekanak-kanakan. Sebaliknya,
mengakui jika kita masih kekanak-kanakan adalah sikap dewasa itu sendiri.Si
penelepon mengatakan kalu Bang fiyan belum dewasa, bukan berarti dia sendiri
sudah dewasa. Mungkin dia merasa proses yang dia alami dalam menuju kedewasaan
berbeda dengan yang bang fiyan lakukan. Atau mungkin dia lebih memilih menerima
masukan dengan lebih legowo daripada bang fiyan dalam menerima masukan. Karena
orang2 dewasa itu biasanya lebih ikhlas dari pada anak2.

Jika si penelepon mengatakan bahwa bang Fiyan belum dewasa berdasarkan survey
yang ia lakukan, lalu hasil survey tersebut mengatakan bahwa bang fiyan belum
dewasa, maka pilihan bagi bang fiyan adalah bermuhasabah. Betapa selama ini bang
fiyan sudah berusaha bersikap dewasa namun orang lain menilai sebaliknya adalah
variabel nilai seperti yang dikatakan oleh mas Rama sebelumnya.

Mari kita buat study kasus kecil2an atas kedewasaan Bang Fiyan yang hasilnya
nanti tentu saja subjektif dari saya atas tulisan2 bang fiyan. Karena selama
ini, interaksi bang fiyan dengan orang2 lebih banyak lewat tulisan. Jadi,
penilaian orang2 terhadap bang fiyan, lebih banyak dipengaruhi oleh hasil
membaca tulisan2 bang fiyan. Sederhananya tulisan bang fiyan adalah cerminan
seberapa dewasanya bang fiyan, bahkan saya sendiri :) :

1. Menerima nasihat, masukan, support, kritikan dengan tanpa menuduh mereka
sebagai orang2 yang hanya bisa menghakimi, menghina, menjatuhkan, tidak tahu
situasi, sok tau, adalah sikap dewasa.

2. Menerima hadiah dari pak sinang berupa laptop, TANPA merasa itu semua adalah
karena prestasi bang fiyan sebagai bintang SK, bukan hasil kerja keras kampanye
bintang SK. Tapi semata-mata karena kemurahan kasih sayang Allah SWT yang sudah
menggerakkan hati Pak Sinang untuk melakukannya, adalah sikap dewasa.

3. Berfikir atau mengatakan hal ini:

"Mau aja dengarin kata orang.Kalau mendengar kata orang sih nggak ada habisnya
perkara. Apa orang lain terjun ke jurang apa harus ikut terjun ke jurang juga.
Nggak mungkinkan? Lagi pula apa sih yang tahu tentang pribadi gue. Sotoy banget
tuh orang-orang menilai tentang pribadi gue. Kecuali dia itu saudara, kakak,
adik atau keponakan gue. Lha ini aja tidak ada hubungan apa-apa bisa banget
menilai gue. Kalau ingin menilai orang lain beli kaca dulu deh. Kok bisa-bisa
ngurusin orang lain. Katanya orang beriman tetapi masih aja ngurusin orang lain.
Cape dehh!"

Adalah sikap kekanak-kanakan.

4. berfikit atau mengatakan hal ini:

"Tapi tolong ajarkan aku sikap dewasa itu seperti apa? Apakah seperti pelaku bom
hotel RITZ Kuningan? Atau, seperti anggota dewan yang sering rebut kursi sampai
bertingkai di ruang rapat. Main gontok-gontokan? Atau, para koruptor yang
merajarela?"

Adalah sikap kekanak-kanakan. (Sejak kapan kedewasaan disimbolkan dengan
terorisme?, korupsi dan kekerasan?)

5. Merenungi dan bermuhasabah atas hikayat tentang seorang ayah, anak dan
keledai seperti yang bang fiyan tulis, adalah sikap dewasa.

6. merenungi dan bermuhasabah atas perkataan La Rouchefoucauld :Alam memberi
kita satu lidah akan tetapi memberi kita dua telinga, agar supaya kita dua kali
banyak mendengar daripada berbicara. Adalah sikap dewasa. Apakah Bang Fiyan
sudah melakukannya? Lebih banyak mendengar?

7. Menganggap nasihat atau masukan sebagai omongan sampah adalah sikap
kekanak-kanakan.

8. Menulis sambil ditemani lagu agnes monica adalah sikaap.... eeemm sikap apa
yaaa? Hehehee, sikap romantis deh. Hihihihii

9. Membuka toko buku online Anju adalah sikap dewasa dan bertanggung jawab pada
diri dan masa depan. Hebat!

10. Merasa tersinggung, kesal, marah atas study kasus yang saya lakukan ini
adalah sikap kekanak-kanakan.

Demikian, Bang Fiyan. Silakan dihitung hasil study kasus ini, dan buat
renungkan. Masih banyak variabel yang tidak saya masukan dalam study kasus ini
karena keterbatasan ruang dan waktu. Saya yakin, orang2 yang sering kali dituduh
oleh bang fiyan sebagai orang-orang yang sok tau, orang-orang yang ga mau
ngertiin, orang2 yang hanya bisa mengkritik tanpa solusi konkrit, adalah orang2
yang sayang sama bang fiyan karena Allah swt. Tinggal seberapa dewasa kita mau
mengakuinya.

Haturnuhun, semoga bermanfaat bagi kita semua.Maafkan kata-kata saya yang
kekanak-kanakan (tsaaah.. ngaku anak2 biar dianggap dewasa. Hahaha)

DANI

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, fiyan arjun <fiyanarjun@...> wrote:
>
> *Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa*
>
> mendapatkan pelajaran dari `*seseorang' *dari balik ponsel. Dari balik
> ponsel itu orang tersebut pertama bicara tentang kehidupan masa
> depannya—dengan pilihan sesuai kriteria dirinya maupun orangtuanya. Dan itu
> masih aku terima. Toh, siapa sih orang yang tidak menginginkan masa depan
> yang cerah. Cemerlang. Bahkan sukses. Aku sendiri pun tidak akan menolak
> dengan hal itu. Kalau pun ada yang tidak menginginkan hal demikian wajib
> dipertanyakan orang itu. Apakah sehat atau tidak? Atau, perlu diperiksakan
> kejiwaannya. Stabil atau tidak jiwanya itu. Bukan begitu?**

4e.

Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dew

Posted by: "Ramaditya Skywalker" ramavgm@gmail.com

Fri Aug 7, 2009 10:05 pm (PDT)



Ups ups ups ups, untuk poin nomor 10, sekali lagi, tidak masalah
apakah itu berarti dewasa atau kekanak-kanakan. Kalau bisa diterima ya
syukur, tidak ya tidak apa-apa.

Waduh, berarti kalau saya yang dibuatkan surveynya (baca: hobby) sudah
pasti kekanak-kanakan semua nih, hehehehe!

1. Main game
2. Guling-gulingan sama kucing
3. Main lightsaber
4. Nonton anime/kartun
5. Rekreasi ke DUFAN

Ah 5 dulu deh, malu aku!

On 8/8/09, fil_ardy <fil_ardy@yahoo.com> wrote:
> Maaf, sebelumnya tanpa sengaja saya pake alamat email istri saya :D
> Dan sudah saya delet dari group, tapi maaf kalu sudah terlanjur masuk
> ke individual email.
> -------------------------------------------------
>
> Saya menikmati jawaban mas Rama, euy :D
>
> Bang Fiyan, kedewasaan itu proses, bukan kesmipulan. Saya berani mengatakan
> kalau orang yang sudah mengaku dewasa adalah orang yang
> kekanak-kanakan.Menolak
> untuk mengakui kalau kita tidak dewasa adalah sikap kekanak-kanakan.
> Sebaliknya,
> mengakui jika kita masih kekanak-kanakan adalah sikap dewasa itu sendiri.Si
> penelepon mengatakan kalu Bang fiyan belum dewasa, bukan berarti dia sendiri
> sudah dewasa. Mungkin dia merasa proses yang dia alami dalam menuju
> kedewasaan
> berbeda dengan yang bang fiyan lakukan. Atau mungkin dia lebih memilih
> menerima
> masukan dengan lebih legowo daripada bang fiyan dalam menerima masukan.
> Karena
> orang2 dewasa itu biasanya lebih ikhlas dari pada anak2.
>
> Jika si penelepon mengatakan bahwa bang Fiyan belum dewasa berdasarkan
> survey
> yang ia lakukan, lalu hasil survey tersebut mengatakan bahwa bang fiyan
> belum
> dewasa, maka pilihan bagi bang fiyan adalah bermuhasabah. Betapa selama ini
> bang
> fiyan sudah berusaha bersikap dewasa namun orang lain menilai sebaliknya
> adalah
> variabel nilai seperti yang dikatakan oleh mas Rama sebelumnya.
>
> Mari kita buat study kasus kecil2an atas kedewasaan Bang Fiyan yang hasilnya
> nanti tentu saja subjektif dari saya atas tulisan2 bang fiyan. Karena selama
> ini, interaksi bang fiyan dengan orang2 lebih banyak lewat tulisan. Jadi,
> penilaian orang2 terhadap bang fiyan, lebih banyak dipengaruhi oleh hasil
> membaca tulisan2 bang fiyan. Sederhananya tulisan bang fiyan adalah cerminan
> seberapa dewasanya bang fiyan, bahkan saya sendiri :) :
>
>
> 1. Menerima nasihat, masukan, support, kritikan dengan tanpa menuduh mereka
> sebagai orang2 yang hanya bisa menghakimi, menghina, menjatuhkan, tidak tahu
> situasi, sok tau, adalah sikap dewasa.
>
> 2. Menerima hadiah dari pak sinang berupa laptop, TANPA merasa itu semua
> adalah
> karena prestasi bang fiyan sebagai bintang SK, bukan hasil kerja keras
> kampanye
> bintang SK. Tapi semata-mata karena kemurahan kasih sayang Allah SWT yang
> sudah
> menggerakkan hati Pak Sinang untuk melakukannya, adalah sikap dewasa.
>
> 3. Berfikir atau mengatakan hal ini:
>
> "Mau aja dengarin kata orang.Kalau mendengar kata orang sih nggak ada
> habisnya
> perkara. Apa orang lain terjun ke jurang apa harus ikut terjun ke jurang
> juga.
> Nggak mungkinkan? Lagi pula apa sih yang tahu tentang pribadi gue. Sotoy
> banget
> tuh orang-orang menilai tentang pribadi gue. Kecuali dia itu saudara, kakak,
> adik atau keponakan gue. Lha ini aja tidak ada hubungan apa-apa bisa banget
> menilai gue. Kalau ingin menilai orang lain beli kaca dulu deh. Kok
> bisa-bisa
> ngurusin orang lain. Katanya orang beriman tetapi masih aja ngurusin orang
> lain.
> Cape dehh!"
>
> Adalah sikap kekanak-kanakan.
>
>
> 4. berfikit atau mengatakan hal ini:
>
> "Tapi tolong ajarkan aku sikap dewasa itu seperti apa? Apakah seperti pelaku
> bom
> hotel RITZ Kuningan? Atau, seperti anggota dewan yang sering rebut kursi
> sampai
> bertingkai di ruang rapat. Main gontok-gontokan? Atau, para koruptor yang
> merajarela?"
>
> Adalah sikap kekanak-kanakan. (Sejak kapan kedewasaan disimbolkan dengan
> terorisme?, korupsi dan kekerasan?)
>
>
> 5. Merenungi dan bermuhasabah atas hikayat tentang seorang ayah, anak dan
> keledai seperti yang bang fiyan tulis, adalah sikap dewasa.
>
> 6. merenungi dan bermuhasabah atas perkataan La Rouchefoucauld :Alam memberi
> kita satu lidah akan tetapi memberi kita dua telinga, agar supaya kita dua
> kali
> banyak mendengar daripada berbicara. Adalah sikap dewasa. Apakah Bang Fiyan
> sudah melakukannya? Lebih banyak mendengar?
>
> 7. Menganggap nasihat atau masukan sebagai omongan sampah adalah sikap
> kekanak-kanakan.
>
>
> 8. Menulis sambil ditemani lagu agnes monica adalah sikaap.... eeemm sikap
> apa
> yaaa? Hehehee, sikap romantis deh. Hihihihii
>
> 9. Membuka toko buku online Anju adalah sikap dewasa dan bertanggung jawab
> pada
> diri dan masa depan. Hebat!
>
> 10. Merasa tersinggung, kesal, marah atas study kasus yang saya lakukan ini
> adalah sikap kekanak-kanakan.
>
>
> Demikian, Bang Fiyan. Silakan dihitung hasil study kasus ini, dan buat
> renungkan. Masih banyak variabel yang tidak saya masukan dalam study kasus
> ini
> karena keterbatasan ruang dan waktu. Saya yakin, orang2 yang sering kali
> dituduh
> oleh bang fiyan sebagai orang-orang yang sok tau, orang-orang yang ga mau
> ngertiin, orang2 yang hanya bisa mengkritik tanpa solusi konkrit, adalah
> orang2
> yang sayang sama bang fiyan karena Allah swt. Tinggal seberapa dewasa kita
> mau
> mengakuinya.
>
> Haturnuhun, semoga bermanfaat bagi kita semua.Maafkan kata-kata saya yang
> kekanak-kanakan (tsaaah.. ngaku anak2 biar dianggap dewasa. Hahaha)
>
>
> DANI
>
>
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, fiyan arjun <fiyanarjun@...>
> wrote:
>>
>> *Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa*
>>
>> mendapatkan pelajaran dari `*seseorang' *dari balik ponsel. Dari balik
>> ponsel itu orang tersebut pertama bicara tentang kehidupan masa
>> depannya—dengan pilihan sesuai kriteria dirinya maupun orangtuanya. Dan
>> itu
>> masih aku terima. Toh, siapa sih orang yang tidak menginginkan masa depan
>> yang cerah. Cemerlang. Bahkan sukses. Aku sendiri pun tidak akan menolak
>> dengan hal itu. Kalau pun ada yang tidak menginginkan hal demikian wajib
>> dipertanyakan orang itu. Apakah sehat atau tidak? Atau, perlu diperiksakan
>> kejiwaannya. Stabil atau tidak jiwanya itu. Bukan begitu?**
>
>
>
>
>

--
"Ramaditya Skywalker: The Indonesian game music lover"

- Eko Ramaditya Adikara
http://www.ramaditya.com

4f.

Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku--Kang Dhani

Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id   bujangkumbang

Fri Aug 7, 2009 11:43 pm (PDT)



Tak ada tanggapan....
Karena sy sadar diri. Siapa sy ini!
Terima kasih atas kebaikannya Kang Dhani secara langsung maupun tidak langsung selama ini kepada sy!
Mohon maaf bila ade sale-sale kate maapin aje
Karena sebentar bulan Ramadhan
Sekali mohon maaf lahir bathin.

Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang! http://id.mail.yahoo.com
4g.

Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dew

Posted by: "dayat, cendana2000" dayat_xxx@yahoo.com   dayat_xxx

Fri Aug 7, 2009 11:43 pm (PDT)



bisa jadi kedewasaan seseoarng akan terliahat saat dia menanggapi perkataan seseoarng yang menyatakan bahwa dia tidak dewasa atau childis.
saat ada orang bilang kita tidak dewasa, mana yang lebih dewasa?

- mengajukan banyak sanggahan atau alasan agar pandangan dia berubah sehingga mencabut tuduhanya
- hanya diam, tenang, menanggapinya hanya dengan sebuah senyuman
- atau kita balik serang dia dengan memaparkan wacana2 yg menyudutkan dia bahwa dia juga belum dewasa, atau paling tidak membuat dia merasa bahwa dirinya tidak berhak menvonis orang lain tidak dewasa

mari kita belajar untuk lebih dewasa dalam menilai orang, dan juga mari kita coba untuk lebih dewasa dalam menerima kritik dan penilaian orang...
karena dewasa itu hanya satu "benda", tapi akan berubah jadi bermacam-macam "benda" saat dilihat dari kaca mata yang berbeda.

New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
4h.

(Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan  Aku--Mas Rama

Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id   bujangkumbang

Fri Aug 7, 2009 11:44 pm (PDT)




terima kasih atas attentionnya, Mas Rama...
membaca tulisan mas Rama sesuai dengan apa yg dipikiran sy
ya, sy tau diri kok siapa sy, Mas
ya, bagaimana pun sy banyak terima kasih atas masukannya Mas Rama....
makasih banyak Mas...
mungkin kita nanti share lagi ya
sukses selalu
 
PS:
mohon maaf bila ade sale-sale kate
karena sebentar lagi puase
maaf jika secara ini sy punya sale sm Mas
ya, walo sy baru kedua kali bertemu sm Mas Rama
baik pameran buku tahun 2008 di Istora Senayan sm di Bandung
tp sy aware dgn kebaikan Mas Rama dengan jawabannya
terima kasih
met puasa ya, Mas!
 

--- Pada Sab, 8/8/09, Ramaditya Skywalker <ramavgm@gmail.com> menulis:

Dari: Ramaditya Skywalker <ramavgm@gmail.com>
Judul: Re: [sekolah-kehidupan] (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa
Kepada: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Tanggal: Sabtu, 8 Agustus, 2009, 9:40 AM

Setiap orang memiliki definisi "dewasa" sendiri-sendiri. Ada yang
beranggapan bahwa dewasa itu dinilai dari tua usianya, ada juga yang
menilai dewasa itu dari sikap dan perilakunya.

Untuk saya pribadi, kedewasaan berarti memiliki kematangan dalam
berpikir, bersikap, dan berperilaku. Ingat kata matang? Matang berarti
telah siap untuk berlaku, bersikap, serta berpikir. Tentu saja
kesiapan yang saya maksud adalah kesiapan dalam bentuk yang positif.

Menjadi dewasa sendiri sebenarnya tidaklah mutlak untuk seluruh elemen
dalam hidup kita. Nonton film kartun atau main video game misalnya,
biasa dilakukan anak-anak (termasuk saya, hehehe). Namun, itu bukan
jadi patokan bahwa kita tidak memiliki kedewasaan berpikir, bersikap,
dan berperilaku.

Kalau dijabarkan mungkin akan panjang sekali, tapi saya ingin mencoba
fokus pada isi e-mail terdahulu (yang kali ini saya balas).

Kepada sang penyebut: Menurut saya, akan lebih baik apabila kita
menghindari penggunaan kalimat atau pemberian status "tidak dewasa"
kepada seseorang, pasalnya tiap orang memiliki standarisasi kedewasaan
yang berbeda, dan ditambah lagi dengan variabel-variabel lain (contoh,
lingkungan, teman-teman main, dll) yang tentunya ikut berperan
membentuk pribadi seseorang. Ya, mencoba memahami latar belakang lawan
bicara kita mungkin merupakan cara yang paling bijaksana untuk dapat
menghargainya. Oh ya, menerima saran dan pendapat dari teman dalam hal
menilai itu memang tidak ada salahnya. Namun, sebagai manusia yang
diberi akal dan pikiran, hendaknyalah kita dapat memberi penilaian
sendiri terhadap apa yang kita lihat, apa yang kita rasa, dan apa yang
kita dengar. Jadi, apa yang berasal dari luar hanyalah merupakan bahan
rujukan saja (disini lihat mayoritas dan minoritasnya, saya rasa Anda
sudah tahu soal ini). Soal Anda menerima atau tidak, itu adalah 100
persen hak Anda, dan hendaknyalah lawan bicara Anda dapat menghargai
hal tersebut.

Kepada sang tersebut: Well well, yuk duduk tenang dulu. Tarik napas
panjang, minum es atau sirup juga boleh (mumpung belum puasa nih!).
Hmmm, ada pertanyaan yang sangat simpel. "Apakah Anda merasa yang
disebutkan sang penyebut itu benar karakter Anda?" Kalau jawabannya
"Ya" berarti sudah selayaknyalah kita introspeksi diri. Tapi kalau
jawabannya "Tidak," so why should you be upset? Hehehe, saya pribadi
juga sering kok disebut "tidak dewasa," "childish," dll, cuma
gara-gara saya hobby main game, nonton film kartun, dan main
pedang-pedangan (liat aja ramaditya.multiply.com). Tapi saya merasa
hal tersebut bukanlah hal yang masuk kriteria kematangan berpikir,
bersikap, dan berperilaku. Apakah itu akan mempengaruhi sikap saya dan
interaksi saya dengan individu lain? Saya rasa tidak. So, kita bisa
gunakan ukuran itu, saya rasa. Nah, apalagi kalau kita hendak
berinteraksi, dalam hal ini coba menyatukan dua individu jadi satu.
Tentu saja akan banyak terjadi perbedaan kepentingan dan pemikiran.
Nah hal inilah yang harusnya disatukan, karena kalau kedua belah pihak
cuma jalan sendiri-sendiri dengan standarisasinya, hmmm, you know the
rest. Jadi, tenang sajalah. Bersabar dan bisa menerima dengan lapang
dada apa kata orang adalah yang paling bisa kita lakukan.

On 8/7/09, fiyan arjun <fiyanarjun@gmail.com> wrote:
> *Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa*
>
> *Fiyan `Anju´ Arjun*
>
> * *
>
> *Pernahkah kau bicara*
>
> *Tapi tak didengar*
>
> *Tak dianggap*
>
> *Sama sekali*
>
> *Pernahkah kau tak salah*
>
> *Tapi disalahkan?*
>
> *Tak diberi kesempatan*
>
> *(Teruskanlah-Agnes Monica)*
>
> * *
>
> Sering kali aku mendengar atau mendapatkan kalimat-kalimat dibawah ini:**
>
> * *
>
> *Sikap lo nggak ada dewasa banget, seh!*
>
> * *
>
> *Jangan kayak anak-anak donk! Dewasa dikit kenapa?!*
>
> * *
>
> *Lo nggak ada dewasanya sama sekali deh!*
>
> * *
>
> *Childist banget seh, lo!*
>
> * *
>
> Hari ini, Kamis tertanggal 06 Juli 09 tepatnya pukul 13:05 aku baru
> mendapatkan pelajaran dari `*seseorang´ *dari balik ponsel. Dari balik
> ponsel itu orang tersebut pertama bicara tentang kehidupan masa
> depannya-dengan pilihan sesuai kriteria dirinya maupun orangtuanya. Dan itu
> masih aku terima. Toh, siapa sih orang yang tidak menginginkan masa depan
> yang cerah. Cemerlang. Bahkan sukses. Aku sendiri pun tidak akan menolak
> dengan hal itu. Kalau pun ada yang tidak menginginkan hal demikian wajib
> dipertanyakan orang itu. Apakah sehat atau tidak? Atau, perlu diperiksakan
> kejiwaannya. Stabil atau tidak jiwanya itu. Bukan begitu?**
>
>
>
> Madesu. Akronim, masa depan suram. Tentu kita pasti akan menolaknya bila hal
> itu benar-benar menjadi pilihan kita. Siapa lagi yang mau memiliki masa
> depan seperti itu. Mimpi saja tentu tidak mau. Apalagi menjadi kenyataan.
> Tentu akan menolaknya mentah-mentah. Kalau perlu buang jauh-jauh deh dari
> kehidupan kita.
>
>
>
> Lagi-lagi kita juga tak bisa menolak takdir bila hal itu terjadi pada diri
> kita. Aku harapkan sih tidak! Apalagi aku. Tentu aku saja menolaknya apalagi
> untuk mendekatinya. Dan tentunya bila kita berpikiran realitis kita ingin
> masa depan yang cerah. Cemerlang. Bahkan sukses, bukan? Kalau sudah begitu
> dengan kita memilih kehidupan seperti itu apakah kita sudah dapat dikatakan
> sudah berpikiran dewasa Aku rasa cetek sekali pikiran kita bila hanya
> menganggap dan mengukur hal bersikap dewasa itu hanya diniliai dari masalah
> itu saja.
>
>
>
> Aku pun menjadi heran jika ada orang mengatakan kepadaku jadilah untuk bisa
> menjadi orang dewasa. Saking herannya sampai aku banyak baca buku semua dan
> tak ada satu pun yang mengatakan secara rinci tentang sikap dewasa itu
> seperti apa? Halnya hari itu `seseorang´ mengatakan kepadaku.
>
>
>
> "Menurut teman-teman mas belum dewasa!" katanya di balik ponsel.
>
>
>
> Aku yang mendengar akhirnya menfilter suara dari balik ponsel itu.
>
>
>
> "Hmm...menurut teman-teman? Lha kata lo sendiri apa? Kok kata teman-teman.
> Kalau begitu yang belum dewasa lo atau gue. Mau aja dengarin kata orang.
> Kalau mendengar kata orang sih nggak ada habisnya perkara. Apa orang lain
> terjun ke jurang apa harus ikut terjun ke jurang juga. Nggak mungkinkan?
> Lagi pula apa sih yang tahu tentang pribadi gue. Sotoy banget tuh
> orang-orang menilai tentang pribadi gue. Kecuali dia itu saudara, kakak,
> adik atau keponakan gue. Lha ini aja tidak ada hubungan apa-apa bisa banget
> menilai gue. Kalau ingin menilai orang lain beli kaca dulu deh. Kok
> bisa-bisa ngurusin orang lain. Katanya orang beriman tetapi masih aja
> ngurusin orang lain. Cape dehh!" bathinku bagai memegang sekam dalam hati.
>
>
>
> Okay, jika aku yang salah. Aku terima! Aku minta maaf! Tapi tolong ajarkan
> aku sikap dewasa itu seperti apa? Apakah seperti pelaku bom hotel RITZ
> Kuningan? Atau, seperti anggota dewan yang sering rebut kursi sampai
> bertingkai di ruang rapat. Main gontok-gontokan? Atau, para koruptor yang
> merajarela? Tentunya mereka itu semua adalah orang-orang yang pernah
> mengenyam pendidikan formal yang sangat tinggi. Tentu mereka lebih tahu
> sikap dan sifat yang mana dikatakan berpikiran dewasa? *Untuk itu ajarkanlah
> aku untuk menjadi orang yang benar-benar dikatakan dewasa itu hai suara di
> balik telepon? Ajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa?  *
>
> * *
>
> Hingga saat itu aku diingatkan sebuah kisah klasik yang cukup membuatku
> menjadi patokan untuk bermuhasabbah diri sekaligus berintropeksi diri. Tentu
> Anda pastinya sudah mendengarnya. Kisah klasiknya seperti ini:
>
>
>
> Ada seorang Ayah dan anaknya selalu memegang tali kekang keledai setiap kali
> dalam perjalanan. Dalam perjalanan itu mereka berdua akhirnya memasuki
> perkampungan demi perkampungan. Dan diujilah kesabaran Ayah dan anak itu
> dengan berbagai cobaan dalam hal ini perkataan-perkataan setiap mereka
> berdua melewati sebuah perkampungan. Perkataan itu tak lain terlontar dari
> mulut orang-orang yang tinggal di perkampungan itu.
>
>
>
> Dan lewatlah mereka berdua di sebuah perkampungan pertama. Dengan pedenya
> mereka berdua melewati perkampungan itu dengan membawa keledai dengan
> memegang tali kekang hewan itu.
>
>
>
> Belum sampai dipertengahan jalan perkampungan itu tiba-tiba mereka berdua
> mendengar celetukan dari para penghuni kampung itu.
>
>
>
> "Lihat saja Ayah dan anak itu berdua sama-sama bodohnya. Ada keledai bukan
> ditumpangi (naiki) ini malah didiami saja." Begitu celetukan penghuni di
> perkampungan yang mereka berdua lewati. Kemudian mereka sampai pada di
> sebuah perkampungan yang kedua. Mereka berdua pun masih sama. Masih memegang
> tali kekang keledai. Namun karena berdua sudah mendapatkan pelajaran di
> perkampungan pertama Ayah dari anak itu buka suara," sekarang kamu naik saja
> di punggung keledai ini. Ayah ingin tahu celetukan apa yang Ayah dengar dari
> perkampungan yang kita lewati ini." Usul Ayah kepada anaknya. Anak itu pun
> menuruti perkataan Ayahnya.
>
>
>
> Benar. Pikiran seorang Ayah. Belum sampai mereka dipertengahan jalan di
> perkampungan yang kedua mereka dapat celetukan lagi.
>
>
>
> "Anak itu tidak tahu budi. Tidak punya rasa hormat saja. Masa Ayahnya yang
> diperintahkan menuntun keledai. Dan di atasnya ia seorang diri. Benar-benar
> anak tak tahu diri," celetukan perkampungan kedua pun terlontar juga.
> Begitulah seterusnya sampai-sampai mereka berdua tetap seperti sedia kala.
>
>
>
> Begitulah dalam kehidupan yang kita jalani. Terkadang kita selalu menuruti
> perkataan orang lain. Dan kita bahkan sampai mengikutinya walau dalam hati
> kita sering bertolak belakang akhirnya yang timbul adalah tidak memiliki
> rasa kepedean bahkan tak punya pendirian. Apa kata orang dianggapnya benar!
> Padahal malah sebaliknya. Menjerumuskan diri bahkan mendekati sikap tak
> terpuji. Ghibah pun malah tak terelakan. Bahkan bisa jadi menfitnah tanpa
> dasar yang sesungguhnya. Entahlah. Tapi bagi aku sekarang ini hal semacam
> itu sudah menjadi makanan aku sehari-hari. Seperti halnya ketika `seseorang´
> mengatakan kepadaku dibalik ponsel hari itu dengan mengatakan,"  menurut
> teman-teman mas belum dewasa!" katanya di balik ponsel.
>
>
>
> "Terima kasih sudah menilaiku seperti itu!"
>
>
>
> Jadi benar juga apa kata La Rouchefoucauld *"Alam memberi kita satu lidah
> akan tetapi memberi kita dua telinga, agar supaya kita dua kali banyak
> mendengar daripada berbicara." *
>
> * *
>
> Yup, terkadang kita memilki dua telinga bukan untuk mendengar yang berguna
> dan manfaat melainkan ini hanya untuk mendengar omongan yang tak bergizi.
> Alias, mendengar omongan sampah saja! Menambah dosa dan mengurangi timbangan
> pahala kita. (Ma´af dalam masalah ini aku bukan Tuhan yang mengurusi segala
>  masalah dosa dan pahala. Itu sih tanggungan masing-masing pribadi saja)
>
>
>
> Lagi-lagi aku juga tak mau egois biar bagaimana pun aku harus mengucapkan
> rasa berterima kasih kepada orang yang telah meneleponku dari balik ponsel
> hari itu. Karena dialah aku semakin mengerti dan semakin tahu dimana letak
> orang yang memiliki tingkat kedewasaan. Yang bukan hanya melulu mendengarkan
> omongan orang belaka yang tak bermutu.(fy)
>
> * *
>
> Fy,
>
> Mencoba lebih banyak intropeksi diri.
>
>
>
> *            Ulujami-Pesanggrahan, 06 Juli 2009*
>
> * *
>
> *            Tulisan ini aku tulis disaat ditemani oleh Agnes Monica dengan
> lembut dan sabar dia mengajarkan aku tentang kehidupan bagaimana menghargai,
> menjadi pendengar yang baik bukan menjadi pendikte yang ulung serta bersikap
> peduli dengan orang lain hingga aku begitu larut didalamnya...Hingga dia
> bilang kepadaku: "Teruskanlah...Teruskanlah dengan duniamu. Jangan peduli
> perkataan orang lain. EGP aja!" Terima kasih Agnes Monicaku telah
> mengajarkan aku tentang banyak hal. (Gini ya rasanya ditemani sama penyanyi
> beken bikin grogi dan nervous...Mimpi kalee...hahaha)*
>
> * *
>
> *Bonus Track.*
>
>
>
> Teruskanlah
>
> Voc: Agnes Monica
>
>
>
> *Pernahkah kau bicara*
>
> *Tapi tak didengar*
>
> *Tak dianggap*
>
> *Sama sekali*
>
> *Pernahkah kau tak salah*
>
> *Tapi disalahkan?*
>
> *Tak diberi kesempatan*
>
> *Kuhidup dengan siapa*
>
> *Tak tahu kau siapa*
>
> *Kau kekasihku*
>
> *Tapi orang lain bagiku*
>
> *Kau dengan dirimu saja*
>
> *Kau dengan duniamu saja*
>
> *Teuskanlah....Teruskanlah...*
>
> *Kau begitu....*
>
> *Kau tak butuh diriku*
>
> *Aku patung bagimu*
>
> *Cinta bukan*
>
> *Tuk kebutuhanmu.*
>
> * *
>
> *            *Reff:
>
> *            Kuhidup dengan siapa*
>
> *Tak tahu kau siapa*
>
> *Kau kekasihku*
>
> *Tapi orang lain bagiku*
>
> Reff:*     Kau dengan dirimu saja*
>
> *Kau dengan duniamu saja*
>
> *Teuskanlah....Teruskanlah...*
>
> * *
>
> *            *Chorus:
>
> *            Kau dengan dirimu saja*
>
> *Kau dengan duniamu saja*
>
> *Teuskanlah....Teruskanlah...*
>
> *                        Kau begitu....*
>
> *                        Teruskanlah...Teruskanlah...*
>
>
> --
> "Books inside you"
> Fiyan 'Anju' Arjun
> Anju Online Bookshop
> Jl.Ulujami Rt.012/04 No.14 Jak- Sel
> www.bukumurahku.multiply.com
> fb:bujangkumbanf@yahoo.co.id <fb%3Abujangkumbanf@yahoo.co.id>
> Tlp:(021) 7379858
> Hp:0852-8758-0079
>

--
"Ramaditya Skywalker: The Indonesian game music lover"

- Eko Ramaditya Adikara
http://www.ramaditya.com

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/
4i.

Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku--Mas Rama

Posted by: "Ramaditya Skywalker" ramavgm@gmail.com

Sat Aug 8, 2009 12:18 am (PDT)



Amin, sama-sama, Mas. Nggak ada yang benar atau salah disini kok. Cuma
mau berkomentar saja, dan ini saya tujukan untuk umum.

Just an ordinary thoughts of an ordinary Jedi Knight...

On 8/8/09, bujang kumbang <bujangkumbang@yahoo.co.id> wrote:
>
> terima kasih atas attentionnya, Mas Rama...
> membaca tulisan mas Rama sesuai dengan apa yg dipikiran sy
> ya, sy tau diri kok siapa sy, Mas
> ya, bagaimana pun sy banyak terima kasih atas masukannya Mas Rama....
> makasih banyak Mas...
> mungkin kita nanti share lagi ya
> sukses selalu
>
> PS:
> mohon maaf bila ade sale-sale kate
> karena sebentar lagi puase
> maaf jika secara ini sy punya sale sm Mas
> ya, walo sy baru kedua kali bertemu sm Mas Rama
> baik pameran buku tahun 2008 di Istora Senayan sm di Bandung
> tp sy aware dgn kebaikan Mas Rama dengan jawabannya
> terima kasih
> met puasa ya, Mas!
>
>
> --- Pada Sab, 8/8/09, Ramaditya Skywalker <ramavgm@gmail.com> menulis:
>
>
> Dari: Ramaditya Skywalker <ramavgm@gmail.com>
> Judul: Re: [sekolah-kehidupan] (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan
> Aku Untuk Menjadi Dewasa
> Kepada: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
> Tanggal: Sabtu, 8 Agustus, 2009, 9:40 AM
>
>
> Setiap orang memiliki definisi "dewasa" sendiri-sendiri. Ada yang
> beranggapan bahwa dewasa itu dinilai dari tua usianya, ada juga yang
> menilai dewasa itu dari sikap dan perilakunya.
>
> Untuk saya pribadi, kedewasaan berarti memiliki kematangan dalam
> berpikir, bersikap, dan berperilaku. Ingat kata matang? Matang berarti
> telah siap untuk berlaku, bersikap, serta berpikir. Tentu saja
> kesiapan yang saya maksud adalah kesiapan dalam bentuk yang positif.
>
> Menjadi dewasa sendiri sebenarnya tidaklah mutlak untuk seluruh elemen
> dalam hidup kita. Nonton film kartun atau main video game misalnya,
> biasa dilakukan anak-anak (termasuk saya, hehehe). Namun, itu bukan
> jadi patokan bahwa kita tidak memiliki kedewasaan berpikir, bersikap,
> dan berperilaku.
>
> Kalau dijabarkan mungkin akan panjang sekali, tapi saya ingin mencoba
> fokus pada isi e-mail terdahulu (yang kali ini saya balas).
>
> Kepada sang penyebut: Menurut saya, akan lebih baik apabila kita
> menghindari penggunaan kalimat atau pemberian status "tidak dewasa"
> kepada seseorang, pasalnya tiap orang memiliki standarisasi kedewasaan
> yang berbeda, dan ditambah lagi dengan variabel-variabel lain (contoh,
> lingkungan, teman-teman main, dll) yang tentunya ikut berperan
> membentuk pribadi seseorang. Ya, mencoba memahami latar belakang lawan
> bicara kita mungkin merupakan cara yang paling bijaksana untuk dapat
> menghargainya. Oh ya, menerima saran dan pendapat dari teman dalam hal
> menilai itu memang tidak ada salahnya. Namun, sebagai manusia yang
> diberi akal dan pikiran, hendaknyalah kita dapat memberi penilaian
> sendiri terhadap apa yang kita lihat, apa yang kita rasa, dan apa yang
> kita dengar. Jadi, apa yang berasal dari luar hanyalah merupakan bahan
> rujukan saja (disini lihat mayoritas dan minoritasnya, saya rasa Anda
> sudah tahu soal ini). Soal Anda menerima atau tidak, itu adalah 100
> persen hak Anda, dan hendaknyalah lawan bicara Anda dapat menghargai
> hal tersebut.
>
>
> Kepada sang tersebut: Well well, yuk duduk tenang dulu. Tarik napas
> panjang, minum es atau sirup juga boleh (mumpung belum puasa nih!).
> Hmmm, ada pertanyaan yang sangat simpel. "Apakah Anda merasa yang
> disebutkan sang penyebut itu benar karakter Anda?" Kalau jawabannya
> "Ya" berarti sudah selayaknyalah kita introspeksi diri. Tapi kalau
> jawabannya "Tidak," so why should you be upset? Hehehe, saya pribadi
> juga sering kok disebut "tidak dewasa," "childish," dll, cuma
> gara-gara saya hobby main game, nonton film kartun, dan main
> pedang-pedangan (liat aja ramaditya.multiply.com). Tapi saya merasa
> hal tersebut bukanlah hal yang masuk kriteria kematangan berpikir,
> bersikap, dan berperilaku. Apakah itu akan mempengaruhi sikap saya dan
> interaksi saya dengan individu lain? Saya rasa tidak. So, kita bisa
> gunakan ukuran itu, saya rasa. Nah, apalagi kalau kita hendak
> berinteraksi, dalam hal ini coba menyatukan dua individu jadi satu.
> Tentu saja akan banyak terjadi perbedaan kepentingan dan pemikiran.
> Nah hal inilah yang harusnya disatukan, karena kalau kedua belah pihak
> cuma jalan sendiri-sendiri dengan standarisasinya, hmmm, you know the
> rest. Jadi, tenang sajalah. Bersabar dan bisa menerima dengan lapang
> dada apa kata orang adalah yang paling bisa kita lakukan.
>
>
> On 8/7/09, fiyan arjun <fiyanarjun@gmail.com> wrote:
>> *Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa*
>>
>> *Fiyan 'Anju' Arjun*
>>
>> * *
>>
>> *Pernahkah kau bicara*
>>
>> *Tapi tak didengar*
>>
>> *Tak dianggap*
>>
>> *Sama sekali*
>>
>> *Pernahkah kau tak salah*
>>
>> *Tapi disalahkan?*
>>
>> *Tak diberi kesempatan*
>>
>> *(Teruskanlah—Agnes Monica)*
>>
>> * *
>>
>> Sering kali aku mendengar atau mendapatkan kalimat-kalimat dibawah ini:**
>>
>> * *
>>
>> *Sikap lo nggak ada dewasa banget, seh!*
>>
>> * *
>>
>> *Jangan kayak anak-anak donk! Dewasa dikit kenapa?!*
>>
>> * *
>>
>> *Lo nggak ada dewasanya sama sekali deh!*
>>
>> * *
>>
>> *Childist banget seh, lo!*
>>
>> * *
>>
>> Hari ini, Kamis tertanggal 06 Juli 09 tepatnya pukul 13:05 aku baru
>> mendapatkan pelajaran dari '*seseorang' *dari balik ponsel. Dari balik
>> ponsel itu orang tersebut pertama bicara tentang kehidupan masa
>> depannya—dengan pilihan sesuai kriteria dirinya maupun orangtuanya. Dan
>> itu
>> masih aku terima. Toh, siapa sih orang yang tidak menginginkan masa depan
>> yang cerah. Cemerlang. Bahkan sukses. Aku sendiri pun tidak akan menolak
>> dengan hal itu. Kalau pun ada yang tidak menginginkan hal demikian wajib
>> dipertanyakan orang itu. Apakah sehat atau tidak? Atau, perlu diperiksakan
>> kejiwaannya. Stabil atau tidak jiwanya itu. Bukan begitu?**
>>
>>
>>
>> Madesu. Akronim, masa depan suram. Tentu kita pasti akan menolaknya bila
>> hal
>> itu benar-benar menjadi pilihan kita. Siapa lagi yang mau memiliki masa
>> depan seperti itu. Mimpi saja tentu tidak mau. Apalagi menjadi kenyataan.
>> Tentu akan menolaknya mentah-mentah. Kalau perlu buang jauh-jauh deh dari
>> kehidupan kita.
>>
>>
>>
>> Lagi-lagi kita juga tak bisa menolak takdir bila hal itu terjadi pada diri
>> kita. Aku harapkan sih tidak! Apalagi aku. Tentu aku saja menolaknya
>> apalagi
>> untuk mendekatinya. Dan tentunya bila kita berpikiran realitis kita ingin
>> masa depan yang cerah. Cemerlang. Bahkan sukses, bukan? Kalau sudah begitu
>> dengan kita memilih kehidupan seperti itu apakah kita sudah dapat
>> dikatakan
>> sudah berpikiran dewasa Aku rasa cetek sekali pikiran kita bila hanya
>> menganggap dan mengukur hal bersikap dewasa itu hanya diniliai dari
>> masalah
>> itu saja.
>>
>>
>>
>> Aku pun menjadi heran jika ada orang mengatakan kepadaku jadilah untuk
>> bisa
>> menjadi orang dewasa. Saking herannya sampai aku banyak baca buku semua
>> dan
>> tak ada satu pun yang mengatakan secara rinci tentang sikap dewasa itu
>> seperti apa? Halnya hari itu 'seseorang' mengatakan kepadaku.
>>
>>
>>
>> "Menurut teman-teman mas belum dewasa!" katanya di balik ponsel.
>>
>>
>>
>> Aku yang mendengar akhirnya menfilter suara dari balik ponsel itu.
>>
>>
>>
>> "Hmm…menurut teman-teman? Lha kata lo sendiri apa? Kok kata teman-teman.
>> Kalau begitu yang belum dewasa lo atau gue. Mau aja dengarin kata orang.
>> Kalau mendengar kata orang sih nggak ada habisnya perkara. Apa orang lain
>> terjun ke jurang apa harus ikut terjun ke jurang juga. Nggak mungkinkan?
>> Lagi pula apa sih yang tahu tentang pribadi gue. Sotoy banget tuh
>> orang-orang menilai tentang pribadi gue. Kecuali dia itu saudara, kakak,
>> adik atau keponakan gue. Lha ini aja tidak ada hubungan apa-apa bisa
>> banget
>> menilai gue. Kalau ingin menilai orang lain beli kaca dulu deh. Kok
>> bisa-bisa ngurusin orang lain. Katanya orang beriman tetapi masih aja
>> ngurusin orang lain. Cape dehh!" bathinku bagai memegang sekam dalam hati.
>>
>>
>>
>> Okay, jika aku yang salah. Aku terima! Aku minta maaf! Tapi tolong ajarkan
>> aku sikap dewasa itu seperti apa? Apakah seperti pelaku bom hotel RITZ
>> Kuningan? Atau, seperti anggota dewan yang sering rebut kursi sampai
>> bertingkai di ruang rapat. Main gontok-gontokan? Atau, para koruptor yang
>> merajarela? Tentunya mereka itu semua adalah orang-orang yang pernah
>> mengenyam pendidikan formal yang sangat tinggi. Tentu mereka lebih tahu
>> sikap dan sifat yang mana dikatakan berpikiran dewasa? *Untuk itu
>> ajarkanlah
>> aku untuk menjadi orang yang benar-benar dikatakan dewasa itu hai suara di
>> balik telepon? Ajarkan Aku Untuk Menjadi Dewasa?  *
>>
>> * *
>>
>> Hingga saat itu aku diingatkan sebuah kisah klasik yang cukup membuatku
>> menjadi patokan untuk bermuhasabbah diri sekaligus berintropeksi diri.
>> Tentu
>> Anda pastinya sudah mendengarnya. Kisah klasiknya seperti ini:
>>
>>
>>
>> Ada seorang Ayah dan anaknya selalu memegang tali kekang keledai setiap
>> kali
>> dalam perjalanan. Dalam perjalanan itu mereka berdua akhirnya memasuki
>> perkampungan demi perkampungan. Dan diujilah kesabaran Ayah dan anak itu
>> dengan berbagai cobaan dalam hal ini perkataan-perkataan setiap mereka
>> berdua melewati sebuah perkampungan. Perkataan itu tak lain terlontar dari
>> mulut orang-orang yang tinggal di perkampungan itu.
>>
>>
>>
>> Dan lewatlah mereka berdua di sebuah perkampungan pertama. Dengan pedenya
>> mereka berdua melewati perkampungan itu dengan membawa keledai dengan
>> memegang tali kekang hewan itu.
>>
>>
>>
>> Belum sampai dipertengahan jalan perkampungan itu tiba-tiba mereka berdua
>> mendengar celetukan dari para penghuni kampung itu.
>>
>>
>>
>> "Lihat saja Ayah dan anak itu berdua sama-sama bodohnya. Ada keledai bukan
>> ditumpangi (naiki) ini malah didiami saja." Begitu celetukan penghuni di
>> perkampungan yang mereka berdua lewati. Kemudian mereka sampai pada di
>> sebuah perkampungan yang kedua. Mereka berdua pun masih sama. Masih
>> memegang
>> tali kekang keledai. Namun karena berdua sudah mendapatkan pelajaran di
>> perkampungan pertama Ayah dari anak itu buka suara," sekarang kamu naik
>> saja
>> di punggung keledai ini. Ayah ingin tahu celetukan apa yang Ayah dengar
>> dari
>> perkampungan yang kita lewati ini." Usul Ayah kepada anaknya. Anak itu pun
>> menuruti perkataan Ayahnya.
>>
>>
>>
>> Benar. Pikiran seorang Ayah. Belum sampai mereka dipertengahan jalan di
>> perkampungan yang kedua mereka dapat celetukan lagi.
>>
>>
>>
>> "Anak itu tidak tahu budi. Tidak punya rasa hormat saja. Masa Ayahnya yang
>> diperintahkan menuntun keledai. Dan di atasnya ia seorang diri.
>> Benar-benar
>> anak tak tahu diri," celetukan perkampungan kedua pun terlontar juga.
>> Begitulah seterusnya sampai-sampai mereka berdua tetap seperti sedia kala.
>>
>>
>>
>> Begitulah dalam kehidupan yang kita jalani. Terkadang kita selalu menuruti
>> perkataan orang lain. Dan kita bahkan sampai mengikutinya walau dalam hati
>> kita sering bertolak belakang akhirnya yang timbul adalah tidak memiliki
>> rasa kepedean bahkan tak punya pendirian. Apa kata orang dianggapnya
>> benar!
>> Padahal malah sebaliknya. Menjerumuskan diri bahkan mendekati sikap tak
>> terpuji. Ghibah pun malah tak terelakan. Bahkan bisa jadi menfitnah tanpa
>> dasar yang sesungguhnya. Entahlah. Tapi bagi aku sekarang ini hal semacam
>> itu sudah menjadi makanan aku sehari-hari. Seperti halnya ketika
>> 'seseorang'
>> mengatakan kepadaku dibalik ponsel hari itu dengan mengatakan,"  menurut
>> teman-teman mas belum dewasa!" katanya di balik ponsel.
>>
>>
>>
>> "Terima kasih sudah menilaiku seperti itu!"
>>
>>
>>
>> Jadi benar juga apa kata La Rouchefoucauld *"Alam memberi kita satu lidah
>> akan tetapi memberi kita dua telinga, agar supaya kita dua kali banyak
>> mendengar daripada berbicara." *
>>
>> * *
>>
>> Yup, terkadang kita memilki dua telinga bukan untuk mendengar yang berguna
>> dan manfaat melainkan ini hanya untuk mendengar omongan yang tak bergizi.
>> Alias, mendengar omongan sampah saja! Menambah dosa dan mengurangi
>> timbangan
>> pahala kita. (Ma'af dalam masalah ini aku bukan Tuhan yang mengurusi
>> segala
>>  masalah dosa dan pahala. Itu sih tanggungan masing-masing pribadi saja)
>>
>>
>>
>> Lagi-lagi aku juga tak mau egois biar bagaimana pun aku harus mengucapkan
>> rasa berterima kasih kepada orang yang telah meneleponku dari balik ponsel
>> hari itu. Karena dialah aku semakin mengerti dan semakin tahu dimana letak
>> orang yang memiliki tingkat kedewasaan. Yang bukan hanya melulu
>> mendengarkan
>> omongan orang belaka yang tak bermutu.(fy)
>>
>> * *
>>
>> Fy,
>>
>> Mencoba lebih banyak intropeksi diri.
>>
>>
>>
>> *            Ulujami—Pesanggrahan, 06 Juli 2009*
>>
>> * *
>>
>> *            Tulisan ini aku tulis disaat ditemani oleh Agnes Monica
>> dengan
>> lembut dan sabar dia mengajarkan aku tentang kehidupan bagaimana
>> menghargai,
>> menjadi pendengar yang baik bukan menjadi pendikte yang ulung serta
>> bersikap
>> peduli dengan orang lain hingga aku begitu larut didalamnya…Hingga dia
>> bilang kepadaku: "Teruskanlah…Teruskanlah dengan duniamu. Jangan peduli
>> perkataan orang lain. EGP aja!" Terima kasih Agnes Monicaku telah
>> mengajarkan aku tentang banyak hal. (Gini ya rasanya ditemani sama
>> penyanyi
>> beken bikin grogi dan nervous…Mimpi kalee…hahaha)*
>>
>> * *
>>
>> *Bonus Track.*
>>
>>
>>
>> Teruskanlah
>>
>> Voc: Agnes Monica
>>
>>
>>
>> *Pernahkah kau bicara*
>>
>> *Tapi tak didengar*
>>
>> *Tak dianggap*
>>
>> *Sama sekali*
>>
>> *Pernahkah kau tak salah*
>>
>> *Tapi disalahkan?*
>>
>> *Tak diberi kesempatan*
>>
>> *Kuhidup dengan siapa*
>>
>> *Tak tahu kau siapa*
>>
>> *Kau kekasihku*
>>
>> *Tapi orang lain bagiku*
>>
>> *Kau dengan dirimu saja*
>>
>> *Kau dengan duniamu saja*
>>
>> *Teuskanlah....Teruskanlah…*
>>
>> *Kau begitu….*
>>
>> *Kau tak butuh diriku*
>>
>> *Aku patung bagimu*
>>
>> *Cinta bukan*
>>
>> *Tuk kebutuhanmu.*
>>
>> * *
>>
>> *            *Reff:
>>
>> *            Kuhidup dengan siapa*
>>
>> *Tak tahu kau siapa*
>>
>> *Kau kekasihku*
>>
>> *Tapi orang lain bagiku*
>>
>> Reff:*     Kau dengan dirimu saja*
>>
>> *Kau dengan duniamu saja*
>>
>> *Teuskanlah....Teruskanlah…*
>>
>> * *
>>
>> *            *Chorus:
>>
>> *            Kau dengan dirimu saja*
>>
>> *Kau dengan duniamu saja*
>>
>> *Teuskanlah....Teruskanlah…*
>>
>> *                        Kau begitu….*
>>
>> *                        Teruskanlah…Teruskanlah…*
>>
>>
>> --
>> "Books inside you"
>> Fiyan 'Anju' Arjun
>> Anju Online Bookshop
>> Jl.Ulujami Rt.012/04 No.14 Jak- Sel
>> www.bukumurahku.multiply.com
>> fb:bujangkumbanf@yahoo.co.id <fb%3Abujangkumbanf@yahoo.co.id>
>> Tlp:(021) 7379858
>> Hp:0852-8758-0079
>>
>
>
> --
> "Ramaditya Skywalker: The Indonesian game music lover"
>
> - Eko Ramaditya Adikara
> http://www.ramaditya.com
>
>
> ------------------------------------
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
> Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih
> cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis.
> Dapatkan IE8 di sini!
> http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

--
"Ramaditya Skywalker: The Indonesian game music lover"

- Eko Ramaditya Adikara
http://www.ramaditya.com

4j.

Re: (Inspirasi) Terima Kasih Sudah Mengajarkan Aku Untuk Menjadi Dew

Posted by: "Ramaditya Skywalker" ramavgm@gmail.com

Sat Aug 8, 2009 12:27 am (PDT)



Iya, saya rasa menyanggah atau berargumen ketika ada yang mengatakan
bahwa kita bukan seorang dewasa itu syah-syah saja dilakukan, palagi
kalau hal tersebut disampaikan kepada publik dan didengar orang banyak
(perkataan tidak dewasa-red), tentunya akan membuat nama seseorang
jadi kurang enak didengar juga.

Namun, yang penting adalah bagaimana kita
menyikapi/menjawab/menyanggah hal tersebut. Harus luwes, tenang, dan
tentunya berbobot.

Lah kalo ane dikate kagak dewase di depan calon mertua ane, "Noh, si
Rama kagak dewasa sukanye maen pedang-pedangan mulu," ya mase ane diem
aje? Ya kudu dijelasin donk, kalo ntu cume sekdar hobi, kagak kurang
kagak lebih!

On 8/8/09, dayat, cendana2000 <dayat_xxx@yahoo.com> wrote:
> bisa jadi kedewasaan seseoarng akan terliahat saat dia menanggapi perkataan
> seseoarng yang menyatakan bahwa dia tidak dewasa atau childis.
> saat ada orang bilang kita tidak dewasa, mana yang lebih dewasa?
>
> - mengajukan banyak sanggahan atau alasan agar pandangan dia berubah
> sehingga mencabut tuduhanya
> - hanya diam, tenang, menanggapinya hanya dengan sebuah senyuman
> - atau kita balik serang dia dengan memaparkan wacana2 yg menyudutkan dia
> bahwa dia juga belum dewasa, atau paling tidak membuat dia merasa bahwa
> dirinya tidak berhak menvonis orang lain tidak dewasa
>
> mari kita belajar untuk lebih dewasa dalam menilai orang, dan juga mari kita
> coba untuk lebih dewasa dalam menerima kritik dan penilaian orang...
> karena dewasa itu hanya satu "benda", tapi akan berubah jadi bermacam-macam
> "benda" saat dilihat dari kaca mata yang berbeda.
>
>
> New Email addresses available on Yahoo!
> Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and
> @rocketmail.
> Hurry before someone else does!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

--
"Ramaditya Skywalker: The Indonesian game music lover"

- Eko Ramaditya Adikara
http://www.ramaditya.com

5a.

(catatan dikaki) SK Jakarta (Insya Allah) Mau Bikin Paket Bubar

Posted by: "fiyan arjun" fiyanarjun@gmail.com

Fri Aug 7, 2009 8:51 am (PDT)



SK Jakarta (Insya Allah) Mau Bikin Paket
Bubar

Senin malam pukul 19:56:19 saya coba-coba menghubungi Pak Dias melalui
ponselnya. Dan kebetulan langsung di balas oleh beliau.

*Aslm, pkbr Pak? Oya, Pak mau nggak kalo SK Jkt kita adain buka bareng di
rumah Bpk…*

* *

Dikirim

*Boleh, gampang aja kl itu sih*

* *

Diterima

*Kalo Bpk rmhnya bersedia ditempati buat Buka Bareng Puasa sy langsung
posting di millis SK. Kalo oke sy yg koordinir sm Mimin sekalian
pembentukan SK jkt.*

* *

Dikirim

* *

*Ok, silakan atur acarnya.*

Diterima

Maka jelaslah bahwa SK Jakarta mau bikin Paket Bubar.

Pasti akan bertanya-tanya: Memangnya ada SK Jakarta? Saya pun berkata
demikian. Kapan dibentuk kapan berdirinya saya juga tidak tahu. Makanya itu
saya ingin—dan sekaligus minta kerjasamanya kepada para Sahabat ESKA yang
ada di wilayah Jakarta , khususnya yang mau menyukseskan dan ikut
partisipasinya dalam pembetukan SK Jakarta nantinya. Begitu pun yang di
Bogor , Bandung dan Yogyakarta yang mau datang silakan…Ayo, datang saja….

Apa itu Paket Bubar? Paket Bubar itu akronim dari Pemilihan Ketua (SK
Jakarta) dan Buka Bareng. Dan insyaAllah akan diadakan di rumah Pak Dias
Rossano—yang ikut milad SK Bandung di Pondok Karang Tumaritis, Bandung ,
18-19 Juli 2009—dan membawa anak-anaknya yang lucu-lucu. Ingatkan? Dan ini
juga untuk mengabulkan permohonan Ketua SK —dan pernah disampaikan oleh saya
sebelum menjelang keberangkatan milad SK yang Ketiga. Beliau mengatakan
bagaimana kalau SK Jakarta dibentuk. Karena kelihatannya di Pusat
sendiri—belum terbentuk. Ya, ini sih hanya usulan saja apa boleh SK Jakarta
di bentuk dan diadakan pemilihan Ketuanya atau tidak—tapi saya sudah
menjatuhkan kepada Pak Dias untuk didaulat menjadi Ketua SK Jakarta. Tapi
ini tergantung nanti pas saat di acara Paket Bubar yang insyaAllah diadakan
pada minggu kedua bulan Ramadhan.

Maka untuk itu kami meminta bantuannya untuk membantu kelancaran
acara Paket Bubar ini. Saya minta bagi Sahabat ESKA yang ada di wilayah
Jakarta mana pun kiranya mau membantu dan ikut partisipasinya untuk acara
Paket Bubar ini. Kalau ketua SK, Kang Dahni Ardiansyah ya pastilah harus
datang nanti pas saat rapat untuk acara ini. Yang isyaAllah akan diposting
selanjutnya.

Oke, kami meminta Sdr/I Mimin, Novi, Tya, Lia Octavia, Bang
Nursalam AR, Yayan, Galih, Dikdik dan semuanya yang ada di wilayah Jakarta
maupun yang ada di Bogor dan di Bandung, Tangerang kiranya bisa membantu
dan ikut partisipasinya dalam acara Paket Bubar ini. Adapun acaranya belum
dipastikan. Nanti setelah ada rapat susulan lagi.

Pembentukan susunan acaranya adalah sbb:

1. Silaturahiim antar warga SK Jakarta dan seluruh cabang SK dimana pun
berada,

2. Pemilihan Ketau SK Jakarta . (Ini hanya usul mau dilanjutkan atau
tidak?)

3. Ada usulan lagi….? Silakan isi aja sampai nomor berapa aja….

Demikian kiranya kami menginformasikan kabar bahagia ini. Jika ada masukan
dan tambahan dengan senang kami akan menerimanya. Sukses acara ini, itu
karena Anda semua peduli dengan komunitas Sekolah Kehdupan…hehe. Terima
kasih.

Sukses selalu untuk Anda semua.

Hormat kami,

Panitia Sementara Paket Bubar 09.

PS:

Rapat perdana ketika saya sms sm Pak Dias beliau bisanya tgl, 17
Agustus 2009 pukul 16.00 WIB

Nanti saya infokan lebih lanjutkan....Saya minta bantuannya
anak-anak SK Jkt untuk mensukseskan acara ini.

Terima kasih.

--
"Books inside you"
Fiyan 'Anju' Arjun
Anju Online Bookshop
Jl.Ulujami Rt.012/04 No.14 Jak- Sel
www.bukumurahku.multiply.com
fb:bujangkumbanf@yahoo.co.id <fb%3Abujangkumbanf@yahoo.co.id>
Tlp:(021) 7379858
Hp:0852-8758-0079
5b.

(catatan dikaki) Rapat Perdana Paket Bubar  tgl, 17 Agustus 2009

Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id   bujangkumbang

Fri Aug 7, 2009 9:02 am (PDT)





--- Pada Jum, 7/8/09, fiyan arjun <fiyanarjun@gmail.com> menulis:

Dari: fiyan arjun <fiyanarjun@gmail.com>
Judul: [sekolah-kehidupan] (catatan dikaki) SK Jakarta (Insya Allah) Mau Bikin Paket Bubar
Kepada: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Tanggal: Jumat, 7 Agustus, 2009, 10:47 PM

 

 
          

          PS:

         Rapat perdana insaAllah akan dilaksanakan tgl, 17 Agustus 2009 pukul 16.00 WIB di rumah Pak Dias sesuai sy dapat kiriman smsn dari beliau...
        Nanti saya infokan lebih lanjutkan, ya? Saya minta bantuannya anak-anak SK Jkt untuk mensukseskan acara ini.
       Terima kasih.
 
     Hormat Saya,
 
    Seksi sibuk sementara Paket Bubar...

--
"Books inside you"
Fiyan 'Anju' Arjun
Anju Online Bookshop
Jl.Ulujami Rt.012/04 No.14 Jak- Sel
www.bukumurahku. multiply. com
fb:bujangkumbanf@ yahoo.co. id
Tlp:(021) 7379858
Hp:0852-8758- 0079

Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser. Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer
6.1.

Re: Trilogi Lima Bidadari - Buat Rama

Posted by: "Ramaditya Skywalker" ramavgm@gmail.com

Fri Aug 7, 2009 4:07 pm (PDT)



Dear Mbak Jenny,

Terima kasih atas komentarnya. Sangat membangun!

Saya akan memperhatikan poin-poin yang kemain sudah Mbak sampaikan.
Memang sekarang masih sistem ngebut sih, jadi apa yang terpikirkan ya
ditulis dulu. Kalau cerita sudah selesai baru di-touch up dimana-mana.

On 8/7/09, Jenny Jusuf <j3nnyjusuf@yahoo.com> wrote:
> Dear Rama,
>
> Komentar mengenai draft-mu sudah saya kirim via japri ya. Semoga
> bermanfaat.. :-)
>
>
> Regards,
>
>
> JJ
>
> ROCK Your Life! - Jenny Jusuf - http://jennyjusuf.blogspot.com
>
> --- On Thu, 8/6/09, Ramaditya Skywalker <ramavgm@gmail.com> wrote:
>
> From: Ramaditya Skywalker <ramavgm@gmail.com>
> Subject: Re: [sekolah-kehidupan] Re: Trilogi Lima Bidadari - Buat Rama
> To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
> Date: Thursday, August 6, 2009, 11:38 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Terima kasih buat masukannya, Mbak Diah. Akan sangat
> bermanfaat untuk
>
> draft yang saya buat.
>
>
>
> Untuk soal istilah memang sudah kepikiran untuk buat bibliografi,
>
> termasuk daftar jurus dan levelnya.
>
>
>
> Di dunia bidadari saya tidak terlalu fokus memberi nama pada setiap
>
> tempat, setiap senjata, dan lain-lain. Biar lebih mudah dicerna saja.
>
>
>
> Pokoknya saya terobsesi untuk nerbitin buku ini bersaama dukungan
>
> rekan-rekan dari SK, dan mohon maaf kalau posisi editor borongan yang
>
> paling bisa saya tawarkan.
>
>
>
> On 8/6/09, Diah Utami <batikmania@yahoo. com> wrote:
>
>> Luar biasa deh, 162 halaman, 1 spasi. Saya baru baca 25 halaman, dan agak
>
>> capek jadinya karena kelincahan pemaparan ceritanya (plus paragraf yang
>
>> rapat juga sih...).
>
>> Cukup banyak term yang asing buat saya, karena saya memang bukan pecandu
>
>> game. Mungkin sedikit-sedikit, dikasih penjelasan juga buat yang awam
>
>> (mungkin seperti bibliografi di bagian akhir novel, kayak di novel Laskar
>
>> Pelangi gitu kali [nyontek dikit nggak apa-apa kali ;)] supaya nggak
>
>> mengganggu jalan cerita juga sih)
>
>> Pengungkapan dunia bidadari saya rasa cukup unik ya. Ramaditya banget,
>> gitu.
>
>> Pastinya akan sangat familiar untuk yang pernah dengar mas Rama bicara.
>> Pada
>
>> saat novel ini dirilis, siapa yang belum pernah dengar kisah tentang 5
>
>> bidadari? ;)
>
>> Kalau di bagian Aurora kabur dari jangkauan perimeter Doc & Jordan
>> ternyata
>
>> dia banyak berpikir dan menganalisa, perasaannya terungkap, kenapa nggak
>
>> sejak awal juga? Sejak dia keluar dari sarkofagusnya, kasih tahu pembaca
>
>> juga dong tentang sedikit perasaan dia (yang tidak diketahui Doc maupun
>
>> Jordan, tapi kita ketahui bersama ;))
>
>> Lainnya sih, sejauh ini soal kaidah penulisan di sebagai kata depan dan
>> "di"
>
>> sebagai... apa, mbak Indar? Biasanya beliau nih yang 'cerewet' untuk
>> urusan
>
>> yang beginian. Hehe...
>
>> Sedikit mengomentari mbak Indar nih, kalo novel dikasih label "Adult
>> Only",
>
>> anak-anak remaja malah jadi penasaran pengen mbaca deh kayaknya. ;)
>
>> Saya juga penasaran nih, seliar apa sih impian seorang Ramaditya di
>> lembar2
>
>> selanjutnya? Baca lagi ah... ;)
>
>>
>
>> Salam
>
>> Diah utami
>
>>
>
>> --- In sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com, Ramaditya Skywalker
>> <ramavgm@... >
>
>> wrote:
>
>>>
>
>>> Thanks!
>
>>> Sebenarnya tujuan posting disini juga mencari orang yang bisa
>
>>> menyaring hal-hal liar itu. Karena dalam pembuatan draft ini saya
>
>>> tidak mau membatasi imajinasi saya, sebebas-bebasnya dibiarkan
>
>>> mengalir dulu. Yang penting hal-hal itu tidak mengganggu jalan cerita
>>> saat
>
>>> disensor atau disingkirkan.
>
>>> Contoh, kata "telanjang" akan saya ubah jadi "tanpa busana" dan
>
>>> hal-hal (adegan yang menjurus ke arah pornografi) juga akan
>
>>> disingkirkan. Barangkali karena penulisnya sedang "kepingin" saja,
>
>>> hehehe!
>
>>> Mungkin saya prefer editor perempuan, agar esensi yang berhubungan
>
>>> dengan kewanitaan bisa diperhatikan.
>
>>>
>
>>> On 8/6/09, patisayang <patisayang@ ...> wrote:
>
>>> > Iya Rama, aku juga sempat heran, dirimu pede banget post di word. Tapi,
>
>>> > u juga bener bahwa Lima Bidadari adalah Ramaditya. No body else. Dah
>
>>> > jadi brandmu bener.
>
>>> >
>
>>> > Aku udah baca sekitar 20 halaman. sempat tertegun. besok kalau jadi
>
>>> > diterbitin harus ada warning "ADULT ONLY!" :)
>
>>> > But asli, imajinasinya bener2 liarrr...
>
>>> >
>
>>> > salam,
>
>>> > Indar
>
>> . . .
>
>>> >> >>>> Download:
>
>>> >> >>>> http://www.fileden. com/files/ 2008/6/4/ 1945085/Ramadity
>
>>> >> >>>> a_-_Trilogi_
>
>>> >> >>>> 5_Bidadari_ b1_update_ august_2009% 20%28In%20Progre ss%29.doc
>
>>
>
>>> >> >>>> Terima kasih, dan selamat menikmati!
>
>>> >> >> - Eko Ramaditya Adikara
>
>>> >> >> http://www.ramadity a.com
>
>>
>
>>
>
>
>
> --
>
> "Ramaditya Skywalker: The Indonesian game music lover"
>
>
>
> - Eko Ramaditya Adikara
>
> http://www.ramadity a.com
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>

--
"Ramaditya Skywalker: The Indonesian game music lover"

- Eko Ramaditya Adikara
http://www.ramaditya.com

7.

(Iklan) BUKU-BUKU KHUSUS DI BULAN RAMADHAN ANJU ONLINE BOOKSHOP

Posted by: "fiyan arjun" fiyanarjun@gmail.com

Sat Aug 8, 2009 12:00 am (PDT)



*BUKU-BUKU KHUSUS DI BULAN RAMADHAN*

*ANJU ONLINE BOOKSHOP*

*Penerbit Lingkar Pena Publishing House*

*Dan*

*Penerbit Mizan*

http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=109271642907

http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=109263442907

*I. **Seri Catatat Cinta *

[image: *] *Spritual Journey of Muslimah Kumpulan Mutiara Hikmah dari
Para Aktivis sampai Artis Rp. 29.500,-*

[image: *] *Sedekah Cinta Perjuangan Seorang Ibu Melepaskan
Putranya dari Cengkeraman Leukemia dengan Terapi Sedekah Rp. 54.750,- *

[image: *] *Tuhanku Kuatkan Imanku Serpihan Nyata Para Muslimah yang
Berjuang dari Keterpurukan Rp. 34.500,-*

[image: *] *Bukti Cintaku PadaMu Tatkala Jilbab Bukan Penjara Rp.
44.500,-*

[image: *] *Doa-Doa Enteng Jodoh Karya: Taufan E. Prast Rp. 27.500,- *

[image: *] *La Tahzan For Teen Karya : Sabil el-Ma-rufie Rp. 34.500,-*

[image: *] *La Tahzan For Jomblo Karya : Asma Nadia dkk Rp. 29.000,-*

[image: *] *La Tahzan For Mothers Karya : Asma Nadia dkk Rp. 44.000,-*

[image: *] *The Real Dezperate Housewives Karya : Asma Nadia
Rp.39.500,-*

*II. **Panduan Muslimah*

* *

[image: *] *Bela Diri for Muslimah: Siapa Bilang Perempuan Makhluk
Lemah? Karya: Lia Octavia dkk (Lia Octavia, Erawati Tf, Fiyan Arjun, Astri
Taat) Rp. 26.500,-*

[image: *] *Don't Touch Me! *

*Karya: Andi Tenri Dalla dkk Rp. 29.800,-*

[image: *] *Jodoh Cinta Karya: Kinoysan Rp. 29.800,-*

[image: *] *Istikharah Cinta Karya: Kinoysan Rp. 29.800,-*

[image: *] *Doa-Doa Patah Hati Karya: Kang Yadi Rp. 24.000,-*

* *

* *

* *

*III. **Fiksi*

* *

[image: *] *Serenade Dua Cinta Karya: Ade Nastiti Rp. 48.000,-*

[image: *] *Pengantin Subuh Karya: Zelfeni Wimra Rp. 29.000,-*

[image: *] *Mengapung Bersama Nil Karya: Arif Friyadi Rp. 29.000,-*

[image: *] *Desau Angin Maastricht Karya: DH Devita Rp. 29.000,-*

[image: *] *Dalam Sujud Cinta Karya: Yunita Tri Damayanti Rp. 44.000,-*

[image: *] *MI Familia karya; Sylvia L Namira Rp. 34.500,-*

[image: *] *Katassrofa Cinta Karya: Afifaj Affra Rp. 39.500,-*

[image: *] *Bukavu Karya : Helvy Tiana Rosa Rp. 34.500,-*

*IV. **Seri Diary Dodol*

* *

[image: *] *Diary Dodol Pelajar Konyol Karya: Zulfian Prasetyo Rp.
33.000,-*

[image: *] *Diary Dodol ABG Ngocol Karya Fahdin Ardhain Rp. 29.000,-*

[image: *] *Diary Dodol Seorang Istri*

*Karya : Beby Haryanti Dewi Rp. 27.500,-*

[image: *] *Diary Dodol (lagi) Seorang Istri *

*Karya: Beby Haryanti Dewi Rp. 27.500,-*

* *

* ** V. Islam Popular*

* *

[image: *] *The Secret of Heavean Karya: Herry Nurdi Rp. 38.000,-*

[image: *] *Keadilan Ilahi Asas Pandangan Dunia Islam Rp. 58.000,-*

[image: *] *Seeking Truth Finding Islam Kisah Empat Muallaf yang
Mempejuangankan Islam di Dunia Barat Rp. 29.000,-*

[image: *] *My Islam Faith *

*Memoar Pencari Keimanan yang Humanis Rp. 52.500,-*

[image: *] *Pesan Indah dari Makkah dan Madinah 100 Kisah Seputar
Kehidupan Empat Khalifah Bijak Tentang Cinta, Persahabatan dan Jalan Menuju
Surga Rp. 54.000,-*

[image: *] *Tirulah Shalat Nabi Jangan Asal Shalat Rp. 46.500,-
*

[image: *] *Dahsyatnya Shalat Dhuha 9 Pembuka Pintu Rezeki Rp. 29.000,-
*

[image: *] *Shalat Sempurna Karya: Ustadz Baei Jaafar*

[image: *] *99 Cara Naik Haji Gratis Karya: Hasan Bisri Rp. 38.000,-*

[image: *] *Kenapa Rasulullah Tak Pernah Sakit Menuntun Anda untuk
Hidup Sehat Sepertti Rasulullah Saw Rp. 64.000,- *

[image: *] *Sebening Mata Hati Oase Penyejuk Jiwa dan Pikiran
Rp.53.000,-*

[image: *] *Dari Mana Manusia Berasal *

*Antara Sains, Bibel dan Al-Qur'an Rp. 64.500,-
*

[image: *] *To Road to Allah *

*Tahap-tahap Perjalanan Rohani Menuju Tuhan Rp. 58.000,-*

[image: *] *Kutemukan Surga-Mu dalam Islam Kumpulan Kisah Perjuangan
para Muallaf dari Berbagai Negara dalam Mencari Kedamaian Rp. 34.000,*

[image: *] *Akulah Angin Engkaulah Api Karya Jalaluddin Rumi Rp.
49.800,*

[image: *] *Doa-doa Khusus Agar Dikaruniai Momongan Rp. 38.000,-*

[image: *] *Kisah-kisah Menakjubkan dari Tanah Suci Rp. 26.500,-
*

[image: *] *Panduan Ibadah Haji Bagi Perempuan Rp. 32.500,- *

[image: *] *Zikir Menyembuhkan Kankerkun Rp. 44.000,-
*

[image: *] *Terapi Shalat Sempurna Rp. 49.000,-
*

[image: *] *Terapi Hati Karya: Hernowo Rp. 29.500,-*

[image: *] *Doa-Doa Enteng Jodoh Karya: Taufan E. Prast Rp. 27.500,- *

[image: *] *La Tahzan For Teen Karya : Sabil el-Ma-rufie Rp. 34.500,-*

[image: *] *La Tahzan For Jomblo Karya : Asma Nadia dkk Rp. 29.000,-*

[image: *] *La Tahzan For Mothers Karya : Asma Nadia dkk Rp. 44.000,-*

[image: *] *The Real Dezperate Housewives Karya : Asma Nadia
Rp.39.500,-*

* *

*VI. **Buku Pilihan *

* *

[image: *] *The Screet For Teen Mengungkap Segala Rahasia Hidup Rp.
29.500,-*

[image: *] *For Teens Mukjizat Shalat Malam Pembuka Pintu Kebahagian
dan Kesuksesan Rp. 33.500,-*

[image: *] *Mukjizat Shalat Malam for Teen Pembuka Pintu Kebahagian dan
Kesuksesan Rp. 33.500,- *

[image: *] *Kuliah Grtais di Luar Negeri Karya: Dina Mardiana Rp.
29.500,-*

[image: *] *Google Karya : Ni Ketut Susrini Rp. 39.000,-*

[image: *] *25 Kiat Menjadi Pembicara Hebat *

*Karya : Arvan Pradiansyah Rp. 22.000,-*

[image: *] *Mengubah Kepribadian Melalui Tangan *

*Karya: Wimala Rodger Rp. 37.500,-*

[image: *] *The Magic of Tea Rp. 34.000,-*

[image: *] *Berguru Kepada Kehidupan Karya: Bayu Gawtama Rp. 47.000,-*

[image: *] *Coffe of Luna's Rp. 29.500,-*

[image: *] *The Screet of Screet Rp. 48.000,-*

[image: *] *Facebook Haram? Karya :Tony Hendroyono*

[image: *] *Bukan Sekedar Presiden Karya : Anas Urabaningrum*

*VII. Novel Baru*

* *

[image: *] *Terbakar Kumandang Adzan Novel tentang Melodi Cinta dan
Rahasia di Balik Kumandang Cinta Rp. 31.000,-*

[image: *] *Negeri Van Orange Karya: Wahyuningrat dkk Rp. 40.000,-*

[image: *] *Mayan Karya: Sanie B. Kuncoro Rp. 34.500,-*

[image: *] *Street Boys Kisah 7 Anak Jalanan Karya : Tim Pritchard Rp.
64.000,-*

[image: *] *My Salwa My Palestine Rp. 74.500,-*

[image: *] *Eniwei Its Cairo Uncensord Rp. 22.000,-*

[image: *] *A Boy From Makkah Rp. 33.000,-*

[image: *] *Three Cups Tea Rp. 89.000,-*

[image: *] *Asa, Malaikat, Mungilku Rp. 58.500,-*

[image: *] *Gadis Kamelia Rp. 42.000,-*

*VII. Buku Anak *

* *

[image: *] *Bukhari Muslim for Kids Kumpulan Hadis Pilihan Rp.
24.500,-*

[image: *] *Aisyah Muslimah Yang Cerdas Rp. 20.500,-*

[image: *] *Fatimah Az-Zahra Sang Putri Rasul Rp. 20.5000,-*

[image: *] *La Tahzan For Children Rp. 21.500,-*

[image: *] *Doa Anak Kecil Kumpulan Doa Anak yang Lucu dan Tulus Rp.
25.000,- *

[image: *] *Hebatnya Rasulullah 33 Kisah Mukjizat Nabi Muhammad Saw*

* Rp. 27.500,*

[image: *] *Hebatnya Malaikat Makhluk Allah Yang Paling Mulia Rp.
27.500-*

[image: *] *Doa Anak Kecil Kumpulan Doa Anak yang Lucu dan Tulus Rp.
25.000,*

[image: *] *Kisah Seru 25 Nabi dan Rasul Rp. 59.000,-
*

[image: *] *60 Kisah Seru Sahabat Rasul Rp. 64.000,-
*

[image: *] *Cinta Nabi dan Rasul Rp. 27.500,-
*

[image: *] *Cinta Islam, Agamaku Rp. 27.500,-
*

[image: *] *Cinta Allah, Tuhanku Rp. 27.500,-
*

[image: *] *Seri Thank You Allah Rp. 11.000,-
*

[image: *] *Tragedi Behel Rp. 22.000,-*

[image: *] *The Star Girls Rp. 21.500,-*

[image: *] *Kupetik Bintang Rp. 21.500,-*

[image: *] *My Piano My Best Friend Rp. 21.500,-*

[image: *] *My Candy Rp. 21.500*

[image: *] *Petualangan Arkha Rp. 20.000,-*

[image: *] *The Winner Rp.21.500,-*

[image: *] *Mawar Raksasa 21.500,-*

[image: *] *Hantu Penculik 28.000,-*

[image: *] *Chocolate milk Rp. 21.500,-*

[image: *] *Ibuku Sayang, Muach! Rp. 21.500,-*

[image: *] *It's My Bedroom Rp.21.500,-*

[image: *] *Ketika Waktu Berhenti Rp. 19.500,-*

* *

Terima kasih Anda sudah berkenan melihat judul buku-buku beserta harga-harga
bukunya yang kami berikan dan tawarkan. Dan tidak menutup kemungkinan bila
Anda tertarik atau memesan buku yang tidak kami tampilkan Anda bisa memesan
juga dengan terlebih dahulu mengkonfirmasikan lebih dahulu kepada kami
dengan alamat dibawah ini.

Kami juga menawarkan diskon 10% bagi Anda yang memesan buku dengan harga
buku diatas Rp. 25.000,- ke atas dengan minimal memesan 2 buah buku dan akan
mendapatkan 1 buah buku inspiratif bagi yang Anda yang beruntung memesan
sekarang juga! Ongkos kirim bagi Anda yang berada Jakarta Rp. 8000. Semoga
dengan Anda membeli buku-buku dari kami hanya doa yang kami berikan semoga
rezeki Anda diberi kelancaran serta kemudahan dalam segala urusan begitu
juga kami. Salam Baca dan Salam Ukhuwah! Terima kasih.

.

* *

*UNTUK LEBIH LANJUT HUBUNGI:*

* *

*ANJU ONLINE BOOKSHOP*

*Jl. Ulujami Raya No.14 Rt.012/04*

*Ulujami-Pesanggarahan*

*Jakarta-Selatan 12250*

*Telp/HP: (021)7379858/0852.875.80079*

*Email/FB:bujangkumbang@yahoo.co.id <FB%3Abujangkumbang@yahoo.co.id>*

*www.sebuahrisalah.multiply.com*

*Alamat Rekening : An. Fiyan*

*Nama Bank : Bank Syariah Mandiri*

*No. Rekening : 0687014536*

*Cabang : 068 Capem Jkt Cipulir*

* *

* *

* *

--
"Books inside you"
Fiyan 'Anju' Arjun
Anju Online Bookshop
Jl.Ulujami Rt.012/04 No.14 Jak- Sel
www.bukumurahku.multiply.com
fb:bujangkumbanf@yahoo.co.id <fb%3Abujangkumbanf@yahoo.co.id>
Tlp:(021) 7379858
Hp:0852-8758-0079
8.

BU, FADHIYAH NYAMBEL!

Posted by: "uncle vant" qanita331@gmail.com

Sat Aug 8, 2009 12:26 am (PDT)





"Bu, Fadhiyah /nyambel/!"

Suara nyaring terdengar di udara kering siang hari ketika aku sedang
melayani Bu Sri yang membeli beberapa keperluan rumah tangga di warung
orang tuaku. Suara itu berasal dari lelaki tetangga sebelah rumah. Rumah
yang agak menjorok dari pandangan rumah kami. Penghuni rumah itu empat
orang. Pak Farhan sebagai kepala keluarga. Bu Sri, isterinya yang
sekarang sedang berbelanja. Dan dua orang anak mereka yang bernama
Adilla yang berusia lima tahun serta Fadhiyah yang baru enam bulan lalu
mengucapkan selamat tinggal kepada rahim Bu Sri.

Mendengar teriakan itu, Bu Sri yang berada di warung kami langsung
menjawab. Juga dengan berteriak, "Sebentar. Masih belum selesai."

Kemudian kepadaku, "Semuanya jadi berapa Dik?"

"Lima belas ribu kurang lima ratus, Bu," jawabku singkat.

"Ngutang dulu, ya? Boleh 'kan?" jawabnya sambil meninggalkanku yang
terbengong.

"Bu!" panggilku.

"Kenapa? Tidak boleh?" ia berbalik dengan cepat. Matanya tajam
menatapku. Kepalanya mendongak. Menantangku.

"Bukan tidak boleh."

"Lantas?"

Aku ragu mau bilang apa. Tapi….

"Mmm, Si Fadhiyah /nyambel/ ya?"

"Kata bapaknya sih begitu."

"/Nyambel/ itu apaan sih, Bu?" selidikku ingin tahu.

"Ada deh. Benar 'kan ini ngutang dulu?"

Aku mengangguk lemah. "Tapi…"

"Ya sudah. Terima kasih ya," ujarnya sambil berlalu.

"Tapi Bu…"

Dengan perasaan malas aku menuliskan utang Bu Sri di buku kucel tebal
dengan cover batik-batik itu. Aku menambahkan utang sejumlah 14.500
rupiah tadi. Dan aku cukup terkejut ketika melihat total utang Bu Sri.
Hampir mendekati angka 800.000 rupiah. Kalau lama seperti ini warung
kecil yang menjadi salah satu sandaran kehidupan kami akan segera rubuh.

Aku menarik napas panjang. Aku memandangi barang jualan kami. Dengan
sering diutangi oleh para tetangga, warung kami menjadi tidak lengkap.
Seperti mulut nenek-nenek yang giginya jarang. Kosong di sana sini. Dan
yang paling sering serta paling banyak utangnya adalah keluarga Bu Sri itu.

Aku tidak tahu sampai kapan warung kami akan bertahan. Modal kami tidak
banyak.

"Bu Sri ngutang lagi?" tanya ibuku yang keluar dari kamar mandi. Tadi
beliau sedang mencuci baju. Di dekatnya teronggok ember besar berisi
cucian yang siap dijemur.

Aku mengangguk.

"Kenapa diberi? Yang kemarin-kemarin saja belum bayar. Bisa bangkrut kita."

Aku terdiam. Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban. Seharusnya
seperti itulah. Tidak seharusnya aku membiarkannya berutang lagi.
Efeknya ke dua belah pihak. Warung kami bisa pailit. Bu Sri pun pasti
keberatan untuk melunasinya.

Lama kami terdiam. Hingga aku ingat dengan kejadian tadi.

"Bu, kalau /nyambel/ itu apaan sih?" tanyaku pada ibu yang sekarang
sedang menjemur cuciannya.

"Anak Gadis kok tidak tahu /nyambel/. Masa sih."

"Bukan tidak tahu…"

"Lantas? Kenapa yang seperti itu saja ditanyai. /Nyambel/ itu ya
/nyambel/. Seperti yang biasa kamu lakukan. Ambil terasi, tomat, cabe,
diulek di atas cobek."

"Tapi kalau si Fadhiyah /nyambel/ apakah berarti seperti itu?" tanyaku
spontan.

"Mungkin."

"Kalau menurut Wati sih tidak mungkin. Ia 'kan masih bayi. Baru enam bulan."

"Kamu bicara apa sih?"

"Ya seperti itu. Apa arti /nyambel/ itu. Apa arti Fadhiyah /nyambel /itu."

"Lantas kenapa nanyain itu?"

Aku jelaskan apa yang menjadi keherananku selama ini. Setiap kali Pak
Farhan menyebut Fadhiyah /nyambel/, Bu Sri akan berlari dengan tergesa
ke rumahnya. Hal ini bukan sekali dua kali. Tapi sering. Yang paling aku
ingat adalah ketika ia memberikan Buah Kesturi ke keluarga kami beberapa
bulan lalu. Lama ia mengobrol di rumah kami. Ia mengatakan baru pulang
kampung dari Banjarmasin. Ketika itu teriakan Pak Farhan
mengobrak-abrikkan semua yang kami obrolkan. Bu Sri pun langsung pulang
dengan tergesa.

"Tidak ditanyakan kepada Bu Sri?"

"Sudah."

"Apa Jawabannya?"

"Bu Sri hanya tersenyum."

***

Aku sedang membaca sambil tiduran ketika teriakan khas itu terdengar
kembali. Aku segera keluar rumah. Aku mendekati rumah itu. Aku
mengitarinya. Aku mengendap-ngendap. Aku menajam-najamkan telinga. Aku
ingin mendengar apa yang dikatakan oleh mereka. Aku juga mencuri-curi
pandang ke dalam rumah. Tapi tidak ada yang dapat aku lihat. Aku juga
tidak tahu posisi mereka.

Tapi tidak lama. Aku mendengar suara dari samping rumah. Tampaknya dari
kamar anaknya. Aku menuju ke sana. Aku ingin melongokkan kepala ke kamar
itu. Tapi aku urungkan. Aku takut ketahuan. Aku pun berpura-pura naik ke
atas pohon rambutan. Aku duduk di sebuah dahan yang rendah.

Di sana aku diam. Aku melirik-lirik kecil ke kamar itu. Dan aku melihat
mereka. Bu Sri datang terburu-buru dari ruang tamu. Sedang Pak Farhan
sedang duduk di ranjang tempat tergoleknya si kecil Fadhiyah.

Aku betul-betul penasaran. Aku ingin tahu apa makna dari kata /nyambel/
itu. Aku memperhatikan pembicaraan mereka.

"Kenapa tidak Bapak saja, sih!" ketus Bu Sri.

"Tanggung, Bapak barusan sedang makan."

"Taruh dulu bisa 'kan!"

"Lagi enak-enaknya, Bu."

"Selalu ibu, ibu saja."

"'Kan sudah menjadi tugas seorang isteri."

"Ya tugas isteri. Suami juga harus membantu 'kan?"

"Ya, coba Bapak bantu deh. Bantu ngeliatin he-he-he…," kekeh Pak Farhan.

"Huh ingin enaknya saja," manyun Bu Sri sambil membopong si Fadhiyah
kecil. Ia mengangkatnya. Ketika akan beranjak, tampaknya ia melihat
bayanganku di ranjang. Ia mendongak. Ia melihat ke arahku. Bu Sri
tersenyum. Ia bertanya kepadaku.

"Rambutannya berbuah?"

Aku tergagap. Aku tidak menyangka Bu Sri akan melihat dan bertanya
kepadaku.

"Eh, tidak Bu. /Ngambil/ layangan."

"Untuk Si Asep?"

Aku tersenyum.

Bu Sri berkata kepada suaminya.

"Tuh Pak. Si Wati saja yang masih anak SMP tidak membeda-bedakan mana
pekerjaan laki-laki dan perempuan. Ia bisa manjat pohon. Ia mengambilkan
layangan untuk adiknya. Masa Bapak tidak bisa membantu ibu. Kalau
giliran si Fadhiyah /nyambel/ pasti ibu yang dipanggil. Sesekali Bapak
/kek/," katanya sambil keluar dari kamar.

Aku tertegun. Aku tidak melihat apa dan bagaimana Fadhiyah yang
/nyambel/ itu. Aku hanya menyaksikan ia tiduran di tempat tidur.
Kemudian mendengar benturan ucapan dari suami isteri itu. Esensi si
Fadhiyah yang /nyambel/ itu tidak aku lihat. Aku makin penasaran. Aku
ingin segera tahu apa arti perkataan favorit Pak Farhan itu.

"Layangannya dimana, Dik?" suara bariton itu, memecahkan bangunan
lamunku. Aku kaget.

"Itu," tunjukku pada pada layangan di atasku. Tapi layangan itu tidak
akan terlihat oleh Pak Farhan. Ia sedikit berada di atas atap rumah Pak
Farhan.

"Oh, hati-hati," katanya.

"Nggak kok. Deket. Nggak perlu manjat tinggi-tinggi."

"Bukan itu. Hati-hati nanti dikerubuti jejaka bau kencur. Adik tidak
sadar ya naik pohon rambutan pake rok biru SMP-nya!" ucapnya sambil
menutupkan daun jendela kamar.

***

/ Fadhiyah nyambel. Fadhiyah nyambel. Fadhiyah nyambel. /Kata-kata itu
terus berdengung-dengung di telingaku. Ia telah mengisi otak mudaku yang
seharusnya diisi oleh pelajaran sekolah. Dan aku telah melewati puncak
titik didih yang membuatku sangat penasaran. Bukan apa-apa. Aku melihat
daya magnet yang luar biasa dari perkataan sederhana itu. Ketika Bu Sri
berbelaja di warungku, ketika bercengkerama, dimanapun. Tampaknya kata
itu sanggup mengubah apa yang dilakukan oleh Bu Sri. Ia akan langsung
berlari ke rumah.

Kata itu telah pula membuat sedikit pertengkaran diantara mereka.
Seperti yang aku saksikan dari atas pohon rambuan itu. Dan itu membuatku
takjub. Aku ingin tahu esensinya. Apa sih arti /nyambel/ itu? Apakah
seharfiah hurufnya? Ataukah mempunyai makna yang tersurat?

Ah, aku harus mencari tahu. Aku harus mendapat jawabnya. Dan untuk itu
aku akan mendekati mereka. Terutama si kecil Fadhiyah.

Maka dimulailah petualanganku.

Sejak memutuskan hal itu, sepulang sekolah aku menawarkan diri untuk
mengasuhnya. Untungnya mereka memperbolehkan. Mereka malah senang ada
yang menolong.

Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku melakukan penyelidikan.
Aku memperhatikan anak lucu dan gemuk itu. Aku lihat dengan baik-baik.
Tapi aku kecewa. Berhari-hari aku mengasuh bayi itu. Tapi tidak ada yang
berbeda ketika aku memperhatikannya. Ia biasa saja. Seperti bayi
lainnya. Lucu. Imut. Dan yang paling utama bayi itu jarang menangis.

Tapi lama kelamaan aku tersadar. Aku telah melakukan hal-hal yang tidak
perlu aku kerjakan. Aku terlalu serius menyikapi setiap masalah. Rasa
ingin tahu telah mengalahkan logikaku. Bagaimana tidak. Aku telah naik
ke pohon rambutan hanya untuk mengetahui arti kata itu. Aku sering
mencuri pandang, mengintai ke rumah itu. Dan ini tidak bisa dibiarkan.
Aku harus menghentikan penyelidikanku. Energiku harus aku habiskan untuk
hal-hal yang berguna. Tidak bisa aku seterusnya seperti ini. Menyelidiki
hal-hal yang tidak ada faedahnya. Aku harus mengekang rasa ingin tahuku.
Aku tidak boleh diperbudak oleh pikiran kritisku. Aku harus menghentikan
kegilaanku ini. Biarlah kata itu, Bu, Fadhiyah /Nyambel! /itu/, /tidak
aku temukan apa artinya.

Setelah berpikir sampai ke sana aku memutuskan untuk tidak melanjutkan
pengamatanku. Hanya yang jelas aku harus mengembalikan si kecil
Fadhiyah. Inilah terakhir kalinya aku mengasuh bayi itu.

Hari telah senja. Sebentar lagi maghrib. Aku menuju ke rumah Pak Farhan.
Aku mengetuk pintunya. Tidak lama pintu itu terbuka. Pak Farhan berdiri
di ambang pintu. Ia menerima anak keduanya itu. Ia mengucapkan terima
kasih kepadaku karena telah mau mengasuhkan anaknya. Ia mengajakku
masuk. Aku menggeleng. Aku beranjak. Ia menutup pintu. Aku terdiam
sejenak. Hampir satu bulan ini aku telah melakukan hal-hal yang aneh.
Aku telah melupakan tugas belajarku hanya untuk mengetahui arti kata
itu. Banyak yang telah aku korbankan. Dan sekarang aku harus
melupakannya. Aku telah gagal.

Aku beringsut dari teras rumah itu. Hanya lima langkah aku berjalan,
teriakan nyaring nan khas Pak Farhan terdengar, "Bu, Fadhiyah nyambel!"

Aku tersentak. Aku ingin mendobrak pintu itu. Aku ingin menerobos masuk
ke dalam rumah. Aku hendak berbalik.

Tapi…, Ah, EGP! teriakku dalam hati.

[Ditulis ketika aku sering mendengar teriakan tetangga sebelah rumah,
"Bu, Fadhiyah nyambel!"…]

9.

Nado

Posted by: "dudesaito" ldkfoskomi99@gmail.com   ldk_foskomi99

Sat Aug 8, 2009 12:27 am (PDT)



Sebenarnya apa sih keinginan terbesar lo Do?
Ha,ha.ha.
Sebuah pertanyaan konyol yang seharusnya tidak boleh aku lontarkan ke
Nado.
Dia diam setelah aku bertanya tapi aku juga tidak mencoba untuk
menarik kembali pertanyaan itu.
Aku mencoba untuk tidak tampak seperti orang bersalah.
Tapi nado tahu aku seperti orang salah mengucapkan sesuatu.

Bro. …!
Dengan sedikit senyuman dia mencoba untuk menengangkan aku
Lo tahu apa yang sedang gue alami , lo tahu gw banyak sekali keterbatasan.
Jika lo tannya apa yang menjadi keinginan terbesar gw …
Gw takut untuk menjawabnya bro…
Gw takut keinginan gue tidak bisa terkabul.

Ada perasaan bersalah dalam diri karena aku sudah melontarkan
pertanyaan yang seharusnya tidak boleh aku ajukan.

Gue mau lihat orang –orang yang sayang sama gue bahagia bro. gue mau
lihat orang-orang sayang sama gue tidak lagi pusing karena gue bro.
gue mau orang –orang yang sayang sama gue bahagia. Setelah itu gue
rela mati. Setelah itu gue rela malaikat cabut nyawa gue. Cuma itu bro
keinginan gw sekarang.

*
Ini adalah rumah sakit ke dua yang aku datangi , kebetulan rumah sakit
sebelumnya tidak memiliki fasilitas yang lengkap, sehingga aku dirujuk
untuk datang ke rumah sakit ini..
Setelah mengurus semua administrasi aku mengantri untuk dapat di
periksa. Dokter special bedah.
Aku dirujuk oleh oleh rumah sakit sebelumnya kerumah sakit ini, karena
rumah sakit ini lengkap fasilitas nya dan memiliki dokter specialis.
Hampir satu jam aku mengantri untuk dapat diperiksa. Semua orang yang
ada diruang antri ini jika aku boleh berkata jujur. Aku tak sanggup
untuk melihat nya, bahkan aku merasa jijik dengan mereka . tapi aku
tidak bisa lari dari apa yang sudah menimpa ku kini ,aku sudah menjadi
bagian dari mereka sekarang. Dan pada saat nya tiba nanti aku pun akan
merasakan sama sepeerti apa yang mereka alami.
*
Kembali kudapatkan berita yang sangat membuat hati ini terguncang.
Jika tidak berfikir aku sudah berumur maka akan kuluap kan segala
perasaanku dengan tangisan. Tapi ini tidak bisa. Aku hanya bisa
memendamkan perasaan ku.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan nado. Seorang pasien di rumah sakit
ini. Sebuah pertemuan yang sebenar yang membuat sebuah perubahan dalam
hatiku
Aku menangis di mushalla. Dan nado merangkulku dari belakang..
Aku yang kaget karena tiba tiba ada seseorang yang tidak aku kenal
merangkulku. Sambil berkata
Sabar
Sabar
Sabar
Inilah awal perkenalanku dengan nado.
Seorang pasien yang divonis terkena penyakit kangker otak.
Nado tidak banyak bercerita tetang penyakitnya, karena dia sering
merasa pusing jika sudah banyak berfikir atau meluapkan emosinya.
Pernah satu kali saat aku check up. Dan ingin menemui nado di
kamarnya.akan tetapi nado sedang mendapatkan perawatan khusus karena
dia ditemukan pingsan di toilet. Kurang lebih 3 hari nado tidak
bangun. Dan selama itu aku berusaha untuk terus mencari tahu kabar
dari nado
Aku tidak dekat dengan orang tua nado.karana nado tidak pernah
mengenalkan mereka dengan ku.
*
Dokter mengijinkan nado untuk bisa berjalan jalan di area rumah sakit
ini. Kebetulan pada hari itu aku juga ada jadual dengan dokter.
Jadilah setelah konsultasi aku menyempatkan untuk bisa bertemu dengan
nado.

Jadi itu keinginan lo do.
Iya bro. gue kasihan lihat orang tua gw yang terus terusan sedih lihat
konsidsi gw.
Gue sayang sama mereka .gw pengen banget lihat kedua orang tua gw bahagia.
Gw pengen banget lihat mereka senyum lagi. Sejak gw terkena penyakit
ini. Yang gw lihat orang tua hanya kesedihan.
Gw memang gak pernah lihat ibu menangis langsung didepan gw. Tapi saat
malam – malam ibu menangis ketika shalat tahajud.
Gw gak than bro lihat tangisan ibu gw
Makanya sebisa mungkin gw gak pernah nunjukin kalau sebenarnya gw
kesakitan. Kalo tiba-tiba kepala gw sakit banget dan ibu gw ada
disebelah gw. Gue coba untuk tahan
Tapi sumpah bro…
Sakit yang gue rasa itu sakit banget..
Pernah gw mau bunuh diri aja karena gak tahan
Tapi gue sadar itu bukan solusi.
Bapak gue paling sering semangatin gue. Paling sering ceritaain
tentang nabi ayub yang mengalami sakit.
Gue disuruh semangat bro

Lo sendiri gimana dengan penyakit lo?
Aku termangu dengan semua yang diucapkam oleh nado . air mata ini
sebenar nya ingin jatuh , dan perasaan sesak didada.

Kata dokter gw harus operasi bro.
Tapi lo tahukan operasi itu biayanya gak kecil. Dan resiko nya besar.
Keluarga gw gak mau kalau gw harus di operasi. Mereka mau bawa gw
untuk beobat alternative

Yah …
Moga aja lo masih ada kesempatan sembuh ya bro… kata nado.

Lo mau bantuin gw gak bro?
Bantuin apa do. Selama gue bisa Bantu lo gue pasti Bantu lo.

Gw mau kerjain dokter dan suster yang ada disini bro.

Apa………..?

Ngerjain

Kulihat tawa dibibir nado
Iya nih. Selama ini gw salalu dikerjaain sama mereka . gw disuntik,
gue disuruh minum obat, gw dilarang ini, dilarang itu. Hah banyak deh…

Terus lo mau gue ngapain..

*

Dokter… suster. Tolong,
Aku mencoba untuk berteriak meminta tolong kepada semua orang yang ada
diarea rumah sakit ini. Kehneingan pun berubah menjadi
Kepanikan.Beberapa suster menghampiri ku.

Ada apa mas? Ini kenapa ?

Suster tolong teman saya suster , dia tiba-tiba pingsan. Padahal tadi
dia biasa-biasa aja suster.

Ini bukannya nado. Pasien kangker otak itu kata salah seorang perawat
yang mengenali nado.
Ih sudah berapakali di bilangin jangan suka kelayapan.masih aja.

Nado segera dibawa menggunakn tempat tidur dorong oleh beberapa
perawat. Dan keramaian ini pun kembali hening.
Saya tersenyum ketika saya melihat tangan nado dan dia memberikan tanda V

Kita berhasil Do ^_^v

Ide gila yang awalnya aku tidak setuju. karena ide ini konyol dan bisa
menyusahkan semua orang. Nado berpura-pura pingsan dan aku diugaskan
untuk memberi tahu suster.
He.he.he.he.

Saya berjalan menuju kamar nado,karena nado bilang saat dia sudah
ketemu dokter dia akan langsung bangun.dan pasti dia langsung dibawa
kekamar nya.

Aku bisa membayangkan bagaimana kesalnya suster yang membawa nado.

Sesampainya di kamar nado. Saya melihat ibu nado sedang menangis.
Lo kok ibu nado juga ikut-ikutan kena tipuan kami yah.

Saya masih berfikir ini semua masih dalam permainan kami.sampai saya
melihat sebuah kereta dorong keluar dari kamar nado melewati saya .

*
Ibu tahu kamu adalah teman terdekat nado disaaat akhirnya.
Nado banyak bercerita tentang kamu ke ibu. Tentang penyakit kamu dan
lain-lainya yang nado tahu dari kamu.
Ibu berterima kasih kekamu karena kamu mau menjadi teman nya.
Karena kamu, nado sering ibu lihat tersenym sendiri, disaat ibu Tanya,
nado bilang,kamu habis menceriakan yang lucu-lucu ke dia.

Nado menitipkan surat kekamu dan ibu baru boleh memberikan surat ini
jika nado sudah tidak ada.

**

Bro terima kasih yah

Kita sukses ngerjain mereka

**

Do itu bukan permainan do.

Moga lo disana bisa kembali tertawa lepas , terbebas dari penyakit lo.
Do..
Lo lihat yah
Gw pasti sembuh
Semangat yang lo ajarin ke gw sekarang masih membara didada gw
Selamat jalan do

Tangerang 21 Mei 2009

10.

KANTOR PARTAI

Posted by: "uncle vant" qanita331@gmail.com

Sat Aug 8, 2009 12:27 am (PDT)





Gedung bertingkat dua itu begitu menyeramkam. Cat luarnya banyak yang
terkelupas. Dipadu dengan tulisan-tulisan tak berseni dan tidak
beraturan. Beberapa kaca jendelanya hilang entah kemana. Tidak hanya
kaca jendela, bahkan kusen pun telah raib dimakan rayap.

Tidak itu saja. Ilalang dan rumput liar memenuhi halaman depan gedung
yang tidak cukup luas itu. Suasana makin tidak menyenangkan karena tidak
adanya lampu penerangan. Gelap selalu menyergap ketika malam kalap.

Kata Umi dan Abi rumah itu dulunya adalah rumah seorang janda kaya yang
tidak mempunyai ahli waris. Dan sekarang katanya, rumah itu menjadi
milik pemerintah. Aku hanya terdiam ketika mendengar perkataan orang
tuaku. Karena memang aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh beliau.
Maklum umurku baru menginjak angka 9. Aku pun baru duduk di kelas tiga SD.

Kalau ingin ke mana-mana, kami harus melalui rumah itu. Karena jalan di
depan rumah itulah satu-satunya jalan terdekat yang membawa kami ke
jalan raya. Dan itu selalu membuatku takut. Tapi untunglah orang tuaku
selalu mengantarkanku sampai ke ujung gang. Sambil mengantarku, beliau
selalu memberi petuah, bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan karena ada
Sang Maha. Ia yang menjadi pelindung. Ia yang mengawasi apa yang terjadi
di dunia ini.

Suatu hari, sepulang sekolah, aku melihat beberapa orang berpakaian
hitam-hitam berada di rumah tua itu. Mereka membersihkan rumah itu
dengan alat yang mereka punyai. Ada yang membabat ilalang. Ada yang
mengecat tembok. Memperbaiki eternit. Hingga memasang lampu penerangan.
Hal itu membuatku heran. Aku tanyakan pada Umi ketika sampai di rumah.

"Rumah itu kenapa?"

"Rumah yang …" Ummi tidak melanjutkan ucapannya. Kulit keningnya
mengkerut. Seperti kulit jeruk purut yang kisut. Keriput. Beliau seperti
mengingat sesuatu.

"Rumah janda itu!"

"Oh, mau dijadikan kantor partai," jawabnya singkat.

"Partai?" Aku tidak mengerti. Bukankah janda itu tidak punya anak, ahli
waris? Apakah partai itu keluarga dari janda itu?

Aku tidak lama memikirkan hal itu karena Umi langsung menyuruhku untuk
shalat Dzuhur.

Setelah diperbaiki, rumah itu menjadi lebih asri. Bahkan banyak orang
keluar masuk dari rumah itu. Kendaraan roda empat dan roda dua kelihatan
terparkir di depannya. Tidak itu saja, umbul-umbul dan bendera segala
ukuran terpasang dengan meriah.

Suasana seperti itu membuatku tidak takut lagi kalau lewat di depan
rumah itu. Baik itu ketika pulang atau akan mengaji ketika malam. Atau
ketika akan berangkat ke mesjid waktu Subuh. Sekarang aku tidak perlu
lagi diantar oleh orang tuaku.

Suatu hari, aku bertanya kepada Ummi apa yang dinamakan partai itu.
Beliau kelihatan bingung. Beliau termenung. Setelah lama berpikir,
beliau menjawab, "Partai itu organisasi yang mengurusi masalah rakyat.
Ya, seperti itulah."

Aku merenung. Giliran aku yang bingung. Aku terdiam.

"Kalau organisasi itu apa?"

Beliau diam. Giliran beliau merenung. Beliau tidak menjawab.

Cukup menyesal aku bertanya seperti itu kepada beliau. Sudah berulang
kali aku bertanya dan beliau tidak bisa menjawab. Bukan kali ini saja.

Aku berlalu. Aku tidak ingin menyiksa Ummi dengan keingintahuanku yang
sangat besar. Nanti aku tanyakan pada bapak guru, ujarku dalam hati.

Dengan sedikit jawaban dari Umi, aku berharap banyak dengan kondisi
kehidupan kami. Aku yakin kehidupan kami akan menjadi lebih baik karena
ada yang mengurusi. Bukankah kami adalah rakyat? Bukankah rumah kami
tidak terlalu jauh dari kantornya? Berarti kami yang pertama kali akan
diurus oleh partai itu. Buku sekolahku yang tidak lengkap. Uang
sekolahku yang sering nunggak. Hingga pekerjaan Abi yang hanya seorang
pemulung sampah.

Itulah harapanku yang berdasar atas jawaban dari Ummi.

Tapi harapan itu tidak pernah berbuah. Kehidupan kami begitu-begitu saja
meski rumah kami dengan kantor partai itu sangat dekat. Aku tetap anak
seorang pemulung yang selalu nunggak membayar uang sekolah. Aku tetap
seorang murid yang tidak mampu membeli buku-buku pelajaran. Semuanya
tidak ada yang berubah kecuali suasana malam yang kini tidak terlalu
menakutkan. Karena selalu ada kegiatan di kantor partai itu.

Dan kemeriahan itu makin menjadi ketika mendekati pemilu. Itulah yang
dikatakan oleh Ummi. Aku tidak tahu apa itu pemilu. Jawaban yang
diberikan oleh Ummi adalah memilih wakil rakyat. Wakil rakyat apa?
Entahlah, Ummi tidak menjelaskan lebih lanjut. Kembali aku tidak
mengerti. Dalam hati aku hanya bergumam, nanti akan aku tanyakan pada
wali kelasku.

Yang jelas rumah itu makin bersolek. Banyak bendera dipasang di
depannya. Umbul-umbul, hingga lampu hias segala. Beberapa kain yang
berisi wajah-wajah yang tidak pernah aku kenal berkibar ditiup angin.

Tidak berhenti sampai disana. Di sebuah keriaan yang panjang yang
dinamakan dengan kampanye, banyak truk-truk yang parkir di depan rumah
itu. Tidak itu saja, partai yang kata ibu mengurusi rakyat itu
benar-benar menjalankan fungsinya. Mereka memberikan uang kepada kami
untuk ikut ke dalam truk-truk itu. Kami dibawa ke lapangan. Kami
berteriak-teriak, berjoget dangdut, hingga mendengarkan seseorang yang
berteriak di depan mikropon. Persis bapak kepala sekolah ketika upacara
bendera. Kami pun manut saja ketika ia berteriak hidup. Kami
menyambutnya dengan teriakan hidup. Ia mengacungkan jari tangannya. Kami
pun mengikuti.

Dan perjalanan memakai truk itu tidak terjadi satu atau dua kali. Tapi
berkali-kali. Tidak hanya satu lapangan tapi ke berbagai tempat. Dan
selama itu pula kami subur. Ummi dan Abi tidak perlu bekerja mencari
kantong kresek atau kardus bekas lagi. Kami selalu diberi uang oleh
salah seorang dari mereka yang menyuruh kami untuk ikut naik ke truk itu.

"Lebih besar dari pendapatan kita sebagai pengumpul barang bekas," ucap Abi.

Aku senang sekali ketika Abi mengatakan hal itu. Tapi itu tidak lama.
Keriaan dalam truk itu segera hilang. Lenyap. Tak berbekas. Kami tidak
pernah diajak lagi berkeliling kota. Mengunjungi satu lapangan dan
lapangan lainnya. Dan tidak ada pula yang memberi kami uang.

Tiga hari setelah itu, secuil hari diumpil kepada kami. Anak-anak
sekolah diliburkan. Kantor desa tutup. Warga kampung berbondong-bondong
menuju ke sebuah tempat di samping masjid. Orang-orang mendaftar diri.
Menunggu sebentar. Dipanggil. Diberikan secarik kertas. Masuk ke sebuah
bilik. Memasukkan kertas itu ke sebuah kotak. Hingga mencelupkan jari ke
sebuah tinta.

Setelah itu selesai. Sebagian pulang. Sebagian lagi masih berada di
sana. Termasuk aku yang ingin tahu apa yang sedang terjadi dengan hari
yang tampaknya istimewa itu.

Lama aku di sana. Hingga siang. Hingga kotak-kotak itu dibongkar. Isinya
di keluarkan. Dan kertas-kertas itu dihitung. Sebagian bersorak.
Sebagian menarik napas lega. Sebagian bermuka masam.

Itulah yang terjadi hari itu. Hanya sayang aku tidak mengikutinya sampai
selesai. Ummi menyuruhku pulang untuk mandi.

Sejak hari itu keriangan di depan rumah partai itu makin redup.
Umbul-umbul telah lama diturunkan. Bendera-bendera sudah tidak pada
tempatnya. Hanya beberapa orang yang selalu ada di sana. Mereka tidak
sebanyak dulu. Tidak semeriah dulu. Hanya satu dua orang yang masih suka
berkeliaran. Bahkan lama-kelamaan mereka menghilang.

Dan aku kembali takut untuk melintas di depan rumah itu kalau malam. Aku
benar-benar harus diantar jemput oleh kedua orang tuaku. Rumah itu
kembali menyeramkan. Gelap. Kosong. Tidak pernah ada orang yang
beraktivitas kembali di rumah itu. Tidak ada kehidupan. Iseng aku
tanyakan hal itu kepada Ummi.

"Calegnya masuk rumah sakit jiwa. Kalah dalam pemilu," ucap beliau singkat.

Caleg? Kembali aku tidak mengerti.

Ah, nantilah aku tanyakan pada guruku hewan jenis apa caleg itu.

[Ditulis setelah melihat besarnya biaya kampanye satu partai besar. Dua
belas digit! Kalau dihitung keseluruhan partai mungkin trilyunan rupiah…]

Recent Activity
Visit Your Group
Drive Traffic

Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Yahoo! Groups

Mom Power

Community just for Moms

Join the discussion

Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web

Tidak ada komentar: