gaulislam edisi 069/tahun ke-2 (20 Safar 1430 H/16 Februari 2009)
There were no valentines
for the kids in palestine
no v-cards
no valentines day there were no candy hearts
for the old decripit ones
no candy
no cinnamon buns all you little boys and girls
we'll give you all our candy pearls
pearls pearls pearls pearls pearls
we'll give you candy pearls where has all the candy gone?
candy candy candy where has all the love gone? Pernah
dengar lagu dari lirik di atas? Nggak usah minder kalo belum, karena
lagu ini memang bukan major label alias indie. Genrenya juga abstrak,
bukan termasuk pop, rock, rap apalagi dangdut. Bahkan si penyanyi yaitu
Tishomingo juga nggak jelas asal usulnya. Suaranya pun sangat cempreng
dan nggak asik untuk didengar. Tapi at least, kita jadi tahu
apa yang dia mau dari lirik lagu ciptaannya ini. Ia masih mau peduli
dengan nasib jutaan manusia di Palestina, yang bagi zionis Israel
dengan dukungan Amerika ingin dimusnahkan hingga akar-akarnya. Gimana
nggak, bila bayi merah pun mereka bunuh dengan tangan dingin. Terlepas
dari sejarah asal-usul Valentine, hari ini diyakini oleh banyak orang
sebagai hari kasih sayang. Hari yang penuh dengan permen, coklat,
boneka, benda-benda berbentuk hati, dan warna pink. Budaya yang awal
mulanya dari Italia dan kemudian dikomersilkan oleh Amerika ini semakin
mendunia. Negeri-negeri muslim termasuk Indonesia pun jadi latah
ikut-ikutan. Seakan-akan bila belum ikut merayakan hari Valentine,
hidup serasa kurang pas, nggak gaul dan siap dicap kuno. Amerika,
Eropa dan banyak negeri muslim pun jejingkrakan merayakan Valentine.
Memang sih ada beberapa orang yang merayakannya dengan syahdu tapi
tetep aja ujung-ujungnya juga mengarah ke gaul bebas dan konsumerisme.
Terus, apa dong hubungan antara hari Valentine dengan Palestine
terutama Gaza yang awal tahun ini diserang selama 22 hari nonstop itu?
Ikuti yuk, biar paham. Valentine, Palestine
Wah…apa hubungannya antara Palestina dengan hari Valentine? Secara
langsung emang nggak ada hubungannya, tapi kalo dipaksa-paksain bisa
juga yaitu dengan tujuan sekadar tahu seberapa buruk wajah Valentine
dikaitkan dengan isu Palestina. Bulan Februari
semua toko dan hampir semua pusat perbelanjaan menjajakan barang-barang
berlabel hari kasih sayang. Nggak cuma Amerika sebagai lokomotif
penjaja budaya ini, tapi termasuk Indonesia dan banyak negeri muslim
lainnya rela menjadi gerbong kayak sapi ompong yang ikut-ikutan
merayakannya. Lagu di atas ditulis oleh anak
muda yang peduli tentang nasib bangsa Palestina. Dikaitkan dengan
Valentine yang katanya hari kasih sayang, fenomena ini sangat jauh dari
perlakuan dunia terhadap masalah Palestina. Nah, karena perayaan
Valentine ini masih dekat dengan luka Gaza sejumlah 1300 nyawa lebih
dibantai Zionis atas izin Amerika, maka kita patut untuk mengaitkannya
dan melihat kebobrokannya. Lagu di atas tuh
kurang lebih terjemahan bebasnya gini neh: kalo emang Valentine itu
hari kasih sayang, trus kemana rasa cinta itu pergi bila sudah kena
masalah Palestina? Nah, bahkan anak muda yang nulis lirik ini aja punya
kesadaran kemanusiaan tinggi kayak gini, gimana dengan kamu-kamu yang
masih aja merayakan Valentine di saat sodara-sodara kita dibantai? Lagu
ini sebetulnya nyentil banget untuk melihat betapa bopengnya wajah
peradaban Barat yang suka bersembunyi atas nama cinta dan kasih sayang.
Ketika Israel penjajah dihujani roket dari wilayah Gaza aja, mereka
teriak-teriak seakan dunia runtuh. Padahal para zionis itulah yang
datang tak diundang untuk merampok wilayah Palestina. Namun ketika
Penduduk Palestina mempertahankan diri, eh…malah dibilang teroris dan
dibantai. 1300 jiwa melayang dengan mayoritas anak-anak dan wanita jadi
korban. Namun apa kata pemerintah Amerika dan PBB yang katanya badan
perdamaian? Mereka sepakat mendukung Israel dan meneruskan pembantaian
atas rakyat Gaza. Kedua pemerintah negara ini
memang saling bantu dalam hal melemahkan kaum muslimin dari segala
aspeknya, terutama dari segi budaya. Bahkan, bila ditelusuri, ternyata
negeri penjajah semacam Israel pun, mempunyai tradisi yang tak jauh
beda dengan perayaan Valentine ala Barat. Kita tak perlu heran Israel
ikut-ikutan perayaan Valentine ini karena bukankah yang mempunyai ide
adalah Israel besar? (baca: Amerika= Israel besar, Israel= Amerika
kecil). Valentine ala Yahudi
Hadirnya hari Valentine, tidak begitu asing bagi komunitas Yahudi
terutama dalam lingkup negara yang dirampas dari Palestina, yaitu
Israel. Hari tersebut disebut Tu B'Av yang artinya adalah tanggal lima
belas bulan Av (bulan orang Yahudi), kira-kira kalau dalam penanggalan
masehi, tanggal ini jatuh sekitar akhir bulan Juli.
Tu B'Av ini
adalah hari untuk merayakan cinta bagi orang Yahudi yang kurang lebih
seperti hari Valentine. Para gadis yang dalam agama Yahudi begitu
banyak larangan untuk bergaul dengan lawan jenis, pada Tu B'Av mereka
keluar rumah dan memakai baju putih hasil dari meminjam serta
berdansa-dansi di kebun anggur. Mereka berdansa untuk menarik lawan
jenis dengan mengucapkan kata-kata "Hai para pemuda, bukalah mata
kalian dan lihatlah kami. Pilihlah kami sebagai pasanganmu." Tak
jauh beda dengan Valentine, mereka pun saling memberi bunga, permen,
coklat, boneka, dan benda-benda lainnya dengan bentuk hati. Kapitalisme
pun mengintip dan dimanfaatkanlah momen ini untuk meraup untung
sebanyak mungkin dengan persewaan hotel, restoran dirancang dengan
romantis dan lain sebagainya. Bahkan tradisi berpakaian putih itu pun
ditinggalkan dan diganti dengan kaos nanggung yang (maaf) kelihatan
pusarnya. Jadilah ajang ini tempat untuk melampiaskan nafsu dengan
berzina atas nama hari kasih sayang. So,
bila Valentine yang notebene berasal dari budaya Romawi yang dipoles
oleh budaya Kristiani lalu nyambung dengan budaya Yahudi, kita nggak
perlu heran. Mereka tidak mengenal dosa, karena bagi mereka yang
penting hidup ini having fun. Surga neraka itu urusan
belakangan. Sangat khas sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan)
yang itu bertentangan dengan Islam. Yang pantas kita herankan adalah
apabila ada kaum muslimin yang masih mau turut serta berpartisipasi
dalam ajang yang jelas-jelas maksiat ini. Tengoklah Palestina
Dari uraian di atas, marilah kita tengok Palestina yang baru saja
dihancur-leburkan oleh Israel laknatullah. Nyambung nggak sih kasih
sayang yang mereka gembar-gemborkan itu dengan kenyataan? Ada yang
nggak nyambung dengan teori mereka tentang cinta dan kasih sayang bila
dikaitkan dengan fakta pembunuhan keji anak-anak dan wanita atas nama
memerangi terorisme. Teori mereka basi. Masa iya sih yang kayak begini
masih aja kalian percaya untuk mengikuti yang namanya Valentine atau
apa pun dengan menyalahgunakan cinta dan kasih sayang? Di
saat anak-anak dan remaja Palestina hidup di pengungsian tanpa rumah,
tanpa makanan, tanpa selimut di musim dingin, masa iya kamu tega
menghamburkan uangmu untuk sekedar candle light dinner dengan
sang pacar? Ketika tiap saat hidup mereka terancam bom kimia Israel
yang membuat mereka cacat seumur hidup dan merasakan sakit tak
tertahankan, masih kamu tega befoya-foya dan berpesta atas nama hari
kasih sayang? Coklat, permen dan boneka yang
merupakan bagian dari dunia anak-anak adalah barang mahal untuk
dinikmati. Ketapel dan batu adalah mainan dan senjata bagi anak-anak
dan remaja Palestina untuk melawan Israel yang diperlengkapi dengan
senjata modern sokongan dari Amerika. Bila
ingin belajar cinta dan kasih sayang, layangkan pandanganmu ke tempat
konflik ini. Seorang ibu yang rela melepas putra tersayangnya untuk
berjihad demi cinta kepada Allah dan rasulNya. Seorang pengantin baru
yang rela meninggalkan istri demi seruan jihad melawan Israel. Seorang
anak, baik laki-laki maupun perempuan usia 10 tahun menggendong adiknya
yang balita dengan sayang karena orang tuanya sudah syahid. Lalu,
bentuk cinta yang seperti apa lagi yang kita inginkan?
Kita memang beda
Menjadi seorang muslim itu berbeda. Kita tidak butuh cinta semu
berbalut nafsu atas nama maksiat. Kita butuh bukti bukan janji. Kita
tidak butuh slogan-slogan cinta bila faktanya tak ada. Cinta dan kasih
sayang yang diobral dalam acara bertajuk Valentine, ibarat baju yang
diobral seribu tiga. Cinta dan kasih sayang itu jadi murahan dan
kehilangan nilai serta rasanya. Nggak asik, gitu lho. Cinta
dalam Islam diperlakukan dengan agung. Cara memperoleh pasangan juga
sudah diatur sedemikian rupa agar tidak melanggar harkat dan martabat
manusia sebagai manusia. Harga diri masing-masing individu juga dijaga,
bukan untuk diobral dengan genit sambil berdansa-dansi. Memberi coklat,
bunga, dan kado pun boleh untuk mempererat ukhuwah dan selama tidak
menimbulkan fitnah. Apalagi dalam kehidupan suami istri, wah…sangat
dianjurkan itu. Tidak ikut-ikutan acara
Valentine bukan berarti kuno. Kuno atau tidaknya seseorang itu bukan
dilihat dari ikutan ajang maksiat tersebut atau tidak. Tapi kuno
tidaknya seseorang itu dilihat dari pola pikir dan perilakunya. Israel
itu kuno, karena beraninya cuma bila didukung Amerika di persenjataan
dalam melawan perlawanan Palestine. Israel itu kuno dan kejam karena
beraninya cuma membunuh anak-anak dan wanita. Israel itu kuno ketika ia
tidak berani face to face dalam bertempur dengan musuhnya.
Jadi semua tentang zionis Israel itu kuno, kejam dan tak
berperikemanusiaan. Masa iya, udah tahu begini kamu masih mau
ikut-ikutan? Tidak mem-beo acara Valentine bukan
berarti anti Barat. Hal-hal yang bersifat netral dan tidak merusak
akidah, bisa kita terima dengan tangan terbuka. Misalnya saja teknologi
seperti komputer, pesawat terbang bahkan belajar bahasa Inggris. Itu
sah-sah aja kok untuk dipelajari dan dimanfaatkan bagi kemaslahatan
manusia. Tapi bila sudah pada tataran pemikiran dan peradaban semisal
perayaan Valentine, natalan, demokrasi, hedonisme, permisifisme (paham
serba boleh), atau isme lainnya, wah…nanti dulu. Seorang
muslim itu punya prinsip. Dia tidak akan pernah terombang-ambing oleh
serbuan budaya yang nggak jelas asal-usulnya. Yang nggak jelas aja
nggak mau apalagi yang jelas-jelas bukan budaya Islam dan tujuannya
adalah merusak generasi muda muslim semisal Valentine's Day ini. Jadi
mulai saat ini, detik ini, tanamkan dalam diri kamu bahwa Valentine's
Day NO, tapi Islam YES, okay? Siippp deh! [ria: riafariana@yahoo.com]
source: http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/valentine-and-palestine.html
FARIZAL ALBONCELLI In tansurullah yansurukum wayu sabit akdamakum
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/,
FS: farizal.info@yahoo.com
mobile: 021 950 42948
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
mailto:daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar