Selasa, 17 Februari 2009

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2530

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (11 Messages)

Messages

1.

[Mimbar] Pengertian Adab

Posted by: "muhamad agus syafii" agussyafii@yahoo.com   agussyafii

Mon Feb 16, 2009 9:52 pm (PST)

Pengertian Adab

By: agussyafii

Adab adalah satu istilah bahasa Arab yang berarti adat kebiasaan. Kata ini menunjuk pada suatu kebiasaan, etiket, pola tingkah laku yang dianggap sebagai model.

Selama dua abad petama setelah kemunculan Islam, istilah adab membawa implikasi makna etika dan sosial. Kata dasar Ad mempunyai arti sesuatu yang mentakjubkan, atau persiapan atau pesta. Adab dalam pengertian ini sama dengan kata latin urbanitas, kesopanan, keramahan, kehalusan budi pekerti masyarakat kota sebagai kebalikan dari sikap kasar orang badui.

Dengan demikian adab sesuatu berarti sikap yang baik dari sesuatu tersebut. Bentuk jamaknya adalah Âdâb al-Islam, dengan begitu, berarti pola perilaku yang baik yang ditetapkan oleh Islam berdasarkan pada ajaran-ajarannya. Dalam pengertian seperti inilah kata adab.

Sumber Adab
Adat kebiasaan di dalam banyak kebudayaan selain kebudayaan Islam sangat ditentukan oleh kondisi-kondisi lokal dan oleh karena itu tunduk pada perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kondisi-kondisi tersebut. Menurut W.G. Summer, dari berbagai kebutuhan yang timbul secara berulang-ulang pada satu waktu tertentu tumbuh kebiasaan-kebiasaan individual dan adat kebiasaan kelompok. Tetapi kebiasaan-kebiasaan yang muncul ini adalah konsekuensi-konsekuensi yang timbul secara tidak disadari, dan tidak diperkirakan lebih dulu atau tidak direncanakan.

Ahlak dan adab Islam tidaklah bersifat "tanpa sadar" seperti dalam pengertian di atas. Adab dan kebiasaan-kebiasaan Islam itu berasal dari dua sumber utama Islam, yaitu al-Qur'an dan Sunnah, perbuatan-perbuatan dan kata-kata Nabi serta perintah-perintahnya yang tidak langsung. Oleh karena itu akhlak Islam itu jelas berdasarkan pada wahyu Alloh SWT.

Wassalam,
agussyafii

--
Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye Program Pendidikan "Anak-anak Insan Mulia (Amalia)"  Program Pendidikan anak-anak dengan kasih sayang, silahkan kirimkan dukungan dan komentar anda di 087 8777 12 431 atau di http://agussyafii.blogspot.com

 

2a.

Re: [keluarga] Belajar Menjadi Ayah

Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com   inga_fety

Mon Feb 16, 2009 10:00 pm (PST)

Mas Nur, benar, awal-awal pernikahan mesti banyak ujiannya:D:D
Hmm, jadi teringat pertama kali pulang ke Bojonegoro, ke tempat
mertua, setelah menikah, berpanas-panas ria di kereta ekonomi
semalaman, karena aku dan mas sama-sama gak punya uang lebih untuk
membeli tiket kereta bisnis:)

salam,
febty

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Nursalam AR
<nursalam.ar@...> wrote:
>
> *Belajar Menjadi Ayah*
>
> *Oleh Nursalam AR*
>
>
>
> *"Bakat terbentuk dalam kesunyian, watak terpupuk dalam riak besar
> kehidupan." (Goethe)*
>
> Menjadi ayah, bagiku, adalah kegembiraan dan juga salah satu riak besar
> kehidupan. Kegembiraan akan datangnya sang buah cinta dan darah daging
> adalah hal wajar. Namun pada saat yang sama riak besar kehidupan mungkin
> tidak selalu menyertai perjuangan setiap calon ayah. Buatku ini
sebuah ujian
> kehidupan untuk menggembleng watak. Barangkali aku patut bersyukur
> semestinya. Karena sepertinya, setelah sepekan pertama menjadi ayah,
Allah
> memberikan gelombang riak besar jelang kelahiran bayiku sebagai
ujian agar
> kuat bertahan dalam gelombang-gelombang besar berikutnya. *Pre-test*,
> barangkali maksud-Nya demikian.
>
> Jelang kelahiran bayiku, permohonan kasbon sebulan gaji ditolak *boss*.
> Padahal sudah sejak sebulan sebelumnya ia sudah mengulur-ulur dengan
> berbagai alasan seperti kondisi keuangan kantor yang tidak
memungkinkan dll
> – kendati aku tahu betul kegemarannya *dugem* yang menghabiskan jutaan
> rupiah tiap malam. Tapi saat kedatanganku ke ruangannya terakhir
kali itu,
> sang *boss* mungkin tidak menyadari bahwa – sedetik setelah
penolakannya –
> aku akan mengambil keputusan keluar dari kantor (pada saat yang tepat).
> Kembali menjadi "orang bebas" seperti tiga tahun sebelumnya.
>
> Menjelang pernikahanku setahun lalu pada 2007, demi memenuhi
keinginan ibu
> mertua, aku memang bekerja kantoran. Masih sebagai penerjemah *legal
English
> * (dokumen hukum dan bisnis) di agensi atau biro penerjemahan. Ini juga
> berpindah-pindah. Dari agensi penerjemahan di Jakarta Timur aku hanya
> bertahan lima bulan. Ada persoalan ketidakberesan gaji dan perlakuan
yang
> tidak manusiawi. Setelah pindah ke biro yang lain – yang ini karena
sang *
> boss* adalah sahabat lamaku dan ada beberapa kompromi termasuk gaji,
di mana
> aku lebih mengalah, dibuat – aku juga tak bertahan lama.
>
> Per Desember 2008 aku resmi berhenti bekerja kantoran. Membuka
bisnis agensi
> penerjemahan sendiri. Meski, dilihat dari kesiapan infrastruktur dan
modal,
> lebih cocok untuk disebut "penerjemah *freelance*". Bayangkan saja
kantor
> agensi penerjemahan tanpa fasilitas printer, koneksi internet,
faksimili dan
> sambungan telepon rumah. Ruangannya pun menyatu dengan sebuah kamar
– yang
> aku, istri dan anakku tempati – yang menumpang pada rumah ibu mertuaku.
> Lebih persis lagi, kantorku adalah seperangkat komputer – yang,
> alhamdulillah, sudah lunas -- kreditan. *That's it!*
>
> Gila! Mungkin ada yang menyebut demikian. Termasuk beberapa kawan dan
> kerabat yang menyayangkan mengapa aku berhenti bekerja justru di
saat baru
> memiliki anak. Sementara istriku juga sudah berhenti bekerja sejak
> mengandung dua bulan. Tapi aku yakin Allah Maha Pemurah. Bagi
manusia, tanpa
> pandang kualitas ibadah atau agamanya, pasti ada rejeki
masing-masing asal
> berani menjemput. Termasuk, yang aku yakini juga, ada bagian rejeki yang
> sudah dicatatkan-Nya di *lauhul Mahfuz* di atas sana untuk anakku
yang kini
> sedang lucu-lucunya di usianya yang tiga bulan.
>
> Ya, aku sedang belajar menjadi ayah. Pelajaran pertama yang kucatat,
saat
> permohonan kasbonku ditolak *boss* yang notabene sahabat sendiri,
adalah *hanya
> Allah yang sesungguhnya dan selayaknya menjadi tempat bergantung*.
Sedekat
> apapun manusia, mereka punya keterbatasan dan tak bisa selalu
diharapkan.
>
> Ketika kasbon ditolak sementara dokter sudah menvonis istriku harus
> dioperasi caesar beberapa pekan lagi, datang tawaran dua order besar
– yang
> terbilang jarang aku dapat--kepadaku. Aku ajukan kesanggupan dan minta
> klien-klienku tersebut setor uang muka (DP, *down payment*) terlebih
dulu.
> Kendati itu harus aku tebus dengan bekerja dobel keras karena selepas *
> ngantor* aku harus begadang hingga dini hari untuk menyelesaikan
kedua order
> tersebut hingga sebulan lebih. Tapi dengan itulah aku dapat
mencukupi biaya
> operasi caesar istriku. Alhamdulillah, anakku lahir dengan selamat.
> Laki-laki. Muhammad Alham Navid namanya.
>
> Empat puluh hari pertama bagi seorang ayah baru sepertiku sungguh tak
> terlupakan. Sementara berjuang bermalam-malam menyelesaikan dua order
> terjemahan tersebut, aku juga harus membantu istriku mengganti popok
bayi
> atau menidurkannya. Frekuensi menyusui dan buang air (kecil dan
besar) bayi
> dalam 40 hari pertama sungguh dahsyat. Rata-rata nyaris seperempat jam
> sekali. Alhasil, meski sudah dibantu ibu mertua dalam merawat bayi
kami, aku
> ambruk dan sempat jatuh sakit. Cukup parah hingga seminggu tidak
*ngantor*.
> Dan aku pikir itulah saat yang tepat untuk *resign*, berhenti bekerja.
> Setelah agak membaik, aku pamit baik-baik dari kantor.
>
> Rasanya sudah cukup aku memperkaya sahabatku itu -- hingga tubuhku
bobrok
> -- yang tak peduli dengan kondisiku yang notabene pegawainya sendiri. Di
> kantorku tersebut hanya ada dua orang tenaga penerjemah termasuk aku.
> Sehingga aku tahu betul – semestinya – posisi tawar kami. Namun
hidup memang
> keras. Dan barangkali itu yang harus dijalani.
>
> Aku bukan *super daddy*, ayah super dan juga tak ingin menjadi
seperti itu.
> Aku hanya ingin jadi ayah yang baik, yang mampu memberikan kehidupan dan
> penghidupan yang layak bagi anaknya. Jalan terbaik, yang ada di
pikiranku
> saat itu, adalah mencoba mandiri, berusaha sendiri. Jatuh bangun,
aku pikir
> sudah biasa, niscaya akan mendewasakanku.
>
> Tak urung aku *shock* juga ketika riak-riak besar yang lain
menghantam. Dua
> klienku yang sebelumnya itu -- ketika pekerjaan sudah aku serahkan
-- lari
> dengan meninggalkan sisa tagihan tak terbayar. Jumlahnya mencapai enam
> setengah juta rupiah. Lebih terpukul lagi ketika, saat malam
berhujan lebat
> dan dingin menyengat, dada kiriku nyeri dan aku terbatuk-batuk hebat di
> kamar mandi. Ketika aku meludah, ludahku merah seperti bekas ludah
nenekku
> dahulu yang suka makan sirih. Merah darah. Berkali-kali aku meludah, hal
> yang sama berulang. Juga di hari-hari berikutnya. *Ya Allah, cobaan
apalagi
> ini?*
>
> Bukan itu saja. Sebagian kawan tak percaya waktu aku bilang hidup
satu atap
> bersama mertua tidaklah mudah. Mereka mengajukan argumentasi soal
> penghematan biaya hidup dan kemudahan saat mengurus anak yang masih
bayi.
> Aku tertawa. Aku dan kawan-kawan itu tak punya definisi yang sama soal
> "tinggal di wisma mertua indah". Setiap definisi, seumum apapun
cakupannya,
> tentu tak sanggup mencakup sesuatu yang di luar kelaziman. Nah,
itulah yang
> aku jalani. Buktinya barangkali bisa ditanyakan pada mas kawin
pernikahan
> kami yang rajin "disekolahkan" di pegadaian. Barangkali saat ini mereka
> sudah pintar mengajari kami – aku dan istriku – soal perjuangan hidup.
>
> Aku selalu menghibur istriku, setelah sholat malam dan diberbagai
> kesempatan, bahwa roda senantiasa akan berputar asalkan kita tak
kenal lelah
> untuk memutarnya. Sebagai ayah, aku belajar mempersiapkan mental
baja agar
> anakku nanti tak lemah. Sepeninggalku, jika sampai waktuku, aku tak
ingin
> meninggalkan keturunan yang lemah, yang hanya bergantung pada orangtua
> bahkan hingga mereka dewasa dan saatnya menikah. Bukankah anak singa
takkan
> lahir dari seekor kambing?
>
> Sesungguhnya penghiburan terutama bagi kami – yang penat dengan jungkir
> balik kehidupan terutama pasca aku berhenti *ngantor* – adalah sang
putera
> tersayang, Alham. Beratnya yang kini mencapai lima kilo lebih dengan
pipi
> gembul dan perawakan jangkung membuatnya tampak lebih besar dari
bayi-bayi
> seusianya. Ocehannya yang banyak, terutama selepas disusui, kerap
membuatku
> sadar bahwa banyak hal yang patut disyukuri ketimbang disesali dalam
hidup
> ini. Termasuk tawaran pemberian kereta dorong bayi – yang menurut
kami cukup
> mahal – dari seorang sahabat, yang sayangnya tak jua datang. Yah,
apapun,
> aku hargai niat baiknya.
>
> *"Mencintai seseorang akan membuatmu berani, dan dicintai seseorang akan
> membuatmu kuat,"* demikian kata Lao Tze, sang filsuf dari Tiongkok
kuno. Itu
> pelajaran kedua bagiku sebagai ayah. Berani berhutang, bentuk
praktisnya.
>
> Saat orderan terjemahan sepi, sementara aku mengisi waktu dengan menulis
> untuk koran, dan kami berhari-hari bertahan hidup dengan mie instan plus
> telur dan tak jarang hanya nasi goreng tanpa lauk – tanpa mertua dan
kakak
> ipar tahu – aku tak tega membiarkan anakku yang masih menyusui hanya
dapat
> asupan ASI yang alakadarnya. Selain menerjemahkan dan menulis,
aktivitasku
> sebagai *trainer* penulisan untuk anak-anak *dhuafa* sama sekali – dan
> memang bukan tujuan – tidak dapat diandalkan untuk tambahan pendapatan.
> Solusi kuno yang termudah, sejak awal peradaban manusia, untuk
kekurangan
> pendapatan adalah berhutang meski salah satu hadis Rasullulah mengatakan
> bahwa itu sebagian dari tanda-tanda kehinaan.
>
> Mata anakku yang bening dan besar saat menatapku, kerapkali saat aku
gendong
> untuk menidurkan atau membuatnya bersendawa, seakan bertanya
kepadaku,"Abi
> ngutang lagi ya?"
>
> "Iya nih," jawabku dengan mimik dibuat lucu untuk mencandainya.
Biasanya ia
> yang murah senyum akan tertawa terkekeh-kekeh. Terlebih lagi jika
aku dengan
> gokil menirukan gaya tangannya yang khas seperti gaya orang menyetir
mobil
> atau seperti gaya Superman terbang – dengan satu tangan teracung
lurus ke
> depan.
>
> "Nanti Alham sekolah yang tinggi ya. Biar jadi orang kuat," pesanku.
Entah
> mengerti atau tidak, ia tersenyum lebar. Tampak lucu menggemaskan dengan
> penampakan gusi kosong dan binaran mata kelerengnya. Semoga saja harapan
> ayahnya ini terpatri di alam bawah sadarnya kelak saat dewasa.
>
> Ya, menjadi orang kuat – dalam pengertian fisik, keimanan, ilmu,
finansial
> dan kedudukan – adalah syarat seorang pejuang, nama "Alham" adalah salah
> satu nama penulis-pejuang yang aku kagumi, dalam apapun bentuk
perjuangan
> yang ditekuninya.
>
> Jika ada tangga menuju kesuksesan di masa depan yang harus didaki
anakku ini
> maka aku rela jadi anak tangga terbawah untuk ia pijak menuju pijakan
> berikutnya. Ketika banyak orang maupun tetangga memuji-mujinya
sebagai anak
> yang "pintar" atau "responsif", aku termimpi-mimpi Alham berkuliah
di luar
> negeri. *Ah, mimpi yang indah*. Sayang aku lekas terbangun di dini
hari itu.
> Entahlah apakah ini juga obsesi masa laluku yang tak sampai ketika
seorang
> dosen menawariku beasiswa S-2 ke Jerman bahkan ketika aku masih di
semester
> lima. Sayang S-1 pun tak mampu aku tamatkan. Kekurangan biaya,
alasannya.
> Klise memang.
>
> Belajar menjadi ayah memang perlu waktu panjang. Aku rasa aku masih
di tahap
> teramat dini di usia anakku belumlah genap setahun. Namun pelajaran
ketiga
> yang utama yang aku dapatkan di tiga bulan menjadi ayah adalah:
*jika ada
> kemauan pasti ada jalan*. Dengan kondisi menjadi ayah dan suami
> berpenghasilan tak menentu yang pernah tertipu orang, terlilit
hutang dan
> kehabisan tabungan – yang merupakan ujian Allah agar emas terpisah dari
> loyang – aku belajar mengendalikan emosi, lebih menghargai istri dan
belajar
> mensyukuri yang ada serta lebih gesit mengejar peluang.
>
> Di titik inilah aku merasakan dengan makna sejati-jatinya bahwa
pernikahan –
> termasuk keberadaan anak --mendewasakan orang. Saat beberapa teman
lajang
> curhat kepadaku tentang susahnya hidup melajang dan mereka
berangan-angan
> tentang (melulu) indahnya pernikahan, aku tersenyum. Aku hanya
berdoa semoga
> kelak, dengan harapan semuluk itu, mereka tidak menyesal menikah. Karena
> sebenarnya ungkapan lama "sengsara membawa nikmat" dari Sutan Sati –
penulis
> Melayu angkatan Balai Pustaka – dalam konteks pernikahan dapat
> terbolak-balik letaknya. Dan cinta tak selalu semakna dengan bisikan
mesra
> atau tatapan sayang. Cinta sejati lebih merupakan perjuangan yang
tak jarang
> berlumur peluh dan air mata.
>
>
>
> *Jakarta, 14 Februari 2009*
>
> * *
>
>
> --
> -"Let's dream together!"
> Nursalam AR
> Translator, Writer & Writing Trainer
> 0813-10040723
> E-mail: salam.translator@...
> YM ID: nursalam_ar
> http://nursalam.multiply.com
>

2b.

Re: [keluarga] Belajar Menjadi Ayah

Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com

Mon Feb 16, 2009 10:38 pm (PST)

Yup, betul, Fey. Itulah yang "mematangkan" kita. Kalo ga kuat-kuat ya
hangus,hehe...

Thx for reading!

tabik,

Nursalam AR

On Tue, Feb 17, 2009 at 1:00 PM, inga_fety <inga_fety@yahoo.com> wrote:

> Mas Nur, benar, awal-awal pernikahan mesti banyak ujiannya:D:D
> Hmm, jadi teringat pertama kali pulang ke Bojonegoro, ke tempat
> mertua, setelah menikah, berpanas-panas ria di kereta ekonomi
> semalaman, karena aku dan mas sama-sama gak punya uang lebih untuk
> membeli tiket kereta bisnis:)
>
> salam,
> febty
>
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com<sekolah-kehidupan%40yahoogroups.com>,
> Nursalam AR
> <nursalam.ar@...> wrote:
> >
> > *Belajar Menjadi Ayah*
> >
> > *Oleh Nursalam AR*
> >
> >
> >
> > *"Bakat terbentuk dalam kesunyian, watak terpupuk dalam riak besar
> > kehidupan." (Goethe)*
> >
> > Menjadi ayah, bagiku, adalah kegembiraan dan juga salah satu riak besar
> > kehidupan. Kegembiraan akan datangnya sang buah cinta dan darah daging
> > adalah hal wajar. Namun pada saat yang sama riak besar kehidupan mungkin
> > tidak selalu menyertai perjuangan setiap calon ayah. Buatku ini
> sebuah ujian
> > kehidupan untuk menggembleng watak. Barangkali aku patut bersyukur
> > semestinya. Karena sepertinya, setelah sepekan pertama menjadi ayah,
> Allah
> > memberikan gelombang riak besar jelang kelahiran bayiku sebagai
> ujian agar
> > kuat bertahan dalam gelombang-gelombang besar berikutnya. *Pre-test*,
> > barangkali maksud-Nya demikian.
> >
> > Jelang kelahiran bayiku, permohonan kasbon sebulan gaji ditolak *boss*.
> > Padahal sudah sejak sebulan sebelumnya ia sudah mengulur-ulur dengan
> > berbagai alasan seperti kondisi keuangan kantor yang tidak
> memungkinkan dll
> > – kendati aku tahu betul kegemarannya *dugem* yang menghabiskan jutaan
> > rupiah tiap malam. Tapi saat kedatanganku ke ruangannya terakhir
> kali itu,
> > sang *boss* mungkin tidak menyadari bahwa – sedetik setelah
> penolakannya –
> > aku akan mengambil keputusan keluar dari kantor (pada saat yang tepat).
> > Kembali menjadi "orang bebas" seperti tiga tahun sebelumnya.
> >
> > Menjelang pernikahanku setahun lalu pada 2007, demi memenuhi
> keinginan ibu
> > mertua, aku memang bekerja kantoran. Masih sebagai penerjemah *legal
> English
> > * (dokumen hukum dan bisnis) di agensi atau biro penerjemahan. Ini juga
> > berpindah-pindah. Dari agensi penerjemahan di Jakarta Timur aku hanya
> > bertahan lima bulan. Ada persoalan ketidakberesan gaji dan perlakuan
> yang
> > tidak manusiawi. Setelah pindah ke biro yang lain – yang ini karena
> sang *
> > boss* adalah sahabat lamaku dan ada beberapa kompromi termasuk gaji,
> di mana
> > aku lebih mengalah, dibuat – aku juga tak bertahan lama.
> >
> > Per Desember 2008 aku resmi berhenti bekerja kantoran. Membuka
> bisnis agensi
> > penerjemahan sendiri. Meski, dilihat dari kesiapan infrastruktur dan
> modal,
> > lebih cocok untuk disebut "penerjemah *freelance*". Bayangkan saja
> kantor
> > agensi penerjemahan tanpa fasilitas printer, koneksi internet,
> faksimili dan
> > sambungan telepon rumah. Ruangannya pun menyatu dengan sebuah kamar
> – yang
> > aku, istri dan anakku tempati – yang menumpang pada rumah ibu mertuaku.
> > Lebih persis lagi, kantorku adalah seperangkat komputer – yang,
> > alhamdulillah, sudah lunas -- kreditan. *That's it!*
> >
> > Gila! Mungkin ada yang menyebut demikian. Termasuk beberapa kawan dan
> > kerabat yang menyayangkan mengapa aku berhenti bekerja justru di
> saat baru
> > memiliki anak. Sementara istriku juga sudah berhenti bekerja sejak
> > mengandung dua bulan. Tapi aku yakin Allah Maha Pemurah. Bagi
> manusia, tanpa
> > pandang kualitas ibadah atau agamanya, pasti ada rejeki
> masing-masing asal
> > berani menjemput. Termasuk, yang aku yakini juga, ada bagian rejeki yang
> > sudah dicatatkan-Nya di *lauhul Mahfuz* di atas sana untuk anakku
> yang kini
> > sedang lucu-lucunya di usianya yang tiga bulan.
> >
> > Ya, aku sedang belajar menjadi ayah. Pelajaran pertama yang kucatat,
> saat
> > permohonan kasbonku ditolak *boss* yang notabene sahabat sendiri,
> adalah *hanya
> > Allah yang sesungguhnya dan selayaknya menjadi tempat bergantung*.
> Sedekat
> > apapun manusia, mereka punya keterbatasan dan tak bisa selalu
> diharapkan.
> >
> > Ketika kasbon ditolak sementara dokter sudah menvonis istriku harus
> > dioperasi caesar beberapa pekan lagi, datang tawaran dua order besar
> – yang
> > terbilang jarang aku dapat--kepadaku. Aku ajukan kesanggupan dan minta
> > klien-klienku tersebut setor uang muka (DP, *down payment*) terlebih
> dulu.
> > Kendati itu harus aku tebus dengan bekerja dobel keras karena selepas *
> > ngantor* aku harus begadang hingga dini hari untuk menyelesaikan
> kedua order
> > tersebut hingga sebulan lebih. Tapi dengan itulah aku dapat
> mencukupi biaya
> > operasi caesar istriku. Alhamdulillah, anakku lahir dengan selamat.
> > Laki-laki. Muhammad Alham Navid namanya.
> >
> > Empat puluh hari pertama bagi seorang ayah baru sepertiku sungguh tak
> > terlupakan. Sementara berjuang bermalam-malam menyelesaikan dua order
> > terjemahan tersebut, aku juga harus membantu istriku mengganti popok
> bayi
> > atau menidurkannya. Frekuensi menyusui dan buang air (kecil dan
> besar) bayi
> > dalam 40 hari pertama sungguh dahsyat. Rata-rata nyaris seperempat jam
> > sekali. Alhasil, meski sudah dibantu ibu mertua dalam merawat bayi
> kami, aku
> > ambruk dan sempat jatuh sakit. Cukup parah hingga seminggu tidak
> *ngantor*.
> > Dan aku pikir itulah saat yang tepat untuk *resign*, berhenti bekerja.
> > Setelah agak membaik, aku pamit baik-baik dari kantor.
> >
> > Rasanya sudah cukup aku memperkaya sahabatku itu -- hingga tubuhku
> bobrok
> > -- yang tak peduli dengan kondisiku yang notabene pegawainya sendiri. Di
> > kantorku tersebut hanya ada dua orang tenaga penerjemah termasuk aku.
> > Sehingga aku tahu betul – semestinya – posisi tawar kami. Namun
> hidup memang
> > keras. Dan barangkali itu yang harus dijalani.
> >
> > Aku bukan *super daddy*, ayah super dan juga tak ingin menjadi
> seperti itu.
> > Aku hanya ingin jadi ayah yang baik, yang mampu memberikan kehidupan dan
> > penghidupan yang layak bagi anaknya. Jalan terbaik, yang ada di
> pikiranku
> > saat itu, adalah mencoba mandiri, berusaha sendiri. Jatuh bangun,
> aku pikir
> > sudah biasa, niscaya akan mendewasakanku.
> >
> > Tak urung aku *shock* juga ketika riak-riak besar yang lain
> menghantam. Dua
> > klienku yang sebelumnya itu -- ketika pekerjaan sudah aku serahkan
> -- lari
> > dengan meninggalkan sisa tagihan tak terbayar. Jumlahnya mencapai enam
> > setengah juta rupiah. Lebih terpukul lagi ketika, saat malam
> berhujan lebat
> > dan dingin menyengat, dada kiriku nyeri dan aku terbatuk-batuk hebat di
> > kamar mandi. Ketika aku meludah, ludahku merah seperti bekas ludah
> nenekku
> > dahulu yang suka makan sirih. Merah darah. Berkali-kali aku meludah, hal
> > yang sama berulang. Juga di hari-hari berikutnya. *Ya Allah, cobaan
> apalagi
> > ini?*
> >
> > Bukan itu saja. Sebagian kawan tak percaya waktu aku bilang hidup
> satu atap
> > bersama mertua tidaklah mudah. Mereka mengajukan argumentasi soal
> > penghematan biaya hidup dan kemudahan saat mengurus anak yang masih
> bayi.
> > Aku tertawa. Aku dan kawan-kawan itu tak punya definisi yang sama soal
> > "tinggal di wisma mertua indah". Setiap definisi, seumum apapun
> cakupannya,
> > tentu tak sanggup mencakup sesuatu yang di luar kelaziman. Nah,
> itulah yang
> > aku jalani. Buktinya barangkali bisa ditanyakan pada mas kawin
> pernikahan
> > kami yang rajin "disekolahkan" di pegadaian. Barangkali saat ini mereka
> > sudah pintar mengajari kami – aku dan istriku – soal perjuangan hidup.
> >
> > Aku selalu menghibur istriku, setelah sholat malam dan diberbagai
> > kesempatan, bahwa roda senantiasa akan berputar asalkan kita tak
> kenal lelah
> > untuk memutarnya. Sebagai ayah, aku belajar mempersiapkan mental
> baja agar
> > anakku nanti tak lemah. Sepeninggalku, jika sampai waktuku, aku tak
> ingin
> > meninggalkan keturunan yang lemah, yang hanya bergantung pada orangtua
> > bahkan hingga mereka dewasa dan saatnya menikah. Bukankah anak singa
> takkan
> > lahir dari seekor kambing?
> >
> > Sesungguhnya penghiburan terutama bagi kami – yang penat dengan jungkir
> > balik kehidupan terutama pasca aku berhenti *ngantor* – adalah sang
> putera
> > tersayang, Alham. Beratnya yang kini mencapai lima kilo lebih dengan
> pipi
> > gembul dan perawakan jangkung membuatnya tampak lebih besar dari
> bayi-bayi
> > seusianya. Ocehannya yang banyak, terutama selepas disusui, kerap
> membuatku
> > sadar bahwa banyak hal yang patut disyukuri ketimbang disesali dalam
> hidup
> > ini. Termasuk tawaran pemberian kereta dorong bayi – yang menurut
> kami cukup
> > mahal – dari seorang sahabat, yang sayangnya tak jua datang. Yah,
> apapun,
> > aku hargai niat baiknya.
> >
> > *"Mencintai seseorang akan membuatmu berani, dan dicintai seseorang akan
> > membuatmu kuat,"* demikian kata Lao Tze, sang filsuf dari Tiongkok
> kuno. Itu
> > pelajaran kedua bagiku sebagai ayah. Berani berhutang, bentuk
> praktisnya.
> >
> > Saat orderan terjemahan sepi, sementara aku mengisi waktu dengan menulis
> > untuk koran, dan kami berhari-hari bertahan hidup dengan mie instan plus
> > telur dan tak jarang hanya nasi goreng tanpa lauk – tanpa mertua dan
> kakak
> > ipar tahu – aku tak tega membiarkan anakku yang masih menyusui hanya
> dapat
> > asupan ASI yang alakadarnya. Selain menerjemahkan dan menulis,
> aktivitasku
> > sebagai *trainer* penulisan untuk anak-anak *dhuafa* sama sekali – dan
> > memang bukan tujuan – tidak dapat diandalkan untuk tambahan pendapatan.
> > Solusi kuno yang termudah, sejak awal peradaban manusia, untuk
> kekurangan
> > pendapatan adalah berhutang meski salah satu hadis Rasullulah mengatakan
> > bahwa itu sebagian dari tanda-tanda kehinaan.
> >
> > Mata anakku yang bening dan besar saat menatapku, kerapkali saat aku
> gendong
> > untuk menidurkan atau membuatnya bersendawa, seakan bertanya
> kepadaku,"Abi
> > ngutang lagi ya?"
> >
> > "Iya nih," jawabku dengan mimik dibuat lucu untuk mencandainya.
> Biasanya ia
> > yang murah senyum akan tertawa terkekeh-kekeh. Terlebih lagi jika
> aku dengan
> > gokil menirukan gaya tangannya yang khas seperti gaya orang menyetir
> mobil
> > atau seperti gaya Superman terbang – dengan satu tangan teracung
> lurus ke
> > depan.
> >
> > "Nanti Alham sekolah yang tinggi ya. Biar jadi orang kuat," pesanku.
> Entah
> > mengerti atau tidak, ia tersenyum lebar. Tampak lucu menggemaskan dengan
> > penampakan gusi kosong dan binaran mata kelerengnya. Semoga saja harapan
> > ayahnya ini terpatri di alam bawah sadarnya kelak saat dewasa.
> >
> > Ya, menjadi orang kuat – dalam pengertian fisik, keimanan, ilmu,
> finansial
> > dan kedudukan – adalah syarat seorang pejuang, nama "Alham" adalah salah
> > satu nama penulis-pejuang yang aku kagumi, dalam apapun bentuk
> perjuangan
> > yang ditekuninya.
> >
> > Jika ada tangga menuju kesuksesan di masa depan yang harus didaki
> anakku ini
> > maka aku rela jadi anak tangga terbawah untuk ia pijak menuju pijakan
> > berikutnya. Ketika banyak orang maupun tetangga memuji-mujinya
> sebagai anak
> > yang "pintar" atau "responsif", aku termimpi-mimpi Alham berkuliah
> di luar
> > negeri. *Ah, mimpi yang indah*. Sayang aku lekas terbangun di dini
> hari itu.
> > Entahlah apakah ini juga obsesi masa laluku yang tak sampai ketika
> seorang
> > dosen menawariku beasiswa S-2 ke Jerman bahkan ketika aku masih di
> semester
> > lima. Sayang S-1 pun tak mampu aku tamatkan. Kekurangan biaya,
> alasannya.
> > Klise memang.
> >
> > Belajar menjadi ayah memang perlu waktu panjang. Aku rasa aku masih
> di tahap
> > teramat dini di usia anakku belumlah genap setahun. Namun pelajaran
> ketiga
> > yang utama yang aku dapatkan di tiga bulan menjadi ayah adalah:
> *jika ada
> > kemauan pasti ada jalan*. Dengan kondisi menjadi ayah dan suami
> > berpenghasilan tak menentu yang pernah tertipu orang, terlilit
> hutang dan
> > kehabisan tabungan – yang merupakan ujian Allah agar emas terpisah dari
> > loyang – aku belajar mengendalikan emosi, lebih menghargai istri dan
> belajar
> > mensyukuri yang ada serta lebih gesit mengejar peluang.
> >
> > Di titik inilah aku merasakan dengan makna sejati-jatinya bahwa
> pernikahan –
> > termasuk keberadaan anak --mendewasakan orang. Saat beberapa teman
> lajang
> > curhat kepadaku tentang susahnya hidup melajang dan mereka
> berangan-angan
> > tentang (melulu) indahnya pernikahan, aku tersenyum. Aku hanya
> berdoa semoga
> > kelak, dengan harapan semuluk itu, mereka tidak menyesal menikah. Karena
> > sebenarnya ungkapan lama "sengsara membawa nikmat" dari Sutan Sati –
> penulis
> > Melayu angkatan Balai Pustaka – dalam konteks pernikahan dapat
> > terbolak-balik letaknya. Dan cinta tak selalu semakna dengan bisikan
> mesra
> > atau tatapan sayang. Cinta sejati lebih merupakan perjuangan yang
> tak jarang
> > berlumur peluh dan air mata.
> >
> >
> >
> > *Jakarta, 14 Februari 2009*
> >
> > * *
> >
> >
> > --
> > -"Let's dream together!"
> > Nursalam AR
> > Translator, Writer & Writing Trainer
> > 0813-10040723
> > E-mail: salam.translator@...
> > YM ID: nursalam_ar
> > http://nursalam.multiply.com
> >
>
>
>

--
-"Let's dream together!"
Nursalam AR
Translator, Writer & Writing Trainer
0813-10040723
E-mail: salam.translator@gmail.com
YM ID: nursalam_ar
http://nursalam.multiply.com
3.

[Motivasi]Tak Ada Peluh yang Sia-sia

Posted by: "kekasihujan" ia_nariez@yahoo.co.id   kekasihujan

Mon Feb 16, 2009 11:04 pm (PST)

Sebuah perjalanan hidup akan terasa begitu manis jika mampu
melewatinya dengan sebuah proses. Karena kesuksesan itu suatu
perjalanan, bukan tempat tujuan;separuh dari kesenangan terdapat di
tengah perjalanan menuju ke sana.
Banyak orang menempuh kesuksesan dari pahitnya perjalanan yang justru
akan menjadi manis saat berhasil melewatinya. Kalimat ini mengingatkan
penulis pada sebuah perjalanan keliling dunia yang dilakukan Jeje,
pria paruh baya asli Bandung, Jawa Barat. Jangan dibayangkan jika
beliau keliling dunia menggunakan fasilitas memadai layaknya pesawat
terbang dan melepas lelah di hotel berbintang. Beliau berkeliling
dunia menggunakan sebuah sepeda motor seorang diri, membawa bekal
secukupnya, bermalam di tenda seadanya, pernah ditabrak sebuah mobil
dengan sengaja, hampir dimakan beruang, dirampok, bahkan ikut menjadi
sasaran tembak pada saat singgah di negara perang. Beliau telah
menginjakkan kaki di 72 negara dan tiga benua, serta menghabiskan
waktu sekitar 2 tahun 8 bulan.
Pengalaman hidup yang sungguh luar biasa! Perjalanan beliau ini
bukanlah sebuah perjalanan tanpa tujuan, melainkan sebuah perjalanan
untuk mempromosikan Indonesia di mata dunia, beliau ingin menunjukkan
bahwa Indonesia tidak kalah dengan negara lain, dan juga membawa misi
"Riding for Peace". Misi ini sudah diikuti berbagai negara dan beliau
termasuk 10 biker yang sudah diperhitungkan di mata dunia.
Melihat kenyataan seperti itu, tak ada yang tak mungkin di dunia ini.
Karena ketidakmampuan hanya ada dalam pikiran diri sendiri, ketakutan
pada kegagalan hanya akan membelenggu pikiran untuk berkembang. Gagal
bukan berarti kita gagal dalam mencapai tujuan, tapi kegagalan adalah
benih untuk memetik buah kesuksesan di kemudian hari. Yakinlah, bahwa
Tuhan telah mencatat segala usaha kita dan akan mengembalikannya
dengan cara-Nya sendiri yang jauh lebih manis. Bukankah hakikat hidup
hanyalah usaha? Tentu saja, sebuah usaha keras untuk mencapai apa yang
kita inginkan. Oleh karena itu, ketika suatu hasrat sudah menggebu
dalam diri, tak usah menunggu esok apalagi lusa untuk menjadikannya
nyata, karena apapun yang kita lakukan akan mendapat kritik, dan kita
juga akan dikutuk jika tidak melakukannya.**

4a.

Re: (catcil) ngidam

Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com   inga_fety

Mon Feb 16, 2009 11:13 pm (PST)

ketinggalan berita:)
retno, aku ingin mneyusul dirimu:)
barakalahh yah..
moga dilancarkan sampai menjelang persalinan..

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "Bu CaturCatriks"
<punya_retno@...> wrote:
>
> NGIDAM
> Oleh Retnadi Nur'aini
>
> In this world, there's nothing like being pregnant.
>
> 1 bulan lalu, nyaris tak percaya rasanya saat melihat hasil dua garis
> penanda positif di testpack saya. Merasa sangsi, saya pun me-retest
> dengan testpack merk yang berbeda keesokan paginya. Saat garis kedua
> itu makin jelas, saya dan suami pun bergegas melakukan USG perdana
> pada akhir minggu.
>
> Dan disanalah ia, calon janin pertama kami. Di usia 4 minggu, calon
> janin ini masih berupa kantong mungil berisi gumpalan darah. Demikian
> mungilnya, sampai-sampai saat kami membawa selembar hasil print out
> USG itu, kami masih harus menebak-nebak letaknya—yang belakangan kami
> ketahui ditandai titik positif.
>
> Hingga kinipun, masih terngiang-ngiang ucapan suami saya di telinga
> saya "Dhe, insya allah kita akan jadi Mama dan Ayah. Alhamdulillah dan
> bismillah, ya…"
> ***
>
> Sebagai control freak berpotensi OCD, saya hobi membuat persiapan.
>
> Saat merencanakan sesuatu, saya akan merancangnya secara mendetil,
> menimbang segala faktor resiko, menyusun plan B, plan C, plan B1, plan
> B2, plan C1, C2, dan sebagainya. Bagi saya, setiap rencana itu ibarat
> sebuah proposal yang harus memuat latar belakang, tujuan, timeline,
> target, deadline, dan sebagainya.
>
> Beberapa bulan sejak mulai merencanakan kehamilan, saya pun menyusun
> perbekalan saya. Saya membaca setumpuk buku, browsing banyak situs,
> mengobrol dengan banyak ibu muda tentang pengalaman hamil mereka,
> menimba banyak tips. Untuk kemudian, menyusun rencana untuk mengurangi
> aktivitas saya, baik pekerjaan di kantor maupun aktivitas lainnya.
>
> Tapi tentu saja, segalanya tak pernah terasa sama sampai kita
> mencicipi sendiri rasanya. Pada saat umur kehamilan saya masih 4
> minggu, segalanya berjalan sangat mulus. Saya tidak muntah, sangat
> berselera makan apapun sehingga bisa makan banyak—hal yang disindir
> oleh sahabat saya, Shinta, dengan "Perasaan No nggak hamil juga
> maemnya banyak, deh," dan nyaris tidak perlu mengurangi aktivitas.
> Sedikit keluhan saya hanyalah mudah lelah, dan kaki yang sering nyeri,
> that's it. Hal yang sempat diirikan oleh beberapa teman saya yang
> sudah punya anak.
>
> Namun siapa sangka, segalanya berubah di minggu ke-6. Karena sempat
> terpeleset di kamar mandi pada minggu ke-5 dan beberapa jam kemudian
> perut saya kontraksi, atas saran dokter, saya pun memutuskan untuk
> bedrest selama 2 minggu.
>
> Saat inilah, saya merasakan sindrom ibu hamil sungguhan. Perubahan
> hormon mulai membuat saya mual, muntah, sakit kepala, lemas, meriang,
> mudah lelah, kaki nyeri, tidak nafsu makan, sampai punya emosi rapuh
> yang sangat sangat sensitif. Betapa saya bisa mual nyaris sepanjang
> hari untuk alasan-alasan yang sangat sepele: Guncangan di bis yang
> terlalu keras, duduk lebih dari 1 jam, menghirup debu, bahkan—believe
> it or not—saat saya merasa sedih. Ya, saat saya merasa sedih, saya
> akan muntah lebih sering dan lebih banyak dari biasanya. Dan karena
> bagi saya, muntah adalah aktivitas yang melelahkan secara fisik dan
> mental, makin banyak muntah pun membuat saya makin frustasi dan hilang
> kontrol atas banyak hal.
>
> Kalau sudah begini, biasanya suami saya akan mendekatkan kepalanya ke
> perut saya yang mulai membuncit. Lalu berujar pelan-pelan "Dede nanti
> jadi anak baik ya, yang sayang sama Mama ya…".
>
> Dan saya akan tersenyum.
>
> Untuk kemudian minta maaf pada ibu saya. "Duh, Retno dulu pasti bandel
> banget ya. Maafin Retno ya Bu…"
> ***
> Kisah kehamilan kerap kali dibalut dengan kisah-kisah tentang
> ngidam—tak terkecuali saya. Saat belum hamil, kita tahu persis,
> makanan apa yang kita inginkan. Kita bisa mengidentifikasinya dengan
> jelas, dan pada saat-saat tertentu yang berulang, identifikasi itu
> bisa menjadi pola yang saklek. Misalnya, saat belum hamil, saya kerap
> menyantap bubur ayam saat sedang merasa tak enak badan. Pola itu
> berlanjut terus, saat saya sakit tipes, demam berdarah, maag, atau
> bahkan pilek dan radang tenggorokan.
>
> Tapi saat hamil, trust me, tidak ada pola. Dari literatur yang saya
> baca, tak ada yang menjelaskan secara spesifik faktor penyebab ngidam.
> Biasanya hanya disebutkan: perubahan hormon—istilah Shinta: "hormon
> jungkir balik"—akan menyebabkan terjadinya perubahan selera makan.
> Dalam kenyataannya, tentu tidak sesederhana itu. Pada saya misalnya,
> saat hamil, semua identifikasi selera makan seolah datang dari
> wangsit. Ada kalanya, saya bisa tahu dengan jelas, saya ingin makan
> apa. Tapi most of the time, tidak. Saya cuma bisa mengira-ngira,
> "Kira-kira, dengan badan nggak enak dan mual-mual kaya gini, enaknya
> makan apa ya?". Well, ada kalanya, usaha mengira-ngira itu benar, dan
> ada kalanya salah. Dan sekali lagi, tidak ada pola. Saat hari ini saya
> merasa mual-mual dan merasa nyaman makan pangsit rebus misalnya, kali
> lain belum tentu. Untuk itu, Shinta pernah berkomentar "No jangan
> segan kalau ngidam ya. No minta pecel semanggi juga pasti dicariin."
> (Ya, saat membaca sms ini saya juga membatin hal yang sama "Why on
> earth would I want to eat pecel semanggi, ya Nta???"), still, tetap
> saja saya berusaha memahami analogi Shinta.
>
> Anyway, perubahan hormon terhadap selera makan ini juga mempengaruhi
> orang-orang terdekat saya. Mulai dari suami, ibu, ayah, sampai
> abang-abang saya. Saya tidak lupa suami saya yang keluar hujan-hujanan
> untuk membelikan mi goreng di Ciawi. Atau Bapak yang keluar
> malam-malam demi mencarikan es krim strawberry. Bapak dan Ibu pula
> yang paling sering bertanya pada saya "Retno mau makan apa? Nanti
> dicariin…"
>
> Meski pada akhirnya saya seringkali terpaksa harus minta maaf pada
> mereka semua, saat saya tak mampu menghabiskan makanan yang sudah
> terlanjur dibelikan. Dan dengan manisnya, para malaikat cantik ini
> berujar "Ya, nggak papa, yang penting kan kemakan sedikit. Gapapa ya,
> tenang aja…"
> ***
>
> (Again)In this world, there's nothing like being pregnant.
>
> Dan saya belajar, bahwa pun saya merasa punya banyak persiapan untuk
> menjadi hamil, ada kalanya saya harus menyerahkan segalanya saja pada
> Tuhan. Go with the flow. Menikmati keajaiban akan fakta adanya makhluk
> lain tumbuh dan berkembang dalam diri saya. Menikmati ritme hidup saya
> yang jadi jauh lebih lambat dari biasanya. Juga menikmati dan
> mensyukuri keberadaan para malaikat di sekitar saya.
>
> Tidak hanya suami, Bapak dan Ibu saja. Namun juga ketiga abang saya.
> Betapa abang sulung saya bahkan rela datang dari Bogor untuk memijiti
> kaki dan tangan saya—meski setelah memijiti mata ayah 3 anak ini
> bersinar-sinar mupeng dan berujar "Tapi abis ini gua ditraktir bubur
> ayam kan No ya?". Dan saat saya mengangguk, abang saya nomor dua,
> langsung bersemangat memijiti pundak saya dan berujar "Asyiiik! Gua
> juga kan No?"
>
> Atau para keponakan saya yang menyiapkan nama untuk calon anak saya.
> Dafa (6 tahun) misalnya. Ia mengusulkan nama: "Pencuri", "Tikus
> gorilla", "Spiderman". Sementara kakaknya, Farhan (9 tahun)
> mengusulkan nama: "Halo" dan "Hilang Dimana". Alasan Farhan adalah:
> "Kan lucu Tante Retno, kalo nanti diabsen terus dipanggil "Yang
> namanya `Hilang Dimana' masuk ndak?". Hosh.
>
> Anyway, reaksi teman-teman kantor dan atasan sayalah yang selalu saja
> membuat saya terharu. Saya tak pernah lupa, pagi saat Bang Ade berkata
> "Retno mulai sekarang nggak usah dateng tiap hari ke kantor ya.
> Banyak-banyak istirahat ya. Saya nggak mau kamu kenapa-kenapa…" yang
> disertai imel dan sms doa dari para teman kantor saya. Dan setiap kali
> mata saya mulai berkaca-kaca menerima kemurahan hati ini, mereka akan
> segera mengambil tisu. "Hmm, ibu hamil mulai nangis deh. Pasti anaknya
> Mbak Retno cewek nih, abis Mbak Retno nangis mulu," ledek mereka
> dengan sayang.
>
> Dan juga, para teman-teman—Mbak Indar, Mas Nur, Mbak Endah, Shinta,
> Dhanny, yang selalu berusaha menjawab pertanyaan saya seputar
> kehamilan seperti "Boleh kerokan nggak sih?" "Apa-apa nggak sih, kalo
> aku kram perut?", atau "Boleh nggak sih, aku pakai pelembab wajah yang
> kupake sekarang?, dan semacamnya. Shinta bahkan merekomendasikan pada
> saya dua situs yang kemudian jadi situs favorit saya: babycenter dan
> 3dpregnancy—sebuah situs yang menyajikan animasi perkembangan bayi
> dari minggu ke minggu. Atau sms praktis dari kakak ipar saya—Mbak
> Nanik, juga sms penyemangat dari para saudara, tetangga, dan teman
> seperti Yena, Indri, Mbak Siwi, Mbak Lia, Kang Dani, Mbak Ugik, Achi,
> Divin, Novi, Hestia, CP, Mas Riswan, Mbak Inuk, Nia, Mbak Sya—yang
> dengan baik hatinya mengirimkan dua buku panduan ke rumah saya, Ain—si
> newlywed yang bahkan saat sedang tugas ke Riau pun ingat untuk
> membelikan saya keripik balado merk Christine Hakim.
>
> Mengutip salah satu sms Dhanny "Sabar ya No. Emang berat, tapi insya
> allah buahnya manis…" Dan ya, Dhanny yang cantik dan baik hati, saya
> percaya. Karenanya, saat ada orang yang bertanya pada saya bagaimana
> rasanya hamil—pun saya selalu mengawalinya dengan banyak keluhan
> tentang betapa maboknya saya—saya selalu menutupnya dengan kalimat
> "Well, se-nggak enak apapun, still it's amazingy beautiful."
>
> Ah surely, it is beautiful.
> ***
>

5a.

Re: (Catcil) Sisi Lain Jepang: Sidang Penentuan Mahasiswa

Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com   inga_fety

Mon Feb 16, 2009 11:16 pm (PST)

he..he..mbak ugik, ternyata sindrom skripsi melanda sampai surabaya.
iya, mbak, aku mesti sehat. gak mau sakit lagi:)
alhamdulillah sekarang sudah bisa nulis lagi, setelah pengumuman ujian
masuk itu, mbak. thanks untuk doanya kepada diriku:)

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, ugik madyo <ugikmadyo@...>
wrote:
>
> Berandai-andai sejenak nih ceritanya Fey ;)
>
> Seandainya sidang skripsi di Indo kayak gitu
> Gak bakal aku diare semingguan
> Gak bakal sehari sebelumnya nonton bioskop seharian
> Gak bakal senyum paling manis dengan jantung melonjak-lonjak kegirangan
> hehehe
> Namanya juga andai
>
> andai-andai lumut naik kapal dan berlayar jauh
> andai pun pergi jauuuh
> apaan ini ya, komentar gak jelas :O
>
> Maap ya semuanya :)
> BTW seneng banget akhirnya muncul tulisan Fey
> semoga sehat terus ya disana :)
> miss u :)
>
> Ugik Madyo
> http://ugik.multiply.com
> http://ruanghijau.blogspot.com
>

5b.

Re: (Catcil) Sisi Lain Jepang: Sidang Penentuan Mahasiswa

Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com   inga_fety

Mon Feb 16, 2009 11:17 pm (PST)

bukan hanya mas nur yang berkata seperti itu.
semoga nnt, byk perubahan untuk indonesia tercinta mas nur..

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Nursalam AR
<pensilmania@...> wrote:
>
> Unik ya, Fey. Jadi ingat dulu waktu teman sidang skripsi sampe bawa
suporter
> biar mendoakan dia di ruangan:). Yah, beda jepang dan Indonesia
mungkin di
> soal birokratisasinya. Di Indonesia, jika bisa dipersulit kenapa harus
> dipermudah?hehe..Pesimis sekali ya:).
>
> Tabik,
>
> Nursalam AR
>
>
>
> 2009/2/9 febty febriani <inga_fety@...>
>
> > Hari ini dan besok adalah sidang skripsi S1 mahasiswa di Chiba
> > University. Jadwal presentasi mahasiswa tingkat akhir di labku (di
Jepang
> > disebut dengan Yonensei) adalah hari ini. Jangan bayangkan seperti
rumitnya
> > sidang skripsi S1 di Indonesia. Menurutku, sidang skripsinya
sangat simpel.
> > Bahkan, ada beberapa mahasiswa hanya menggunakan kaos dan sweater
waktu
> > presentasi. kaget, awalnya. Tapi, setelah kutanya dengan seorang
mahasiswa
> > Doktor yang juga berasal dari Indonesia, hal itu adalah lumrah
[image: :D] Sidangnyapun tidak lama-lama. Hanya 15 menit. Dua belas
menit untuk
> > presentasi dan tiga menit sisanya adalah waktu untuk para sensei
bertanya.
> > Dan kalau dalam waktu tiga menit itu jawaban atas pertanyaan belum
memuaskan
> > sensei yang bertanya, yah sudah tidak apa-apa. Mahasiswa yang
sidangpun
> > adalah mahasiswa satu fakultas. Jadi, suasananya persis mirip seminar.
> >
> > Sekitar satu minggu lalu adalah sidang thesis mahasiswa S2. Dari pagi
> > sampai sore, karena seluruh mahasiswa S2 fakultas sains (dalam
bahasa Jepang
> > disebut rigakubu) mempresentasikan thesisnya hari itu. Di labku,
cuma ada
> > satu orang mahasiswa S2 yang mau lulus (di Jepun disebut dengan M2).
> > Jadilah, dia adalah mahasiswa S2 tersibuk di labku. Bolak-balik dari
> > ruangannya ke ruangan sensei untuk konsultasi. Sama seperti sidang
skripsi
> > S1, suasana sidang thesis S2 juga mirip seminar. Waktu presentasi
cuma 12
> > menit, dan 3 menit terakhir adalah sesi tanya jawab. Dan, kalau
bel tanda 15
> > menit berbunyi, selesailah masa-masa mendebarkan itu. Paling enak,
mungkin,
> > adalah seorang mahasiswa S2 dari Indonesia. Presentasinya dalam bahasa
> > Inggris. Aku menyebutnya 'enak' karena sedikit sensei yang
bertanya tentang
> > penelitiannya. Ntahlah karena apa. Aku jadi ingat dengan ujian
wawancaraku
> > untuk ujian masuk Chibadai. Dari sekitar sepuluh orang sensei yang
> > mewawancari, hanya tiga orang yang kuingat bertanya kepadaku. Enak
juga sih,
> > gak ditanya macam-macam. Padahal orang-orang China yang ikut ujian
masuk
> > Chibadai dan wawancara dalam bahasa Jepang, bercerita kalau
> > pertanyaan-pertanyaannya sulit. Raut muka dan ekspresi cara
berceritanya
> > yang mengatakan kepadaku.
> >
> >
> > Nah, yang agak serius adalah *oral-defense* mahasiswa Doktor. Di
Chibadai
> > ada dua kali sidang mahasiswa S3. Sidang tertutup dan sidang
terbuka. Aku
> > hanya bisa menghadiri sidang terbuka seorang mahasiswa Doktor di
labku,
> > sekitar dua minggu yang lalu. Tentu saja dalam bahasa jepang, dan
jadilah
> > aku sebagai penonton saja. Sangat sedikt mengerti tentang hal yang
> > dibicarakan. Mahasiswa di Jepang sangat jarang yang bisa berbahasa
Inggris.
> > Begitu juga dengan mahasiswa Doktor di labku yang sidang thesis
PhDnya kali
> > ini. Karena itulah, ketika seorang mahasiswa Doktor dari Indonesia
yang
> > bertanya dalam bahasa Inggris ketika *oral-defense*nya, akhirnya
> > pertanyaan itu ditranslate oleh seorang sensei sehingga mahasiswa
S3 yang
> > *oral-defense* mengerti. Tapi, akhirnyapun dijawab dalam bahasa
Jepang.
> > Aneh, kan. Awalnya iya. Tapi setelah hampir 4 bulan di Jepang,
rasanya hal
> > itu menjadi hal yang biasa. Pun juga ketika aku berkomunikasi
dengan sensei.
> > Kadang, aku bertanya dalam bahasa Jepang yang terpatah-patah. Beliau
> > menjawab dalam bahasa Inggris. Atau sebaliknya, aku bertanya dalam
bahasa
> > Inggris, senseiku menjawab dalam bahasa Jepang.
> >
> > Yah, sudahlah, lebih baik menikmati saja 'perjalanan kuliah ini'
[image:
> > :D]
> >
> >
> > Kesanku tentang sidang akhir untuk mahasiswa S1, S2 dan S3 begitu
simple,
> > tidak rumit. Jadi, kalau ada sidang S1, S2 dan S3 di Jepang jangan
> > dibayangkan ada konsumsi. Sama sekali tidak ada. Juga untuk
segelas air
> > putih. Apalagi segelas kopi. Bahkan, para sensei yang hadirpun,
membawa
> > botol minuman mereka sendiri. Ketika istirahat makan siang, yah
sudah makan
> > saja di kantin.
> >
> >
> >
> > @kampus, Februari 2009
> >
> > ~ http://ingafety.wordpress.com ~
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
>
> --
> -Nursalam AR
> Translator, Writer & Writing Trainer
> 0813-10040723
> E-mail pribadi: salam.translator@...
> YM ID: nursalam_ar
> www.nursalam.multiply.com
>

6a.

Re: Bls: [sekolah-kehidupan] (Catcil) Sisi Lain Jepang: Sidang Penen

Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com   inga_fety

Mon Feb 16, 2009 11:17 pm (PST)

InsyaAllah boleh..

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Lia Anggraini
<ao_zora90@...> wrote:
>
>
>
> Hi. Kak Febty!!
> Arigatou gozaimasu atas informasinya. Ini membuat Lia semakin
semangat untuk berusaha mendapatkan beasiswa dari pemerintah Jepang.
By the way, boleh nggak Lia kenalan sama Kakak? Mo minta pengalamannya
sekolah di Jepang.
>
> Yoroshiku onegaishimasu!!
>
>
>
> Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger. Tambahkan
mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/
>

7a.

Re: (Catatan Kaki) MENJUAL KEPERAWANAN

Posted by: "hariyanty thahir" anty_th@yahoo.com   anty_th

Tue Feb 17, 2009 12:50 am (PST)

Benar - benar NICE STORY mbak.
Saat kepercayaan kepada Allah mulai rapuh, maka kita sedang menunggu
sebuah kehancuran
Namun jika kepercayaan kepada Allah tetap di genggan erat maka MIRACLE
HAPPEND ^_^

salam
anty

8.

[Essay] Ketika Guru Terlilit Utang

Posted by: "Wildan Nugraha" wildanugraha@yahoo.com   wildanugraha

Tue Feb 17, 2009 1:41 am (PST)

Ketika Guru Terlilit Utang

Oleh Wildan Nugraha

SEJAK pekan kedua bulan ini, beberapa surat kabar menurunkan berita memprihatinkan tentang guru-guru di Kabupaten Bandung yang terlilit utang. Dikabarkan, pada Senin (10/2), tiga guru mendatangi kantor DPRD Kabupaten Bandung untuk mengadukan masalahnya. Mereka mewakili seratus lebih guru di Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, yang sudah lama terlilit utang dan kini kerap didatangi debt collector berbagai bank.

Diduga, terjadi praktik penipuan oleh oknum bendahara Unit Pengelola Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Modus yang digunakan oknum bendahara itu, seperti dilaporkan Pikiran Rakyat (10/2), adalah dengan melicinkan permohonan kredit guru ke beberapa Bank Perkreditan Rakyat (BPR) swasta di Kabupaten Bandung. Dari nilai kredit yang diberikan oleh BPR, ia meminta sampai lebih dari 50 persen dan berjanji akan bersama-sama mengangsur kredit itu dengan guru yang bersangkutan, lewat pemotongan langsung dari gaji setiap bulannya.

Tidak hanya ke satu BPR, tapi peminjaman bisa sekaligus ke beberapa BPR. Untuk jaminan peminjaman, oknum bendahara yang kini tidak diketahui keberadaannya itu, dapat memalsukan surat keputusan (SK) pengangkatan PNS guru yang bersangkutan. Akibatnya, banyak utang guru yang membengkak, dan setiap bulan gaji mereka langsung habis. Bahkan, ada guru yang setiap bulannya membawa pulang struk gaji bernilai minus Rp1,8 juta.

Fenomena Gunung Es

Apa yang terjadi di Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, itu bisa jadi merupakan sebuah fenomena gunung es. Bukan tidak mungkin terjadi hal yang sama di daerah lain. Gaji yang kecil, desakan kebutuhan ekonomi yang terus meningkat, dan pemasaran BPR yang agresif, mendorong banyak guru mengajukan permohonan kredit. Lantas, saat ada oknum yang melicinkan prosesnya, mereka tergiur. Tidak ambil pusing bahwa sebenarnya ia memanfaatkan keadaan demi keuntungan pribadi. Namun, saat ada masalah, para guru enggan melapor kepada pihak berwajib. Mereka mengaku takut untuk melapor kepada polisi dan mendengar kabar bahwa jika melapor kepada polisi, harus mengeluarkan uang.

Diduga, guru di Kabupaten Bandung yang terlilit utang itu mencapai 90 persen. Artinya, kalau ada sekitar 15 ribu guru di Kabupaten Bandung, berarti sebanyak 13.500 guru terlilit utang. Fenomena guru yang terlilit utang itu, bila tidak dicarikan solusi dan ditanggulangi dengan sigap dan bijak oleh pihak-pihak terkait, diam-diam akan terus mengganggu kegiatan pendidikan di Kabupaten Bandung.

Dapat kita bayangkan, bagaimana kondisi kegiatan belajar mengajar dengan kondisi seperti itu. Alih-alih berkonsentrasi kepada kualitas mengajar anak didiknya, guru-guru itu lebih banyak berpikir keras bagaimana caranya menghadapi penagih utang yang kerap datang dan mengancam.

Dalam tajuknya (11/2), harian Galamedia mencatat bahwa karena terlilit utang ke bank, seorang guru SD di Kabupaten Bandung terpaksa “menggelapkan” tabungan milik siswa didiknya. Tapi akhirnya, cicilan ke bank tetap tidak terbayar dan ia pun dikejar-kejar pula oleh orang tua siswa karena uang tabungannya tidak dibayarkan. Ia kemudian dipindahkan ke SD lain dan karena sudah tidak mendapatkan gaji (habis dipotong pinjaman bank), semangat mengajarnya hilang. Lalu ia semakin jarang hadir mengajar, dan ujung-ujungnya tidak pernah hadir lagi karena sudah tidak bisa membayar angkot dan ojek ke tempatnya mengajar.

Berbicara salah dan benar, jelas keputusan meminjam uang ke bank yang dilakukan para guru itu adalah keputusan yang sangat berisiko. Tidak cermat mengelola uang pinjaman, kondisi keuangan mereka pun menjadi lebih berat. Namun, kita harus membaca bahwa persoalan ini bukan semata ketidakcermatan guru mengelola keuangannya. Tapi, keberadaan oknum-oknum yang korup adalah faktor lain yang memungkinkan masalah ini sampai terjadi.

Mereka memanfaatkan posisinya untuk mengeksploitasi sisi konsumerisme para guru. Dan untuk mematikan kontrol dalam sistem, mereka melakukan kolusi. Bukan tidak mungkin, banyak pihak di dalam internal dinas memiliki peran dalam soal ini. Sebab, diduga terdapat nota kesepakatan antara pihak UPTD dengan pihak bank, guna memudahkan pihak bank menjaring nasabah dari para guru. Hal ini tentu saja merupakan kerja sama yang tidak etis, dan lebih menguntungkan segelintir orang ketimbang menjadi solusi keuangan untuk para guru.

Mimpi Laskar Pelangi

Dengan terkuaknya masalah ini, semangat Laskar Pelangi yang belakangan hinggap di benak masyarakat tampak menjadi sesuatu yang ironis. Lewat film tersebut, wacana pendidikan memang mengemuka dan memuliakan peran guru. Tapi, seolah menjadi sebuah pemakluman bahwa begitulah kebanyakan kondisi guru yang baik di negeri ini: terus hidup dalam pengorbanan. Dan kita lalu bermimpi, semua guru yang baik mesti seperti Ibu Muslimah dan Pak Harfan dalam Laskar Pelangi.

Para penonton film tersebut mungkin berdecak kagum dan terharu. Sungguh dua tokoh di dalam film itu adalah sosok pengajar teladan dengan semangat pengorbanan yang mulia. Tapi, kita tetap harus proporsional. Semangat idealistis di dalam Laskar Pelangi tidak bisa dianggap menghilangkan kebutuhan-kebutuhan lain para pengajar yang sepintas sifatnya memang pragmatis, seperti soal kesejahteraan guru.

Belakangan, berembus angin segar mengenai realisasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN. Tentu, tidak ada yang berharap bahwa hal itu sekadar wacana yang rumit praktiknya di lapangan, dan lebih-lebih hanya wacana politik dari pihak-pihak tertentu dalam rangka menghadapi pesta demokrasi yang akan berlangsung tak lama lagi.

Terkait masalah guru-guru yang terlilit utang itu, seorang pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung berjanji akan melakukan berbagai evaluasi dan pembinaan, baik terhadap UPTD maupun kepada guru (Galamedia, 11/2). Tentu, kita semua mengharapkan masalah ini dapat terselesaikan sampai tuntas. Dan semoga kelak tidak ada lagi cerita guru Oemar Bakri seperti digambarkan Iwan Fals. Mereka puluhan tahun jujur dan berbakti, tapi terus terpinggirkan dan kerap makan hati.***

Penulis, Pemerhati Pendidikan

__________________________
http://titikluang.blogspot.com
9.

(Cerpen Lucu) PERMINTAAN SYUKUR

Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id   bujangkumbang

Tue Feb 17, 2009 3:09 am (PST)



                                                                                                      Pesan Cerpen ini:

Ma'af
kalo nggak lucu bilang! Ma'af kalo lucu bilang juga. Tapi ma'af kalo
masih ragu-ragu mendingan lu-lu semua pulang aja sana....hahaha. Bisa
dapat piring tiga, gratis lageee....hehehe. Piss, Luv and Laugh. Terima
kasih!

                                                  PERMINTAAN SYUKUR
                                                              Fiyan Arjun

Kata
orang tua dulu bilang semua bentuk perkara itu sudah Tuhan yang
mengantur segala-galanya. Kita sebagai makhluk-Nya hanya bisa berpasrah
diri dan juga harus berlaku sabar. Entah itu perkara tentang jodoh,
rezeki sampai nasib yang diluar diperkiraan kitaâ€"sebagai manusia hanya
bisa menerimanya dengan ikhlas dan legowo (begitu kata orang Jawa
bilang). Mau nggak mau ya harus harus diterima! Tanpa ada perjanjian di
atas kertas hitam-putih! Titik nggak pake koma!

Sayang
seribu bin sayang rumus seperti itu kagak mempan buat yang namanya
Syukur. (Ingat, ya harus pake “y” jangan di tulis Sukur aja. Apalagi
dipanggil…Kur…, Kur…, kayak panggilannya Tuan Thankur di acara lomba
pencari penyanyi dangdut secara dadakan, Dangdut Dadakan TPI. Pokoknya
nggak banget!). Itulah yang dirasakan di hati Syukur setiap kali saat
menjelang ia tidur. Istirahat dari pekerjaannya sebagai pembokat. (Eya,
kalo pake kata pembokat kayaknya nggak ada peripembokatan ya, eh salah
perikemanusiaan. Oke, deh pake kata khadimat aja ya biar lebih sopan
dan halusâ€"dan seterusnya pake kata khadimat. Lagi pula kasihan juga si
Syukur kalo dibilang kayak begitu. Kan dia anak Emaknya juga). Sejak
menjabat dan bergabung di P3K: Persatuan Para Pemerhati Khadimat,
Syukur merasa hidupnya tak berwarna lagi. Hari-hari yang ia lalui hanya
menemui warna itu-itu aja. Kadang warna hitam, kadang putih bahkan
kadang pula abu-abu seperti hidupnya. Kasihan banget! Tapi itu demi
kebahagian Emak dan Bapaknya di kampung yang sudah melahirkannya apalagi
dirinya seorang laki-laki. Kudu punya jiwa ksatria.

Lagi-lagi
itulah yang dirasakan Syukur. Apalagi ketika menjadi khadimat selama 4
tahun jalan lebih sedikit dan bermajikan bernama Bang Shani  merasa
Tuhan menciptakan hidupnya tak adil untuknya. Apalagi kalau saat ia
melayani permintaan majikannya itu kadang kala sakit kumatnya itu
sering kambuh. Dan Syukur-lah yang mendapatkan efek dari sakit kambuhan
yang diderita majikannya itu. Kadang kala membuat dirinya keki dan bête
abis kalau menghadapi permintaannya yang nggak sinkron  itu.
Benar-benar Syukur dibuat pusing tujuh keliling lantaran permintaan
Bang Shani itu asal goblek! Seenak perutnya ngomong! Nggak dipikir lagi!

Menurut
catatan ilmu kemedisan (baca: kedokteran) mengatakan majikannya Syukur
itu menderita syndrome dyslexia. Sindrom ketidakharmonisan dan
ketidakakuratan antara kerja otak dan mulut. Karena lantaran itu
majikan Syukur kalau ngomong asal ceplas-ceplos. Alias, ngaco kalau
bicara!

Ada peristiwa yang sangat
diingat betul sama si Syukur saat ia sedang nonton bareng di ruang tamu
sama majikannya itu saat menonton acara musik dangdut

 “Kur,
emangnya Bang Aji Rhoma Irama itu yang punya group Soneta ya? Perasaan
ya Bang Shani tau dia itu bukannya yang punya group GodBless?!”

Syukur
yang lagi anteng kayak antena rumah melihat Aji Rhoma Irama menyanyi lagu “Menunggu”
khayalannya nggak karuan. Ia tak menggubris jawaban dari majikannya itu. Lantaran lagu yang dinyanyikan Aji Rhoma Irama itu mengingatkan akan cintanya kepada
Saroh khadimat sebelah. Menunggu kepastian cintanya yang tak kunjung
bertepi itu.

Syukur tetap tak menggubris
pertanyaan majikannya itu. Asyik sama dunianya sendiri. Seperti anak
authis yang doyan main sama teman khayalannya.

“Kur, lu dengar gue nggak sih apa yang gue omongin barusan….”

“Iya,
iya saya dengar Bang! Tapi mau ralat nih sedikit. Bang Aji Rhoma Irama
itu yang punya groups Soneta bukannya GoodBless. Itu sih punya
penyanyi yang rambutnya kribo, Ahmad Albar, Bang!” Syukur akhirnya
mau menjelaskan titik temunya. Mensikronkan apa yang diucap sama
majikannya itu.

“Oh…, Aji Rhoma Irama yang punya group Dewa ya…”

“Alamakkkkkkk! !!”

Dalam hati Syukur,” terserah apa lu kata deh, Bang!”

Maklumlah
si Syukur mau mengerti dengan keadaan majikannya itu yang kadang bikin
urat sapinya, eh salah, maksudnya uratnya menegang beberapa volt.
Seperti tegangan gardu listrik di dekat rumah majikannya kalau daya
tampungnya lebih dari kapasitas itu. Terlebih majikannya itu masih
bujangan. Bujangan yang nggak laku-laku. (Emangnya barang di jual!).
Alias, bujangan lapuk. Jadi  Syukur sangat-sangatlah mengerti keadaan
majikannya itu walau sering makan ati.

Ya,
walau pun begitu majikannya sangat mengerti apa yang dimaui si Syukur.
Apa yang diucap Syukur pasti diturutinya. Mau makan sendiri silakan. Mau
dekatin si Saroh khadimat sebelah silakan. Apalagi mandi
sendiri wah itu sih nggak pake disuruh sudah naluri kemanusiaan 
Syukur.  Walau pun dirinya berstatus khadimat bau burket tetap di jaga
dengan semerbak dedodorant. Itulah yang sering dimengerti Bang Shani
sebagai majikan. Sebagai majikan Bang Shani membebaskan diri untuk
Syukur, khadimatnya itu sekaligus  sudah dianggap saudara olehnya.
Walaupun bukan saudara dari Emak dan Bapaknya. Bukan saudara kandung.
Tapi kalau soal pekerjaan ia harus tetap professional. Kalau Syukur
kerjanya  asal. Asal ngepel.  Asal menyiram taman. Dan bersihin
mobilnya asal juga lalu amburadul tetap aja Syukur kena SPK: Surat
Pemberitahuan Khadimat. Tapi itu juga Bang Shani lakukan untuk kebaikan
Syukur biar ia nanti menjadi pekerja yang ulet dan terampil.

Dilain perkiraan. Dan juga dilain pikiran orang lain….(baca: pikiran Syukur).

Pernah suatu malam si Syukur kena dampaki sindrom  ngaco lagi dari Bang Shani. Alias, asal goblek kalau saat ngomong.

"Kur…,
Kur…, beliin gue rujak di warungnya Mpok Odah dong?! Itu, tuh, yang
warungnya  ada tulisannya “Rujak Mpok Odah Asli dari Pohon” yang ada
pohon durennya kalau jatuh warungnya langsung ambruk. Cepat beliin gue
sana….”

Syukur yang diperintahkan
seperti itu tak mengelak. Ia sudah menduga pasti majikannya itu akan
menyuruh dirinya yang enggak-enggak. Jauh dari nalar manusia normal.
(Emang majikannya Syukur nggak normal. Weks!. Kalau normal masa iya
malam-malam minta rujak. Iyakan?). Semua segala tipu daya yang sering
dipake Syukur, majikan yang sering dipanggil Bang Shani itu sudah tahu
kartu As (baca: kartu remi bukannya kartu telepon selular) yang
dimainkan Syukur. Alias, kartu mati si Syukur. Mau nggak mau Syukur
harus manut. Nggak pake nggak! Harus mau!

“Udah,
deh lu jangan ngibulin gue. Gue tau lu tuh hanya pura-pura tidur. Gue
tau kartu mati lu. Jadi jangan merasa gue kena lu kadalin lagi,” lanjut
Bang Shani yang masih berstatus bujang lapuk sambil membuka selimut
yang dipake Syukur saat tidur yang saat itu sudah melingker mirip kayak uler ada
di pager. Seperti, obat nyamuk pula!

“Duh,
Bang malam-malam begini siapa sih yang jualan rujak. Lagi pula belum
tentu Mpok Odah masih buka. Emangnya abang ngidam ya? Berapa bulan,”
jawab Syukur mengalihkan pembicaraan.

“Sudah,
deh lu jangan ambil ati gue. Gue tau maksud lu apa. Biar gue lupa,
kan…?  Tapi saat ini nggak pake!” Si Syukur akhirnya tak dapat lagi
membuat strategi untuk ngelabuin Bang Shani, majikannya itu. Semua
berbagi strateginya sudah dibaca abis oleh Bang Shani. Dan mau nggak
mau Syukur harus melakukan titahnya.

“Iya,
ya…saya beliin. Tapi abang jangan panggil saya hanya dari belakang
dong! Kan kedengerannya kayak manggil burung…., Kur…, Kur…., Emang saya
burung tekukur!” Protes Syukur merasa nama pemberian Emaknya nggak
dipake dan dipanggil nggak secara lengkap. Atau, ketik S-Y-U-K-U-R spasi
ganda. Syukur! Bukannya itu aja  kadang tak sependapat dengan
perintahnya yang nggak masuk akal.

Akhirnya,
dengan mata yang masih beberapa watt lagi seperti lampu bohlam yang
berkapsitas 5 watt terpaksa titah itu dijalankan yang kadang membuat
tensi darah Syukur naik secara berkala. Ia lirik lagi lengan tangan
kirinya ternyata jam tangan hadiah ulang tahun dari Bang Shani untuknya
tempo hari itu menujukan pukul 10 malam lewat. Hanya ada angin malam
dan lolongan anjing dari komplek sebelah. Menggonggong terus tanpa
henti tapi kafilah Syukur berlalu sambil jalan mengikuti angin malam
membawa ke warung Mpok Odah. Hingga dalam perjalanan ia merenungi
perkataannya terhadap Bang Shani, majikannya yang sudah ia anggap
sebagai abangnya sendiri. Walau pun bukan abang kandung apalagi anak
dari Emak-Bapaknya. Jauh banget bedanya. Seharusnya Syukur tahu diri.
Ya, ia harus tahu diri. Sebab selama ini majikan yang dipanggil abang
itu sudah banyak berbuat baik kepada dirinya. Terlebih saat ia dipungut
dari selokan, eh salah di pungut sebagai saudara. Bukannya orang lain.

Tapi
walau pun Bang Shani asal ngomong dan nyuruh kadang ngeselin  terlebih ketika human
error-nya kumat tapi Syukur tetap bangga memiliki majikannya seperti
itu. Apalagi majikannya itu sudah seperti abangnya sendiri sangat
attention dan juga sangat menghargai dirinya. Hanya soal hal
suruh-menyuruh yang diluar nalar. Kadang tak mau di ajak kompromi. Tapi
Syukur tetap berterima kasih sama Bang Shani. Tanpa dirinya mungkin
dikampungnya akan sama seperti kawan-kawan kecilnya yang masih
luntang-lantung mencari pekerjaan. Kalau tidak ia sudah seperti nasib
Emak dan Bapaknya bersawah dan berladang di kampung. Duh, Syukur kangen
Emak dan Bapak di kampung, hati Syukur menjerit betapa ia sangat kangen
kepada Emak dan Bapaknya itu di kampung.

“Kur,
Emak dan Bapak hanya bisa menitipkan lu di rumah Bang Shani. Lu ingat
ya lu harus kerja yang baik sama dia. Dia itu sudah menganggap lu tuh
bukan orang lain. Kan bapaknya dia dulu pernah di tolong sama bapak lu.
Jadi untuk membalas jasa kebaikan bapak lu dia mau menerima lu untuk
bantu-bantu di rumahnya. Lagi pula dia juga kan masih bujang. Lu maukan
demi kemajuan lu sendiri dan Emak dan Bapak di kampung…”” tiba-tiba
lamunan malam Syukur itu mengantar ke  warung Mpok Odah untuk
mengabulkan pesanan Bang Shani, majikannya itu. Dan Syukur tak
merasakan lelah.

“Eh, lu Kur ngapain
malam-malam begini datang ke warung gue,” ucap Mpok Odah membuyarkan
lamunan Syukur sama kampung halamannya serta Emak dan Bapaknya.

“Eh,
Mpok jangan ngagetin kayak gitu dong. Memang Mpok mau kalo saya mati
mendadak!” tukas Syukur memperingkatkan Mpok Odah jangan sekali-sekali
mengejutkan dirinya lagi.

“Iya, deh Mpok
sori.” Mpok Odah akhirnya minta maaf kepada Syukur. ”Ya, udah lu mau
ngapain ke warung gue?!” lanjut Mpok Odah mengintrogasi kedatangan
Syukur malam itu.

“Saya disuruh Bang Shani untuk beli rujak, Mpok. Ada nggak Mpok?!”

Mpok Odah hanya diam.

Terkejut.

Dia nggak bisa bedain mana terkejut dan mana diam. Jadi antara tekejut dan diam ekspresi Mpok Odah sama saja.STD. Standar!

“Tunggu
ya gue lihat dulu masih ada nggak ya sisa-sisa tadi siang.” Dengan
seksama mata Mpok Odah mengedarkan segala penjuru warungnya. Siapa tahu
ia melihat sisa-sisa buah untuk buat rujak pesanan si Syukur. Ternyata
masih ada!”

“Masih ada, Kur! Mungkin ini rezeki lu kali biar lu nggak kena semburan dari Bang Shani,” hibur Mpok Odah malam itu.

“Alhamdulilah,
untung ada ya Mpok! Kalo nggak ada saya pasti disuruh ke pasar malam-malam begini. Terus  saya deh yang ngulek buat sambelnya.”

Akhirnya
Tuhan masih sayang Syukur. Segala permintaan aneh dari Bang Shani itu
dapat dilaksanakan dengan baik. Syukur, Syukur, kok punya majikan error
banget sih lu! dalam hatinya bersenandung pilu.

Hari terus berlalu….

Sakit
majikannya Syukur itu makin lama makin menjadi-jadi. Hingga membuat kesabaran
Syukur sebagai seorang manusia tak tertahankan lagi. Syukur sudah nggak
tahan lagi  menghadapi kebiasaan aneh Bang Shani. Kalau bicara dan soal
suruh menyuruh terkadang tidak melihat sikon. Situasi dan kondisi.
Kadang kagak nyambung. Alias, tulalit kalau bicara! Bukan itu aja yang
lebih error-nya lagi setelah usai apa yang diucap kadang kala dirinya tidak
merasa ingat lagi. Lupa. Atau, belaga lupa kali! Duh, siapa sih yang
kuat berlama-lama tinggal sama orang seperti Bang Shani, bathinnya
terus aja ngedumel tanpa henti.

Untungnya
Syukur masih punya teman curhatan yang setia menemaninya. Tak lain tak
bukan Saroh khadimat sebelah yang cintanya sampai sekarang masih terus
digantung seperti Lagunya Melly Goeslaw. Syukur terus menunggu jawaban
cinta dari Saroh yang belum bertepi itu.

Seringkali
Syukur curhat kepada Saroh kala ia sedang bête abis sama Bang Shani. Ia
merasa kalau terus-terusan di dalam bersama majikannya itu Syukur takut
akan menular penyakitnya itu. Apalagi kalau ia bersetuhan kulit sama
Bang Shani, majikannya itu ia buru-buru  membasuh air tujuh kali dan di
tambah debu untuk menghilang sentuhannya itu. Duh, kalau Bang Shani
tahu kalau selama ini Syukur  menyamakan penyakit Bang Shani seperti
sama najis mughallazhah tentu Bang Shani makin murka. Bisa-bisa Bang
Shani mempulangkan Syukur kepada orangtuanya. Pulangkan saja aku pada
ibuku atau ayahku….Ih, lebay banget ya!

“Roh,
penyakit   syndrome dyslexia itu menular kagak sih?” Tanya Syukur
penasaran tentang penyakit yang di derita Bang Shani, majikannya itu
kepada Saroh.

Saroh yang ditanya itu cuman memilin-milin rambut panjangnya. Ditambah malu-malu kucing lagi.

“Lho,
kok gue tanya kayak gitu lu kayak belatung nangka gitu sih, Roh. Nggak
bisa diam! Gue tanya penyakit yang diderita Bang Shani nular nggak...!”

“Yee,
dikira Bang Syukur mau ngajak nonton Saroh di Cineplex 21 (baca:
twentyone) menonton film Alexandrian. Yang dibintangin sama idola Aroh,
Bang Malin Kundang, eh salah Fahri Albar.”

“Ah,
lu Roh sama gokilnya sama Bang Shani. Memangnya gue bilang mau ngajak
lu nonton emangnya. Sori, gue lagi bokek hari gini. Ya, udah lu punya
obatnya nggak?

“Obattttttt…….” Saroh terkejut
minta ampun saat diminta Syukur untuk meminta dirinya mencarikan tentang obat apa yang cocok  untuk kesembuhan
penyakit majikannya itu. “Ma’af Bang Syukur, Aroh nggak tau.” Lanjut
Saroh meminta ma’af.

Dan mereka berdua
sesama satu profesi akhirnya hanya bisa memandangi langit cerah malam
itu. Siapa tahu ada jawaban di atas langit buat Syukur. Seperti
film-film di televisi yang di sering ditonton dua khadimat itu di saat
majikan-majikan mereka pada kerja dan beristirahat.

Dan
malam itu baik Syukur dan Saroh benar-benar tak menemukan jawaban. Obat
apa yang cocok buat Bang Shani, majikan si Syukur. Untuk mengobati
penyakit anehnya itu. Aneh memang!

 Keesokannya,
saat Syukur ingin mencoba mencari obat untuk kesembuhan Bang Shani ia
mendapatkan kabar berita dari Emaknya yang sakit di kampung. 

“Bang,
saya boleh minta izin ke kampung nggak? Emak saya sedang sakit keras di
sana. Bolehkan Syukur nengok Emak yang sakit di kampung,” Tanpa
basa-basi Syukur meminta izin kepada majikannya itu sambil
memperlihatkan surat kilat dari Pak Pos sejak pagi diterimanya

Majikan
yang sudah dianggap abangnya sendiri oleh Syukur hanya diam. Sesekali
kepalanya digaruk-garuk nggak gatal. Ada raut wajah yang aneh timbul
dari rona Bang Shani dan itu sudah di antipasi oleh Syukur. Plis, deh
ya Tuhan jangan sampai penyakit aneh Bang Shani kumat lagi saat situasi
genting ini, pinta dalam hati Syukur paling dalam pada Yang Maha
Pencipta dirinya.

“Hmm…, gimana ya? Terus
siapa nanti yang ngepel rumah, yang nyuciin mobil gue, yang nyiramin
taman terus kalau nanti ditanya sama si Saroh terus  gue bilang bagaimana,” ujar
Bang Shani pasang tampang lugu.

“Kan
Syukur juga ke kampung cuman nengok buat Emak. Lagi pula nggak lama
kok, Bang! Tapi itu tergantung Bang Shani sendiri.” Jawab Syukur
memberi teka-teki tapi bukan silang. Membuat Bang Shani memikirkan apa
maksud dari jawaban khadimatnya itu sekaligus sudah dianggap saudara
olehnya.

“Lho, kok tergantung Abang!”

“Yaiyalah,
Bang! Ini tergantung Abang. Apalagi ada permintaan Syukur buat Abang.
Nih, sih  kalo Abang terima. Kalo nggak ya apa boleh buat Syukur nggak
bakal balik ke rumah ini.” Syukur mencoba ambil strategi kembali. Tapi
kali ini strateginya aman terkendali. Bang Shani tak bisa membaca
strateginya kali ini. Syukur menang. Menang telek! Sudah membuat
majikannya mati kutu seperti saat dirinya ketauan malas saat disuruh
permintaan anehnya dari majikannya itu.

Sejujurnya
walaupun tanpa pesyaratan dan permintaan, Syukur tetap akan kembali
lagi ke tempat itu. Toh, bagi Sukur rumah yang sudah ditempati 4 tahun
lebih itu beserta isinya tak lain Bang Shani sudah seperti rumah keduanya.Sudah tak dapat dilepaskan lagi. Karena selama itulah Bang
Shani, majikannya itu sudah baik hati dan mau menjaga dirinya di kota
besar. Kata orang-orang  kotanya para orang mengadu nasib. Kota Jakarta.

“Oke, permintaan lu apa, Kur.”

“Eits,
udah dibilang jangan panggil Syukur dengan panggilan Kur tapi abang
masih juga. Ya, udah permintaan Syukur abang bisa nggak ilangin
penyakit Abang itu!”

Majikan yang
kena dikadalin lagi sama khadimatnya itu pun hanya nyengir kuda mencoba mencari tahu. Hingga majikannya yang bernama Bang Shani itu merasa ada yang aneh pada dirinya. Dan betapa bodohnya dirinyaa saat ia
tahu ketika Syukur meminta permintaan kepadanya tanpa dicerna. Tanpa dievaluasi ulang. Bang
Shani semakin gemes sama khadimatnya yang persis sama kelakuan Ali Baba
dalam 1001 malam. Banyak akalnya!

“Gimana maukan Abang…..”

“Dasar
lu pembokat kurang ajar ngerjaiin gue lagi….Awas lu gue kejar! Kalo
ketangkap gue pites kepala lu” tiba-tiba Bang Shani sadar kalau sudah
dikerjai sama Syukur, khadimatnya yang paling setia.

Lain hal
dengan Syukur. Dia tertawa abis. Terbahak-bahak. Hingga mereka saling
bekejaran di taman seperti film India kebanyakan. Nggak liat tanah
lapang dan taman bagus langsung nyanyi. Akhirnya antara majikan dan
khadimat saling bekejar-kejaran di taman layak di film India. Hingga
diluar taman ada seseorang yang melihat kelakuan mereka berdua. 
Ternyata orang itu adalah Saroh khadimat sebelah sekaligus Sephia-nya si
Syukur selama ini. Wah jangan-jangan Aroh nganggap gue
…..Nggakkkkkkkkk! Pekik Syukur membahana di taman panjang sekali
sambil mengejar Saroh.*(fy)

Ulujami, 17 Februari 2009
Ya, mudah-mudahan aja lucu. Kalo nggak lucu mending pulang aja, deh….Dapat piring tiga, kok…hahahaha

                                       BIODATA PENULIS

Nama
sebenaranya sih Fiyan aja. Karena suka hobi dan gemar mendengar music
dan film dari negeri Paman Tahkur, di India sono akhirnya namanya
diembel-embeli Arjun. Abisnya untuk nama pena jadi nama itu sampai
sekarang dipake terus dan bawa hoki lagi. Jadi Fiyan Arjun deh namanya.
Tapi asle Betawi tulen lho nggak ada campurannya! Kalo mau panggil
bujang yang takut nikah karena biaya cukup panggil aja BangFy. Selain
itu banyak bergiat di berbagai komunitas salah satunya Komunitas
Sekolah Kehidupan, FLP DKI Jakarta, Komunitas BCN, civitas kepemudaan
YISC AL-AZHAR Jakarta Selatan. Kalo mau tahu sudah masuk dimaa aja
lihat disini. Blogg:http:/ /sebuahrisalah. multiply. com. Tapi walo banyak
tulisannya yamng masuk dimedia baik on-line maupun media surat kabar
tapi belum memiliki buku satu pun. Mungkin karena fator nggak punya
komputer dan laptop tapi tetap berusaha untuk membuat buku nantinya
doain aja ya? Nah kalo mau lebih kenal tinggal kirim surat atau e-mail
aja kemari. Alamat: Jln. Ulujami Raya No. 14 Gg. Langgar Rt.012/04
Ulujami-Pesanggraha n,Jakarta- Selatan.E- mail:bujangkumba ng@yahoo. co.id.
Serta bagi yang mau suka rela bantu mau belikan komputer dan laptop
tinggal aja  transfer kesini (ih, ngarep banget ya…hahahaha).Bank
Syariah Mandiri Cabang Pembantu: Cipulir atas nama: Fiyan, no. rek:
0687014536. Gampangkan….Ditunggu…alah, lebai banget seh….

Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!!
Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah












Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
Recent Activity
Visit Your Group
Share Photos

Put your favorite

photos and

more online.

Group Charity

Stop Cyberbullying

Keep your kids

safe from bullying

Weight Loss Group

on Yahoo! Groups

Get support and

make friends online.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web

2 komentar:

yanmaneee mengatakan...

off white clothing
kyrie 5 shoes
Kanye West shoes
canada goose jacket
kyrie 6
retro jordans
adidas yeezy
vans outlet
fila
jordan retro

my house mengatakan...

replica bags sydney basics f8p19g5x09 replica bags cheap my response e0t72q3p92 designer replica luggage replica evening bags replica ysl bags australia replica hermes bags n8y42g1y39 replica bags us