Selasa, 19 Mei 2009

[daarut-tauhiid] Saudaraku, hargailah waktumu!



Saudaraku, hargailah waktumu!

"Facebook merajalela"
Itulah kesan singkat di benak saya hasil dari berbincang-bincang dengan
seorang teman yang sangat tidak senang saudaranya terjerumus dalam
kejelekan. Sehingga hal itu mendorong saya untuk menyusun tulisan singkat
ini.
Berjam-jam membaca al-Qur'an sesuatu yang amat jarang kita lakukan.
Berjam-jam mengikuti kajian kitab pun jarang kita lakukan. Berjam-jam
membolak-balik kitab para ulama pun sulit untuk kita saksikan pada
kebanyakan sosok pemuda muslim di jaman ini. Namun, berjam-jam di depan
internet tanpa ada aktifitas yang jelas dan bermutu adalah sesuatu yang
lumrah. Terlebih lagi dengan adanya facebook yang kini marak di dunia
maya. Sungguh benar Allah ta'ala yang berfirman (yang artinya),
"Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam
kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS. al-'Ashr : 1-3).
Perkembangan teknologi bukanlah sesuatu yang bisa disalahkan. Hanya saja,
kebanyakan orang tidak bisa menggunakan produk kecanggihan teknologi itu
dengan sebagaimana seharusnya. Cobalah kita ingat beberapa belas tahun
yang silam, ketika televisi masih menjadi barang langka, ketika internet
dan hp belum meluas sebagaimana sekarang. Niscaya akan kita dapati banyak
kemungkaran yang dahulu jarang kita temukan terjadi secara terang-terangan
ternyata pada jaman sekarang ini sudah menjadi barang yang biasa dan
lumrah menghiasi PC, laptop, dan perangkat komunikasi para generasi muda.
Allahul musta'an! Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam,
"Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah bak potongan-potongan
malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman namun di
sore harinya dia telah menjadi kafir." Atau "Pada sore hari masih beriman
namun di pagi harinya dia menjadi kafir." "Dia rela menjual agamanya demi
mendapatkan sekeping kesenangan dunia." (HR. Muslim).
Saudaraku -semoga Allah menjaga diriku dan dirimu- waktu yang Allah
berikan kepada kita merupakan nikmat yang sangat agung. Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ada dua buah nikmat yang
kebanyakan manusia terpedaya karena tidak bisa menggunakan keduanya dengan
baik, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari). Hasan al-Bashri
rahimahullah mengatakan, "Hai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah kumpulan
perjalanan hari. Setiap kali hari berlalu maka lenyaplah sebagian dari
dirimu." Ada orang yang mengatakan, "Waktu bagaikan pedang, kalau kamu
tidak menebasnya -dengan kebaikan- maka dia akan menebasmu -dengan
keburukan-." Hidup di dunia adalah sementara ya akhi…, untuk apa kita
buang waktu kita dalam perkara-perkara yang sia-sia? Allah ta'ala
berfirman (yang artinya), "Apakah kalian mengira, bahwa Kami menciptakan
kalian sia-sia belaka, dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?".
(QS. al-Mukminun : 115). Allah juga berfirman (yang artinya), "Kemudian
sesudah itu kalian juga akan mati, lantas kalian kelak akan dibangkitkan
pada hari kiamat." (QS. al-Mukminun : 15-16).
Setiap mukmin, ketika ditanya; untuk apa anda hidup? Niscaya selama
akalnya masih waras akan menjawab; untuk beribadah kepada Allah.
Benar-benar jawaban yang cerdas. Namun, ketika kita perhatikan dengan
seksama aktifitas dan perilaku manusia di alam nyata dalam bentuk
gerak-gerik mata, jari-jemari, tangan dan kakinya, di kala siang, sore
atau malam hari, maka akan kita temukan realita yang berkebalikan seratus
delapan puluh derajat dari jawaban yang mereka lontarkan. Mereka makan
untuk memenuhi hawa nafsu. Mereka memandang untuk memenuhi hawa nafsu.
Mereka berjalan untuk mencapai apa yang diinginkan oleh nafsu. Mereka
begadang juga untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu. Mereka buka mata dan
telinga lebar-lebar pun untuk memenuhi keinginan hawa nafsu. Kita tidak
sedang menyibukkan diri dengan membicarakan aib orang lain, namun yang
kita bicarakan adalah aib-aib kita yang Allah sendirilah yang paling tahu
betapa banyak aib kita di mata-Nya. Meskipun demikian, kita seperti orang
yang masa bodoh dengan dosa-dosanya. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu
mengatakan, "Seorang mukmin akan melihat dosanya bagaikan sebuah bukit
besar yang akan menimpa dirinya. Sedangkan seorang yang fajir (berdosa)
akan melihat dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap di depan
hidungnya kemudian dia halau dengan jari dengan santainya."
Subhanallah! Betapa jauhnya kita dengan akhlak salafus shalih. Ibnu Abi
Mulaikah mengatakan, "Aku berjumpa dengan tiga puluh sahabat Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka semua merasa khawatir dirinya
tertimpa kemunafikan." Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, "Seorang
mukmin akan memadukan di dalam dirinya antara ihsan/perbuatan baik dengan
rasa takut. Sedangkan seorang yang munafik akan memadukan di dalam dirinya
antara perbuatan jelek dengan rasa aman dari tertimpa hukuman." Allahul
musta'aan! Di manakah posisi kita wahai saudaraku!
Perhatikanlah wahai saudaraku -semoga Allah membimbingmu- sesungguhnya
syaitan dan bala tentaranya tidak henti-henti berupaya untuk menjerumuskan
umat manusia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya singgasana Iblis berada di atas lautan. Maka dia mengutus
pasukan-pasukannya demi menyesatkan manusia. Bala tentaranya yang paling
mulia kedudukannya di sisi Iblis adalah yang paling dahsyat menimbulkan
kekacauan." (HR. Muslim). Suatu ketika, Aisyah radhiyallahu'anha mendapati
suaminya yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkannya di
suatu malam, maka Aisyah pun merasa cemburu. Setelah pulang, Nabi melihat
kegelisahan yang ada padanya, lalu Nabi berkata, "Ada apa denganmu wahai
Aisyah? Apakah kamu merasa cemburu?". Aisyah mengatakan, "Bagaimana orang
sepertiku tidak merasa cemburu kepada seorang suami yang seperti anda?".
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apakah syaitanmu
telah mendatangimu?". Aisyah berkata, "Wahai Rasulullah, apakah bersamaku
ada syaitan?". Beliau menjawab, "Iya." Lalu Aisyah berkata, "Apakah semua
orang juga demikian?". Beliau menjawab, "Iya." Aisyah kembali bertanya,
"Demikian juga anda wahai Rasulullah?". Beliau menjawab, "Iya, hanya saja
Allah telah membantuku untuk menundukkannya sehingga akhirnya dia pun
masuk Islam." (HR. Muslim).
Ketika dahulu para sahabat duduk bersama untuk berbicara dan menasehati
dalam rangka menambah keimanan dan ketakwaan. Eee … pada hari ini sebagian
dari kita justru berkumpul dan saling bahu membahu untuk memupuk
kemaksiatan dan merontokkan tembok keimanan. Tidakkah kita ingat firman
Allah ta'ala (yang artinya), "Pada hari kiamat itu nanti orang-orang yang
saling berkasih sayang dan berteman akan berubah menjadi saling bermusuhan
kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS. az-Zukhruf : 67). Maka, dengan
andil besar dari syaitan dan bala tentaranya itulah, terbentuklah
geng-geng, perkumpulan-perkumpulan, gerakan-gerakan, yang semuanya
memiliki satu kecenderungan yang seragam yaitu bertekad bulat untuk
mendurhakai ar-Rahman Sang penguasa kerajaan langit dan bumi. Dengan
keyakinan mereka, mereka menanamkan bahwa kehidupan dunia adalah lahan
untuk memuaskan hawa nafsu dan mengumbar kesombongan. Dengan ucapan
mereka, mereka ingin mengelabui kaum muda bahwa tidak ada gunanya
rajin-rajin menuntut ilmu agama, lebih baik sibuk dengan wawasan terkini
dan meninggalkan al-Qur'an. Dengan sikap dan perbuatan mereka, mereka
mengajak masyarakat dan para orang tua untuk bersama-sama menenggelamkan
putra-putri mereka dalam pergaulan bebas tanpa batas, sehingga perbuatan
keji pun dengan leluasa merajalela. Apakah maknanya ini semua, wahai
saudaraku yang mulia… akankah kita biarkan kemungkaran itu terus
merajalela dan merusak tunas-tunas bangsa?
Oleh sebab itu, seorang pemuda muslim yang masih menyimpan kecintaan
kepada Allah dan rasul-Nya hendaknya menanamkan tekad di dalam hatinya
agar tidak ikut memperkeruh raut muka umat Islam masa kini di hadapan Rabb
mereka. Jadilah sebagaimana pemuda Ibrahim yang getol untuk memperjuangan
tauhid dan memberantas syirik yang ada di masyarakatnya! Jadilah
sebagaimana para pemuda Kahfi yang beriman kepada Allah dan Allah pun
berkenan menambahkan hidayah kepada mereka! Jadilah sebagaimana Ali bin
Abi Thalib yang sangat keras memusuhi musuh-musuh Islam yang berani
melecehkan sahabat Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam! Jadilah
sebagaimana para pemuda Anshar yang berlomba-lomba untuk maju ke medan
jihad demi mempertahankan agamanya! Jadilah sebagaimana Uwais al-Qarani
yang sangat berbakti kepada ibunya!
Saudaraku, salafuna as-shalih adalah orang-orang yang sangat pelit dengan
waktunya dan paling gigih dalam menjaga lisan mereka. Allah ta'ala
berfirman (yang artinya), "Apakah mereka itu mengira bahwa Kami tidak
mendengar rahasia dan bisik-bisikan mereka? Sebenarnya Kami mendengar, dan
para utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi mereka." (QS.
az-Zukhruf : 80). Allah ta'ala juga berfirman (yang artinya), "Tidak ada
kebaikan di dalam kebanyakan perbincangan mereka kecuali orang yang
menyuruh bersedekah, mengajak yang ma'ruf, atau mendamaikan di antara
manusia." (QS. an-Nisa' : 114). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, "Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang adalah
meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya." (HR. Tirmidzi, hasan).
Sebagian orang bijak mengatakan, "Apabila kamu akan berbicara maka
ingatlah bahwa Allah mendengar ucapanmu. Apabila kamu diam, maka ingatlah
bahwa Allah juga selalu mengawasimu." (lihat Jami' al-'Ulum wa al-Hikam,
hal. 152).
Ikhwah sekalian, tauhid bukan sekedar tulisan yang tergores di buku-buku.
Tauhid bukan sekedar dihafal di dalam pikiran. Tauhid juga bukan sekedar
slogan-slogan kosong tanpa makna. Tauhid yang bersemayam di dalam hati
seorang insan tentu akan membuahkan amal nyata di dalam kehidupan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, "..pokok keimanan
itu tertanam di dalam hati yaitu ucapan dan perbuatan hati. Ia mencakup
pengakuan yang disertai pembenaran dan rasa cinta dan ketundukan.
Sedangkan apa yang ada di dalam hati pastilah akan tampak konsekuensinya
dalam perbuatan anggota-anggota badan. Apabila seseorang tidak melakukan
konsekuensinya maka itu menunjukkan bahwa iman itu tidak ada atau lemah
[padanya]. Oleh karena itu maka amal-amal lahir itu merupakan konsekuensi
dari keimanan di dalam hati. Ia merupakan pembuktian atas apa yang ada di
dalam hati, tanda dan saksi baginya. Ia merupakan cabang dari totalitas
keimanan dan bagian dari kesatuannya.…" (Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah
[2/175] as-Syamilah, lihat juga Mujmal Masa'il al-Iman al-'Ilmiyah, hal.
15).
Ibnu Batthah rahimahullah (wafat tahun 387 H) menyebutkan riwayat dari
Umair bin Habib radhiyallahu'anhu, dia mengatakan, "Iman itu bertambah dan
berkurang." Ada yang bertanya, "Apakah maksud pertambahan dan
pengurangannya?". Beliau menjawab, "Apabila kita mengingat Allah kemudian
kita memuji dan menyucikan-Nya maka itulah pertambahannya. Dan apabila
kita lalai dan melupakan-Nya maka itulah pengurangannya." (al-Ibanah
al-Kubra [3/153], lihat juga Fath al-Bari Ibnu Rojab [1/5] as-Syamilah).
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Belumkah tiba saatnya bagi
orang-orang yang beriman untuk tunduk dan takut hati mereka dengan
mengingat Allah serta merenungkan kebenaran yang diturunkan (kepada
mereka), dan janganlah mereka itu seperti orang-orang terdahulu yang
diberikan kitab sebelum mereka, ketika masa yang panjang berlalu maka
mengeraslah hati mereka, dan banyak di antara mereka yang menjadi
orang-orang fasik." (QS. al-Hadid : 16). Suatu ketika Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya, "Wahai Rasulullah, apakah kami akan
celaka sedangkan bersama kami masih ada orang-orang salih?". Maka beliau
menjawab, "Iya, apabila perbuatan-perbuatan keji telah merajalela." (HR.
Muslim).
Demikianlah sekelumit pesan bagi saudara-saudaraku sekalian, para pemuda
yang menginginkan kebahagiaan abadi di akhirat nanti, bersama para
bidadari dan pelayan-pelayan yang baik budi. Suatu hari di saat
orang-orang lain tersiksa, ketika itu pemuda yang tumbuh dalam ketaatan
beribadah kepada Rabbnya pun akan merasakan keteduhan di bawah naungan
Arsy-Nya. Karena dia rela untuk meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa
nafsunya demi mendapatkan kecintaan Rabb alam semesta. Allah ta'ala
berfirman tentang surga (yang artinya),
"Itulah balasan bagi orang-orang yang takut kepada Rabbnya." (QS.
al-Bayyinah : 8).
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan memurnikan taubat kita agar
benar-benar ikhlas karena-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Penerima taubat.
Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala alihi wa sallam.
Walhamdulillahi Rabbil 'alamin.

----------------------------------------------------------
ABN AMRO Bank N.V. is a subsidiary undertaking of The Royal Bank of Scotland Group plc. This message (including any attachments) is confidential and may be privileged. If you have received it by mistake please notify the sender by return e-mail and delete this message from your system. Any unauthorised use or dissemination of this message in whole or in part is strictly prohibited. Please note that e-mails are susceptible to change. ABN AMRO Bank N.V, which has its seat at Amsterdam, the Netherlands, and is registered in the Commercial Register under number 33002587, including its group companies, shall not be liable for the improper or incomplete transmission of the information contained in this communication nor for any delay in its receipt or damage to your system. ABN AMRO Bank N.V. (or its group companies) does not guarantee that the integrity of this communication has been maintained nor that this communication is free of viruses, interceptions or interference.
----------------------------------------------------------

__________________________________________________________
This email has been scanned by the MessageLabs Email Security System.
For more information please visit http://www.messagelabs.com/email
__________________________________________________________

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: