Mengenang Aminah Assilmi, Dari Kristen Radikal Menjadi Seorang
Muslimah
Rabu, 17/03/2010 12:11 WIB |
Berawal dari kesalahan data komputer, hidup perempuan cerdas ini berubah
total dari seorang penganut Kristen Baptis yang taat dan seorang feminis
yang radikal, menjadi seorang muslimah dan salah satu tokoh cendekiawan
Muslim di AS. Selama 33 tahun menjadi seorang Muslim, ia aktif berdakwah,
diundang sebagai pembicara, menulis dan memberikan advokasi di bidang
keislaman dan hak-hak perempuan. Dunia internasional mengenal dan
menghormatinya sehingga baru-baru ini ia terpilih sebagai satu dari 500
Muslim paling berpengaruh di dunia.
Namanya Aminah Assilmi. Usianya 65 tahun. Namun nama itu kini menjadi
kenangan, karena Allah Swt telah memanggilnya pada tanggal 5 Maret 2010.
Aminah meninggal dunia setelah pukul 03.00 dinihari waktu setempat, akibat
kecelakaan mobil di dekat Newport, setelah memberikan ceramah di New York.
Jabatan terakhirnya sampai ia menghembuskan napas yang terakhir adalah
Direktur International Union of Muslim Women.
Meski telah tiada, kisah keislaman dan dakwah sosok perempuan yang aktif di
masyarakat dan dikenal sebagai cendikiawan Islam dengan level internasional
menjadi inspirasi banyak orang.
*Saat Hidayah itu Datang*
Sebelum masuk Islam, Aminah terlahir dari keluarga Kristen Baptis di wilayah
Selatan AS. Sebagai perempuan, Aminah memiliki kecerdasan diatas rata-rata
gadis seusianya. Dia selalu mendapatkan nilai sempurna di sekolah, mendapat
beasiswa saat kuliah dan sejak menjadi menjadi mahasiswi, ia sudah mengelola
bisnis sendiri, bersaing dengan para profesional dan meraih beberapa
penghargaan. Ia juga menjadi aktivis perempuan yang menganut feminisme dan
bekerja sebagai wartawan media elektronik.
Suatu hari pada tahun 1975, Aminah menggunakan komputer untuk mendaftarkan
diri ke sebuah perguruan tinggi. Saat itu baru pertamakalinya komputer
digunakan untuk pendaftaran di perguruan tinggi tersebut. Sementara ia
menunggu hasil pra-pendaftarannya untuk jurusan Wisata, Aminah pergi ke
Oklahoma untuk mengurus bisnisnya. Karena sesuatu hal, kepulangannya
tertunda, ia baru kembali ke perguruan tinggi tempat ia mendaftarkan diri
dua minggu ketika perkualiahan sudah dimulai. Betapa terkejutnya Aminah,
karena komputer salah mengolah datanya dan nama Aminah masuk ke jurusan
Teater. Jurusan yang mengharuskannya tampil di depan banyak orang.
Sebagai gadis yang cenderung pemalu, Aminah gundah memikirkan dirinya harus
tampil di depan banyak orang. Ia tidak bisa membatalkan perkuliahannya,
karena sudah terlalu terlambat untuk mengurus kesalahan kompouter itu. Ia
tidak mau gagal karena ia menerima beasiswa. Nilai "F" di mata kuliah, akan
mengganggu pemberian beasiswanya.
Atas nasehat suaminya, Aminah menemui dosennya untuk membicarakan alternatif
untuk tampil, seperti persiapan kostum dan lain sebagainya. Dosennya
berjanji untuk membantu dan Aminah datang ke kelas selanjtnya yang membuat
ia syok dengan apa yang ia saksikan. Kelas itu penuh dengan orang-orang
Arab, yang oleh Aminah dijuluki "para joki unta". Aminah langsung pulang ke
rumah dan memutuskan untuk tidak kuliah lagi. Ia tidak mau berada di tengah
orang-orang Arab. "Aku tidak akan pernah duduk dalam satu ruangan yang penuh
dengan orang-orang kafir yang kotor," tegasnya ketika itu.
Melihat kegundahan isterinya, suami Aminah dengan sikap kalem seperti
biasanya memberinya penjelasan bahwa Tuhan pasti punya alasan untuk segala
sesuatu. Ia menasehati Aminah untuk berpikir dalam-dalam sebelum memutuskan
berhenti kuliah. Aminah mengunci dirinya selama dua hari untuk
mempertimbangkan nasehat suaminya dan akhirnya ia memutuskan untuk tetap
kuliah. Tapi keputusan itu dibarengi dengan pikiran bahwa Tuhan telah
menugaskan dirinya untuk mengajak orang-orang Arab itu masuk agama Kristen.
Aminah pergi kualiah dengan sebuah misi. Sepanjang perkuliahan, Aminah akan
menyempatkan diri untuk membicarakan agama Kristen yang dianutnya dengan
teman-teman Arabnya di kelas. "Saya mulai menceramahi mereka bagaimana
mereka akan dibakar di neraka untuk selama-lamanya kalau mereka tidak
menerima Yesus sebagai penyelamat mereka," ujar Aminah menceritakan
pengalamannya sebelum masuk Islam.
Tapi, sambungnya, teman-teman Arabnya sangat sopan dan tidak ada yang mau
masuk Kristen. Aminah masih terus berusaha mempengaruhi mereka dengan
mengatakan bahwa Yesus sangat mencintai mereka dan rela mati disalib untuk
menyelamatkan manusia dari dosa-dosa. Yang harus dilakukan manusia hanyalah
menerima Yesus dalam hati mereka.
Teman-teman Arab Aminah tetap tidak ada yang mau pindah agama ke Kristen dan
Aminah pantang mundur. Ia memutuskan untuk membaca kitab suci Al-Quran untuk
menunjukan pada teman-teman Arabnya bahwa Islam adalah agama palsu dan Nabi
Muhammad adalah tuhan palsu.
Atas permintaan Aminah, seorang mahasiswa membawakannya kitab suci Al-Quran
dan sebuah buku tentang Islam. Aminah lalu memulai pencariannya untuk
mematahkan keyakinan teman-teman Arabnya terhadap Islam. Aminah membaca
seluruh isi Al-Quran dan sedikitnya 15 buku tentang Islam, lalu ia kembali
pada Al-Quran dan membacanya kembali. Selama pencariannya itu, ia mulai
membuat beberapa catatan hal-hal yang menurutnya bisa ia bantah dan akan
dijadikannya sebagi bukti bahwa Islam adalah agama palsu.
Tapi tanda disadarinya, telah terjadi perubahan pada diri Aminah dan
suaminya yang melihat perubahan itu. "Dalam beberapa hal kecil saya mulai
berubah, yang cukup membuat suami saya terganggu. Kami biasa pergi ke bar
setiap hari Jumat dan Sabtu atau pergi ke pesta. Lalu saya mulai malas pergi
ke tempat itu, saya jadi agak pendiam dan mulai menjauh," tutur Aminah.
Sejak ia membaca Al-Quran dan buku-buku Islam, Aminah juga mulai berhenti
minum minuman keras dan tidak lagi makan daging babi. Karena
perubahan-perubahan itu, suaminya menuduhnya selingkuh dengan lelaki lain
dan mengusirnya. Aminah lalu pindah dan hidup sendirian di sebuah apartamen.
Dalam kesendiriannya, Aminah terus mempelajari Islam meski ia masih tetap
menjadi seorang Kristen yang taat.
Sampai suatu hari, terdengar ketukan di pintu apartemennya. Seorang
laki-laki-yang kemudian dikenalnya bernama Abdul Aziz Al-Syaikh-mengenaka
busana tradisional muslim berupa baju gamis panjang berwarna putih dengan
sorban bermotif papan catur putih merah terlilit di kepalanya. Lelaki itu
datang bersama tiga lelaki lainnya yang mengenakan busana yang sama. Ketika
itu, Aminah merasa marah karena para tamu itu datang saat ia mengenakan baju
tidur dan piyama saja.
Aminah makin kaget ketika Abdul Aziz mengatakan bahwa ia memahami bahwa
Aminah ingin menjadi seorang muslim. Aminah lalu menjawab bahwa ia seorang
Kristiani dan tidak berniat untuk menjadi seorang muslim. Tapi Aminah punya
banyak pertanyaan dan menanyakan apakah tamu-tamunya itu punya waktu luang.
Akhirnya Aminah mempersilahkan mereka masuk. Ia lalu menanyakan hal-hal dan
keberatan-keberatan
buku-buku Islam. "Saya tidak akan melupakan namanya, Abdul Aziz adalah
seorang yang sabar dan lemah lembut. Ia dengan sangat sabar membahas
pertanyaan-pertanya
bodoh atau membuat pertanyaan saya seperti pertanyaan yang bodoh," ungkap
Aminah.
Aminah mengatakan, Abdul Aziz menjelaskan padanya bahwa Allah memerintahkan
manusia untuk mencari ilmu dan bertanya sebagai salah satu cara untuk
mendapatkan ilmu. Aminah seperti menyaksikan kuntum bunga sedang bermekaran
mendengar penjelasan Abdul Aziz. Ketika ia berbeda pendapat, Abdul Aziz akan
memjelaskannya lebih dalam dan dari sisi pandang yang berbeda sampai Aminah
benar-benar memahaminya.
Setelah berdiskusi dengan Abdul Aziz dan teman-temannya, tidak butuh waktu
lalu buat Aminah untuk memutuskan masuk Islam. Satu setengah tahun ia sudah
mempelajari Islam dan Al-Quran, keesokan harinya setelah Abdul Aziz bertamu
ke rumahnya, Aminah mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan Abdul Aziz
dan teman-temannya yang datang malam itu.
*Cobaan Bertubi Setelah Menjadi Muslim*
Seperti kebanyakan para mualaf yang harus menghadapi konsekuensi yang tidak
mengenakan setelah masuk Islam, begitu pula Aminah. Setelah menjadi seorang
muslimah, Aminah banyak kehilangan teman-temannya. Ibunya juga tidak
menerima keislamannya. Saudara perempuannya bahwa menganggap Aminah sakit
jiwa dan ingin memasukkannya ke tempat rehabilitasi para penderita gangguan
mental. Ayah Aminah yang dikenal sebagai orang yang bijak dan tempat meminta
nasehat oleh banyak orang, tiba-tiba menjadi beringas dan seolah-olah ingin
membunuh Aminah setelah mendengar puterinya menjadi seorang muslim.
Aminah sendirian, tanpa teman dan tanpa keluarga. Tapi ia tetap memilih
jalan Islam, bahkan memutuskan untuk segera berjilbab meski untuk itu ia
harus kehilangan pekerjaannya karena dipecat. Cobaan itu belum cukup, karena
suami Aminah menceraikannya begitu tahu ia masuk Islam dan pengadilan
memutuskan dua anaknya, satu laki-laki dan satu perempuan, dibawah
pengasuhan suaminya, hanya karena Aminah kini menjadi seorang muslim.
"Itulah 20 menit yang paling menyakitkan dalam kehidupan saya," kata Aminah
dalam sebuah wawancara saat ia harus melepas kedua anaknya.
Di Colorado, Aminah mencoba membeberkan kasusnya pada media massa. Ia
berharap bisa mendapatkan hak pengasuhan anaknya kembali karena hukum di
Colorado menyebutkan bahwa seseorang tidak bisa kehilangan hak asuh anaknya
hanya karena latar belakang agamanya. Meski demikian, Aminah tetap tidak
berhasil mendapatkan hak asuh itu.
Aminah kembali menjalani kehidupannya sebagai seorang muslim. Meski sakit
hati, ia tetap memperlakukan keluarganya dengan hormat dan tetap menjaga
komunikasi dengan mereka. Ia juga tetap mendakwahkan Islam dalam setiap
kesempatan bertemu dengan keluarganya. Dan perjuangannya tidak sia-sia.
Anggota keluarganya yang kemudian masuk Islam adalah neneknya yang sudah
berusia lebih dari 100 tahun. Tak lama setelah bersyahadat, neneknya wafat.
Setelah itu, ayah Amina yang dulu ingin membunuhnya karena keislamannya,
menyatakan diri masuk Islam. Beberapa tahun kemudian, ibu Aminah pun menjadi
muslimah. Lalu suami Aminah dan saudara perempuannya yang dulu ingin
memasukkannya ke rumah sakit jiwa akhirnya juga mengucapkan dua kalimah
syahadat. Tak ketinggalan, anak lelaki Aminah, pada usia 21 tahun juga
memutuskan untuk menjadi seorang Muslim.
Subhanallah ... tak ada hal yang paling membahagiakannya Aminah selain
melihat keluarganya memeluk Islam. Aminah pun terus mendakwahkan
pengalamannya dan agama Islam sehingga banyak orang yang sudah terinspirasi
dari pengalaman hidupnya. Entah sudah berapa banyak orang yang masuk Islam,
setelah mendengar kisah Aminah dan ceramah-ceramah agamanya.
Sekarang sosok Aminah Assilmi sudah tiada, tapi namanya tetap harus dan
hidup di hati orang-orang yang mengagumi dan menyayanginya. (ln/iol/isc)
http://www.eramusli
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar