Rabu, 11 Juni 2008

[daarut-tauhiid] Ma Tuhan itu siapa ?

Q1: Anak-anak di usia tertentu tidak merasa nyaman dengan abstraksi yang tak mudah dipahami.
Q2:
Rasa takjub yang muncul sebagai bentuk respon terhadap kemegahan alam
adalah salah satu bentuk pengalaman spiritual yang dapat dialami
anak-anak
Kepolosan
anak-anak terkadang sanggup membuat kita terheran-heran atau bahkan
kehilangan kata-kata. Dari mulut mungil mereka kerap muncul pertanyaan
yang tak terduga. Apa jawaban Anda ketika mereka bertanya tentang Tuhan?
Anak
dapat diibaratkan seperti filsuf kecil yang penuh rasa ingin tahu dan
haus jawaban. Pertanyaannya terkadang sulit dijawab dengan cepat dan
ringkas. Sebelum Anda mencoba menjawab pertanyaan anak, pikirkan dulu
jawaban Anda karena kemampuan abstraksi anak masih rendah.
Anak-anak
di usia tertentu tidak merasa nyaman dengan abstraksi yang tak mudah
dipahami. Begitu kata Harold S. Kushner dalam bukunya yang berjudul When Children Ask About God.
Ia menyebutkan bahwa pikiran anak-anak haus akan sesuatu yang nyata,
konkret, jelas. Mereka akan menerjemahkan abstraksi tersebut ke dalam
sesuatu yang lebih mudah dicerna.
Saat
Anda menjelaskan sesuatu yang abstrak seperti Tuhan, anak perlu diberi
perumpamaan dari pengalaman empiris, yakni berdasarkan hal-hal konkrit
yang dialaminya sehari-hari. Sebagai contoh, ketika si kecil bertanya,
"Ma, Tuhan itu siapa?" Anda bisa menjawab bahwa Tuhan adalah pencipta
alam semesta, termasuk manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Kemudian
beri penjelasan lebih lanjut melalui perumpamaan yang sederhana,
misalnya, "Mencipta itu berarti membuat sesuatu dari yang tidak ada
menjadi ada. Contohnya seperti saat Mama mencampur tepung, gula, dan
telur menjadi kue."
Dalam
teorinya mengenai psikologi perkembangan kognitif, Jean Piaget, filsuf
sekaligus psikolog perkembangan kelahiran Swiss, menyebutkan bahwa anak
usia 2 – 7 tahun sedang berada dalam tahap pra-operasional (pre-operational stage).
Pada tahap ini, anak sudah bisa membayangkan wujud benda sekalipun
benda tersebut tidak ada di hadapannya. Anak sudah mulai mengerti,
bahwa benda yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Contohnya,
ketika bonekanya disembunyikan, si kecil tahu bahwa boneka itu ada,
tapi tidak bisa dilihatnya.
"Persoalannya,
hal itu hanya berlaku pada benda-benda yang pernah dia lihat," kata
Bagus Takwin, SPsi, MHum, Psi, dosen Psikologi di Universitas
Indonesia. "Saat menjelaskan tentang konsep Tuhan yang abstrak, berarti
konsep itu harus diciptakan di kepala tanpa melihat bendanya. Dan
jawaban berupa contoh biasanya cukup ampuh."
Saat
menjelaskan tentang keberadaan Tuhan yang tak kasat mata, Anda bisa
memberi contoh dengan menggunakan perwakilan dari hal nyata yang
diketahui anak. Katakan, "Tuhan itu tidak bisa dilihat, tapi bisa
dirasakan. Sama seperti angin. Adek bisa merasakan angin tapi tidak
bisa melihatnya, kan?"
Tak perlu berbohong
Berhati-hatilah
saat menjelaskan sebuah konsep abstrak seperti Tuhan. Anak balita
memang belum bisa memahami gagasan filosofis, tapi bukan berarti Anda
boleh memberi jawaban sekenanya hanya karena sudah kehabisan kata-kata.
Anak bisa mengalami kebingungan karena konsep yang selama ini
dipegangnya ternyata berbeda dengan kenyataan.
Boleh
jadi Anda takut jika anak tidak mengerti penjelasan yang diberikan.
Tetapi, sebenarnya Anda tidak perlu khawatir. Karena daya pikir anak
akan terus mengalami perkembangan. "Jadi tenang saja. Begitu
perkembangan kognitif anak bertambah, kita beri pemahaman lebih dalam
lagi. Jangan takut anak akan begitu terus," kata Bagus Takwin.
"Tampaknya, dia tidak puas dengan jawaban saya."
Jika
anak tak kunjung merasa puas dengan jawaban yang diberikan, sementara
Anda sendiri bingung untuk menjelaskan lebih lanjut, Kushner
menyarankan agar Anda jujur memberitahukan soal ketidaktahuan tersebut.
Katakan, "Pertanyaanmu sulit. Sudah banyak orang yang berusaha
menjawabnya, tapi mereka pun tidak yakin dengan jawaban itu. Mama akan
coba menjawab sebisa mungkin, tapi mungkin kamu baru bisa mengerti saat
kamu dewasa nanti." Menurut Kushner, hal ini malah akan mendidik anak
mengenai pentingnya mencari jawaban sendiri sehingga mereka bisa
belajar lebih banyak mengenai dunia.
Cara
lain yang bisa digunakan adalah dengan mencari orang yang Anda anggap
cukup kompeten untuk menjawab pertanyaan si filsuf kecil. Atau, Anda
juga bisa memasukkan sekolah yang bernapaskan agama. Meski begitu, Anda
tetap perlu mencermati kualitas dari sekolah tersebut.
Perkenalan yang Sederhana
Ada cara-cara sederhana untuk memperkenalkan Tuhan kepada filsuf kecil kita. Berikut ini di antaranya:
1. Kenalkan lewat alam.
Ketika menerangkan Tuhan sebagai pencipta alam semesta, ada baiknya
anak turut diperlihatkan pada keindahan alam itu sendiri. Tunjukkan
kepadanya tentang matahari yang selalu terbit di timur dan tenggelam di
barat. Bawa dia menikmati riak air laut serta sepoi-sepoi angin di tepi
pantai. Perlihatkan kepadanya bahwa hanya melalui biji yang berukuran
kecil, pohon besar dan kokoh dapat tumbuh. "Rasa takjub yang muncul
sebagai bentuk respons terhadap kemegahan alam adalah salah satu bentuk
pengalaman spiritual yang dapat dialami anak-anak," kata Kushner.
2. Kenalkan lewat cinta.
Jika ingin mengajarkan sifat Tuhan untuk membentuk pemahaman anak
terhadap kebaikan, salah satu cara yang tepat adalah memperkenalkan
lewat cinta yang Anda berikan. "Anak yang dilimpahi dengan cinta dan
kepercayaan oleh orangtuanya akan percaya bahwa Tuhan adalah zat yang
ada di balik dunia yang ramah dan bersahabat. Nantinya, anak akan
memandang dunia secara positif." tutur Kushner.

* Kenalkan lewat cerita.
Membacakan cerita-cerita rohani, misalnya kisah para nabi, sebenarnya
akan memudahkan anak untuk memahami keberadaan Tuhan. "Anak usia balita
memang lebih suka mendengarkan cerita daripada konsep. Dan cerita
membantu anak untuk memahami suatu kejadian secara komprehensif," tutur
Bagus Takwin.
Hal
ini juga diamini oleh Asriani, guru di bagian play group Al-Azhar Syifa
Budi, Kemang, Jakarta. "Anak usia tiga tahun lebih mengerti kalau kita
bercerita langsung, dibandingkan menonton," ujarnya. "Sekarang kan ada
film-film rohani untuk anak. Tetapi saat menonton, bisa saja pikirannya
ke mana-mana. Tapi kalau mendengarkan cerita bersama gurunya, biasanya
lebih mengena."
* Kenalkan lewat bakat.
Jelaskan kepada anak, bahwa kepercayaan terhadap Tuhan berarti juga
percaya serta menghargai kemampuan diri sendiri. Misalnya, saat melihat
anak yang gemar menggambar, puji hasil karyanya lalu katakan, "Tuhan
menciptakanmu dengan bakat menggambar yang belum tentu dimiliki
teman-temanmu. Kamu harus bangga." Hal ini sebenarnya turut berguna
untuk membangun rasa percaya diri. Karena anak merasa Tuhan telah
memberinya suatu keistimewaan. Anak pun akan menghargai diri serta mau
mengasah kemampuan yang dimilikinya.
* Kenalkan lewat doa.
Bisa dikatakan inilah salah satu cara dasar untuk mengenalkan Tuhan
kepada anak. Ajari anak untuk berdoa dengan cara yang mudah, misalnya
sebelum makan atau sebelum tidur. Jika dilatih terus menerus, lambat
laun hal ini akan menjadi kebiasaan.
Penjelasan
tentang Tuhan adalah langkah awal yang baik jika Anda ingin menerapkan
nilai-nilai moral berdasarkan ajaran agama sejak dini. Pendidikan
tentang agama akan berlanjut kepada penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari, bagaimana harus bersikap baik, sopan, atau bersyukur. Akan
lebih baik lagi jika Anda mencontohkan penerapannya sebab anak belajar
dari meniru perbuatan orang tuanya.(PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Majalah Parents Indonesia)


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website:

http://dtjakarta.or.id/
===================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
mailto:daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: