Messages In This Digest (1 Message)
- 1.
- [keluarga] Belajar Menjadi Ayah From: Nursalam AR
Message
- 1.
-
[keluarga] Belajar Menjadi Ayah
Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com
Sat Feb 14, 2009 2:17 am (PST)
*Belajar Menjadi Ayah*
*Oleh Nursalam AR*
*"Bakat terbentuk dalam kesunyian, watak terpupuk dalam riak besar
kehidupan." (Goethe)*
Menjadi ayah, bagiku, adalah kegembiraan dan juga salah satu riak besar
kehidupan. Kegembiraan akan datangnya sang buah cinta dan darah daging
adalah hal wajar. Namun pada saat yang sama riak besar kehidupan mungkin
tidak selalu menyertai perjuangan setiap calon ayah. Buatku ini sebuah ujian
kehidupan untuk menggembleng watak. Barangkali aku patut bersyukur
semestinya. Karena sepertinya, setelah sepekan pertama menjadi ayah, Allah
memberikan gelombang riak besar jelang kelahiran bayiku sebagai ujian agar
kuat bertahan dalam gelombang-gelombang besar berikutnya. *Pre-test*,
barangkali maksud-Nya demikian.
Jelang kelahiran bayiku, permohonan kasbon sebulan gaji ditolak *boss*.
Padahal sudah sejak sebulan sebelumnya ia sudah mengulur-ulur dengan
berbagai alasan seperti kondisi keuangan kantor yang tidak memungkinkan dll
kendati aku tahu betul kegemarannya *dugem* yang menghabiskan jutaan
rupiah tiap malam. Tapi saat kedatanganku ke ruangannya terakhir kali itu,
sang *boss* mungkin tidak menyadari bahwa sedetik setelah penolakannya
aku akan mengambil keputusan keluar dari kantor (pada saat yang tepat).
Kembali menjadi "orang bebas" seperti tiga tahun sebelumnya.
Menjelang pernikahanku setahun lalu pada 2007, demi memenuhi keinginan ibu
mertua, aku memang bekerja kantoran. Masih sebagai penerjemah *legal English
* (dokumen hukum dan bisnis) di agensi atau biro penerjemahan. Ini juga
berpindah-pindah. Dari agensi penerjemahan di Jakarta Timur aku hanya
bertahan lima bulan. Ada persoalan ketidakberesan gaji dan perlakuan yang
tidak manusiawi. Setelah pindah ke biro yang lain yang ini karena sang *
boss* adalah sahabat lamaku dan ada beberapa kompromi termasuk gaji, di mana
aku lebih mengalah, dibuat aku juga tak bertahan lama.
Per Desember 2008 aku resmi berhenti bekerja kantoran. Membuka bisnis agensi
penerjemahan sendiri. Meski, dilihat dari kesiapan infrastruktur dan modal,
lebih cocok untuk disebut "penerjemah *freelance*". Bayangkan saja kantor
agensi penerjemahan tanpa fasilitas printer, koneksi internet, faksimili dan
sambungan telepon rumah. Ruangannya pun menyatu dengan sebuah kamar yang
aku, istri dan anakku tempati yang menumpang pada rumah ibu mertuaku.
Lebih persis lagi, kantorku adalah seperangkat komputer yang,
alhamdulillah, sudah lunas -- kreditan. *That's it!*
Gila! Mungkin ada yang menyebut demikian. Termasuk beberapa kawan dan
kerabat yang menyayangkan mengapa aku berhenti bekerja justru di saat baru
memiliki anak. Sementara istriku juga sudah berhenti bekerja sejak
mengandung dua bulan. Tapi aku yakin Allah Maha Pemurah. Bagi manusia, tanpa
pandang kualitas ibadah atau agamanya, pasti ada rejeki masing-masing asal
berani menjemput. Termasuk, yang aku yakini juga, ada bagian rejeki yang
sudah dicatatkan-Nya di *lauhul Mahfuz* di atas sana untuk anakku yang kini
sedang lucu-lucunya di usianya yang tiga bulan.
Ya, aku sedang belajar menjadi ayah. Pelajaran pertama yang kucatat, saat
permohonan kasbonku ditolak *boss* yang notabene sahabat sendiri, adalah *hanya
Allah yang sesungguhnya dan selayaknya menjadi tempat bergantung*. Sedekat
apapun manusia, mereka punya keterbatasan dan tak bisa selalu diharapkan.
Ketika kasbon ditolak sementara dokter sudah menvonis istriku harus
dioperasi caesar beberapa pekan lagi, datang tawaran dua order besar yang
terbilang jarang aku dapat--kepadaku. Aku ajukan kesanggupan dan minta
klien-klienku tersebut setor uang muka (DP, *down payment*) terlebih dulu.
Kendati itu harus aku tebus dengan bekerja dobel keras karena selepas *
ngantor* aku harus begadang hingga dini hari untuk menyelesaikan kedua order
tersebut hingga sebulan lebih. Tapi dengan itulah aku dapat mencukupi biaya
operasi caesar istriku. Alhamdulillah, anakku lahir dengan selamat.
Laki-laki. Muhammad Alham Navid namanya.
Empat puluh hari pertama bagi seorang ayah baru sepertiku sungguh tak
terlupakan. Sementara berjuang bermalam-malam menyelesaikan dua order
terjemahan tersebut, aku juga harus membantu istriku mengganti popok bayi
atau menidurkannya. Frekuensi menyusui dan buang air (kecil dan besar) bayi
dalam 40 hari pertama sungguh dahsyat. Rata-rata nyaris seperempat jam
sekali. Alhasil, meski sudah dibantu ibu mertua dalam merawat bayi kami, aku
ambruk dan sempat jatuh sakit. Cukup parah hingga seminggu tidak *ngantor*.
Dan aku pikir itulah saat yang tepat untuk *resign*, berhenti bekerja.
Setelah agak membaik, aku pamit baik-baik dari kantor.
Rasanya sudah cukup aku memperkaya sahabatku itu -- hingga tubuhku bobrok
-- yang tak peduli dengan kondisiku yang notabene pegawainya sendiri. Di
kantorku tersebut hanya ada dua orang tenaga penerjemah termasuk aku.
Sehingga aku tahu betul semestinya posisi tawar kami. Namun hidup memang
keras. Dan barangkali itu yang harus dijalani.
Aku bukan *super daddy*, ayah super dan juga tak ingin menjadi seperti itu.
Aku hanya ingin jadi ayah yang baik, yang mampu memberikan kehidupan dan
penghidupan yang layak bagi anaknya. Jalan terbaik, yang ada di pikiranku
saat itu, adalah mencoba mandiri, berusaha sendiri. Jatuh bangun, aku pikir
sudah biasa, niscaya akan mendewasakanku.
Tak urung aku *shock* juga ketika riak-riak besar yang lain menghantam. Dua
klienku yang sebelumnya itu -- ketika pekerjaan sudah aku serahkan -- lari
dengan meninggalkan sisa tagihan tak terbayar. Jumlahnya mencapai enam
setengah juta rupiah. Lebih terpukul lagi ketika, saat malam berhujan lebat
dan dingin menyengat, dada kiriku nyeri dan aku terbatuk-batuk hebat di
kamar mandi. Ketika aku meludah, ludahku merah seperti bekas ludah nenekku
dahulu yang suka makan sirih. Merah darah. Berkali-kali aku meludah, hal
yang sama berulang. Juga di hari-hari berikutnya. *Ya Allah, cobaan apalagi
ini?*
Bukan itu saja. Sebagian kawan tak percaya waktu aku bilang hidup satu atap
bersama mertua tidaklah mudah. Mereka mengajukan argumentasi soal
penghematan biaya hidup dan kemudahan saat mengurus anak yang masih bayi.
Aku tertawa. Aku dan kawan-kawan itu tak punya definisi yang sama soal
"tinggal di wisma mertua indah". Setiap definisi, seumum apapun cakupannya,
tentu tak sanggup mencakup sesuatu yang di luar kelaziman. Nah, itulah yang
aku jalani. Buktinya barangkali bisa ditanyakan pada mas kawin pernikahan
kami yang rajin "disekolahkan" di pegadaian. Barangkali saat ini mereka
sudah pintar mengajari kami aku dan istriku soal perjuangan hidup.
Aku selalu menghibur istriku, setelah sholat malam dan diberbagai
kesempatan, bahwa roda senantiasa akan berputar asalkan kita tak kenal lelah
untuk memutarnya. Sebagai ayah, aku belajar mempersiapkan mental baja agar
anakku nanti tak lemah. Sepeninggalku, jika sampai waktuku, aku tak ingin
meninggalkan keturunan yang lemah, yang hanya bergantung pada orangtua
bahkan hingga mereka dewasa dan saatnya menikah. Bukankah anak singa takkan
lahir dari seekor kambing?
Sesungguhnya penghiburan terutama bagi kami yang penat dengan jungkir
balik kehidupan terutama pasca aku berhenti *ngantor* adalah sang putera
tersayang, Alham. Beratnya yang kini mencapai lima kilo lebih dengan pipi
gembul dan perawakan jangkung membuatnya tampak lebih besar dari bayi-bayi
seusianya. Ocehannya yang banyak, terutama selepas disusui, kerap membuatku
sadar bahwa banyak hal yang patut disyukuri ketimbang disesali dalam hidup
ini. Termasuk tawaran pemberian kereta dorong bayi yang menurut kami cukup
mahal dari seorang sahabat, yang sayangnya tak jua datang. Yah, apapun,
aku hargai niat baiknya.
*"Mencintai seseorang akan membuatmu berani, dan dicintai seseorang akan
membuatmu kuat,"* demikian kata Lao Tze, sang filsuf dari Tiongkok kuno. Itu
pelajaran kedua bagiku sebagai ayah. Berani berhutang, bentuk praktisnya.
Saat orderan terjemahan sepi, sementara aku mengisi waktu dengan menulis
untuk koran, dan kami berhari-hari bertahan hidup dengan mie instan plus
telur dan tak jarang hanya nasi goreng tanpa lauk tanpa mertua dan kakak
ipar tahu aku tak tega membiarkan anakku yang masih menyusui hanya dapat
asupan ASI yang alakadarnya. Selain menerjemahkan dan menulis, aktivitasku
sebagai *trainer* penulisan untuk anak-anak *dhuafa* sama sekali dan
memang bukan tujuan tidak dapat diandalkan untuk tambahan pendapatan.
Solusi kuno yang termudah, sejak awal peradaban manusia, untuk kekurangan
pendapatan adalah berhutang meski salah satu hadis Rasullulah mengatakan
bahwa itu sebagian dari tanda-tanda kehinaan.
Mata anakku yang bening dan besar saat menatapku, kerapkali saat aku gendong
untuk menidurkan atau membuatnya bersendawa, seakan bertanya kepadaku,"Abi
ngutang lagi ya?"
"Iya nih," jawabku dengan mimik dibuat lucu untuk mencandainya. Biasanya ia
yang murah senyum akan tertawa terkekeh-kekeh. Terlebih lagi jika aku dengan
gokil menirukan gaya tangannya yang khas seperti gaya orang menyetir mobil
atau seperti gaya Superman terbang dengan satu tangan teracung lurus ke
depan.
"Nanti Alham sekolah yang tinggi ya. Biar jadi orang kuat," pesanku. Entah
mengerti atau tidak, ia tersenyum lebar. Tampak lucu menggemaskan dengan
penampakan gusi kosong dan binaran mata kelerengnya. Semoga saja harapan
ayahnya ini terpatri di alam bawah sadarnya kelak saat dewasa.
Ya, menjadi orang kuat dalam pengertian fisik, keimanan, ilmu, finansial
dan kedudukan adalah syarat seorang pejuang, nama "Alham" adalah salah
satu nama penulis-pejuang yang aku kagumi, dalam apapun bentuk perjuangan
yang ditekuninya.
Jika ada tangga menuju kesuksesan di masa depan yang harus didaki anakku ini
maka aku rela jadi anak tangga terbawah untuk ia pijak menuju pijakan
berikutnya. Ketika banyak orang maupun tetangga memuji-mujinya sebagai anak
yang "pintar" atau "responsif", aku termimpi-mimpi Alham berkuliah di luar
negeri. *Ah, mimpi yang indah*. Sayang aku lekas terbangun di dini hari itu.
Entahlah apakah ini juga obsesi masa laluku yang tak sampai ketika seorang
dosen menawariku beasiswa S-2 ke Jerman bahkan ketika aku masih di semester
lima. Sayang S-1 pun tak mampu aku tamatkan. Kekurangan biaya, alasannya.
Klise memang.
Belajar menjadi ayah memang perlu waktu panjang. Aku rasa aku masih di tahap
teramat dini di usia anakku belumlah genap setahun. Namun pelajaran ketiga
yang utama yang aku dapatkan di tiga bulan menjadi ayah adalah: *jika ada
kemauan pasti ada jalan*. Dengan kondisi menjadi ayah dan suami
berpenghasilan tak menentu yang pernah tertipu orang, terlilit hutang dan
kehabisan tabungan yang merupakan ujian Allah agar emas terpisah dari
loyang aku belajar mengendalikan emosi, lebih menghargai istri dan belajar
mensyukuri yang ada serta lebih gesit mengejar peluang.
Di titik inilah aku merasakan dengan makna sejati-jatinya bahwa pernikahan
termasuk keberadaan anak --mendewasakan orang. Saat beberapa teman lajang
curhat kepadaku tentang susahnya hidup melajang dan mereka berangan-angan
tentang (melulu) indahnya pernikahan, aku tersenyum. Aku hanya berdoa semoga
kelak, dengan harapan semuluk itu, mereka tidak menyesal menikah. Karena
sebenarnya ungkapan lama "sengsara membawa nikmat" dari Sutan Sati penulis
Melayu angkatan Balai Pustaka dalam konteks pernikahan dapat
terbolak-balik letaknya. Dan cinta tak selalu semakna dengan bisikan mesra
atau tatapan sayang. Cinta sejati lebih merupakan perjuangan yang tak jarang
berlumur peluh dan air mata.
*Jakarta, 14 Februari 2009*
* *
--
-"Let's dream together!"
Nursalam AR
Translator, Writer & Writing Trainer
0813-10040723
E-mail: salam.translator@gmail.com
YM ID: nursalam_ar
http://nursalam.multiply. com
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar