Selasa, 10 Februari 2009

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2517

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (13 Messages)

Messages

1.

Re: [catcil] Lupa => mas aries

Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com   octavialia

Mon Feb 9, 2009 8:46 pm (PST)

waaah aku mah kayaknya juga ngga bisa mencatat semua nama2 temen2ku waktu
sd, smp, sma, kuliah, dan beribu-ribu teman2 dan kenalan yang bertebaran di
mana-mana...bahkan membaca namanya pun kadang-kadang masih juga lupa dan
bertanya "kenal dimana ya?"
apalagi kalau jarang berinteraksi atau berhubungan lagi... aku juga ngga
tahu kiatnya gimana.. kayaknya itulah gunanya Allah membuat kita lupa. kalau
ngga, aku ga kebayang deh penuhnya hardisk otakku ^_^

lupa bawa tas sekolah? hehehehe balik ke rumah lagi dong, mas? ^_^
dulu aku pernah lupa hari. kupikir hari itu sekolah, ngga tahunya hari
minggu hehehehe ^_^

nice story, mas aries...
thanks for sharing ^_^

salam
lia

2009/1/29 aris El Durra <apri_eldurra@yahoo.com>

> Iya mbak Lia.. Kok sama dengan saya nich...
>
> saya justru ingin masukan dari teman-teman tentang lupanya saya
> terhadap sebuah "Nama".
> Seperti yang mbak Lia alami, terkadang justru kelupaan saya lebih
> parah coz dia teman dekat kita. tapi kita lupa namanya.
> Yang pernah saya lakukan atasinya adalah dengan (pertama) teknik
> asosiasi (Tapi terkadang malas juga mikirin asosiasiny-so gak begitu
> jalan), terus langkah (kedua) aku bikin sebuah buku berisi nama-nama
> teman plus sesuatu yang bisa mengingatkan saya example : mbak Lia
> pengingatnya yang anaknya pendiam, kalem, berkacata mata, pernah
> ngantuk di kelas wkt pelajaran Kimia di kelas (misalnya itu ). dan
> yang teknik kedua ini saya lakukan sampai sekarang but kelemahannya
> aku ingatnya kalau pas buka buku catetannya, kelebihannya detail
> sekali ketika habis baca bisa ingat polah dan tingkah serta facenya
> dan keunikannya. Sampai sekarang bukunya masih ada tuch dan dah
> banyak daftr teman-teman yang saya catat. Bayangkan saya harus catat
> seluruh teman sekantor (RS), teman SMU, mahad, SMP, SD, pasien, teman
> kumpul di masyarakat, dstnya. Nach ini dia kelemahannya teknik ini,
> terlalu banyak file yang perlu di catat dan terkadang atau lebih
> sering saya malas tuk nulisnya...
>
> ADAKAH pengalaman dari teman-teman yang lain tuk atasi seperti
> ini ??..
> sebenarnya penyakit lupaku sich bisa di bilang cukup parah, aku
> bahkan dulu waktu SMA pernah sampai parkiran di SMA Lupa... LUPA BAWA
> TAS Sekolah... Tapi saya paling gak enak dan merasa bersalah kalau
> lupa dengan "nama"..So Ada solusi lain gak ??...
>
> goresancinta.multiply.com
>
>
>
2.

Re: [catcil] Lupa => mbak rini

Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com   octavialia

Mon Feb 9, 2009 8:52 pm (PST)

wow seru juga ya pengalaman mbak rini... kadang ngga enak ya,mbak, kalau
udah ngobrol dan haha-hihi tahu-tahu ngga tahu siapa orgnya hehehe ^_^
kalau via sms, aku juga sering begitu. ditelepon atau disms nomor yg ngga
ada di address book aku, ngga tahu siapa orangnya, menyapa dan ngobrol ajah
sambil berusaha mengorek2 keterangan dari orang itu: siapa kamu? ^_^

aku sepakat sama mbak rini ttg lupa bertetangga itu. itu mah bukannya lupa
tapi tidak peduli dan ngga mau tahu.. ^_^

makasih ya mbak sharingnya.. jadi banyak belajar ^_^

salam
lia

2009/1/30 Rini Agus Hadiyono <rinurbad@yahoo.com>

> Lia yang baik dan santun,
> masih mending lho tingkat lupanya ini..
> aku jauuh lebih parah. Ketemu teman di FB, main approve aja karena
> liat list friendsnya banyak yang sama. Udah haha-hihi saling berbalas
> komen di Wall dan status..lho, sebenernya ini siapa ya? Apa lagi kalo
> namanya nggak terlalu familiar *yah, semisal nama Rini..kan rada-rada
> massal gitu*. Eeh, begitu diliat profilnya..ternyata kakak kelas di
> kampus dan omongan kami kemaren-maren sudah melampaui 'batas yang
> semestinya'. Kacau, kacau..
> Pada kasusku, lupa bertetangga dekat dengan ketidakpedulian:)
>
> salam,
> Rinurbad
>
>
>
3a.

Re: [catcil] Lupa

Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com   octavialia

Mon Feb 9, 2009 8:55 pm (PST)

rajin ngisi TTS? wah sebuah kiat baru nih, mas aries... ^_^
udah pernah dicoba atau belum? kabarin hasilnya yaaa.. ^_^

thanks for sharing ^_^

salam
lia

2009/1/31 apriyanto aris <apri_eldurra@yahoo.com>

> konon kalau pingin memelihara daya
> ingat, rajin rajinlah ngisi TTS....
>
> wah perlu di coba nich sahabat eska... tak coba lho nich tipsnya.. ntar tak
> lihat hasilnya.. makasih mbak... semoga bisa tambah ingat..
>
>
>
4a.

(CERPEN) TEROR (Specially thanks)

Posted by: "fiyan arjun" paman_sam2@yahoo.com   paman_sam2

Mon Feb 9, 2009 9:18 pm (PST)



TEROR

Fiyan
Arjunhttp://sebuahrisalah.multiply.comid ym:paman_sam2

Berita
tentang teror di kampung Rawa Asem kini sudah mulai tersebar meluas. Tak
dipungkiri lagi semua warga di kampung itu dibuat panik. Semua warga kampung
tempat mereka tinggali bertahun-tahun kini sudah tak nyaman seperti dulu lagi.
Terlebih berita teror kini merajalela di kampung itu. Dan yang lebih mirisnya
lagi sebagai korban teror pertama kali itu dialami oleh keluarga Pak Harun. Seperti
diketahui Pak Harun sebagai warga kampung itu ia sangatlah baik kepada siapa
pun. Ia tak pernah membuat onar apalagi bermasalah dengan warga setempat. Hingga
akhirnya berita itu menjadi buah bibir di kampung Rawa Asem.

***

Pak
Kodir masih duduk termangu di depan teras rumahnya. Ia masih tak percaya jika
pagi itu ia mengalami sesuatu yang amat menakutkan. Tiba-tiba saja saat ia
ingin berpamitan untuk bergegas bekerja kepada istrinya, Pak Kodir melihat sebuah
benda berbentuk kotak berukuran sedang tergeletak manja di depan teras
rumahnya. Dan juga ia tak tahu dari mana asal-muasal benda itu. Yang Pak Kodir
ketahui dirinya tak pernah membeli  atau
memesan sesuatu apalagi memenangkan undian.

Akhirnya
dengan rasa penasaran yang meraja di benak Pak Kodir  ia pun memberanikan diri untuk membuka benda
itu. Benda yang sudah terbungkus dengan rapi seperti layaknya sebuah kado. Dengan
hati-hati ia pun membawa benda itu ke hadapan istrinya. Pak Kodir takut
kalau-kalau apa yang ia temukan di rumahnya itu adalah bom. Terlebih istrinya
saat mengetahui benda itu. Istri Pak Kodir menjerit sangat histeris. Ketakutan.
Istrinya itu takut membayangkan jika benda itu adalah benar-benar bom. Yang
marak diberitakan di televisi serta sering ditonton oleh istrinya itu.

"Masya
Allah, Pak! Coba Bapak lihat kemari. Lihat ada bangkai ayam yang sudah mati di
bungkus dengan kain putih. Bukan itu saja juga ini juga diselipkan secarik kertas
yang bertulisakan nada ancaman. Walah, Pak  bagaimana ini. Jangan-jangan kita benar Pak
kena teror seperti apa kata warga di sini!" pekik istri Pak Kodir terkejut
ketika ia membuka benda itu. Yang ternyata isi benda yang ada di dalam
berbentuk kotak sedang itu sama persisnya dengan apa Pak Harun temukan di teras
rumahnya pula.

Pak
Kodir yang melihat itu semua hanya bisa beristighfar. Ternyata ia tak menyangka
apa yang dialami Pak Harun dialami pula olehnya. Ia tak tahu siapa yang sudah
berbuat nekad seperti itu kepadanya.

Ya,
ternyata benda yang ditemukan Pak Kodir bersama istrinya itu bukanlah bom
seperti yang marak terjadi. Melainkan sesuatu yang nyaris mirip sekali dengan
teror. Benda berbentuk kota sedang itu berisi seekor bangkai ayam dibungkus
oleh kain putih serta dibubuhi secarik kertas bernada ancaman pula. Entah siapa
yang sudah berani menaruh benda itu di depan teras rumahnya Pak Kodir juga tak
tahu. Atau, jangan-jangan ada seseorang yang tak suka dengan saya. Tapi
siapa orangnya? Pak Kodir masih mencari-cari siapa gerangan empunya yang
mengirim teror ke rumahnya itu. Tapi ia tak mau menuduh sembarangan untuk
mencari bukti siapa yang berbuat itu semua.

"Sudahlah,
Bu! Ibu jangan khawatir  seperti itu.
Biar saja nanti Bapak buang di jalan nanti ketika menuju tempat Bapak kerja.
Terpenting Ibu jangan panik. Kalau Ibu panik Bapak nanti juga ikut panik. Tapi
ingat hal jangan ini sampai diketahui oleh Shani, anak kita. Nanti ia tak mau
berangkat sekolah lagi. Ya, Bapak berangkat kerja dulu. Assalamualaikum…"
Begitulah pesan Pak Kodir terhadap istrinya agar tidak usah begitu panik untuk menghadapinya
sebelum bergegas bekerja.

Perlu
diketahui Pak Kodir adalah seorang PNS di kampung Rawa Asem. Ia bekerja sebagai
seorang notaris. Namun walaupun Pak Kodir seorang abdi negara ia tetap membaur
dengan warga di tempat tinggalnya itu. 
Ia juga masih sempat meluangkan waktu lebih untuk para tetangganya.
Bahkan saat sedang mengadakan perbaikan jalan Pak Kodir yang lebih dulu  meringankantangannya. Ia turut menyumbangkan
beberapa sak semen  serta memberikan
penganan untuk para pekerjanya. Namun dengan pertistiwa yang sempat ia alami Pak
Kodir semakin tak mengerti. Ia merasa bersalah jika ada tetangganya yang merasa
tersakiti oleh perbuatan yang disengaja maupun tidak. Tapi siapa orangnya yang
merasa tersakit oleh ulah saya? Pak Kodir terus bertanya-tanya dalam
dirinya hingga langkahnya tak ia sadari sudah mengijak di tempatnya bekerja.

***

"Walah,
ada lagi benda itu di depan teras rumah kita, Pak!" Dengan tergopoh-gopoh istri
Pak Kodir masuk ke dalam untuk memanggil Pak Kodir, suaminya itu yang sedang
sarapan pagi.

Istri
Pak Kodir tak menyangka kalau pagi itu ia menemukan kembali benda yang sama
seperti yang lalu ditemukannya. Tapi anehnya isi yang ada di dalam benda
berbentuk kotak sedang itu lain dari yang pertama. Kali ini lebih menyeramkan.
Membuat bulu kuduk berdiri bagi siapa saya yang melihatnya. Benda yang ada di
dalam itu berisi bangkai tikus yang amat menyengat baunya bila tercium dan
ditambah dengan benda-benda tajam. Seperti silet dan jarum. Dan tidak ketinggalan
pula ada secarik kertas di dalam tempat itu yang bernada ancaman. Hal senada
yang pertama kali ditemukannya.

"Sudahlah
Ibu jangan panik seperti itu. Ibu tenang saja. Bapak harap sama Ibu hal ini
jangan samapi diketahui oleh tetangga kita nanti. Bila mereka tahu malah menambah
ketidakatenangan warga di sini. Bapak janji hal ini besok Bapak beritahukan kepada
Pak Yudhi selaku Pak RT di kampung ini…," lanjut Pak Kodir menenangkan hati
istrinya itu.

***

Akhirnya
laporan tentang teror itu sudah sampai di terima oleh Pak Yudhi selaku Pak RT
kampung Rawa Asem. Biar bagaiamana pun selaku kepala warga di kampung Pak Yudhi
berhak menyelamatkan ketenangan hidup warganya. Terlebih dengan teror yang di
terima keluarga Pak Kodir. Ia tahu bahwa Pak Kodir selama menjadi warganya Pak
Kodir tidak pernah berbuat hal yang memalukan kampung malah sebaliknya sangat
ringan tangan. Sudah banyak warganya yang sempat dibantu oleh kebaikan Pak
Kodir, warganya itu.

Dua
minggu sudah pencarian si peneror keluarga Pak Kodir. Semua warga kampung Rawa
Asem digerakan untuk mengadakan ronda malam untuk menjaga ketetraman warga dari
orang yang berbuat nekad. Tak lain si pengirim teror. Dari pemuda-pemuda dan
Bapak-bapak warga kampung Rawa Asem pun saling bahu membahu mengawasi
gerak-gerik apabila ada seseorang yang menandakan kecurigan.

***

Pencarian
si penebar teror terus digalakan. Tapi itu tak sampai sebulan. Kini warga
kampung Rawa Asem sudah menemukan siapa gerangan orang yang telah membuat
keresahan para warga. Tak lain orang yang menebar teror keluarga Pak Kodir
ternyata salah satu oknum dari warga kampung Rawa Asem pula. Pak Rekso, namanya
sekaligus tetangga dekat Pak Kodir pula. Miris memang ketika mendengaanya.
Orang sebaik Pak Kodir masih ada saja yang menakut-nakuti dengan teror semacam
itu.

"Selamat
pagi Pak Kodir. Bapak bisa datang ke rumah saya pagi ini! Sekarang Bapak aman.
Orang yang selama ini meresahkan keluarga Bapak dan warga di sini sudah tertangkap
tangan ketika ingin mengirim teror kembali ke rumah Bapak pada pagi hari buta.
Ini pun karena kerjasama dari  para warga
di sini. Baiklah saya tunggu Bapak untuk datang secepatnya!" dari mulut Pak
Yudhi akhirnya mengabar kabar gembira dari balik telepon ke rumah Pak Kodir.
Sedangkan Pak Kodir sendiri yang saat itu ingin lekas berangkat kerja ia batalkan
pagi itu. Pak Kodir meminta cuti hari itu kepada atasannya.  Apa benar si penebar teror itu sudah
tertangakap? Cepat sekali! Pak Kodir masih ragu.

Tak
lama kemudian sesampai di rumah teras Pak Yudhi, Pak Kodir melihat seorang pria
yang sudah babak belur. Dihakimi oleh waraga kampung Rawa Asem. Dan Pak Kodir
tak habir pikir kalau tetangganya itu memberi pelajaran memakai tindakan
sendiri. Tak berperikemanusian lagi. Bukankah ini negara hukum? Ya, harus dilakukan
secara hukum? Pak Kodir semakin gontai saat melihat peristiwa itu yang ada
di depannya saat ia ingin menemui Pak Yudhi.

"Oh,
ini orangnya yang meneror saya juga. Dasar manusia tak berterima kasih! Padahal
saya sudah menolong istri kamu yang mau melahirkan itu. Tapi nyatanya kamu malah
membalas dengan air tuba. Ini yang pantas kamu terima dasar orang tak berterima
kasih. Plakkk!" Sebuah tamparan yang sangat beringas datang dari Pak Harun.
Orang yang pernah menolong pria yang sudah setengah nafas itu sekaligus orang
yang pernah mendapatkan teror yang serupa dialami Pak Kodir.

"Benar
dialah orangnya ini, Pak Kodir! Bagaimnaa kita habisi saja?!" lanjut salah satu
warga memancing emosi para warga lainnya untuk menghakim si penebar teror itu.

"Sabar!
Sabar! Sabar Bapak-bapak dan para pemuda kampung Rawa Asem. Kita janganlah
menghakimi orang ini secara seenaknya. Ingat biar bagaimana pun ia manusia juga
seperti kita. Kita jangan membabibuta menghakimi orang ini dengan cara kita
sendiri. Bukankan ini negara hukum. Nah, sebaiknya kita serahkan hal ini
kepada yang berwajib. Bukan begitu…." Lanjut Pak Kodir yang sudah mengetahui
siapa si pengirim benda  dan si peneror ke
rumahnya selama ini. Tak lain Pak Rekso yang sudah 15 tahun bertetangga dengan
dirinya.

Pak
Rekso. Ya, ternyata dalang tunggal dari semua teror yang dilakukannya. Bukan
itu saja ternyata Pak Rekso juga pernah di tolong oleh Pak Kodir disaat anaknya
itu sakit keras. Pak Kodirlah yang mebantu dari biaya pengobatan sampai
perawatannya. Namun Pak Kodir tak habis pikir bila teryata orang yang selama
ini yang menggangu ketentraman keluarganya adalah orang ia pernah tolong.
Sungguh disayangkan. Namun saat Pak Kodir merasa iba melihat keadaan Pak Rekso
yantg sudah separuh nafas itu. Ia beranjak dari tempat. Pak Kodir tak mampu
lagi untuk melihatnya. Pak Kodir tak tega melihatnya kembali. Lalu disaat Pak
Kodir sedang membuang rasa ketidakapercyaan itu tiba-tiba Pak Yudhi memanggil
dirinya ke ruang tamu.

"Ma'af
Pak Kodir, Bapak saya perintah untuk datang kemari. Saya ingin
mengklarifikasikan kebenaran yang sebenaranya terjadi. Terlebih ini berkaitan
dengan Pak Rekso. Bapak Kodir perlu tahu bahwa yang selama ini apa yang dilakukan
oleh Pak Rekso lakukan terhadap Pak Kodir dan Pak Harun itu lantaran ia merasa
tak pantas untuk memberi balasan atas kebaikan Pak Kodir dan Pak Harun. Yang saya
ketahui dari cerita Pak Rekso sebelum ia pingsan ia mersa kecewa lantaran saat
ingin ia membantu Bapak sebagai tanda terima kasih dari Bapak  malah tak menggubrisnya. Sebaliknya Pak Kodir
malah menyempelekannya. Pak Kodir ingat disaat anak Bapak Shani terluka akibat
kecelakan dari sepeda saat itu yang orang yang pertama kali ingin membantu anak
Bapak siapa? Bukankah disana ada Pak Rekso? Bapak ingat itu….."

Pak
Kodir hanya diam. Ia mencoba meingat-ingat kembali apa yang sudah pernah ia lakukan
tehadap Pak Rekso. Akhirnya khayalan Pak Kodir terhadap Pak rekso menerawang
jauh. Jauh sekali. Jauh mengingat kembali apa yang pernah di perbuat olehnya
atas diri Pak Rekso.

Saat
itu juga suasana ruang tamu Pak Yudhi hening.

Tak
ada suara.

Tak
ada nafas.

Tak
ada kehidupan.

Seperti
tak ada suara, tak ada nafas dan juga tak ada kehidupan yang dimilki oleh Pak
Rekso. Akhirnya Pak Kodir benar-benar tak ada yang dapatkan dikatakannya lagi.
Ia hanya diam, Ya, diam. Diam bersamaan dengan diamnya Pak Rekso meregang nyawa
saat itu itu.*(fy)

 

Kampung Rawa, 10 Februari 2009.

Untuk
mengingat kebaikan dari orang-orang yang telah berbuat baik kepada saya. Terima
kasih untuk semuanya: Mbak Anty Thahir di Medan, specially thanks, Mas Duren
(ma'af namanya saya pakai buat tokoh…hehehe), Bang Nursalam dan Bang Sokat
sudah mengupayakan saya untuk memberitahukan lowongan pekerjaan. Do'akan agar bisa  dapat eksis kerja kembali. Mbak Lia, u're
best frend gals! Kang Dhany pakabarnya Nibras? (Oya, tanggal lahir Nibras sama
ya sama BangFy), Bang Taufan E. Frast, Mbak Dala dan Mas Billy. Juga tak lupa
Pak Teha apakabarnya Pak? Fiyan kangen nih? Sehatkan? Dan semua-semua para
warga millis Sekolah Kehidupan dan FLP DKI Jakarta dan Pembaca Nadia. Thanks
juga untuk Mbak Asma Nadia (kalo bisa bantai cerpen Fiyan ini. Kalo
bisa…hehehe) Mpok Sitta, Mba Ida, Ummi Raisa, Mbak Pegi u're all the best frend
for me end ect.

 

Pesan
Cerpen:

Sekecil
apapun kebaikan orang lain haruslah kita hargai walau itu hanya berbentuk
support.  Dan janganlah menganggap
pandang kecil orang lain. Terima kasih. (Kok jadi curhat ya…..hehehe)

 

 

4b.

(CERPEN) TEROR (Specially thanks)

Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id   bujangkumbang

Mon Feb 9, 2009 9:38 pm (PST)

                                              TEROR

                    http://sebuahrisalah.multiply.com

                                id ym:paman_sam2

Berita
tentang teror di kampung Rawa Asem kini sudah mulai tersebar meluas.
Tak dipungkiri lagi semua warga di kampung itu dibuat panik. Semua
warga kampung tempat mereka tinggali bertahun-tahun kini sudah tak
nyaman seperti dulu lagi. Terlebih berita teror kini merajalela di
kampung itu. Dan yang lebih mirisnya lagi sebagai korban teror pertama
kali itu dialami oleh keluarga Pak Harun. Seperti diketahui Pak Harun
sebagai warga kampung itu ia sangatlah baik kepada siapa pun. Ia tak
pernah membuat onar apalagi bermasalah dengan warga setempat. Hingga
akhirnya berita itu menjadi buah bibir di kampung Rawa Asem.

***

Pak
Kodir masih duduk termangu di depan teras rumahnya. Ia masih tak
percaya jika pagi itu ia mengalami sesuatu yang amat menakutkan.
Tiba-tiba saja saat ia ingin berpamitan untuk bergegas bekerja kepada
istrinya, Pak Kodir melihat sebuah benda berbentuk kotak berukuran
sedang tergeletak manja di depan teras rumahnya. Dan juga ia tak tahu
dari mana asal-muasal benda itu. Yang Pak Kodir ketahui dirinya tak
pernah membeli  atau memesan sesuatu apalagi memenangkan undian.

Akhirnya dengan rasa penasaran yang meraja di benak Pak Kodir  ia
pun memberanikan diri untuk membuka benda itu. Benda yang sudah
terbungkus dengan rapi seperti layaknya sebuah kado. Dengan hati-hati
ia pun membawa benda itu ke hadapan istrinya. Pak Kodir takut
kalau-kalau apa yang ia temukan di rumahnya itu adalah bom. Terlebih
istrinya saat mengetahui benda itu. Istri Pak Kodir menjerit sangat
histeris. Ketakutan. Istrinya itu takut membayangkan jika benda itu
adalah benar-benar bom. Yang marak diberitakan di televisi serta sering
ditonton oleh istrinya itu.

“Masya
Allah, Pak! Coba Bapak lihat kemari. Lihat ada bangkai ayam yang sudah
mati di bungkus dengan kain putih. Bukan itu saja juga ini juga
diselipkan secarik kertas yang bertulisakan nada ancaman. Walah, Pak  bagaimana
ini. Jangan-jangan kita benar Pak kena teror seperti apa kata warga di
sini!” pekik istri Pak Kodir terkejut ketika ia membuka benda itu. Yang
ternyata isi benda yang ada di dalam berbentuk kotak sedang itu sama
persisnya dengan apa Pak Harun temukan di teras rumahnya pula.

Pak
Kodir yang melihat itu semua hanya bisa beristighfar. Ternyata ia tak
menyangka apa yang dialami Pak Harun dialami pula olehnya. Ia tak tahu
siapa yang sudah berbuat nekad seperti itu kepadanya.

Ya,
ternyata benda yang ditemukan Pak Kodir bersama istrinya itu bukanlah
bom seperti yang marak terjadi. Melainkan sesuatu yang nyaris mirip
sekali dengan teror. Benda berbentuk kota sedang itu berisi seekor
bangkai ayam dibungkus oleh kain putih serta dibubuhi secarik kertas
bernada ancaman pula. Entah siapa yang sudah berani menaruh benda itu
di depan teras rumahnya Pak Kodir juga tak tahu. Atau, jangan-jangan ada seseorang yang tak suka dengan saya. Tapi siapa orangnya?
Pak Kodir masih mencari-cari siapa gerangan empunya yang mengirim teror
ke rumahnya itu. Tapi ia tak mau menuduh sembarangan untuk mencari
bukti siapa yang berbuat itu semua.

“Sudahlah, Bu! Ibu jangan khawatir  seperti
itu. Biar saja nanti Bapak buang di jalan nanti ketika menuju tempat
Bapak kerja. Terpenting Ibu jangan panik. Kalau Ibu panik Bapak nanti
juga ikut panik. Tapi ingat hal jangan ini sampai diketahui oleh Shani,
anak kita. Nanti ia tak mau berangkat sekolah lagi. Ya, Bapak berangkat
kerja dulu. Assalamualaikum…” Begitulah pesan Pak Kodir terhadap istrinya agar tidak usah begitu panik untuk menghadapinya sebelum bergegas bekerja.

Perlu
diketahui Pak Kodir adalah seorang PNS di kampung Rawa Asem. Ia bekerja
sebagai seorang notaris. Namun walaupun Pak Kodir seorang abdi negara
ia tetap membaur dengan warga di tempat tinggalnya itu.  Ia
juga masih sempat meluangkan waktu lebih untuk para tetangganya. Bahkan
saat sedang mengadakan perbaikan jalan Pak Kodir yang lebih dulu  meringankantanganny a. Ia turut menyumbangkan beberapa sak semen  serta
memberikan penganan untuk para pekerjanya. Namun dengan pertistiwa yang
sempat ia alami Pak Kodir semakin tak mengerti. Ia merasa bersalah jika
ada tetangganya yang merasa tersakiti oleh perbuatan yang disengaja
maupun tidak. Tapi siapa orangnya yang merasa tersakit oleh ulah saya? Pak Kodir terus bertanya-tanya dalam dirinya hingga langkahnya tak ia sadari sudah mengijak di tempatnya bekerja.

***

“Walah,
ada lagi benda itu di depan teras rumah kita, Pak!” Dengan
tergopoh-gopoh istri Pak Kodir masuk ke dalam untuk memanggil Pak
Kodir, suaminya itu yang sedang sarapan pagi.

Istri
Pak Kodir tak menyangka kalau pagi itu ia menemukan kembali benda yang
sama seperti yang lalu ditemukannya. Tapi anehnya isi yang ada di dalam
benda berbentuk kotak sedang itu lain dari yang pertama. Kali ini lebih
menyeramkan. Membuat bulu kuduk berdiri bagi siapa saya yang
melihatnya. Benda yang ada di dalam itu berisi bangkai tikus yang amat
menyengat baunya bila tercium dan ditambah dengan benda-benda tajam.
Seperti silet dan jarum. Dan tidak ketinggalan pula ada secarik kertas
di dalam tempat itu yang bernada ancaman. Hal senada yang pertama kali
ditemukannya.

“Sudahlah
Ibu jangan panik seperti itu. Ibu tenang saja. Bapak harap sama Ibu hal
ini jangan samapi diketahui oleh tetangga kita nanti. Bila mereka tahu
malah menambah ketidakatenangan warga di sini. Bapak janji hal ini
besok Bapak beritahukan kepada Pak Yudhi selaku Pak RT di kampung
ini…,” lanjut Pak Kodir menenangkan hati istrinya itu.

***

Akhirnya
laporan tentang teror itu sudah sampai di terima oleh Pak Yudhi selaku
Pak RT kampung Rawa Asem. Biar bagaiamana pun selaku kepala warga di
kampung Pak Yudhi berhak menyelamatkan ketenangan hidup warganya.
Terlebih dengan teror yang di terima keluarga Pak Kodir. Ia tahu bahwa
Pak Kodir selama menjadi warganya Pak Kodir tidak pernah berbuat hal
yang memalukan kampung malah sebaliknya sangat ringan tangan. Sudah
banyak warganya yang sempat dibantu oleh kebaikan Pak Kodir, warganya
itu.

Dua
minggu sudah pencarian si peneror keluarga Pak Kodir. Semua warga
kampung Rawa Asem digerakan untuk mengadakan ronda malam untuk menjaga
ketetraman warga dari orang yang berbuat nekad. Tak lain si pengirim
teror. Dari pemuda-pemuda dan Bapak-bapak warga kampung Rawa Asem pun
saling bahu membahu mengawasi gerak-gerik apabila ada seseorang yang
menandakan kecurigan.

***

Pencarian
si penebar teror terus digalakan. Tapi itu tak sampai sebulan. Kini
warga kampung Rawa Asem sudah menemukan siapa gerangan orang yang telah
membuat keresahan para warga. Tak lain orang yang menebar teror
keluarga Pak Kodir ternyata salah satu oknum dari warga kampung Rawa
Asem pula. Pak Rekso, namanya sekaligus tetangga dekat Pak Kodir pula.
Miris memang ketika mendengaanya. Orang sebaik Pak Kodir masih ada saja
yang menakut-nakuti dengan teror semacam itu.

“Selamat
pagi Pak Kodir. Bapak bisa datang ke rumah saya pagi ini! Sekarang
Bapak aman. Orang yang selama ini meresahkan keluarga Bapak dan warga
di sini sudah tertangkap tangan ketika ingin mengirim teror kembali ke
rumah Bapak pada pagi hari buta. Ini pun karena kerjasama dari  para
warga di sini. Baiklah saya tunggu Bapak untuk datang secepatnya!” dari
mulut Pak Yudhi akhirnya mengabar kabar gembira dari balik telepon ke
rumah Pak Kodir. Sedangkan Pak Kodir sendiri yang saat itu ingin lekas
berangkat kerja ia batalkan pagi itu. Pak Kodir meminta cuti hari itu
kepada atasannya.  Apa benar si penebar teror itu sudah tertangakap? Cepat sekali! Pak Kodir masih ragu.

Tak
lama kemudian sesampai di rumah teras Pak Yudhi, Pak Kodir melihat
seorang pria yang sudah babak belur. Dihakimi oleh waraga kampung Rawa
Asem. Dan Pak Kodir tak habir pikir kalau tetangganya itu memberi
pelajaran memakai tindakan sendiri. Tak berperikemanusian lagi. Bukankah ini negara hukum? Ya, harus dilakukan secara hukum? Pak Kodir semakin gontai saat melihat peristiwa itu yang ada di depannya saat ia ingin menemui Pak Yudhi.

“Oh,
ini orangnya yang meneror saya juga. Dasar manusia tak berterima kasih!
Padahal saya sudah menolong istri kamu yang mau melahirkan itu. Tapi
nyatanya kamu malah membalas dengan air tuba. Ini yang pantas kamu
terima dasar orang tak berterima kasih. Plakkk!” Sebuah tamparan yang
sangat beringas datang dari Pak Harun. Orang yang pernah menolong pria
yang sudah setengah nafas itu sekaligus orang yang pernah mendapatkan
teror yang serupa dialami Pak Kodir.

“Benar
dialah orangnya ini, Pak Kodir! Bagaimnaa kita habisi saja?!” lanjut
salah satu warga memancing emosi para warga lainnya untuk menghakim si
penebar teror itu.

“Sabar!
Sabar! Sabar Bapak-bapak dan para pemuda kampung Rawa Asem. Kita
janganlah menghakimi orang ini secara seenaknya. Ingat biar bagaimana
pun ia manusia juga seperti kita. Kita jangan membabibuta menghakimi
orang ini dengan cara kita sendiri. Bukankan ini negara hukum. Nah,
sebaiknya kita serahkan hal ini kepada yang berwajib. Bukan begitu….”
Lanjut Pak Kodir yang sudah mengetahui siapa si pengirim benda  dan si peneror ke rumahnya selama ini. Tak lain Pak Rekso yang sudah 15 tahun bertetangga dengan dirinya.

Pak
Rekso. Ya, ternyata dalang tunggal dari semua teror yang dilakukannya.
Bukan itu saja ternyata Pak Rekso juga pernah di tolong oleh Pak Kodir
disaat anaknya itu sakit keras. Pak Kodirlah yang mebantu dari biaya
pengobatan sampai perawatannya. Namun Pak Kodir tak habis pikir bila
teryata orang yang selama ini yang menggangu ketentraman keluarganya
adalah orang ia pernah tolong. Sungguh disayangkan. Namun saat Pak
Kodir merasa iba melihat keadaan Pak Rekso yantg sudah separuh nafas
itu. Ia beranjak dari tempat. Pak Kodir tak mampu lagi untuk
melihatnya. Pak Kodir tak tega melihatnya kembali. Lalu disaat Pak
Kodir sedang membuang rasa ketidakapercyaan itu tiba-tiba Pak Yudhi
memanggil dirinya ke ruang tamu.

“Ma’af
Pak Kodir, Bapak saya perintah untuk datang kemari. Saya ingin
mengklarifikasikan kebenaran yang sebenaranya terjadi. Terlebih ini
berkaitan dengan Pak Rekso. Bapak Kodir perlu tahu bahwa yang selama
ini apa yang dilakukan oleh Pak Rekso lakukan terhadap Pak Kodir dan
Pak Harun itu lantaran ia merasa tak pantas untuk memberi balasan atas
kebaikan Pak Kodir dan Pak Harun. Yang saya ketahui dari cerita Pak
Rekso sebelum ia pingsan ia mersa kecewa lantaran saat ingin ia
membantu Bapak sebagai tanda terima kasih dari Bapak  malah
tak menggubrisnya. Sebaliknya Pak Kodir malah menyempelekannya. Pak
Kodir ingat disaat anak Bapak Shani terluka akibat kecelakan dari
sepeda saat itu yang orang yang pertama kali ingin membantu anak Bapak
siapa? Bukankah disana ada Pak Rekso? Bapak ingat itu…..”

Pak
Kodir hanya diam. Ia mencoba meingat-ingat kembali apa yang sudah
pernah ia lakukan tehadap Pak Rekso. Akhirnya khayalan Pak Kodir
terhadap Pak Rekso menerawang jauh. Jauh sekali. Jauh mengingat kembali
apa yang pernah di perbuat olehnya atas diri Pak Rekso.

Saat itu juga suasana ruang tamu Pak Yudhi hening.

Tak ada suara.

Tak ada nafas.

Tak ada kehidupan.

Seperti
tak ada suara, tak ada nafas dan juga tak ada kehidupan yang dimiliki
oleh Pak Rekso. Akhirnya Pak Kodir benar-benar tak ada yang dapatkan
dikatakannya lagi. Ia hanya diam. Ya, diam. Diam bersamaan dengan
diamnya Pak Rekso meregang nyawa saat itu.*(fy)  

Kampung Rawa, 10 Februari 2009.

Untuk
mengingat kebaikan dari orang-orang yang telah berbuat baik kepada
saya. Terima kasih untuk semuanya: Mbak Anty Thahir di Medan, specially
thanks, Mas Duren (ma’af namanya saya pakai buat tokoh…hehehe), Bang
Nursalam dan Bang Sokat sudah mengupayakan saya untuk memberitahukan
lowongan pekerjaan. Do’akan agar bisa  dapat eksis kerja
kembali. Mbak Lia, u’re best frend gals! Kang Dhany pakabarnya Nibras?
(Oya, tanggal lahir Nibras sama ya sama BangFy), Mbak Rini NB Hadiyono
pakabar Mbak? Bang Taufan E. Frast, Mbak Dala dan Mas Billy. Juga tak
lupa Pak Teha apakabarnya Pak? Fiyan kangen nih? Sehatkan? Dan
semua-semua para warga millis Sekolah Kehidupan dan FLP DKI Jakarta dan
Pembaca Nadia. Thanks juga untuk Mbak Asma Nadia (kalo bisa bantai
cerpen Fiyan ini. Kalo bisa…hehehe) Mpok Sitta, Mba Ida, Ummi Raisa,
Mbak Pegi u’re all the best frend for me end ect.  

Pesan Cerpen: Sekecil apapun kebaikan orang lain haruslah kita hargai walau itu hanya berbentuk support.  Dan janganlah menganggap pandang kecil orang lain. Terima kasih. (Kok jadi curhat ya…..hehehe)

Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
4c.

Re: (CERPEN) TEROR (Specially thanks)

Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com   octavialia

Tue Feb 10, 2009 12:16 am (PST)

Terima kasih banyak, Mas Fiyan, saya sangat terharu. Karena kita semua
adalah saudara. Semoga apa yang kita niatkan dan lakukan semata-mata karena
Allah berkenan pada-Nya. Amin.

Selamat berjuang!

salam
Lia

2009/2/10 bujang kumbang <bujangkumbang@yahoo.co.id>

> TEROR
>
>
>
>
> http://sebuahrisalah.multiply.com
>
>
>
>
>
>
> id ym:paman_sam2
>
>
>
>
>
>
>
> Berita tentang teror di kampung Rawa Asem kini sudah mulai tersebar meluas.
> Tak dipungkiri lagi semua warga di kampung itu dibuat panik. Semua warga
> kampung tempat mereka tinggali bertahun-tahun kini sudah tak nyaman seperti
> dulu lagi. Terlebih berita teror kini merajalela di kampung itu. Dan yang
> lebih mirisnya lagi sebagai korban teror pertama kali itu dialami oleh
> keluarga Pak Harun. Seperti diketahui Pak Harun sebagai warga kampung itu ia
> sangatlah baik kepada siapa pun. Ia tak pernah membuat onar apalagi
> bermasalah dengan warga setempat. Hingga akhirnya berita itu menjadi buah
> bibir di kampung Rawa Asem.
>
>
>
>
>
> ***
>
>
>
>
>
>
> Pak Kodir masih duduk termangu di depan teras rumahnya. Ia masih tak
> percaya jika pagi itu ia mengalami sesuatu yang amat menakutkan. Tiba-tiba
> saja saat ia ingin berpamitan untuk bergegas bekerja kepada istrinya, Pak
> Kodir melihat sebuah benda berbentuk kotak berukuran sedang tergeletak manja
> di depan teras rumahnya. Dan juga ia tak tahu dari mana asal-muasal benda
> itu. Yang Pak Kodir ketahui dirinya tak pernah membeli atau memesan
> sesuatu apalagi memenangkan undian.
>
>
>
>
>
>
>
>
> Akhirnya dengan rasa penasaran yang meraja di benak Pak Kodir ia pun
> memberanikan diri untuk membuka benda itu. Benda yang sudah terbungkus
> dengan rapi seperti layaknya sebuah kado. Dengan hati-hati ia pun membawa
> benda itu ke hadapan istrinya. Pak Kodir takut kalau-kalau apa yang ia
> temukan di rumahnya itu adalah bom. Terlebih istrinya saat mengetahui benda
> itu. Istri Pak Kodir menjerit sangat histeris. Ketakutan. Istrinya itu takut
> membayangkan jika benda itu adalah benar-benar bom. Yang marak diberitakan
> di televisi serta sering ditonton oleh istrinya itu.
>
>
>
>
>
>
>
> "Masya Allah, Pak! Coba Bapak lihat kemari. Lihat ada bangkai ayam yang
> sudah mati di bungkus dengan kain putih. Bukan itu saja juga ini juga
> diselipkan secarik kertas yang bertulisakan nada ancaman. *Walah*, Pak bagaimana
> ini. Jangan-jangan kita benar Pak kena teror seperti apa kata warga di
> sini!" pekik istri Pak Kodir terkejut ketika ia membuka benda itu. Yang
> ternyata isi benda yang ada di dalam berbentuk kotak sedang itu sama
> persisnya dengan apa Pak Harun temukan di teras rumahnya pula.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Kodir yang melihat itu semua hanya bisa beristighfar. Ternyata ia tak
> menyangka apa yang dialami Pak Harun dialami pula olehnya. Ia tak tahu siapa
> yang sudah berbuat nekad seperti itu kepadanya.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Ya, ternyata benda yang ditemukan Pak Kodir bersama istrinya itu bukanlah
> bom seperti yang marak terjadi. Melainkan sesuatu yang nyaris mirip sekali
> dengan teror. Benda berbentuk kota sedang itu berisi seekor bangkai ayam
> dibungkus oleh kain putih serta dibubuhi secarik kertas bernada ancaman
> pula. Entah siapa yang sudah berani menaruh benda itu di depan teras
> rumahnya Pak Kodir juga tak tahu. *Atau, jangan-jangan ada seseorang yang
> tak suka dengan saya. Tapi siapa orangnya?* Pak Kodir masih mencari-cari
> siapa gerangan empunya yang mengirim teror ke rumahnya itu. Tapi ia tak mau
> menuduh sembarangan untuk mencari bukti siapa yang berbuat itu semua.
>
>
>
>
>
>
> "Sudahlah, Bu! Ibu jangan khawatir seperti itu. Biar saja nanti Bapak
> buang di jalan nanti ketika menuju tempat Bapak kerja. Terpenting Ibu jangan
> panik. Kalau Ibu panik Bapak nanti juga ikut panik. Tapi ingat hal jangan
> ini sampai diketahui oleh Shani, anak kita. Nanti ia tak mau berangkat
> sekolah lagi. Ya, Bapak berangkat kerja dulu. *Assalamualaikum*…"
> Begitulah pesan Pak Kodir terhadap istrinya agar tidak usah begitu panik
> untuk menghadapinya sebelum bergegas bekerja.
>
>
>
>
>
>
> Perlu diketahui Pak Kodir adalah seorang PNS di kampung Rawa Asem. Ia
> bekerja sebagai seorang notaris. Namun walaupun Pak Kodir seorang abdi
> negara ia tetap membaur dengan warga di tempat tinggalnya itu. Ia juga
> masih sempat meluangkan waktu lebih untuk para tetangganya. Bahkan saat
> sedang mengadakan perbaikan jalan Pak Kodir yang lebih dulu meringankantanganny
> a. Ia turut menyumbangkan beberapa sak semen serta memberikan penganan
> untuk para pekerjanya. Namun dengan pertistiwa yang sempat ia alami Pak
> Kodir semakin tak mengerti. Ia merasa bersalah jika ada tetangganya yang
> merasa tersakiti oleh perbuatan yang disengaja maupun tidak. *Tapi siapa
> orangnya yang merasa tersakit oleh ulah saya? *Pak Kodir terus
> bertanya-tanya dalam dirinya hingga langkahnya tak ia sadari sudah mengijak
> di tempatnya bekerja.
>
>
>
>
>
>
> ***
>
>
>
>
>
> "*Walah*, ada lagi benda itu di depan teras rumah kita, Pak!" Dengan
> tergopoh-gopoh istri Pak Kodir masuk ke dalam untuk memanggil Pak Kodir,
> suaminya itu yang sedang sarapan pagi.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Istri Pak Kodir tak menyangka kalau pagi itu ia menemukan kembali benda
> yang sama seperti yang lalu ditemukannya. Tapi anehnya isi yang ada di dalam
> benda berbentuk kotak sedang itu lain dari yang pertama. Kali ini lebih
> menyeramkan. Membuat bulu kuduk berdiri bagi siapa saya yang melihatnya.
> Benda yang ada di dalam itu berisi bangkai tikus yang amat menyengat baunya
> bila tercium dan ditambah dengan benda-benda tajam. Seperti silet dan jarum.
> Dan tidak ketinggalan pula ada secarik kertas di dalam tempat itu yang
> bernada ancaman. Hal senada yang pertama kali ditemukannya.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> "Sudahlah Ibu jangan panik seperti itu. Ibu tenang saja. Bapak harap sama
> Ibu hal ini jangan samapi diketahui oleh tetangga kita nanti. Bila mereka
> tahu malah menambah ketidakatenangan warga di sini. Bapak janji hal ini
> besok Bapak beritahukan kepada Pak Yudhi selaku Pak RT di kampung ini…,"
> lanjut Pak Kodir menenangkan hati istrinya itu.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ***
>
>
>
>
>
>
> Akhirnya laporan tentang teror itu sudah sampai di terima oleh Pak Yudhi
> selaku Pak RT kampung Rawa Asem. Biar bagaiamana pun selaku kepala warga di
> kampung Pak Yudhi berhak menyelamatkan ketenangan hidup warganya. Terlebih
> dengan teror yang di terima keluarga Pak Kodir. Ia tahu bahwa Pak Kodir
> selama menjadi warganya Pak Kodir tidak pernah berbuat hal yang memalukan
> kampung malah sebaliknya sangat ringan tangan. Sudah banyak warganya yang
> sempat dibantu oleh kebaikan Pak Kodir, warganya itu.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Dua minggu sudah pencarian si peneror keluarga Pak Kodir. Semua warga
> kampung Rawa Asem digerakan untuk mengadakan ronda malam untuk menjaga
> ketetraman warga dari orang yang berbuat nekad. Tak lain si pengirim teror.
> Dari pemuda-pemuda dan Bapak-bapak warga kampung Rawa Asem pun saling bahu
> membahu mengawasi gerak-gerik apabila ada seseorang yang menandakan
> kecurigan.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ***
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pencarian si penebar teror terus digalakan. Tapi itu tak sampai sebulan.
> Kini warga kampung Rawa Asem sudah menemukan siapa gerangan orang yang telah
> membuat keresahan para warga. Tak lain orang yang menebar teror keluarga Pak
> Kodir ternyata salah satu oknum dari warga kampung Rawa Asem pula. Pak
> Rekso, namanya sekaligus tetangga dekat Pak Kodir pula. Miris memang ketika
> mendengaanya. Orang sebaik Pak Kodir masih ada saja yang menakut-nakuti
> dengan teror semacam itu.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> "Selamat pagi Pak Kodir. Bapak bisa datang ke rumah saya pagi ini! Sekarang
> Bapak aman. Orang yang selama ini meresahkan keluarga Bapak dan warga di
> sini sudah tertangkap tangan ketika ingin mengirim teror kembali ke rumah
> Bapak pada pagi hari buta. Ini pun karena kerjasama dari para warga di
> sini. Baiklah saya tunggu Bapak untuk datang secepatnya!" dari mulut Pak
> Yudhi akhirnya mengabar kabar gembira dari balik telepon ke rumah Pak Kodir.
> Sedangkan Pak Kodir sendiri yang saat itu ingin lekas berangkat kerja ia
> batalkan pagi itu. Pak Kodir meminta cuti hari itu kepada atasannya. *Apa
> benar si penebar teror itu sudah tertangakap? Cepat sekali!* Pak Kodir
> masih ragu.
>
>
>
>
>
>
>
> Tak lama kemudian sesampai di rumah teras Pak Yudhi, Pak Kodir melihat
> seorang pria yang sudah babak belur. Dihakimi oleh waraga kampung Rawa Asem.
> Dan Pak Kodir tak habir pikir kalau tetangganya itu memberi pelajaran
> memakai tindakan sendiri. Tak berperikemanusian lagi. *Bukankah ini negara
> hukum? Ya, harus dilakukan secara hukum?* Pak Kodir semakin gontai saat
> melihat peristiwa itu yang ada di depannya saat ia ingin menemui Pak Yudhi.
>
>
>
>
>
>
>
> "Oh, ini orangnya yang meneror saya juga. Dasar manusia tak berterima
> kasih! Padahal saya sudah menolong istri kamu yang mau melahirkan itu. Tapi
> nyatanya kamu malah membalas dengan air tuba. Ini yang pantas kamu terima
> dasar orang tak berterima kasih. Plakkk!" Sebuah tamparan yang sangat
> beringas datang dari Pak Harun. Orang yang pernah menolong pria yang sudah
> setengah nafas itu sekaligus orang yang pernah mendapatkan teror yang serupa
> dialami Pak Kodir.
>
>
>
> "Benar dialah orangnya ini, Pak Kodir! Bagaimnaa kita habisi saja?!" lanjut
> salah satu warga memancing emosi para warga lainnya untuk menghakim si
> penebar teror itu.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> "Sabar! Sabar! Sabar Bapak-bapak dan para pemuda kampung Rawa Asem. Kita
> janganlah menghakimi orang ini secara seenaknya. Ingat biar bagaimana pun ia
> manusia juga seperti kita. Kita jangan membabibuta menghakimi orang ini
> dengan cara kita sendiri. Bukankan ini negara hukum. *Nah*, sebaiknya kita
> serahkan hal ini kepada yang berwajib. Bukan begitu…." Lanjut Pak Kodir yang
> sudah mengetahui siapa si pengirim benda dan si peneror ke rumahnya
> selama ini. Tak lain Pak Rekso yang sudah 15 tahun bertetangga dengan
> dirinya.
>
>
>
>
>
>
> Pak Rekso. Ya, ternyata dalang tunggal dari semua teror yang dilakukannya.
> Bukan itu saja ternyata Pak Rekso juga pernah di tolong oleh Pak Kodir
> disaat anaknya itu sakit keras. Pak Kodirlah yang mebantu dari biaya
> pengobatan sampai perawatannya. Namun Pak Kodir tak habis pikir bila teryata
> orang yang selama ini yang menggangu ketentraman keluarganya adalah orang ia
> pernah tolong. Sungguh disayangkan. Namun saat Pak Kodir merasa iba melihat
> keadaan Pak Rekso yantg sudah separuh nafas itu. Ia beranjak dari tempat.
> Pak Kodir tak mampu lagi untuk melihatnya. Pak Kodir tak tega melihatnya
> kembali. Lalu disaat Pak Kodir sedang membuang rasa ketidakapercyaan itu
> tiba-tiba Pak Yudhi memanggil dirinya ke ruang tamu.
>
>
>
>
>
>
> "Ma'af Pak Kodir, Bapak saya perintah untuk datang kemari. Saya ingin
> mengklarifikasikan kebenaran yang sebenaranya terjadi. Terlebih ini
> berkaitan dengan Pak Rekso. Bapak Kodir perlu tahu bahwa yang selama ini apa
> yang dilakukan oleh Pak Rekso lakukan terhadap Pak Kodir dan Pak Harun itu
> lantaran ia merasa tak pantas untuk memberi balasan atas kebaikan Pak Kodir
> dan Pak Harun. Yang saya ketahui dari cerita Pak Rekso sebelum ia pingsan ia
> mersa kecewa lantaran saat ingin ia membantu Bapak sebagai tanda terima
> kasih dari Bapak malah tak menggubrisnya. Sebaliknya Pak Kodir malah
> menyempelekannya. Pak Kodir ingat disaat anak Bapak Shani terluka akibat
> kecelakan dari sepeda saat itu yang orang yang pertama kali ingin membantu
> anak Bapak siapa? Bukankah disana ada Pak Rekso? Bapak ingat itu….."
>
>
>
>
>
>
> Pak Kodir hanya diam. Ia mencoba meingat-ingat kembali apa yang sudah
> pernah ia lakukan tehadap Pak Rekso. Akhirnya khayalan Pak Kodir terhadap
> Pak Rekso menerawang jauh. Jauh sekali. Jauh mengingat kembali apa yang
> pernah di perbuat olehnya atas diri Pak Rekso.
>
>
>
>
>
> Saat itu juga suasana ruang tamu Pak Yudhi hening.
>
>
>
>
>
>
> Tak ada suara.
>
>
>
>
>
>
> Tak ada nafas.
>
>
>
>
>
> Tak ada kehidupan.
>
>
>
>
>
> Seperti tak ada suara, tak ada nafas dan juga tak ada kehidupan yang
> dimiliki oleh Pak Rekso. Akhirnya Pak Kodir benar-benar tak ada yang
> dapatkan dikatakannya lagi. Ia hanya diam. Ya, diam. Diam bersamaan dengan
> diamnya Pak Rekso meregang nyawa saat itu.*(fy)
>
>
>
>
>
>
>
> Kampung Rawa, 10 Februari 2009.
>
>
>
>
>
>
>
>
> Untuk mengingat kebaikan dari orang-orang yang telah berbuat baik kepada
> saya. Terima kasih untuk semuanya: Mbak Anty Thahir di Medan, specially
> thanks, Mas Duren (ma'af namanya saya pakai buat tokoh…hehehe), Bang
> Nursalam dan Bang Sokat sudah mengupayakan saya untuk memberitahukan
> lowongan pekerjaan. Do'akan agar bisa dapat eksis kerja kembali. Mbak
> Lia, u're best frend gals! Kang Dhany pakabarnya Nibras? (Oya, tanggal lahir
> Nibras sama ya sama BangFy), Mbak Rini NB Hadiyono pakabar Mbak? Bang Taufan
> E. Frast, Mbak Dala dan Mas Billy. Juga tak lupa Pak Teha apakabarnya Pak?
> Fiyan kangen nih? Sehatkan? Dan semua-semua para warga millis Sekolah
> Kehidupan dan FLP DKI Jakarta dan Pembaca Nadia. Thanks juga untuk Mbak Asma
> Nadia (kalo bisa bantai cerpen Fiyan ini. Kalo bisa…hehehe) Mpok Sitta, Mba
> Ida, Ummi Raisa, Mbak Pegi u're all the best frend for me end ect.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pesan Cerpen:
>
> Sekecil apapun kebaikan orang lain haruslah kita hargai walau itu hanya
> berbentuk support. Dan janganlah menganggap pandang kecil orang lain.
> Terima kasih. (Kok jadi curhat ya…..hehehe)
>
> ------------------------------
> Dapatkan nama yang Anda sukai!
> <http://sg.rd.yahoo.com/id/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/>
> Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
>
>
4d.

Re: (CERPEN) TEROR (Specially thanks)

Posted by: "hariyanty thahir" anty_th@yahoo.com   anty_th

Tue Feb 10, 2009 1:59 am (PST)

Ada satu kata indah yang slalu d jadikan pegangan : UKHUWAH
Alhamdulillah mas fy mendapatkan dukungan dari begitu banyak saudara
Keep spirit, keep fighting ^_^

best regards for u bro

by:antz

5a.

Bls: [sekolah-kehidupan] [syukur] BACA CERPEN-CERPEN SAYA DI ILMUIMA

Posted by: "MR AASHIQUE aashique" betawi_bombay@yahoo.co.id   betawi_bombay

Mon Feb 9, 2009 10:24 pm (PST)

wah-wah hebat euy.....Mpok satu anak satu ini
sukses ya Mpok jadi seorang ibu...hehehe
amin!

--- Pada Ming, 8/2/09, Agung Argopo <gopo_alhusna@yahoo.co.id> menulis:
Dari: Agung Argopo <gopo_alhusna@yahoo.co.id>
Topik: [sekolah-kehidupan] [syukur] BACA CERPEN-CERPEN SAYA DI ILMUIMAN.NET
Kepada: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Tanggal: Minggu, 8 Februari, 2009, 6:24 PM

Sebelumnya Thanks buat Mas Nurcalam yang udah ngasih informasi tentang website ini. Alhamdulillah 5 cerpen saya sudah dimuat di sana. Sekedar ingin berbagi dengan teman-teman SK< siapa tahu ada yang nyimpen stok cerpen cinta, bisa dikirim ke sana. Lumayan buat publish diri sendiri :-)
 
silakan baca cerpen-cerpen saya, insya allah, akan nambah lagi. Terus semangat menulis, ya!
 
klik di sini :
 
http://ilmuiman. net/story/ kisah800. php?E=Testing&FN=AchiTM/BertepukT angan.web
 
 
di sini :
 
http://ilmuiman. net/story/ kisah800. php?E=Testing&FN=AchiTM/Missed. web
 
di sini :
 
http://ilmuiman. net/story/ kisah800. php?E=Testing&FN=AchiTM/BuatApri. web
 
di sini
 
http://ilmuiman. net/story/ kisah800. php?E=Testing&FN=AchiTM/BukanPutu sCinta.web
 
dan di sini :
 
http://ilmuiman. net/story/ kisah800. php?E=Testing&FN=AchiTM/CintaUntu kDamai.web
 
terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca. Kirimkan juga apresiasi ceritanya, ya, bisa lewat milis ini juga bisa mampir ke MP achi di...
 
http://achiku. multiply. com/
 
salam kangen
muach-muach- muach
 
Achi TM
Mamanya Abiy

Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan Gratis.












Apakah demonstrasi & turun ke jalan itu hal yang wajar? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com
6a.

Re: (Catcil) Sisi Lain Jepang: Sidang Penentuan Mahasiswa

Posted by: "sismanto" siril_wafa@yahoo.co.id   siril_wafa

Mon Feb 9, 2009 10:39 pm (PST)

Hi...simple sekali yach..
nggak seperti di Indonesia, Njlimet n buat mahasiswanya jadi mumet :)
makasih ceritanya mbak :)

Sis

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, febty febriani
<inga_fety@...> wrote:

6b.

Re: (Catcil) Sisi Lain Jepang: Sidang Penentuan Mahasiswa

Posted by: "galih@asmo.co.id" galih@asmo.co.id

Tue Feb 10, 2009 12:22 am (PST)

Jadi mengingatkan saya pada seminar skripsi.
Pada seminar itu saya dibuat tidak berkutik sama dosen penguji.
2 jam bengong di depan karena dibantai sana sini. Apakah ini
karena bahasa yang saya pakai dimengerti sama dosen penguji?
Tapi pas sidang justru cepet, cukup 50 menit dari yang biasanya
melewati 1 jam.




febty febriani <inga_fety@yahoo.com>
Sent by: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
02/10/2009 11:25 AM
Please respond to sekolah-kehidupan


To: milis <sekolah-kehidupan@yahoogroups.com>
cc:
Subject: [sekolah-kehidupan] (Catcil) Sisi Lain Jepang: Sidang Penentuan Mahasiswa


Hari ini dan besok adalah sidang skripsi S1 mahasiswa di Chiba University.
Jadwal presentasi mahasiswa tingkat akhir di labku (di Jepang disebut
dengan Yonensei) adalah hari ini. Jangan bayangkan seperti rumitnya sidang
skripsi S1 di Indonesia. Menurutku, sidang skripsinya sangat simpel.
Bahkan, ada beberapa mahasiswa hanya menggunakan kaos dan sweater waktu
presentasi. kaget, awalnya. Tapi, setelah kutanya dengan seorang mahasiswa
Doktor yang juga berasal dari Indonesia, hal itu adalah lumrah Sidangnyapun tidak lama-lama. Hanya 15 menit. Dua belas menit untuk
presentasi dan tiga menit sisanya adalah waktu untuk para sensei bertanya.
Dan kalau dalam waktu tiga menit itu jawaban atas pertanyaan belum
memuaskan sensei yang bertanya, yah sudah tidak apa-apa. Mahasiswa yang
sidangpun adalah mahasiswa satu fakultas. Jadi, suasananya persis mirip
seminar.
Sekitar satu minggu lalu adalah sidang thesis mahasiswa S2. Dari pagi
sampai sore, karena seluruh mahasiswa S2 fakultas sains (dalam bahasa
Jepang disebut rigakubu) mempresentasikan thesisnya hari itu. Di labku,
cuma ada satu orang mahasiswa S2 yang mau lulus (di Jepun disebut dengan
M2). Jadilah, dia adalah mahasiswa S2 tersibuk di labku. Bolak-balik dari
ruangannya ke ruangan sensei untuk konsultasi. Sama seperti sidang skripsi
S1, suasana sidang thesis S2 juga mirip seminar. Waktu presentasi cuma 12
menit, dan 3 menit terakhir adalah sesi tanya jawab. Dan, kalau bel tanda
15 menit berbunyi, selesailah masa-masa mendebarkan itu. Paling enak,
mungkin, adalah seorang mahasiswa S2 dari Indonesia. Presentasinya dalam
bahasa Inggris. Aku menyebutnya ʽenakʼ karena sedikit sensei yang bertanya
tentang penelitiannya. Ntahlah karena apa. Aku jadi ingat dengan ujian
wawancaraku untuk ujian masuk Chibadai. Dari sekitar sepuluh orang sensei
yang mewawancari, hanya tiga orang yang kuingat bertanya kepadaku. Enak
juga sih, gak ditanya macam-macam. Padahal orang-orang China yang ikut
ujian masuk Chibadai dan wawancara dalam bahasa Jepang, bercerita kalau
pertanyaan-pertanyaannya sulit. Raut muka dan ekspresi cara berceritanya
yang mengatakan kepadaku.

Nah, yang agak serius adalah oral-defense mahasiswa Doktor. Di Chibadai ada dua kali sidang mahasiswa S3. Sidang
tertutup dan sidang terbuka. Aku hanya bisa menghadiri sidang terbuka
seorang mahasiswa Doktor di labku, sekitar dua minggu yang lalu. Tentu
saja dalam bahasa jepang, dan jadilah aku sebagai penonton saja. Sangat
sedikt mengerti tentang hal yang dibicarakan. Mahasiswa di Jepang sangat
jarang yang bisa berbahasa Inggris. Begitu juga dengan mahasiswa Doktor di
labku yang sidang thesis PhDnya kali ini. Karena itulah, ketika seorang
mahasiswa Doktor dari Indonesia yang bertanya dalam bahasa Inggris ketika oral-defensenya, akhirnya pertanyaan itu ditranslate oleh seorang sensei sehingga
mahasiswa S3 yang oral-defense mengerti. Tapi, akhirnyapun dijawab dalam bahasa Jepang. Aneh, kan.
Awalnya iya. Tapi setelah hampir 4 bulan di Jepang, rasanya hal itu
menjadi hal yang biasa. Pun juga ketika aku berkomunikasi dengan sensei.
Kadang, aku bertanya dalam bahasa Jepang yang terpatah-patah. Beliau
menjawab dalam bahasa Inggris. Atau sebaliknya, aku bertanya dalam bahasa
Inggris, senseiku menjawab dalam bahasa Jepang.

Yah, sudahlah, lebih baik menikmati saja ʽperjalanan kuliah iniʼ

Kesanku tentang sidang akhir untuk mahasiswa S1, S2 dan S3 begitu simple,
tidak rumit. Jadi, kalau ada sidang S1, S2 dan S3 di Jepang jangan
dibayangkan ada konsumsi. Sama sekali tidak ada. Juga untuk segelas air
putih. Apalagi segelas kopi. Bahkan, para sensei yang hadirpun, membawa
botol minuman mereka sendiri. Ketika istirahat makan siang, yah sudah
makan saja di kantin.



@kampus, Februari 2009
~ http://ingafety.wordpress.com ~






7a.

Re: [Inspirasi] Merawat Sahabat

Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com   inga_fety

Mon Feb 9, 2009 11:58 pm (PST)

mas nur, mungkin aku tidak seperti mas nur yah:) yang bisa
mnedengarkan orang. kalau dipikir dari sejak jaman SMP sampai kini aku
gak punya sahabat:D

salam,
febty

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Nursalam AR
<nursalam.ar@...> wrote:
>
> *Merawat Sahabat*
>
> *Oleh Nursalam AR*
>
> *"You should not judge another person until you have
walked two
> moons in their moccasins." (pepatah Indian kuno)*
>
> Sahabat itu ibarat tanaman di pekarangan. Ia harus dirawat dan
dipupuk. Jika
> tidak, ia akan mati meranggas. Selayaknya tanaman, ia juga berbeda-beda
> jenis. Sehingga berbeda-beda pula perlakuan kita untuk lebih
menyuburkannya.
>
> Saya sebetulnya baru-baru ini saja memahami betul perbedaan makna
"sahabat"
> dan "teman". Secara teori kognitif, perbedaan semantik tersebut
sudah saya
> kunyah sejak SMP. Namun secara *maknawiyah* atau nilai rasa mungkin baru
> beberapa tahun belakangan. Terlebih ketika saya memasuki gerbang
kehidupan
> berumah tangga dengan segenap suka dukanya. Ketika banyak orang
menyangka
> seseorang yang sudah menikah, dengan asumsi punya istri atau suami
sebagai
> teman hidup juga sahabat hidup, otomatis tak butuh sahabat, sejatinya
> kebutuhan akan sahabat itu sebenarnya tetap sama. Bahkan bisa jadi lebih
> besar dari fase kehidupan sebelumnya.
>
> "Tenang, Lam, gue bantu elo deh nanti. Gue utang budi sama elo." Janji
> seorang teman zaman kuliah dulu masih nyaring di telinga saya meski
telah
> bertahun-tahun lamanya ia berikrar demikian selepas sebuah jasa yang
saya
> berikan kepadanya. Tanpa pamrih, sebetulnya. Cuma menolongnya, itu saja
> niatan saya. Soal janjinya adalah kesalahan saya yang bertahun-tahun
> kemudian – di waktu saya sulit – menganggapnya sebagai tali penyelamat
> ketika arus terlalu deras untuk dilawan seorang diri.
>
> "Wah, sorry, Lam, gue baru bayar sekian untuk ikutan seminar
profesi. Lain
> kali deh gue pasti bantu elo!" *Glek*. Ia menyebut sekian jumlah nominal
> yang saat itu lebih dari yang ingin saya pinjam. Waktu itu bisnis
bimbingan
> belajar yang saya bangun bersama kakak saya ambruk dan kami terjerat
hutang
> besar. Tidak besar, mungkin, untuk ukuran dia yang sedang cemerlang
karirnya
> selepas kuliah. Apalagi, setelah penolakannya tersebut, entah ia
sadar atau
> tidak, setiap kali ia mencapai kesuksesan materi – beli mobil, cicil
rumah
> dll – ia selalu bercerita dengan bangga kepada saya, dan tak lupa
diakhiri
> dengan repetisi ikrar yang sama: "Gue utang budi sama elo, Lam.
Pasti gue
> bantu elo!"
>
> Saat itu saya masih memandangnya sebagai "sahabat". Namun ketika
kesulitan
> yang sama selalu saja menimpa saya – hingga saya sempat berpikir
untuk minta
> diruwat – dan penolakan sang "sahabat" selalu sama, dan ia terhenti
sampai
> di batas itu tanpa ada sodoran alternatif yang lebih empatik maka
saya mulai
> meninjau ulang dan menarik batas baru. Ia kini sekadar "teman" bukan
lagi
> "sahabat".
>
> Dasar filosofis penarikan garis demarkasi tersebut, saat itu, sederhana
> saja: *a friend indeed is a friend in need*. Sahabat adalah teman di
kala
> susah. Dalam perjalanan waktu berikutnya saya mendapati kebenaran
adagium
> tersebut. Tapi, seiring matangnya usia dalam artian tumbuhnya uban,
> tampaknya saya "dipaksa" memberi pengayaan dan pemaknaan yang lebih atas
> definisi "teman" dan "sahabat"
>
>
>
> *Sahabat-sahabat baru*
>
> "Mas, butuh bantuan apa?"
>
> "Aku sudah transfer ya ke rekeningmu…"
>
> "Ini sedekah dari saya…"
>
> Peristiwa banjir bandang pada Februari 2007 adalah salah satu titik
balik
> dalam hidup saya. Menjelang pernikahan – yang saya rencanakan pada April
> 2007 yang terpaksa diundur hingga akhir 2007 – segenap harta benda
lenyap
> termasuk *asset *biro penerjemahan yang saya kumpulkan dan tabung
> bertahun-tahun. Yang menyedihkan, hanya beberapa gelintir sahabat yang
> datang menengok. Padahal, bukan soal mereka bawa bantuan atau tidak,
tapi
> kehadiran mereka setidaknya jadi obat. Ketika kepala terasa pecah dengan
> beban berat, niscaya akan plong dengan bercerita kepada seseorang.
Di sisi
> lain, peristiwa banjir itu juga mengubah cara saya bercermin diri.
>
> Allah menunjukkan—dengan sederet sms di atas – bahwa definisi
"sahabat" yang
> lain yang juga saya pegang bahwa adalah "mereka yang akrab secara
fisik atau
> kerap bertatap muka" adalah tidak cukup untuk menggambarkan
keragaman makna
> persahabatan. Para pengirim sms tersebut adalah sahabat-sahabat
*online* di
> sebuah milis. Ketika kepala saya penat dan hati remuk dan solusi terbaik
> adalah bercerita – salah satunya melalui postingan tulisan di milis –
> resonansi energi tersebut menggetarkan dawai empati kalbu mereka.
Padahal
> seorang kawan pernah berujar,"Tak ada yang tahu apakah yang berada
di depan
> komputer saat *online* itu seekor anjing atau bukan." Artinya,
dibutuhkan
> rasa kepercayaan yang luar biasa besar dari para sahabat "baru" tersebut
> untuk mengirimkan bantuan kepada saya ketimbang para sahabat "lama" saya
> yang entah ada di mana saat itu – yang sebagian bahkan sudah saya kenal
> bertahun-tahun.
>
> Air mata saya menetes waktu itu.
>
>
>
> *Muhasabah*
>
> Dalam suatu titik waktu dalam hidup saya, saya pernah merenungi
bagaimana
> saya memperlakukan orang-orang di sekitar saya – keluarga, teman dan
> sahabat. Dalam sebuah daftar yang saya buat, saya mendapati saya adalah
> orang yang tidak pandai merawat sahabat. Apatah lagi mengucapkan tahniah
> ultah, memenuhi undangan pernikahan mereka kadang saya bisa tak datang
> dengan alasan sepele, semisal "tak enak badan" atau 5A (*Afwan, Akh,
Ana Ada
> Acara*). Kelahiran anak, bagi saya yang waktu itu masih melajang,
adalah hal
> biasa, teramat biasa. Orang lahir dan mati, itu *sunnatullah*. Maka
saya tak
> merasa berdosa ketika hanya bisa ucapkan tahniah untuk sang sahabat yang
> sedang berbahagia itu. Dan saya terkadang bingung ketika mendapati orang
> yang *rungsing* hanya karena belum sempat menjenguk tetangganya yang
> melahirkan. *Hey, is it a problem?*
>
> Mungkin itu bukan masalah jika kita tak memandangnya sebagai
masalah. Tapi,
> saat kita menganggapnya bukan masalah, sebenarnya itulah masalah
sebenarnya.
> Saat tampak noda hitam di wajah kita saat becermin bisa jadi bukan
masalah
> di wajah kita tetapi masalah di cermin yang memang bernoda hitam.
>
> "Berjalanlah dengan sepatu orang lain" mengandung makna empati terhadap
> orang lain. Pepatah Indian kuno di awal tulisan ini mengisyaratkan bahwa
> "perjalanan dua purnama" dengan "*moccasin* (alas kaki suku Indian)" pun
> baru hanya menempatkan kita pada posisi "memahami". Apatah lagi,
tentu butuh
> energi lebih, untuk mendorongnya ke arah "membantu". Di sini dimensi
waktu
> turut berperan. Maka, dalam konteks itulah – dalam sebuah
*muhasabah* atau
> renungan—saya kian takjub dengan para sahabat baru saya dengan
sedekahnya.
> Sebab kami belumlah saling kenal dalam kurun waktu kurang dari setahun.
> Dalam kesempatan yang sama, saya menjadi semakin malu dengan diri saya
> sendiri, yang kerap abai dengan orang lain.
>
> Ketika istri saya melahirkan anak pertama kami, terasa betul di hati
saya
> bahwa saya dulu tidak memperlakukan kerabat atau para sahabat – yang
mereka
> atau para istrinya melahirkan lebih dulu – dengan perlakuan yang "adil".
> Ketika saya sakit batuk darah dua pekan terakhir, nyatalah bahwa
keberadaan
> sahabat itu diperlukan. Ini bukan soal finansial. Tapi soal keberadaan
> orang-orang yang memberi kita hidup – dalam artian semangat dan
keceriaan
> menjalani hari.
>
> *"Laugh, and the world laugh with you. Weep, and you will weep
> alone."*Tertawalah, maka dunia tertawa bersamamu. Menangislah, dan
> kamu akan
> menangis sendirian. Perkataan Ella Wheeler Wincox tersebut mengena
betul.
> Tapi kini, saya bersyukur dapat memandangnya dari sudut yang lebih
leluasa.
>
>
>
> *Give, and it will be given to you*
>
> Ikhlas memberi, tak peduli apa pun balasan yang akan
diterima
> (apakah pahit, manis atau masam), itu intinya dalam merawat sahabat.
Toh,
> Tuhan Maha Tahu akan hamba-Nya. Ia takkan pernah alpa akan, hatta,
setitik
> pun debu di penjuru bumi. Betul, bahwa sahabat adalah orang yang,
terutama,
> datang di waktu duka. Betul, bahwa saat duka, cenderung kita hanya akan
> mendapati diri kita seorang diri. Apalagi jika saat menangis itu,
tampang
> kita menjadi jelek sekali. Tak enak dilihat. Tapi hidup ini bukan
soal betul
> atau salah seperti soal ujian di sekolah. Ia adalah kumpulan hikmah,
yang
> terkadang perlu dilihat dari sudut yang lebih kaya dengan kelapangan
hati
> karena sifatnya yang misterius.
>
> Maka saya putuskan untuk berdamai dengan masa lalu, dengan
> sebuah perspektif baru.
>
> "Lam, gue mau tes TOEFL nih. Bantuin ya!" Lagi-lagi sang
> "sahabat" meminta bantuan via sms.
>
> OK. Itu yang saya ketik.
>
> Ia pun menelpon saya dan berkonsultasi panjang lebar. Hingga
> sekitar sejam. Di tengah malam itu.
>
> Perdamaian memang indah, seperti tertera di
spanduk-spanduk yang
> dipasang TNI pada sekitar 1999. Meski belum tentu memenuhi hasrat
> keadilan. Tapi,
> inilah hidup. *C'est la vie*. *Enjoy aja!* (kata sebuah iklan rokok
di TV).
>
>
>
> *Jakarta, 9 Februari 2009*
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> --
> -"Let's dream together!"
> Nursalam AR
> Translator, Writer & Writing Trainer
> 0813-10040723
> E-mail: salam.translator@...
> YM ID: nursalam_ar
> http://nursalam.multiply.com
>

8a.

Re: Fw: UNDANGAN PERNIKAHAN

Posted by: "Agung Argopo" gopo_alhusna@yahoo.co.id   gopo_alhusna

Tue Feb 10, 2009 1:12 am (PST)

Mana neh undangannya kagak ada? Jangan dilampiri dong, mbak? Kali aja saya mau dateng heheheh

Yahoo! Toolbar kini dilengkapi Anti-Virus dan Anti-Adware gratis.
Download Yahoo! Toolbar sekarang.
http://id.toolbar.yahoo.com
9.

[Catatan Kaki]ingin tanya

Posted by: "birupink.vana" birupink.vana@yahoo.com   birupink.vana

Tue Feb 10, 2009 1:46 am (PST)

asslm..
haloo
saya mau tanya,
kalau mau kirim karangan ttg MOMS yg diselenggarakan itu hrs jd
anggota milis ini?
saya kan udah jadi anggotanya,
berarti saya tinggal kirim ke redaksi penyelenggara lomba tsb ya?

Recent Activity
Visit Your Group
Share Photos

Put your favorite

photos and

more online.

Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Find helpful tips

for Moderators

on the Yahoo!

Groups team blog.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web

Tidak ada komentar: