Minggu, 15 Februari 2009

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2526

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (11 Messages)

Messages

1.

[Ruang Baca] Ulysses Moore, Pintu Waktu

Posted by: "Rini Agus Hadiyono" rinurbad@yahoo.com   rinurbad

Sat Feb 14, 2009 4:04 am (PST)

Judul asli: Ulysses Moore La Porta Del Tempo

Penulis: Pierdomenico Baccalario

Penerjemah: Damaring Tyas Wulandari, S.Si.

Ilustrator: Iacopo Bruno

Penerbit: Erlangga for Kids

Tebal: 222 halaman Hardcover

Cetakan: I, September 2006

Skor: 8

Argo Manor bertutur:Aku berada di Kilmore Cove, agak terpencil dari
rumah lainnya. Mendiang pemilikku, Ulysses Moore, mengizinkan
Nestor pelayannya menyewakanku pada orang lain. Dengan syarat
keluarga beranggotakan minimal dua orang anak.

Tuan dan Nyonya Covenant terpesona pada penampilan fisikku,
menganggap aku merupakan tempat yang cocok untuk anak kembar
mereka: Julia dan Jason. Julia yang menyukai keriuhan kota besar,
toh tak dapat menampik kemenarikanku walau ia kerap tak
sependapat dengan Jason yang dianggapnya berkhayal.

Jason bocah yang peka, berminat pada hantu dan sejenisnya. Ia
menduga ada hal serupa di dalamku. Namun seperti dugaan Nestor,
anak-anak akan bersenang-senang. Anak-anak akan berpetualang.
Tak menghiraukan cerita misterius tentang tuanku yang tak pernah
menginjak tanah di luar selama empat puluh tahun. Bahkan mereka
terpikat oleh kisah itu. Oleh kematian istrinya yang tiba-tiba. Oleh
suasana mencekam di sini. Oleh pintu yang selalu mengundang untuk
dibuka, dan pasti akan ditemukan bagaimana pun rapatnya.

Bagaimana kau tak akan terpesona pada kisahku, Sobat Petualang?
Aku dituliskan dalam sebuah buku yang kokoh, dengan huruf tak
menyiksa mata, nyaman dilalap paragraf demi paragraf. Memang ada
kekurangan di sana-sini, misalnya terjemahan 'teman-teman' yang
lebih cocok jika dibiarkan apa adanya (Guys, agaknya itu istilah
sebenarnya).

Ilustrasi di halaman-halaman yang memajang ceritaku bukan semata
ornamen. Pernahkah kau lihat goresan yang begitu menyerupai
coretan tangan? Sketsa hitam putih yang tampak nyata? Wajah-wajah
yang dibingkai kartu pos dan tulisan sambung di dekatnya?

Kau akan berkenalan juga dengan Rick. Julia dan Jason berada di sini
tanpa pemimpin, karena Nestor sudah tua dan orangtua mereka harus
pergi untuk sementara waktu. Rick sudah lama ingin tahu apa yang
ada di setiap sudutku. Kau akan lihat kecerdasannya kala bersentuhan
dengan buku.

Tidakkah kau ingin menyertai mereka memecahkan sebuah rahasia?
Tidakkah kau ingin menengok beberapa halaman sebuah kamus tua?
Tidakkah kau ingin tahu mengapa seorang wanita bernama Oblivia
menghendaki aku dengan begitu ngototnya?

2a.

Re: (Ruang Tamu) salam kenal...

Posted by: "ukhti hazimah" ukhtihazimah@yahoo.com   ukhtihazimah

Sat Feb 14, 2009 5:26 am (PST)

ada pertanyaan??Ada, tertarik kah ikut lomba esai Amazing Moms ;)
Salam kenal,:sinta:

Kamu suka bikin coretan tulisan kan? Coba tuangkan kreasimu dengan ikutan lomba esai "Amazing Moms". Info lebih lanjut klik aja di http://www.sekolah-kehidupan.com/index.php?suser=&sId=&act=agenda&vId=5
^_^

"Keindahan selalu hadir saat manusia berpikir positif"

BloG aKu & buKu
http://jendelakumenatapdunia.blogspot.com

BloG RaMe-RaMe
http://sinthionk.multiply.com

BloG PenGuMPuL CataTaN
http://sinthionk.rezaervani.com

YM : SINTHIONK

--- On Fri, 2/13/09, aditia Ginantaka <adhiet_krani@yahoo.co.id> wrote:
From: aditia Ginantaka <adhiet_krani@yahoo.co.id>
Subject: [sekolah-kehidupan] (Ruang Tamu) salam kenal...
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Friday, February 13, 2009, 10:09 AM

assalamu'alaikum

hallo..rekan- rekan...karena saya baru gabung di sini...ijinkan untuk

memperkenalkan diri:

nama:aditia ginantaka

asal:majenang, Cilacap

status:mahasiswa IPB jurusan teknologi industri pertanian

usia: 22 tahun

ada pertanyaan??

wasalam















2b.

Re: (Ruang Tamu) salam kenal...

Posted by: "magnifico_99" magnifico_99@yahoo.co.id   magnifico_99

Sat Feb 14, 2009 5:58 am (PST)

wa'alaikumsalam

salam kenal juga mbak,
saya Budi, murid yang agak 'bandel'. jarang masuk kelas, cuman sukanya
ngintip dari balik kaca monitor...he..hee

3a.

Re: [keluarga] Belajar Menjadi Ayah

Posted by: "magnifico_99" magnifico_99@yahoo.co.id   magnifico_99

Sat Feb 14, 2009 6:25 am (PST)

Subhanalloh...
yang tabah ya kang,
perjuanganya luar biasa

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Nursalam AR
<nursalam.ar@...> wrote:
>
> *Belajar Menjadi Ayah*
>
> *Oleh Nursalam AR*
>
>
>
> *"Bakat terbentuk dalam kesunyian, watak terpupuk dalam riak besar
> kehidupan." (Goethe)*
>
> Menjadi ayah, bagiku, adalah kegembiraan dan juga salah satu riak besar
> kehidupan. Kegembiraan akan datangnya sang buah cinta dan darah daging
> adalah hal wajar. Namun pada saat yang sama riak besar kehidupan mungkin
> tidak selalu menyertai perjuangan setiap calon ayah. Buatku ini
sebuah ujian
> kehidupan untuk menggembleng watak. Barangkali aku patut bersyukur
> semestinya. Karena sepertinya, setelah sepekan pertama menjadi ayah,
Allah
> memberikan gelombang riak besar jelang kelahiran bayiku sebagai
ujian agar
> kuat bertahan dalam gelombang-gelombang besar berikutnya. *Pre-test*,
> barangkali maksud-Nya demikian.
>
> Jelang kelahiran bayiku, permohonan kasbon sebulan gaji ditolak *boss*.
> Padahal sudah sejak sebulan sebelumnya ia sudah mengulur-ulur dengan
> berbagai alasan seperti kondisi keuangan kantor yang tidak
memungkinkan dll
> – kendati aku tahu betul kegemarannya *dugem* yang menghabiskan jutaan
> rupiah tiap malam. Tapi saat kedatanganku ke ruangannya terakhir
kali itu,
> sang *boss* mungkin tidak menyadari bahwa – sedetik setelah
penolakannya –
> aku akan mengambil keputusan keluar dari kantor (pada saat yang tepat).
> Kembali menjadi "orang bebas" seperti tiga tahun sebelumnya.
>
> Menjelang pernikahanku setahun lalu pada 2007, demi memenuhi
keinginan ibu
> mertua, aku memang bekerja kantoran. Masih sebagai penerjemah *legal
English
> * (dokumen hukum dan bisnis) di agensi atau biro penerjemahan. Ini juga
> berpindah-pindah. Dari agensi penerjemahan di Jakarta Timur aku hanya
> bertahan lima bulan. Ada persoalan ketidakberesan gaji dan perlakuan
yang
> tidak manusiawi. Setelah pindah ke biro yang lain – yang ini karena
sang *
> boss* adalah sahabat lamaku dan ada beberapa kompromi termasuk gaji,
di mana
> aku lebih mengalah, dibuat – aku juga tak bertahan lama.
>
> Per Desember 2008 aku resmi berhenti bekerja kantoran. Membuka
bisnis agensi
> penerjemahan sendiri. Meski, dilihat dari kesiapan infrastruktur dan
modal,
> lebih cocok untuk disebut "penerjemah *freelance*". Bayangkan saja
kantor
> agensi penerjemahan tanpa fasilitas printer, koneksi internet,
faksimili dan
> sambungan telepon rumah. Ruangannya pun menyatu dengan sebuah kamar
– yang
> aku, istri dan anakku tempati – yang menumpang pada rumah ibu mertuaku.
> Lebih persis lagi, kantorku adalah seperangkat komputer – yang,
> alhamdulillah, sudah lunas -- kreditan. *That's it!*
>
> Gila! Mungkin ada yang menyebut demikian. Termasuk beberapa kawan dan
> kerabat yang menyayangkan mengapa aku berhenti bekerja justru di
saat baru
> memiliki anak. Sementara istriku juga sudah berhenti bekerja sejak
> mengandung dua bulan. Tapi aku yakin Allah Maha Pemurah. Bagi
manusia, tanpa
> pandang kualitas ibadah atau agamanya, pasti ada rejeki
masing-masing asal
> berani menjemput. Termasuk, yang aku yakini juga, ada bagian rejeki yang
> sudah dicatatkan-Nya di *lauhul Mahfuz* di atas sana untuk anakku
yang kini
> sedang lucu-lucunya di usianya yang tiga bulan.
>
> Ya, aku sedang belajar menjadi ayah. Pelajaran pertama yang kucatat,
saat
> permohonan kasbonku ditolak *boss* yang notabene sahabat sendiri,
adalah *hanya
> Allah yang sesungguhnya dan selayaknya menjadi tempat bergantung*.
Sedekat
> apapun manusia, mereka punya keterbatasan dan tak bisa selalu
diharapkan.
>
> Ketika kasbon ditolak sementara dokter sudah menvonis istriku harus
> dioperasi caesar beberapa pekan lagi, datang tawaran dua order besar
– yang
> terbilang jarang aku dapat--kepadaku. Aku ajukan kesanggupan dan minta
> klien-klienku tersebut setor uang muka (DP, *down payment*) terlebih
dulu.
> Kendati itu harus aku tebus dengan bekerja dobel keras karena selepas *
> ngantor* aku harus begadang hingga dini hari untuk menyelesaikan
kedua order
> tersebut hingga sebulan lebih. Tapi dengan itulah aku dapat
mencukupi biaya
> operasi caesar istriku. Alhamdulillah, anakku lahir dengan selamat.
> Laki-laki. Muhammad Alham Navid namanya.
>
> Empat puluh hari pertama bagi seorang ayah baru sepertiku sungguh tak
> terlupakan. Sementara berjuang bermalam-malam menyelesaikan dua order
> terjemahan tersebut, aku juga harus membantu istriku mengganti popok
bayi
> atau menidurkannya. Frekuensi menyusui dan buang air (kecil dan
besar) bayi
> dalam 40 hari pertama sungguh dahsyat. Rata-rata nyaris seperempat jam
> sekali. Alhasil, meski sudah dibantu ibu mertua dalam merawat bayi
kami, aku
> ambruk dan sempat jatuh sakit. Cukup parah hingga seminggu tidak
*ngantor*.
> Dan aku pikir itulah saat yang tepat untuk *resign*, berhenti bekerja.
> Setelah agak membaik, aku pamit baik-baik dari kantor.
>
> Rasanya sudah cukup aku memperkaya sahabatku itu -- hingga tubuhku
bobrok
> -- yang tak peduli dengan kondisiku yang notabene pegawainya sendiri. Di
> kantorku tersebut hanya ada dua orang tenaga penerjemah termasuk aku.
> Sehingga aku tahu betul – semestinya – posisi tawar kami. Namun
hidup memang
> keras. Dan barangkali itu yang harus dijalani.
>
> Aku bukan *super daddy*, ayah super dan juga tak ingin menjadi
seperti itu.
> Aku hanya ingin jadi ayah yang baik, yang mampu memberikan kehidupan dan
> penghidupan yang layak bagi anaknya. Jalan terbaik, yang ada di
pikiranku
> saat itu, adalah mencoba mandiri, berusaha sendiri. Jatuh bangun,
aku pikir
> sudah biasa, niscaya akan mendewasakanku.
>
> Tak urung aku *shock* juga ketika riak-riak besar yang lain
menghantam. Dua
> klienku yang sebelumnya itu -- ketika pekerjaan sudah aku serahkan
-- lari
> dengan meninggalkan sisa tagihan tak terbayar. Jumlahnya mencapai enam
> setengah juta rupiah. Lebih terpukul lagi ketika, saat malam
berhujan lebat
> dan dingin menyengat, dada kiriku nyeri dan aku terbatuk-batuk hebat di
> kamar mandi. Ketika aku meludah, ludahku merah seperti bekas ludah
nenekku
> dahulu yang suka makan sirih. Merah darah. Berkali-kali aku meludah, hal
> yang sama berulang. Juga di hari-hari berikutnya. *Ya Allah, cobaan
apalagi
> ini?*
>
> Bukan itu saja. Sebagian kawan tak percaya waktu aku bilang hidup
satu atap
> bersama mertua tidaklah mudah. Mereka mengajukan argumentasi soal
> penghematan biaya hidup dan kemudahan saat mengurus anak yang masih
bayi.
> Aku tertawa. Aku dan kawan-kawan itu tak punya definisi yang sama soal
> "tinggal di wisma mertua indah". Setiap definisi, seumum apapun
cakupannya,
> tentu tak sanggup mencakup sesuatu yang di luar kelaziman. Nah,
itulah yang
> aku jalani. Buktinya barangkali bisa ditanyakan pada mas kawin
pernikahan
> kami yang rajin "disekolahkan" di pegadaian. Barangkali saat ini mereka
> sudah pintar mengajari kami – aku dan istriku – soal perjuangan hidup.
>
> Aku selalu menghibur istriku, setelah sholat malam dan diberbagai
> kesempatan, bahwa roda senantiasa akan berputar asalkan kita tak
kenal lelah
> untuk memutarnya. Sebagai ayah, aku belajar mempersiapkan mental
baja agar
> anakku nanti tak lemah. Sepeninggalku, jika sampai waktuku, aku tak
ingin
> meninggalkan keturunan yang lemah, yang hanya bergantung pada orangtua
> bahkan hingga mereka dewasa dan saatnya menikah. Bukankah anak singa
takkan
> lahir dari seekor kambing?
>
> Sesungguhnya penghiburan terutama bagi kami – yang penat dengan jungkir
> balik kehidupan terutama pasca aku berhenti *ngantor* – adalah sang
putera
> tersayang, Alham. Beratnya yang kini mencapai lima kilo lebih dengan
pipi
> gembul dan perawakan jangkung membuatnya tampak lebih besar dari
bayi-bayi
> seusianya. Ocehannya yang banyak, terutama selepas disusui, kerap
membuatku
> sadar bahwa banyak hal yang patut disyukuri ketimbang disesali dalam
hidup
> ini. Termasuk tawaran pemberian kereta dorong bayi – yang menurut
kami cukup
> mahal – dari seorang sahabat, yang sayangnya tak jua datang. Yah,
apapun,
> aku hargai niat baiknya.
>
> *"Mencintai seseorang akan membuatmu berani, dan dicintai seseorang akan
> membuatmu kuat,"* demikian kata Lao Tze, sang filsuf dari Tiongkok
kuno. Itu
> pelajaran kedua bagiku sebagai ayah. Berani berhutang, bentuk
praktisnya.
>
> Saat orderan terjemahan sepi, sementara aku mengisi waktu dengan menulis
> untuk koran, dan kami berhari-hari bertahan hidup dengan mie instan plus
> telur dan tak jarang hanya nasi goreng tanpa lauk – tanpa mertua dan
kakak
> ipar tahu – aku tak tega membiarkan anakku yang masih menyusui hanya
dapat
> asupan ASI yang alakadarnya. Selain menerjemahkan dan menulis,
aktivitasku
> sebagai *trainer* penulisan untuk anak-anak *dhuafa* sama sekali – dan
> memang bukan tujuan – tidak dapat diandalkan untuk tambahan pendapatan.
> Solusi kuno yang termudah, sejak awal peradaban manusia, untuk
kekurangan
> pendapatan adalah berhutang meski salah satu hadis Rasullulah mengatakan
> bahwa itu sebagian dari tanda-tanda kehinaan.
>
> Mata anakku yang bening dan besar saat menatapku, kerapkali saat aku
gendong
> untuk menidurkan atau membuatnya bersendawa, seakan bertanya
kepadaku,"Abi
> ngutang lagi ya?"
>
> "Iya nih," jawabku dengan mimik dibuat lucu untuk mencandainya.
Biasanya ia
> yang murah senyum akan tertawa terkekeh-kekeh. Terlebih lagi jika
aku dengan
> gokil menirukan gaya tangannya yang khas seperti gaya orang menyetir
mobil
> atau seperti gaya Superman terbang – dengan satu tangan teracung
lurus ke
> depan.
>
> "Nanti Alham sekolah yang tinggi ya. Biar jadi orang kuat," pesanku.
Entah
> mengerti atau tidak, ia tersenyum lebar. Tampak lucu menggemaskan dengan
> penampakan gusi kosong dan binaran mata kelerengnya. Semoga saja harapan
> ayahnya ini terpatri di alam bawah sadarnya kelak saat dewasa.
>
> Ya, menjadi orang kuat – dalam pengertian fisik, keimanan, ilmu,
finansial
> dan kedudukan – adalah syarat seorang pejuang, nama "Alham" adalah salah
> satu nama penulis-pejuang yang aku kagumi, dalam apapun bentuk
perjuangan
> yang ditekuninya.
>
> Jika ada tangga menuju kesuksesan di masa depan yang harus didaki
anakku ini
> maka aku rela jadi anak tangga terbawah untuk ia pijak menuju pijakan
> berikutnya. Ketika banyak orang maupun tetangga memuji-mujinya
sebagai anak
> yang "pintar" atau "responsif", aku termimpi-mimpi Alham berkuliah
di luar
> negeri. *Ah, mimpi yang indah*. Sayang aku lekas terbangun di dini
hari itu.
> Entahlah apakah ini juga obsesi masa laluku yang tak sampai ketika
seorang
> dosen menawariku beasiswa S-2 ke Jerman bahkan ketika aku masih di
semester
> lima. Sayang S-1 pun tak mampu aku tamatkan. Kekurangan biaya,
alasannya.
> Klise memang.
>
> Belajar menjadi ayah memang perlu waktu panjang. Aku rasa aku masih
di tahap
> teramat dini di usia anakku belumlah genap setahun. Namun pelajaran
ketiga
> yang utama yang aku dapatkan di tiga bulan menjadi ayah adalah:
*jika ada
> kemauan pasti ada jalan*. Dengan kondisi menjadi ayah dan suami
> berpenghasilan tak menentu yang pernah tertipu orang, terlilit
hutang dan
> kehabisan tabungan – yang merupakan ujian Allah agar emas terpisah dari
> loyang – aku belajar mengendalikan emosi, lebih menghargai istri dan
belajar
> mensyukuri yang ada serta lebih gesit mengejar peluang.
>
> Di titik inilah aku merasakan dengan makna sejati-jatinya bahwa
pernikahan –
> termasuk keberadaan anak --mendewasakan orang. Saat beberapa teman
lajang
> curhat kepadaku tentang susahnya hidup melajang dan mereka
berangan-angan
> tentang (melulu) indahnya pernikahan, aku tersenyum. Aku hanya
berdoa semoga
> kelak, dengan harapan semuluk itu, mereka tidak menyesal menikah. Karena
> sebenarnya ungkapan lama "sengsara membawa nikmat" dari Sutan Sati –
penulis
> Melayu angkatan Balai Pustaka – dalam konteks pernikahan dapat
> terbolak-balik letaknya. Dan cinta tak selalu semakna dengan bisikan
mesra
> atau tatapan sayang. Cinta sejati lebih merupakan perjuangan yang
tak jarang
> berlumur peluh dan air mata.
>
>
>
> *Jakarta, 14 Februari 2009*
>
> * *
>
>
> --
> -"Let's dream together!"
> Nursalam AR
> Translator, Writer & Writing Trainer
> 0813-10040723
> E-mail: salam.translator@...
> YM ID: nursalam_ar
> http://nursalam.multiply.com
>

3b.

Re: [keluarga] Belajar Menjadi Ayah

Posted by: "sismanto" siril_wafa@yahoo.co.id   siril_wafa

Sat Feb 14, 2009 9:23 pm (PST)

Perjuangan yang keras dan penuh perjuangan Kang, terimakasih dah
berbagi semoga memberikan pencerahan pada semua.minimal sebagai
gambaran bagi yang masih lajang seperti saya dan yang lainnya :)

Salam,
Sis

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Nursalam AR
<nursalam.ar@...> wrote:
>
> *Belajar Menjadi Ayah*
>

4.

Valentine and Palestine

Posted by: "Farizal Alboncelli" farizal.info@yahoo.com   farizal.info

Sat Feb 14, 2009 8:26 am (PST)



Valentine and Palestine 


gaulislam edisi 069/tahun ke-2 (20 Safar 1430 H/16 Februari 2009)


 


There were no valentines
for the kids in palestine
no v-cards
no valentines day there were no candy hearts
for the old decripit ones
no candy
no cinnamon buns all you little boys and girls
we'll give you all our candy pearls
pearls pearls pearls pearls pearls
we'll give you candy pearls where has all the candy gone?
candy candy candy where has all the love gone? Pernah
dengar lagu dari lirik di atas? Nggak usah minder kalo belum, karena
lagu ini memang bukan major label alias indie. Genrenya juga abstrak,
bukan termasuk pop, rock, rap apalagi dangdut. Bahkan si penyanyi yaitu
Tishomingo juga nggak jelas asal usulnya. Suaranya pun sangat cempreng
dan nggak asik untuk didengar. Tapi at least, kita jadi tahu
apa yang dia mau dari lirik lagu ciptaannya ini. Ia masih mau peduli
dengan nasib jutaan manusia di Palestina, yang bagi zionis Israel
dengan dukungan Amerika ingin dimusnahkan hingga akar-akarnya. Gimana
nggak, bila bayi merah pun mereka bunuh dengan tangan dingin. Terlepas
dari sejarah asal-usul Valentine, hari ini diyakini oleh banyak orang
sebagai hari kasih sayang. Hari yang penuh dengan permen, coklat,
boneka, benda-benda berbentuk hati, dan warna pink. Budaya yang awal
mulanya dari Italia dan kemudian dikomersilkan oleh Amerika ini semakin
mendunia. Negeri-negeri muslim termasuk Indonesia pun jadi latah
ikut-ikutan. Seakan-akan bila belum ikut merayakan hari Valentine,
hidup serasa kurang pas, nggak gaul dan siap dicap kuno. Amerika,
Eropa dan banyak negeri muslim pun jejingkrakan merayakan Valentine.
Memang sih ada beberapa orang yang merayakannya dengan syahdu tapi
tetep aja ujung-ujungnya juga mengarah ke gaul bebas dan konsumerisme.
Terus, apa dong hubungan antara hari Valentine dengan Palestine
terutama Gaza yang awal tahun ini diserang selama 22 hari nonstop itu?
Ikuti yuk, biar paham. Valentine, Palestine

Wah…apa hubungannya antara Palestina dengan hari Valentine? Secara
langsung emang nggak ada hubungannya, tapi kalo dipaksa-paksain bisa
juga yaitu dengan tujuan sekadar tahu seberapa buruk wajah Valentine
dikaitkan dengan isu Palestina. Bulan Februari
semua toko dan hampir semua pusat perbelanjaan menjajakan barang-barang
berlabel hari kasih sayang. Nggak cuma Amerika sebagai lokomotif
penjaja budaya ini, tapi termasuk Indonesia dan banyak negeri muslim
lainnya rela menjadi gerbong kayak sapi ompong yang ikut-ikutan
merayakannya. Lagu di atas ditulis oleh anak
muda yang peduli tentang nasib bangsa Palestina. Dikaitkan dengan
Valentine yang katanya hari kasih sayang, fenomena ini sangat jauh dari
perlakuan dunia terhadap masalah Palestina. Nah, karena perayaan
Valentine ini masih dekat dengan luka Gaza sejumlah 1300 nyawa lebih
dibantai Zionis atas izin Amerika, maka kita patut untuk mengaitkannya
dan melihat kebobrokannya. Lagu di atas tuh
kurang lebih terjemahan bebasnya gini neh: kalo emang Valentine itu
hari kasih sayang, trus kemana rasa cinta itu pergi bila sudah kena
masalah Palestina? Nah, bahkan anak muda yang nulis lirik ini aja punya
kesadaran kemanusiaan tinggi kayak gini, gimana dengan kamu-kamu yang
masih aja merayakan Valentine di saat sodara-sodara kita dibantai? Lagu
ini sebetulnya nyentil banget untuk melihat betapa bopengnya wajah
peradaban Barat yang suka bersembunyi atas nama cinta dan kasih sayang.
Ketika Israel penjajah dihujani roket dari wilayah Gaza aja, mereka
teriak-teriak seakan dunia runtuh. Padahal para zionis itulah yang
datang tak diundang untuk merampok wilayah Palestina. Namun ketika
Penduduk Palestina mempertahankan diri, eh…malah dibilang teroris dan
dibantai. 1300 jiwa melayang dengan mayoritas anak-anak dan wanita jadi
korban. Namun apa kata pemerintah Amerika dan PBB yang katanya badan
perdamaian? Mereka sepakat mendukung Israel dan meneruskan pembantaian
atas rakyat Gaza.  Kedua pemerintah negara ini
memang saling bantu dalam hal melemahkan kaum muslimin dari segala
aspeknya, terutama dari segi budaya. Bahkan, bila ditelusuri, ternyata
negeri penjajah semacam Israel pun, mempunyai tradisi yang tak jauh
beda dengan perayaan Valentine ala Barat. Kita tak perlu heran Israel
ikut-ikutan perayaan Valentine ini karena bukankah yang mempunyai ide
adalah Israel besar? (baca: Amerika= Israel besar, Israel= Amerika
kecil).  Valentine ala Yahudi

Hadirnya hari Valentine, tidak begitu asing bagi komunitas Yahudi
terutama dalam lingkup negara yang dirampas dari Palestina, yaitu
Israel. Hari tersebut disebut Tu B'Av yang artinya adalah tanggal lima
belas bulan Av (bulan orang Yahudi), kira-kira kalau dalam penanggalan
masehi, tanggal ini jatuh sekitar akhir bulan Juli.
Tu B'Av ini
adalah hari untuk merayakan cinta bagi orang Yahudi yang kurang lebih
seperti hari Valentine. Para gadis yang dalam agama Yahudi begitu
banyak larangan untuk bergaul dengan lawan jenis, pada Tu B'Av mereka
keluar rumah dan memakai baju putih hasil dari meminjam serta
berdansa-dansi di kebun anggur. Mereka berdansa untuk menarik lawan
jenis dengan mengucapkan kata-kata "Hai para pemuda, bukalah mata
kalian dan lihatlah kami. Pilihlah kami sebagai pasanganmu." Tak
jauh beda dengan Valentine, mereka pun saling memberi bunga, permen,
coklat, boneka, dan benda-benda lainnya dengan bentuk hati. Kapitalisme
pun mengintip dan dimanfaatkanlah momen ini untuk meraup untung
sebanyak mungkin dengan persewaan hotel, restoran dirancang dengan
romantis dan lain sebagainya. Bahkan tradisi berpakaian putih itu pun
ditinggalkan dan diganti dengan kaos nanggung yang (maaf) kelihatan
pusarnya. Jadilah ajang ini tempat untuk melampiaskan nafsu dengan
berzina atas nama hari kasih sayang. So,
bila Valentine yang notebene berasal dari budaya Romawi yang dipoles
oleh budaya Kristiani lalu nyambung dengan budaya Yahudi, kita nggak
perlu heran. Mereka tidak mengenal dosa, karena bagi mereka yang
penting hidup ini having fun. Surga neraka itu urusan
belakangan. Sangat khas sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan)
yang itu bertentangan dengan Islam. Yang pantas kita herankan adalah
apabila ada kaum muslimin yang masih mau turut serta berpartisipasi
dalam ajang yang jelas-jelas maksiat ini. Tengoklah Palestina

Dari uraian di atas, marilah kita tengok Palestina yang baru saja
dihancur-leburkan oleh Israel laknatullah. Nyambung nggak sih kasih
sayang yang mereka gembar-gemborkan itu dengan kenyataan? Ada yang
nggak nyambung dengan teori mereka tentang cinta dan kasih sayang bila
dikaitkan dengan fakta pembunuhan keji anak-anak dan wanita atas nama
memerangi terorisme. Teori mereka basi. Masa iya sih yang kayak begini
masih aja kalian percaya untuk mengikuti yang namanya Valentine atau
apa pun dengan menyalahgunakan cinta dan kasih sayang? Di
saat anak-anak dan remaja Palestina hidup di pengungsian tanpa rumah,
tanpa makanan, tanpa selimut di musim dingin, masa iya kamu tega
menghamburkan uangmu untuk sekedar candle light dinner dengan
sang pacar? Ketika tiap saat hidup mereka terancam bom kimia Israel
yang membuat mereka cacat seumur hidup dan merasakan sakit tak
tertahankan, masih kamu tega befoya-foya dan berpesta atas nama hari
kasih sayang? Coklat, permen dan boneka yang
merupakan bagian dari dunia anak-anak adalah barang mahal untuk
dinikmati. Ketapel dan batu adalah mainan dan senjata bagi anak-anak
dan remaja Palestina untuk melawan Israel yang diperlengkapi dengan
senjata modern sokongan dari Amerika. Bila
ingin belajar cinta dan kasih sayang, layangkan pandanganmu ke tempat
konflik ini. Seorang ibu yang rela melepas putra tersayangnya untuk
berjihad demi cinta kepada Allah dan rasulNya. Seorang pengantin baru
yang rela meninggalkan istri demi seruan jihad melawan Israel. Seorang
anak, baik laki-laki maupun perempuan usia 10 tahun menggendong adiknya
yang balita dengan sayang karena orang tuanya sudah syahid. Lalu,
bentuk cinta yang seperti apa lagi yang kita inginkan?

Kita memang beda

Menjadi seorang muslim itu berbeda. Kita tidak butuh cinta semu
berbalut nafsu atas nama maksiat. Kita butuh bukti bukan janji. Kita
tidak butuh slogan-slogan cinta bila faktanya tak ada. Cinta dan kasih
sayang yang diobral dalam acara bertajuk Valentine, ibarat baju yang
diobral seribu tiga. Cinta dan kasih sayang itu jadi murahan dan
kehilangan nilai serta rasanya. Nggak asik, gitu lho. Cinta
dalam Islam diperlakukan dengan agung. Cara memperoleh pasangan juga
sudah diatur sedemikian rupa agar tidak melanggar harkat dan martabat
manusia sebagai manusia. Harga diri masing-masing individu juga dijaga,
bukan untuk diobral dengan genit sambil berdansa-dansi. Memberi coklat,
bunga, dan kado pun boleh untuk mempererat ukhuwah dan selama tidak
menimbulkan fitnah. Apalagi dalam kehidupan suami istri, wah…sangat
dianjurkan itu.  Tidak ikut-ikutan acara
Valentine bukan berarti kuno. Kuno atau tidaknya seseorang itu bukan
dilihat dari ikutan ajang maksiat tersebut atau tidak. Tapi kuno
tidaknya seseorang itu dilihat dari pola pikir dan perilakunya. Israel
itu kuno, karena beraninya cuma bila didukung Amerika di persenjataan
dalam melawan perlawanan Palestine. Israel itu kuno dan kejam karena
beraninya cuma membunuh anak-anak dan wanita. Israel itu kuno ketika ia
tidak berani face to face dalam bertempur dengan musuhnya.
Jadi semua tentang zionis Israel itu kuno, kejam dan tak
berperikemanusiaan. Masa iya, udah tahu begini kamu masih mau
ikut-ikutan? Tidak mem-beo acara Valentine bukan
berarti anti Barat. Hal-hal yang bersifat netral dan tidak merusak
akidah, bisa kita terima dengan tangan terbuka. Misalnya saja teknologi
seperti komputer, pesawat terbang bahkan belajar bahasa Inggris. Itu
sah-sah aja kok untuk dipelajari dan dimanfaatkan bagi kemaslahatan
manusia. Tapi bila sudah pada tataran pemikiran dan peradaban semisal
perayaan Valentine, natalan, demokrasi, hedonisme, permisifisme (paham
serba boleh), atau isme lainnya, wah…nanti dulu. Seorang
muslim itu punya prinsip. Dia tidak akan pernah terombang-ambing oleh
serbuan budaya yang nggak jelas asal-usulnya. Yang nggak jelas aja
nggak mau apalagi yang jelas-jelas bukan budaya Islam dan tujuannya
adalah merusak generasi muda muslim semisal Valentine's Day ini. Jadi
mulai saat ini, detik ini, tanamkan dalam diri kamu bahwa Valentine's
Day NO, tapi Islam YES, okay? Siippp deh! [ria: riafariana@yahoo.com]

source: http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/valentine-and-palestine.html

FARIZAL ALBONCELLI In tansurullah yansurukum wayu sabit akdamakum
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/,
FS: farizal.info@yahoo.com
mobile: 021 950 42948

5.

(Karyaku) Membaca Ebook Senyaman Membaca Buku

Posted by: "Wahyudi" wahyudi@cei.com.sg

Sat Feb 14, 2009 8:26 am (PST)

Di masa depan saya yakin ebook akan menggantikan peran buku. Kenapa
saya begitu yakin? Sederhana saja, itu berkaitan dengan bahan baku,
biaya produksi, efektifitas dan efisiensi.

1. Bahan Baku, bahan baku kertas adalah kayu. Kayu berasal dari
hutan. Seperti kita ketahui hutan di dunia ini sudah berkurang sangat
drastis. Hal itu menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem yang
mengakibatkan beraneka macam bencana alam. Maka dibuatlah Protokol
Kyoto untuk menyelamatkan dunia dari pemanasan global. Itu artinya
penebangan hutan harus dikurangi sebesar-besarnya. Maka bahan baku
kertas akan semakin menipis tersedia di pasaran.

2. Biaya Produksi, Dengan ketersediaan bahan baku kertas yang
terbatas tentu saja harganya menjadi semakin mahal. Pastinya biaya
produksi akan semakin tinggi. Belum lagi biaya cetak buku yang
semakin hari semakin meningkat, biaya distribusi, biaya display dll.
Bandingkan dengan biaya produksi ebook yang nyaris NOL rupiah.

3. Efektifitas dan Efisiensi, dari faktor ini kita pasti setuju bahwa
buku tidak praktis karena bentuk fisiknya yang memerlukan tempat
(cukup besar bila koleksi kita banyak), dan tidak praktis membawanya
(apalagi bukunya cukup tebal atau membawa beberapa buku). Bandingkan
dengan ebook yang cukup kita simpan dalam hard disk PC atau laptop.
Dan kalau mau dibawa-bawa cukup disimpan dalam flash disk yang hanya
sebesar ibu jari. Sangat praktis bukan.

Baca selengkapnya di
http://duniaebook.wordpress.com/2009/01/17/membaca-ebook-senyaman-
membaca-buku/

Salam Penulis Ebook,
Wahyudi
Founder Milis PenulisEbook ( PenulisEbook@yahoogroups.com )
Owner http://tokoebook.biz (Toko Online Ebook Indonesia)
Owner http://duniaebook.wordpress.com (Ebook Dunia Masa Depan)
=========================================== _

6.

Memoar of Laskar Pelangi

Posted by: "shinta au7" shinta_smansa@yahoo.com   shinta_smansa

Sat Feb 14, 2009 5:52 pm (PST)

cookies kecil..sebenarnya sebagai tanda rindu kepada teman-teman sepermainan...
selamat menikmati...
notes : judul tidak ada hubungannya dengan novel or film laskar pelangi.
nuwun

bisa juga dinikmati di : www.ntacaholic.co.cc
kArenA hidUp ni BEgiTU renYAh, sobAT!enjoy it...

MEMOAR OF "LASKAR PELANGI"

.fullpost{display:inline;}

Widya
Puri menurutku adalah salah satu istana terindah di Purwokerto. Rumah
yang memiliki 19kamar dan dua lantai itu menjadi saksi bisu
perenungan-perenunganku selama ada di kota satria ini. Di lantai dua
ujung timur, disanalah biasanya aku melepas lelah. Persis disebelah
timur rumah kos-qu, sebuah sekolah dasar negeri berdiri (SD N
Karangwangkal I). Kalau pagi atau siang, sambil bertenger diatas
genteng atau pagar beton, aku dapat menikmati aktivitas-aktivitas
anak-anak sekolah yang masih polos. Menikmati kepolosan tingkah mereka,
terkadang membuat angan mengawang pada masa-masa kecil dulu. Aku ingat
ada kisah laskar pelangi yang membuatku tersenyum jika mengingatnya.

Berangkat
dari sebuah pertanyaan dan keheranan akan proses belajar mengajar di
sekolah, saat itu aku yang duduk di bangku kelas enam rupanya mencoba
belajar mengamati keseharian teman-teman satu kelas.

Hampir
enam tahun – saat itu- aku bersama-sama mereka, belajar. Kita
mendapatkan guru yang sama tiap tahun. Bangku yang kami duduki juga
sama, dari kayu. Kita sama-sama menulis diatas kertas. Buku panduan
yang kita gunakan juga sama, malah terkadang aku tidak memiliki
buku-buku itu. Seragam kita sama, merah-putih. Tetapi aku melihat ada
kesenjangan diantara kita.

Saat itu, pergaulan
anak-anak-walaupun secara tidak langsung -terpisah menjadi beberapa
kelompok. Anak-anak yang ada di sepuluh besar ranking di kelas,
biasanya bergaul dengan sesama-nya. Ada juga kelompok-nya anak-anak
borjuis. Walaupun ketika bel istirahat berdentang, semuanya akan
membaur jadi satu di aula sekolah. Aq dulu paling suka bermain petak
lari (he3..ini nggak penting ya??)

Saat kecil, aku bertanya "
Kenapa kita belajar sama-sama tiap hari tetapi masih ada perbedaan yang
pinter dan kurang pintar???". Kenapa masih ada anak yang belum lancar
membaca? Kenapa masih ada anak yang belum hafal operasi perkalian dan
pembagian?? Kita kan sama-sama belajar dari kelas satu hingga kelas
enam di sekolah yang sama. Aku tak suka pada kesenjangan. Semua harus
punya hak yang sama. Apalagi kalau sikap guru sudah memperlihatkan
diskriminasi antara yang pintar dan yang bodoh. Aku pikir, anak-anak
yang nggak masuk sepuluh besar juga sama-sama manusia yang tidak boleh
dibedakan antara yang pintar dan yang bodoh. Mereka hanya tidak
termotivasi untuk belajar.

Pertanyaan
dan pemikiran itu aku wujudkan dengan membentuk kelompok belajar.
Terdiri dari sepuluh orang yang mungkin secara keseharian bukan
dianggap sebagai anak yang "pintar" hanya karena tidak bisa masuk
ranking. Kebetulan hanya aku diantara mereka yang masuk tiga besar.
Kesembilan anak yang lain adalah teman-teman yang menurutku mereka
tidak mendapatkan motivasi saja untuk belajar. Aku masih ingat beberapa
nama : Venti, Siska, Anggun, Luhur, Kiki, Erman, Lia, Farid, Firman,
dan Adi. Tiap anak ini meruapakan siswa-siswa yang "unik" di kelas
terutama yang cowok. Venti, Siska, dan Anggun adalah trio yang selalu
bersama...dan nampaknya sama dalam nasib.he3. Erman adalah anak seorang
kepala sekolah yang dibuai dengan kemewahan. Hal yang sama terjadi juga
pada Farid , Kiki dan Lia. Kalau Luhur..anak bandel di kelas yang
sering dipanggil si pitak. Si Firman atau biasa dipanggil "timank" juga
anak seorang yang berkecukupan yang pergaulannya lumayan menakutkan
untuk kondisi saat itu. Teman-teman sepermainan dia saat itu adalah
anak-anak sekolah menengah yang sudah ngrokok, make, dll. Bahkan pernah
suatu saat si timank dikeroyok oleh berandalan. Cerita tentang si Adi
lain lagi, dia anak yang agak aneh, dia cukup dewasa jika dibandingkan
teman-teman seusianya. Aku masih ingat dia pernah menampar teman cewek
di kelas saat kita duduk di kelas empat, dan aku yang waktu itu menjadi
ketua kelas hanya diam melongo, karena suer...waktu itu yang aku liat
adalah sosok Adi yang "ngeri" deh!!! Dan di kelompok belajar itu, aku
menjadi pelengkap kesebelas sebagai anak yang ingin belajar
bersama-sama mereka. Karena aku yakin mereka adalah teman-temanku yang
cerdas-cerdas. Dari sebelas anak itu, secara tidak langsung aku
ditunjuk menjadi leader, mungkin karena aku lah satu-satunya diantara
mereka yang punya ranking di kelas. Alhamdulillah waktu itu masuk tiga
besar (he3..narsis ^_^... gw pinter jg ya dulu...:p ).

Teknis
kegiatan kelompok belajar (pokjar) itu dilakukan setiap hari minggu dan
terkadang juga memanfaatkan hari libur non-minggu. Kalau hari sabtu
menjelang bel pulang sekolah, biasanya aku sudah koar-koar : " Besok di
rumah si "A" ya... bawa LKS Praktis...gak boleh bawa kunci jawaban!!!".
Nanti besoknya mereka secara otomatis akan siap-siap sekitar pukul 9
pagi untuk berangkat belajar.

Bagian kenangan favoritku
sebenarnya adalah saat berangkat menuju lokasi belajar. Biasanya kita
saling "ngampiri" atau menjemput satu persatu, terutama buat yang naik
sepeda. Para pengendara sepeda waktu itu : Aku, Siska, Venti, Anngun,
Farid, Adi, Firman, dan Luhur. Kalau Lia dan Kiki biasanya diantar oleh
keluarganya. Erman terkadang naik sepeda kadang dianter oleh pak Sehat
(nama bapaknya).

Sekitar pukul delapan, biasanya aku sudah
siap dengan sepeda favorit di halaman rumah. Kalau sepeda lagi nggak
bisa dipake, aku sudah kontak dengan teman yang biasanya boncengan.
Namanya juga anak-anak, suka rame-rame and becanda juga, kadang jam 10
kita baru ngumpul di lokasi. Semua pernah bergiliran dikunjungi, dan
kebetulan sebelas anak itu tempat tinggalnya menyebar. Aku ada di
tengah kota, dekat sama Firman. Venti, Siska, dan Anggun, Lia, Farid,
ada di Kelurahan Slerok. Erman ada di Nusa Indah dekat dengan Luhur.
Kiki dan Adi ada di desa Mejasem.

Aku merasakan setiap
perjalanan itu seperti petualangan. Aku masih ingat betul waktu itu
harus menyusuri sungai "perpil" dengan sepeda..dan aku bonceng
sepedanya Farid. Boncengnya berdiri karena sepeda Farid itu sepeda
jenis Federal yang khusus cowok. Wuaah...menyenangkan sekali saat kita
menyusuri tepi sungai dengan buku di tangan...saling bercanda penuh
tawa. Oya, masih ingat juga, kebetulan rumahnya si Anggun itu di
pinggir sungai...jadi kalau saat dia kebagian jatah untuk tempat
belajar..sesekali kita main ke sungai. Asikna..... ^_^.

Trus
aktivitas belajarnya gimana??? (he3..lupa cerita...padahal itu
intinya). Ya, untuk aktivitas belajar, aku memiliki semacam kurikulum
(tapi waktu itu nggak kenal kata ini..he3). Kegiatan belajar yang kita
lakukan lebih kepada mengerjakan latihan-latihan soal. Waktu itu ada
beberapa jenis LKS yang wajib dimiliki oleh siswa. Ada tiga jenis LKS :
"Praktis", "Canggih", dan "Cermat". LKS itu kan kependekan dari Latihan
Kerja Siswa, dan waktu itu aku pikir aku nggak bisa jadi guru yang
memberikan materi kepada teman-teman. Jadi metode-nya adalah
mengerjakan latihan soal bersama-sama. Biasanya ditengah-tengah
mengerjakan latihan soal itu, kita berdiskusi. Walaupun aku yang
dianggap leader, tapi bukan berarti aku akan memberikan semua jawaban,
tapi lebih kepada sharing tentang pemecahan masalah. Memang sieh
terkadang ada beberapa anak yang hanya tinggal mencontek jawabannya
saja. Tapi biasanya mereka juga akan menanyakan "jawaban ini dapatnya
dari mana shin???caranya gmn???bla..bla..bla..." . Porsi waktu
mengerjakan latihan soal biasanya hanya sekitar satu hingga satu
setengah jam. Sisa waktu lebih buat ngobrol...tapi kadang aku kaitkan
dengan contoh soal yang habis dikerjakan. Nah, setelah itu biasanya
menjadi waktu yang ditunggu-tunggu oleh kita semua.....karena setelah
belajar biasanya tuan rumah akan memberikan sekedar makan siang atau
snack-snack lezat.he3.

Aku melihat bahwa metode pokjar dengan
mengerjakan latihan soal lebih efektif. Biasanya guru kelas akan
menggunakan LKS sebagai bahan ajar untuk mengisi waktu jatah
mengajarnya. Saya pikir, di sekolah adalah saat kita mendapatkan
materi, bukan mengandalkan LKS. Kalo di sekolah Cuma ngerjain soal-soal
LKS, nggak usah pergi ke sekolah juga bisa, di rumah juga sama saja.
Apalagi tiap LKS biasanya tersedia kunci jawaban yang bisa kita gunakan
untuk mengoreksi ketepatan jawaban.

Jadi teman-teman pokjar
biasanya "selangkah lebih maju" dibanding teman-teman yang lain. Kalau
guru sudah bilang " Kerjakan LKS!", kita bersebelas udah tenang..karena
sudah mengerjakan bareng-bareng dan dikoreksi jawabannya, waktu yang
ada bisa digunakan untuk baca-baca materi. Emang sieh bukan jaminan
bahwa jawaban kita betul, tapi setidaknya kita sudah lebih dulu
mengetahui apa yang harus dikerjakan saat itu. Lagipula kalau
mengerjakan di sekolah itu kan "terbatas" waktunya, karena oleh guru
diberikan tenggang waktu, misal 30menit harus selesai...habis itu
dicocokkan. Makanya tidak heran kalau di kelas anak-anak lebih suka
contek-contekan jawaban, yang penting udah diisi dan tepat waktu.

Perjalanan
kesebelas anak ini tidak lancar begitu saja. Tidak setiap pekan kita
bisa kumpul lengkap sebelas anak. Namanya juga hari libur, ada yang
memanfaatkan berlibur bersama keluarga, istirahat di rumah, ada juga
yang kadang merasa bosan untuk berangkat pokjar dan lebih memilih main
dengan anak-anak sepermainannya dirumah.

Nggak jarang juga ada
permasalahan antar personil. Namanya juga anak-anak, masalah sepele
juga bisa jadi gede. Dari masalah pinjam pensil yang nggak dikembalikan
sampai masalah "cinta monyet".he3. Dulu kalo anak kecil itu kan suka
ledek-ledekan "manten2an". Kebetulan diantara kesebelas anak itu juga
ada beberapa pasangan yang suka diledekin. Ada siska dengan erman,
anggun dengan Adi, dan yang lain. Hei...aku kangen berat sama mereka
sekarang, where r u guys?? I miss u all.... Oya, mengenai cinta monyet,
aku juga punya cinta monyet waktu itu lho. Jujur aja, Luhur itu salah
satu teman sekelas yang cukup menarik perhatian seorang shinta.
Hemh...kenapa ya??!! Dia unik..cerdas... Tapi dikelas selalu dianggap
sebagai anak yang paling badung, saat latihan ujian nasional NEM dia
termasukyang nilainya terendah, tapi pas ujian akhir... Hemh...kita
semua bisa bangga sama dia... J

Selain masalah-masalah
internal, berbagai rintangan juga pernah dihadapi oleh "pokjar". Di
diriku sendiri misalnya, pernah terbentur masalah dengan orang tua.
Mungkin waktu itu ayah terlalu rindu kebersamaan setiap hari libur,
jadi beliau pernah melarang dan menyuruhku untuk menghentikan aktivitas
pokjar itu. Tapi yang bikin aku nggak terima saat itu adalah
kata-katanya begini : " Mereka itu kan yang butuh kamu...jadi mereka
yang harus kesini..bukan kamu yang harus keluyuran setiap minggu!!!".

Jujur,
aku kesal dengan larangan itu. Aku bukan keluyuran nggak jelas setiap
akhir pekan. Kalau dibilang teman-teman lain yang butuh aku,
hemh...nggak juga, pernyataan itu salah besar!! Justru aku juga sangat
membutuhkan kegiatan pokjar itu. Hubungan kita bersebelas simbiosis
mutualisme. Terkadang di beberapa hal aku tak mampu menyelesaikan
tugas, misalnya bidang prakarya, atau menggambar (Aku sendiri heran
dengan diriku sendiri...saat SD aku sangat anti dengan pelajaran
"kesenian", tapi sekarang justru getol banget!!he3). Kemudian satu
point penting yang aku dapat dari pokjar itu adalah aku mendapatkan
keluarga, mendapatkan kebersamaan.

Dirumah aku termasuk anak
yang tak memiliki teman sebaya. Dengan anak-anak kampung belakang rumah
juga jarang maen (karena sudah dikondisikan untuk jarang bersosialisasi
dari kecil). Tapi sebagai seorang anak kecil, seorang manusia, aku
punya kebutuhan bersosialisasi, aku butuh untuk berinteraksi dengan
orang lain. Dari buku-buku yang aku baca, aku tahu bahwa dunia itu
tidak sebatas pada tembok rumah. Makanya, kalo teman-teman mungkin
membutuhkan aku dalam hal akademis untuk membantu membangkitkan
motivasi belajar, sementara aku sendiri butuh teman-teman untuk
membawaku terbang melihat dunia luar dari sepasang mata kecilku. Dari
mereka-lah aku mengetahui beberapa lokasi di kota Tegal, dari daerah
kotamadya sampe kabupaten. Dari mereka-lah aku bisa belajar untuk
unggah-ungguh di rumah orang, aku belajar mengenal orang-orang yang
berbeda, tipe-tipe keluarga yang berbeda. Aku baru tau bahwa kalo kita
main ke rumah orang dan mau pulang, kita harus pamit ke kedua orang tua
teman kita itu. Kalau kebiasaan di rumahku tidak seperti itu, mungkin
karena ruang usaha ortu terpisah dengan tempat tinggal, dan papa
bekerja dari setengah tujuh pagi sampai jam sembilan malam, jadi kalo
ada temanku yang maen ya ortu tidak mengetahui. Sangat merepotkan kalau
temanku mau pulang aku harus memangiil kedua orang tua di rumah
sebelah.he3. Itu salah satu contoh kecil yang ada. Ya, dari situlah aku
belajar untuk menghormati perbedaan, menghargai kebiasaan-kebiasaan
yang berlaku di tempat orang. J

Ada juga rintangan yang cukup
unik yang dihadapi oleh teman-teman pokjar. Waktu itu di sekolah
diadakan les tambahan pelajaran untuk anak-anak kelas enam. Les yang
dipandu oleh wali kelas itu dimaksudkan supaya lebih siap untuk
menghadapi ujian akhir. Suatu saat, les tambahan itu diadakan pada hari
libur tanggal merah. Kalau nggak salah hari Kamis waktu itu. Saat guru
mengumumkan jadwal les tambahan pada H-1, spontan anak-anak pokjar
berteriak mengeluh. Apa pasal? Karena kita sudah punya rencana akan
kumpul pokjar pada hari dan jam yang sama. Ternyata saat itu
teman-teman pokjar lebih menyukai belajar di pokjar dariapada di les
tambahan, maka nggak heran saat itu mereka mengeluh.

Aku
sendiri diam saja waktu itu. Ya, mau gimana lagi? Les tambahan itu kan
wajib dari sekolah..kalau nggak berangkat bisa dihukum. Ya udahlah
mungkin pokjar bisa ditunda. Tapi dalam diamku itu tiba-tiba sang wali
kelas memanggilku untuk menghadap di kantor. Dengan segala kebingungan
dan tanpa prasangka apa-apa aku nurut aja. Biasanya kalau aku disuruh
menghadap ke kantor guru saat nunggak SPP atau belum bayar iuran-iuran
yang lain. Tapi..waktu itu seingatku aku belum ada tunggakan apa-apa.
Sesampainya aku diruang guru, sang wali kelas memulai pembicaraan
dengan kata-kata :
"Kalau kamu nggak suka sama les tambahan bapak, nggak usah mempengaruhi teman-teman yang lain??!!"
Aku
Cuma bisa bengong..nggak paham karena tiba-tiba disentak dengan kalimat
seperti itu. Ternyata sang wali kelas merasa tersinggung saat dia
melihat anak didiknya mengeluh karena les tambahan. Beliau juga sudah
mengetahui aktivitas pokjar kita. Yeah...waktu itu aku Cuma bisa diam.
Namanya juga anak kecil...dimarahin guru ya diem aja. Aku tak ingat
persis ceramah apa yang disampaikan oleh sang wali kelas itu. Satu hal
kalimat yang keluar dari mulutku adalah pembelaan yang dengan pelan
kusuarakan : "Nggak kok pak…shinta suka kok sama les tambahan bapak,
shinta nggak tahu kalau jadwalnya bisa bentrok seperti ini". L

Yeah…setapak
demi setapak perjalanan kita lalui bersama. Canda tawa, sedu sedan kita
tuai dalam kebersamaan itu. Ujian nasional adalah adalah sat-saat yang
aku lalui dengan cukup tegang. Targetku saat itu adalah, anak-anak
pokjar NEMnya nggak boleh kurang dari 30. Dulu ada lima pelajaran yang
diujikan. Kalau NEMnya dibawah 30, berarti ada mata pelajaran yang
nilainya kurang dari 6.

Pada saat pengumuman, aku sudah
seharusnya bersyukur. Kesebelas anak itu lulus dengan NEM diatas 30
semua. Padahal aku sudah was-was..karena saat latihan ujian, beberapa
anak pokjar masih ada yang mendapat NEM dibawah 30. Eh..ternyata semua
bisa lolos. Amazing!!! Aku sendiri sudah cukup puas di urutan kelima
besar (walaupun berarti aku turun peringkat karena saat latihan ujian
aku jadi runner up.he3). Tapi itu semua pupus oleh kemenangan bersama.
Kegembiraan setelah kelulusan itu kbetulan sekali persis menjelang hari
lahirku, wah..sangat senang rasanya saat hari ulang tahun teman-teman
sekelas bisa berkumpul sebelum kita berpisah untuk melanjutkan studi.
Hal lain yang membuatku senang, sembilan dari sebelas anak ini diterima
di SMP negeri semua, kecuali satu orang yang memang berniat melanjutkan
di swasta, dan Luhur yang dikirim ke pondok pesantren oleh ayahnya.

Yeah...manis
sekali memang memoar-memoar itu. Ingin rasanya untuk menghubungi mereka
satu-persatu. Kita pernah berjanji suatu saat akan
bertemu...hemh...mungkin nanti sudah dengan momongan masing-masing
ya??!!!he3.

Beberapa pelajaran yang bisa diambil, bahwa
seratus persen mempercayakan pendidikan pada lembaga formal bukanlah
suatu hal yang bijak. Sebenarnya apa yang dirasakan oleh kita di pokjar
adalah bahwa kita membutuhkan pendidikan dari lingkungan sehari-hari.
Sebagian besar dari anak-anak pokjar adalah anak-anak yang kurang
mendapatkan motivasi belajar dirumah. Itulah peran penting orang tua.
Sekolah hanyalah salah satu media saja untuk memberikan alternatif
pembelajaran kepada anak. Setiap waktu dalam perjalanan hidup seorang
anak adalah masa-masa emas untuk belajar. Jadi belajar bukan Cuma di
sekolah dan bukan sebatas pada rutinitas-rutinitas kegiatan di sekolah.
Waktu berlibur yang biasa dijadikan waktu bermain ternyata efektif juga
untuk belajar. Belajar sambil bermain J . Apalagi kurikulum pendidikan
yang masih "acak2an" di bangsa kita ini. Mendapatkan hasil yang optimal
bukan dengan menunggu pemerintah akan berubah, tetapi melakukan
perubahan itu dari tangan kita sendiri. Berdiri diatas dua kaki,
berkarya dengan dua tangan kita, melihat, mendengar dan merasakan
dengan indera yang Allah berikan. Hidup adalah Perbuatan!!! YAKUSA!!!
(nta).

Tengah malam, 14
Februari 2008. Dipersembahkan spesial untuk teman-temanku semasa kecil
di SD N Kejambon 2 Tegal. I miss u all…. Mmmuaachh….....

7.

Artikel: Seperti Pohon Yang Terus Menerus Tumbuh

Posted by: "dkadarusman" dkadarusman@yahoo.com   dkadarusman

Sat Feb 14, 2009 5:54 pm (PST)

Artikel: Seperti Pohon Yang Terus Menerus Tumbuh

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kita perlu secara jujur mengakui kalau kita sering terjebak dalam
anggapan bahwa; proses belajar itu sudah menjadi masa lalu. "Aduh,
aku sudah tidak muda lagi untuk belajar," begitu sering kita bilang.
Atau, "Pekerjaanku lagi numpuk nih; gak sempat lagi untuk belajar."
Dan masih banyak hal serupa itu merasuki alam bawah sadar kita.
Sehingga berhentilah kita dari proses belajar itu. Tetapi, benarkah
wajib belajar itu hanya berlaku untuk anak-anak sekolahan? Dan
benarkah orang-orang dewasa seperti kita tidak perlu lagi untuk
menjalani semua itu?

Saya dibesarkan didaerah pertanian. Setiap hari, saya pergi ke kebun
untuk membantu Ayah menanam beragam macam sayuran. Dan setiap hari
pula saya menyaksikan tanaman itu tumbuh mulai dari sebutir biji
kecil, kemudian menggeliat dari dalamnya tunas berupa daun mungil
yang lucu. Keesokan harinya daun lembut itu semakin membesar, lalu
keluarlah batang. Setelah itu, dia kembali berkembang sehingga
lengkaplah dia menjadi sebatang pohon yang kokoh, lagi rindang.

Pernahkah anda merenungkan, mengapa tanaman disebut
sebagai 'tumbuhan'? Ternyata, tanaman itu mempunyai karakter unik
yang kemungkinan tidak dimiliki oleh mahluk lain. Anda tentu tahu
bahwa tanaman memiliki kemauan untuk terus tumbuh. Cobalah
perhatikan, bahkan pada batang pohon yang sudah tua pun, selalu saja
muncul paling tidak satu tunas kecil. Malah tak jarang tunas-tunas
itu bermunculan pada sisa-sisa pohon yang sudah ditebang, bukan? Itu
merupakan salah satu bukti bahwa tanaman memiliki karakter kuat untuk
terus bertumbuh. Dan itulah pula sebabnya, mengapa dia disebut
sebagai 'tumbuhan'.

Pertanda apakah gerangan ini bagi kita? Ini adalah pertanda bahwa
kita pun mesti memiliki karakter seperti itu. Kita mesti memiliki
keinginan untuk terus bertumbuh. Tentu tidak dengan cara menumbuhkan
organ-organ tubuh kita terus menerus, melainkan untuk memperkuat dan
memperindah karakter hidup kita. Menambah ilmu pengetahuan kita. Dan
meningkatkan kemampuan-kemampuan teknis kita. Itulah sebabnya,
mengapa orang-orang bijak tidak pernah berhenti untuk meningkatkan
diri. Karena, mereka memahami bahwa; belajar itu dimulai dari rahim
Ibunda, hingga kita singgah dipemakaman kelak.

Banyak orang yang berhenti belajar, terutama ketika mereka merasa
sudah berhasil meraih posisi yang diinginkannya. Contohnya, ketika
seseorang dipromosi untuk menduduki jabatan tinggi, dia mengira bahwa
semuanya sudah diraih. Jadi, tak penting lagi untuk belajar tentang
itu dan ini. Padahal, hari gini, bahkan banyak Direktur yang
diberhentikan. Jika anda mengikuti perkembangan krisis global yang
tengah terjadi saat ini, anda akan percaya kepada apa yang saya
katakan ini. Berapa banyak sudah CEO yang dipecat? Berapa ribu
Direktur yang sudah diretur? Ditambah dengan puluhan ribu Manager.
Dan ratusan ribu karyawan ditingkat lainnya. Bahkan, dalam World
Economic Forum bulan lalu terungkap bahwa tahun di 2009 ini
diperkirakan akan terjadi PHK terhadap sekitar 50,000,000 (lima puluh
juta) pekerja. Sedangkan Indonesia diperkirakan akan
kebagian 'jatah' sekitar 650,000 orang yang bakal kehilangan
pekerjaan.

Artinya apa? Artinya, ini bukan saat yang tepat bagi kita untuk
berhenti bertumbuh. 'Sekalipun saat ini saya telah menduduki jabatan
yang tinggi?' Ya. Sekalipun saat ini Anda telah menduduki jabatan
yang tinggi. Karena, kalau Anda berhenti bertumbuh; tidak ada jaminan
bahwa anda akan dipertahankan. Jadi, tidak ada pilihan lain; apakah
kita sudah berhasil menapaki jenjang karir yang tinggi atau baru saja
memulai, kita mesti terus tumbuh dan meningkatkan diri.

Bagaimana seandainya sekalipun saya sudah belajar terus tapi ternyata
kena PHK juga? Mengapa mesti pusing dengan itu? Justru Anda
beruntung, karena sebelum PHK terjadi, anda sudah belajar tentang
banyak hal. Sehingga, anda memiliki begitu banyak kemampuan yang
dapat diandalkan. Oleh karena itu, sekalipun hal yang tidak
diharapkan itu terjadi juga pada anda; anda masih bisa mengandalkan
kemampuan diri. Ketika orang lain pusing gara-gara kena PHK. Tidak
tahu apa yang akan dilakukan setelah itu. Bingung, frustrasi, dan
sedih; Anda sebaliknya. Tenang saja, karena ada banyak hal yang bisa
anda lakukan dari hasil mengembangkan diri selama ini. Sebab, proses
belajar yang tiada henti akan membantu anda menjalani hidup ini.
Meskipun roda kehidupan kita tengah berada dibagian paling bawah
proses perputarannya. Toh nanti juga akan kembali beranjak naik....

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/
Business Administration & People Development
Business Talk Setiap Jumat: 06.30-07.30 di 103.4 FM Day Radio

Catatan Kaki:
Tantangan hidup tidak mungkin semakin berkurang. Satu-satunya cara
untuk menghadapinya adalah; selalu meningkatkan diri.

8a.

Re: (Sekolah Kehidupan): Hz. Maulana

Posted by: "daniel yang" daniel_yang1@yahoo.com   daniel_yang1

Sat Feb 14, 2009 5:55 pm (PST)

" sambil meminjam gaya bahasa mas Azrul Ananda, jurnalis harian Jawa Pos, kukirimkan gulungan kertas berisi manifesto iman ini kepadamu ...

maaf, seribu maaf, ...
memang aku bukanlah seorang ahli agama atau seorang pendeta suci ...

bukankah manusia adalah Citra Allah ?
bukankah didalam diri setiap manusia ada seorang Raja, yaitu Roh Allah sendiri ?

Aku mengenal Allahku sebagai Allah Abraham Isak dan Yakub...
Aku mengenal bahwa Allahku adalah satu tapi berwujud tiga, Bapa, Putra dan Roh Kudus...
dan Aku memanggil Allahku sebagai Bapa di Surga, bukan Allah yang jauh entah dimana...
Namun Allahku adalah Allah yang ada di dalam diriku, sejauh tarikan nafasku saja untuk berbicara dengannya...
tanpa perlu mencarinya ke gunung semeru, atau sungai amazon, atau padang rumput sabana di afrika...
tanpa perlu membakar dupa kemenyan untuk memanggilNYA...

Allahku, Sang Raja, Ya Abba Bapa, tinggal di dalam hatiku...
Hatiku itulah Ruang Tahta MahakudusNYA...
Jiwaku laksana para ksatria - ksatriaNYA ...
Tubuhku laksana serdaduNYA ...

Aku memang tidak berdaya ...
Namun aku perkasa karena RohNYA ...

Adalah salah apabila kita merasa tidak berdaya ....
Sebab dengan begitu kita sedang mengecilkan kuasa Allah yang ada didalam kita ...

Manusia diciptakan sebagai manusia yang perkasa...
Lihatlah hai kawanku kepada para nabi - nabi perkasa yang bahkan sanggup mengatur turunnya hujan...
Lihatlah hai kawanku kepada para Raja - Raja yang diurapiNYA seperti Daud dan Salomo...

Aku dan Allahku adalah satu, menjadi satu, tidak terpisahkan ...
Aku adalah sebagaimana aku ada.

maaf, seribu satu maaf, apabila dendang lagu pujian kepada Allahku ini mungkin tak berkenan di hati sebagian orang...
namun kudengar, kebebasan beribadah dijamin dengan UUD1945 ...

demikian juga aku memandangmu sebagai manusia perkasa, hai kawanku, bukan sebagai manusia tak berdaya ...

Amen.

 

________________________________
From: Pandika Sampurna <pandika_sampurna@yahoo.com>
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Sent: Monday, February 9, 2009 8:09:37 AM
Subject: [sekolah-kehidupan] (Sekolah Kehidupan): Hz. Maulana

Adalah baik apabila engkau tidak berdaya sepanjang waktu dan melihat dirimu sendiri tak berdaya dalam segala keadaan, bahkan ketika memiliki kekuasaan engkau seperti tidak mempunyai kekuasaan.

Karena di atas kekuasaanmu terdapat kekuasaan yang lebih besar, dan di dalam segala keadaan Tuhan menguasaimu.

Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages | Polls | Calendar
MARKETPLACE

________________________________
From kitchen basics to easy recipes - join the Group from Kraft Foods

Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Recent Activity
*  57
New MembersVisit Your Group
Drive Traffic
Sponsored Search
can help increase
your site traffic.
Y! Messenger
Want a quick chat?
Chat over IM with
group members.
Y! Groups blog
The place to go
to stay informed
on Groups news!
.

__,_.._,___

9.

[Ruang Baca] Dari Balik Dinding [Bernama] Luka

Posted by: "Rini Agus Hadiyono" rinurbad@yahoo.com   rinurbad

Sat Feb 14, 2009 9:44 pm (PST)

Penulis: Nita Candra dan Dian Ibung

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House

Tebal: 200 halaman

Cetakan: I, Oktober 2008

Skor: 7,9

Bila mendengar istilah KDRT, yang terbetik di benak langsung adalah
sekumpulan wanita yang menyampaikan persoalan dan beban batin
mereka karena dipukuli suami, tidak sanggup membebaskan diri
karena masalah ekonomi, atau mencoba bertahan demi anak. Padahal
dalam sebuah iklan layanan masyarakat di televisi beberapa tahun lalu
[karena saya tak pernah lagi melihatnya], konsep KDRT tidak sesempit
itu. Memperlakukan pembantu rumah tangga dengan semena-mena
dan mengatai anak 'bodoh' pun termasuk kekerasan.

Sudah banyak cerita bernada KDRT diangkat, baik dalam fiksi maupun
non fiksi. Dikaitkan dengan tema seorang istri, misalnya, atau
seorang karyawati. Saya lega mendapati keragaman dan
ketidaksempitan pemikiran yang disuguhkan dalam buku ini. Tanpa
bermaksud membesar-besarkan, bentuk-bentuk KDRT bisa dimulai
dari yang paling 'remeh' dan terkesan sepele, seperti seorang ibu yang
membentaki anaknya di depan umum dalam Another Bad Day (hal.
13). Kisah tak selalu dipaparkan oleh korban, namun juga orang-orang
yang mengamati tanpa sengaja, termasuk kaum pria. Dengan
demikian, pemaparan KDRT dalam buku ini tidak menjadi berat
sebelah.

Sang Pemenang (hal. 19) pun menunjukkan itu. Perilaku 'menyimpang'
seorang lelaki, notabene suami, tak lepas dari kontribusi pola asuh
yang keliru dalam keluarganya. 'Jebakan' terjadi karena pandangan
yang artifisial pula: menilai kelayakan pasangan dari segi kemapanan
ekonomi. Beberapa tulisan menyiratkan bahwa sifat buruk tidak ada
hubungannya dengan 'sejahtera' atau tidak, melainkan mental
seseorang menyikapi masalah atau musibah.

Kisah paling menyentuh adalah Bella Ikut Bu Guru Saja..(hal. 113).
Emosi yang melampaui batas, terutama antara pasutri yang bercerai
atau bermasalah, kerap membuat mereka lupa sehingga malah
'mempertontonkan' aib keluarga. Saya sendiri beberapa kali
menyaksikan adegan yang lebih 'heboh' dari pengalaman Bella cilik
tersebut.

Tinjauan psikologi yang disajikan di bagian penutup cukup memberi
panduan mengenai penanganan kasus, walau harus diakui kita tak
dapat selalu memaksakan seseorang meninggalkan keluarganya/
pasangannya. Ada juga yang berkeyakinan penuh bahwa pasangan
atau orangtuanya akan menyadari kekhilafan, dan itu perlu dihargai.
Hanya satu celah, yakni cerita Izinkan Aku Pergi (hal. 141) yang tidak
relevan dengan tema KDRT karena terjadi dalam hubungan sepasang
kekasih.

Recent Activity
Visit Your Group
Biz Resources

Y! Small Business

Articles, tools,

forms, and more.

Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Check out the

Y! Groups blog

Stay up to speed

on all things Groups!

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web

Tidak ada komentar: