Selasa, 03 Juni 2008

[daarut-tauhiid] Re: bagaimana posisi menghadap kiblat jika sholat sambil tidur?

sumber :

http://www.scc-batam.org/index.php/Shalat/Shalat-sambil-baring-harus-menghadap-qiblat.html

Pertanyaan kepada team asatidz Sharia Consulting Center (SCC) Kota Batam
bisa dikirimkan ke : konsultasi.syariah@yahoo.co.id
================================================================================

Shalat sambil baring, harus menghadap qiblat?

*Tanya*

Assalamu'alaikum.

Kaki kanan saya habis dioperasi kecil. kata dokter, tidak boleh kena
air. maka saya berencana akan melakukan tayamum. apa hal ini dibolehkan?
lalu karena operasi ini, saya pun sulit klo harus sholat berdiri, maka
saya berencana akan melakukan shalat sambil tidur. lalu bagaimana posisi
menghadap kiblat dalam konteks sholat sambil posisi tidur?

/jazakumullah khayran katsiran/

eRRy --Surya Erlangga Kusuma--

0856 2124 xxx; 0813 21 566 xxx

*Jawab*

/Wa'alaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh./

/Bismillah…/

*Pertama,* Anda cukup bertayammum, tanpa harus mengusap bagian yang
diperban, karena tayammum adalah pengganti wudhu dan mandi ketika tidak
mampu menggunakan air, tidak mampu menggunakan air itu banyak macamnya,
bisa karena airnya memang tidak diketemukan, padahal sudah berusaha
mencari kemana-mana, air terlalu dingin dan cukup membahayakan
kesehatan, sementara tidak ada alat pemanasnya, atau bisa juga karena
salah satu organ tubuh kita sakit, yang kalau kita gunakan air akan
menyebabkan bertambah parahnya penyakit atau memperlambat kesembuhan,
apakah berdasarkan analisa dokter ataupun berdasarkan pengalaman (Fiqh
Sunnah, Sayyid Sabiq, juz 1)

Adapun mengusap bagian yang diperban tidak perlu dilakukan, karena
riwayat mengusap perban dinyatakan lemah oleh banyak ahli hadits, seperti:

/Riwayat dari Jabir, dia berkata:/

"Kami pernah mengadakan safar, ada seorang sahabat kami yang tertimpa
batu hingga terluka kepalanya, lalu dia mimpi basah dan bertanya kepada
para sahabatnya, "Apakah kalian memandang ada /rukhshah/ (keringanan)
padaku untuk bertayammum?" Mereka menjawab, "Menurut kami engkau tidak
mendapatkan keringanan selagi engkau mampu menggunakan air." Diapun
mandi lalu meninggal dunia. Tatkala kami datang kepada Rasulullah,
beliau dikhabarkan dengan peristiwa tadi kemudian beliau bersabda,Mereka
telah membunuhnya, maka Allah akan mematikan mereka. Mengapa mereka
tidak bertanya bila tidak mengetahuinya? Karena obat kejahilan adalah
bertanya. Cukup baginya bertayammum, /diperban atau membalutkan kain
pada lukanya, lalu mengusapnya dan membasuh bagian tubuh lainnya/." (HR.
Abu Dawud dan ad-Daruquthni) tetapi hadits ini didha'ifkan oleh
al-Baihaqi, Ibnu Hajar dan lain-lain. Tapi Syaikh al-Albani mengatakan
haditsnya /hasan/, tanpa tambahan kalimat: diperban…. tambahan ini lemah
dan munkar, karena jalur periwayatannya lemah dan menyendiri. (Tamamul
Minnah, al-Albani)

/Riwayat dari Ali, dia berkata: /

"salah satu pergelangan tangan saya retak, maka saya bertanya kepada
Rasulullah, kemudian beliau menyuruh saya mengusap pembalutnya."
al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam kitab Bulughul Maram: hadits ini
diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang sangat lemah.

/Riwayat dari Ibnu Umar,/ bahwa nabi membasuh perban, dikeluarkan oleh
ad-Daruquthni dan katanya: "Abu 'Amarah (salah satu perawinya)sangat
lemah dan hadits ini sebenarnya tidak disandarkan kepada nabi."

*Kadua,* posisi idealnya anda berbaring diatas lambung kanan menghadap
qiblat, kalau memang memungkinkan, anda boleh telentang saja dengan
menjulurkan kaki mengarah kekiblat.

Dari Imran bin Hushain ra berkata: aku menderita ambient, maka aku
bertanya kepada nabi saw tentang cara shalat? Beliau berkata: "shalatlah
berdiri, jika tidak mampu maka duduk, jika tidak mampu maka berbaring
miring ke sebelah kanan." (HR. Bukhari,no. 1117) Dalam riwayat An-Nasa'i
ada tambahan : "jika engkau tidak bisa, boleh sambil terlentang".

dan kalau memang tidak bisa dilakukan anda boleh baring dalam kondisi
apapun sesuai dengan kadar kemampuanmu, demikian pula ketika anda susah
untuk menghadap qiblat, maka gugurlah kewajiban menghadap kiblat, karena
Allah membebani hamba-Nya sesuai dengan kadar kemampuannya.

Alla SWT berfirman: "Maka bertakwalah kalian kepada Allah semampu
kalian." [At-Taghabun : 16].

/Wallahu a'lam bish-shawab/

/Washallallahu wasallama 'ala Rasulillah wa 'ala alihi washahbihi ajma'in./

Abu Hasan, Lc


------------------------------------

===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website:

http://dtjakarta.or.id/
===================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
mailto:daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: