Keseimbangan ada dalam berbagi
Oleh: Achmad Soediro
Bila semua yang ada di alam ini adalah wujud dari keseimbangan-Nya maka
keseimbangan itu akan ada untuk semua yang nyata dan abstrak, fisik maupun
nilai-nilai. Keseimbangan sudah pasti ada pula dalam segala aspek kehidupan
hingga yang terjadi adalah harmoni. Hal itu ada karena Allah SWT telah
menciptakan semuanya dalam kadarnya, dalam keseimbangan yang paling sempurna
atas apa yang diciptakan-Nya. Kadar yang telah Dia lekatkan pada seluruh
ciptaan-Nya juga adalah kekuatan atau ruh yang selalu mengarahkan segala yang
tercipta kepada keseimbangan.
Begitu pula dalam perekonomian dan kerja-kerja bisnis di dalamnya. Keseimbangan
itu juga ada agar roda sistem ini akan terus berputar dengan baik. Bahkan tiap
kali ketidaseimbangan terjadi, maka kali itu pula akan ada kekuatan yang
memulihkannya menjadi seimbang kembali. Kekuatan atau ruh tersebut yang
dinamakan oleh Adam Smith, bapak perekonomian kapitalis, sebagai Tangan Ghaib.
Ruh inilah yang menggerakkan segala sumber daya semesta, baik itu manusia atau
sumber daya lainnya, untuk selalu menuju dan kembali pada keseimbangan.
Di negeri ini, saat bangunan besar perekonomian porak-poranda diterpa badai
krisis 1997 hingga beberapa tahun sesudahnya, ketidakseimbangan terjadi pada
segala bagiannya. Dalam era itu yang tetap bediri kokoh adalah sebagian kecil
bangunan yang terdapat kadar keseimbangan di dalamnya. Sebut saja bagian itu
adalah bagian bangunan perekonomian yang bercorak dan mengandungi nilai-nilai
syariah, seperti perbankan syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya. Lebih
jauh lagi, yang tetap kokoh itu adalah bangunan ekonomi yang memiliki apa yang
disebut oleh Umer Chapra sebagai Optimum Islami. Optimum Islami digambarkan
sebagai keseimbangan pasar yang mencerminkan realisasi secara terus menerus
tingkat efisiensi maupun keadilan yang optimal sesuai dengan maqashid syar'i.
Kini, ruh keseimbangan menuntun para pelaku ekonomi yang menginginkan adanya
kebaikan, keharmonisan dan kesinambungan dalam lapangan ekonomi. Akhirnya
sebagian dari mereka tertambat pada pesona bangunan ekonomi tipe ini yang
nilai-nilai berbagi ada di dalamnya. Ada bagi hasil dan bagi rugi dalam teknis
bisnisnya, ada berbagi rezeki dari muzaki kepada mustahik dalam sektor
kedermawanan illahiyahnya, dan ada berbagi sumber daya dalam kerja-kerjanya.
Nilai-nilai berbagi inilah yang dalam tataran masif akan ikut berperan luar
biasa dalam terciptanya Optimum Islami dengan segala keseimbangan di dalamnya.
Bila nilai berbagi telah tak dihiraukan lagi, bila keserakahan sudah membudaya
dan keculasan telah menjadi "kebijakan" dalam berniaga dan bekerja, maka
kekacauan dan kesemrawutan hidup akan merajalela. Keseimbangan akan pergi,
seiring dengan sirnanya semangat berbagi. Namun sekali lagi, akan ada
manusia-manusia yang akan akan menariknya kembali ke dalam keseimbangan.
Bukahkah sudah seperti itulah kadarnya! Lalu apakah kita adalah sebagian dari
manusia yang senantiasa mengarahkan daya dan upaya kita menuju ke keseimbangan
itu?
Bagi saya, dan bagi anda yang mungkin berfikir keras tentang bagaimana Optimum
Islami itu tercipta, takperlu risau akan apa yang bisa kita perbuat. Pahamlah
bahwa keseimbangan sistem besar dan kesinambungannya ini, akan ada dari hal-hal
kecil yang kita perbuat dengan semangat berbagi di dalamnya. Sebagaimana Zeno,
seorang filsuf Yunani mengatakan,"Bila sebutir gandum jatuh dan berbunyi, maka
sekantung gandum yang jatuh akan berbunyi pula. Sebaliknya, bila sebutir gandum
jatuh dan tak berbunyi, maka sekantung gandum yang jatuh tidak akan berbunyi
pula". Dari yang kecillah semuanya dimulai. Lakukanlah bisnis dan kerja-kerja
kita dengan berbagi di dalamnya, dan pandanglah sekeliling kita dengan semangat
berbagi karena keseimbangan itu ada dalam berbagi.
[Non-text portions of this message have been removed]
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar