Assalamualaikum Wr. Wb,
Mas Moes,
Saya acungkan 2 jempol untuk pertanyaan anda, karena tidak
banyak orang yang mau dan bisa mengakui banyaknya kesalahan
kita selama hidup di dunia ini.
Dibandingkan dengan Iblis Laknatullah, harusnya kita semua
malu, karena kesalahan Iblis hanya satu saja, ya hanya satu
saja, yaitu menentang perintah ALLAH SWT untuk tunduk kepada
Nabi Adam AS (manusia). Bandingkan dengan kesalahan kita semua
selama hidup kita ini. Astaghfirullah.
Tetapi sebagai manusia kita tidak boleh berputus asa untuk
meminta ampunanNYA, karena Allah SWT selalu membuka pintu
ampunan kepada siapa saja yang mau memasukinya dan limpahan
rahmat Allah bagaikan mata air yang senantiasa terlimpah untuk
membersihkan dosa-dosa kita.
Mas, sepengetahuan saya Allah itu maha adil dan sedemikian
cintanya kepada kita manusia. Bayangkan saja, untuk sebuah niat
saja, ya baru sebuah niat saja, untuk berbuat BAIK, Allah sudah
melimpahkan pahalanya. Sedangkan untuk niat berbuat jahat,
seberapa sering niat tersebut, belum jatuh dosa kepadanya,
sampai perbuatan jahat tersebut dilaksanakan.
Mengapa demikian? saya percaya ini adalah matematika Allah,
sudah diatur sedemikian rupa, karena Allah tahu bahwa manusia
tidak bisa lepas dari dosa selama hidupnya di dunia ini,
sehingga selalu ada kesempatan untuk kita manusia membersihkan
dosa-dosa kita selama hidup ini, dengan memberi pahala yang
berlipat-lipat, dan hukuman dosa yang berlaku hanya untuk dosa
tersebut saja (kecuali dosa Syirik). Ingat kan kalau sholat
berjamaah itu diganjar pahala 27X lipat, atau ibadah selama
bulan ramadhan, atau ibadah dimalam lailatul qadr yang diganjar
pahala ribuan lipat. Atau pahala kebaikan sekecil apapun itu
bagaikan 1 bulir padi, yang tumbuh menjadi 7 cabang, dan
masing-masing cabangnya tumbuh 10 bulir padi. Bayangkan jika 70
bulir padi tersebut ditanam lagi....wah exponential pangkat 70
mas.
Jadi, dengan matematika Allah ini, selalu ada kesempatan untuk
kita membersihkan dosa-dosa kita, dengan melakukan perbuatan
amal baik dan ibadah, baik amal kepada mahluk maupun ibadah
langsung kepada Allah, dan tentu saja tidak melakukan dan
mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut, apalagi dengan
sengaja, wah bisa gawat mas.
Saya ilustrasikan begini. Di hari pengadilan nanti saya di
tuduh oleh si fulan "korban" yang pernah saya zalimi, dan atas
kesalahan ini saya tentunya harus dihukum, betul? Tetapi disisi
yang lain saya punya banyak saksi yang membela kebaikan saya
selama hidup di dunia. Kira-kira bagaimana tanggapan sang
hakim? Dan tentunya sang hakim ini adalah Maha Hakim yang Maha
Adil. Bayangkan juga, tenyata saksi-saksi ini adalah anak turun
dari si korban tadi.
Jadi, mas Moes tidak perlu takut, silahkan tebus kesalahan mas
tersebut. Kalau ingat dan mau diselesaikan langsung dengan si
fulan itu lebih baik, regardless si fulan mau menerima atau
tidak, yang penting mas sudah menyampaikan pengakuan dan
penyesalan, urusan diterima atau tidak sudah bukan masalah
lagi, karena tujuan mas adalah mengakui kesalaham dan melakukan
penyesalan kepada Allah SWT. Kalau tidak bisa karena alasan
tertentu, niatkan perbuatan baik dan amal mas untuk si fulan,
yang telah mas zalimi. Dan jika mas tidak ingat lagi berapa
banyak yang sudah menjadi kezaliman mas, maka tinggal satu
tahap lagi, yaitu Taubatan Nasuha, menyesal dan berjanji tidak
mengulangi perbuatan itu lagi. Karena di pengadilan dunia saja,
penyesalan ini bisa memperingan hukuman, apalagi penyesalan
yang diterima oleh Maha Hakim yang Maha Adil tadi.
YAKIN, karena syarat awal agama Islam adalah YAKIN. Mas
bersyahadat? Yakin tidak dengan syahadat tersebut? Atau
syahadat tersebut hanya ada di mulut. Ya, bersyahadat adalah
ke-YAKIN-an kita. Jadi yakinlah akan pertolongan dan ampunan
Allah.
BERSERAH DIRI, berserah diri adalah esensi dari seluruh amal
ibadah kita. Karena tidak ada alat ukur manapun di dunia ini
yang bisa mengukur apakah ibadah atau amal kita diterima oleh
Allah SWT.
Demikian mas Moes, jika anda melihat kebenaran dalam tulisan
saya ini, itu pasti datangnya dari Allah yang Maha Luas
Ilmunnya, dan jika ada kesalahan, saya mohon maaf, karena pasti
itu datangnya dari kedangkalan dan kurangnya ilmu saya.
Salam,
Indra
> "Dan di antara syarat taubat ialah mengembalikan hak-hak
> yang dizhalimi kepada yang berhak menerimanya atau mereka
> memaafkannya, jika kemaksiatan tersebut berupa kezhaliman
> yang menyangkut darah, harta dan kehormatan. Jika ia sulit
> meminta maaf dari saudaranya menyangkut
> > kehormatannya, maka ia banyak berdoa untuknya, dan menyebut> kebaikan-kebaikan amal yang dilakukan olehnya di
> tempat-tempat di mana ia pernah menggunjingkannya; karena
> kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan
> Allah SWT berfirman,
>
> "Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman
> supaya kamu beruntung." (An-Nur: 31)."
>
> Pertanyaan saya :
> Bagaimana jika terlalu banyak orang yg telah saya
> dzalimi...? sehingga saya lupa kepada siapa saja saya harus
> minta maaf... tidak ingat lagi seberapa haknya yang harus
> saya kembalikan,,
> teramat sangat karena saya telah berkhianat dan bermuka
> topeng.... sy sudah taubat kepada Allah, tp hati saya tidak
> tenang. Mohon bimbinganya.
>
> SAlaam
>
> MM
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
____________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar