Minggu, 05 September 2010

[daarut-tauhiid] Cermin Kedermawanan Abu Bakar Ashidiq

 

Cermin Kedermawanan Abu Bakar Ashidiq

Oleh Prof Nanat Fatah Nasir

Suatu hari, Khalifah Abu Bakar hendak berangkat berdagang. Di tengah
jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khathab. "Mau berangkat ke mana
engkau, wahai Abu Bakar?" tanya Umar. "Seperti biasa, aku mau
berdagang ke pasar," jawab sang khalifah.

Umar kaget mendengar jawaban itu, lalu berkata, "Engkau sekarang sudah
menjadi khalifah, karena itu berhentilah berdagang dan konsentrasilah
mengurus kekhalifahan." Abu Bakar lalu bertanya, "Jika tak berdagang,
bagaimana aku harus menafkahi anak dan istriku?" Lalu Umar mengajak
Abu Bakar untuk menemui Abu Ubaidah. Kemudian, ditetapkanlah oleh Abu
Ubaidah gaji untuk khalifah Abu Bakar yang diambil dari baitul mal.

Pada suatu hari, istri Abu Bakar meminta uang untuk membeli manisan.
"Wahai istriku, aku tak punya uang," kata Abu Bakar. Istrinya lalu
mengusulkan untuk menyisihkan uang gaji dari baitul mal untuk membeli
manisan. Abu Bakar pun menyetujuinya.

Setelah beberapa lama, uang untuk membeli manisan pun terkumpul.
"Wahai Abu Bakar belikan manisan dan ini uangnya," ungkap sang istri
memohon. Betapa kagetnya Abu Bakar melihat uang yang disisihkan
istrinya untuk membeli manisan. "Wahai istriku, uang ini ternyata
cukup banyak. Aku akan serahkan uang ini ke baitul mal, dan mulai
besok kita usulkan agar gaji khalifah supaya dikurangi sebesar jumlah
uang manisan yang dikumpulkan setiap hari, karena kita telah menerima
gaji melebihi kecukupan sehari-hari," tutur Abu Bakar.

Sebelum wafat, Abu Bakar berwasiat kepada putrinya Aisyah.
"Kembalikanlah barang-barang keperluanku yang telah diterima dari
baitul mal kepada khalifah penggantiku. Sebenarnya aku tidak mau
menerima gaji dari baitul mal, tetapi karena Umar memaksa aku supaya
berhenti berdagang dan berkonsentrasi mengurus kekhalifahan," ujarnya
berwasiat.

Abu Bakar juga meminta agar kebun yang dimilikinya diserahkan kepada
khalifah penggantinya. "Itu sebagai pengganti uang yang telah aku
terima dari baitul mal," kata Abu Bakar. Setelah ayahnya wafat, Aisyah
menyuruh orang untuk menyampaikan wasiat ayahnya kepada Umar. Umar pun
berkata, "Semoga Allah SWT merahmati ayahmu."

Kisah yang tertulis kitab fadhailul 'amal itu sarat akan makna dan
pesan. Di bulan Ramadhan ini, kita dapat mengambil pelajaran dari
sikap dan keteladanan Abu Bakar yang tidak rakus terhadap harta
kekayaan. Meski ia adalah seorang khalifah, namun tetap memilih hidup
sederhana demi menjaga amanah.

Inilah sikap keteladanan dari seorang pemimpin sejati yang perlu
ditiru oleh para pemimpin bangsa kita. Perilaku pemimpin, memiliki
pengaruh yang besar bagi kehidupan masyarakat. Terlebih, bangsa
Indonesia memiliki karakteristik masyarakat yang paternalistik yang
rakyatnya berorientasi ke atas.

Apa yang dilakukan pemimpin akan ditiru oleh rakyatnya, baik perilaku
yang baik maupun yang buruk. Dengan spirit Ramadhan, maka hendaknya
para pemimpin memberi teladan untuk hidup secara wajar agar tidak
menimbulkan kecemburuan sosial. Wallahu 'alam.

Red: irf

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/09/01/133054-cermin-kedermawanan-abu-bakar-ashidiq

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: