http://www.dakwatun
Tazkiyatun Nafs
24/9/2007 | 12 Ramadhan 1428 H | Hits: 1.785
Menjauhi Dosa Besar (Bagian 4)
Oleh: Tim dakwatuna.com
11. Dusta dan bohong
Dalam Alquran kalau kita perhatikan kalimat al-kadzibu, maka kita
temukan dalam bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan wazannya, seperti
Kaadzibu, Kadzaab, Al-Mukadzibuun, Al-Mukadzibiin, Kadzaaba,
Kadzaabat, Makdzuub, Takdziib, Kdazzabuu. Ini semua sesuai dengan ayat
dan bentuknya.
Kebohongan atau sifat dusta adalah suatu sifat yang timbul dari sebab
beberapa faktor yang ada, antara lain:
· Lemah jiwa dan mentalnya.
· Kegoncangan jiwa.
· Senang dengan perhatian manusia atau pandangan manusia.
· Suka bergurau atau bercanda yang berlebihan.
· Rasa dengki dan iri yang ada.
· Lingkungan yang buruk dan berpengaruh padanya.
Dalam Alquran Allah banyak mengingatkan tentang hal ini, bahkan
memberi julukan kepada mereka yang dusta dengan berbagai julukan yang ada:
1. Al-Mujrimuun
"Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan
kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya Sesungguhnya
tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa." (Yunus: 17)
2. Al-Kafiruun
"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang
mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak
tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam
itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir." (Al-Ankabut: 68)
3. Al-Asyqaa
"yang mendustakan (kebenaran) dan (berpaling) dari iman." (Al-Lail: 16)
4. Al-Mu'tad
"Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu, melainkan setiap
orang yang melampui batas." (Al-Muthaffifin: 12)
5. Adz-Dzalimuun
"Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu,
maka merekalah orang-orang yang zalim." (Ali Imran: 94)
6. Al-Aatsimuun
"Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah
Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka)."
(An-Nisaa': 50)
7. Al-Muftaruun
"Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap
Allah pada hari kiamat Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai
karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka
tidak mensyukuri(nya)
8. Al-Munafiquun
"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: `Kami
mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.' Dan Allah
mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya dan Allah
mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar
orang pendusta." (Al-Munafiquun: 1)
9. Al-Musrifun
"Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut
Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, `Apakah kamu akan
membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan: "Tuhanku ialah Allah"
padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterang
dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang
menanggung (dosa) dustanya itu, dan jika ia seorang yang benar niscaya
sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu."
Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas
lagi pendusta. (Ghafir: 28)
Kalau kita perhatikan dari ayat-ayat di atas, kata Kadzibu bisa
bermakna dusta atau bohong dan bisa bermakna ingkar, yaitu penolakan
pendustaan. Dan setiap keadaan pelaku akan dihukum sesuai dengan apa
yang didustakannya atau apa yang dijadikan kebohongannya.
Pada dasarnya setiap hukum kebohongan mempunyai dosa dan resiko sesuai
dengan tingkat kebohonganya itu. Seperti dusta atas nama Allah dan
Nabi-Nya, dusta dalam kehidupan dan lain-lain.
Dan seseorang apabila dia berdusta atau berbohong, maka pada dasarnya
dia harus siap berbuat kebohongan yang lainnya untuk menutupi
kebohongan yang pertama. Dan biasanya kebohongan memang harus
bersambung atau sampai seorang itu mau menyelesaikan kebohongannya
dengan mangaku dan menutup dengan taubat atau minta maaf kalau hal itu
bersangutan dengan manusia. Dan banyak di antara kita yang hampir
tidak memperhatikan hal ini, bahkan ada yang beranggapan kalau bohong
sedikit tidak apa-apa atau tidak dosa. Artinya bohong yang diluar
syar'i. Dan Nabi saw. mengancam keras bagi orang yang bohong atau
dusta apa lagi mengatasnamakan beliau. Dalam riwayat Muslim dari
Samura r.a., sesungguhnya Nabi saw. berkata, "Barangsiapa yang
berbicara tentang aku, dengan suatu hadis yang hal itu sebenarnya
dusta, maka orang itu dikatakan pendusta."
Bohong yang secara syar'i dibolehkan dalam tiga kondisi:
1. Bohong dalam medan Perang atau jihad atau peperangan menghadapi
musuh, yaitu yang kita kenal sekarang dengan istilah taktik atau
strategi. Hal ini pernah dilakukan oleh Ali r.a. dalam perang tanding
satu lawan satu dengan jagonya kafir quraisy yang berpengalaman.
Singkatnya, ketika dia berhadapan dengan Ali r.a., maka Ali r.a.
menoleh kesamping musuhnya (seolah-oleh orang itu ada kawannya),
ketika orang itu menoleh kesamping langsung Ali r.a. membelah kepala
musuh itu. Dan dalam hadis sahih dikatakan "Al-Harbu Khud'ah" (perang
itu tipu daya).
2. Bohong untuk Islah atau memperbaiki hubungan dua orang yang sedang
marah atau bermusuhan.
3. Bohong yang dalam urusan suami istri.
Dalam Riyadhus Sholihin, Imam Nawawi membawakan dalil dari Ummu
Kultsum, dari Nabi saw. bersabda, "Tidaklah dikatakan Al-Kadzibu orang
yang mengishlah antara manusia, dan dia berkata baik pada kedua belah
pihak." Hadis Bukhari no. 2692 atau Muslim no. 2605, dalam riwayat
Muslim berkata, Ummu kultsum diberi keringanan tentang apa yang
diucapkan manusia dalam tiga hal, yaitu dalam perang, ishlah antara
manusia, dan ucapan seorang suami pada istrinya, dan istri pada suaminya."
Dari sini jelas bahwa kebohongan yang bukan dasar syar'i, hendaknya
kita hindari dan jauhi. Karena, hal ini memang sangat diancam dan
dibenci oleh Allah dan RasulNya.
Dalam suatu riwayat Nabi saw. pernah ditanya, "Apakah seorang mukmin
bisa penakut?" Nabi saw. menjawab, " Ya, seorang mukmin mungkin saja
dia penakut." Apakah seorang mukmin bakhil, pelit? "Ya, seorang mukmin
mungkin bisa pelit." Apakah seorang mukmin dusta atau pembohong? Nabi
saw. Menjawab, "Tidak!" (HR. Malik)
Dan sebagaimana kita ketahui bahwa bohong adalah salah satu dari
tanda-tanda munafik. Sebagaimana hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari
Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Nabi saw. Bersabda, "Tanda seorang
munafik ada tiga: kalau berbicara bohong, kalau berjanji ingkar, dan
kalau diberi amanah (kepercayaan) khianat."
Dan dalam riwayat Ahmad Nabi saw. Bersabda, "Sungguh suatu
pengkhianatan yang besar apabila kamu bicara pada saudaramu dan dia
membenarkan kamu, padahal kamu dusta." (HR. Abu Daud)
Bahaya yang ditimbulkan dari dosa besar
Allah berfirman, "Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa
disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang kami timpakan
kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang di timpa
suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka kami benamkan ke
dalam bumi dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan; dan Allah
sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang
menganiaya diri mereka sendiri." (Al-Ankabut: 40)
Adapun bahaya yang ditimbulkan oleh maksiat atau perbuatan dosa itu
seperti di sebutkan oleh Ibnu Qoyyim rahimullah, sebagai berikut:
1. Terhalangnya ilmu agama karena ilmu itu cahaya yang diberikan Allah
di dalam hati, dan maksiat mematikan itu.
2. Terhalangnya rezeki, seperti dalam hadits riwayat Imam Ahmad,
"Seorang hamba bisa terhalang rezekinya karena dosa yang menimpanya."
3. Perasaan alienasi pada diri si pendosa yang tiada tandingannya dan
tiada terasa kelezatan.
4. kegelapan yang dialami oleh tukang maksiat di dalam hatinya seperti
perasaan di kegelapan malam.
5. Terhalangnya ketaatan.
6. Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahannya.
7. Maksiat akan melahirkan maksiat lain lagi, demikian kata ulama
salaf: Hukum kejahatan adalah kejahatan lagi sebagaimana kebaikan akan
melahirkan kebaikan lagi.
8. Orang yang melakukan dosa akan terus berjalan ke dalam dosanya
sampai dia merasa dirinya hina. Itu pertanda-tanda kehancuran.
9. Kemaksiatan menyebabkan kehinaan. Dan kebaikan melahirkan
kebanggaan dan kejayaan.
10. Maksiat merusak akal, sedang kebaikan membangun akal.
Ganjaran orang yang meninggalkan dosa besar
Jika orang yang melakukan dosa besar akan menimbulkan efek negatif
pada dirinya, keluarga, dan masyarakatnya. Sebaliknya, orang yang
mampu dan berhasil menahan diri dari melakukan perbuatan dosa, akan
mendapatkan ganjaran yang sangat besar disisi Allah, diantaranya:
1. Terhapusnya dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya
2. Digantinya kejahatan dengan kebaikan
3. Dimasukkan ke dalam surga
-- tamat --
http://www.dakwatun
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar