Kamis, 04 Maret 2010

[daarut-tauhiid] Dilarang berkata :"Allah tidak akan mengampunimu"

 

Dilarang berkata : "Allah Tidak Akan Mengampunimu"

sumber : ihsan tandjung
------------------

Tugas seorang muslim adalah menganjurkan
perbuatan ma'ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar. Demikianlah Allah
gambarkan ciri kaum muslimin. Bahkan ciri ini telah menyebabkan Allah
memberikan sebutan begitu istimewa kepada ummat Islam. Allah menamakan
ummat Islam sebagai Ummat Terbaik yang disajikan untuk segenap ummat
manusia.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
تَأْمُرُونَ
بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah." (QS Ali Imran ayat 110)

Aktifitas amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan
bagian integral dari kegiatan menyeru manusia ke jalan Allah atau Da'wah
Islamiyyah. Kegiatan ini menuntut hadirnya kegairahan dan emosi positif
pada diri pelakunya. Tanpa adanya kegairahan maka seorang muslim tidak
akan mau meluruskan penyimpangan saudaranya. Tanpa gairah mana mungkin
seseorang akan tergerak untuk menyadarkan orang lain agar meninggalkan
perbuatan mungkar yang biasa dia kerjakan. Tanpa gairah mana mungkin
seseorang akan punya motivasi untuk mendorong saudaranya mengerjakan
perbuatan ma'ruf sesuai anjuran Islam. Namun perlu diingat bahwa
bilamana emosi yang melandasi suatu tindakan da'wah bukanlah emosi
positif namun sebaliknya malah emosi negatif, maka kegiatan yang asalnya
merupakan suatu kebaikan bisa mendatangkan bencana. Bahkan bencana bagi
pelaku da'wah itu sendiri.

Yang dimaksudkan dengan emosi positif ialah
perasaan yang membara namun tetap terkendali dalam batas-batas yang
dibenarkan oleh ajaran Islam. Sedangkan emosi negatif ialah perasaan
yang berlebihan sehingga menyebabkan aktifis da'wah melampaui batas yang
dibenarkan Islam tatkala ia sedang menasehati saudaranya.
Salah satu bentuk tindakan melampaui batas ialah
seperti memandang dirinya berhak  menentukan siapa yang bakal diampuni
Allah dan siapa yang tidak. Ia lupa bahwa hak mengampuni manusia
sepenuhnya berada di tangan Allah Yang Maha Pengampun. Seorang da'i
berhak memberitahu saudaranya yang terlibat kemaksiatan untuk
menghentikan perbuatannya melanggar aturan Islam, namun ia tidak perlu
dan tidak dibenarkan untuk mengancam si pelaku maksiat bahwa
kemksiatannya tidak bakal diampuni Allah. Allah sangat sanggup dan
berkuasa penuh untuk mengampuni siapa saja yang dikehendakiNya.
Perhatikan hadits berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ حَدَّثَ
 أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ
اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ
مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا
أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي
قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ أَوْ
كَمَا قَالَ
Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam
bersabda: Ada seorang lelaki yang berkata: "Demi Allah, Allah
tidak akan mengampuni si fulan." Allah berfirman: "Siapakah yang
bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya
Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapuskan amalmu."
(Hadits shahih riwayat Muslim).

Bahkan dalam hadits lainnya Rasulullah shollallahu
'alaih wa sallam menggambarkan peristiwa yang pernah terjadi pada
Bani Israil. Suatu ketika ada abang-beradik dari Bani Israil. Salah
seorang diantara keduanya sering berbuat dosa sedangkan yang lainnya
rajin beribadah. Maka setiap kali si pelaku dosa melakukan maksiatnya,
maka si 'abid selalu mencegahnya, namun si pelaku dosa terus saja
mengulangi perbuatan dosanya. Hingga pada suatu hari ketika si pelaku
dosa berbuat maksiat di hadapan saudaranya, maka kali itu ia tidak saja
mencegah perbuatan dosa saudaranya. Si 'abid mengucapkan kalimat yang
melampaui batas dimana ia sampai tega mengatakan bahwa  saudaranya tidak
bakal diampuni Allah dan bahkan tidak akan masuk surga. Maka apa yang
akhirnya terjadi pada kedua abang-beradik ini? Marilah ikuti jalan
ceritanya dengan langsung membaca haditsnya di bawah ini:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 يَقُولُ كَانَ رَجُلَانِ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ
مُتَوَاخِيَيْنِ
فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالْآخَرُ مُجْتَهِدٌ
فِي الْعِبَادَةِ
فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الْآخَرَ
عَلَى الذَّنْبِ
فَيَقُولُ أَقْصِرْ فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ
فَقَالَ لَهُ أَقْصِرْ
فَقَالَ خَلِّنِي وَرَبِّي أَبُعِثْتَ عَلَيَّ
رَقِيبًا فَقَالَ
وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَوْ لَا
يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ
فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ
الْعَالَمِينَ
 فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ أَكُنْتَ بِي
عَالِمًا
 أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا وَقَالَ
لِلْمُذْنِبِ
اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَقَالَ
لِلْآخَرِ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ
لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam
bersabda: "Ada dua orang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang
saling bersaudara. Yang satu rajin ibadah dan lainnya berbuat dosa.
Lelaki yang rajin beribadah selalu berkata kepada saudaranya, 'Hentikan
perbuatan dosamu!" Suatu hari ia melihat saudaranya berbuat dosa dan ia
berkata lagi, 'Hentikan perbuatan dosamu!" "Biarkan antara aku dan
Tuhanku. Apakah kamu diutus untuk mengawasiku?" jawabnya. Ia berkata
lagi, "Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu" atau "Dia tidak akan
memasukanmu ke surga." Kemudian Allah mengutus malaikat kepada keduanya
untuk mengambil ruh keduanya hingga berkumpul di sisi-Nya. Allah berkata
kepada orang yang berdosa itu, "Masuklah kamu ke surga berkat
rahmat-Ku." Lalu Allah bertanya kepada lelaki yang rajin
beribadah, "Apakah kamu mampu menghalangi antara hamba-Ku dan
rahmat-Ku?" Dia menjawab, "Tidak, wahai Tuhanku."  Allah berfirman untuk
yang rajin beribadah (kepada para malaikat): "Bawalah dia masuk ke
dalam neraka." Abu Hurairah – semoga Allah meridhainya – berkomentar,
"Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia berkata dengan satu
kalimat yang membinasakan dunia dan akhiratnya."(HR Abu Dawud).

Ya Allah, tanamkanlah selalu kegairahan dalam
diri kami untuk berda'wah di jalanMu. Namun hindarknalah kami dari
berlaku melampaui batas ketika sedang berda'wah sehingga menghilangkan
sifat rendah hati kami. Ya Allah, hindarkanlah kami dari mengucapkan
sesuatu yang dapat membinasakan dunia dan akhirat kami. Amin ya Rabb.


============sumber:eramuslim.com
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
.

__,_._,___

Tidak ada komentar: