Senin, 14 Juli 2008

[FISIKA] Digest Number 2473

Messages In This Digest (3 Messages)

Messages

1.

bersosialasi dengan rekan kerja (Re: [FISIKA] Re: kuliah di Israel)

Posted by: "Muhammad Aziz Majidi" aziz.majidi@gmail.com   aziz_majidi

Sun Jul 13, 2008 6:31 am (PDT)

2008/7/12 Suharyo Sumowidagdo <sss5946@garnet.acns.fsu.edu>:

> Terkait dengan itu, ini dua nasehat yang sebaiknya dipegang
> rekan-rekan dari Indonesia.
>
> 1. Selama kita bekerja di lab atau kampus yang bernuansa
> internasional, biasakan untuk tidak menanyakan hal2 ini kepada rekan
> kerja dari negara lain: keadaan sosial politik, atau sejarah kelam di
> negaranya. Tanyakan hal-hal seperti musik, bahasa, turisme,
> arsitektur, makanan, tapi singkirkan politik atau sejarah kelam.
> Orang Jerman belum tentu suka jika ditanyai tentang Nazi, orang Israel
> belum tentu suka jika ditanyai soal Palestina, orang Cina belum tentu
> suka jika ditanyai tentang Tian An Men, orang Belanda belum tentu suka
> jika ditanyai tentang Tanam Paksa.

Berdasarkan pengalaman, itu semua tergantung bagaimana kita
menciptakan suasana percakapan. Kalau kita baru kenal sebatas hubungan
profesional, belum pernah makan bareng, ... dsb, i.e. belum tumbuh
betul adanya perasaan berteman (in a more personal sense), maka saran
Haryo itu tepat. Tapi kalau dengan orang yang sudah terasa jadi teman,
obrolan tentang politik, agama, dsb, bisa saja dilakukan, asalkan
masing2 menunjukkan sikap untuk sekedar tahu atau berbagi pengetahuan
dan pendapat tanpa bermaksud menyerang pendapat/paham yang dianut
lawan bicaranya.

> 2. Jika anda tidak ingin diperlakukan *berbeda dan
> didiskriminasikan*, maka jangan *menonjolkan perbedaaan diri anda*
> dari orang lain, baik dalam konteks agama, gender, ras, suku, negara,
> atau apa saja. Dari pengalaman saya dengan rekan2 saya disini, saya
> tidak pernah sekalipun berusaha mengatakan atau menonjolkan bahwa saya
> berbeda karena saya dari Indonesia. Identitas semacam itu sama sekali
> tidak relevan, yang penting adalah bagaimana kita bekerja sama dalam
> riset fisika. Hanya jika mereka memang menanyakan, baru saya jawab.
> Saya disini sebagai sesama fisikawan, anggota kolaborasi D0, dan kita
> bekerja sama untuk riset fisika. Period.

Kalau kaitannya dengan gender, ras, suku, negara, memang tidak
masalah. Tapi kalau berkait dengan agama, tidak mudah. Misalnya,
kadang2 ada acara makan bareng di restoran. Buat seorang muslim yang
menerapkan prinsip untuk tidak minum alkohol dan tidak makan daging
(selain daging yang dibeli dari toko yang bersertifikat halal), maka
kalau dia diajak untuk makan di restoran di mana yang lain minum bir
dan makan daging sesukanya, maka mau tidak mau dia akan terlihat beda
karena dia selalu menghindari minum alkohol dan makan daging sementara
yang lain tidak.

Menurut saya, tidak perlu pula kita menyembunyikan identitas kita,
tapi yang penting kita menunjukkan sikap bahwa kita mau bersosialisasi
dengan mereka dalam batas2 yang tidak melanggar prinsip kita sendiri,
dan bisa jadi partner kerja yang baik.

MAM

2a.

Re: Hari Meluruskan Kiblat - 27 Mei 2008

Posted by: "nisa_soldier" nisa_soldier@yahoo.co.id   nisa_soldier

Sun Jul 13, 2008 4:01 pm (PDT)

maaf saya mau tanya maksudnya meluruskan kiblat gimana?
kenapa di pililh hari itu
maaf sebelumnya karena keterbatasan ilmu saya

3.

Pak Said D Jenie Wafat

Posted by: "Ma'rufin Sudibyo" marufins@yahoo.com   marufins

Sun Jul 13, 2008 4:02 pm (PDT)

Assalamu'alaikum..

Jumat lalu sekitar pukul 8 pagi, pak Said D Jenie, Kepala BPPT yang juga saudara kembar pak Umar Anggara Jenis (kepala LIPI) itu wafat. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun.

Prof. Said D Jenie ini lebih dikenal sebagai ahli penerbangan dan menjadi tokoh penting dibalik terbangnya N-250 pada 10 Agustus 1995 (yang sayangnya tak pernah terbang lagi pasca krisis). Namun beliau juga dikenal piawai dalam teknologi satelit dan kendaraan bawah air.

Dalam masalah hisab rukyat, Prof. Said D Jenie pada tahun silam pernah mengemukakan gagasan untuk mengajukan definisi baru tentang hilaal, dengan parameter : fase = 1,5 % ; tinggi (h) = 2 derajat; umur Bulan > 7 jam. Meski dalam beberapa bagiannya terasa ada yang tidak sinkron, namun upaya pendefinisian baru ini patut dihargai mengingat untuk pertama kalinya fase Bulan masuk ke dalam parameter hilaal di Indonesia (sebelumnya hanya tinggi dan umur saja). Saya teringat pernah mengkritisi definisi beliau itu dan mengambil kesimpulan kalo itu sebenarnya tak beda dengan Kriteria Babilonia, salah satu kriteria visibilitas hilaal yang valid dan reliabel.

Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya. Amin. Dan kita yang ditinggalkan, bisa melanjutkan perjuangannya.

Wassalamu'alaikum...

Ma'rufin

Catatan : berikut tulisan tentang parameter Said D Jenie tersebut

Dalam visibilitas hilaal, ada sejumlah elemen Bulan yang bisa digunakan, seperti tinggi Bulan (h), selisih tinggi dengan Matahari (aD), selisih azimuth dengan Matahari (DAz), elongasi (aL), umur Bulan sejak konjungsi, fase, Lag (yakni selisih waktu antara terbenamnya Bulan terhadap terbenamnya Matahari),magnitude visual (mvis) dan lebar sabit (W).

Elemen2 tersebut sebenarnya tidak berdiri sendiri2 dan saling bebas, melainkan saling terkait. Sebut saja misalnya selisih tinggi, selisih azimuth dan elongasi. Untuk hilaal, ketiga elemen ini membentuk segitiga siku2 imajiner dengan sisi rebah = DAz, sisi tegak = aD dan sisi miring = elongasi. Sehingga disini bisa diberlakukan persamaan Phytagoras. Sementara fase Bulan, umur Bulan lebar sabit dan magnitude visual Bulan merupakan fungsi dari elongasi Bulan. Dan Lag bergantung kepada selisih tinggi dan posisi lintang pengamatan.

Jika Prof Said D Jeniemenggunakan parameter :

- fase = 1,5 %
- tinggi (h) = 2 derajat
- umur Bulan > 7 jam

sebagai usulan batas visibilitas terbaru (di Indonesia), parameter ini bisa dicek satu persatu apakah memang sesuai dengan teori gerak Bulan yang dipakai saat ini (saya menggunakan algoritma Chapront ELP 2000/82 yang merupakan varian dari algoritma Jean Meeus 1991).

Mari kita lihat dari fase. Rumusnya, f = 0,5 (1 - cos aL). Dengan fase minimum = 1,5 % = 0,015 kita mendapatkan nilai elongasi minimum Bulan = 14 derajat. Secara rata-rata Bulan bergerak menjauhi Matahari dengan kecepatan 0,5 derajat/jam. Maka jarak sudut (elongasi) minimum sebesar 14 derajat itu secara rata-rata ditempuh selama 14/0,5 = 28 jam setelah konjungsi. Dari sini nampak jelas bahwa penggunaan parameter umur Bulan > 7 jam ternyata tidak sinkron dengan hasil hitungan tadi, dimana seharusnya digunakan umur Bulan > 28 jam.

Bagaimana dengan tingginya? Harus dibedakan antara tinggi Bulan (h) yang dihitung dari horizon sejati dengan selisih tinggi (aD), dimana aD = h + s dengan s = tinggi Matahari terhadap horizon sejati (berharga negatif, karena sudah terbenam). Dengan segitiga Phytagoras, aD terkait dengan elongasi dan selisih Azimuth. Untuk Bulan yang baru saja meninggalkan konjungsi-nya, nilai DAz berkisar dari 0 - 5 derajat. Sementara jika umur Bulan > 24 jam, nilai ekstrim DAz bisa mencapai 10 derajat.

Mari gunakan nilai2 DAz ini. Untuk DAz 0 - 10 derajat, rentang nilai aD 9,8 - 14 derajat. Antara aD dan Lag terdapat hubungan yang sedikit ruwet, dimana aD = aS cos (lambda) dan Lag (dalam menit) = as*4. Lambda disini adalah lintang lokasi pengamatan. Untuk Indonesia, nilai lambda boleh dikata mendekati nol derajat (apalagi dilintasi garis khatulistiwa) sehingga cos(lambda)--> 1. Maka jika parameter pak Said D Jenie diterapkan di Indonesia, kita menjumpai nilai Lag dalam rentang 39 - 56 menit.

Sehingga, parameter Prof Said D Jenie ini dalam bentuk lain bisa dituliskan sebagai :

- umur Bulan > 28 jam
- Lag > 39 menit

Ini sebenarnya bukan "tawaran" baru untuk kriteria visibilitas hilaal, sebab bentuk tersebut ternyata sangat mirip dengan apa yang dinamakan Kriteria Babilon, yang "ditemukan" ahli2 perbintangan Kerajaan Babilonia Baru pada 2.700 tahun silam guna kepentingan konstruksi kalender mereka. Dalam kriteria Babilon, umur Bulan > 24 jam sementara Lag > 48 menit. Karena wilayah Babilonia Baru terletak di sekitar garis lintang 30deg LU, koreksinya untuk daerah tropik seperti Indonesia menghasilkan Lag > 41 menit, sangat dekat dengan nilai yang "ditawarkan" pak Said D. Jenie.

Parameter Prof Said D. Jenie ini konsisten dengan hasil pengamatan kami di Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) dan Jogja Astro Club (JAC) mengenai sifat2 Bulan sabit muda/hilaal sepanjang 2007 ini. Namun dengan catatan hanya untuk pengamatan berbasis mata telanjang.

Jika kita menggunakan teleskop/binokuler, parameter dari pak Said D. Jenie ini tidak bisa lagi digunakan dan harus dikoreksi, seperti yang dilakukan Mohammad Odeh (2004). Koreksi ini menghasilkan fakta : jika pengamat berada di ketinggian > 3.000 m dpl, menggunakan teleskop, maka elongasi minimum Bulan agar hilaal bisa terlihat akan turun drastis menjadi 6,4 derajat. Pada nilai elongasi ini, umur Bulan (rata-rata) adalah 12,8 jam.

Sehingga didapat satu kesimpulan sederhana. Jika semua peneliti hilaal kontemporer sejak masa Andre Danjon (1932, saat itu Direktur Observatorium Strassbourg Perancis) hingga Prof. Abdulhaq Sultan (2003, kini pengajar optika di Universitas Yaman) dan Mohammad Odeh (2004, kini aktif di Arab Union for Astronomy and Space Sciences) bisa dipercaya, dengan teknologi masa kini pun kita takkan bisa melihat hilaal jika umur Bulan baru < 12 jam.

Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Finance

It's Now Personal

Guides, news,

advice & more.

Moderator Central

Get answers to

your questions about

running Y! Groups.

Yahoo! Groups

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
===============================================================
**  Arsip          : http://members.tripod.com/~fisika/
**  Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
                     <fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
===============================================================
MARKETPLACE

Blockbuster is giving away a FREE trial of - Blockbuster Total Access.

Tidak ada komentar: