Rabu, 17 Maret 2010

[daarut-tauhiid] Fwd: Urgensi Umat Menerima Kunjungan Presiden Barack Obama - Ust. Syamsi Ali

 

Urgensi Umat Menerima Kunjungan Presiden Barack Obama
M. Syamsi Ali

Tiada disangkal lagi, Barack Obama, Presiden Amerika Serikat yang ke 44
merupakan salah satu figur utama dunia saat ini. Tentu bukan saja sebagai
presiden negara superpower, tapi lebih dari itu adalah figur yang telah
menjadi catatan sejarah dunia tersendiri. Sosok yang relatif baru dalam
kancah politik, dari community organizer, state senantor, terpilih menjadi
senator AS, dan tiba-tiba mampu mengalahkan calon-calon presiden lainnya
yang sangat senior, termasuk John Maccain dan sebelumnya sesama calon Partai
Demokrat, Hillary Clinton.

Tapi barangkali yang paling istimewa dari semua itu adalah sosok kepribadian
Barack Obama itu sendiri, yang bagi saya, sangat unik. Anak seorang ayah non
Amerika, warga Kenya dan ibu keturunan Irish, menjadikan Obama sebagai
individu yang unik. Individu yang bisa bangga mewakili manusia tanpa batas
ras. Kalau pun kenyatannya bahwa dia selalu dibanggakan oleh warga kulit
hitam sebagai African American, dan dia sendiri tidak menolak, semua itu
hanya karena motivasi pribadinya yang ingin berdiri pada pihak yang
?dhu?afa?. Warga kulit hitam di AS masih dikategorikan warga yang
?marginalized?.

Maka terpilihnya Barack Obama menjadi Presiden AS merupakan simbol
?empowerment? untuk mereka yang selama ini dipersepsikan sebagai elemen
masyarakat yang lemah, khususnya warga kulit hitam AS. Bahkan terpilihnya
beliau ditafsirkan oleh sebagian kalangan sebagai ?realisasi mimpi? Dr.
Martin Luther, pejuang hak-hak kesamaan sipil AS.

Bagi saya sendiri, keunikan yang dimiliki oleh Barack Obama tidak sama
sekali terletak di bentuk warna kulit dan posisinya sebagai presiden negara
terkuat dunia, Amerika Serikat. Melainkan pada berbagai pemikian dan sikap
politiknya dalam kampanye, dan bahkan minimal dapat dikatakan, dalam
berbagai upaya kebijakan yang ingin diambil setelah menduduki ?Gedung
Putih?. Sayangnya memang berbagai kebijakan itu tidak semudah yang
dibayangkan oleh khalayak ramai. Sebuah kebijakan perlu melalui ?pintu-pintu
ketat politis?, termasuk Kongress dan Senate, sebelum disahkan oleh presiden
untuk menjadi ?policy?.

Di antara berbagai pemikian dan sikap Barack Obama yang unik, antara lain
sebagai berikut:

Pertama, salah seorang yang menentang sejak awal penggelindingan perang Irak
oleh presiden G.W. Bush ketika itu adalah State Senator dari Illinois,
Barack Obama. Sebagai ahli hukum internasional dari Harvard University,
Barack Obama sadar betul bahwa apa yang dilakukan oleh Presiden Amerika saat
itu adalah illegal dan bertentangan dengan norma-norma kesepakatan
masyarakat internasional. Oleh karenanya, dia menentang dan bahkan menjadi
salah satu tema utama kampanyenya.

Yang paling penting adalah kenyataan bahwa Barack Obama telah menetapkan
penarikan tentara AS dari Irak dalam beberapa bulan ke depan, dengan melihat
kepada situasi di lapangan. Bagi saya, ini juga merupakan bagian dari sikap
tangggung jawab yang tidak ingin meninggalkan Irak begitu saja. Jika ini
yang dilakukan maka sudah pasti Amerika akan dicatat oleh sejarah sebagai
?penjajah? yang tidak bertanggung jawab.

Hasil sikap politik Barack Obama terhadap Irak ini jauh lebih baik ketimbang
hasil sikap politik pendahulunya dari Republikan. Kekerasan, pembunuhan,
dll., masih saja terjadi namun jauh menurun. Beberapa hari yang lalu
penduduk Irak baru saja melangsungkan pemilu yang walau diwarnai beberapa
insiden, namun secara umum sangat sukses.

Kedua, sehari setelah pelantikannya sebagai presiden, Barack Obama langsung
menanda tangani sebuah ?executive order? untuk menutup fasilitas penjara di
Guantanamo. Guantanamo telah menjadi saksi sejarah hitam dalam rangkaian
sejarah negara AS dengan berbagai pelanggaran HAM, termasuk torture, yang
kenyataannya AS seringkali dilihat sebagai penjuang. Oleh karenanya, dengan
tanpa pertimbangan apapun, Barakc Obama segera memerintahkan untuk menutup
dan dengan waktu yang jelas.

Walaupun hingga kini perintah penutupan tersebut belum sepenuhnya terealisir
karena berbagai kendala teknis, seperti penempatan ratusan penduduk
Guantanamo yang masih menunggu pengadilan dan juga tentunya adanya
upaya-upaya dari lawan politiknya untuk menghalaginya. Tapi yang keberanian
dan ketegasan Barack Obama untuk menutup fasilitas itu menrupakan langkah
yang patut dipuji.

Ketiga, dan mungkin ini yang paling penting untuk disadari, bahwa juga pada
hari kedua di Gedung Putih, Barack Obama langsung melakukan komunikasi
dengan kedua pemimpin Israel dan Palestina dalam upaya mencari solusi
konflik Timur Tengah. Bahkan upaya itu langsung ditindak lanjuti dengan
mengangkat seorang senator sebagai utusan khusus Presiden untuk Timur
Tengah.

Bagi saya pribadi, di tengah gelombang perang Irak dan Afganistan, Barack
Obama memberikan perhatian khusus terhadap konflik Timur Tengah, khususnya
Israel-Palestina. Tentu sebuah gambaran bahwa Barack sadar sepenuhnya betapa
konflik Palestina-Israel adalah kanker yang menggerogoti dunia internasional
kita sekarang ini. Jika saja konflik ini bisa diselesaikan, sudah pasti akan
banyak kekisruhan-kekisruhan dunia yang dapat diselesaikan.

Yang paling unik bagi saya adalah kenyataan bahwa Barack Obama terlihat
?berani? dalam memposisikan diri sebagai ?mediator? yang tidak memihak.
Minimal ini terlihat dalam berbagai pernyataannya yang cenderung tidak saja
selalu ?menyalahkan? Palestina, sebagaimana para pendahulunya, tapi telah
mempu di sisi lain melemparkan pernyataan keras kepada Israel. Padahal, kita
ketahui, mengeritik Israel bisa dinilai sebagai ?political suicide? bagi
seorang presiden AS.

Keempat, sadar akan kritikan selama beberapa tahun terakhir terhadap Amerika
dalam HAM, terutama dalam menyikapi penyiksaan terhadap tahanan atau
?torture?, Barack Obama dengan tegas melarang semua bentuk penyiksaan yang
masuk dalam kategori ?torture?, termasuk ?water boarding? yang pernah
dilakukan kepada tahanan teroris Sheikh Khalid Mohammed, perancang
(mastermind) serangan terhadap WTC.

Bagi saya pribadi, ini sebuah visi sekaligus komitmen besar. Di saat Amerika
merasa dalam keadaan terancam oleh what so called ?American haters?, Barack
justeru tetap sadar akan batasan-batasan hukum. Tidak seperti pendahulunya,
yang terkadang atas nama keamanan (security), hukum justeru tidak dihiraukan
dan bahkan cenderung dilanggar.

Kelima, di bidang ekonomi Barack Obama telah banyak mencoba untuk
memodifikasi berbagai aturan yang memihak kepada kaum lemah. Program ?bail
out? sebenarnya ditujukan untuk menyelamatkan para pekerja dari kemungkinan
pemutusan kerja (lay off) besar-besaran oleh corporate (perusahaan). Ini
tentunya harus dilihat sebagai bagian dari ?peduli kaum dhu?afa?, yang
menjadi bagian dari ?personal nature? (tabiat pribadi) Barack Obama yang
pernah mengalami kehidupan kaum dhu?afa.

Contoh yang paling jelas adalah beberapa peraturan terakhir yang nampak
sangat berpihak kepada pelanggang ?credit cards? (kartu kredit) yang
biasanya terlilit oleh utang perusahaan kredit yang mematikan. Beberapa
peraturan terkahir memaksa perusahaan-perusahaan kartu kredit untuk
melakukan modifikasi dalam membebani para pelanggangnya.

Barangkali upaya terbesar yang menjadi prioritas utamanya saat ini adalah
?health care reform? yang mati-matian ditentang oleh Republikan. Saya
sendiri menilai, penentangan itu sesungguhnya bukan dilandasi oleh
kepentingan khalayak ramai, tapi kepada upaya penggajalan kepada program
prioritas Barack Obama. Dan sudah tentu tujuan akhir dari upaya penggagalan
tersebut adalah menjatuhkan kredibilitas Barack di khalayak ramai.
Ujung-ujungnya adalah agar masyarakat Amerika tidak lagi memilih Barack
Obama untuk priode kedua tiga tahun ke depan.

Keenam, bahwa Barack Obama memiliki komitmen demokrasi dengan menjunjung
tinggi diversity manusia. Ini yang disadarinya sehingga Barack Obama tidak
canggung-canggung melakukan ?direct talk? dengan berbagai kalangan dunia
lain, termsuk dengan dunia Islam. Pesan-pesan yang disampaikan di Kairo,
Mesir merupakan representasi kesadaran akan ?inter-dependensi? dunia saat
ini. Barack Obama sadar bahwa tak satu bangsa atau negara di dunia ini,
termasuk negara super power Amerika, bisa hidup tanpa kerjasama dengan
bangsa-bangsa lain.

Sikap dan kebijakan Barack Obama ini, bagi saya pribadi, sangat bertentangan
dengan pendangan dan sikap pendahulunya yang melemparkan slogan ?with us or
against us?.

Selain itu, Barack Obama sangat santun dalam mengeritik lawan-lawan
politiknya, bahkan terhadap presiden Iran sekalipun. Barack selama ini tetap
memakai bahasa santun dalam mengkritisi sikap presiden Ahmadinejad yang
bersikukuh untuk mengembangkan ?nuclear power? di negaranya. Berbeda dengan
G.W Bush yang selalu memberikan kritikan dengan ?uncivilized manner?,
termasuk pengistilahan ?Evil Axes? (poros syetan), dll.

Kunjungan Barack Obama ke Indonesia

Menurut rencana, Presiden Barack Obama akan mengunjungi Indonesia, sebelum
ke Australia, pada pertengahan Maret tahun ini. Rencana kunjungan ini,
sebagaimana biasanya, akan disikapi dengan sikap yang berbeda-beda oleh
masyarakat Indonesia. Tentu, berbeda pandangan adalah sesuatu yang baik.
Saya yakin Barack Obama sendiri akan senang dnegan adanya perbedaan
pandangan di kalangan masyarakat karena itu adalah gambaran kebebasan
berfikir dan demokrasi.

Akan tetapi, kalau saja saya yang ditanya, apakah kunjungan Barack Obama ke
Indonesia harus mendapat sambutan penghormatan atau penolakan? Maka, dengan
tegas dan terbuka akan saya katakana harus diterima dengan penerimaan yang
terhormat. Alasannya sangat sederhana. Bahwa kalau saja Barack Obama yang
memimpin negara terkuat dunia, hamper dalam segala skala kehidupan, dari
pendidikan, ekonomi, dan hingga ke kekuatan militer, ingin membangun
hubungan yang baik dan sejajar dengan dunia lain, kenapa bangsa ini tidak
mempergunakan ?kesempatan? (momentum) tersebut untuk membangun relasi yang
sama dengan Amerika?

Kalaupun ada yang melihat bahwa pemerintahan Amerika saat ini belum
melaksanakan secara maksimal seperti yang diharapkan oleh banyak orang di
berbagai belahan dunia, seharusnya semua itu harus dilihat dengan pandangan
bijak. Bijak dalam arti bahwa sebuah kebijakan politik di negara demokrasi
tidak ditentukan oleh pribadi. Barack Obama bukan seorang raja, bukan pula
seorang dictator, tapi seorang presiden yang dikelilingi oleh berbagai
kepentingan. Dalam menentukan sikap, dia tentu punya pertimbangan politis
yang didasarkan kepada kemaslahatan mayoritas dan jangka panjang. Kalaulah
Barack Obama bisa memaksakan kehendak, maka sudah pasti dia akan memaksa
Israel untuk menghentikan konstruksi pemukiman di berbagai daerah Palestina.
Namun ?realita? politisnya mengatakan bahwa apa yang bisa dilakukan saat ini
adalah mengingatkan aktifitas illegal Israel di daerah Palestina.

Akhirnya, saya hanya ingin mengatakan, masanya umat ini melakukan
introspeksi akan masa-masa lalu, sekaligus membuka mata lebar dan memandang
jauh ke depan, apa yang telah dihasilkan dengan pandangan dan sikap sesaat
yang emosional selama ini? Kalau saja kepemimpinan Barack Obama yang nota
benenya sangat menghormati keragaman, berpihak ke kaum dhu?afa, serta
berusaha imbang dalam menyikapi berbagai konflik di dunia, minimal pada
tataran sikap pribadinya, ditangkap dan dijadikan momen yang baik untuk
?merangkul? dan berusaha memberikan masukan-masukan konstruktif ke depan.

Ataukah mengambil jalan oposisi terhadap seseorang yang punya I?tikad baik,
walau dengan susah payah melakukan implementasi dari I?tikad baik tersebut?
Tidakkah masanya bagi mereka yang menolak kedatangan Barack Obama ke
Indonesia sadar bahwa Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia
sudah masanya menempatkan diri sebagai ?pemain yang efektif? dalam
upaya-upaya menyelesaikan berbagai konflik dunia? Jangan sampai penentangan
itu merupakan representasi dari sikap yang rentang prustasi, pessimis,
apatis dan ?blaming in nature?. Umat yang sehat adalah umat yang selalu
positif, visioner, optimis dan ?solving in nature?.

Saya yakin, umat Islam Indonesia adalah umat Islam yang selalu mengedepankan
pandangan positif, dan yang paling penting akan meneropong jauh ke depan
perjuangan umat dalam rangka membangun dunia yang lebih bermartabat. Semoga!

New York, 8 Maret 2010

[Non-text portions of this message have been removed]

--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.
N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs.
im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können.
>> al-Ra'd [13]: 28

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
.

__,_._,___

Tidak ada komentar: