Senin, 09 Juni 2008

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2028

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (25 Messages)

1a.
Daftar Milad ESKA From: edwea chan
1b.
Re: Daftar Milad ESKA From: edwea chan
2a.
Re: Jalan-jalanku From: Diaz Rossano
2b.
Re: Jalan-jalanku From: dyah zakiati
3a.
Koq Tuhan Semena-mena sih? From: Diaz Rossano
4a.
[esai] Sayap-Sayap Kecil Keberkahan From: Nursalam AR
4b.
Re: [esai] Sayap-Sayap Kecil Keberkahan From: Diaz Rossano
5a.
[esai] Lajang Betawi Mencari Cinta From: Nursalam AR
5b.
Re: [esai] Lajang Betawi Mencari Cinta From: dyah zakiati
5c.
Re: [esai] Lajang Betawi Mencari Cinta From: Nia Robiatun Jumiah
5d.
Re: [esai] Lajang Betawi Mencari Cinta From: novi_ningsih
5e.
Balasan: [sekolah-kehidupan] [esai] Lajang Betawi Mencari Cinta From: CaturCatriks
6a.
[PUISI] "Layang-Layang" dan "Kepada Kata" From: Nursalam AR
6b.
Re: [PUISI] "Layang-Layang" dan "Kepada Kata" From: Nia Robiatun Jumiah
7a.
[cerpen] Tiga Perempuan From: Nursalam AR
7b.
Re: [cerpen] Tiga Perempuan From: Nia Robiatun Jumiah
8.
Nyok IKutan Lomba Blog Pesta Buku Jakarta 2008! From: Nursalam AR
9.
Kampanye anti ROKOK From: agung az
10.
Waktu Ini Membunuhku From: Alang Nemo
11.
cerpen-PILIHAN From: novi khansa'
12a.
YUK, SIAP-SIAP PILIH KETUA BARU ESKA From: Kabinet Eska
13a.
[Donasi Buku] Ditutup 1 Juli From: Kabinet Eska
14.
[ESKA IDOL] DIPERPANJANG (jangan lupa cc ke email kabinet) From: Kabinet Eska
15.
SK MEMPERTEMUKAN (JODOH) KAMI From: CaturCatriks
16.
ETIKA DEMONSTRASI From: galih@asmo.co.id

Messages

1a.

Daftar Milad ESKA

Posted by: "edwea chan" edwea@yahoo.com   edwea

Sun Jun 8, 2008 5:32 am (PDT)

Assalamu'alaikum

wuaahhh mau ada milad yah,
ikut yah....ada pepatah mengatakan "TAK KENAL MAKA TA 'ARUF" ^o^

daftar juga deh...supaya ukhuwah tambah erat dengan saling mengenal
kan obi masih "newbie"

"mohon bimbingannya !"

salam ukhuwah

Robiatul Adawiyah

1b.

Re: Daftar Milad ESKA

Posted by: "edwea chan" edwea@yahoo.com   edwea

Sun Jun 8, 2008 6:05 am (PDT)

Assalamu'alaikum

wuaahhh mau ada milad yah,
ikut yah....ada pepatah mengatakan "TAK KENAL MAKA TA 'ARUF" ^o^

daftar juga deh...supaya ukhuwah tambah erat dengan saling mengenal
kan obi masih "newbie"

"mohon bimbingannya !"

salam ukhuwah

Robiatul Adawiyah

2a.

Re: Jalan-jalanku

Posted by: "Diaz Rossano" dizzman@yahoo.com   Dizzman

Sun Jun 8, 2008 5:34 am (PDT)

kalo boleh nebak rutenya: Matraman - Senen - Kebonsirih - Thamrin - Sudirman - Casablanca (Mal Ambasador) - putar balik - KH Mas Mansyur - Kebon Sirih - Senen - Matraman - Proklamasi - Imam Bonjol - Kebon Kacang, he3x......diitung2x, jaraknya dah sampe Purwakarta tuh kalo ke Bandung

--- On Sat, 6/7/08, dyah zakiati <adzdzaki@yahoo.com> wrote:

From: dyah zakiati <adzdzaki@yahoo.com>
Subject: [sekolah-kehidupan] Jalan-jalanku
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Saturday, June 7, 2008, 10:02 PM

Kurang fokus! Mungkin itulah yang mengawali beberapa hari perjalananku. Bermula hari Rabu aku janjian dengan teman baruku, Miyu. Rumahnya di Kebun Kacang dekat Sarinah.
Pukul 15.30 aku bertolak dari Palmeriam, Matraman tercinta.Entah kenapa, mungkin karena nyeri pada lambungku, aku lupa berbelok ke arah Cikini. Terus saja ke arah Senen. Aduh. Hatiku sebenarnya mengatakan untuk putar arah, tapi pikiranku berkata, toh sebenarnya bisa saja dari arah lain. Akhirnya teruslah aku. Lho, kok di sini? Lho kok ke arah Setia Budi? Duh, apa aku pulang saja ya? Akhirnya aku berbelok dan berhenti di depan Mall Ambasador (hehehe, baru tahu lho, ternyata Mall Ambasador di situ). Kutelepon Miyu. Ia menerangkan rutenya. Aku harus putar balik. Tak jadilah aku pulang. Selain karena kami sudah cukup lama janjian, buku Harry Potter terakhir terngiang-ngiang di kepalaku. Gadis cantik keturunan Cina itu memang punya koleksi buku yang cukup lengkap dan tebal-tebal. Akhirnya berputarlah aku ke arah Tanah Abang. Depan Tanah Abang, aku agak ragu. Karena aku belum punya SIM, maka ketakutanku melanggar rambu-rambu lumayan besar. Lalu, aku tak
mengerti, tahu-tahu aku sudah kembali ke arah Senen.

Aku sempat berfikir, ada apa ini? Apakah Allah tidak mengizinkan aku ke rumah Miyu? Apakah tadi aku tidak baca bismillah? Apakah aku terlalu banyak dosa? Apakah aku harus pulang atau terus? Akhirnya aku memilih terus. Dan, luar biasa bukan? Aku kembali ke Sarinah dari arah awal aku bermula. Matraman.

Akhirnya aku sampai di tempat pukul 18.45. Subhanallah.

2b.

Re: Jalan-jalanku

Posted by: "dyah zakiati" adzdzaki@yahoo.com   adzdzaki

Sun Jun 8, 2008 7:01 am (PDT)

:D hehehehee. Mungkin lebih jauh lagi kali ya, Maz, soalnya pas putar balik dari Casablanca, putar baliknya terlalu kejauhan. Trus Tanah Abang sanaan lagi (melewati tanah abang) trus ada feeling kejauhan, nanya-nanya, suruh putar balik. Putar balik terus ke kiri (entah di mana), sebenarnya katanya sih lampu merah kedua suruh belok kanan, tapi aku keterusan, lurus. Seterusnya sama:D Makasih yaa maz, sepertinya aku harus punya peta kali yaa

Malu bertanya, lama di jalan:D

Salam
Dyah

----- Original Message ----
From: Diaz Rossano <dizzman@yahoo.com>
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Sent: Sunday, June 8, 2008 6:38:07 PM
Subject: Re: [sekolah-kehidupan] Jalan-jalanku

kalo boleh nebak rutenya: Matraman - Senen - Kebonsirih - Thamrin - Sudirman - Casablanca (Mal Ambasador) - putar balik - KH Mas Mansyur - Kebon Sirih - Senen - Matraman - Proklamasi - Imam Bonjol - Kebon Kacang, he3x......diitung2x , jaraknya dah sampe Purwakarta tuh kalo ke Bandung

3a.

Koq Tuhan Semena-mena sih?

Posted by: "Diaz Rossano" dizzman@yahoo.com   Dizzman

Sun Jun 8, 2008 5:35 am (PDT)

Kemarin hari Kamis pas nonton Mario Teguh di O'CHannel, tercetus ungkapan beliau yang cukup menggelitik ketika menanggapi pertanyaan pemirsa. menurut beliau, Tuhan itu semena-mena terhadap kita? Mengapa? cobalah tengok: seorang wanita cantik berpasangan dengan pria yang kurang tampan dan pendek, tidak lulus SMA bisa kaya, sementara lulusan sarjana masih menganggur,murid pintar tidak lulus SPMB/SNMPTN, sementara orang bodoh ternyata lulus, orang yang sudah bekerja keras tidak pernah kaya, sementara banyak orang santai sambil menikmati hartanya. Kalau begitu, Tuhan tidak adil donk? Aku merenung sejenak, sehingga sampailah pada satu kesimpulan: justru disitulah letak adilnya Tuhan. Tuhan tidak mendiskriminasi seseorang berdasarkan kepintaran, kekayaan, kecantikan/ketampanan, untuk mencapai sesuatu. Tuhan memberikan kesempatan sama kepada seluruh manusia ciptaanya, tidak peduli pintar atau bodoh, kaya atau miskin, rajin atau malas, untuk berupaya meraih yang
terbaik bagi dirinya. Kasihan kan, kalo hanya orang pintar saja yang berhak kuliah di PTN, atau pria tampan saja yang berhak menyunting wanita cantik. Dalam bahasa Tuhan: Kun fayakun, apa yang Ku kehendaki, maka jadilah. Seleksi alamlah yang menentukan seseorang berhasil atau tidak di dunia ini.

wassalam,

diaz

4a.

[esai] Sayap-Sayap Kecil Keberkahan

Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com

Sun Jun 8, 2008 5:37 am (PDT)

*Sayap-Sayap Kecil Keberkahan *

*Oleh Nursalam AR*

Keajaiban tidak selalu berupa hal-hal besar yang menakjubkan. Bisa jadi
hal-hal kecil yang luput dari perhatian kita tetapi sebenarnya bernilai plus
dalam kehidupan kita adalah bagian dari keajaiban itu sendiri. Berkah atas
sebuah kegiatan adalah juga bentuk keajaiban. Demikian jawabku bila aku
ditanya apakah pernah mengalami keajaiban karena ketaatan pada orang tua.

Jika keajaiban yang dimaksud adalah sebuah hal besar, seperti mendapat rumah
mewah atau rezeki melimpah karena suatu ketaatan pada orang tua, jelas
tidak. Mungkin orang lain pernah mengalaminya, rasanya aku tidak. Barangkali
karena tingkat ketaatanku pada orang tua yang, sejujurnya harus diakui,
fluktuatif. Aku bukanlah anak yang taat betul. Sering sekali aku merengut
atau membentak orang tua. Bahkan menolak permintaan mereka yang sekedar
ringan-ringan saja, seperti meminta dibelikan sesuatu ke warung, hanya
karena kemalasan atau kesibukanku.

Kenanganku terputar kembali semasa ibuku, Ulya binti Sayuti masih ada. Terus
terang aku lebih dekat dengan ibu ketimbang dengan ayah, yang kami panggil *
aba'*. Aku lebih menurut jika disuruh apa-apa oleh ibu. Tingkat rasa
bersalahnya pun lebih besar jika aku mengabaikan perintah atau keinginan ibu
ketimbang saat membantah disuruh *aba'*.

Ada kenangan tersendiri mengenai ibuku. Saat SMA, aku bukanlah murid yang
pintar dalam artian menduduki rangking sepuluh besar di kelas. Bahkan pernah
di kelas tiga, aku mendapat rangking 29 dari 46 siswa dan ada satu mata
pelajaran yang dapat angka merah. Memang aku saat itu sangat aktif di
kegiatan rohis (Rohani Islam) sekolah. Aktif yang sangat berlebih, hingga
melupakan kewajiban sebagai seorang siswa untuk belajar. Ulangan banyak yang
harus *her *terutama Fisika sebagai mata pelajaran wajib di jurusan A1
(Fisika) karena selain aku tidak punya waktu mengulang pelajaran juga otakku
tidak terlalu kuat untuk pelajaran eksakta. Singkatnya, dengan kondisi
seperti itu, lolos UMPTN—tes penerimaan mahasiswa baru—di universitas negeri
jurusan IPA pula—rasanya jauh dari bayangan.

Yang aku ingat saat itu menjelang UMPTN beberapa bulan sebelumnya aku ikut
bimbingan belajar—ini pun atas beasiswa bimbel tersebut sebagai bentuk
santunan kepada keluargaku karena almarhum abang tertua pernah mengajar di
bimbel tersebut—dan belajar semampuku. Ibadah pun diusahakan rajin dengan
tahajud dan mengaji qur'an. Yang lebih penting aku ingat betul petuah
*aba'*yang mengatakan doa orang tua mustajab.

Sebetulnya jauh-jauh sebelum UMPTN aku sudah memilih Fakultas Psikologi
Universitas Padjajaran (Unpad) di Bandung yang termasuk jurusan IPA. Berbeda
dengan fakultas Psikologi UI yang termasuk jurusan IPS. Selain berminat
dengan psikologi, menurutku, jurusan psikologi di Unpad menawarkan ranah
ilmu yang lebih lengkap dengan mata kuliah anatomi dan syaraf manusia persis
seperti yang dipelajari di fakultas kedokteran. Mungkin karena itu F-Psi
Unpad digolongkan dalam fakultas IPA.

Namun ibu tak setuju dengan pilihanku itu. "Pilih aje di Jakarta, biar gak
jauh-jauh." Memang jika aku pilih Unpad otomatis aku harus *indekost* di
Bandung, jauh dari ibu. Dengan setengah hati, berusaha mengikhlaskan diri,
aku pilih jurusan IPA di Universitas Indonesia (UI) yang tak jauh beda
dengan F-Psi Unpad, tak terlalu eksakta tapi masih termasuk jurusan IPA:
Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).

Aku sendiri dalam formulir pendaftaran UMPTN memilih IPC, program campuran
dengan dua pilihan fakultas non-eksakta yakni Sastra Inggris di pilihan
pertama dan Sastra Indonesia di pilihan ketiga. FKM di pilihan kedua. Itu
pun karena pertimbangan strategi dengan asumsi seburuk-buruknya aku masih
dapat tembus di Sastra Indonesia UI yang tingkat persaingannya lebih rendah
daripada di FKM. Faktor lain, karena almarhum abang sulungku alumnus FS-UI
jurusan Sastra Indonesia. Aku menikmati membaca buku-buku kuliahnya yang
tebal. Tak lupa pertimbangan terutama adalah biaya kuliah di UI yang saat
itu relatif lebih murah dibandingkan dengan perguruan tinggi swasta.

Saat pengumuman UMPTN pun tiba. Pagi itu, 27 Juli 1996, aku mendapati namaku
dengan suatu kode nomor pendaftaran tertera di lembaran koran. Saat itu
pukul 08.00. Aku luarbiasa gembira. Tapi aku tidak tahu di fakultas mana aku
diterima. Aku lebih hafal kode jurusan Sastra Inggris atau Sastra Indonesia.
Sejenak aku terkaget ketika mencocokkan kode fakultas yang tertera dengan
buku panduan UMPTN, dan mendapati aku diterima di FKM-UI. Memangnya aku
pernah memilih FKM-UI sebagai pilihan? Batinku sempat berbisik demikian. Ya,
aku sendiri sudah pesimis untuk dapat menembusnya karena konon tingkat
persaingannya termasuk papan tengah.

Aku bersujud syukur dan mencium tangan kedua orang tuaku. Mereka tampak
senang. Mata ibu berkaca-kaca. Ya, pilihan yang tepat, Bunda. Terima kasih,
Bunda, jika aku abaikan kemauanmu bisa jadi takdir Alah berbicara lain: aku
mungkin tidak lolos UMPTN dan mengendap di rumah sebagai pengangguran.
Sedari awal *aba'* dan ibu wanti-wanti bahwa mereka tak mungkin
mengkuliahkanku di perguruan tinggi swasta karena biaya yang mahal.

Teman-temanku terkaget-kaget ketika mengetahui aku diterima di UI. Siapalah
aku yang sering bolos demi kegiatan rohis, dan rangkingnya pun jauh di luar
10 besar? Aku hanya suka membaca. Itu saja. Dan di antara siswa yang biasa
menduduki rangking 10 besar di kelasku, tak satu pun yang lolos UMPTN.

Yah, inilah berkah yang aku rasakan, jika kecil kadarnya jika disebut
keajaiban. Aku yakin ini berkat doa orang tuaku. Ya, *aba' *benar, doa orang
tua mustajab. Ibuku orang yang rajin bangun malam untuk *qiyamul lail* dan
kemudian pagi-pagi membuat kue untuk dititipkan di warung-warung di dekat
rumah, membantu penghasilan *aba'* yang pas-pasan sebagai montir mobil
panggilan selain pendapatan bulanan dari rumah kontrakan petakan kelas bawah
yang tak seberapa.

Pada 1997, ibu wafat karena kerusakan ginjal. Tepat ketika aku menginjak
tahun pertama perkuliahan. Tinggallah *aba'* sebagai orangtuaku
satu-satunya. Sempat aku mengalami depresi berat hingga kuliahku berantakan.
Tahun-tahun berlalu selepas kuliah, hingga setelah beberapa kali
keluar-masuk berbagai pekerjaan, aku memilih jadi penerjemah *full-time* di
rumah. Beberapa tahun sebelumnya setelah kematian ibu hubunganku dengan *
aba'* agak renggang. Kata orang tabiat kami sama-sama keras kepala. Tapi
ketika aku memilih bekerja SOHO (*Small Office Home Office*) selepas bekerja
di sebuah *production house* besar, alhamdulilah, hubungan kami mulai
membaik. Frekuensi pertengkaran agak berkurang. Aku jadi lebih dapat
memahami *aba'*. Aku jadi lebih memahami betapa aku salah menafsirkan sikap
keras *aba'* yang dulu kurasakan sangat mengekang sehingga aku sering
berontak adalah bentuk kasih sayangnya yang memang terkesan *over-protective
*. Namun, itulah orang tua yang masing-masing punya ciri-khas mendidik
anaknya.

Kenangan mengenai *aba' *berawal ketika suatu kali aku *kemaruk* mengambil
order terjemahan. Sebagai penerjemah, aku tidak berpayung badan perusahaan.
Klien-klienku sebagian besar adalah biro-biro penerjemahan yang
mensubkontrakkan pekerjaannya kepadaku dengan honor terjemahan sekitar Rp
6.000 sampai Rp 10.000 per halaman hasil.

"Mas, ada kerjaan (terjemahan) Inggris-Indonesia, kontrak bisnis, untuk
Selasa bisa nggak?" tanya klienku. Waktu itu hari Jumat.

"Berapa halaman?'

"Banyak nih, 100 halaman. Sanggup tidak? Atau di-*split *aja?"

Wah, lumayan nih, pikirku. "Oke, Mas, sanggup. Saya ambil semuanya."

"Oke, nanti kurir saya antar dokumennya ke rumah. Benar ya, Mas, Selasa.
Jangan sampai telat. Kalau tidak, kami kena *penalty* dari klien."

Aku mengiyakan. Entahlah, aku lupa, sudah mengucapkan Insya Allah atau tidak
saat itu. Yang jelas, ini order kakap. Itu yang ada dalam pikiranku.

Tak lama masuk satu orderan lagi dari bahasa Inggris untuk diterjemahkan ke
bahasa Indonesia, sekitar 30 halaman spasi rapat, untuk hari Rabu. Aku
sanggupi pula. Dalam hitung-hitunganku, 30 halaman spasi rapat itu berarti
sekitar 90 halaman hasil. Kalikan saja dengan Rp 7.000, lumayan kan?

Eh, *'ndilalah*, ada lagi order terjemahan ekspres untuk keesokan harinya 10
halaman. Ini berarti *double price*, honornya bisa Rp 14.000 sampai Rp.
20.000 per halaman hasil. Juga aku ambil. Saat itu aku tidak ada niatan
untuk mengoper sebagian orderan itu ke penerjemah lain. Yang lebih aku
pikirkan banyaknya uang yang bakal aku dapat sendirian. Sebab jika dibagi
dengan penerjemah lain otomatis pendapatanku berkurang. Bayang-bayang
penghasilan sekitar Rp 2,5 juta dalam waktu kurang dari sepekan lebih
menggiurkan saat itu.

Alhasil keserakahanku menyeretku dalam perjibakuan dari Jumat sampai Selasa
dengan ketiga order terjemahan dengan total halaman hasil sekitar 300
halaman lebih. Padahal kemampuanku menerjemahkan dokumen adalah 30 halaman
spasi dua dalam sehari. Ketika tenggat berjatuhan, mulailah bencana itu. Dua
orderan memang terkejar tuntas pada waktunya meski di ujung-ujung *injury
time*. Namun justru orderan pertama sebanyak 100 halaman tak tertanggulangi.
Aku gagal menyelesaikannya tepat waktu. Selisihnya pun jauh, masih separuh
halaman lagi. Aku minta maaf pada pemilik biro tersebut yang habis-habisan
memakiku.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban, aku gratiskan klienku tersebut untuk tak
perlu membayar jumlah halaman yang sudah aku kerjakan. Ini musibah betul
buatku. Klien itu termasuk klien yang rajin menyuplai order kepadaku, dan
hubungan bisnis kami sudah terbina hampir separuh perjalananku bekerja SOHO.
Aku pun sudah berpikir ia akan memasukkanku dalam daftar hitam penerjemah.
Alamat sepi order.

Memang setelah itu entah bagaimana order sepi. Bahkan dalam dua minggu aku
hanya dapat order terjemahan dokumen 20 halaman. Untungnya aku hobi menulis
sehingga dapat mengisi waktu yang lowong dengan menulis. Namun hikmahnya
adalah dalam waktu sekitar tiga pekan kosong tanpa order terjemahan aku
punya banyak waktu luang untuk menemani *aba'* ngobrol di ruang depan.
Bekerja SOHO tidak serta-merta menjamin kita bisa dekat dengan keluarga atau
orang-orang yang kita sayangi. Terlebih jika Anda orang yang
*workaholic*dan tidak mempekerjakan orang lain untuk membantu
pekerjaan Anda.

Aku pun jadi tahu ada tagihan Pajak Bumi Bangunan (PBB) yang belum dibayar *
aba'*. Aku tahu itu setelah aku menangkap gelagat aneh saat beliau tampak
tercenung di suatu siang sambil mengisap rokok dalam-dalam. Dalam hitungan *
aba'*, sangat riskan untuk menggunakan uang hasil kontrakan rumah hanya
untuk membayar uang PBB sebesar Rp 2,8 juta setahun. Tiap tahun tagihan PBB
memang terus membubung tinggi. Aku pun menyanggupi menyumbangkan Rp 1,2
juta. Agak nekat, karena saat itu tabunganku sedang menipis. Tapi aku pikir
biarlah, toh kapan-kapan aku bisa pinjam dari *aba'* jika ada keperluan
mendesak atau *kepepet *membeli sesuatu. Aku pikir ini *shodaqoh *kepada
orang tua.

Kakakku nomor dua menyanggupi menambahi Rp 500 ribu. Jadi *aba'* cukup perlu
mengeluarkan Rp. 1,1 juta. Jumlah sebesar itu dalam hitunganku tidak
mengganggu *cash-flow* bisnis kontrakan rumah petakan yang kami punyai. *
Aba'* awalnya menolak, namun akhirnya bersedia menerima dan sangat berterima
kasih. "*Aba'* doain biar rejeki lo lancar, ngalir." Aku mengaminkan. Meski
aku tak pernah cerita soal sepinya order terjemahan mungkin beliau tahu
kegundahanku, puteranya yang memilih kerja SOHO di rumah. Kami di rumah
memang tinggal berempat: *aba'*, aku, kakak perempuanku dan satu orang
adikku laki-laki.

Selang dua hari kemudian datang kurir dari biro klien yang aku kira sudah
memasukkanku dalam daftar hitamnya. Ada kerjaan yang tenggatnya seminggu.
Total honor Rp. 300.000. Lumayanlah, yang penting aku masih mendapat
kepercayaan. Itu hal yang mahal dalam bisnis. Berturut-turut masuk order
terjemahan lain dari biro-biro rekananku yang lain. Total omzetku sepekan
itu Rp. 2 juta lebih. Barangkali ini berkah lain dari bakti pada orang tua.
Benar kata salah satu hadits Rasulullah SAW, orang tua adalah keramat kita.
Hal yang keramat tentu akan membawa berkah jika kita taat dan membawa laknat
jika kita tidak hormat.

Kini kedua keramatku telah sirna. *Aba'*, Abdul Rahman bin Hasan, wafat lima
belas hari menjelang Ramadhan 1427 Hijriah setelah sakit panas satu hari.
Ah, jika mengingat kedua orang tua yang telah tiada ingin aku meminta kepada
Allah agar waktu-waktu semasa keduanya masih ada dikembalikan lagi, dan aku
akan berbakti kepada mereka setaat-taatnya. Sepenuh waktu, sepenuh hati.
Semasa mereka hidup, aku melupakan sayap-sayap kecil keberkahan dari mereka
yang sebenarnya telah menerbangkanku tinggi. Kini aku hanya bisa panjatkan
doa untuk *aba'* dan ibu di ujung sholat. Agar Allah terangi kubur keduanya
dan pertemukan keduanya di surga-Nya.

* *

*Nikmat adalah nikmat tatkala tiada, saat di genggaman ia hanyalah kewajaran
yang lazim ada*.

* *

--
-"When there's a will there's a way"
Nursalam AR
Translator & Writer
0813-10040723
021-91477730
http://nursalam.multiply.com
YM ID: nursalam_ar
4b.

Re: [esai] Sayap-Sayap Kecil Keberkahan

Posted by: "Diaz Rossano" dizzman@yahoo.com   Dizzman

Sun Jun 8, 2008 7:14 am (PDT)

bang salam, koq gak jadi dokter sih? atau PNS? paling tidak kan bisa jadi Kepala Puskesmas? he3x....
tapi memang, doa ortu, terutama ibu, memang paling manjur. saya sendiri merasakan bagaimana hebatnya doa ibu: tiga kali lulus UMPTN, pernah di UI, kuliah ampe selesai di Bandung, dan juga pernah ngerasain kuliah di tetangganya PTN itu. padahal ranking di kelas dulu juga pas2an.
trus juga ketika lagi tes CPNS, kebetulan pas sakit tipus, sampai dipapah menuju ruang tes, Alhamdulillah, berkat doa ibu juga, lulus dan diterima di Pemda Jabar. sekarang pindah ke Menpera dan promosi di sana, juga berkat doa ibu juga. mudah2an doa ibu yg satu lagi kesampaian, jadi 'pemimpin' masa datang, yang bisa mengubah wajah negeri ini, amiiiin.....

tetap semangat mas, Insya Alloh rezeki gak akan tertukar, pas butuh pas ada, he3x......

wassalam,

Diaz

 
Namun ibu tak setuju dengan pilihanku itu. "Pilih aje di Jakarta, biar gak jauh-jauh." Memang jika aku pilih Unpad otomatis aku harus indekost di Bandung, jauh dari ibu. Dengan setengah hati, berusaha mengikhlaskan diri, aku pilih jurusan IPA di Universitas Indonesia (UI) yang tak jauh beda dengan F-Psi Unpad, tak terlalu eksakta tapi masih termasuk jurusan IPA: Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).
 
Aku sendiri dalam formulir pendaftaran UMPTN memilih IPC, program campuran dengan dua pilihan fakultas non-eksakta yakni Sastra Inggris di pilihan pertama dan Sastra Indonesia di pilihan ketiga. FKM di pilihan kedua. Itu pun karena pertimbangan strategi dengan asumsi seburuk-buruknya aku masih dapat tembus di Sastra Indonesia UI yang tingkat persaingannya lebih rendah daripada di FKM. Faktor lain, karena almarhum abang sulungku alumnus FS-UI jurusan Sastra Indonesia. Aku menikmati membaca buku-buku kuliahnya yang tebal. Tak lupa pertimbangan terutama adalah biaya kuliah di UI yang saat itu relatif lebih murah dibandingkan dengan perguruan tinggi swasta.
 
Saat pengumuman UMPTN pun tiba. Pagi itu, 27 Juli 1996, aku mendapati namaku dengan suatu kode nomor pendaftaran tertera di lembaran koran. Saat itu pukul 08.00. Aku luarbiasa gembira. Tapi aku tidak tahu di fakultas mana aku diterima. Aku lebih hafal kode jurusan Sastra Inggris atau Sastra Indonesia. Sejenak aku terkaget ketika mencocokkan kode fakultas yang tertera dengan buku panduan UMPTN, dan mendapati aku diterima di FKM-UI. Memangnya aku pernah memilih FKM-UI sebagai pilihan? Batinku sempat berbisik demikian. Ya, aku sendiri sudah pesimis untuk dapat menembusnya karena konon tingkat persaingannya termasuk papan tengah.
 
Aku bersujud syukur dan mencium tangan kedua orang tuaku. Mereka tampak senang. Mata ibu berkaca-kaca. Ya, pilihan yang tepat, Bunda. Terima kasih, Bunda, jika aku abaikan kemauanmu bisa jadi takdir Alah berbicara lain: aku mungkin tidak lolos UMPTN dan mengendap di rumah sebagai pengangguran. Sedari awal aba' dan ibu wanti-wanti bahwa mereka tak mungkin mengkuliahkanku di perguruan tinggi swasta karena biaya yang mahal.
 
Teman-temanku terkaget-kaget ketika mengetahui aku diterima di UI. Siapalah aku yang sering bolos demi kegiatan rohis, dan rangkingnya pun jauh di luar 10 besar? Aku hanya suka membaca. Itu saja. Dan di antara siswa yang biasa menduduki rangking 10 besar di kelasku, tak satu pun yang lolos UMPTN.
 
Yah, inilah berkah yang aku rasakan, jika kecil kadarnya jika disebut keajaiban. Aku yakin ini berkat doa orang tuaku. Ya, aba' benar, doa orang tua mustajab. Ibuku orang yang rajin bangun malam untuk qiyamul lail dan kemudian pagi-pagi membuat kue untuk dititipkan di warung-warung di dekat rumah, membantu penghasilan aba' yang pas-pasan sebagai montir mobil panggilan selain pendapatan bulanan dari rumah kontrakan petakan kelas bawah yang tak seberapa.
 
 

--
-"When there's a will there's a way"
Nursalam AR
Translator & Writer
0813-10040723
021-91477730
http://nursalam. multiply. com
YM ID: nursalam_ar
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages | Calendar

5a.

[esai] Lajang Betawi Mencari Cinta

Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com

Sun Jun 8, 2008 5:45 am (PDT)

Lajang Betawi Mencari Cinta

*Oleh Nursalam AR*

*Malam merayap siput. Hujan menderap*

*Sepi meranggas hati. Dingin mendekap naluri*

*Mata susah pejam, angan layang liar*

*Kuraba sisi kasur. Kosong*

*Kapankah ia berpenghuni?*

*Hanya Takdir yang tahu*

*Sebagaimana pengetahuanNya akan rizki dan mati.*

(*Elegi Lajang*, 2002)

Puisi itulah yang menemani malam-malamku sebagai lajang. Setidaknya sampai
setahun lalu. Kini saat setidaknya ada sebuah titik cerah ketika seorang
gadis bersedia berkomitmen mendampingi hidupku, apakah puisi itu akan mati
riwayatnya? Ternyata tidak selancar dugaanku.

Beberapa bulan lalu. Jam delapan lewat dua puluh satu menit. Malam.

"Ada pesan dari Mama," ujar gadis manis berjilbab dengan senyum lucu itu.

Aku berdebar. Benakku sibuk menerka kira-kira apa pesan sang Mama setelah
kunjunganku malam itu. Ia seorang janda awal lima puluh tahunan yang
suaminya wafat hanya berselang dua jam setelah ayahku wafat pada 8 September
2006. Entahlah apakah itu suatu kebetulan yang merupakan pertanda antara aku
dan putrinya.

"Apa kata Mama?" sambutku setelah menghela nafas, menguasai diri yang
mendadak gugup.

"Tapi jangan marah ya.."

Hm…apalagi nih? Benakku kian sibuk menerka. Ribuan kombinasi probabilitas
berseliweran hadir dengan cara permutasi atau mutasi. Rasanya otakku jadi
penuh.

"Halo?!"

Ufs! Aku lupa aku sedang bercakap di telepon. Jadi tak mungkin dia
mengetahui gundahku hanya melalui mimik wajah.

"Ya, nggak marah kok. Cerita aja," tukasku sok mantap. Padahal deg-degan.

"Bener ya nggak marah?" Suara lembut itu kembali bertanya. Duh, bikin
penasaran aja!

"Iya, kagak…" *Tuh*, keluar *deh *logat Betawiku!

Tawa kecil di seberang meledak. Kemudian hening. Satu..dua…tiga…Diam-diam
hatiku menghitung kapan bom itu meledak.

Si gadis bercerita perihal diskusi keluarganya setelah kunjunganku malam
itu. Aku terperangah. Benar, itu bom! Setidaknya demikian yang kurasa.
Terkejut, paling tidak karena efek Doffler ledakannya.

"Salam kan orang Betawi? Kamu sudah yakin?"

"Emang kenapa?"

"Orang Betawi kan tukang kawin. Sukses dikit udah kawin lagi. Liat aja teman
kakak!"

"Kan nggak semua. Tiap orang beda."

"Itu sekarang waktu dia belum mapan. Coba aja kalo sudah lebih kaya!"

"Sudah-sudah, nanti Mama titip tanya buat Salam apa dia mau poligami nggak.
Disampaikan ya!"

Hening.

"Bang, kok diam? Marah ya?" Suara lembut itu terdengar khawatir.

"Nggak. Cuma rada kaget aja."

Aku tersadar mendengar tuturannya soal diskusi seru keluarganya tentang aku.
Aku siuman setelah terkena bom itu. Ya, bom stereotipe!

Aku memang berayah-ibu Betawi asli dan tinggal pun *sejek bujeg* di Jakarta.
Sementara si Gadis beribukan asli Lampung dan ayah berdarah Palembang
blasteran Cina. Konon dari garis ibunya ada darah Banjarmasin dan Padang.
Sangat Indonesia bukan? Wajar jika muncul stereotipe atau pandangan miring
mengenai hubungan kami. Jangankan dengan orang yang sama sekali berbeda suku
atau etnis. Dengan seseorang yang punya darah suku yang sama saja muncul
stereotipe yang sama. Ia gadis Betawi campuran Sunda. Bisa dikatakan ialah
cinta pertamaku. Namun cinta itu kandas tak berakhir mulus. Ibunya menolak
lamaranku dengan alasan "belum mapan" dan stereotipe yang melekat pada orang
Betawi: "pemalas" dan "tukang kawin". Duh!

Ikhtiarku tak berhenti begitu saja. Ketika ikut sebuah pengajian,
melalui *murobbi
*alias guru ngaji, aku mengajukan "proposal" untuk seorang *akhwat* teman
seangkatanku semasa kuliah. Fisiknya biasa saja namun aku kagumi semangat
dakwah dan komitmennya dalam beramal. Namun, setelah menunggu jawaban nyaris
dua bulan lamanya, ia menolakku—melalui jawaban lisan dari sang
*murobbiyah*—karena
dianggap "kurang sholeh". Ah, nasib!

"*'Afwan *ya, Lam. Sebetulnya si *akhwat* udah mau. Dia kan seangkatan *
antum*. Jadi tahu kiprah *antum* di organisasi kampus. Tapi setelah dilacak
ternyata *antum* pernah pacaran ya? Nah, itu poin yang memberatkan. Jadi,
atas rekomendasi murobbiyahnya, *antum* ditolak." Itu jawaban sang
*akhwat*melalui lisan murobbiku. Saat itu guruku berusaha menyampaikan
dengan
hati-hati dan empati. Namun apa pun bentuk penyampaiannya, hatiku terlanjur
luluh-lantak.Ya Allah, rasanya aku punya stempel dosa di dahi yang tak
terhapus. Kisah pertemuan dengan 'cinta pertama' yang sudah beberapa tahun
lewat jadi bayang-bayang yang menghambat perjodohanku. Dua *ta'aruf *berikutnya
juga bernasib sama. Bahkan tanpa alasan yang jelas. Ya, sudahlah!

Hingga akhirnya aku berkenalan dengan Gadis. Awalnya kami sahabat pena
selama lima tahun. Tanpa ada tendensi apa-apa. Aku mengenalnya melalui
rubrik sahabat pena di sebuah majalah Islam. Karena hobinya membaca, aku
sering kirimi ia tulisan-tulisanku. Dan ia seorang kritikus yang baik. Kami
mendiskusikannya via telepon dan email. Awalnya tidak ada rasa apa-apa.
Hanya saja ia memang teman diskusi yang enak.

"Lam, carikan aku calon istri dong!" pinta seorang kawan. Ia teman SMA-ku
dulu. Saat itu kami juga terikat hubungan bisnis.

"Kamu serius?"

Ia mengangguk.

Aku terdiam sejenak. Sebagai penerjemah yang hobi menulis, banyak kenalanku
baik pria maupun wanita. Namun kira-kira adakah yang cocok dengan selera
sobatku ini?

"Maunya seperti apa?"

Ia pun menuturkan standar gadis yang diinginkannya. Hm…cukup ideal memang.
Tapi, *bismillah*, aku coba.

"Oh ya, coba aja kalian kenalan dulu," ujarku setelah mengusulkan nama
Gadis. "Orangnya baik dan enak diajak ngobrol."

"Cantik tidak?"

Deg. Aku tertegun. Cantik? Aku tak pernah mempermasalahkan itu sebelumnya.
Aku hanya mengetahuinya dari sebuah foto ukuran 2 x 3 di sebuah majalah. Itu
pun tak begitu jelas. Tapi apakah penting?

"Ya, penting dong, Lam," tukas sang kawan ngotot. "Itu syarat penting tuh
buat cowok!"

Aku terdiam lagi. "Coba ketemuan aja dulu. Kayaknya cantik kok. Suaranya aja
merdu." Ia mengangguk. Dengan garansi dariku ia mau menghubungi Gadis. Aku
sudah bertindak sebagai mak comblang yang baik.

Sebulan berlalu. Aku menunggu kabar dari sang kawan. Namun tak juga ada
kabar darinya. Lantas sebagai mak comblang aku meneleponnya untuk memastikan
keseriusan niatnya. Karena sebagai perempuan, Gadis hanya bisa menunggu *to*
?

"Gimana? Sudah ketemuan kan? Cocok tidak?"

Ia menghela nafas. "Seminggu pertama ngobrol via telepon sih cocok banget.
Wawasannya luas dan humoris. Terus janji ketemuan. Sayang orangnya tidak
cantik."

Ah, cantik itu memang relatif. Di abad pertengahan, perempuan berbadan gemuk
dianggap cantik namun kini justru seakan jadi gambaran momok yang mengerikan
bagi perempuan. Perempuan kini ingin langsing seperti gambaran model artis
dan selebritis yang dicitrakan media massa. Sudah langsing pun belum tentu
jaminan dianggap cantik. Ada syarat lagi untuk wajah: berkulit putih mulus,
tanpa jerawat dll.

Karena penasaran, untuk pertama kalinya, aku meminta waktu bertemu dengan
Gadis. Aku ingin tahu seperti apa si Gadis sehingga kawanku menolaknya
karena alasan tidak cantik. Dan memang benar cantik itu relatif. Atau
mungkin karena aku tidak terlalu mempermasalahkan soal fisik? Benar juga
seperti kata artis Syahnaz Haque bahwa orang yang tidak mempermasalahkan
soal fisik akan bertemu orang yang berpandangan sama. Pertemuan pertama itu
berlanjut dengan pertemuan berikutnya hingga pertemuan penting pada malam
tersebut. Meski awalnya ada keraguan dari ibunya soal status pekerjaanku
yang bukan orang kantoran dan soal stereotipe etnis, kami meniatkan 'segala
sesuatu akan indah pada waktunya'. *Bismillah*. Kami pun sedang menghitung
hari.

Ya Allah, mudahkanlah urusan kami!

*Jakarta**, Maret 2007*

*ps: ditulis jelang pernikahan di penghujung 2007. Dikenang kembali saat si
Gadis mengandung buah cinta yang pertama. Mohon doa ya, Sahabat:)*****

--
-"When there's a will there's a way"
Nursalam AR
Translator & Writer
0813-10040723
021-91477730
http://nursalam.multiply.com
YM ID: nursalam_ar
5b.

Re: [esai] Lajang Betawi Mencari Cinta

Posted by: "dyah zakiati" adzdzaki@yahoo.com   adzdzaki

Sun Jun 8, 2008 6:43 am (PDT)

Suara merdu/lembut belum tentu ada hubungan dengan kecantikan lhooo:D Percayalah.

----- Original Message ----
From: Nursalam AR <nursalam.ar@gmail.com>

Lajang Betawi Mencari Cinta
Oleh Nursalam AR

Malam
merayap siput. Hujan menderap
Sepi
meranggas hati. Dingin mendekap naluri
Mata
susah pejam, angan layang liar
Kuraba
sisi kasur. Kosong
Kapankah
ia berpenghuni?
Hanya
Takdir yang tahu
Sebagaimana
pengetahuanNya akan rizki dan mati.
(Elegi
Lajang, 2002)

Aku terdiam lagi. "Coba ketemuan aja dulu.
Kayaknya cantik kok. Suaranya aja merdu." Ia mengangguk. Dengan garansi dariku
ia mau menghubungi Gadis. Aku sudah bertindak sebagai mak comblang yang baik.
,___

5c.

Re: [esai] Lajang Betawi Mencari Cinta

Posted by: "Nia Robiatun Jumiah" musimbunga@gmail.com

Sun Jun 8, 2008 7:11 am (PDT)

kirain mau cerita tentang bang Fiyan..hi..hi..
piss..
mmm... banyak hal yang menarik
1.
*'Afwan *ya, Lam. Sebetulnya si *akhwat* udah mau. Dia kan seangkatan *antum
*. Jadi tahu kiprah *antum* di organisasi kampus. Tapi setelah dilacak
ternyata *antum* pernah pacaran ya? Nah, itu poin yang memberatkan. Jadi,
atas rekomendasi murobbiyahnya, *antum* ditolak."
hmmm miris... kalo kayak gitu, gak akan pernah ada yang namanya perubahan
ya? kondisi yang kerap aku temui juga didunia nyata.. tapi aku yakin gak
semuanya orang berfikiran seperti itu... semenjak baca Libby-nya Langit
Kresna Hariadi dan Fatimah Chen2-nya Motinggo Busye, ternyata yang masa
lalunya sangat amat kelam bisa lebih baik dari orang yang mengerti agama...
hmm... perubahan itu butuh waktu.. dan kesejatian perubahan adalah perubahan
yang bersumber dan berdasar kepada Yang Maha Sejati.
2. cantik itu relatif?
ember... emang bener banget
ada yang gak suka dan menyarankan aku yang notabene emang ndut bertahun2
untuk melangsingkan badan
tapi ada juga yang seneng kalo aku ndut... lebih chubby mungkin
tapi dari itu semua, aku berusaha untuk bersumber karena masalah kesehatan
gak bisa disepelekan, jadi kalo udah mulai sesak nafas.. hmm.. itu
menunjukkan aku harus olahraga dan diet sedikit :D
dan satu lagi aku belajar dari kegemukan bahwa..
mungkin ketika aku langsing, ber-body aduhai, proporsional de-es-be aku
terlalu sombong dengan itu semua.. dan jauh dari kewajiban menutup aurat..
mungkin saja...
3.
betawi poligamian?
babeh aku gak kayaknya..
sunda sih cuma lama di jakarta, masih setia tuh sama ibu aku...
hi..hi...
atas dasar apa dulu kali ya berpoligami... dan emang poliganmi itu harus
bener2 difikirkan, sebelum ketahap itu... (sindrom abis baca fatimah chen2)
bahkan ada yang iseng nanya yang intinya "kalo sebelum menikah calon suami
kamu berkeinginan menikah lagi pada usia 35 tahun, apakah kamu bisa
menerimanya?"
dan aku terbengong-bengong... pertanyaan yang sulit
-sekedar sharing-
hmm... salam buat cik Yuni...
salam buat calon dede bayi...
tante nia dah gak sabar:)

2008/6/8 Nursalam AR <nursalam.ar@gmail.com>:

> Lajang Betawi Mencari Cinta
>
> *Oleh Nursalam AR*
>
>
>
> "
> .
>
>
>
5d.

Re: [esai] Lajang Betawi Mencari Cinta

Posted by: "novi_ningsih" novi_ningsih@yahoo.com   novi_ningsih

Sun Jun 8, 2008 7:46 am (PDT)

Tulisan mas nursalam selalu segar ya.
buah kali :D

ya, jodoh emang misteri :D
hueheheheh, nopi sotoy :D

btw, mba yuny cantik, lho... asli....

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "Nursalam AR"
<nursalam.ar@...> wrote:
>
> Lajang Betawi Mencari Cinta
>
> *Oleh Nursalam AR*
>
>
>
> *Malam merayap siput. Hujan menderap*
>
> *Sepi meranggas hati. Dingin mendekap naluri*
>
> *Mata susah pejam, angan layang liar*
>
> *Kuraba sisi kasur. Kosong*
>
> *Kapankah ia berpenghuni?*
>
> *Hanya Takdir yang tahu*
>
> *Sebagaimana pengetahuanNya akan rizki dan mati.*
>
> (*Elegi Lajang*, 2002)
>
>
>
> Puisi itulah yang menemani malam-malamku sebagai lajang. Setidaknya
sampai
> setahun lalu. Kini saat setidaknya ada sebuah titik cerah ketika seorang
> gadis bersedia berkomitmen mendampingi hidupku, apakah puisi itu
akan mati
> riwayatnya? Ternyata tidak selancar dugaanku.
>
>
>
> Beberapa bulan lalu. Jam delapan lewat dua puluh satu menit. Malam.
>
>
>
> "Ada pesan dari Mama," ujar gadis manis berjilbab dengan senyum lucu
itu.
>
>
>
> Aku berdebar. Benakku sibuk menerka kira-kira apa pesan sang Mama
setelah
> kunjunganku malam itu. Ia seorang janda awal lima puluh tahunan yang
> suaminya wafat hanya berselang dua jam setelah ayahku wafat pada 8
September
> 2006. Entahlah apakah itu suatu kebetulan yang merupakan pertanda
antara aku
> dan putrinya.
>
>
>
> "Apa kata Mama?" sambutku setelah menghela nafas, menguasai diri yang
> mendadak gugup.
>
>
>
> "Tapi jangan marah ya.."
>
>
>
> Hm…apalagi nih? Benakku kian sibuk menerka. Ribuan kombinasi
probabilitas
> berseliweran hadir dengan cara permutasi atau mutasi. Rasanya otakku
jadi
> penuh.
>
>
>
> "Halo?!"
>
>
>
> Ufs! Aku lupa aku sedang bercakap di telepon. Jadi tak mungkin dia
> mengetahui gundahku hanya melalui mimik wajah.
>
>
>
> "Ya, nggak marah kok. Cerita aja," tukasku sok mantap. Padahal
deg-degan.
>
>
>
> "Bener ya nggak marah?" Suara lembut itu kembali bertanya. Duh, bikin
> penasaran aja!
>
>
>
> "Iya, kagak…" *Tuh*, keluar *deh *logat Betawiku!
>
>
>
> Tawa kecil di seberang meledak. Kemudian hening.
Satu..dua…tiga…Diam-diam
> hatiku menghitung kapan bom itu meledak.
>
>
>
> Si gadis bercerita perihal diskusi keluarganya setelah kunjunganku malam
> itu. Aku terperangah. Benar, itu bom! Setidaknya demikian yang kurasa.
> Terkejut, paling tidak karena efek Doffler ledakannya.
>
>
>
> "Salam kan orang Betawi? Kamu sudah yakin?"
>
>
>
> "Emang kenapa?"
>
>
>
> "Orang Betawi kan tukang kawin. Sukses dikit udah kawin lagi. Liat
aja teman
> kakak!"
>
>
>
> "Kan nggak semua. Tiap orang beda."
>
>
>
> "Itu sekarang waktu dia belum mapan. Coba aja kalo sudah lebih kaya!"
>
>
>
> "Sudah-sudah, nanti Mama titip tanya buat Salam apa dia mau poligami
nggak.
> Disampaikan ya!"
>
>
>
> Hening.
>
>
>
> "Bang, kok diam? Marah ya?" Suara lembut itu terdengar khawatir.
>
>
>
> "Nggak. Cuma rada kaget aja."
>
>
>
> Aku tersadar mendengar tuturannya soal diskusi seru keluarganya
tentang aku.
> Aku siuman setelah terkena bom itu. Ya, bom stereotipe!
>
>
>
> Aku memang berayah-ibu Betawi asli dan tinggal pun *sejek bujeg* di
Jakarta.
> Sementara si Gadis beribukan asli Lampung dan ayah berdarah Palembang
> blasteran Cina. Konon dari garis ibunya ada darah Banjarmasin dan
Padang.
> Sangat Indonesia bukan? Wajar jika muncul stereotipe atau pandangan
miring
> mengenai hubungan kami. Jangankan dengan orang yang sama sekali
berbeda suku
> atau etnis. Dengan seseorang yang punya darah suku yang sama saja muncul
> stereotipe yang sama. Ia gadis Betawi campuran Sunda. Bisa dikatakan
ialah
> cinta pertamaku. Namun cinta itu kandas tak berakhir mulus. Ibunya
menolak
> lamaranku dengan alasan "belum mapan" dan stereotipe yang melekat
pada orang
> Betawi: "pemalas" dan "tukang kawin". Duh!
>
>
>
> Ikhtiarku tak berhenti begitu saja. Ketika ikut sebuah pengajian,
> melalui *murobbi
> *alias guru ngaji, aku mengajukan "proposal" untuk seorang *akhwat*
teman
> seangkatanku semasa kuliah. Fisiknya biasa saja namun aku kagumi
semangat
> dakwah dan komitmennya dalam beramal. Namun, setelah menunggu
jawaban nyaris
> dua bulan lamanya, ia menolakku—melalui jawaban lisan dari sang
> *murobbiyah*—karena
> dianggap "kurang sholeh". Ah, nasib!
>
>
>
> "*'Afwan *ya, Lam. Sebetulnya si *akhwat* udah mau. Dia kan seangkatan *
> antum*. Jadi tahu kiprah *antum* di organisasi kampus. Tapi setelah
dilacak
> ternyata *antum* pernah pacaran ya? Nah, itu poin yang memberatkan.
Jadi,
> atas rekomendasi murobbiyahnya, *antum* ditolak." Itu jawaban sang
> *akhwat*melalui lisan murobbiku. Saat itu guruku berusaha menyampaikan
> dengan
> hati-hati dan empati. Namun apa pun bentuk penyampaiannya, hatiku
terlanjur
> luluh-lantak.Ya Allah, rasanya aku punya stempel dosa di dahi yang tak
> terhapus. Kisah pertemuan dengan 'cinta pertama' yang sudah beberapa
tahun
> lewat jadi bayang-bayang yang menghambat perjodohanku. Dua *ta'aruf
*berikutnya
> juga bernasib sama. Bahkan tanpa alasan yang jelas. Ya, sudahlah!
>
>
>
> Hingga akhirnya aku berkenalan dengan Gadis. Awalnya kami sahabat pena
> selama lima tahun. Tanpa ada tendensi apa-apa. Aku mengenalnya melalui
> rubrik sahabat pena di sebuah majalah Islam. Karena hobinya membaca, aku
> sering kirimi ia tulisan-tulisanku. Dan ia seorang kritikus yang
baik. Kami
> mendiskusikannya via telepon dan email. Awalnya tidak ada rasa apa-apa.
> Hanya saja ia memang teman diskusi yang enak.
>
>
>
> "Lam, carikan aku calon istri dong!" pinta seorang kawan. Ia teman
SMA-ku
> dulu. Saat itu kami juga terikat hubungan bisnis.
>
>
>
> "Kamu serius?"
>
>
>
> Ia mengangguk.
>
>
>
> Aku terdiam sejenak. Sebagai penerjemah yang hobi menulis, banyak
kenalanku
> baik pria maupun wanita. Namun kira-kira adakah yang cocok dengan selera
> sobatku ini?
>
>
>
> "Maunya seperti apa?"
>
>
>
> Ia pun menuturkan standar gadis yang diinginkannya. Hm…cukup ideal
memang.
> Tapi, *bismillah*, aku coba.
>
>
>
> "Oh ya, coba aja kalian kenalan dulu," ujarku setelah mengusulkan nama
> Gadis. "Orangnya baik dan enak diajak ngobrol."
>
>
>
> "Cantik tidak?"
>
>
>
> Deg. Aku tertegun. Cantik? Aku tak pernah mempermasalahkan itu
sebelumnya.
> Aku hanya mengetahuinya dari sebuah foto ukuran 2 x 3 di sebuah
majalah. Itu
> pun tak begitu jelas. Tapi apakah penting?
>
>
>
> "Ya, penting dong, Lam," tukas sang kawan ngotot. "Itu syarat
penting tuh
> buat cowok!"
>
>
>
> Aku terdiam lagi. "Coba ketemuan aja dulu. Kayaknya cantik kok.
Suaranya aja
> merdu." Ia mengangguk. Dengan garansi dariku ia mau menghubungi
Gadis. Aku
> sudah bertindak sebagai mak comblang yang baik.
>
>
>
> Sebulan berlalu. Aku menunggu kabar dari sang kawan. Namun tak juga ada
> kabar darinya. Lantas sebagai mak comblang aku meneleponnya untuk
memastikan
> keseriusan niatnya. Karena sebagai perempuan, Gadis hanya bisa
menunggu *to*
> ?
>
>
>
> "Gimana? Sudah ketemuan kan? Cocok tidak?"
>
>
>
> Ia menghela nafas. "Seminggu pertama ngobrol via telepon sih cocok
banget.
> Wawasannya luas dan humoris. Terus janji ketemuan. Sayang orangnya tidak
> cantik."
>
>
>
> Ah, cantik itu memang relatif. Di abad pertengahan, perempuan
berbadan gemuk
> dianggap cantik namun kini justru seakan jadi gambaran momok yang
mengerikan
> bagi perempuan. Perempuan kini ingin langsing seperti gambaran model
artis
> dan selebritis yang dicitrakan media massa. Sudah langsing pun belum
tentu
> jaminan dianggap cantik. Ada syarat lagi untuk wajah: berkulit putih
mulus,
> tanpa jerawat dll.
>
>
>
> Karena penasaran, untuk pertama kalinya, aku meminta waktu bertemu
dengan
> Gadis. Aku ingin tahu seperti apa si Gadis sehingga kawanku menolaknya
> karena alasan tidak cantik. Dan memang benar cantik itu relatif. Atau
> mungkin karena aku tidak terlalu mempermasalahkan soal fisik? Benar juga
> seperti kata artis Syahnaz Haque bahwa orang yang tidak mempermasalahkan
> soal fisik akan bertemu orang yang berpandangan sama. Pertemuan
pertama itu
> berlanjut dengan pertemuan berikutnya hingga pertemuan penting pada
malam
> tersebut. Meski awalnya ada keraguan dari ibunya soal status pekerjaanku
> yang bukan orang kantoran dan soal stereotipe etnis, kami meniatkan
'segala
> sesuatu akan indah pada waktunya'. *Bismillah*. Kami pun sedang
menghitung
> hari.
>
>
>
> Ya Allah, mudahkanlah urusan kami!
>
> *Jakarta**, Maret 2007*
>
>
>
> *ps: ditulis jelang pernikahan di penghujung 2007. Dikenang kembali
saat si
> Gadis mengandung buah cinta yang pertama. Mohon doa ya, Sahabat:)*****
>
>
> --
> -"When there's a will there's a way"
> Nursalam AR
> Translator & Writer
> 0813-10040723
> 021-91477730
> http://nursalam.multiply.com
> YM ID: nursalam_ar
>

5e.

Balasan: [sekolah-kehidupan] [esai] Lajang Betawi Mencari Cinta

Posted by: "CaturCatriks" akil_catur@yahoo.co.id   akil_catur

Sun Jun 8, 2008 6:10 pm (PDT)

weew, romantisme masa kemarin!

btw, jodoh, seringkali kita mengharap yang ideal
dimana sebagian besar - sepertinya - tidak tercapai
karena ideal ternyata kalah indah dengan yang realistis
sehingga, siapapun jodoh kita
pastilah itu pillihan terbaik menurut Alloh

sepakat?

Nursalam AR <nursalam.ar@gmail.com> wrote:
Lajang Betawi Mencari Cinta Oleh Nursalam AR

Malam merayap siput. Hujan menderap
Sepi meranggas hati. Dingin mendekap naluri
Mata susah pejam, angan layang liar
Kuraba sisi kasur. Kosong
Kapankah ia berpenghuni?
Hanya Takdir yang tahu
Sebagaimana pengetahuanNya akan rizki dan mati.
(Elegi Lajang, 2002)


CaturCatriks

Editor - Penulis
http://caturcatriks.blogspot.com

---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers
6a.

[PUISI] "Layang-Layang" dan "Kepada Kata"

Posted by: "Nursalam AR" nursalam_ar@yahoo.com   nursalam_ar

Sun Jun 8, 2008 5:54 am (PDT)

Layanglayang*)

dua layanglayang berdansa di udara
bercumbu rapat senyawa
lantas meliuk melibas garang
saling tebas leher di pangkal
arku mengambang pasrah pada angin
satu melayang
yang lain senang
aku tutup buku harianku:
"inilah hidup."

Pengadegan, 23 Mei 2007

Kepada Kata*)

siapa kata siapa mereka
siapa mereka siapa kata
kata siapa mereka siapa
siapa mereka adalah kata
mereka adalah kata siapa
kata mereka adalah siapa mereka
ah,kata!
`kurindu perawanmu saja…

Jkt, 22 Mei 2007

*) karya Nursalam AR

www.nursalam.multiply.com
YM ID: nursalam_ar

6b.

Re: [PUISI] "Layang-Layang" dan "Kepada Kata"

Posted by: "Nia Robiatun Jumiah" musimbunga@gmail.com

Sun Jun 8, 2008 7:27 am (PDT)

kerenz dah si abang ini..
sms pas romadhon aja masih disimpenm di hpku...
katak adekku puisinya bagus..
(keluargaku sudah mulai mengenal sk sekarang... antar pro dan kontra..
fiuh..)

2008/6/8 Nursalam AR <nursalam_ar@yahoo.com>:

> Layanglayang*)
>
> dua layanglayang berdansa di udara
> bercumbu rapat senyawa
> lantas meliuk melibas garang
> saling tebas leher di pangkal
> arku mengambang pasrah pada angin
> satu melayang
> yang lain senang
> aku tutup buku harianku:
> "inilah hidup."
>
> Pengadegan, 23 Mei 2007
>
> Kepada Kata*)
>
> siapa kata siapa mereka
> siapa mereka siapa kata
> kata siapa mereka siapa
> siapa mereka adalah kata
> mereka adalah kata siapa
> kata mereka adalah siapa mereka
> ah,kata!
> `kurindu perawanmu saja…
>
> Jkt, 22 Mei 2007
>
> *) karya Nursalam AR
>
> www.nursalam.multiply.com
> YM ID: nursalam_ar
>
>
>
7a.

[cerpen] Tiga Perempuan

Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com

Sun Jun 8, 2008 6:05 am (PDT)

*Tiga Perempuan*

*Oleh Nursalam AR*

Telepon berdering.

Jemari halus mengangkatnya. "Halo." Lembut.

"Benar kamu tidak bisa terima aku?" sergah suara di seberang.

"Iya."

"Hidupmu bakal lebih terjamin!"

"Tidak perlu!"

Dengus nafas keras memburu di seberang.

"Masih sayang anakmu kan?"

"Tentu saja!"

"Bagus. Pikirkan saja nasibnya."

Klik.

Si pemilik jemari halus mendengus. Bercampur tangis.

*****

* *Menjadi perempuan tidak mudah. Apalagi menjadi janda. Janda
sudah beranak pula. Terutama ketika sang putera mulai sibuk bertanya kenapa
ia tidak punya bapak. Tidak seperti teman-temannya yang lain.

"Mak, kok Aman nggak punya bapak?" Sebuah pertanyaan di suatu
senja. Tatkala seorang janda usia tigapuluhan melepas lelah setelah seharian
bergulat dengan cucian kotor di rumah tetangga.

"Emang kenape?"

"Kan kasian Emak."

"Kasian apaan?"

"Mesti nyuci terus," Mulut mungil itu berujar memelas. "Kalo ada
bapak kan bisa bantuin Emak nyuci."

Si Janda terkekeh. *Dasar anak kecil. Tentu aje laki-laki bisa
bantu lebih dari cuman bantu nyuci*, batinnya pilu*. Bantu nemenin tidur
misalnye.*

Ia menatap senja. Lembayung tertutup mendung.

***

*Handphone* bergetar. Nada dering *Ruang Rindu[1]
<#_edn1>*mengalun syahdu.

Jemari Halus mengangkatnya. "Halo." Lembut.

"Sudah kamu pikirkan tawaranku?" Suara tegas terdengar di
seberang. Tanpa basa-basi.

"Beri aku waktu…"

"Ah, macam anak perawan saja! Apa sih susahnya bilang iya?!"

"Mas, ini bukan pilihan mudah!"

"Memangnya kamu punya pilihan?!"

"Tentu saja!" Desisnya kesal. "Aku manusia!"

"Bukan. Kamu lonte!"

Klik.

Kali ini Jemari Halus menangis keras. Di dalam hati.

***

Menjadi pengantin itu membahagiakan. Bagai raja dan ratu sehari.
Tiada momen yang membahagiakan selain bersanding dengan orang yang dicintai
dan mendapatkan ucapan tahniah dari para undangan. Seakan dunia menjadi
saksi atas kegembiraan suci tersebut. Namun menjadi pengantin juga alamat
kekecewaan. Bila ternyata sang suami tercinta hanya penjudi dan tukang
selingkuh. Rasanya roti buaya di hari pernikahan perlambang kesetiaan hanya
sebagai sebuah sindiran.

*Ah, kok masih aje inget die*, Si Janda membatin. *Die aje
enggak inget keluarga*. *Malah kabur ame cabo[2] <#_edn2> Kerawang*!

"Kok nangis, Mpok? Ada apa?" Suara lembut menariknya ke bumi. Si
Jemari Halus mendekatinya. Ia berjongkok dan mengusap-usap bahu Si Janda.

Si Janda tergeragap. Disambarnya sepotong baju dari puncak
tumpukan cucian. Disikatnya keras-keras. Ia bayangkan baju itu adalah wajah
suaminya dulu.

"Jangan pura-pura. Mpok Nasipe tadi nangis ya?"

"Kagak," bantah Mpok Nasipe pelan. *Betul, Bu. Saya
sedih,*ujarnya di dalam hati. Ia mengangkat wajahnya, berusaha
tersenyum. Tapi
dilihatnya bekas alur anak sungai di pipi putih sang majikan.

"Bu Arin nangis?"

"Eh, tidak!" Gantian Arin membantah. Tapi tak urung kedua
tangannya lekas menghapus jejak kesedihan di wajahnya. Mpok Nasipe
tersenyum. *Percuma, Bu, udah ketauan*. Tapi anehnya dadanya agak plong
sedikit. Ternyata melihat orang menangis dapat meringankan beban. *Tapi
kenape Bu Arin nangis ye?* Pikiran Mpok Nasipe merantau di balik
kesibukannya membilas cucian.

"Ya, sudah," ujar Arin seraya berdiri. Seakan menegaskan bahwa
ia majikan dan perempuan sebayanya itu hanya buruh cucinya. "Kalau Mpok
Nasipe tidak mau mengaku sudah menangis, tidak apa-apa. Saya maklum. Sebagai
sesama janda, saya maklum kok," ujar Arin tersenyum. Ia menekankankan kata
"janda".

"Iye, Bu. Jadi jande emang kagak enak. Susah mulu. Tapi ibu sih
enak, kaya. Lha saya kan beda. Keblangsak terus nasibnye!"

Arin tersenyum getir. *Kaya belum tentu bikin bahagia*.
Airmatanya hendak lumer. "Mpok, nanti lagi ya ngobrolnya. Saya ngantuk!"
Pura-pura menguap, Arin bergegas ke kamarnya. Menumpahkan airmata di bantal
sunyinya.

Mpok Nasipe mendesah. Kecewa. Ia sebetulnya hendak menyampaikan
sesuatu. Sesuatu yang penting bagi dirinya dan bagi Aman, anak sebiji
matanya. Tapi belum tentu penting bagi majikannya yang tiap malam selalu
berganti-ganti diantar mobil mewah. Soal ini sudah banyak omongan miring
para tetangga tentang majikannya. Tapi Mpok Nasipe tidak percaya. Itu
bergunjing namanya kata Wak Nong, guru ngajinya sewaktu kecil. Lagipula
terlalu banyak masalahnya sendiri daripada harus mengurusi masalah orang
lain.

*Ah, idup kok susah amat ye!*

Dilampiaskannya kekecewaan pada cucian. Disikatnya sekuat
tenaga, dibanting dan diperasnya habis-habisan. Ia membayangkan mencekik
leher mantan suaminya dan derita kemelaratan yang melilit.

Di tanah lapang yang kian jarang di Jakarta.

"Aman, Emak lo udah kasih duit belom?" Seorang anak usia belasan
berdiri tegak menghadang Aman. Tatapannya menusuk.

Aman menunduk. Sesekali menyeka ingus. "Belom."

"Gimana sih? Kalo kayak gini kapan kita bisa patungan beli
bola?!"

Serentak sahutan-sahutan lain bak dengungan suara lebah
mengantup.

"Iya, Man. Payah lo!"

"Ga asyik ah!"

"Huu…maennya mau lo, Man. Giliran patungan, ogah!"

Tepat menyengat hati Aman. Bocah tujuh tahunan itu tersengguk.
Hatinya remuk. Jika bapaknya memang benar tukang batu seperti cerita Emak
ingin ia agar bapak sendiri yang memperbaiki hatinya saat ini. Tapi ia anak
yatim. Setidaknya itu kata Emak. Itu yang bikin hatinya kian
berkeping-keping.

Berlarilah Aman membawa serpihan hatinya yang rontok. *Berlari,
berlari hingga hilang pedih peri…[3] <#_edn3>*

Di kamar di sebuah rumah megah.

"Ning, sedang apa? Sibuk ya?"

Suara keibuan di seberang sana menjawab,"Enggak kok, Rin. *Piye
to*?"

"Aku butuh kamu sekarang…"

"*So sweet*. Aku juga kangen. Eh, aku ada waktu nanti malam. Ketemuan yuk!"

"Di mana? Jam berapa?"

Siang itu terpatrilah sebuah janji untuk bertemu.

Arin menutup teleponnya dengan wajah sumringah. Ada gelegak
dalam diri yang butuh penyaluran.

*Ruang Rindu* kembali mengalun.

"Halo."

"Ma, kapan Nia dijemput? Nia enggak betah nih di sini bareng
Papa!"

"Ehm..sabar ya, *Honey*. Sebentar lagi kok," jawab Arin. Ia
mulai terisak.

"Ah, sebentar terus. Dua bulan lalu Mama juga bilang begitu. Nia
benci Mama!"

Klik.

Tiada yang lebih menyakitkan hati seorang ibu selain dibenci
darah dagingnya sendiri. Untuk itulah anak sungai di mata Arin mengalir
jauh. Jauh sampai ke lautan rindu yang membentang membatasi mereka.

"Bu! Bu Arin!" Ketukan disertai seruan berulang-ulang
mengagetkan Arin yang bersimbah airmata di atas ranjangnya.

"Ada apa, Mpok?"

"Maap, Bu. Saya mau ngomong," ujar Mpok Nasipe takut-takut. "Eh,
Ibu abis nangis ye?"

Arin meletup. Ia sudah bersusah-payah menghapus airmatanya lalu
tergopoh-gopoh membukakan pintu. Dan hanya mendapati pertanyaan sepele itu.

"Dari tadi itu aja pertanyaanmu. Bosan!" sahutnya tajam. "Iya,
saya nangis. Memang kenapa?Sekarang kamu mau ngomong apa?!"

Nyali Mpok Nasipe ciut. "Eh, maap, Bu. Maksudnye…"

"Saya sibuk. Tidak mau diganggu. Upah nyuci kamu kan nanti akhir
bulan. Masih tiga minggu lagi. Sudah sana!"

*Nah, itu maksudnye. Mau kasbon!*

Sayang sudah nasib suara hati untuk tak terdengar orang. Pintu
kamar sudah ditutup keras. Setengah dibanting.

Mpok Nasipe gemetar. *Kok Bu Arin tumben galak amat ye? Ape lagi
dapet*?

Ia pun beranjak keluar. Kepalanya pening memikirkan jawaban apa
yang akan diberikannya kepada Aman. Jawaban yang ditunggu sejak seminggu
lalu.

*Duh, idup kok susah amat ye!*

***

Aman cemberut. Ia membuang muka. Tangan Mpok Nasipe
mengelus-elus rambut ikal puteranya itu. Lampu neon dua puluh lima watt
meredup. Garis-garis kehitaman mulai merajahi batang lampu. Sudah waktunya
diganti. Seperti juga TV 14 inci di atas buffet yang layarnya sudah banyak
"semut" yang tiapkali harus digebrak agar gambarnya layak dilihat.

"Maap ye, Man. Emak belom punye duit."

Aman bergeming. Mulutnya kian manyun.

"Kok Aman nggak mau nurut Emak sih?!" Mpok Nasipe mulai dongkol
dengan sikap Aman.

Aman adalah satu-satunya buah perkawinan Mpok Nasipe dengan sang suami yang
pengkhianat. Selama lima tahun perkawinan ia menderita lahir dan batin.
Gara-garanya ia dituduh mandul. Padahal karena keterbatasan biaya tak pernah
sekalipun mereka berdua memeriksakan diri ke dokter. Hanya karena ingin
menjaga nama baik suami di depan keluarga, ia kunci mulut rapat-rapat.
Ironisnya, di tahun kelima, ketika usia Aman belum lagi empat puluh hari,
sang suami minggat bersama perempuan lain.

"Masak dua puluh ribu aje ga ada sih, Mak?" tanya Aman lirih.
"Kan katenye Emak udah nyariin dari minggu kemaren."Matanya menatap penuh
harap. "Aman kan malu ame temen-temen…"

Mpok Nasipe menghela nafas panjang. Dua puluh ribu jumlah kecil
buat yang berpunya. Tapi buat buruh cuci berpenghasilan dua ratus ribu
sebulan, itu jumlah yang lumayan besar. Penghasilan yang se*iprit* itu pun
harus lihai dibagi-bagi dengan kebutuhan sekolah dan kebutuhan rumah tangga
yang saling berebut naik. Meski ia juga cari tambahan dengan menitipkan
jualan kue di warung-warung sekitar, tetap saja tak *kecandak*, tidak
tertutupi. Hanya atas izin Allah ia dan Aman bisa tidak kelaparan meski
harus sering berpuasa dan berhutang kiri-kanan.

Aman luluh. Tak tega ia melihat emaknya tepekur diam. Berusaha
tegar menahan tangis. Kendati ia tahu airmata Emak sudah meluber di pelupuk
mata. Tinggal menunggu tumpah. Wajah manis Emak lebih sering mendung
karenanya.

"Mak…"

"Maapin Aman," Aman mencium tangan emaknya. "Aman salah udah
bikin Emak nangis. Padahal kan Ustadz Romli bilang Aman kudu jagain Emak.
Aman kan anak laki. Betul ye, Mak?"

Mpok Nasipe mengangguk haru. Di bibirnya tersaput senyum bangga.

"Besok Aman diajakin Mamut jualan koran. Mas Tito kan buka usaha
agensi koran. Aman boleh jualan, Mak?"tanyanya. "Abis Subuh ame sore
kok.Jadi bisa tetep sekolah."

Mpok Nasipe kian haru. Anaknya ternyata lebih jantan daripada
bapaknya. Tapi tetap saja sebagai ibu sekaligus bapak Aman, ia harus
berbuat. *Tapi pinjem kemane ye?*

Senja lindap. Malam menyergap. Selubung hitam Jakarta terhampar. Di ujung
selubung dua makhluk molek bertukar rasa dalam kamar sebuah apartemen elite.
Hanya beberapa ratus meter dari kawasan Segitiga Emas.

"Tadi kok kamu makannya tidak bernapsu, Rin? Masakannya tidak
enak ya? Padahal restoran tadi restoran Perancis terkenal lho!"

Arin tersenyum dipaksakan. Menatap Wening yang sedang menuangkan
*wine* merah.

"Enak kok. Aku lagi banyak pikiran aja," jawab Arin sambil
menerima sesloki *wine* dari Wening. Cairan anggur merah itu lekas
menggelontor kerongkongannya.

"Ih, kamu minum *wine* kok tidak ada seninya sih!" protes Wening
melihat Arin menenggak *wine* seperti minum air kendi. "*Wine* itu karya
seni. Minumnya harus dengan *style*. Dicicipi dulu. Pelan-pelan. Nah,
biarkan rasanya menyebar ke seluruh bagian lidah," cerocos Wening.
"*Wine*juga tidak bisa untuk teman sembarang makanan. Untuk hidangan
ikan, pakai
*wine *putih. Sementara untuk hidangan daging, *wine* merah lebih cocok. *
Feel*-nya lebih pas!"

"Aku tahu. Pelangganku kan banyak yang bule juga."

"*Sorry*, aku lupa. Aku kan *French-minded* banget gitu lhoh!"

"Ya, iyalah. Kamu kan gundiknya diplomat Perancis!"

Tawa berderai memenuhi kamar luas dan nyaman bernuansa merah
muda itu. Namun kehangatan itu lenyap segera. Arin kembali terdiam. Berderai
airmata.

Wening panik. "*Piye to*?"

"Aku capek, Ning…"

Wening mendekap lembut Arin.

Mengalirlah segala isi hati Arin.

"Jadi anakmu masih bersama mantan suamimu yang menuntut rujuk itu?" simpul
Wening. "Mantan suamimu yang pengusaha batubara itu kan?"

"Ya. Dia merasa bisa membeli segalanya. Termasuk diriku. Aku
tidak bisa berbuat apa-apa," keluh Arin. "Dengan kelihaian pengacaranya, dia
bisa beli putusan pengadilan untuk rebut hak pengasuhan anak dariku. Dan dia
pindahkan putriku bersekolah ke Singapura. Sudah dua bulan aku tidak ketemu
putriku, Ning!" Tangis Arin meledak di dada hangat Wening. Gaun tidur Wening
basah dengan airmata. "Padahal setelah bercerai aku sampai jual diri untuk
membiayai sekolahnya. Setahun kemudian lelaki itu datang dan merebut
segalanya!"

"*Yo wis, sing sabar wae*," bisik Wening lembut sambil terus
membelai.

"Dia gunakan putriku agar aku mau rujuk dengannya. Aku tahu dia
sudah tidak cinta aku. Sejak dia selingkuh, aku sudah tahu itu. Apalagi
sekarang. Dia pasti jijik padaku.Tapi Nia tak mungkin dimilikinya tanpa
memaksaku kembali. Nia sangat dekat denganku,"Arin terus bertutur. "Ning,
aku harus bagaimana?"

"Kamu sendiri masih mencintai mantan suamimu?"

Arin menatap tajam. "Kok masih tanya begitu?"

"*Just confirm, Babe*."

"*No, I just love you*. *He's nothing!"* tegas Arin. "Bila ada
pelanggan-pelangganku yang lain, mereka hanya senilai rupiah dan dolar
mereka. Tapi kamu bagian dari hatiku. Kamu hadir saat aku runtuh setelah
perceraian. *You're my best customer. Even more*!"

Sesama bunga itu saling menghisap apa yang jadi haknya kumbang
jantan.

Dalam deru nafsu malam yang bermandikan peluh, Wening berbisik
di telinga Arin,"Tapi aku cemburu sama babu cucimu. Kenapa kamu masih piara
dia? Jaman sekarang buruh cuci sudah harus dimuseumkan! *C'est la vie
[4]<#_edn4>
*!"

"*Come on*. Aku kasihan sama dia. Dia ditinggal kabur suaminya
yang selingkuh dengan perempuan lain. Sama seperti aku. Kita kan harus
solider sebagai sesama perempuan," Arin mengedip manja. "Lagian lumayan kan
sebagai cadangan kalo aku kangen kamu dan tidak bisa ketemu. Haha…"

'Iya, ya.Siapa tahu kita bisa *threesome[5] <#_edn5>*! Hihi…"

Mereka terkikik mesum.

Malam berlalu dengan sejuta kutukan Tuhan.

***

Pagi bening.

"Mpok Nasipe, maaf. Kemarin saya lagi banyak pikiran jadi agak kasar.
Kemarin mau omong apa ya?" tanya Arin lembut.

"Saya…"

"O, ya tunggu dulu," tukas Arin cepat. "Ini upah nyuci Mpok saya
bayar duluan. Saya tambah tiga kali lipat. Dan ini titipan dari sahabat
saya, Wening."

"Makasih, Bu. *Alhamdulillah*." Mpok Nasipe berucap syukur. "Ini
duit dari temen Bu Arin? Baek banget!"

"Iya, semalam dia antar saya pulang. Tumben sih. Baru
pertamakalinya."

Mendadak wajah Mpok Nasipe pucat. *Ya Allah!* *Terime nggak ye?
Halal nggak ye?*

"Kenapa, Mpok? Sakit?"

"Nggak. Hmm…semalem waktu Bu Arin pulang, saya pas lewat di
depan gerbang. Abis usaha pinjem duit dari Uda Iko."

Arin terkesiap. Ia ingat sesuatu. "Oh, eh, semalam Mpok Nasipe
lewat depan gerbang?" Ia mendadak gugup. "Kenapa tidak pinjam ke saya? Butuh
berapa?" Ia sibuk mengeluarkan dompetnya dari tas *Prada*.

"Makasih, Bu. Udah dapet kok. Biar dikit asal ati tentrem."

Wajah Arin memanas. Ia raba bibirnya yang semalam diciumi Wening
di depan gerbang. Ia tiba-tiba merasa jijik dengan dirinya sendiri.

*Pengadegan, medio Juni 2007*

------------------------------

[1] <#_ednref1> Lagu *hits* band Letto (Yogyakarta)

[2] <#_ednref2> Dari kata *ca-bau-kan* (Cina Hokkian) yang berarti
"pelacur".

[3] <#_ednref3> Petikan puisi *Aku* karya Chairil Anwar

[4] <#_ednref4> Inilah hidup (bahasa Perancis)

[5] <#_ednref5> Percumbuan atau persetubuhan antara tiga orang lain jenis
atau sesama jenis (bahasa Inggris)

--
-"When there's a will there's a way"
Nursalam AR
Translator & Writer
0813-10040723
021-91477730
http://nursalam.multiply.com
YM ID: nursalam_ar
7b.

Re: [cerpen] Tiga Perempuan

Posted by: "Nia Robiatun Jumiah" musimbunga@gmail.com

Sun Jun 8, 2008 7:23 am (PDT)

assalamualalikum
waduh group band kesukaan aku disebut2:D
baru aja malem pas mabit di kosannya mba asma kita ngomonguintulisan mas
nursalam
kita merindukan tulisanya abang..
hi..hi...
ayo.. tulis lagi yang banyak
-di saat mumet dikejar deadline menerjemah, dan rindu menulis-
...hiks...

2008/6/8 Nursalam AR <nursalam.ar@gmail.com>:

> *Tiga Perempuan*
>
> *Oleh Nursalam AR*
>
>
>
>
>
8.

Nyok IKutan Lomba Blog Pesta Buku Jakarta 2008!

Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com

Sun Jun 8, 2008 6:14 am (PDT)

*Lomba Blog Pesta Buku Jkt 2008*

Dalam rangka kegiatan pesta buku jakarta dan ulang Tahun jakarta, panitia
PBJ akan mengadakan lomba antar Blogger akan di mulai tanggal 23 mei s/d 1
Juli 2008. Kegiatan ini merupakan salah satu apresiasisi para blogger
terhadap dunia buku. Karena bidang IT terutama internet atau dunia maya
memiliki peran penting dalam informasi-informasi mengenai buku dan
lain-lain.
untuk itu panitia mencoba mengadakan Lomba Blogger sebagai media apresiasi
terhadap dunia buku. Harapan dari Lomba ini semakin banyak orang akan
apresiasi terhadap Dunia IT terutama internet/ dunia maya dalam bentuk
Ngeblog. Disamping itu juga mengenal dunia perbukuan.

A. KETENTUAN PESERTA

1. Peserta dari SMA, Perguruan Tinggi dan masyarakat umum
2. Lomba Antar Blogger yang akan di mulai tanggal 23 mei s/d 1 Juli 2008

B. CONTENT (ISI) LOMBA BLOGGER

Content Lomba blogger :

1.Nama Blog atas nama peserta lomba.

2.Tema Besar "Pesta buku Jakarta 2008" dan menampilkan Banner Pestabuku di
halaman depan Blog. Banner "PestabukuJakarta" bisa diambil di web site
www.pestabukujakarta.com bagian bawah web site

3.Isi/conten dalam blog.

- Resensi 10 buku apa saja
- Tema buku apa yang anda paling suka( sastra, Novel, agama, ilmu sosial
dan politik) dan berilah komentar salah satu tema buku yang anda suka
- Bagaimana apresiasi anda terhadap buku
- Komentar salah satu buku yang anda suka baca, Mengapa anda suka dengan
buku yang anda baca?
- Setiap Blogspot harus diberi komentar minimal 20 orang dan lebih banyak
lebih bagus
- Komentar Blog tentang Pestabukujakarta, dan usul–saran dari peserta
blog mengenai pameran ini sendiri.
- Blog harus mempunyai Link ke 20 blogger teman
- Semua Blog mencatumkan link www.pestabukujakarta.com
- Menampilkan Schedule dan Lomba-Lomba acara dalam Pesta Buku Jakarta
2008 yang ada dalam web site www.pestabukujakarta.com

4.Nama Blog dapat di Kirim ke email
pestabukujakarta@pestabukujakarta.comAlamat
e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk
melihatnya atau info@pestabukujakarta.comAlamat e-mail ini dilindungi dari
spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya di sertakan data
identitas:

1. Nama;
2. Alamat:
3. Pekerjaan:
4. Nama web Blog

5.Lomba Blog. ini dimulai tanggal 22. Mei s/ d 1 juli 2005 dan pengumuman
Lomba ini pada tanggal 4 Juli 2008 di Arena Pameran Pesta Buku Jakarta atau
di website:www.pestabukujakarta.com

6.Penilaian Blogs oleh dewan Juri :

- Bentuk atau penampilan web blog yang bagus.
- Isi Conten Mengenai buku dan Menampilkan Banner Pestabuku jakarta 2008
- Jumlah banyak yang mengunjungi blog dan komentar terhadap web
blogspotnya
- Jumlah banyak Link ke Web Blog

7. Keputusan dewan Yuri tidak dapat di ganggu gugat.

Dewan Juri terdiri dari:
1. Raditya Dika
2. Yayan Sofyan

D.HADIAH PEMENANG

Juara 1.

- Uang senilai 5 juta rupiah
- Sertifikat dari Panitia PBJ

Juara 2

- Uang Senilai 3 juta Rupiah
- Sertifikat dari Panitia PBJ

Juara 3

- Uang Senilai 2 juta Rupiah
- Sertifikat dari Panitia PBJ

PANITIA PBJ 2008

info dapat di lihat di www.pestabukujakarta.com

* *

* *

--
-"When there's a will there's a way"
Nursalam AR
Translator & Writer
0813-10040723
021-91477730
http://nursalam.multiply.com
YM ID: nursalam_ar
9.

Kampanye anti ROKOK

Posted by: "agung az" abahadzka@yahoo.com   abahadzka

Sun Jun 8, 2008 7:15 am (PDT)



Hari ini saya bertemu pak Fuad Baradja yang pernah main di sinetron JIN dan JUN.Aktivitas beliau saat ini sebgai aktivis LSM anti ROKOK.
Suatu hal yang sangat mencengankan bagi saya ketika beliau mengatakan setiap hari orang Indonesia menghabiskan 25 MILYAR hanya untuk rokok. Cukai yang dikeluarkan oleh para perokok selama setahun mencapai angka 40 TRILYUN. Indonesia satu-satunya negara di dunia yang tidak mau melakukan ratifikasi undang-undang tentang rokok. padahal negara-negara maju telah melakukannya.

Untuk itu beliau bersedia secara cuma-cuma atau dibayar (bagi yang memiliki dana) untuk menjadi pembicara di Instansi manapun untuk menjelaskan tentang bahaya rokok dan dampaknya bagi kehidupan bangsa. Sayangnya kata beliau beberapa sekolah tidak bersedia mengundang beliau karena guru dan kepala sekolahnya adalah PEROKOK

Sebagai bahan bacaan dan rujukan bisa dicari beberapa tuliasan beliau di google. Katanya

10.

Waktu Ini Membunuhku

Posted by: "Alang Nemo" dhoed_122@yahoo.com   ilalangalam

Sun Jun 8, 2008 7:29 am (PDT)



Waktu Ini Membunuhku

oleh

Duddy Fachrudin

Kau membuat ku berantakan

Kau membuat ku tak karuan

Kau membuat ku tak berdaya

Saya tidak melanjutkan lirik lagu "Cinta Ini Membunuhku" karya
D'Masiv itu karena memang nantinya tidak akan nyambung dengan
tulisan yang saya buat. Namun, dengan "meminjam" tiga baris
pertama dari lagu yang beberapa minggu laris manis tersebut sudah cukup
dijadikan prolog bagi tulisan saya.

Setiap sabtu sore di KKMB (Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa Bandung)
selalu ada kegiatan yang melibatkan anggota maupun pengurus KKMB.
Biasanya ada kegiatan bernama Kopi Sore, suatu kegiatan yang bisa
menambah pengetahuan juga ketrampilan soft maupun hard skill dimana yang
membawakannya adalah civitas KKMB sendiri. Kopi Sore sendiri merupakan
salah satu program kerja yang dibuat oleh bagian HRD KKMB dengan tujuan
memunculkan potensi-potensi yang ada di setiap individu, baik pengurus,
pengawas, anggota dan karyawan KKMB.

Sabtu, 7 Juni 2008 lalu saya yang mengisi Kopi Sore dengan short
training tentang manajemen waktu. Saya beri judul "Activity
Management For Succes People". Kata activity sendiri menggantikan
kata time agar tidak terdengar membosankan di telinga yang sudah sering
membaca, mendengar atau mengikuti training "Time Management".

Berikut rangkuman materi short training tersebut:

Kunci Sukes Kehidupan (Tsuntzu):

1. Mengenal Diri

2. Mengenal Lawan

3. Mengenal Medan (Lapangan)

Mengenal Diri (Duddy Fachrudin):

1. Mengenal Potensi
2. Memiliki Tujuan
3. Fokus
4. Kerja Keras
5. Manajemen Diri

Manajemen Diri (Duddy Fachrudin):

1. Manajemen Tenaga
2. Manajemen Uang
3. Manajemen Aktivitas

Tips-tips Sukses Manajemen Aktivitas (Duddy Fachrudin):

1. Buat jadwal harian
2. Komitmen terhadap jadwal harian
3. Prioritaskan jadwal anda
4. Berani untuk katakana "tidak"
5. Kerjakan sampai tuntas

Contoh jadwal harian saya:

Sabtu, 7 Juni 2008

• Belajar PIO jam 06-09

• Ujian PIO jam 10-11.30

• Jilid & copy jurnal ilmiah terus kasih ke K' Dhana jam
11.30-12.30

• Ketemu Citra & Yuki ngebahas penelitian "Gifted
Children" jam 12.45-14

• Bikin materi "Time Management" jam 14.30-16

• Kopi Sore jam 16-18

• Nonton Euro jam 21-23

Sebuah pepatah berkata: if you fail to plan, you are planning to fail.
Jika anda gagal berencana, maka anda sedang merencanakan kegagalan.
Untuk memulai manajemen aktivitas, tentunya dimulai dari membuat rencana
maupun jadwal karena apa yang kita rencanakan tersebut menjadi panduan
untuk beraktivitas. Kemudian yang lebih penting lagi adalah komitmen
terhadap apa yang kita rencanakan. Ingat: sumber kegagalan adalah malas
dan ketidakkonsistenan terhadap janji. Janji adalah rencana-rencana yang
kita buat setiap hari, minggu, bulan, bahkan tahunnya.

Terus berlatih agar konsisten menepati jadwal-jadwal yang telah dibuat.
Kesuksesan dalam manajemen aktivitas terletak dari ke-kontinuitasan diri
kita dalam memenuhi rencana-rencana yang telah dibuat. Sukses tidak
datang tiba-tiba, melainkan berproses, dan itu lahir berkat suatu usaha
atau latihan yang terus menerus.

Dan jangan sampai waktu 24 jam berlalu begitu saja sehingga diri kita
terlena. Tidak ada lagi perkataan "aduh, waktunya kurang", atau
"kok, cepat sekali berlalu padahal belum selesai". Menunda-nunda
tugas yang harusnya dikerjakan berakibat fatal pada kehidupan kita. Yap,
waktu akan membunuh diri kita jika kita tidak me-manage-nya sebaik
mungkin.

Penting bagi kita untuk me-manage waktu kita. Islam sendiri mengajarkan
untuk memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya, merugilah diri
kita jika hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin. Ayo kita lakukan
hal-hal yang lebih baik dari kemarin dengan manajemen aktivitas!

Juni 2008

"nothing changing if we do not something"

Duddy Fachrudin

Avonturir Author

http://avonturir.multiply.com <http://avonturir.multiply.com/>

11.

cerpen-PILIHAN

Posted by: "novi khansa'" novi_ningsih@yahoo.com   novi_ningsih

Sun Jun 8, 2008 8:02 am (PDT)

PILIHAN
novi khansa'

Di
hadapanku tertidur seorang laki-laki yang tergolek pasrah. Nafasnya
tersengal-sengal. Sudah beberapa infus yang mengalir di tubuhnya. Rasa
sesak merebak di mana-mana ditambah lagi bau obat memenuhi ruangan ini.
Rasanya hati ini ingin berteriak. Aku sudah tak kuat lagi berada di
sini. Dihadapkan dengan masalah yang datang dengan tiba-tiba. Masalah
karena kesalahanku yang dulu. Masalah yang aku fikir tak akan lagi
menghampiriku. Seandainya aku tak punya hati nurani tentunya aku akan
keluar dari ruangan ini dan mengingkari janjiku… Air
mataku menetes. Aku tak mampu menahan tangis ini ketika menatap
wajahnya. Wajah orang yang pernah berada begitu dekat dengan diriku.
Kini ia hanya laki-laki yang kurus tak terurus. Kulit yang telah
keriput –tetapi bukan karena tua– membungkus tulang-tulang yang sudah
rapuh termakan pil setan dan berbagai macam penyakit. Ini semua salahku. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Ayu…."
igaunya. Aku tak kuasa lagi terus menatapnya. Berdosakah aku kalau
laki-laki di hadapanku ini mencintaiku lebih dari tubuhnya, lebih dari
orang tuanya, keluarganya lebih dari segala-galanya di dunia ini.
Sampai saat ini yang dingat hanya aku. Igauan yang keluar dari mulutnya
selalu aku. Tak ada yang lain. Bagaimana aku tidak sampai di sini, yah
karena itu. Laki-laki itu terus menyebut namaku. Keluarga yang tak ada
di ingatannya hanya bisa mencari aku. Yah aku, Ayunda gadis dari
keluarga biasa tidak seperti Raditya yang keturunan ningrat. Darah
biru. Orang yang diharapkan ibu untuk jadi menantunya. Biar aku bisa
naik derajatnya. Biar aku bisa sejajar dengan tokoh-tokoh. Padahal
semua manusia itu sama derajatnya di hadapan Allah SWT.&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kemarin
sewaktu aku datang ke sini. Raditya sedang melewati masa kritisnya. Dia
berteriak-teriak bagai orang gila. Dia tertawa. Dia kesakitan dan
terakhir dia menangis ketika menatap wajahku. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "ngapain mama nyuruh Ayu datang. Mama tega ya kalau Ayu tambah benci sama aku…Aaaaaaaaaa…Ayu…Ayu" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Hanya dia yang kau panggil, sayang! Hanya dia…" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Kasian
Ayu, ma harus datang ke sini. Lihat Didit kayak gini…Didit malu ma" Aku
mulai mendekati Raditya yang masih terus berteriak kesakitan. Wajahnya
pias ketika melihat aku berusaha menghampirinya &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Radit…aku….." ucapanku tertelan begitu saja &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Jangan mendekat gadis suci, aku aku…Aaaaaaaaaaaaah……" Aku
berusaha menjangkaunya. Aku ingin menenangkannya bukan malah membikin
kacau. Ahhhhh Radit kalau ini memang salahku, maafkan aku. Aku banyak
hutang budi padamu. Aku ingin minta maaf karena meninggalkanmu begitu
saja tanpa alasan yang jelas. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tiba-tiba
Raditya terdiam. Tidak lagi berteriak. Dia menunduk. Kemudian menatap
wajahku, menangis… "Ayu, tolong jangan tinggalkan aku lagi…" ujarnya
lemah. Semua mata menatapku dengan perasaan harap cemas. Mama Raditya
menangis tersedu-sedu seolah-olah berkata padaku agar memenuhi
permintaan anaknya yang mungkin untuk terakhir kali. Aku bergeming.
Harus kujawab apa permintaan ini? Pemintaan seorang laki-laki yang
menyia-nyiakan nyawanya. Seorang yang pernah aku tinggalkan. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Iya" ujarku singkat. Raditya menangis. Matanya terus menatap mataku. Tenang. ***** Aku
dan Raditya pertama kali bertemu di toko buku. Dia mendapat tantangan
untuk ngisengin aku yang tengah serius membaca buku. Rambut kepangku
diikat dengan rak-rak kartu pos. Aku yang tengah serius membaca sama
sekali tak menyadarinya. Ketika aku berjalan, rak kartu pos itu jatuh
bersamaan dengan kartu pos yang ikut berhamburan. Semua orang
menatapku. Ada yang tertawa. Ada
yang heran. Tapi aku bisa menangkap orang yang tertawanya paling keras
di sudut komik-komik. Saat itu bukannya aku malu, dengan cueknya aku
membereskan semua itu tanpa menerima bantuan siapaun dan kembali meraih
buku yang lain dan membacanya seolah tidak terjadi apa-apa. Kulihat
cowok-cowok iseng itu cuma bisa bengong. Hal
tersebut sudah biasa kualami. Entahlah. Mungkin karena tampangku yang
culun atau aku yang emang males gaul. Selalu sendiri. Keesokannya
Raditya menghampiriku meminta maaf sambil memberiku hadiah buku yang
kubaca kemarin. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "kok bisa tahu sih aku di sini?" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Kan
gu..eh aku juga sekolah di sini, Raditya 1F" ujarnya mengenalkan diri.
Dia kelas 1 F berarti kelasnya bersebelahan dengan kelasku. Kok bisa
nggak ngeh gini sih. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Mmmmh, gue ngomong ama loe nih… Masak segitu nggak pekanya sih ama sekitar gara-gara buku" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Aku Ayu," ujarku mengenalkan diri &nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Iya gue tahu, lo Ayunda 1 E, ranking 1 di angkatan 2000 cawu 1 kemaren, suka baca buku, anak pers, aktif di rohis, aktifis lsm,
tinggal di komplek belakang sekolah, loe punya adek 5 kakak 2,
dua-duanya udah nikah, bapak dosen, ibu guru dan satu lagi tiap sabtu sore lo ngajar di amigos privat"Aku
cuma bisa bengong. Dari mana dia memperoleh data-data itu. Dari hal
yang umum diketahui orang sampai yang pribadi. Aku aja gak ngenal dia
seperti itu. Padahal dia kan emang terkenal gak kayak aku. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "kamu siapa sih? Intel?" Tanyaku ingin tahu &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Nggak, gue cuma pengagum makhluk unik kayak loe. Kemaren sori yah, nih" ujarnya menyerahkan novel tersebut seraya ninggalin aku yang masih bertanya-tanya. *** "Eh kepang mo kemana?" tanya Raditya keesokan harinya ketika aku lewat di depan Raditya yang lagi mejeng di motor tigernya. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "pulang" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "masak sih, bukannya tiap hari Rabu, Ayu ke JF" tukas Raditya. Lagi-lagi dia benar. Tahu dari mana sih anak ini? "Eeh… kamu tahu dari mana sih? Kamu mau apa sih?" Ujarku judes &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Masak orang lsm,
aktifis dan pengajar judes gini" jawabnya ringan. Aku memang kurang
gaul tapi bukan berarti di tempatku aktif aku nggak berkembang. Yah
walau aku sadar juga kurangnya komunikasi sering menyulitkan aku. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "mmmh kamu belum jawab pertanyaanku, kamu tahu dari mana?" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Mau tahu? Tapi Ayunda musti mau nganterin gue ke JF, gue mo daftar jadi anggota perpustakaan sana, rencananya sih gue mo ambil sastra jepang pas kuliah entar" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "terus" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Yah. Anterin gue, yah…" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Nggak bisa gue mo…." &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Kebawa juga ngomong gue elo…." Aku langsung meninggalkannya tanpa menoleh sekalipun. Raditya menyusulku dari belakang &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Yuk…please, maaf yah" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Mmmh…nggak bisa aku musti pulang" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Iya, tahu. Sebelum ke JF kamu kan harus jemput Didi dulu di SD sebrang," ujarnya sambil menyebut nama adik bungsuku &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Ya udah, aku nyerah
deh…Aku antar kamu ke JF. Tapi jangan ganggu aku lagi," ujarku tegas. Semenjak
hari itu aku memang berusaha menjauh. Tetapi tetap saja Raditya
berusaha mengenalku lebih dalam. Padahal kalau difikir-fikir dirinya
sudah tahu terlalu banyak tentang aku. Entah kenapa aku mulai males
tanya-tanya dari mana dia memperoleh informasi tentang aku, sedangkan
aku sendiri mulai nggak konsisten. Aku malah nerima ajakan dia untuk
jadi sahabatnya. Aku sendiri nggak ngerti bisa-bisanya aku percaya sama
dia. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Yu,
kamu minat gak pake jilbab?" tanya Raditya tiba-tiba. "Kok orang yang
pake jilbab itu terlihat lebih cantik, lebih dewasa dan pokoknya top
lah" sambungnya &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Kamu lagi naksir cewek jilbab ya?" ledek aku yang emang lagi nggak mau menanggapi serius pertanyaan itu. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Ada-ada aja. Aku kan
nggak bisa ke lain hati…" ujarnya cuek. Emang sih status kami adalah
sahabat. Namun seringkali Raditya menanggapi beda. Aku sih cuek aja.
Nggak ada masalah. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Emang kenapa, Dit?" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Gue cuma kagum aja sama cewek jilbab. Mungkin maksud mereka lebih mendalami keislamannya kali ya…nggak asal-asalan kayak kita" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "oh ya" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Walau banyak dari mereka enggak suka deket-deket cowok" sambut Raditya &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Ya
udah, gimana kalau aku pake jilbab berarti…" aku sengaja menggantung
omonganku. Raditya terlihat berfikir mendengar ucapanku. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Eh,
jangan deh….nanti kamu ngejauh dari aku lagi. Waktu masih kuper aja
kamu susah dideketin apalagi ntar pas pake jilbab" ujarnya polos.
Sepolos ucapannya yang nyebelin. Masak aku dibilang kuper. Emang sih
dulu aku lebih senang membaca dibanding bergaul. Semenjak kenal Raditya
aku jadi banyak mengenal orang dan seenggak-enggaknya aku bisa banyak
ngedapetin pengetahuan luar yang bisa aku sumbangin ke tempat aku aktif. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Eh, tapi nggak papa deh kamu pake jilbab, Yu. Tapi kamu cuma boleh deket sama aku aja…gimana?" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Yee, mana bisa begitu" ujarku menjitak kepalanya dan ngeloyor pergi meninggalkan Raditya yang masih berfikir. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rupanya
ucapan Raditya pagi tadi mengingatkanku pada omongan Mbak Shinta ketua
Rohis Keputrian. Katanya jilbab itu wajib bagi muslimah. Aku kan
muslimah, umurku sudah 17 tahun. Sampai kapan aku membiarkan tubuhku
yang katanya Mbak Sinta itu aurat dan tidak boleh diperlihatkan pada
non muhrim. Aku mencoba menutupi kepalaku dengan kain yang biasa
dipakai ibu mengaji. Kata Mbak Shinta pakai jilbab harus sempurna,
nggak setengah-setengah. Jilbab menutupi dada, baju dan rok yang tidak
ketat plus kaos kaki. Aduh gerahnya nggak kebayang nih. Bisa nggak ya! *** &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Satu
bulan telah berlalu. Hari ini dingin sekali. Tetapi aku tidak terlalu
merasakannya. Kepala, Leher, tangan dan kakiku kini telah tertutup. Yah
aku mengenakan jilbab berikut kelengkapannya. Pengajian minggu lalu
memantapkan keinginanku untuk mengenakan baju takwa ini. Orang yang
pertama kali memberi selamat adalah Mbak Shinta. Berulang kali dia
menyebut asma Allah. Sementara kedua orang tuaku menanggapi biasa
bahkan cenderung tidak suka. Aku ingat ketika menyatakan ingin memakai
jilbab, ibu hanya mengatakan kalau aku harus tahu risikonya dari mulai
cari kerja yang susah sampai jodoh dan pandangan orang. Ayah hanya
berharap aku bisa konsisten dengan identitas baruku ini. Bagaimana
dengan Radit? Sudah dari jam pertama tadi aku tak bertemu dengannya.
Aku pun tak punya keinginan untuk bertemu dengannya. Toh nanti dia akan
tahu dengan sendirinya. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Ayu…"
panggil Raditya. Aku menoleh. Raditya terdiam sesaat. Entah terkesima
atau kecewa. Aku juga hanya bisa diam menunggu reaksi dari dia. "Ayu…"
ulangnya lagi. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Wouy, sampai kapan kamu bengong di situ," ujarku menghampiri dia yang masih takjub. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Ayu, kamu cantik banget. Aku bener-bener nggak nyangka" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Udah ah, yuk" Raditya kuajak pergi. Sudah banyak orang yang menonton adegan tadi. Abis India banget. Jadi serasa bintang film.&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Yah…hari-hariku
masih seperti biasa. Aku masih tetap bersahabat dengan Raditya.
Bukannya aku menuruti keinginan dia untuk hanya deket dengan dia.
Bukan! Aku hanya belum biasa meninggalkannya. Entah mengapa. Aku
berfikir secara bertahap aku akan berusaha menjaga jarak dengannya.
Tapi bukan sekarang. Aku punya alasan kuat untuk melakukan hal itu.
Raditya terlalu rapuh, aku tak ingin meninggalkannya dengan mudah, aku
ingin memberi pengertian kepadanya. Sekalian dakwah gitu! Hehehehe
walau baru bau kencur aku kan
juga pengen menyumbangkan sesuatu buat Islam. Hanya saja, bagaimana
caranya aku belum ketemu…dan yang paling sulit adalah apakah Raditya
bisa mengerti. Sayang…
maksudku itu tak banyak didukung, ada saja hal yang menghalangi… Suatu
ketika saat aku dan Raditya berencana ke sebuah "tempat belajar" untuk
Raditya, Mbak Rina dari Rohis menghampiriku &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Ayu
bisa nggak aku ngomong sebentar sama kamu," ujarnya tegas. Inilah yang
kusukai dari mbak Rina. Dia tegas. Mungkin aku bisa banyak bertanya dan
meminta pendapat tentang Raditya yang sekarang jadi objek dakwahku. Wah
jadi seru nih………. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Bisa mbak…tapi sebentar dulu ya," jawabku sambil menghampiri Raditya yang dari tadi telah menungguku di parkiran. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Dit, kamu tunggu dulu ya..aku ada urusan," ucapku ke Radit &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Sama Rina ya? Mmhh pasti dikit lagi kamu jauh deh sama aku gara-gara cewek judes kayak dia," ujar Raditya sewot. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Yee…belum apa-apa udah suudzon. Katanya suka sama cewek jilbab. Kok gitu sih" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Tapi gak sama dia. Judes. Kamu hati-hati yah sama dia" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Aku nggak bakal diapa-apain kok sama dia," ujarku mengakhiri pembicaraaan kami. Aku segera menghampiri Mbak Rina. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Pacar kamu?" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Bukan,
mbak," ujarku jujur. Aku sama sekali tidak menyadari pancaran matanya
yang menyangsikan ucapanku. Mbak Rina memang berkesan tidak ramah. Tapi
bukan berarti dia jahat kan? &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mbak Rina mengajakku ke sekretariat Rohis. Dia menyuruhku duduk di hadapannya. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Yu, jujur deh kamu pacaran sama Radit?" tanyanya tegas &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Nggak,"
jawabku singkat. Aku mulai menemukan keanehan dari pertanyaan itu.
Apakah hanya hal ini yang ditanyakan sehingga Mbak Rina mau bicara
denganku. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Yu,
saya bingung sama kamu. Saya pikir kamu cerdas. Kamu yang bisa dibilang
berintelektual unggul, aktifis kemanusiaan dan tak diragukan lagi
kebaikan-kebaikan yang ada di diri kamu. Tapi sungguh bodoh menerima
kenyataan hidup," ujarnya tanpa lepas menatap mataku. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Maksud mbak apa?" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Apakah
dengan jilbab, kamu jadi lebih top, keren. Mau tebar pesona?"
Ucapan-ucapan yang dikeluarkan Mbak Rina lebih cocok untuk momen ospek.
Aku sungguh tak habis fikir. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Mbak ngomong apa sih?" Bisa kurasakan mataku mulai berkaca-kaca. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Yu, aku begitu bangga sama kamu ketika kamu pakai jilbab. Seorang yang bisa mengangkat citra islam.
Tapi kebanggaan saya luntur begitu tahu tujuan kamu," ujar Mbak Rina
tanpa memperhatikan tangisku. Suasana hening. Ruangan ini menjadi lebih
sempit. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Kalau
maksud mbak soal hubungan saya dengan Radit. Saya minta mbak nggak
nuduh saya macam-macam. Mbak nggak lebih tahu banyak tentang saya
daripada saya sendiri. Mbak nggak boleh sembarangan menilai saya
seperti itu. Saya tahu …" ucapanku terputus ketika ada seseorang
membuka pintu. Mbak Shinta menatap kami secara bergantian. Sebenarnya
aku ingin memeluknya. Tapi kutahan, aku harus tegar. "Saya tahu saya
jauh dari Mbak…Mbak lebih pinter dari saya…Tapi saya tidak akan
bertindak lebih bodoh dari mbak…" ucapku meninggalkan mereka. Tak
kuhiraukan lagi panggilan Mbak Shinta. Aku benar-benar kaget dengan
ucapannya. Aku tak mampu mengadu pada siapapun. Apakah aku nggak boleh
belajar dulu, bertahap. Aku benar-benar sedih. Sedih sekali. Tak
kuingat lagi rencananku untuk mendakwahi Raditya. Mengajaknya ke rumah
Ustadz Amir, guru ngajiku di rumah. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Ayu…ini mbak Shinta, maapin Mbak Rina ya…" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Nggak perlu, mbak" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di
rumah aku pun tak bisa mengadu pada siapapun juga. Ibu? Dia pasti akan
menertawakanku. Semenjak aku pakai jilbab Ibu tambah membenciku. Aku
diharapkan cepat menikah agar bisa keluar rumah. Tidak menyusahkan. Tempatku
bekerja memintaku secara baik-baik untuk melepas jilbab kalau tidak aku
tidak bisa bekerja lagi di sana. Memang dengan begitu masalah selesai.
Radit tetap bersamaku tanpa mempedulikan anak Rohis, sikap mama
setidaknya lebih baik lagi dan aku tetap bekerja. Tapi aku tidak
sanggup. Aku tinggalkan semuanya temasuk bekerja karena inilah jalan
yang kupilih. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aku memilih jalan sendiri…Kulakukan semua perintahNya. Kecuali satu aku tak peduli pada siapapun di dunia. Yah,
sejak itu aku benar-benar "sendiri". Tidak bersama Radit. Tidak juga
dengan anak-anak Rohis sekolah. Aku tak pernah menghiraukan omongan
mereka. Aku lelah. Aku terlalu malas mendengar, biar saja aku jalan
sendiri mencari ilmu. Toh di belahan bumi manapun bisa aku dapatkan.
Hatiku kini terlalu kaku untuk merasakan permintaan maaf. Sekarang
aku benar-benar berubah. Tidak seperti Ayunda yang dulu. Aku melakukan
semua keinginanku dan tentunya tidak merugikan siapapun. Berkali-kali
pihak Rohis memintaku, tapi hati ini sudah telalu keras. Aku tinggalkan
semua. Kadang aku berfikir hanya karena omongan satu orang saja aku
bisa berubah sekeras ini. Ahhh tidak omongan Mbak Rina adalah klimaks
kesabaranku. Aku adalah cewek kuper yang tak pernah dianggap ibu. Orang
tuaku menganaktirikanku karena aku perempuan ditambah lagi aku pakai
jilbab. Aku tak pernah dianggap di masyarakat. Aktivitasku tak pernah
berharga di mata mereka. Yah hanya Radit…Tapi dia juga telah
kutinggalkan. Aku benar-benar menjadi manusia egois, yang telah mati. Sungguh menyedihkannya diri ini. Bukan lagi sebagai makhluk sosial. Aku menjadi makhluk individu. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Setahun
sudah kujalani hidup sendiri. Aku tinggalkan rumah. Pergi. Temanku
hanya buku. Mbak Rina, Mbak Shinta dan teman Rohis lainnya tetap
menegurku, mereka masih mengajakku bergabung. Tentunya aku selalu
menolak. Aku masih aktif di LSM. Setidaknya mereka nggak melarang aku
pakai jilbab. Itu semua kulakukan untuk mengisi kesenggangan waktu.
Bukan karena aku mencari teman. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Raditya
masih sama. Dia masih satu sekolah denganku. Aku tak pernah tahu
kabarnya. Aku hanya meminta dia menjauhiku. Dia memang tak memenuhi
permintaanku tetapi setelah sekian lama aku menghindarinya, dia pun
menjauh. Dia telah memiliki teman yang lain. Aku tenang. Kadang
aku merindukan saat bersamanya dulu. Seringkali dia menyapaku,
menatapku…aku hanya menjauh. Rencana-rencanaku yang dulu buyar
seketika. Aku benar-benar menjadi makhluk individu. Aku bosan dengan
omongan orang, maunya setiap manusia. Aku lelah. Aku belajar, tak mau
diganggu dan juga tak akan menganggu ***** &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kini
aku berada di dekatnya lagi, berjanji untuk bersamanya. Tidak
meninggalkannya. Yah sudah dua tahun aku tidak bertemu dengannya
setelah kelulusan. Rupanya teman-teman baru Radit yang sempat membuatku
tenang adalah pecandu dan bandar Narkoba. Aku benar-benar tak tahu dan
ambil peduli. Dulu aku memang telalu picik. Kini aku benar-benar sadar,
sadar yang terlambat. Ternyata jalan yang kuambil dulu benar-benar
salah. Meningalkan semua. Aku hidup tapi tak sebenar-benarnya hidup.
Aku benar-benar manusia naif. Egois. Aku mendapat teguran dari Allah. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Ayu…kamu
cantik yah pakai jilbab," ujarnya tersenyum. Sudah seminggu Raditya
sadar dari tidurnya yang cukup lama. Seluruh keluarganya berterima
kasih padaku. Entah apakah mereka juga tahu kalau aku juga penyebab
rusaknya Radit. Mereka akan berkata apa. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Makasih, Dit." Ujarku singkat. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Kamu masih tegar kayak dulu. Apa kamu masih tetap aktif di mana-mana?" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "yah, begitulah, Dit. Tetapi aku bukan Ayu yang dulu," &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Maksud kamu? Kamu bukan temanku lagi?" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Aku temanmu. Oleh karena itu aku bukan Ayu yang dulu, yang ninggalin kamu. Maafin aku yah…" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Aku ngerti kok, cuma&nbsp; kamu kok jadi berubah banget" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Yah, itu kesalahanku Dit…nggak seharusnya aku ninggalin kamu begitu aja. Maafin aku yah. Kamu begini salah aku kan?" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Nggak. Aku aja yang bodoh" Raditya terdiam, ia memandang langit-langit kamar. "Yu,
mau nggak jadi istriku?" ujarnya tiba-tiba. Aku benar-benar kaget
mendengar ucapan Raditya. Istri? Sejauh itukah akan kutebus kesalahanku? &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Sebelum
aku meninggal aku ingin menggenapkan setengah dienku. Aku terlalu
banyak berdosa. Setidaknya walau umurku tidak lama aku masih ingin
belajar dan itu lewat kamu, " ujarnya. Memang sudah beberapa hari ini
sesuai permintaan Radit, mama Radit memangil ustad untuk belajar. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Iya…," jawabku. Entahlah. *** Kulewati
hari-hari yang berbeda setelah aku mengucapkan janji sebagai istrinya.
Laki-laki yang bisa dibilang tak memiliki masa depan lagi. Niatku bukan
lagi menebus kesalahan. Aku niatkan karena Allah dan sebagai bentuk
rasa penyesalanku pernah berfikir akan hidup sendiri di dunia. Banyak
yang tidak menyetujui pernikahan itu. Termasuk keluarga Radit. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Kamu yakin, nak," tanya mama Radit &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Insya Allah karena Allah. Nikah untuk ibadah, bu" Mama Radit memelukku. Perdebatan
yang tak kunjung selesai adalah perdebatanku dengan ibu. Ternyata
beliau mencintaiku tidak seperti yang aku kira. Beliau begitu sedih
ketika aku mengatakan ingin menikah. Sedih bukan karena calon suamiku
adalah Raditya, tapi sedih karena ditinggalkan anak perempuan
satu-satunya. Beliau menyesal telah menyia-nyiakan aku. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Begitu
banyak hikmah yang telah kuambil semenjak diriku pergi meninggalkan
rasa kasihan. Tenyata prasangkaku selama ini salah. Radit telah
membukakan mataku. Aku yang telah melewati bertahun-tahun untuk hidup
sendiri. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kini
aku bersama suamiku. Dia divonis akan meninggal satu bulan lagi.
Sementara aku telah mengandung anaknya. Apakah aku akan sendiri lagi
begitu ditinggalkannya. Apakah sifatku yang egois itu akan muncul
merasukiku. Aku benar-benar takut. Tak hentinya diri ini menangis. Aku
sangat takut ditingalkan Raditya. Lebih takut ketika aku kembali
bertemu dengannya. Lima bulan aku jalani hiddup bersama dan dia akan pergi karena penyakit-penyakitnya. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Aku
memang tak pernah menjadi suamimu yang baik, tapi setidaknya aku ingin
memberikan yang terbaik bagi kamu" ujarnya dengan nafas terengah-engah
"Ingatlah…kebencian tidak akan melahirkan kecuali hal yang buruk.
Jangan kau tanamkan kenbencian pada dirimu…" &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk
yang terakhir kalinya aku mendegar ucapan seorang yang akan
meningalkanku. Kembali aku dihadapkan dirinya yang sekarat. Terkenang
semua memori bersamanya. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di
ruangan itu aku cuma diam. Tak sanggup lagi aku meneteskan air mata.
Beginilah akhir dari penyesalanku. Orang yang membuka mataku telah
pergi untuk selama-lamanya meninggalkanku bersama benih dalam perutku.&nbsp; Tetapi&nbsp; aku telah memilih, pilihan yang tepat untuk tidak hidup "sendiri" lagi.

*lagi membongkar-bongkar cerpen jaman dulu, nih
&nbsp; &nbsp;

novi_khansa'kreatif
~Graphic Design 4 Publishing~
YM : novi_ningsih
http://akunovi.multiply.com
http://novikhansa.rezaervani.com/

12a.

YUK, SIAP-SIAP PILIH KETUA BARU ESKA

Posted by: "Kabinet Eska" kabinet.eska@gmail.com

Sun Jun 8, 2008 8:39 am (PDT)

Assalamu'alaykum Wr. Wb

Sahabat, gerbong kereta Sekolah Kehidupan akan terus melaju siapapun
masinisnya. Sebagai penumpang sekaligus murid yang baik, gunakan hak pilih
Anda untuk pemilihan Ketua Eska periode 2008-2009.

Pemilihan Raya (Pemira) akan dimulai pada awal Juli 2008.

Dan tepat pada HUT ke-2 Sekolah Kehidupan tanggal 27 Juli 2007, sang ketua
baru akan terpilih dan dikukuhkan.

Sementara itu layangkan kritik, saran atau komentar Anda mengenai
program-program Kabinet Eska serta profil ketua Eska yang diinginkan ke
email *kabinet.eska @ gmail.com* (hilangkan spasi). Ditunggu sampai akhir
Juni 2008

Tetap Semangat

Wassalamu'alaykum Wr. wb

Nursalam AR

--
"Comfort home for all"
13a.

[Donasi Buku] Ditutup 1 Juli

Posted by: "Kabinet Eska" kabinet.eska@gmail.com

Sun Jun 8, 2008 8:39 am (PDT)

Assalamu'alaykum Wr wb

Tetap Semangat

Sahabat Eska

Donasi Buku Eska ditutup tanggal 1 Juli

Masih ditunggu partisipasi sahabat Eska untuk mendonasikan bukunya. :)

Kontak ke *novi khansa (novi_ningsih @ yahoo. com [hilangkan spasi])
di no HP. 0812 1894517*

Buku bisa dikirimkan ke alamat Novi
*Kompleks Perumkar DKI
Blok Q1/16 Rt. 009/02
Pondok Kelapa
Jak-Tim 13450
*

Selain itu bagi yang ingin menyumbangkan dalam bentuk uang bisa transfer ke
ke no.rekening* 1640311017 BCA Kali Malang
a.n Noviyanti Utaminingsih
*

Donasi Buku Eska akan dialokasikan untuk
1. Pondok Yatim di YK yang dibangun Portal Infaq
2. Rumah Cahaya Penjaringan

Mewakili pengurus SK, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya
kepada para donatur. Semoga Allah membalas segala amal baiknya. amiin :)

Tetap Semangat

Wassalammu'alaykum Wr wb

a.n
Nursalam AR
ketua SK

--
"Comfort home for all"
14.

[ESKA IDOL] DIPERPANJANG (jangan lupa cc ke email kabinet)

Posted by: "Kabinet Eska" kabinet.eska@gmail.com

Sun Jun 8, 2008 8:40 am (PDT)

Assalamu'alaykum Wr Wb

Tetap Semangat

Sahabat Eska,

*ABOUT ESKA IDOL

*

1. Eska Idol diperpanjang sampai 15 Juni

2. Setelah nominator terpilih pada 20 juni, mereka akan mengikuti kompetisi
internal dengan juri-juri Eska.

3. Eska Idol yang mendapat urutan tertinggi versi dewan juri kembali akan
dipilih melalui votingg oleh sahabat Eska. Yang mendapat suara terbanyak
akan dinobatkan sebagai Eska Idol 2008.

Salam

Nursalam Ar

--
"Comfort home for all"
15.

SK MEMPERTEMUKAN (JODOH) KAMI

Posted by: "CaturCatriks" akil_catur@yahoo.co.id   akil_catur

Sun Jun 8, 2008 5:42 pm (PDT)

SK MEMPERTEMUKAN (JODOH) KAMI
Oleh CaturCatriks

Pernikahan impian saya tak perlu perjanjian pra-nikah. Bagi saya, janji seorang pria kepada Tuhan saat ijab kabul adalah janji yang paling utama. Karena itu adalah janji seorang pria pada penciptanya, Sang Maha. Dan saya selalu percaya, bahwa para pecinta Tuhan, tak akan pernah berani untuk mendustaiNya.
***

Karena ingatan yang cukup pendek, saya lupa dengan kalender. Tepatnya kapan dan hari apa saya mulai bergabung dengan milis Sekolah Kehidupan (SK). Mungkin, sekarang waktu tidak begitu penting. Aku hanya sedikit ingat tentang proses. Tapi ketika sampai pada tahap yang tak terduga, saya menyadari bahwa sesuatu yang terabaikan, bisa menjadi cukup penting jika aku menuliskannya. Karena di milis Sekolah Kehidupan inilah, kutemukan jodohku.

Adalah hari-hari yang lesu saya lewati. Saat itu saya baru saja jatuh untuk sebuah urusan yang cukup serius. Emosi saya sangat tidak stabil. Banyak diam, banyak menatap dengan pandangan kosong, gampang tersinggung.

Hari kerja kantor yang tidak produktif, saya gunakan untuk membuka-buka yahoogroups. Begitu banyak milis tersedia di sana. Dengan pemilihan yang tidak saksama, saya bergabung dengan beberapa milis sekaligus. Sengaja saya ikut banyak milis karena sekarang milis ibarat angin yang bertiup kencang masuk ke rumah manakala pintunya dibuka, dengan membawa sekian banyak informasi.

Milis yang saya ikuti hanya sedikit yang ber-web. Di antara yang sedikit tersebut, salah satunya adalah milis SekolahKehidupan (SK).

Sebelum saya meng-klik sebagai awal penggabungan, terlebih dahulu saya buka content web, saya baca, saya jatuh hati, dan saya subcribe. Banyak arsip tulisan di web SK yang saya baca sekali dan ternyata saya tidak cukup puas karena isinya terlalu menarik. Maka saya mengopi arsip-arsip tulisan tersebut dan saya simpan pada folder tersendiri untuk saya baca kembali di lain kesempatan.

Saya tidak langsung menjadi anggota yang aktif, tapi saya cukup memerhatikan dengan membaca postingan yang masuk, yang saat itu belum begitu membanjir. Sampai akhirnya, pada saat itu di milis sedang ramai-ramainya mempersiapkan HUT SK yang pertama, termasuk juga pengumuman lomba menulis dengan tema hikmah kehidupan.

Saya ikut menulis. Dan karena pengumuman tulisan akan dibacakan pada saat acara ulang tahun SK di Rasuna Said, Jakarta, maka saya ikut mendaftar sebagai peserta. Alhamdulillah, tulisan saya terpilih.

Pada saat acara ultah SK I di Rasuna Said itulah untuk pertama kalinya saya melihat seorang gadis bermata belo dan berjilbab hitam, duduk di kursi urutan kesekian.
Kami tak saling menyapa, atau berkenalan, atau mencuri pandangan. Saya hanya melihat begitu saja di antara banyak orang. Begitu saja, tak ada apa-apa, sampai acara selesai dan pulang. Bahkan saya tidak mengenal namanya.

Dan seperti sebuah jalan yang tersambung-sambung, kegiatan SK selalu mempertemukan kami, yang kebetulan sering sama-sama kebagian menjadi panitia. Seingatku, hanya ada 3 pertemuan di SK yang mempertemukan kami. Yang pertama seperti yang telah disebut, yaitu pada ulang tahun SK I, yang kedua cucurak dan sosialisasi program kerja di Bogor, serta yang ketiga adalah raker SK di Bandung. Aku sudah lupa untuk masing-masing bulannya. Dan dalam tiga pertemuan itu, hubungan kami seperti hubungan dengan teman-teman yang lain, bahkan kami terlihat jauh, tidak akrab, dan tidak berpotensi.
Tapi saya telah tahu kalau gadis itu bernama Retnadi Nur̢۪aini (Retno).

Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Kita hanya tahu setelah esok hari berganti dengan hari ini. Alloh telah memasukkan siang ke dalam malam dan malam ke dalam siang. Ia memberikan kekuasaan terhadap apa yang Ia kehendaki.
Dan pada waktu yang berjalan, lewat postingan-postingan di milis, saya atau tepatnya kami, seperti merasakan ada gejala yang lain. Mungkin samar bila diidentifikasikan. Tapi saya menyebutnya sebagai gejala ketertarikan.

Gejala ketertarikan tersebut menempati waktu yang cukup lama sampai akhirnya saya tersadar bahwa hal tersebut tidak boleh dibiarkan menggantung. Dengan ragu yang diyakinkan dan dengan takut yang saya beranikan, setelah berdoa, saya ajak dia untuk bertemu secara khusus, walau tidak di tempat yang spesial.
(Saat itu, benakku masih berkata, bahwa aku bukanlah tipe-nya).

Saat pertemuan tiba, langsung saja kuajak dia untuk membina hubungan yang serius. Mirip sebuah ta̢۪aruf (perkenalan), kusampaikan apa-apa yang bisa kusampaikan tentang diriku, keluargaku, keadaanku saat itu, dan sedikit keinginan dan cita-citaku ke depan. Kusampaikan juga bahwa saya adalah laki-laki yang tidak berpredikat, tidak gaul, dan jauh dari kata mapan (walau saya sendiri kurang sepakat jika ini menjadi alasan substansial). Tapi bagaimanapun isi perkenalan ini menempati posisi yang cukup penting. Karena diakui atau tidak, banyak para bujang yang menunda pernikahan hanya karena alasan materi dan banyak para perempuan yang meragukan ajakan dari laki-laki yang berpenghasilan minim.

Dengan penyampaian yang kurang begitu lancar, kuutarakan yang aku anggap perlu. Termasuk juga keyakinan bahwa apabila kita serius mempersiapkan urusan nikah, pasti Alloh akan membantu sesuai dengan janjiNya.

Saatnya meminta jawaban. Saat hati menegang akan kata yang segera ia utarakan. Karena kali pertama itulah saya mengajak seorang wanita untuk membina hubungan yang serius secara langsung.
Ia menjawab dengan isyarat yang begitu nyata, khas seorang perempuan. Dia menyambutku dengan sebuah anggukan. Walau pelan, anggukan kepala itu tiba-tiba menjadi sebuah gerakan yang begitu indah. Seperti bunga yang mekar dengan gerak slowmotion. Kulafalkan alhamdulillah sebagai rasa syukur.

Agar lebih tegas, kutemui kedua orangtuanya dan bilang bahwa aku serius dengan anaknya untuk membina hubungan ke arah pernikahan. Mereka menyambut dengan positif, walau sebenarnya kedatanganku cukup mengaggetkan. “Kok, cepat sekali dan tiba-tiba?” Mungkin itu yang ingin mereka katakan. Tidak apa-apa saya kira. Untuk urusan ini, memang harus disegerakan, tapi bukan berarti terburu-buru.

Dalam waktu yang pendek, aku segera melamarnya. Walau datang dengan Om dan Tante, tapi aku melamarnya sendiri. Sedikit gugup memang ketika bicara untuk mengkhitbah. Tapi harus diberanikan. Lebih ‘berasa’ sepertinya jika kita tertarik dengan seorang perempuan, kita sendirilah yang melamarnya, bukan diwakili oleh orangtua atau wakil-wakil lain. Alhamdulillah, lamaranku bersambut. Semua lancar, tampaknya.

Baru kemudian setelah pulang, aku tersadar sepenuhnya apa yang akan saya hadapi: mempersiapkan sebuah pernikahan. Buru-buru kuhitung jumlah tabunganku, buru-buru kuhitung jarak persiapan, dan kemudian menyimpulkan, “Bahkan untuk acara sederhana tanpa resepsipun, jumlah tabunganku sama sekali tidak cukup”. Gajiku selama ini sudah aku gunakan untuk keperluan yang lain dan aku tak bisa mengandalkan orang tua. Dahiku berkerut.

Hari-hari menjelang pernikahan, saya selalu dipenuhi dengan perasaan takut, ragu-ragu, dan bingung. Bagaimana caranya, bagaimana caranya.

Untuk sebuah defence atau apologi, saya beranggapan bahwa masalah seperti ini memang harus dihadapi oleh setiap orang yang akan menikah. Masalah kepercayaan diri (untuk menjadi qawam keluarga) dan masalah yang sangat klise, tapi berat dan memusingkan, biaya. Tapi bukan berarti ini menjadi penghalang atau penunda pelaksanaan.

Di tengah kebingunganku, tiba-tiba saya mendapat imel dari calon istri. Imel berupa ekspektasi yang begitu tinggi, tapi sederhana, mengagetkan sekaligus menenangkan. Imel tersebut berjudul “Pernikahan Impian Saya”.
Bunyi imel tersebut antara lain:

Pernikahan impian saya tak perlu perjanjian pra-nikah. Bagi saya, janji seorang pria kepada Tuhan saat ijab kabul adalah janji yang paling utama. Karena itu adalah janji seorang pria pada penciptanya, Sang Maha. Dan saya selalu percaya, bahwa para pecinta Tuhan, tak akan pernah berani untuk mendustaiNya.

Pernikahan impian saya tak perlu perayaan megah. Saya tak membutuhkannya. Bagi saya, lebih penting adalah rencana setelahnya.

Pernikahan impian saya tak perlu mahar luar biasa ataupun seserahan tujuh rupa. Tapi saya tahu, mahar saya mahal harganya. Saking mahalnya, mahar yang nantinya akan saya minta, calon suami saya malahan tak akan bisa menemukannya di toko serba ada. Karena mahar itu berupa niatan untuk terus memperbaiki diri dan juga tanpa henti untuk terus belajar saling memahami.

Pernikahan impian saya tak perlu gaun pengantin sewarna dengan taplak meja. Saya tahu, apapun yang akan saya kenakan nantinya, saya akan tampak istimewa. Karena gaun pengantin saya telah ditenun dengan menggunakan benang-benang terindah di dunia. Namanya, benang-benang bahagia. Bahagia ini pula yang nantinya akan digunakan untuk merias wajah saya, sehingga saya percaya, bahwa apapun riasannya, saya akan tampak cantik luar biasa.

Pernikahan impian saya tak perlu banyak bunga. Karena saya tahu, setiap hari dari sisa umur saya nantinya akan diisi oleh saya dan suami saya dengan mengumpulkan bunga-bunga tercantik di dunia. Untuk kemudian ditanam dalam pot-pot bunga yang menghiasi setiap sudut ruang hati saya. Tempat di mana kami nantinya akan bercengkerama setiap petang. Menanti matahari terbenam, sambil mengagumi kecantikan bunga-bunga langka ini, yang dengan ajaibnya akan mekar sepanjang masa.
***
Aku ingat sebuah kalimat, “Jika kau berurusan dengan orang yang akan menikah, maka mudahkanlah urusannya, mudahkanlah urusannya.” Dan betapa saya sangat bersyukur bahwa saya telah dipermudah jalan oleh calon istri saya sendiri.

Seiring dengan harapan, kami (saya, calon istri, dan kedua ortu kami) bersepakat untuk mengadakan acara pernikahan dengan sederhana tanpa resepsi, pun untuk tidak mengabarkan kepada teman-teman.
Tapi karena sebuah pernikahan harus dikabarkan, maka kami menyiarkannya setelah selesai pelaksanaan, dengan risiko, ini akan cukup mengagetkan dan mengundang banyak pertanyaan. Tidak jadi soal. Sepanjang kita benar, sedikit perbedaan bisa dibuat, yang penting kita bisa menempatkan kemampuan pada posisi yang nyaman.

Begitulah.
Tapi urusan bukan berarti sudah selesai. Setelah aku beli ini, beli itu, bayar persiapan ini persiapan itu, uang saya habis sama sekali, sedang waktu nikah tinggal lima hari.

Tapi saudaraku, sekali lagi, pertolongan Alloh ternyata begitu dekat. Tiga buku anak yang aku tulis (yang satu bersama seorang teman), dan lama tak ada kabarnya, tiba-tiba saja dibayar! (walau hanya baru uang mukanya). Alhamdullillah, begitu longgar benakku yang tengah sesak.

Pagi, 1 Mei 2008, di Masjid Baiturrohmah, Petamburan, Jakarta Barat, kami melangsungkan akad nikah, diawali pembacaan dua kalimat syahadat, dengan mahar seperangkat alat sholat, Catur Sukono dan Retnadi Nur̢۪aini resmi menjadi suami istri.

Segala puji bagi Alloh. Semoga Ia memberkahi kehidupan kami dan diberi keturunan yang shaleh/hah.
Barakallohu



Special dedicated to:
Istriku, Retnadi Nur̢۪aini (Retno). I love you!

Thanx to:
1. Keluarga yang selalu mengiringi kami dengan kasih dan doa
2. Mas Nursalam dan Mas Suhadi (plus istri dan 3 jagoannya) yang datang di hari bahagia
3. Teman-teman SK yang datang dalam syukuran kecil tanggal 18 Mei ‘08
4. Teman-teman SK Bogor, Taufiq, Asma, dan Nia atas kehangatan selama ini
5. Mas Dani dan Mas Epri yang membantu istriku untuk bergabung dan belajar dengan/pada sebuah organisasi harokah. Jazakalloh
6. Sahabat-sahabat SK semuanya, di manapun berada dan pada kesempatan apa pun



CaturCatriks

Editor - Penulis
http://caturcatriks.blogspot.com

---------------------------------
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.
16.

ETIKA DEMONSTRASI

Posted by: "galih@asmo.co.id" galih@asmo.co.id

Sun Jun 8, 2008 6:58 pm (PDT)

ETIKA DEMONSTRASI
Oleh : Galih Ari Permana

Pada harian Republika edisi jumat 6 Juni 2008 saya menbaca sebuah tulisan
yang cukup menarik dan memberikan banyak pelajaran. Tulisan tersebut
berjudul Fikih Demonstrasi yang ditulis oleh Nur Faizin Muhith seorang
mahasiswa pascasarjana Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, dan calon mufti
di Darul Ifta' Mesir. Tulisan ini menarik untuk dicermati di tengah
maraknya demonstrasi-demonstrasi yang berujung dengan kerusuhan dan
bentrokan yang cenderung mengakibatkan kerugian bagi semua pihak.
Tulisan tersebut mengupas persoalan demonstrasi mulai dari secara bahasa
dan bagaimana Islam membahas masalah ini. Nur Faizin Muhith menuliskan
bahwa menurut KBBI 1997 demonstrasi adalah pernyataan protes yang
dikemukakan secara massal, baik protes itu ditujukan kepada seseorang
maupun kelompok atau pemerintahan. Sementara Ensiklopedi Britanic online
memberikan definisi demonstrasi dengan a public display of group feelings toward a person or cause (tahun 2008).
Menurutnya, di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia, demonstrasi
seakan menjadi sebuah cara bagi orang lemah yang terbungkam untuk
menyuarakan inspirasi kepada pihak yang kuat. Secara khusus di Indonesia
semenjak demo akbar yang digelar mahasiswa menurunkan Presiden Soeharto
pada 1998 lalu, demonstrasi selalu menjadi kejadian yang menghiasi
berita-berita harian masyarakat Indonesia.
Lebih lanjut Nur Faizin Muhith menjelaskan kata demonstrasi dalam bahasa
arab diterjemahkan dengan muzhaharat (demonstrasi) dan juga masirah (long- march). Dua kata yang hampir mirip tetapi dalam pandangan Islam memiliki muatan
hukum yang tidak sama. Jika yang pertama sering mendekati pada hukum haram
(hurmah), yang kedua seakan sangat jelas dibolehkan (ibahah). Keduanya dibedakan dari tindakan-tindakan para demonstran ketika
menyampaikan suara dan juga bentuk tuntutan atau protes itu sendiri.
Jika kembali pada Alquran, dua kata tersebut dalam arti sebagaimana
definisinya tidak dapat ditemukan juga dalam definisi yang lain. Begitu
juga di dalam hadis-hadis Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa
demonstrasi adalah sebuah fenomena baru yang muncul dikarenakan kebebasan
berpendapat yang sering terbungkam, tidak terdengar, atau mungkin sengaja
tidak didengarkan.
Dalam sejarah Rasulullah SAW dan kepimimpinannya selama Makkah dan
Madinah, kita belum pernah membaca kejadian demonstrasi yang menuntut
Rasulullah atas hak atau kebijakannya karena beliau memang seorang Rasul
dan pemimpin yang telinganya sepenuhnya diberikan untuk mendengarkan
umatnya yang terpimpin.
Ada beberapa kejadian yang dilakukan oleh Rasulullah beserta para
sahabatnya yang mirip dengan demonstrasi. Kejadian-kejadian itu antara
lain pertama tatkala umat Islam di Makkah sedang berkumpul di rumah
Al-Arqam, Umar bin Khaththab datang untuk menyatakan keislamannya.
Kemudian Umar bertanya,"Bukankah kita berada di atas kebenaran ya
Rasulullah? Lalu kenapa dakwah masih secara sembunyi-sembunyi?"
Saat itulah semua sahabat berkumpul dan membentuk dua barisan, satu
dipimpin Umar dan satu lagi dipimpin Hamzah bin Abdul Muththalib. Mereka
kemudian berjalan rapi menuju Kabah di Masjidil Haram dan orang-oang kafir
Quraisy menyaksikannya. (Imam As-Suyuthi:kitab Tarikh Al Khulafa
halaman:114).
Kejadian ini dalam bentuk terminologi di atas adalah masirah atau long-march yang jelas diperbolehkan. Atau bahkan dianjurkan jika dalam kondisi
tertekan sementara kita dalam posisi lemah seperti kondisi umat Islam
saat pertama kali dakwah di Makkah yang ditekan oleh kaum kafir Quraisy di
Makkah.
Kedua, ketika turun perintah dari Allah SWT kepada Rasulullah untuk
berdakwah secara terang-terangan (QS Asy-Syuara:214) beliau kemudian
memanggil seluruh kerabatnya dan kabilah-kabilah di Makkah untukberkumpul
di bukit Shafa. Setelah berkumpul, beliau kemudian berorasi tentang agama
yang dibawanya secara argumentatif dan logis. (kitab Tafsir Ibn Katsir,
vol:3, halaman:350)
Meskipun ini dilakukan Rasulullah sendiri, tetapi orasi tentang Islam dan
dakwahnya dengan mengumpulkan penduduk Makkah ketika itu mirip
demonstrasi yang terjadi sekarang. Yang jelas Rasulullah ingin menyuarakan
suara Allah yang selama ini ditekan dan disembunyikan.
Ketiga, pada waktuumrah qadha tahun 7H, Rasulullah datang bersama sahabat
Muhajirin dan Anshar ke Makkah untuk melakukan umrah yang sempat dilarang
kafir Makkah di tahun sebelumnya. Dalam umrah ini, Rasulullah
memerintahkan kepada umat Islam agar terlihat gagah dan kuat untuk menepis
anggapan kafir Makkah bahwa umat Islam di Madinah menjadi lemah karena
penyakitan. (kitab Uyun Al-Atsar, vol:2, halaman:185).
Dalam kejadian-kejadian di atas, Nur Faizin Muhith menyatakan bahwa sama
sekali tidak pernah dijumpai perbuatan pengrusakan atau
perbuatan-perbuatan anarkis yang sudah layaknya sering dilakukan oleh para
demonstran saat ini. Lebih-lebih ketika keinginannya tidak dapat dipenuhi
atau aspirasinya tidak disetujui.
Menurut Nur Faizin Muhith, ada beberapa kesalahan yang seharusnya tidak
dilakukan dalam demonstrasi, antara lain pertama mendahului suara Tuhan.
Artinya, demo dilakukan untuk menentang suara yang sudah jelas-jelas
menjadi perintah Tuhan di muka bumi. Dalam hal inilah Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, jangalah kamu mendahului (suara) Allah dan
Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui. (QS Al Hujarat:1).
Menyuarakan protes menentang perintah Allah dan Rasul-Nya adalah
mendahului suara-Nya yang dilarang dalam ayat tersebut. Kedua, overacting dalam berorasi mengungkapkan protes sehingga terkesan berlebih-lebihan.
Di dalam Alquran Allah telah mengingatkan agar tidak terlalu mengeraskan
suaranya berlebih-lebihan. Firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengeraskan suaramu melebihi
suara Nabi. (QS Al-Hujarat:2) berlebihan pada umumnya memang dilarang dalam Islam.
Ketiga, provokasi yang hanya bertujuan meluapkan emosi tanpa dibarengi
dengan saran untuk selalu tertib dan bergerak sesuai kesepakatan.
Provokasi seperti itulah yang disebut sebagai hasutan. Seharusnya
provokasi dibarengi dengan penekanan kesabaran pada siri para demonstran
sehingga demonstrasi bisa hidup dan berjalan dengan aman.
Keempat, demonstrasi yang merugikan baik terhadap pihak yang bersangkutan
yang didemo maupun yang tidak bersangkutan. Larangan ini ditegaskan Allah
dalam berbagai ayat Alquran di antaranya firman-Nya: Sesungguhnya Allah tidak menyukai (membenci) orang-orang yang berbuat
kerusakan. (QS Al-Qashash:77).
Kelima, melakukan penyiksaandiri sendiri, seperti mogok makan sehingga
beberapa dari mereka harus dilarikan ke rumah sakit. Penyiksaan terhadap
diri sendiri dilarang dalam Islam, apalagi jika sampai membahayakan nyawa.
Allah menegaskan:Dan janganlah kamu menatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan. (QS Al-Baqarah:195).
Penjelasan Nur Faizin Muhith mengenai etika berdemonstrasi kiranya bisa
memberikan gembaran bagaimana seharusnya penyampaian aspirasi dilakukan.
Demonstrasi yang disertai tindakan anarkis akan lebih memberikan madharat
daripada manfaatnya. Di satu sisi pihak yang menjadi objek demonstrasi
haruslah lebih peka dan menyediakan telinganya lebar-lebar untuk dapat
mendengarkan apa yang mejadi aspirasi para demonstran seperti yang
dilakukan oleh Rasulullah pemimpin yang telinganya sepenuhnya diberikan
untuk mendengarkan umatnya yang terpimpin.
Wallahu'alam.
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Files to share?

Send up to 1GB of

files in an IM.

Dog Fanatics

on Yahoo! Groups

Find people who are

crazy about dogs.

Y! Groups blog

the best source

for the latest

scoop on Groups.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
MARKETPLACE
Blockbuster is giving away a free trial of Blockbuster Total Access to smart movie lovers like you.

Tidak ada komentar: