Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28
*Opini *
[ Rabu, 11 Juni 2008 ]
* *
*Diperlukan Pemberitaan Damai *
*Oleh Sirikit Syah **
*Melapornya* Munarman kepada pihak kepolisian dan diterbitkannya SKB tiga
menteri membawa perubahan baru yang signifikan pada perkembangan kasus
Ahmadiyah. Yang tampak di permukaan, setidaknya Munarman bisa berkata, "Saya
bukan pengecut", dan tak ada yang bisa membantahnya.
Munarman datang sendiri setelah polisi gagal menemukannya, tanpa pengawalan.
Dia juga melapor sesuai janjinya "Bila pemerintah tegas dan mengeluarkan
SKB, saya menyerahkan diri."
Setidaknya, dia sedikit lebih jujur daripada para konglomerat penilap uang
negara atau pejabat korup yang bila dipanggil untuk diperiksa malah
beralasan sakit dan "menghilang" ke luar negeri.
Yang lebih mendalam dari itu ialah adanya potensi *win-win solution*, antara
pihak yang menuntut pembubaran Ahmadiyah dan kaum Ahmadiyah yang bersikeras
mempertahankan keyakinannya sebagai Islam meski MUI mengatakan aliran itu
menyimpang, bahkan menodai akidah Islam.
SKB tiga menteri itu tentu lebih baik bagi Ahmadiyah dibanding pembubaran
langsung dan pelarangan ajaran yang dianggap sesat ini. SKB tidak melarang
dan tidak menganjurkan pembubaran. Inti bunyi SKB adalah silakan Ahmadiyah
meneruskan ajarannya sejauh tidak menyebut Islam, atau silakan kembali ke
Islam dengan akidah yang benar (menurut MUI). Ekses SKB ini telah
diantisipasi melalui butir-butir berikutnya yang antara lain melarang
dilakukannya tindak kekerasan terhadap umat Ahmadiyah.
SKB tiga menteri itu juga lebih baik bagi para umat Islam yang tersinggung
dan marah karena agamanya 'diacak-acak'
situ dituntut kejujuran kaum Ahmadiyah dalam mengidentifikasi jati dirinya
sendiri di hadapan umat Islam lain dan publik umumnya.
*Jurnalisme Damai*
Pada 1998-2002, Indonesia yang baru mengalami pers bebas memang cenderung
menyuarakan jurnalisme perang dalam liputannya: foto berdarah-darah di
halaman depan, judul yang menyulut kebencian dan membakar kemarahan. Setelah
2002, antara lain, setelah pelatihan jurnalisme damai kepada ratusan
wartawan Indonesia yang disponsori the British Council dan BBC, pemberitaan
di Indonesia cenderung lebih *smart*.
Misalnya, pers tak lagi sekadar memotret fakta, tetapi lebih mengemukakan
akar persoalan dan upaya solusi. Itulah inti ajaran jurnalisme damai: gali
akar persoalan, upayakan saling pengertian pada kelompok yang bertikai, cari
*win-win solution*.
Pekan lalu media kita kembali diwarnai nuansa kekerasan. Judulnya
menggunakan kosa kata keras, fotonya menampilkan aksi brutal. Lebih dari
itu, khususnya dalam insiden Monas yang dipicu kasus Ahmadiyah, kedua belah
pihak menggunakan *labeling* yang dalam jurnalisme damai dianggap tabu.
Pihak A mengecap (memberi 'label') pihak B sebagai antek Yahudi atau antek
Amerika. Maka pihak B kemudian balik mengecap pihak A sebagai antek Wahabi
atau antek Arab Saudi. Pihak A kembali mengecap pihak B sebagai sekuler,
bahkan kafir; maka pihak B menuding A sebagai laskar setan atau preman
berjubah. Yang memprihatinkan, kedua pihak sama-sama mengaku Islam.
Stereotipe atau *labeling* sangat "diharamkan" dalam jurnalisme damai karena
media tak semestinya menggeneralisasi sebuah komunitas. Nazi membantai
sekian juta orang Yahudi hanya karena mereka dianggap *less-human* (kurang
kadar kemanusiaannya dibanding bangsa Arya, bangsa Jerman), dan
dikhawatirkan menodai ras unggul tersebut.
Seorang menteri Israel ditembak mati setelah dalam pidatonya mengecap bangsa
Arab (Palestina) sebagai *two-legged beasts* (binatang buas berkaki dua) dan
*lice* (rayap). George Bush dikecam orang di seluruh dunia ketika menyebut
Iran dan Korea Utara sebagai *axis of evil* (poros setan).
Gambar FPI atau LKI memukuli para peserta demo AKKBB di Monas yang
ditayangkan berulang-ulang, hanya akan menimbulkan efek kebencian dan
keinginan membalas dendam.
Benar saja, sehari setelah peristiwa itu diliput media, di daerah-daerah
banyak rakyat menuntut FPI ditutup. Padahal, bila dipikir dengan akal sehat,
apa hubungannya kelakuan sementara anggota FPI di Monas dengan kegiatan FPI
di daerah-daerah?
*Kejadian Monas*
Bagaimana media memberitakan insiden Monas? Pada hari pertama pascainsiden
Monas, judul-judul berita utama (halaman satu) koran Indonesia antara lain
seperti ini: "Kebhinekaan Dikhianati" (*Kompas*), "Tindak Kekerasan - Aksi
FPI Dinilai Coreng Islam" (*Media Indonesia*), "Bentrokan Akibat Pemerintah
Lamban" (*Republika*
"Bubarkan FPI" (*Koran Tempo*), "Hard Liners ambush Monas rally" (*The
Jakarta Post*), "Mobil Dirusak, 29 Korban Luka-Luka - Massa FPI Serang Demo
AKKBB" (*Pos Kota*), "Tindak FPI, Menteri Maju Mundur" (*Jawa Pos*).
Selain pemakaian judul-judul bernuansa 'perang', media memasang foto-foto
atau video adegan kekerasan yang berdarah-darah. Sebuah foto yang di-*
release* Wachied Institute dalam jumpa pers kemudian dimuat beberapa media,
bahkan dengan keliru fakta. Dalam hal ini foto Munarman mencekik seseorang
(yang anak buahnya sendiri dengan tujuan mencegahnya bertindak anarkis),
oleh sebuah harian diberi keterangan foto bahwa Munarman melakukan tindak
kekerasan kepada peserta demo AKKBB.
Hal itu sebuah kekeliruan faktual mendasar, yang dapat terjadi karena
wartawan tidak melakukan verifikasi, atau terselubungi oleh *agenda
setting*tertentu. Untunglah, menyadari wartawan bisa saja melakukan
kekeliruan,
media bersangkutan telah meralat dan minta maaf pada edisi berikutnya.
Peran media adalah memotret fakta secara apa adanya, objektif, dan
berimbang. Namun, ada sebuah peran yang disadari atau tidak, diakui atau
tidak, menjadi krusial* *bagi media, yaitu media tak hanya
*observer,*melainka
*participant*
masyarakat yang dipotretnya.
Seruan "Bubarkan FPI" itu menunjukkan media mendorong pembubaran FPI, bukan
sekadar meliput fakta. Apakah pekan ini media massa akan mengupayakan solusi
*win-win* bagi kedua pihak, dengan liputan yang mendamaikan, menyatukan,
menyejukkan; atau malah memanas-manasi melalui pertanyaan para *host *dan
moderator *talk show* serta judul berita yang provokatif? Kita, konsumen
media, akan menilainya.(
** Sirikit Syah*, *pendiri LKM Media Watch dan pelatih Jurnalisme Damai*
[Non-text portions of this message have been removed]
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar