Kamis, 18 Maret 2010

[sekolah-kehidupan] Digest Number 3009

Messages In This Digest (7 Messages)

Messages

1a.

Self Publishing: PERLU PEMASARAN BUKU BERLAPIS

Posted by: "mohammad zen" mhzen@yahoo.com   mhzen

Wed Mar 17, 2010 11:48 am (PDT)



Oleh : Muhammad Zen
 
Menekuni "self publishing" alias menerbitkan buku karya sendiri, memang banyak keunikannya. Kita harus pandai memilih materi tulisan atau materi untuk buku yang memikat, sekaligus berpotensi layak jual alias bakal laris saat buku dipasarkan.
 
Sudah 2 buku saya terbitkan (dan 1 buku lagi kini sedang naik cetak), semua secara self publishing, dan alhamdulillah hasilnya cukup bagus.
 
Dua buku yang sudah terbit tersebut yakni:
1. Kiat Sukses Mengikuti Sertifikasi Guru (kini cetakan ke-4)
2. Jurus Ampuh Mengatasi Oknum Wartawan Nakal (kini cetakan ke-2).
 
Pemasaran buku tersebut cukup bagus, karena saya biasanya menggunakan "pemasaran berlapis".
 
-Lapis pertama yakni memasarkan buku lewat distributor buku, agar buku kita masuk ke berbagai toko buku di Indonesia. Kelebihannya: buku kita langsung tersebar ke berbagai toko buku. Kelemahannya: perputaran uang lambat (bisa 3-6 bulan baru cair untuk tahap pertama, seterusnya tiap bulan). Kelemahan lain: distributor lazimnya minta diskon sangat tinggi (kisaran 50 % – 65 % dari harga jual buku).
 
-Lapis kedua: yakni buku kita pasarkan secara langsung (bisa oleh kita sendiri atau oleh orang-orang kepercayaan kita) ke komunitas yang butuh buku tersebut. Contoh buku sertifikasi guru dipasarkan ke guru / sekolah, atau bisa juga lewat Dinas Pendidikan di berbagai daerah. Dengan diskon 40 % – 50 % mereka sudah sangat senang, dan dananya biasanya langsung cair.
 
-Lapis ketiga: yakni pemasaran bersamaan saya memberi ceramah atau mengisi seminar. Kebetulan saya belakangan ini sering diundang mengisi ceramah / seminar, untuk yang akan datang: akhir Maret 1 tempat di Malang, untuk April saya dapat order 6 kota (di Malang, Probolinggo, Slawi Tegal, Bandung, Garut serta Cianjur). Pada saat saya mengisi ceramah atau seminar, saya minta panitia menyediakan meja khusus yang menjual buku-buku tulisan saya dengan diskon 40 % dan lazimnya peserta seminar banyak tertarik sehingga laris manis dan dananya kontan. Mengapa peserta seminar diberi diskon hingga 40 % ? Itu untuk menarik minat, bukankah diskon tersebut tetap dibawahnya diskon  yang diminta distributor buku ? Apa tidak rugi ? Ya tidak, karena harga buku lazimnya dilipatkan 5 atau 6 kali dari biaya cetak buku.
 
Oh ya, buku ketiga saya yang diterbitkan self publishing, berjudul: Gus Dur Kiai Super Unik. Tanggal 20 Maret nanti buku selesai cetak. Selain dipasarkan biasa (toko buku via distributor), buku tersebut juga akan saya pasarkan ke seputar Kompleks Makam Gus Dur di Tebu Ireng Jombang (saya sudah memperoleh agen yang mengkordinir 30 lebih asongan buku di sekitar makam Gus Dur). Selain itu juga bakal dipasarkan di terminal, stasiun dan kelenteng, serta masjid Ceng Ho.
 
Dengan pemasaran berlapis seperti itu, kembalinya modal cepat dan buku bisa laris manis. Semoga buku GUS DUR KIAI SUPER UNIK tetap bisa laris manis.
 
http://mhzen.wordpress.com/

1b.

Re: Self Publishing: PERLU PEMASARAN BUKU BERLAPIS

Posted by: "INDARWATI" patisayang@yahoo.com   patisayang

Wed Mar 17, 2010 11:38 pm (PDT)




Menarik. Kreatif sekali. saya juga akhir2 ini tertarik melirik self publishing untuk buku berikutnya. Hanya, karena networking yang tak seberapa luas (yang mestinya jadi trigger untuk meluaskannya ya, :) ) jadi berpikir seribu kali.

Tfs pak.

salam,
Indar

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, mohammad zen <mhzen@...> wrote:
>
> Oleh : Muhammad Zen
>  
> Menekuni “self publishing” alias menerbitkan buku karya sendiri, memang banyak keunikannya. Kita harus pandai memilih materi tulisan atau materi untuk buku yang memikat, sekaligus berpotensi layak jual alias bakal laris saat buku dipasarkan.
>  
> Sudah 2 buku saya terbitkan (dan 1 buku lagi kini sedang naik cetak), semua secara self publishing, dan alhamdulillah hasilnya cukup bagus.
>  

2a.

Re: Aku Membutuhkan Kalian...BERDUA...

Posted by: "rahma dewi" rachma_dewod1981@yahoo.com   rachma_dewod1981

Wed Mar 17, 2010 11:50 am (PDT)



kelak jika dewasa.. justru dengan berpisah terkadang menjadi jalan keluar terbaik..
puisi nya bagus..

--- On Wed, 3/17/10, deesiey <deesiey@gmail.com> wrote:

From: deesiey <deesiey@gmail.com>
Subject: [sekolah-kehidupan] Aku Membutuhkan Kalian...BERDUA...
To: "deesiey" <deesiey@gmail.com>
Date: Wednesday, March 17, 2010, 1:46 AM

 

Ibu, Ayah, mengapa kalian harus berpisah?

Aku memang masih kecil. Belum mengerti apa-apa.

Tapi kenapa kalian harus pisah?

Kenapa aku harus kehilangan salah satu dari kalian.

Memang sih, aku masih bisa bertemu.

Tapi aku tidak bisa lagi bermanja dan bermain dengan kalian setiap saat.

Aku memang tidak mengerti apa-apa.

Tapi haruskah kalian saling membenci?

Bukankah kalian juga yang mengajarkanku untuk saling mengasihi dan menyayangi?

Mengapakah begitu sulit untuk memaafkan?

Padahal kalian juga khan yang mengajarkanku untuk tidak pernah malu minta maaf.

Aku tidak mau kehilangan salah satu dari kalian.

Aku butuh kalian berdua. Bukan salah satu saja.

Aku butuh ibu untuk menemaniku ke sekolah, bermain bersama.

Aku butuh ayah untuk mengajariku matematika, dan menemaniku jalan-jalan.

Jika salah satu dari kalian tidak ada...bagaimana dengan aku?

Apa yang harus aku katakan saat teman-teman bertanya kepadaku?

Tidak bisakah kalian saling memaafkan dan kembali saling mencintai?

Seperti saat dahulu pertama kali kalian melihatku di dunia.

Tidak bisakah kalian kembali berpelukan dan saling memahami?

Seperti saat dahulu pertama kali kalian melihatku berjalan.

Tidak bisakah?

Kemanakah rasa cinta dan sayang yang dulu pernah ada?

Kemanakah pelukan dan pemahaman yang dulu mewarnai rumah kita?

Tapi jika tidak bisa juga, setidaknya.. .bisakah kalian bertahan?

Setidaknya untukku?

Tidak bisakah setidaknya kalian saling peduli?

Sebagai ibuku kepada ayahku, dan sebagai ayahku kepada ibuku?

Setidaknya sampai aku dewasa nanti?

Tidak bisakah?

Jangan pergi. Aku mohon jangan pergi.

Jangan tinggalkan aku.

Maafkan aku ibu, ayah, jika aku sering nakal dan tidak mau menurut.

Sering membuat kalian tidak sabaran dan marah-marah.

Aku janji, aku janji tidak akan nakal lagi.

Tapi jangan tinggalkan aku.

Jangan juga minta aku untuk memilih.

Aku sayang kalian dan tidak dapat dibagi.

Aku hanya ingin kalian berdua.

Aku mohon...

Aku membutuhkan kalian...BERDUA. ..

16 Maret 2010

Sesudah hujan berhenti, dan air mata mengalir

>> Menjadi orang tua bukanlah tentang hanya memiliki keluarga dan anak. Tapi bagaimana mendidik dan membahagiakan anak itu. Bukanlah lagi tentang aku dan kamu, tapi tentang dia dan kami.

--
http://sampiran. blogspot. com/

3.

tanya biaya sekolah swasta dan negeri

Posted by: "Robby Hermawan" robby@iwhitesolutions.com   rbhtlkm99

Wed Mar 17, 2010 11:55 am (PDT)



Halo Semua,

Salam kenal, sy member pasif tp sering siy posting ke milis ini. Saya bukan
pelaku/pengamat/pemerhati pendidikan formal/non formal tapi hanya manusia
yang bagian dari proses pendidikan di dunia dan akhirat. Mau tanya sebentar
lagi akan ada penerimaan siswa baru di smua level tingkat pendidikan (tk,
sd, smp, sma). Saya hanya mau nyambung lidah tmn sy bahwasanya anak beliau
tahun ini sedang akan masuk TK, SD, SMP dan SMA (hehehhe hebatkan tmn saya
pas smua masuk pertama level pendidikan). Beliau lagi pusing tuk mengatur
keuangan pendidikannya dan meminta saya selaku member milis ini untuk
menyampaikan kepada tmn2 smua tentang jikalau tmn2 milis ada informasi
tentang biaya pendidikan tuk TK, SD, SMP dan SMA yang madrasah juga boleh
dari mulai biaya UP3, SPP, biaya iuran bulanan dll.

Keliatannya tmn saya ini ingin benchmark/studi banding tentang biaya2
pendidikan di DKI Jakarta untuk sekolah swasta dan negeri baik dari yang
paling murah hingga yang paling mahal. Jika tmn2 bisa memberikan info ini,
beliau sangat bersyukur skali. Soalnya kalau tiap hr ditelpon ke sekolah
ybs, akan lama sekali prosesnya.. Mungkin dia ingin update slama 3 tahun
terakhir biaya pendidkan di Indonesia. Mungkin itu saja dr saya selaku
penyambung lidah tmn saya. Smg info ini bisa membantu tmn2 untuk mendapatkan
info yang dimintabantuannya oleh teman saya. Terima kasih sebelumnya

Wassalam

--
Best Regards,

Robby Hermawan
PT. iWhite Solutions Indonesia
JL. Bendungan Walahar No 16
Jakarta Pusat 10210
T : +62 21 570 2745
M : +62 856 889 2500
E : robby@iwhitesolutions.com
W: www.iwhitesolutions.com
4.

Kilat

Posted by: "wong_mojosari" wong_mojosari@yahoo.co.uk   wong_mojosari

Wed Mar 17, 2010 11:58 am (PDT)



Saat ini musim hujan sayang...
begitu sendu hari hari
gerimis dan rintihannya
memuzikkan nada nada pelepas tidur

Jaket dan Sepeda motor ayah
tak pernah lepas dari cengkeraman
lempung lempung merah
Menandai putaran roda yang tiada henti

Hanya sekilas
seperti kilat
Kita selalu melepas
Hidup bernafas iradat

Rintihan gerimis
Memaknai nyanyian pengemis
Meratapi gulandanya perut dhuafa kembang kempis
Dalam nafsu tiada habis

Lisno Setiawan
citayam, 17 Maret 2010


5.

Gelombang (Memang) Tak Selamanya Pasang

Posted by: "Indarwati Indarpati" patisayang@yahoo.com   patisayang

Wed Mar 17, 2010 9:16 pm (PDT)





Gelombang (Memang) Tak Selamanya Pasang

Gelombang memang tak selamanya pasang. Kadang dia turun lalu
melandai dan pecah di antara butiran pasir pantai atau celah karang. Begitupun
semangat kita untuk mengisi hari-hari. Seperti yang kurasakan pagi ini. Setelah
beberapa hari terakhir berada dalam kondisi prima, teramat prima malah, untuk
menyelesaikan semua tugas, pagi ini raga dan jiwaku melandai. Gelombang
semangat itu entah raib kemana. Padahal minggu-minggu kemarin dan minggu ini
yang merupakan minggu tersibukku dia setia menemani. Mengawasi tukang,
menyelesaikan pesanan boneka flanel, pindahan rumah
lalu menatanya, dan semua pernak-pernik harian seperti masak dan mengantar
jemput anak.

Biasa tidur lewat tengah malam dan harus beberapa kali
bangun membuatkan Yasmin (22 bulan) susu, sementara siang belum bisa menebus
kekurangan waktu tidurku, aku merasa lemas dan malas pagi ini. Yang membuat
rasa malas dan nelangsaku bertambah, aku membaca postingan beberapa sahabat
yang mengabarkan kemajuan dan pencapaian-pencapaian mereka di bidang yang
(rasanya masih setengah hati) kuterjuni. Aku merasa semakin jauh tertinggal.
Alih-alih merasa mendapat  trigger, aku justru semakin down.

'Jangan pernah membandingkan
kekurangan kita dengan kelebihan orang lain' sebuah nasehat yang mestinya
kuaplikasikan di kondisi ini justru kusingkirkan jauh-jauh. Bertambah terpuruk
aku, tak hanya secara mental juga secara raga tatkala kurasakan
sengatan-sengatan nyeri di bekas luka operasi caesarku Mei 2008 lalu. Pastinya
karena dia mengalami peregangan kulit sebab kehamilan yang berjalan di usia 6
bulan.

Tapi, haruskah gelombang itu tetap landai? Setelah dia
menyapu karang dan tak terhitung pasir di pantai lalu selesai? Oh, tidak! Hukum
alam berbicara bahwa di belakangnya ada gelombang lagi, yang memiliki beberapa
meter tinggi. Maka kucoba melihat semua dari kacamata berbeda.

Mereka, para sahabat yang memiliki pencapaian hebat itu
memang mempunyai kelebihan waktu dan kesempatan dibandingku. Tapi, ada satu hal
yang mestinya sama yang bisa kuusahakan setara dengan mereka. Itu bernama
kegigihan dan focus pada tujuan. Bukankah Dia melihat usaha hambaNya lalu
mewujudkan sesuai ekspektasi mereka?

 

Ada sebuah catatan bagus dari Pak Hernowo yang meletupkan
semangatku kembali. Judulnya Apa yang
Anda Lakukan Ketika Anda Gagal? 
Beliau mencuplik kegigihan Robert Maynard Pirsig, penulis buku Zen
and the Art of Motorcycle Maintenance yang mengirimkan 121 kali
naskahnya ke penerbit dan ditolak sebelum akhirnya diterbitkan setelah usaha
ke-122 yang kemudian mengantarkannya menjadi seorang bintang.

Selain berkaca pada kegigihan orang-orang besar seperti Pirsig
dan Thomas Alva Edison yang di luar batas kewajaran—kalau saya bilang--, beliau
juga menuliskan dalam satu paragrafnya tentang mengapa sebuah buku tak banyak
dibaca orang. Menurut beliau ada 3 sebab. Pertama, penulisnya kurang
sabar mungkin sebab ingin bukunya segera dibaca banyak orang dalam waktu cepat.
Kedua, informasi tentang tulisan atau buku tersebut tak sampai ke banyak
pembaca yang memang memerlukannya (mungkin kurang promosi atau pas tulisan dan
buku tersebut beredar, ada isu yang lebih menarik perhatian). Dan ketiga,
sang penulis tidak bersemangat atau malah berhenti berkarya dan cukup puas jika
hanya menulis satu tulisan atau buku.

Membaca ulasan di atas, aku merasa tertohok terutama oleh alasan
kedua dan ketiga. Yang pertama, justru sangat tak mengena di pribadiku yang
rada-rada perfeksionis sehingga kadang malah jadinya menggeletakkan naskah
setengah matang karena merasa takkan pernah perfect dan pantas dibaca orang. 

Alasan kedua, jelas ada hubungannya dengan pihak penerbit,
meski ada andil penulis juga untuk memasarkan karyanya secara 'swadaya'.  Penulis yang belum memiliki bargain position bagus cenderung tak
terlalu selektif memilih penerbit. Padahal penerbit yang bagus biasanya juga
bagus dan serius dalam promosi buku-buku mereka.

Alasan ketiga, bisa juga ada hubungannya dengan alasan kedua.
Kemalasan itu bisa berasal dari banyak hal. Fokus yang mengalami pergeseran,
atau sebab luar yang ada hubungannya dengan alasan kedua terutama penerbit. Orang
Surabaya mungkin bilang kacrok alias
kapok. Kapok menulis karena royalty tak didapat seperti yang diharapkan, kapok
menulis karena penerbit yang terdahulu tak bisa komunikatif dan melakukan
langkah riil untuk mempromosikan karya seperti yang dilakukannya secara
swadaya, atau kapok sebab lainnya.

Tapi, setelah menganalisa ketiga alasan di atas pada diri
sendiri, haruskah kita terutama aku secara pribadi mandeg dan memilih
melandaikan gelombang untuk selamanya lalu tak pernah menciptakannya kembali
pasang? Buat apa para penulis hebat itu ada setelah dengan segala kegagalan tak
terhingganya jika dibandingkan dengan kita—terutama saya—jika tidak mengajarkan
kita untuk meneladaninya?

So, wake up Mom! Biarkan
nyeri di bekas operasi itu menyemangati. Biarkan pencapaian sahabat itu menjadi
virus yang menulari. Liarkan imajinasi untuk menulis lagi, sekedar ngeblog,
bikin catatan atau curcol—curhat colongan—seperti ini kembali. 

 

Tanah Baru, 18/03/10
10.42

Indarwati
irt, penulis lepas, plus souvenir maker
curhatan http://lembarkertas.multiply.com
kreasi tangan http://craftcafe.multiply.com
FB: indar7510@yahoo.com

6.

(ruang keluarga) Hadiah Kecil Bernilai Besar

Posted by: "Indarwati Indarpati" patisayang@yahoo.com   patisayang

Wed Mar 17, 2010 10:49 pm (PDT)





Hadiah
Kecil Bernilai Besar

 

Aku
baru menyelesaikan sholat subuhku ketika gadis kecil itu masuk. Dengan riang
dia naik ke ranjang. Apalagi ranjang geser dua itu bagian atasnya berfungsi
juga sebagai 'ruang kerjaku'. Terbiasa pintu kamarnya kututup, Yasmin akan
sangat bersuka cita jika bisa menyelinap masuk lalu naik ke ranjang bagian
atas. Di sana,
ada banyak harta karun untuk dimainkannya. Mote, benang, kain flannel, bahkan
termasuk benda tajam berbahaya semisal jarum dan gunting. Ya, di atas ranjang
itulah aku biasa mengerjakan kerajinan flannel yang berupa boneka-boneka imut
dan lucu.

 

Tapi
pagi itu, perhatiannya teralihkan. Belum sempat naik dari ranjang geser bawah
ke tempat harta karun di ranjang atas, langkahnya terhenti oleh dua kaos putih
bergambar. Warna purple dan merah di bagian tengah depan kaos itu jelas menyita
perhatiannya. Terlebih lagi bentuk karakternya.

 

"Bagus,"
katanya. Sebuah reaksi yang tak kukira akan dilontarkan gadis berusia hampir 22
bulan itu yang seketika menggerimiskan hatiku. Tak sia-sia aku mengerjakannya
hingga pukul setengah satu, dini hari.

 

"Dede
nanti mau pakai yang mana? Elmo atau Barney?" tanyaku.

 

"Barney."
Jawabnya pasti sambil menunjuk ke kaos dengan aplikasi gambar Barney. Semenjak
ketemu badut Barney di acara Family Gathering kantor papanya Yasmin memang
tergila-gila dengan Barney. Bahkan gambar Barney yang menurutku sangat kecil di
salah satu halaman dari majalah wanita yang tengah kubaca pun sanggup
ditemukannya.  Hal itulah yang
mendorongku untuk menghias kaos polosnya dengan gambar Barney dari kain
flannel. Maka pagi itu, sehabis mandi, sembari berjalan-jalan dan sarapan dia
dengan bangga memamerkan kaos barunya. Dan sebagai ibu, aku sangat terharu demi
melihat hasil karyaku begitu disukai anakku. Besoknya, setelah Barney, giliran
kaos Elmo yang dikenakannya. Hari berikutnya, saat hendak mengenakan pakaian
sehabis mandi dia minta si Elmo atau Barney lagi. Untungnya dia bisa mengerti
saat diberitahu kalau si Elmo dan Barney masih basah. Mendung membuat jemuran
tak cepat kering.

 

Dua
kaos itu bisa kubilang hanyalah sedikit penebus rasa bersalahku. Sebagai orang
tua, meski berusaha adil terhadap anak-anaknya tapi pasti tetap tak akan pernah
sama memperlakukan mereka. Pada Ais, sebagai anak pertama, dia mendapat mainan,
pakaian, juga VCD dan buku-buku lebih banyak dari adiknya pada usia yang sama.
Dan aku perlu sebuah sentilan untuk menyadari hal itu lalu berusaha
memperbaikinya.

 

Kutinggal
mengawasi rumah atau keluar ke toko material dan keperluan lainnya, Yasmin
biasanya di rumah sama si Mbak. Kadang si Mbak harus sambil nyambi masak kalau
paginya aku tak sempat. Di kesempatan seperti itulah Yasmin kuperbolehkan
melihat VCD. Entah bosan atau merasa tak sreg dengan Magic English yang
kurekomendasikan untuk diputar, si Mbak membuka-buka map penyimpan CD Ais.
Diantara tumpukan lempeng itu, ditemukannyalah harta karun yang semakin membuka
mataku untuk lebih adil terhadap anak-anakku. Harta karun itu berupa VCD lagu
anak-anak.

 

Salah
satu kebiasaan Yasmin sebelum tidur adalah menyanyi. Dari sanalah dia pertama
kali mengenal lagu Bintang Kecil, Burung kakak Tua, Naik Delman, Tik Tik Bunyi
Hujan, dan lagu-lagu anak evergreen n
everlasting lainnya. Lagu-lagu itu semakin dihafal dan menambah ceria
hatinya manakala di VCD itu dinyanyikan oleh 'kakak-kakak' (demikian istilahnya
untuk gadis-gadis seusia TK yang membawakannya) dengan gaya plus musik ceria. Ekspresi
kanak-kanaknya, sungguh akan membuat siapapun ibunya bahagia.

 

Kejadian
VCD itu membuatku sadar, bahwa belum pernah satu pun kubelikan VCD sendiri
untuknya. Semua milik kakaknya. Mainan dan buku-buku pun lebih banyak
meneruskan milik kakaknya. Apakah hal itu salah? Tentu tidak. Hanya, mungkin
terasa kurang adil karena bagaimanapun dia berhak memiliki barang-barang
sendiri. Satu hal lagi adalah soal pakaian itu tadi. Sampai seusianya sekarang,
karena badannya termasuk imut, pakaian usia 6 bulan masih bisa dikenakannya.
Ini berbeda dengan kakaknya yang termasuk tinggi dan cepat besar sehingga harus
sering membelikannya pakaian baru.

 

Siang
itu, rasanya tertebus sudah sedikit rasa bersalahku. Setelah mampir ke kantor
pos dan ke plasa Telkom untuk melaporkan sambungan rumah yang terputus, aku ke
ITC. Selain mengantar pesanan boneka flanel, ada agenda lain yang sudah
berhari-hari ini memenuhi pikiranku.

 

Menerima
uang pembayaran berhari-hari hasil kreasiku—yang lebih banyak nilai kepuasannya
dibanding materialnya—aku bergegas naik escalator, menuju toko perlengkapan
bayi dan batita. Memilih dan menawar, aku kemudian membayarnya dengan uang
hasil penjualan boneka tadi. Sengaja tak kuusik uang belanja keluarga yang ada
di bagian lain dompetku. Setelahnya aku ke toko ritel untuk mencari VCD lagu
anak-anak yang original. Sayangnya tak kutemukan. Hanya ada satu VCD Barney
tentang seeing n hearing.

 

Sebelum
pulang, aku sempatkan mampir ke booth penjual topi. Kuambil satu topi cantik
berwarna merah dan kuminta penjualnya membordir nama Yasmin di bagian atasnya.
Kembali aku membayar belanjaku itu dengan 'duit
wedhok'. Istilah ini kukenal saat masih ngantor dulu. Duit lanang atau duit wedhok
dimaksudkan oleh teman-temanku sebagai duit pribadi hasil dari kerja di luar
gaji utama. Ceperan istilahnya, yang besarannya mungkin tak seberapa tapi boleh
dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi si penerima. Boleh dimasukkan duit
belanja keluarga, atau buat senang-senang seperti yang kulakukan itu.

 

Ya,
aku memang merasa lebih dari senang bisa membelanjakan sesuatu untuk anakku
dari uang hasil keringatku sendiri. Tak seberapa nilainya dibanding uang bulanan
yang masuk ke rekening suamiku lalu menjadi uang keluarga tapi jelas valuenya
lebih tinggi bagi seorang ibu rumah tangga tak berpenghasilan tetap sepertiku.
Yang membuatku lebih bahagia lagi adalah reaksi yang kudapatkan dari si kecil.
Kami selalu berusaha mengajarkan untuk melihat barang atau benda lebih dari
sekedar 'benda'. Semua ada nilainya. Nilai yang bukan harga. Nilai yang bisa
berarti milik orang lain yang harus kita jaga, nilai yang berarti perhatian
orang lain atau keluarga special untuk kita, juga nilai-nilai lainnya.

 

Hadiah
kecil untuk si kecil memang perlu. Yang tak kalah penting adalah ada sesuatu
yang lebih besar (bernilai) di baliknya.

 

Tanah Baru, 12/03/10 08.13

 

 

 

Indarwati
irt, penulis lepas, plus souvenir maker
curhatan http://lembarkertas.multiply.com
kreasi tangan http://craftcafe.multiply.com
FB: indar7510@yahoo.com

Recent Activity
Visit Your Group
Sell Online

Start selling with

our award-winning

e-commerce tools.

Group Charity

i-SAFE

Keep your kids

safer online

Dog Fanatics

on Yahoo! Groups

Find people who are

crazy about dogs.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web

Tidak ada komentar: