Rabu, 14 April 2010

[daarut-tauhiid] Selagi Mampu, Sedekahlah"

 



Selagi Mampu, Sedekahlah


� Sering
kita tidak menyadari kerap menunda untuk bersedekah dengan beragam alasan,
"Besok sajalah, sekarang sedang sibuk", "Nanti kalau semua tagihan sudah
terbayar, lihat sisanya baru disedekahkan" atau, "Nanti dulu deh, masih
banyak kebutuhan bulan ini. Mudah-mudahan bulan depan ada rezeki lebih bisa
buat sedekah…"
Sebelum kita terus menerus mencari alasan untuk menunda
bersedekah, saya ingin berbagi kisah tentang seorang kawan yang bercerita
tentang Ayahnya. Ini bukan sebuah bentuk keluhan si anak terhadap Ayahnya,
melainkan pelajaran berharga yang diterima anaknya dari apa yang Ayahnya
lakukan setiap saat di masa tuanya. Menurut kawan saya ini, setidaknya setiap
bulan sekali Ayahnya selalu minta sejumlah uang kepada anaknya untuk bisa
bersedekah. Ia sama sekali tidak merasa keberatan dengan permintaan tambahan
dari Ayahnya ini meski setiap bulan ia juga telah menyisihkan rezekinya untuk
biaya hidup orang tuanya.

Alhamdulillah, ia selalu bisa memenuhi apa yang diinginkan orang tuanya,
termasuk saat ia menghajikan kedua orang tuanya beberapa tahun silam. Setiap
tahun ia memiliki rezeki untuk berqurban pun, tak pernah lupa ia memberikan
seekor hewan qurban atas nama Ayah atau ibunya. Dalam kesempatan lain, misalnya
ketika ada acara santunan anak yatim dan dhuafa, Ayahnya selalu minta kepada
kawan saya untuk mengeluarkan uang santunan dan diatas namakan Ayahnya.

Pernah suatu hari, malam-malam Ayahnya menelepon agar anaknya segera menyetor
sejumlah uang. "Besok warga berkumpul, untuk masing-masing bisa menyumbang
untuk renovasi masjid. Ayah malu kalau tidak bisa menyumbang apa-apa…"
Beruntung kawan saya ini sedang ada rezeki, sehingga pagi harinya ia bisa
mengirim uang senilai yang diharapkan Ayahnya. Di hari lain, si Ayah pun
berharap anaknya mau membelikan beberapa puluh pasang sepatu untuk anak yatim
di sekitar rumahnya. Ayah kawan saya ini sangat ingin dekat dengan anak
yatim, terlebih di masa tuanya yang sudah tidak disibukkan dengan berusaha
mencari nafkah dan urusan dunia lainnya. Semua itu tentu saja atas nama sang
Ayah, meski uangnya dari anaknya.

Belum lama, lagi-lagi Ayahnya memerlukan sejumlah uang yang tidak sedikit.
Rupanya, ia punya keinginan lama yang belum sempat diwujudkan, yakni
mengundang sekitar seratus warga dhuafa di lingkungan rumahnya untuk makan
bersama, walau sekadar kecil-kecilan. "Sudah lama Ayah ingin mengundang
mereka makan di rumah kita, cita-cita ini sudah pernah Ayah utarakan ke ibumu
dulu waktu kau masih sekolah" ujar sang Ayah.

Ia Ayah yang beruntung, memiliki anak-anak yang tak pernah mengeluh memenuhi
keinginan orang tuanya. Kawan saya, beserta adik-adiknya bergantian mencukupi
keperluan orang tua termasuk beragam keinginan beramal shalih dan sedekah
sang Ayah. Santunan anak yatim, berqurban, berhaji, memberi makan fakir
miskin, ditambah sedekah harian untuk setiap pengemis yang mampir ke rumahnya
atau ia temui di jalan, semuanya disediakan oleh anak-anaknya.

Suatu hari, kawan saya pernah bertanya kenapa Ayahnya begitu menggebu untuk
terus menerus bersedekah di hari tuanya. Jawaban sang Ayah atas pertanyaannya
itulah yang membuat kawan saya ini tak pernah mengeluh jika sang Ayah meminta
bantuan untuk memberi sedekah. Bukankah dengan membantu sang Ayah bersedekah
maka iapun akan mendapat nilai yang sama baiknya dengan sang Ayah? Allah
pasti tahu, jika sedekah atas nama dirinya menjadi berkurang lantaran ia
lebih sering bersedekah untuk dan atas nama Ayahnya.

Untuk pertanyaan yang diajukan kawan saya itu, sang Ayah mengungkapkan bahwa
ia dulu termasuk orang-orang yang sering menunda bersedekah. Bahkan karena
terlalu sering menunda sedekah, uangnya justru terpakai untuk kebutuhan lain.
Niat bersedekahnya tinggal niat, karena lebih sering tidak terlaksana karena
kerap dengan sengaja ditunda-tunda. Ia yang berpikir akan selalu ada
kesempatan berikutnya untuk beramal salih, zakat, infak dan sedekah, sekarang
menyesali keadaannya yang tak memiliki kesanggupan untuk banyak bersedekah.
Ia yang selalu mengira di masa tua akan bisa menikmati berdekatan dengan
Allah dengan memerbanyak ibadah dan banyak bersedekah, justru terus menerus
diselimuti kecemasan karena merasa sedekahnya sangat kurang.

Padahal selagi masih produktif, Ayahnya tergolong orang sukses dan bisa
banyak mengunjungi panti asuhan dimanapun. Selagi masih berpenghasilan,
Ayahnya termasuk orang yang mampu menyantuni ratusan anak yatim setiap bulan,
namun sering lupa ia tunaikan. Selagi masih muda dengan karir yang bagus,
sangat mudah bagi sang Ayah untuk bersedekah terus menerus tanpa henti.
Penghasilannya yang jauh di atas rata-rata orang di sekitarnya kala itu,
semestinya bukan hal sulit bagi Ayahnya untuk berderma kepada fakir miskin.

Nyatanya, waktu benar-benar cepat berlalu. Rasanya baru kemarin ia mengira
akan ada waktu di hari esok untuk beramal salih, kiranya baru kemarin ia
berkata, "besok saja saya bersedekah", hari ini usianya sudah tak lagi
produktif mencari nafkah, bahkan ia harus menggantungkan hidupnya kepada
anak-anaknya. Ia mengira waktu masih akan sangat panjang baginya, ia
menyangka akan ada waktu di masa tua untuk perbanyak bekal menuju kampung
akhirat. Di matanya, baru kemarin ia masih memiliki penghasilan memadai untuk
membeli segala yang ia inginkan. Sekarang, untuk bersedekah pun harus
mengandalkan anak-anaknya.

"Selagi masih kaya, selagi masih muda, selagi masih produktif,
banyak-banyaklah beramal shalih dan bersedekah, atau kamu akan menyesal
seperti Ayah yang sudah setua ini namun baru menyadari bahwa bekal Ayah
sangat kurang untuk berjumpa dengan Allah…" ujar kawan saya menirukan
kata-kata Ayahnya.

Sobat, senang rasanya bisa membagi kisah ini, sesenang ketika saya mendapat
cerita ini dari kawan saya itu. Mumpung masih muda, mumpug masih punya harta,
sedekahlah. Jangan tunggu saat kita bingung dan sedih lantaran tak memiliki
apapun untuk dibagi. Belum tentu kelak di masa tua kita seberuntung Ayah
kawan saya, yang memiliki anak-anak berjiwa dermawan


__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Welcome to Mom Connection! Share stories, news and more with moms like you.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: