Kamis, 15 April 2010

[daarut-tauhiid] Tujuan: hikmah surah Al-Ikhlash

salam,

just sharing ...

satriyo

---------- Forwarded message ----------
TUJUAN

by Akmal ST MPd

Ada sebuah pertanyaan yang memberatkan pikiran saya ketika SD dulu, ketika
pertama kali merenungkan terjemahan dari Surah Al-Ikhlash. Kata "ikhlash"
sudah diserap sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia, dan kita sudah bisa
meraba maksudnya apa (meskipun banyak juga yang tidak memahaminya secara
akurat). Akan tetapi, mengapa sebuah surah diberi nama "Al-Ikhlash", namun
di dalamnya tak tercantum satu pun kata "ikhlash" atau yang seakar kata
dengannya, bahkan tidak ada ayat di dalamnya yang secara langsung
membicarakan soal keikhlasan ini?

Rupa-rupanya memang yang menjadi soal dalam membahas keikhlasan itu bukanlah
sifat ikhlasnya itu sendiri, melainkan ke mana keikhlasan itu ditujukan.
Ikhlas, sebagaimana yang sudah dipahami oleh banyak orang, maknanya adalah
membersihkan niat dan motivasi kita. Tentunya yang dituju adalah Allah
SWT. Karena itu, Surah Al-Ikhlash memberikan gambaran yang gamblang tentang
Allah. Sebuah surah pendek yang unik, karena mampu secara efektif
memperkenalkan sosok Allah kepada seluruh umat manusia. Sebuah hadits shahih
mengatakan bahwa surah ini bahkan setara dengan sepertiga Al-Qur'an. Karena
Allah SWT adalah tujuan kita, maka memang pantas jika urusan
ma'rifatullaah(mengenal Allah) menjadi bahasan yang begitu penting
dalam agama ini.

Memiliki tujuan sama sekali bukan konsep yang asing bagi manusia. Akan
tetapi, tujuan manusia seringkali tidak terfokus dan berubah-ubah. Itulah
sebabnya manusia perlu diingatkan setiap saat dengan sebuah peringatan
singkat yang begitu mudah untuk dihapal dan diucapkan. Itulah Surah
Al-Ikhlash.

Menjadikan Allah sebagai tujuan memiliki kompleksitas yang tersendiri.
Dalam lomba lari, mudah saja untuk memberi instruksi pada atlet, karena
garis finish dapat dilihat dengan jelas. Dalam perdagangan, sebuah standar
keuntungan tertentu bisa dijadikan patokan keberhasilan. Ketika Allah
dijadikan tujuan, maka masalahnya menjadi lebih rumit daripada sekedar
kerumitan yang terjadi karena manusia tidak bisa melihat Allah. Jauh lebih
rumit daripada itu.

Niat dan umur adalah dua variabel yang sangat mempengaruhi kesuksesan kita
dalam mencapai tujuan. Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa niat akan
menentukan nilai dari suatu amal. Akan tetapi, kita juga harus mewaspadai
keterbatasan umur. Itulah sebabnya orang bijak berkata, "Jangan tunda
hingga besok apa yang bisa kaukerjakan hari ini". Kalau niat baik
ditunda-tunda, siapa tahu esok tak pernah datang. Jika niat adalah variabel
yang sangat samar, maka umur adalah variabel yang sama sekali tidak dapat
kita kendalikan.

Manusia senantiasa hidup dalam tanda tanya. Khalid ibn Walid ra., yang
dikenal sebagai panglima tangguh yang telah terjun di medan jihad
berkali-kali, ternyata menemukan ajalnya di pembaringan. Tidak ada yang
tahu keadaan esok hari, apalagi yang tersembunyi di kedalaman hati. Hadits
yang mengatakan bahwa segala amal tergantung pada niat semestinya tidak
menjadikan kita tenang, karena kaidah ini justru memperumit masalah. Sudah
yakinkah kita pada niat kita sendiri?

Antara Tujuan dan Proses
Sebenarnya tak mungkin ada pertentangan antara tujuan dan proses, karena
proses adalah langkah yang kita rancang untuk mencapai tujuan. Jika
tujuannya adalah berlari satu kilometer, maka persiapannya pun senilai
dengan jarak itu. Tentu beda dengan atlet yang bersiap untuk lomba maraton
yang mencapai jarak puluhan kilometer. Itulah sebabnya Allah SWT menetapkan
bahwa amal-amal manusia akan tergantung pada niatnya. Memang adakalanya
terjadi masalah di tengah jalan, sehingga maraton terpaksa dihentikan di
tengah jalan. Akan tetapi, karena kasih sayang Allah pada manusia,
niatnyalah yang dinilai. Adapun niat akan tercermin pada persiapan dan
kerja keras yang dilakukannya. Tentu saja orang yang ikut lomba maraton
dengan persiapan sekedar sepatu olahraga akan sangat berbeda penilaiannya
dengan yang sudah berlatih tiga bulan sebelumnya, membeli sepatu terbaik,
dan menjaga asupan nutrisinya selama berbulan-bulan menjelang lomba.

Di hadapan Yang Maha Mengetahui, tentu saja kita tak mungkin berbohong.
Niat adalah suatu hal yang sangat kompleks dan halus, tersembunyi di relung
hati. Hadits pertama dalam Arba'in an-Nawawi menyatakan bahwa orang yang
ber-hijrah karena ingin mendapatkan istri, maka istrilah yang akan
didapatkannya. Demikian pula mereka yang hijrah karena Allah maka amalnya
pasti akan sampai juga ke sisi Allah. Memang niat menjadikan proses menjadi
begitu berbeda. Jika hijrah karena perempuan, maka asal sampai ke Madinah
pun jadi. Tapi jika hijrah-nya karena Allah, maka langkahnya akan
dipercepat (karena rindu kepada Rasulullah saw.), jika perlu segala barang
yang menghambat akan ditinggalkan. Sampai di Madinah, sikapnya pun
berbeda. Yang sekedar ingin mendapatkan istri mungkin akan bersenang-senang
bersama istrinya, sedangkan yang hijrah karena Allah akan segera memfokuskan
pikiran pada agenda berikutnya. Mereka sama-sama hijrah dari Mekkah ke
Madinah, namun dengan kualitas yang jauh berbeda.

Menjadikan Allah SWT sebagai tujuan adalah sebuah perintah yang sangat
berat, tapi juga sangat penting bagi manusia itu sendiri. Sebab, inilah
satu-satunya cara untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Orang yang
melihat garis finish akan berlari sekencang mungkin, kemudian langsung
menurunkan kecepatan begitu melewatinya. Orang yang berniaga dengan patokan
sebuah target keuntungan akan langsung mengurangi kerja kerasnya ketika
target itu terlampaui. Akan tetapi umur manusia tak dapat diketahui, dan
niat (yang menjadi variabel penting dalam penilaian amal manusia) juga tak
mudah untuk dipastikan. Maka seseorang yang menjadikan Allah sebagai
tujuannya akan benar-benar fokus dalam proses, pada episode kehidupan mana
pun yang sedang ia jalani. Setiap detil dalam proses akan diperhatikannya,
karena dedikasi pada detil itulah yang menjadi ukuran niatnya. Baginya, tak
ada kata cukup untuk beramal, karena ia tak pernah mengetahui perhitungan
Allah SWT terhadap dirinya, dan ia tak tahu kapan maut akan datang
menjemput.

Bayangkanlah lompatan apa yang akan terjadi jika umat Islam sudah
menumpahkan dedikasi maksimalnya dalam setiap pekerjaannya, seolah-olah ia
melihat Allah dan yakin bahwa Allah tengah mengamatinya. Bayangkanlah
kemajuan apa yang akan dicapai jika kita benar-benar hidup di bawah
pengawasan Allah, sehingga ketika hendak tidur pun kita meluruskan niat
hidup, karena khawatir takkan bangun lagi dari pembaringan.

Inilah karakter umat yang membuat Romawi dan Persia berdiri bulu kuduknya.

wassalaamu'alaikum wr. wb.

http://multiply.com/gi/akmal:journal:784

--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.
N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs.
im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können.
>> al-Ra'd [13]: 28


[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: