Assalamu'alaikum wr. wb.,
Dari milis buletin dakwah, semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum wr. wb.,
Andri
---article begins---
Agama
Edisi 333 - Jumat, 30 Januari 2009
Perjalanan panjang negeri ini telah memberi bukti, alangkah bahagia
segenap penghuninya, selama roh agama menjiwai sikap kebangsaan
kita. Sebagai penganut-penganut agama yang teguh, pengabdian kita
kepada tanah air tidak bermotivasi material semata, melainkan lebih
bertujuan mencari ridha Allah. Agama, antara lain lewat perintah
puasa, memperkuat pribadi untuk hidup dalam serba keseimbangan,
antara kepentingan jasmani dan rohani, antara kepentingan duniawi dan
ukhrawi.
Asas itu yang membuat manusia mampu menatap dunia tidak pada
permukaannya saja, menatapi hidup tidak pada keindahannya belaka,
tapi juga pada tanggung jawab dan amanatnya. Seperti tatkala Umar bin
Khattab berpidato pada upacara pelantikannya selaku
khalifah, ''Ibarat domba, nasib rakyat tergantung bagaimana
penggembalanya. Karena itu, sesudah aku kalian percayai menjadi
pemimpin, dukunglah aku apabila aku berada di jalan yang benar, dan
luruskanlah aku andaikata aku telah menyimpang.'
Maka sewaktu sejumlah sahabat di bawah pimpinan Usman bin Affan
bersepakat hendak menaikkan gajinya, dengan berang Umar
berkata, ''Apakah sudah tidak ada rakyat yang hidupnya lebih miskin
dari aku? Tidak ingatkah kamu, ketika Rasulullah mengikat perutnya
karena menahan rasa lapar, kita tawari beliau makanan lezat, dengan
keras ditolaknya seraya berkata, 'di mana akan kuletakkan mukaku di
hadapan Allah, kalau aku sebagai pemimpin justru membikin berat orang-
orang yang kupimpin?' Jadi, tidak bolehkah aku mengikuti jalan
Rasulullah sebagai pengabdi rakyat?''
Para sahabat tertunduk. Dalam pikiran mereka bergaung sabda
Rasulullah SAW, ''Seandainya para pemimpinmu adalah orang-orang yang
paling baik di antaramu, para hartawanmu adalah orang-orang yang
paling dermawan di antaramu, segala urusanmu selalu diselesaikan
dengan musyawarah di antara sesamamu, hidup di muka bumi jauh lebih
menyenangkan ketimbang berkalang tanah.''
Guna membina sifat-sifat seperti itulah ibadah puasa disyariatkan,
yaitu sifat-sifat yang mencerminkan ketakwaan. Jika berlawanan dengan
sifat-sifat itu, bumi akan binasa oleh berbagai perbuatan yang tidak
bertanggungjawab. Sebagaimana diingatkan Allah lewat surah an-Nahl,
ayat 112, ''Allah memberikan contoh suatu negeri di masa silam, yang
tadinya aman tenteram, rezekinya melimpah ruah dari segala penjuru,
tetapi kemudian kufur kepada nikmat Allah sehingga dibelit selubung
kelaparan dan ketakutan, sebagai balasan terhadap keingkaran
mereka.''- ah
Sumber: Republika - Jumat, 30 Januari 2009
---article ends---
.
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar