Kamis, 15 April 2010

[daarut-tauhiid] Jihad Intelektual

 


Keutamaan Orang-orang Yang Berilmu

Sungguh indah jika kita digolongkan sebagai orang-orang yang
berilmu sebagaimana firman-Nya, "... Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah : 11)
Bahkan Muadz bin Jabal meriwayatkan bahwa "Rasulullah SAW pernah
bersabda, 'Pelajarilah ilmu karena ilmu karena Allah merupakan kekuatan,
mencarinya merupakan ibadah, menyebut-nyebutnya merupakan tasbih, membahasnya
merupakan jihad, mengajarkan kepada orang yang belum mengetahui merupakan
shadaqah, menyampaikan kepada orang yang layak menerimanya merupakan taqarrub. Pelajarilah
ilmu karena ilmu merupakan tanda-tanda halal dan haram, menara jalan para
penghuni surga. Ilmu merupakan pendamping saat takut, teman saat terasing, teman
bicara saat sendirian, dalil atas kesenangan dan kesusahan, senjata dalam
menghadapi musuh, hiasan di hadapan teman. Allah meninggikan banyak kaum
dengannya lalu menjadikan mereka pionir dalam kebaikan, yang jejak mereka
diikuti, perbuatan mereka ditiru, dan pendapat mereka menjadi rujukan. Para
malaikat berhasrat menyertai mereka, mengusap mereka dengan sayapnya. Siapapun
memohonkan ampunan bagi mereka, yang basah yang kering, ikan paus di lautan dan
segala jenis ikan, binatang buas di darat dan hewan-hewan lainnya. Ilmu merupakan
kehidupan hati dari kebodohan dan merupakan lentera pandangan dari kegelapan. Seorang
hamba mencapai tataran orang-orang pilihan dan derajat yang tinggi di dunia dan
di akhirat dengan ilmu. Memikirkan ilmu sama dengan puasa, mempelajarinya sama
dengan shalat malam. Hubungan kekerabatan dapat tersambung karena ilmu. Ia
merupakan imam bgai amal dan amal mengikutinya. Ia memberikan ilham kepada
orang-orang yang bahagia, yang tidak didapatkan oleh orang-orang yang sengsara.'"
[Diriwayatkan Ibnu Abdil Bar An-Namri di dalam Kitab Al-Ilmi ]
Berkaca pada Sejarah
Peradaban Islam
Agaknya sebagai generasi muda muslim, kita harus banyak
merenungi tentang sejarah Islam di masa lampau. Berkaca pada kesuksesan
generasi muda Islam pada masa itu, tentu saja untuk membangkitkan ghirah (baca : semangat) kita dalam
memperjuangkan kembali peradaban muslim yang membawa rahmat pada alam semesta (rahmatan lil 'alamin).
Sejarah mencatat bahwa pada abad 9-13 Masehi, peradaban Islam
benar-benar mencapai masa keemasannya. Hal ini tentu saja tak lepas dari penguasaan berbagai ilmu oleh para
Cendikia Muslim ketika itu. Pada zaman keemasan tersebut, masyarakat muslim berevolusi
menjadi masyarakat yang dinamis, maju, dan canggih. Sementara masyarakat yang
lain masih statis dan lumpuh karena tradisi dan tata cara agama. Saat itu,
masyarakat Islam telah memiliki Bait Al-Hikmah (artinga "Rumah Kebijaksanaan",
lembaga penerjemah literatur-literatur asing), observatorium astronomi, rumah
sakit dan sekolah-sekolah. Baghdad, saat itu menjadi pusat intelektual dunia,
tempat yang dituju oleh para sarjana dari negeri-negeri yang jauh. Ibnu Haytham
dan Omar Kayam merupakan pelopor ilmuwan modern, pembawa kecerdasan kosmik alam
semesta. Sebaliknya Eropa saat itu masih terpuruk, tenggelam dalam kemuraman
Abad Kegelapan.
Mengapa Harus Berjihad
?
Lihatlah keadaan kita saat ini ! Kaum Muslim mengalami
kemunduran di bidang ilmu pengetahuan dan kepemimpinannya dalam bidang ini, kemudian
kendali berpindah ke tangan orang-orang Barat. Sehingga peradaban Barat menjadi
idola bagi seluruh negara di dunia, termasuk di negara-negara Muslim.
Tidakkah kita merindukan peradaban Islam ? Kaum Muslim
menjadi pioneer bagi umat manusia,
seluruh kebudayaan dan peradabannya dihormati dan ditiru, pemikiran-pemikiran para
cendikianya didengar dan diikuti, terwujudnya konsep rahmatan lil 'alamin... tidakkah kita merindukannya ? Jika
jawabannya adalah YA, maka kita harus segera membangun kembali peradaban Islam.
Membangun peradaban Islam maka membutuhkan ilmu. Ilmu manakah
yang dimaksud ? Apakah ilmu yang sekuler atau ilmu yang Islami ? Ilmu dunia
atau ilmu akhirat ? Karena pemikiran kita dan banyak orang lainnya biasanya berparadigma
bahwa ada dikotomi dan polarisasi antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama. Lantas,
apakah sudah benar dikotomi atau polarisasi semacam itu ?
Bagi Dr. Ir. Muhammad Imaduddin Abdurrahim, "Tidak ada ilmu yang sekuler... yang ada
ialah ilmu sekuler dengan asumsi dan niat-niat sekuler. Sains -siapapun yang
mengembangkannya- pasti akan sampai pada end point yang Islami".
Menurut Prof. M. Dawam Rahardjo, "Pengertian ilmu secara garis besar dibagi menjadi dua. Pertama adalah
ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu, termasuk yang dapat disaksikan oleh
indera manusia dan yang diluar itu (gaib), hal ini hanya dapat diketahui lewat
wahyu. Kedua adalah segala ilmu Allah yang dapat dijangkau oleh manusia,
melalui indera dan qalbu (intuisi), namun jangkauan ini terbatas." Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa pada esensinya segala ilmu itu bersumber dari
Allah SWT, Yang Maha Luas ilmu-Nya. Sedangkan ilmu manusia adalah terbatas.
Oleh karena itu, di dalam Islam tidak ada dikotomi atau
polarisasi antara ilmu agama dan ilmu sekuler, antara ilmu dunia dan ilmu
akhirat. Sehubungan dengan itu, maka penguasaan ilmu pengetahuan modern yang
sebesar-besarnya seharusnya dikhidmatkan untuk pembangunan kesejahteraan
kehidupan umat Muslim pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. Menjadi rahmatan lil 'alamin adalah sebuah
tuntutan dan keharusan, maka hanyalah dengan semangat jihadlah kita bisa
mewujudkannya. Dengan melakukan jihad intelektual tentunya.

Dari hal tersebutlah, muncul ide untuk melakukan 'Islamisasi
Ilmu Pengetahuan'. Bukan bermaksud menimbulkan pro dan kontra, tapi hal ini dimaksudkan
untuk mengejar ketertinggalan umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi. Namun demikian, gagasan ini juga telah menimbulkan pro dan kontra di
antara para pemikir dan ilmuwan Muslim sendiri. Wallahu 'alam.
Prof. Dr. Ismail Raj'i
Al-Faruqi memiliki rencana kerja untuk 'Islamisasi Ilmu Pengetahuan' ini, yang
memiliki lima sasaran :
1. Mengetahui disiplin-disiplin ilmu modern,
2. Menguasai Khazanah Islam,
3. Menentukan relevansi Islam yang spesifik pada
setiap bidang ilmu pengetahuan modern,
4. Mencari cara-cara untuk melakukan sintesa
kreatif antara Khazanah Islam dengan ilmu pengetahuan modern,
5. Mengarahkan pemikiran Islam ke lintasan-lintasan
yang mengarah pada pemenuhan pola-pola rancangan Allah.
Jika sekarang paradigma perang sudah berubah dari perang 'angkat
senjata' menjadi perang informasi, bahkan juga perang pemikiran. Lantas apakah
hati kecil kita terpanggil untuk melakukan 'jihad intelektual ini' ? Semoga
jawabannya adalah YA, amin.

Referensi :
K.H. M. Rusli Amin. Kiat-kiat
Sukses : Sebuah Pendekatan Qur'ani Untuk Membangun Kualitas Diri &
Kehidupan . 2003. Jakarta : Al-Mawardi Prima.

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Welcome to Mom Connection! Share stories, news and more with moms like you.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: