Minggu, 12 Juni 2011
Di dalam jilid 1 kitab Fi Dhzilalil Qur'an, Sayyid Qutb rahimahullah menjelaskan makna kata thaghut. Penjelasannya ditemukan dalam pembahasan surah Al-Baqarah ayat 256. Uraian beliau mengenai thaghut adalah sebagai berikut:
"Thaghut" adalah variasi bentuk kata dari "thughyaan", yang
berarti segala sesuatu yang melampaui kesadaran, melanggar kebenaran dan
melampaui batas yang telah ditetapkan Allah bagi hamba-hambaNya, tidak
berpedoman kepada aqidah Allah, tidak berpedoman kepada syariat yang
ditetapkan Allah. Dan yang termasuk dalam kategori thaghut adalah juga
setiap manhaj 'tatanan, sistem' yang tidak berpijak pada peraturan
Allah. Begitu juga setiap pandangan, perundang-undangan, peraturan,
kesopanan, atau tradisi yang tidak berpijak pada peraturan dan syariat
Allah.
Di dalam karya fenomenalnya yang berjudul "Kitabut Tauhid" Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan bahwa pentolan thaghut ada lima. Dan salah satunya ialah penguasa yang zalim. Siapakah penguasa yang zalim itu? Dalam bahasa Arab kata zalim berlawanan dengan kata adil. Di dalam bahasa Arab kata adil bermakna:
وضع شئ في مكانه
"Menempatkan sesuatu pada tempatnya."
Sedangkan kata zalim bermakna:
وضع شئ غير مكانه
"Menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya."
Dalam hal ini yang dimaksud dengan menempatkan sesuatu bukan pada
tempatnya ialahHukum Allah سبحانه و تعالى . Para penguasa zalim tidak
menempatkan Hukum Allah سبحانه و تعالى pada posisi tertinggi. Mereka
senantiasa meninggikan hukum selain hukum Allah سبحانه و تعالى . Hukum
bikinan manusia lebih mereka muliakan daripada hukum Allah سبحانه و
تعالى . Kalaupun hukum Allah سبحانه و تعالى diakui di dalam lingkungan
wilayah yang dipimpinnya, namun ia tidak diletakkan sebagai hukum
tertinggi. Hukum Allah سبحانه و تعالى hanya menjadi salah satu sumber
dari sekian banyak sumber hukum lainnya. Hukum Allah سبحانه و تعالى
hanya sekedar bagian dari khazanah sumber hukum di wilayahnya. Oleh
karenannya para penguasa zalim yang seperti ini disebut thaghut.
Mereka memperlakukan hukum Allah سبحانه و تعالى seolah setara dengan
hukum bikinan manusia, bahkan seringkali diletakkan lebih rendah
daripada itu.
Seorang penguasa -atau lebih tepatnya pemimpin- yang adil
ialah orang yang ketika memiliki otoritas memimpin di suatu wilayah maka
ia meletakkan hukum Allah سبحانه و تعالى sebagai acuan tertinggi dan
utama. Semua aturan, perundang-undangan dan hukum yang berlaku di
wilayah otoritasnya dia pastikan merupakan derivat (turunan alias
breakdown) dari hukum Allah سبحانه و تعالى . Dan ia hanya mau
memberlakukan hukum Allah سبحانه و تعالى tersebut mengikuti cara yang
telah dilakukan oleh teladan utamanya yaitu Rasulullah Muhammad صلى الله
عليه و سلم . Oleh karena itu, pemimpin yang adil dikatakan sebagai
fihak yang bilamana terjadi perselisihan, senantiasa mengembalikan
urusannya kepada Allah سبحانه و تعالى (Al-Qur'an) dan RasulNya صلى الله
عليه و سلم (As-Sunnah An-Nabawiyyah). Persis sebagaimana termaktub di
dalam surah An-Nisa ayat 59 yang nanti akan dijelaskan. Para pemimpin
yang adil sangat sadar bila mereka tidak menjadikan wahyu Allah سبحانه و
تعالى sebagai sumber utama dalam memutuskan berbagai perkara yang
muncul, maka dirinya dipandang Allah سبحانه و تعالى sebagai termasuk
kaum yang zalim.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim." (QS Al-Maidah
45)
Salah satu contoh figur yang diabadikan Al-Qur'an sebagai
representasi thaghut penguasa zalim yang paling ekstrim dalam sejarah
kemanusiaan ialah sosok Fir'aun. Allah سبحانه و تعالى dengan
jelas menggambarkan bahwa Fir'aun merupakan penguasa yang di dalam
perilaku berkuasanya mempertontonkan sikap melampaui batas.
اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى
"Pergilah kamu kepada Firaun, sesungguhnya dia telah thoghoo (melampaui batas)," (QS An-Nazi'at 17)
Dalam
mensikapi kekuasaan, Fir'aun menjadi lupa diri. Aturan bahwa rakyat
wajib mentaatinya tanpa reserve, menyebabkan Fir'aun memandang dirinya
berada di atas rata-rata manusia biasa. Ia memandang dirinya sebagai super-human (manusia luar biasa). Bahkan ia meyakini dirinya adalah tuhan seru sekalian alam. Subhaanallahi 'amma yashifuun (Maha Suci Allah dari segala bentuk pensifatan yang batil)...!
فَكَذَّبَ وَعَصَى ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى فَحَشَرَ فَنَادَى فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الأعْلَى
"Tetapi Firaun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling
seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan
(pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata:
"Akulah tuhanmu yang paling tinggi".(QS An-Nazi'at 21-24)
Kecenderungan orang yang berkuasa untuk berlaku melampaui batas merupakan hal biasa jika tidak bisa disebut aksiomatik
(suatu keniscayaan). Kecuali bila yang menerima otoritas adalah seorang
mukmin sejati. Mukmin sejati sadar bahwa ketika dirinya memperoleh
otoritas kepemimpinan, maka saat itu juga sebenarnya dirinya terbebani
suatu beban berat. Ia dibebani amanah untuk memastikan bahwa di bawah
kepemimpinannya seluruh pengikutnya, rakyat, anak buah atau konstituen
berjalan menuju keridhaan Allah سبحانه و تعالى. Artinya, di bawah
kepemimpinannya ia harus selalu berusaha menegakkan kebenaran. Dan
kebenaran hanya satu, yaitu kebenaran yang bersumber dari Allah سبحانه و
تعالى .
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
"Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (QS Al-Baqarah 147)
Oleh
karena itu, sejak awal Islam mengharuskan ketaatan rakyat kepada
pemimpin sesudah mentaati Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya Muhammad صلى
الله عليه و سلم . Dalam mentaati Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى
الله عليه و سلم Al-Qur'an tidak memberikan syarat apapun kepada kaum
muslimin, selain kewajiban mereka beriman bahwa apapun yang datang dari
Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم sepenuhnya
merupakan kebenaran. Namun begitu Allah سبحانه و تعالى memerintahkan
kaum muslimin -sebagai rakyat- untuk mentaati pemimpin mereka, maka
Allah سبحانه و تعالى mensyaratkan bahwa ketaatan menjadi wajib hanya
ketika para pemimpin tersebut senantiasa menjadikan Allah سبحانه و تعالى
(Al-Qur'an) dan RasulNya صلى الله عليه و سلم (As-Sunnah An-Nabawiyyah)
sebagai marja' (rujukan atau referensi) utama penyelesaian berbagai perkara kehidupan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ
وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ
فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ
تَأْوِيلا
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul
(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan
pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an)
dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan
hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya." (QS An-Nisa 59)
Ad-Dajjal merupakan representasi thoghut (penguasa batil yang melampaui batas) di Akhir Zaman menjelang tibanya Hari Kiamat. Ia merupakan Fir'aun modern
di penghujung berakhirnya perjalanan dunia. Ketika ia hadir ia akan
mengaku dirinya merupakan Rabb semesta alam. Persis sebagaimana Fir'aun
dahulu kala. Dan sebelum keluarnya puncak fitnah Ad-Dajjal, maka dunia
akan diselimuti oleh aneka fitnah yang menjadi mukaddimah kedatangan
fitnah Ad-Dajjal, sang thaghut penguasa zalim paling fenomenal
sepanjang zaman. Maka sebelum Ad-Dajjal keluar akan bermunculan para
thaghut penguasa zalim menghiasi panggung kekuasaan dunia di berbagai
negara sebagaimana yang disaksikan dewasa ini.
ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ
أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا
وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ
Ad-Dajjal disebut-sebut di dekat Rasulullah صلى الله عليه و سلم
lalu beliau bersabda: "Sungguh fitnah sebagian dari kalian lebih aku
takutkan dari fitnah Ad-Dajjal. Dan tiada seseorang dapat selamat dari
aneka fitnah sebelum fitnah Ad-Dajjal melainkan pasti selamat pula
darinya (fitnah Ad-Dajjal) sesudahnya. Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali untuk menyambut fitnah Ad-Dajjal." (HR Ahmad - 22215) Shahih
Barangsiapa sanggup bersikap tegas menghadapi berbagai thaghut
penguasa zalim sebelum keluarnya Ad-Dajjal, maka Nabi Muhammad صلى الله
عليه و سلم menjamin ia bakal selamat menghadapi sang thaghut penguasa
zalim paling dahsyat di akhir zaman yakni Ad-Dajjal. Atas dasar inilah
Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menganjurkan ummat Islam untuk
mengingkari para penguasa zalim di era penuh fitnah di akhir zaman.
Barangsiapa yang mengingkari mereka niscaya selamat. Dan barangsiapa
yang malah mentaati mereka, maka Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم
berlepas diri dari mereka.
سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ
وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ
Rasulullahshollallahu'alaih wa sallambersabda: "Akan muncul
pemimpin-pemimpin yang kalian kenal, tetapi kalian tidak
menyetujuinya.Orang yang membencinya akan terbebaskan (dari tanggungan
dosa). Orang yang tidak menyetujuinya akan selamat. Orang yang rela dan mematuhinya tidak terbebaskan(dari tanggungan dosa)." (MUSLIM 3445)Shahih
Barangsiapa
yang menyetujui para thaghut penguasa zalim tersebut, niscaya ketika
Ad-Dajjal keluar orang-orang tersebut bakal dengan mudahnya masuk dalam
perangkap tipu-daya sang thaghut paling dahsyat sepanjang zaman
Ad-Dajjal. Sebab, bagaimana mereka akan sanggup mengingkari Ad-Dajjal,
sedangkan menghadapi para thaghut penguasa zalim yang levelnya lebih
rendah dari Ad-Dajjal saja mereka sudah masuk dalam perangkap ketaatan taqlid
(membabi-buta) yang tercela. Mereka bakal menyesal di akhirat kelak.
Sebuah penyesalan yang sangat terlambat sehingga tidak berguna. Wa na'udzubillaahi min dzaalika.
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ
يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولا
وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا
أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا
السَّبِيلا رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ
لَعْنًا كَبِيرًا
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka
berkata: "Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat
(pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Rabb kami, sesungguhnya
kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu
mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami,
timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan
kutukan yang besar".(QS Al-Ahzab 66-68)
Saudaraku, jelas sekali bahwa mengingkari thaghut penguasa zalim
menjadi suatu perkara yang sangat penting dan wajib. Sebab kelalaian
seorang muslim untuk mengingkari para thaghut penguasa zalim berakibat
fatal bagi kehidupannya yang abadi di akhirat nanti. Tidak cukup seorang
muslim merasa aman bahwa dirinya telah beriman kepada Allah سبحانه و
تعالى tetapi pada saat yang sama dia tidak rela dan yakin untuk menjauhi
dan mengingkari thaghut. Inilah dua sisi dari aqidah tauhid sejati
seorang mukmin.
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا
Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman
kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul
tali yang amat kuat yang tidak akan putus. (QS Al-Baqarah 256)
[Non-text portions of this message have been removed]
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar