Berbagai Pertanyaan di Pengujung Ramadhan
Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham
Kualitas amaliah kita kepada Allah SWT tidak diukur melalui jumlah,
kuantitas, berat, dan ringannya ibadah. Akan tetapi, diukur oleh jiwa
yang ikhlas. Keikhlasan itu hanya muncul dari jiwa yang zuhud, hati
yang tidak dipenuhi oleh hasrat, kecuali hanya kepada Allah. Karena
itu, walaupun kecil, sedikit, dan barangkali sepele, jika amaliah itu
muncul dari jiwa yang zuhud, nilainya justru besar dan banyak.
Sebaliknya, jika amaliah itu dihitung dengan kuantitas, bahkan
dilakukan oleh ribuan orang, tapi keikhlasan dan kezuhudan tidak
tertanam dalam hatinya, sebanyak apa pun amaliah itu tetap dinilai
kecil. Bagi seorang zahid, amaliah adalah sesuatu yang muncul dari
jiwa yang kosong dan dari kepentingan nafsu duniawi. Karena itu, "Dua
rakaat dari seorang alim yang zahid itu lebih dicintai oleh Allah
daripada ibadah orang yang beribadah, tapi penuh ambisi duniawi,"
terang Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan melalui Ibnu Mas'ud
RA.
Dengan demikian, ukuran kualitas amal kita terletak dari keikhlasan
dan kezuhudan meraih ridha Allah SWT dan surga-Nya. Nah, Ramadhan
sebenarnya datang untuk meletakkan pemahaman kita dalam 'halte' ini.
Kita berpuasa lalu berbuka. Kita tegakkan yang wajib, bahkan ditambah
dengan yang sunah, tangan kita terbuka dan membentang sedekah, yang
semua itu harus dikendarai dengan penuh keikhlasan dan kezuhudan
sehingga akan mudah sampai pada terminal ridha dan surga-Nya.
Kini, secara perlahan, Ramadhan yang agung akan meninggalkan kita.
Tinggal menghitung hari, kita akan menyelesaikan ibadah puasa dan
setelah itu berlebaran. Lantas muncul pertanyaan, apa yang telah kita
dapat selama bulan penuh rahmat dan ampunan ini? Apakah ada sesuatu
yang baru dapat kita petik dari hikmah puasa yang bakal kita terapkan
dalam kehidupan kita setelah Ramadhan? Apakah puasa kita kali ini
tidak jauh beda dengan puasa-puasa sebelumnya?
Berbagai pertanyaan itu patut kita sampaikan dalam rangka merenungkan
kembali apa yang telah kita lakukan selama menjalankan ibadah
Ramadhan. Banyak yang mengatakan, kecenderungan kita lebih banyak
melaksanakan ibadah puasa sebagai ritual rutin karena bulan Ramadhan
akan selalu ditemui setiap tahun. Banyak orang berpuasa karena memang
waktunya berpuasa. Kita berpuasa malah karena kebanyakan orang
berpuasa. Artinya, puasa tidak lebih karena mengikuti tradisi.
Tentu saja kita semua tidak mau dituduh berpuasa karena mengikuti
tradisi. Bagaimanapun, ada juga dalih bahwa kita berpuasa karena
benar-benar mau mengikuti ajaran agama. Ada yang ingin kita kejar
yaitu kesucian diri dan kemenangan. Ada yang ingin kita incar, yaitu
menjadi manusia ikhlas, zuhud, dan istikamah dalam merangkai
ketakwaan. Dalam takwa, ada keseriusan dan ketaatan. Berarti Ramadhan
menempa kita untuk menjadi manusia yang serius dalam ketaatan
kepada-Nya. Dengan demikian, kesucian diri itu akan kita dapatkan dan
kemenangan pun bisa kita raih, yaitu kembali kepada kesucian dan
meraih kemenangan di hari yang fitri.
Red: irf
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/09/03/133336-berbagai-pertanyaan-di-penghujung-ramadhan
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar