Sabtu, 12 Juli 2008

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2103

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (16 Messages)

Messages

1.

Bls: [sekolah-kehidupan] KEGIGIHAN SULTAN ABDUL HAMID II

Posted by: "Khilafah Superpower" dunia_khilafah1924@yahoo.co.id   dunia_khilafah1924

Fri Jul 11, 2008 5:54 pm (PDT)

Yah sangat sepakat sekali, Palestina adalah milik kaum muslimin seluruh dunia wajib untuk
diselamatkan dari kebiadaban zionis dan teman-temannya.
Seruan bagi para penguasa muslim di berbagai dunia, seharusnya anda tidak tidur nyenyak
sebelum militer yang mulai karatan senjatanya (karena tidak dipakai), anda kirimkan untuk
mengalahkan kaum zionis dan membebaskan tanah palestina dari kebiadaban zionis.
Sungguh Kalian lebih besar pertanggungjawabannya dihadapan Allah ketimbang rakyat jelata
yang tidak memiliki senjata dan militer. Ingatlah bagaimana rasul membebaskan tanah makkah
serta mengeluarkan kaum muslimin dari penderitaan akibat penyiksaan yang dilakukan oleh
orang2 kafir kuraisy, ingatlah bagaimana rasul mempertahankan sejengkal tanahpun
diujung wilayah negara islam yakni tabuk (pada perang tabuk) melawan romawi,
mereka bersama shahabat harus berupaya maksimal padahal cuaca pada saat itu sangat buruk
dan mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan.
Maka mengapa anda masih tinggal diam dan bersenang-senang di negeri anda wahai penguasa
(saudi, Mesir, Turki, Sudan, Iran, Irak, Indonesia, malaysia, dst)
tidakkah anda khawatir saat darah2 mereka, saat jasad mereka, setiap luka mereka berbicara (bersaksi)
dihadapan Allah. Ya Rabb, Ya rabb, sungguh mereka telah mendustakan din ini mereka membiarkan
kami dinistakan, dianiaya oleh orang- orang kafir. (yaa Allah ampunilah kami dari ketidak mapuan kami,
berilah kekuatan kepada kami tuk mengalahkan kekufuran. wahai Sang Maha Penguasa

Wahai diri yang telah berbuat zolim, Takutlah pada azab yang akan ditimpakan kepada kalian
karena penistaan kalian terhadap saudara kalian. bukankah bagian dari penistaan ialah membiarkan
pembantai kepada saudaranya yang muslim, mebiarkan tanahnya di rampok, membiarkan rumah
mereka dihancurkan.

Satukanlah langkah menuju kesatuan ummat yang menegakkan syariah dalam satu komando jihad

----- Pesan Asli ----
Dari: arya noor amarsyah arya <arnabgaizir@yahoo.co.id>
Kepada: pembacaanadia@yahoogroups.com; pramudaflpdki@yahoogroups.com; penulis lepas <penulislepas@yahoogroups.com>; sekolah-kehidupan@yahoogroups.com; Forum_LingkarPena@yahoogroups.com
Terkirim: Jumat, 11 Juli, 2008 15:59:26
Topik: [sekolah-kehidupan] KEGIGIHAN SULTAN ABDUL HAMID II

KEGIGIHAN SULTAN ABDUL HAMID II
MEMPERTAHANKAN PALESTINA
"Palestina
bukanlah hanya milik seseorang yang dapat dikuasai, namun Palestina milik
Islam." (Sultan Abdul Hamid II).
Mulanya, gerakan
Zionis berharap mendapatkan wilayah Palestina secara sukarela dari penguasa
Utsmani, yang ketika itu dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II (memerintah 1876-1909). Tak lama setelah
menerbitkan bukunya, Der Judenstaat,
Herzl ke Istambul menemui Perdana Menteri Utsmani dan mempresentasikan rencana
pendirian Palestina sebagai tanah air kaum Yahudi. Ia menawarkan bantuan untuk
melunasi utang negara Utsmani. Herzl juga melobi Kaisar Austria Wilhelm II yang berhubungan baik dengan Sultan Abdul Hamid II. Kaisar
Austria setuju dengan gagasan Herzl dan merekomendasikan rencana Herzl kepada Sultan. Sultan menolak keras tawaran Herzl. (Dari buku Wajah
Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal,
Adian Husaini (Jakarta: Gema Insani, 2005), hlm. 58-78)
Lihat sikap
Sultan Abdul Hamid II, dia menolak menyerahkan Palestina kepada Yahudi Zionis.
Bahkan dia berkata, "Palestina bukanlah hanya milik seseorang yang dapat
dikuasai, namun Palestina milik Islam." Suatu sikap yang jelas, sikap terhadap
musuh Islam.
Sikap Sultan
Abdul Hamid II berbeda dengan sikap penguasa Palestina sekarang yang mau
berdamai dengan Israel, walaupun tanah air Palestina masih digenggaman Israel.
Sikap Sultan
Abdul Hamid II berbeda dengan sikap para penguasa yang ingin membuka hubungan
diplomatik dengan Israel. Padahal dampak dari membuka hubungan diplomatik ini
akan memperkuat Israel dalam memerangi Palestina.
Sultan Abdul
Hamid II menggambarkan keyakinannya tentang penyatuan dunia Islam dengan
kata-kata,
"Kita wajib memperkuat ikatan dengan umat Islam yang lain di pelbagai tempat.
Kita wajib memperluas hubungan akrab sebahagian daripada kita dengan lainnya,
sehingga cita-cita kita di masa depan akan berhasil dengan persatuan itu.
Memang waktunya masih belum terjadi, tetapi tetap akan terjadi. Apabila seluruh
kaum mukminin di dunia berhasil disatukan, mereka akan bangkit secara serentak
serta akan berdiri tegak sekelompok lelaki sehingga mampu menghancurkan
kekuatan orang-orang kafir." (dari buku Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II,
karya Dr Muhammad Harb/kakibuku. blogspot. com)
Kemudian Sultan Abdul
Hamid II membangun rel kereta api di Hijjaz untuk mewujudkan pemikirannya
tentang penyatuan Islam, seraya berkata, "Aku amat berharap dapat menyelesaikan
rel kereta api di antara Damaskus dan Makkah dalam waktu yang sangat cepat...
Dengan kemudahan ini kita dapat memperkuat ikatan di antara kaum Muslim,
sehingga dapat digunakan (setelah ikatan diperkuat) untuk menghancurkan
berbagai pengkhianatan dan tipu daya Inggris." (dari buku Catatan Harian Sultan
Abdul Hamid II, karya Dr Muhammad Harb/kakibuku. blogspot. com)
Dua ucapan Sultan Abdul Hamid II ini
nampaknya perlu diperhatikan seluruh kaum muslimin. Kaum muslimin sedunia harus
bersatu demi mengembalikan Palestina ke pangkuan kaum muslimin.


arnabgaizir. blogspot. com
arnab20.multiply. com


________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.

__________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
2a.

Bls: [sekolah-kehidupan] (Obrolan Santai) PEMADAMAN LISTRIK BERGILIR

Posted by: "Khilafah Superpower" dunia_khilafah1924@yahoo.co.id   dunia_khilafah1924

Fri Jul 11, 2008 5:54 pm (PDT)

"PEMADAMAN LISTRIK BERGILIR,... .LAGI?"

Ini mah tidak sekedar menjadi obrolan santai tapi harusnya menjadi obrolan yang super serius
bayangkan aja kalo terjadi pemadaman disaat orang pada nulis tulisan ke ESKA, belum sempat terkirim lampu padam.
komputer rusak, barang elektronik ancur dan berapa banyak barang2 masyarakat yang pake listrik akan rusak
apa kebayang kalo total kerusakan itu diakumulasi.
Nah, maka kita mesti cari solusi. masa kekurangan energi solusinya pemadaman bergilir ini mah tidak cerdas. dan gaya para pemalas.
seharusnya pemerintah berfikir bagaimana mengeksplorasi kekayaan alam hingga berlimpah ruah dimanfaatin....
so, jangan jual kekayaan kami pada pemilik modal yang tamak akan harta (para komprador asing) pemakan harta rakyat
dan pemerintah adalah para perampas harta kekayaan yang bukan miliknya, minyak di blok cepu itu bukan milik pemerintah indonesia
tapi milik kita semua.

So, kita harus bangkit mencegah perampokan harta rakyat oleh para penguasa dan pengusaha rakus
STOP SWASTANISASI, nasionalisasikan aset milik rakyat.

Catatan
di venesuela harga minyak dari Rp.640 rupiah disubsidi menjadi Rp. 400,- rupiah (UMR indonesia Rp.800.000 sementara
UMR venesuela Rp. 3.200.000,-), di arab saudi minyak yang dahulunya 1 real kira2 Rp. 2.800,- sekarang disubsidi 40% jadi berkisar Rp. 1500,- saja yang notabene UMR arab saudi jauh berlipatkali diatas kita.
jadi pemerintah telah mendustai rakyat dengan mengatakan diseluruh dunia mengalami kenaikan.

----- Pesan Asli ----
Dari: Elisa Koraag <elisa201165@yahoo.com>
Kepada: Sekolah Kehidupan <sekolah-kehidupan@yahoogroups.com>; r <rumahkitabersama@yahoogroups.com>; vanenbas <vanenbas@bundagaul.multiply.com>; Penulis Lepas <penulis-lepas@yahoogroups.com>; pengembangan-kepribadian@yahoogroups.com; Professional EntreprenuerClub <professional_entreprenuer_club@yahoogroups.com>; poros-e <poros-e@yahoogroups.com>
Terkirim: Jumat, 11 Juli, 2008 12:25:30
Topik: [sekolah-kehidupan] (Obrolan Santai) PEMADAMAN LISTRIK BERGILIR,.......LAGI?

PEMADAMAN LISTRIK BERGILIR,... .LAGI?
Icha Koraag


Aku


__________________________________________________________
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
2b.

Re: Bls: [sekolah-kehidupan] (Obrolan Santai) PEMADAMAN LISTRIK BERG

Posted by: "setyawan_abe" setyawan_abe@yahoo.com   setyawan_abe

Sat Jul 12, 2008 4:19 am (PDT)


--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Khilafah Superpower
<dunia_khilafah1924@...> wrote:
>
> "PEMADAMAN LISTRIK BERGILIR,... .LAGI?"
>

>
> So, kita harus bangkit mencegah perampokan harta rakyat oleh para
penguasa dan pengusaha rakus
> STOP SWASTANISASI, nasionalisasikan aset milik rakyat.
>

3a.

Re: [woro-woro] Daftar Peserta yang udah transfer plus bonus taâ

Posted by: "patisayang" patisayang@yahoo.com   patisayang

Fri Jul 11, 2008 6:46 pm (PDT)

Hallo Say! Aku udah transfer via Bu Has untuk 3 orang tanggal 7
kemarin. Bukti masih aku pegang. Transfernya pake nama Slamet Harsono.
Mohon dicek ya. Thanks! :)

salam,
Indar

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, ukhti hazimah
<ukhtihazimah@...> wrote:
>
> “Sin, saya sudah transfer uang
> pendaftaran di bank ….”
> Bibirku bisa dipastikan tersenyum
> menanggapi SMS-SMS senada, eits…bukan dalam arti pemasukan Milad
bakal nambah
> *hmmm…itu juga dink * tapi kalimat
> itu terasa seperti senyuman awal persahabatan, senyuman yang insyaALLAH
> bersambung dengan keakraban di kemudian hari ---baca: MILAD
> SK---*AMIN!!!*
>
> So…aku tunggu senyuman-senyuman
> persahabatan lainnya ---kalimat halus untuk nagih---
>
> ***
>
> Hehehe…maaf, opening yang aneh. Tak
> apalah daripada gak ada basa-basi yang bikin kepala jadi
> basi.
>
> Oke!
>
> Dear All… *serasa mo nulis Diary * langsung ke
> tujuan utama yaitu woro-woro. Tapi…tunggu dulu. Ada peribahasa
yang patut dipertimbangkan, “tak kenal maka
> ta’aruf” So…boleh lah dua Bendum manis Milad SK memperkenalkan
diri.
>
> Profil pertama adalah seorang bunda
> cantik yang senantiasa tersenyum manis dan familiar dipanggil Bu Has,
> tapi…jangan tertipu dengan manis senyumnya, Kenapa?! karena
senyumannya
> menyamarkan kegokilannya ---maap bund!!!--- Dan profil kedua adalah
seorang
> gadis manis yang berkepribadian ganda. Lagi-lagi kenapa?!
Karena….jangan tertipu
> dengan ramenya tulisan nih anak. Saat kau bertemu dengan orangnya,
kau akan
> bertemu dengan seorang gadis pemalu yang punya hobi makan---SUER!!!
Tanya deh ma
> yang udah pernah ketemu---penting ya?!
>
> Sekian ta’aruf yang gak terlalu
> penting---ya iyalah---tapi pengen dilakuin ma si penulis.
> GLODAK!!!
>
> Ada yang bersedia menyambung memperkenalkan ini?!
> ---bukan buat narsis loh---hanya sekedar perkenalan awal supaya gak
shock pas
> ketemu orangnya
>
> “Trus woro-woronya mana Sin?”
> “Oiya…hehehe,” cengiran
> tampil
>
>
> ***
>
> WORO-WORO!!!
>
> Daftar peserta yang sudah transfer
> pendaftaran milad SK hingga hari ini (13 Juli 2008)
> :
> 1. Catur
> 2. Retno
> 3. Regantini
> 4. Regantini partner
> 5. R. Widhiatma
> 6. Robiah al
> Adawiyah
> 7. Sinta
> 8. Teha
> Sugiyo
> 9. Dyah
> Zakiati
> 10. Fiyan
> 11. Mujiarto
> 12. Istri
> Mujiarto
> 13. Fety
> 14. Suami
> Fety
> 15. Ela
> 16. Ugik
> 17. Nia
> 18. Sisca
> lahur
> 19. Hadian
> 20. Kartina
> 21. Ummie
> Donnie
> 22. Tata
> 23. Rasyid
> 24. Ayu
> 25. Aris
> 26.. Fika
> 27. Fida
> 28. Donnie
> 29. Abbie
> Donnie
> 30. Iis
> 31. Sima
> 32.. Galih
> 33. April
> 34. …..
>
> Note:
> Warna
> menunjukkan tempat transfer
>
> 1) Kartina Haswanto, Bank BCA
> Sentra Mulia Kuningan Jakarta
> no. rekening
> 217-1493856
>
>
> 2) Nia Robiatun Jumiah, Bank
> Mandiri,kcp jkt cimanggis
> no. rekening
> 157-00-0084869-8
>
>
> 3) Sinta Nisfuanna, Bank Muamalat,
> no rekening 601923 901
> 9198899
>
> Setelah
> transfer, mohon mengirimkan sms konfirmasinya pada Sinta
> (085648485428/02292321429) disertakan info kemana sobat transfer
duitnya. Bukti
> transfer mohon dikirimkan via email Sinta di sinthionk @ gmail dot
com(tanpa
> spasi) atau dapat diserahkan ke bendum pada hari H.
>
> Oke…Sista en Brota---halah---sekian
> dulu woro-woro dari bendum, ditunggu senyuman persahabatan dan
sambungan
> perkenalan di atas
>
> Salam,
> Bu Has &
> Sinta
>
> Keindahan selalu muncul saat kepala manusia berpikir positif
> ^_^
>
> www.sinthionk.rezaervani.com
> www.sinthionk.multiply.com
>

4a.

(artikel) BERKOMUNITAS, YUKK!!

Posted by: "fiyan arjun" paman_sam2@yahoo.com   paman_sam2

Fri Jul 11, 2008 7:31 pm (PDT)



BERKOMUNITAS, YUKK!!
 
 
 
Fiyan Arjun
http://sebuahrisalah.multiply.com
id ym:paman_sam2

4b.

Re: (artikel) BERKOMUNITAS, YUKK!!

Posted by: "setyawan_abe" setyawan_abe@yahoo.com   setyawan_abe

Sat Jul 12, 2008 4:02 am (PDT)

Lha Bapaknya kemana? hmm ada Bu Has siiih...

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, fiyan arjun <paman_sam2@...>
wrote:
>
>
>
> BERKOMUNITAS, YUKK!!
>  
>  
>  
> Fiyan Arjun
> http://sebuahrisalah.multiply.com
> id ym:paman_sam2
>

5.

(OOT) Revolusi Koperasi, Segera !

Posted by: "setyawan_abe" setyawan_abe@yahoo.com   setyawan_abe

Fri Jul 11, 2008 10:42 pm (PDT)

Revolusi Koperasi, Segera !Jurnal Nasional: MENTERI Negara Koperasi dan
Usaha Kecil Menengah (UKM) Suryadharma Ali mendukung gerakan revolusi
koperasi menyambut pelaksanaan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) yang
jatuh pada Sabtu (12/7) besok.
"Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) sebagai induk dari koperasi dengan
Kemennegkop dan UKM, berkomunikasi intensif, dan apa yang dicanangkan
oleh Dekopin terutama di dalam membangkitkan semangat perkoperasian
nasional, itu sangat bagus sekali," katanya.

Dekopin menetapkan tema Harkopnas pada 12 Juli 2008, Revolusi Koperasi
untuk Kemandirian Masyarakat. Tema ini dinilai sebagai semangat
kebangkitan koperasi nasional.

Dia mengatakan memiliki keinginan agar koperasi berkembang lebih cepat.
Kalau mantan Presiden RI yang lalu (Megawati Soekarnoputri) , katanya,
menyebut perkembangan koperasi lambat bak bekicot. "Jadi saya harap
nanti koperasi itu bisa berjalan lebih cepat lagi." Luther Kembaren

6.

(Kue Lama) Membincangkan Nasib Bangsa

Posted by: "setyawan_abe" setyawan_abe@yahoo.com   setyawan_abe

Fri Jul 11, 2008 10:46 pm (PDT)

Majalah Tempo
Edisi. 14/XIIIIIIII/04 - 10 Juni 1988 Unknown
Ketika nasib bangsa diperbincangkan di...
AKIRA NAGAZUMI

Ketika Nasib Bangsa Diperbincangkan di Sekolah Dokter Jawa

20 Mei diperingati sebaga Hari Kebangkitan Nasional. Di bawah
ini dikisahkan sejarah, cita-cita dan tantangan terhadap Budi
Utomo.

DEWASA ini Budi Utomo dipandang sebagai organisasi nasional
pertama yang lahir di Indonesia. Namun, penduduk pribumi
berusaha menghubungkannya dengan organisasi organisasi yang ada
sebelum 1908. Majalah Retnodhoemilah, yang pertama terbit 1895,
dan Pewarta Prijaji, yang muncul lima tahun kemudian,
mencerminkan adanya hasrat di kalangan elite pribumi untuk
memperjuangkan kepentingan mereka sendiri.

Walau nomor-nomor awal Retnodhoemilah disunting oleh seorang
Belanda, dan orang Jawa sendiri tidak banyak berperanan, majalah
ini diterbitkan dalam bahasa Melayu dan Jawa. Isi majalah
sebagian besar membicarakan masalah kondisi penduduk Jawa yang
memburuk dengan perhatian khusus pada kalangan priayi, jelas
ditujukan bagi pembaca elite pribumi. Orientasi seperti ini
bahkan lebih kentara pada Pewarta Prijaji.

Sementara oplah kedua majalah ini tidak diketahui, pada 1903,
persatuan pembaca Pewarta Prijaji terbentuk di ibu kota tujuh
belas keresidenan di Jawa dan Madura, dengan tiga puluh cabang
di ibukota kabupaten. Kelompok ini tersebar merata di Jawa
Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Anggota perkumpulan terutama
berasal dari priayi lapisan bawah: pemangku jabatan juru tulis
kontrolir kolonial, juru tulis asisten residen dan pejabat
pengadilan, atau priayi yang menjabat wedana, asisten wedana,
jaksa, dan polisi. Sesudah 1901, suara Retnodhoemilah mengalami
perubahan mencolok yaitu sejak keredaksian diserahkan kepada
Dokter Wahidin Soedirohoesodo. Baik dalam kedudukanny sebagai
redaktur, maupun belakangan juga melalui usahanya sendiri,
Wahidin memainkan peranan penting dalam penggalakan pendidikan
dan penyadaran terhadap orang Jawa, dan juga menjadi penganjur
utama bagi berdirinya Budi Utomo.

Lahir 1857 di salah satu keluarga tertua yang bermukim di Desa
Mlati, di kaki Gunung Merapi, dekat Yogyakarta, Wahidin termasuk
golongan priayi desa, seperti ditunjukkan oleh gelarnya yang
sederhana: Mas Ngabei. Karena Mlati terletak tidak jauh dari
Yogyakarta, maka banyak bangsawan pribumi dan orang Eropa
melewati desa ini, baik untuk alasan dagang maupun alasan
wisata. Pendatang yang terkesan oleh kecerdasan Wahidin
menganjurkan agar anak itu disekolahkan. Wahidin salah seorang
di antara murid pribumi pertama yang diterima di sebuah sekolah
dasar Eropa.

Tahun 1869, Wahidin meneruskan pendidikannya ke Sekolah Dokter
Jawa (STOVIA). Ia membuktikan dirinya sebagai siswa yang pandai,
sehingga diangkat menjadi asisten pada 1872. Beberapa tahun
kemudian Wahidin melepaskan jabatannya, dan kembali ke
Yogyakarta sebagai pegawai kesehatan pemerintah sampai September
1899. Tahun 1901, ia menjadi redaktur Retnodhoemilah.

Nama harum Wahidin bukan hanya didukung oleh kecakapannya
sebagai ahli kesehatan. Ia juga dihormati sebagai orang yang
rendah hati dan berpekerti halus, yang mampu memadu pendidikan
Barat yang diterimanya dengan unsur-unsur terbaik dalam tradisi
Jawa. Ia juga dikenal sebagai juru karawitan yang mumpuni,
pandai memainkan banyak gending di luar kepala dengan gamelan
apa saja, dan sebagai dalang wayang kulit kepandaiannya hanya
kalah oleh dalang profesional.

"Harmoni" merupakan tema tetap tulisan dan ceramah Wahidin.
Ia sendiri cukup luwes mempertahankan ketaatannya kepada budaya
tradisional, tapi siap menyesuaikan diri dengan politi kolonial
yang sehat. Ia melihat adanya semacam perhatian terhadap
kesejahteraan penduduk pribumi, yang telah memungkinkan dirinya
menjad seorang dokter. Bagi Wahidin, sebagai anggota golongan
priayi bawahan yang berpendidikan Barat, politik etis lebih
banyak memberikan janji ketimbang kekecewaan.

Sebagai redaktur Retnodhoemilah, Wahidin berusaha berkomunikasi
dengan kalangan luas penduduk pribumi. Maka, dalam edisi
pengangkatannya, ia mengumumkan, selanjutnya Retnodhoemilah
tidak hanya diterbitkan di dalam bahasa Jawa, tetapi juga dalam
bahasa Melajoe sedang bukan bahasa Melayu tinggi seperti yang
sudah, sehingga pembaca Jawa bisa menangkap isinya dengan mudah.
Selanjutnya, ia mengubah isi secara radikal. Rubrik luar negeri
diperluas, dan laporan-laporan terinci mengenai Peristiwa Bokser
di Cina, Perang Boer, dan kejadian-kejadian luar negeri lainnya
menjadi berita utama.

Karangan-karangan dalam Retnodhoemilah berangsur-angsur berubah,
dari bernada pasif menjadi aktif. Pada salah satu nomor, seorang
penulis bernama Darat berkeluh-kesah tentang kemelaratan
saudara-saudaranya setanah air dibandingkan dengan taraf hidup
para pendatang Jepang, Cina, dan Arab, mencoba menggugah mereka
agar mengikuti jejak para pendatang itu.

Walau dalam karangan-karangan sebelumnya pun tidak pernah
disebut-sebut secara khusus soal organisasi para imigran Cina di
Batavia, yang didirikan pada 1900, peristiwa itu menimbulkan
kesan mendalam bagi masyarakat pribumi. Perkumpulan tersebut,
Tiong Hwa Hwe Koan, dibentuk sebagai protes terhadap keputusan
pemerintah tahun 1899, yang memberikan kedudukan pada bangsa
Jepang sama dengan bangsa Eropa.

Kedua perkembangan ini telah menggugah kaum terpelajar Jawa
untuk berdaya upaya mempersatukan diri mereka. Sebuah karangan
dalam Retnodhoemilah, 4 Januari 1901, menyambut berdirinya
perkumpulan Mardiwara (Berupaya):

Walau Mardiwara baru saja berdiri, jumlah priayi yang menjadi
anggotanya sudah mencapai lebih dari seratus orang. Kecuali para
pembesar dari kalangan kesultanan Yogyakarta, Mardiwara juga
beranggotakan para pejabat di luar itu.

Walau organisasi ini kelihatan lebih bersifat persaudaraan
ketimbang bersifat gerakan, toh menarik diperhatikan karena inti
persatuan adalah kesultanan Yogyakarta, dan anggotanya seratus
orang lebih, yang terdiri atas para pembesar pribumi. Sukar
ditebak, apakah yang dimaksud Toemenggoeng Danoekoesoemo dengan
"tanda kehormatan bagi kerajaan" kebesaran Negeri Belanda,
ataukah kebesaran Mataram prakolonial. Tetapi bagi para pejabat
yang berwawasan kepangkatan itu, kiranya tidak akan banyak
berbeda arti.

Biarlah kaum kolot tinggal di hutan belantara dan bersemadi
sesuka hati, sampai maut merenggut jiwa raga mereka. Karena
zaman modern menuntut kemajuan dan perbaikan syarat-syarat
kehidupan, maka marilah kita mengambil langkah tegas. Agar kaum
muda tidak mempunyai alasan untuk menertawakan mereka yang ada
di tengah-tengah kaum muda dan kaum tua, yang berdiri mengempang
jalan kemajuan.

Meminta bantuan keuangan dari orang-orang Jawa yang berharta,
penulis menunjuk pada pengalaman masa lalu, hampir semua
organisasi bangsa Jawa mati karena ketiadaan dana. Dengan
sedikit pedas ia menutup karangannya:

Maka, menjadi jelas, apabila tidak ada seorangpun bersedia
menyokong gagasan ini, penulis hanya bisa menyimpulkan bahwa
bangsa Jawa memang belum menghendaki kemajuan, dan imbauan yang
terkadang muncul di koran-koran itu sekadar buah bibir belaka,
sementara di jantung hati mereka masih bersemayam
pikiran-pikiran kolot. Jika memang demikian halnya, penulis pun
akan bungkam seribu bahasa.

Pendirian Wahidin selama tahun-tahun awal menunjukkan bahwa
pendidikan merupakan kunci kemajuan. Hal ini kelak dengan jelas
diuraikan Soewardi Soeryaningrat, tokoh terkemuka dalam awal
gerakan kebangsaan Indonesia dan pendiri perguruan Taman Siswa,
dalam catatan kenangan untuk Wahidin. Apa yang menurut Wahidin
diperlukan ialah pendidikan secukup-cukupnya bagi masyarakat
pribumi, dan mempertinggi kesadaran kebangsaan di kalangan orang
Jawa.

Perjuangan hidup mati yang terhampar di hadapan orang Jawa ialah
memilih satu di antara dua: berjuang atau hancur. Dan Wahidin
berpendapat, mereka harus bersiap sedia menghadapi perjuangan
mendatang dengan jalan menyebarluaskan pendidikan.

Dalam mempropagandakan masalah pendidikan Wahidin berpendapat,
paling tepat dengan melakukan pendekatan pertama kepada mereka
yang bisa memahami bahasa ibu, yaitu masyarakat Jawa. Kendati
pada 1901 ia menekankan pentingnya bahasa Melayu sebagai
perantara, ia cenderung memotong bahasa ini. Alasannya:

Jika tertulis dalam bahasa Melayu, banyak kaum priayi Jawa tidak
akan bisa memahaminya, walau mereka mengerti bahasa Melayu
pasar. Jika yang dipakai bahasa dan aksara Jawa, bahkan lurah
pun akan mengerti. Malah mandor dan kulit pun bisa mengerti.

Sejalan dengan pendiriannya ini, kebanyakan karangannya yang
jelas bercorak kebangsaan dalam Retnodhoemilah, hanya terbit
dalam edisi berbahasa Jawa, dan tidak pada edisi Melayu.

Terpusat pada pegawai pemerintah pribumi sebagai sasaran pokok
kegiatannya, Wahidin mulai melancarkan propaganda besar-besaran
tentang pemberian beasiswa bagi anak-anak muda pribumi yang
pandai pada 1906. Ketidaksabarannya yang semakin memuncak
menghadapi tanggapan dingin masyarakat Jawa itulah yang telah
menggugahnya melakukan tindakan yang lebih nyata. Pada November
tahun itu jugaj dengan alasan kesehatan pribadi, ditinggalkannya
jabatan ketua redaksi Retnodhoemilah untuk mencari kebebasan
berkiprah lebih besar.

Dalam propagandanya, Wahidin bersama dengan Pangeran Aria Noto
Dirodjo, putra Pakualam V. Wahidin mempunyai hubungan erat
dengan keluarga Pakualam selama bertahun-tahun, karena juga
mereka dikenal sebagai pendukung aktif pendidikan Barat. Tetapi
semangat kedua tokoh ini sama sekali tidak bisa mengatasi
masalah yang menyangkut umur masing-masing - Wahidin, 51 tahun,
dan Noto Dirodjo satu tahun lebih muda. Selain itu, juga masalah
pembiayaan untuk kegiatan mereka tersebut.

Wahidin lalu mendekati priayi lebih tua dan lebih tinggi,
khususnya para bupati yang kaya dan berpengaruh, tetapi tak
banyak di antara mereka itu yany menaruh minat pada usahanya. Di
sana-sini terkadang Wahidin harus menghadapi tentangan keras
dari kalangan bupati, yang memandangnya sebagai hendak
mengguncang ketenteraman dan ketertiban sistem yang berlaku.
Setengahnya lagi berpaling muka semata-mata karena kedudukan
rendah Wahidin sebagai dokter Jawa, yang berpangkat sejajar
dengan asisten wedana senior saja.

Kendati demikian, perjalanan kampanye itu tidak gagal sama
sekali. Setidak-tidaknya telah terbuka kemungkinan kerja sama
dengan para pejabat pribumi, khususnya di Jawa Tengah. Di
beberapa daerah, sejumlah priayi bahkan terang-terangan
menyokong usahanya.

Belakangan ia menceritakan pengalamannya dengan seorang asisten
residen kepada temantemannya. Asisten residen ini dengan keras
menolak kampanyenya, sehingga para priayi di daerahnya menjadi
takut berjumpa dengan Wahidin. Tanpa takut, ia memutuskan
menghadap asisten residen secepatnya.

Setelah masuk ke kantor asisten residen, Wahidin berdiri
mematung di sana sampai sang asisten residen berpaling
kepadanya. Dengan berpura-pura ketakutan, ia mengendap-endap di
depan meja pembesar itu. Ia tidak melalaikan kata-kata
penghormatan sepatah pun. Asisten Residen menjadi lunak,
secercah senyum terbit di wajahnya. Lalu berkatalah pembesar
itu: "Dokter, rencanamu harus disokong sebesar-besarnya. Anda
harus bicara di depan rapat, agar semua pegawai saya bisa
mendengar kata-kata Anda sendiri."

Dengan dengan bantuan asisten residen yang semula berniat
menggagalkan rencananya itu, ia berhasil mendapat dukungan yang
luar biasa besar.

Sudah tentu Wahidin tidak selalu berhasil. Tetapi pembawaannya
yang tenang dan meyakinkan menimbulkan kepercayaa pada setiap
orang yang dijumpainya, dan sangat membantu terhadap
pertemuannya yang paling penting, yaitu dengan muridmurid
STOVIA. Sesungguhnya Wahidin sama sekali tidak bermaksud singgah
di STOVIA. Pada akhir 1907 ketika itu ia hanya ingin
beristirahat di Batavia, sesudah dari perjalanannya yang
panjang. Selagi ia di sana, Soetomo dan Soeradji tiba-tiba saja
memutuskan hendak mengundang dokter itu dan mendengarkan
gagasan-gagasannya. Mereka temyata tergugah oleh semangat orang
tua itu.

Mengenang pertemuan pertama itu dalam memoarnya Soetomo menulis:

Yang membikin saya terkeJut dan tertarik ialah perangai dan
pikiran dokter tua ini. Ia mampu memusatkan kegiatannya dan
mengatasi rintangan-rintangan yang terus-menerus mengalangi
cita-citanya. Saya berhadapan dengan Dokter Wahidin
Soedirohoesodo, yang berwajah tenang tapi tajam, dan
kepandaiannya mengutarakan pikirannya sangat berkesan pada saya.
Suaranya yang jelas dan tenang membuka pikiran dan hati saya,
dan membuka dunia baru yang melipur jiwa saya yang terluka dan
sakit.

Berbicara dengan Dokter Wahidin merupakan pengalaman yang sangat
mengharukan. Orang akan dengan mudah tahu tentang luhurnya
semangat pengabdian dokter ini.

Baik Soetomo maupun Soeradji lahir tahun 1888, dan berumur
sekitar 20 tahun, duduk di kelas lima, pada waktu mereka bertemu
Wahidin. Keduaduanya masuk sekolah ini 10 Januari 1903,
walaupun, ironisnya, mereka tidak berniat masuk sekolah
kedokteran. Dengan agak sinis Soetomo melukiskan bagaimana ia
menjadi siswa STOVIA tanpa melalui ujian masuk:

Sebelum saya sempat berpikir menjadi dokter, ibu saya bermimpi.
Dalam mimpinya, ibu melihat saya berdiri di pucuk sebatang tiang
bambu.

Ibu saya bicara pada diri sendiri: "Anakku sudah bisa memperoleh
cukup pendidikan untuk mencapai cita-citanya. Seandainya anakku
akan menjadi priayi, maka jelas untuk memanjat tiang bambu itu
memerlukan waktu yang tak terkira lamanya. Padahal, anakku masih
bersekolah. Jadi, apa kiranya makna mimpi itu?"

Maka, dimintanya Pak Soeto, bekas gurunya, datang menguraikan
rahasia impiannya itu.

Dua hari setelah itu, mengikuti petunjuk Pak Soeto, Ibu membikin
selamatan. Telegram datang memberitakan kepadanya bahwa saya
telah dipilih menjadi (murid untuk belajar sebagai) dokter tanpa
harus menempuh ujian wajib.

Kisah ini merupakan contoh jelas untuk pendapat Wahidin, tentang
orang Jawa rata-rata yang memandang rendah pada jabatan-jabatan
kekaryaan (keprofesian), walaupun jabatan-jabatan demikian
semakin lama semakin tergolong di dalam kepangkatan priayi. Bagi
ibu Soetomo tiang bambu bisa diartikan priayi, tapi tak seorang
pun dari mereka pernah menduga tentang kemungkinan dirinya akan
bisa menjadi dokter Jawa.

Sama halnya pengalaman Soeradji. Semula ia berharap menjadi
priayi, maka mendaflarlah ke OSVIA, dahulu termasuk lembaga
hoofdenscholen yang direorganisasi tahun 1900 menjadi sekolah
untuk pejabat pribumi. Diterangkan Soetomo:

Soeradji sebenarnya lulus ujian masuk OSVM, tetapi tidak
diterima, karena ada calon lain yang lebih berbangsa ketimbang
dia. Ini aturan yang sama sekali tidak demokratis, tetapi
barangkali cocok bagi segolongan tertentu sepertipara pejabat
pemerintah Eropa itu. Mereka menganggap bahwa kepandaian,
kecerdasan, dan kelakuan belum merupakan syarat-syarat cukup
bagi elite pribumi untuk memangku kedudukan yang berpangkat
tinggi.

Akankah Anda mengatakan aturan demikian konsentatif dan kolot?
Tak perlu saya berkomentar. Tetapi saya pikir, yang penting agar
orang menjadi sadar bahwa sikap yang semacam inilah yang dengan
mudah membangkitkan perasaan yang akan memperlebar dan
memperdalam jurang antara kita dengan pemerintah.

Walau barangkali banyak murid seperti Soetomo dan Soeradji yang
pernah mencoba masuk ke sekolah-sekolah yang lebih bergengsi,
bagaimanapun STOVIA merupakan sebuah dari sedikit lembaga
pendidikan lanjutan yang ada saat itu, dan para muridnya pada
umumnya bangga dengan sekolah tersebut. Tentang sekolah ini
pernah Soetomo mengobral pujiannya:

Pendidikan dan bimbingan yang diberikan di sekolah ini sangat
baik. Tidak sekadar memenuhi tujuannya untuk mencetak ahli-ahli
kesehatan yang akan berguna bagi masyarakat, tetapi sekolah ini
pun memberikan kemungkinan bagi para pemuda yang tak mampu
meneruskan sekolahnya agar kelak memperoleh kedudukan yang
sebaikbaiknya. Misalnya menjadi bupati, patih, wedana, jaksa,
pegawai kantorpos, kantor pajak, BOW atau kantor pekerjaan umum,
pemimpin-pemimpin bangsa, pengarang, dan wartawan.

Para siswa STOVIA, yang kebanyakan berasal dari kota-kota kecil
itu, juga memperoleh dorongan intelektual dari kota besar dan
modem. Sekolah itu terletak di Weltevreden di jantung Batavia
yang, sebagai kota terbesar, menjadi pusat kegiatan politik,
perekonomian, dan kebudayaan di Hindia, serta merupakan pintu
gerbang paling penting ke dunia luar. Juga Batavia menjadi
kediaman satu kelompok intelektual nonpolitik pribumi, yang
kecil tapi sedang tumbuh. Karena STOVIA pada hakikatnya
merupakan satu-satunya lembaga pendidikan menengah di Batavia
dan sekitarnya, maka wajarlah bila siswa-siswanya bergaul dengan
kelompok intelektual ini, terpengaruh oleh ide-ide mereka.

Tokoh terkemuka kalangan intelektual ini, antara E.F.E. Douwes
Dekker, seorang Indo-Eropa dan saudara jauh Multatuli, penulis
novel terkenal Max Havelaar itu. Douwes Dekker saat itu redaktur
surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad. Karena ia tinggal dalam
jarak seperjalanan kaki saja dari sekolah itu, rumahnya biasa
dipakai sebagai "tempat berkumpul sekaligus perpustakaan dan
ruang baca" bagi para siswa. Soetomo menulis tentang Douwes
Dekker:

Hubungan saya dengan Douwes Dekker akrab dan bersahabat, Karena
itu, rumahnya selalu terbuka bagi saya. Douwes Dekker seorang
sahabat yang selalu teguh dan setia dalam membantu kami melalui
surat kabarnya, walaupun cita-citanya, yang kemudian menjelma di
dalam (Indische) Partij, tidak dianut di kalangan kami.

Menurut D.M.G. Koch, seorang sosialis Belanda yang selama
setengah abad tinggal di Hindia, Douwes Dekker menyimpan gagasan
untuk mendirikan sebuah partai, tempat bangsa Indonesia dan
Indo-Eropa bekerja sama demi "kemerdekaan" sejak 1907. Jika
demikian, ia pasti pernah memperbincangkan gagasannya ini dengan
para siswa itu.

Dalam melukiskan Soetomo, Koch menyatakan: Ia orang yang "jujur
luar biasa, walau emosional dan gampang terpengaruh . . .
memang, ia bukanlah orangnya untuk siasat-menyiasat politik yang
lembut dengan segala kecerdikan dan tipu daynya." Jika
perangainya yang demikian itu dianggap sebagai pasiva kelak,
selama tahun-tahun pertama Budi Utomo jelas merupakan aktiva.
Seotomo memiliki simpanan energi yang luar biasa besarnya, dan
mampu menyalakan semangat para siswa rekan-rekannya.

Selama tahun 1905- 1906 jumlah siswa terdaftar di STOVIA
sebanyak 177 orang - 48 dalam kelas persiapan tiga tahun, dan 79
dalam kelas kedokteran tujuh tahun. Karena mereka tinggal
bersama dalam asrama dan ruang sekolah, hubungan sangat mudah.
Soetomo dan Soeradji berkeiiling, dari satu kelas ke kelas yang
lain, mencari dukungan dari siswa-siswa STOVIA. Lalu segera pula
mereka mulai menyebarkan edaran berisi imbauan agar perkumpulan
yang serupa didirikan di. Magelang, Semarang, dan Yogyakarta.

Nama Budi Utomo agaknya sudah ditetapkan sejak awal mula.
Soetomo mengatakan, "Mas Soeradji yang mengusulkan agar
perkumpulan kita dinamakan Budi Utomo."

Imam Soepardi, penulis biografi Soetomo, menguraikan hal ini
secara panjang lebar. Dikatakannya, ketika Wahidin berpamitan
kepada kedua anak muda itu untuk meneruskan perjalanannya ke
Banten, Soetomo memuji tekadnya, "Ini merupakan perbuatan baik
serta mencerminkan keluhuran budi."

Soeradji belakangan mengusulkan agar dua patah kata terakhir
dalam pendapatnya yang dinyatakan sambil lalu itu dipakai
sebagai nama tetap untuk perkumpulan mereka. Walaupun kisah ini
tidak bisa dibuktikan oleh sumber-sumber lain, pemilihan namanya
yang spontan tersebut agaknya memang khas untuk kelahiran
organisasi itu.

Biasanya Budi Utomo diterjemahkan sebagai "usaha bagus" atau
"usaha mulia". Namun, penerjemahan harfiah demikian tidak bisa
menangkap nuansa bahasa pribumi. Seorang sarjana berpendapat
bahwa perkataan itu agaknya merupakan Kata "budi" agaknya sangat
penting bagi orang Jawa. Pengertian tentang budi erat
hubungannya dengan paham mengenai kesejahteraan masyarakat.
Perlu diingat bahwa "seorang yang berbudi menjauhi yang
bukan-bukan". Budi memberi cahaya terang ada masyarakat, tetapi
tidak mengubahnya. Etos Jawa menganggap sebagai sudah layak,
seseorang yang berbudi akan hidup rukun dengan masyarakatnya.

Walau kata-kata Wahidin menunjukkan pemahamannya yang mendalam
terhadap nilai-nilai Jawa tradisional, munculnya kata "budi" di
dalam nama organisasi kelihatan secara kebetulan saja. Sekali
peristiwa ketika para siswa STOVIA berbincang-bincang tentang
kepemimpinan gerakan, mereka memberikan interpretasi progresif
terhadap konsep budi. Karena jiwa kelompok mempunyai sedikit
persamaan dengan orang yang "menjauhi yang bukan-bukan dan
berusaha tidak ikut terlibat di dalam hal-hal yang akan
membikinnya merasa susah."

Sementara itu, batasan-batasan etnis dan geografis dalam
kelompok menjadi semakin tegas. Batasan-batasan ini tidak hanya
mencerminkan kurangnya kesadaran akan persatuan nasional pada
penduduk Indonesia secara menyeluruh, tetapi juga karena
antipati yang berkepanjangan antara golongan penduduk Jawa yang
pribumi dan non Jawa. Kebanggaan orang Jawa terhadap keunggulan
budaya mereka atas golongan-golongan etnis lainnya di Hindia
begitu meluas, sehingga tidak heran apabila siswa-siswa Jawa di
STOVIA merasa ragu mengundang siswa-siswa non-Jawa ikut serta
dalam gerakan mereka. Goenawan mengingatkan pada sentimen yang
lazim saat itu:

Dengan orang-orang Sumatera, Manado, Ambon, dan banyak lagi
lainnya yang diam di Hindia, dan hidup di bawah naungan bendera
Belanda, kami tidak berani mengajak bekerja sama ... Apakah yang
kita taku tentang orang-orang senegeri kita itu? Seperti kita
juga, mereka pun mempunyai sejarah, mempunyai budaya. Tetapi
alangkah sedikitnya yang kita ketahui! Betapa berbedanya
barangkali mereka itu dari kita. Maka, mungkin juga mereka
mempunyai aspirasi yang lain dari aspirasi kita.

Tidakkah suku-suku di Nusantara yang Kristen lebih diistimewakan
dari kita? Apakah orang Jawa dan orang Manado yang berpendidikan
sama diperlakukan dan digaji sama ? Tidakkah penyamaannya dengan
bangsa Eropa bagi mereka merupakan peristiwa sehari-hari, dan
sebaliknya perkecualian yang langka bagi kita ? Tidak. Janganlah
kita mencari kerja sama dengan golongan-golongan penduduk ini,
walaupun mereka itu segan memberikan jawaban tidak kepada kita.

Dengan demikian, kita membatasi kegiatan kita dari kalangan
luar. Karena sudah menjadi konsep budaya. Di dalam konsep budaya
inilah kita mencari unsur-unsur yang membentuk suatu rakyat,
suatu bangsa.

Organisasi untuk kaum muda Jawa ini didirikan Soetomo pada
Minggu, 20 Mei 1908, pukul 09.00. Tepuk tangan gemuruh menyambut
pernyataan kelahirannya. Para hadirin yang berkumpul di aula
STOVIA tidak saja para siswa sekolah ini, tetapi juga
siswa-siswa dari sekolah pertanian dan kehewanan di Bogor,
sekolah pamong praja pribumi di Magelang dan Probolinggo,
siswa-siswa sekolah menengah petang di Surabaya, dan
sekolahsekolah pendidikan guru pribumi di Bandung, Yogyakarta,
dan Probolinggo.

Seruan kelompok STOVIA dengan cepat tersebar di seluruh. Jawa.
Walau kemudian tanggal 20 Mei in selalu dirayakan oleh bangsa
Indonesia sebagai hari kebangkitan nasional, tak banyak
informasi yang tersingkap mengenai apa yang sebenarnya telah
terjadi di aula itu. Mungkin sekali sekada merupakan rapat
pendahuluan untuk membicarakan masalah-masalah organisasi di
masa datang. Bagaimanapun banyak hal penting dan mendasar dalam
organisasi timbul pada hari itu. Antara lain, nama Budi Utomo,
secara resmi ditetapkan dalam rapat ini.

Dalam mengorganisasikan Budi Utomo, Soetomo mempunyai banyak
rekan cakap yang membantunya. Djajadiningrat mengatakan,
Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soewarno, Goembreng, Mohammad
Saleh, dan Soelaeman disebut Wahidin sebagai tokoh yang paling
banyak jasanya bagi berdirinya Budi Utomo.

Walau namanya tidak disebut-sebut, Soeradji, sebagai pembantu
utama Soetomo, mencurahkan seluruh kepandaiannya dalam bahasa
Jawa kromo menjelaskan tujuan organisasi kepada angkatan tua di
Jawa Tengah.

Semua siswa STOVIA mulai menjadi siswa pada 1902 atau 1903. Umur
mereka berkisar antara 20 dan 22 tahun, dan berasal dari Jawa
Timur atau Jawa Tengah. Tak seorang di antara anggota organisasi
pada tahun-tahun permulaan berasal dari Pasundan, Jawa Barat.
Dengan pengecualian Soetomo, dan mungkin juga Goenawan, dua
tokoh yang menyatakan bahwa mereka "tidak bisa hidup di tengah
masyarakat seperti masyarakat kita yang serba santai dan
leha-leha," para anggota sisanya tampaknya sangat tenang dan
berkepala dingin. Suasana umum kalangan siswa STOVIA selama
periode permulaan ini hampir tidak bisa dikatakan sebagai sturm
und drang terus-menerus.

Beda dengan kegiatan Wahidin mula pertama dengan mengimbau
kepada para pejabat pribumi senior, para siswa ini mencurahkan
usaha mereka merebut hati rekan-rekan mereka di sekolah-sekolah
lanjutan lainnya. Dengan cepat organisasi semacam berdiri pada
tiga dari delapan sekolah yang hadir pada rapat 20 Mei tersebut.
Ketiga sekolah itu: OSVIA di Magelang, sekolah pendidikan guru
(normaalschool) di Yogyakarta, dan sekolah menengah petang
(hogere - burgerschoo di Surabaya. Sehingga, pada Juli 1908
jumlah anggota Budi Utomo mencapai 650 orang.

Karena jumlah murid STOVIA sedikit, jumlah anggota Budi Utomo
dari sekolah ini pun merupakan persentase kecil dari semua
anggota. Kendati demikian, selama tahun-tahun pertama STOVIA
tetap merupakan pusat kegiatan Budi Utomo.

Tapi keadaan kemudian makin bertambah sulit, karena siswa-siswa
ini harus memadu antara pekerjaan untuk organisasi pelajaran di
sekolah. Mereka sangat bersungguh-sungguh dalam mencapai
pendidikan yang lebih tinggi, dan masa depan sebagai dokter.
Maka, selama tahun-tahun bergolak ini, hanya seorang, yaitu
Soelaeman, yang meninggalkan sekolahnya.

Tentang situasi ini Soetomo mencatat dalam memoarnya:

Sekali peristiwa saya hampir-hampir dikeluarkan dari sekolah
dokter itu, karena kedudukan saya sebagai ketua organisasi.
Sementara guru menuduh saya hendak berusaha melawan pemerintah.
Menjawab tuduhan itu, atas usul Goenawan, teman-teman kami minta
agar mereka juga dikeluarkan jika saya dikeluarkan.

Untung, direktur sekolah, Dr. H.F. oll, orang yang berpandangan
luas. Dalam rapat guru, direktur melempar pertanyaan kepada
rekan-rekannya sebagai berikut, "Tidak adakah di antara Anda
yang hadir di sini seradikal seperti Soetomo ketika Anda berumur
delapan belas tahun?"

Pengaruh pertanyaan ini ternyata menguntungkan saya. Dengan
suara bulat teman-teman menyampaikan pendiriannya sebagai
berikut: "Soetomo sebagai ketua mempunyai tugas menjelaskan
semua gagasan dan cita-cita yang bergelora di dada kami. Jika ia
harus dikeluarkan karena itu, maka Tuan juga harus mengeluarkan
mereka di antara kami yang mempunyai keyakinan dan cita-cita
yang sama. Semata-mata kami belum berkesempatan untuk menyatakan
keyakinan dan cita-cita kami itu."

Di sepanjang hidup saya belum pernah kesetiakawanan seperti itu
saya rasakan. Sampai Budi Utomo diserahkan kepada orang-orang
yang lebih dewasa dan berpengalaman serta berpengatahuan yang
diperlukan untuk tugas-tugas organisasi, kami, anak-anak muda,
murid-murid sekolah kedokteran dan utusan Budi Utomo, telah
menunjukkan persatuan yang pada hakikatnya tetap tak tertandingi
bahkan sampai sekarang pun.

Sayang, Soetomo tidak menyebut pasti kapan peristiwa itu
terjadi. Tetapi mungkin sekali sebelum Juli 1908, karena tidak
disebut-sebut pada pernyataan yang diberikan oleh para siswa
mengenai tanggal tersebut. Maka, pastilah bahwa tekanan dari
para guru itu yang menjadi salah satu sebab pokok perubahan
penting masa mendatang.

Sikap bi...............

7.

Ngesti Pandowo

Posted by: "setyawan_abe" setyawan_abe@yahoo.com   setyawan_abe

Fri Jul 11, 2008 11:01 pm (PDT)

Bagi-bagi kue lama, kita nikmati bersama, reriungan nyoook...

Edisi. 35/XII/30 Oktober - 05 November 1982 Hiburan
Kisah sedih anak wayang Grup wayang orang ngesti pandowo yang telah
berumur 30 th mengalami kelumpuhan, karena kurangnya penonton,
pendapatannya tak cukup untuk menutupi kebutuhannya, nasib ini juga
melanda grup-grup hiburan lainnya.(hb)
GEDUNG pertunjukan itu senyap. Grup wayang orang Ngesti Pandowo
tidak mentas. Padahal sudah 30 tahun lebih teter tradisional
yang terkenal di Jawa Tengah ini setiap malam bermain di Gedung
GRIS Jalan Pemuda, di jantung Kota Semarang yang ramai itu.

Tapi mandeknya Ngesti Pandowo sebenarnya tidak aneh. Bukan hanya
faktor-faktor di dalam menyebabkan ia lumpuh. Tapi juga
kenyataan bahwa ia, seperti banyak grup tradisional lain, kalah
berlomba dengan waktu. Memang banyak grup yang mengalami
kemerosotan serius.

Ngesti Pandowo sendiri misalnya, para pemainnya tidak lagi 100%
"loyal". Paling tidak tentunya menurut anggapan pimpinannya,
Sastro Sudirdjo. Laki-laki 70 tahun ini, tidak berdaya melarang
anak-buahnya beramai-ramai bermain ketoprak di Pati.

"Saya tidak mengajak. Mereka sendiri yang ikut," kilah
Nartosabdho. yang memimpin rombongan ngamen di Pati itu. Dalang
wayang kulit yang sangat terkenal ini sering diundang ke
kota-kota lain. Narto tidak punya grup ketoprak atau wayang
orang, tapi ia memang memenuhi undangan main ketoprak di Pati
--dengan para pemain Ngesti Pandowo. Barangkali ia malah
bermaksud membantu teman-temannya sealmamater. Narto sendiri
dibesarkan oleh Ngesti.

Didirikan di Temanggung, Jawa Timur, 1937, sebenarnya sudah
sejak 10 tahun terakhir ini pamor Ngesti merosot. Setiap malam
hanya 10-15 % dari 1.000 lembar karcis yang terjual. Padahal
karcis paling mahal (VIP) hanya Rp 750. Ini membikin pusing
kepala Sastro, sebab untuk membayar sewa gedung saja sebulan ia
harus mengeluarkan Rp 50.000 lebih. Belum lagi membayar imbalan
para pemain dan karyawan, antara Rp 150-Rp 750 per orang setiap
malam.

Sedikitnya ada 100 kk yang menggantungkan nasib pada Ngesti.
Mereka juga harus dipenuhi kebutuhan lainnya seperti perawatan
kesehatan, juga pembayaran uang sekolah bagi 60 anak karyawan.

Untuk menutupi utang-utangnya, Sastro sempat menjual tanahnya
seluas 900 m2 seharga Rp 8 juta, 1974. Bahkan bulan lalu menjual
seperangkat gamelan slendro pelog yang sudah berusia 70 tahun
seharga Rp 10 juta, kepada seorang pejabat tinggi di Kejaksaan
Jakarta. "Saya terpaksa bekerja sendiri. Yang mengaku dibesarkan
oleh Nesti tidak pernah lagi memikirkan," kata Sasto mengeluh
.

Ia menunjuk Kusni, bekas pimpinan Ngesti, dan Nartosabdho. "Saya
resminya masih menjadi penasihat. Dulu saya pernah memberi
beberapa saran, tapi tidak diperhatikan," sahut Kusni.
Nartosabdho menyerang lebih telak. "Pimpinan Ngesti harus
kolektif seperti dulu. Pimpinan yang sekarang ini tidak mengerti
kesenian," katanya.

Mungkin. Tapi nasib buruk tidak hanya dialami oleh Ngesti. Grup
wayang orang dan ketoprak Sri Wanito, dekat Pasar Dargo,
Semarang, sudah berusia 40 tahun. Ia lebih parah: semalam hanya
sekitar Rp 5.000 saja uang karcis yang masuk. Padahal tak kurang
dari 60 pemain yang setiap hari membayar-tanpa tambahan uang
beras, kesehatan, transpor. Wayang orang Wahyu Budoyo, atau grup
ketoprak di THR Tegalu areng, bernasib sama.

MESKI begitu para seniman rakyat itu cukup gigih. Misalnya
Radjiman, 48 tahun, pimpinan wayang orang Wiromo Budoyo di THR
Yogyakarta. Subsidi bulanan Pemda sekitar Rp 200.000 (dibagi
rata 50 orang) tentu tak mencukupi. Apalagi karcis yang terjual
setiap malam rata-rata 25 lembar, itu pun sebagian besar karcis
kelas III seharga Rp 200. Karcis kelas I dan II sangat jarang
laku.

Tapi, katanya, "kami memang tidak mengharapkan nafkah dari
Wiromo. Tapi kami tetap akan mempertahankannya." Minat penonton
sejak 1977 merosot. "Malah kami pernah main dengan penonton 10
orang, ditambah beberapa keluarga kami sendiri."

Mereka memang nekat, meskipun setiap malam rata-rata hanya
mendapat imbalan Rp 75 - Rp 100. Maka seperti halnya grup-grup
lain, di luar panggung para pemain Wiromo juga bekerja apa saja:
jadi kernet bis, pengumpul koran bekas, tukang becak, tukang
loak, penjual minuman, calo, bahkan ada yang mencari puntung.

Nasib seperti itu jua melanda wayang orang Sriwedarl Sala yang
sudah puluhan tahun. Setiap,malam penontonnya cuma puluhan.
Malah pernah hanya seorang turis asing saja yang menikmati.

"Tiada lain usaha kami kecuali bertahan," ujar Martoyo, 64
tahun, sutradaranya. Martoyo merasa tidak berkewajiban memajukan
grupnya. Sebab hal itu dianggapnya urusan Pemda Kotamadya
Surakarta.

Para pemain wayang orang Sriwedari setiap malam mendapat
honorarium sama rata Rp 400 per orang, ditambah insentif bulanan
antara Rp 2.000 sampai Rp 5.000 per orang. Sejak zaman baberapa
mereka diberi janji akan diangkat jadi pegawai negeri, namun
sampai saat ini hal itu masih menjadi impian. Merosotnya minat
penonton juga melanda wayang orang Sri Wandowo, di THR Surabaya.
"Setiap malam cuma 50 orang," kata pimpinannya, Kol (purn.)
Soemarsono.

Grup-grup sandiwara Sunda, yang bermain di Gedung Yayasan Pusat
Kebudayaan Bandung (YPKB) di Jalan Naripan yang cukup strategis
itu, bagaimana? sarwa wae, alias sami mawon. Dua tahun
belakangan ini jumlah penonton hanya sekitar 50 dari 600 kursi
yang terisi, setiap malam. Padahal yang tampil di panggung
pemain-pemain top--gabungan dari lima grup sandiwara: Sri Murni,
Dewi Murni, Sri Mukti, Swadaya, dan Sanggar Vikta.

Orang Sunda tampaknya lebih gemar nonton wayang golek setiap
malam Minggu yang selalu berakhir subuh, sementara sandiwara
hanya sampai pukul 23.00. Dengan karcis Rp 500, rata-rata 300
sampai 400 penonton bisa diandalkan selalu hadir. Wayang golek
Sunda yang laris ini mulai dipentaskan sejak 1950. "Malah
akhir-akhir ini nampaknya ada kecenderungan jumlah penonton
meningkat," ujar A.S. Basiri, 47 tahun, Kepala Pelaksana Harian
YPKB.

Merosotnya jumlah pengunjung, terutama selama dasawarsa
terakhir, tentunya disebabkan oleh semakin mudahnya orang
mendapatkan pilihan lain. Contoh dari tanah Sunda itu, larinya
penonton sandiwara ke wayang golek, sudah merupakan bukti.
Jangan dikata lagi saingan berupa film, televisi, dan sekarang
video. rtu herarti pengurus sebuah grup memang mesti
pandai-pandai ber"improvisasi", misa.lnya bersama dengan orang
luar yang populer.

Sri Wandowo di THR Surabaa minggu depan ini mendatangkan
beberapa pemain ketoprak dari Jawa Tengah. Bahkan pada
posternya tercantum nama Nartosabdho sebagai sutradara. Pernah
pula grup ini memancing penonton dengan mengundang pelawak
Kardjo AC/DC. Hal serupa juga dilakukan oleh Srimulat Jakarta.
Pernah mengundang Jojon, Ateng, Bagio, Bokir, dan akhir bulan
ini Lidya Kandou.

Ludruk Mandala, yang kini sedang main di Pasar Seni Ancol,
Jakarta, tak segan pula mementaskan cerita dengan pemain
gabungan dari beberapa grup ludruk. Grup ini juga pernah
memanggil Ateng dkk. atau penyanyi Mamiek Slamet. Bahkan grup
wayang orang Bharatadi Kalilio-Senen, Jakarta, tak
tanggung-tanggung: Maret lalu sempat bermain bersama tokoh
pantomim Prancis yang terkenal, Pradel.

Yang jelas, pasaran hiburan di Jakarta ternyata lebih ramai.
Karcis Rp 2.500 dengan mudah terjual habis, terutama di malam
Minggu. "Orang Jakarta kan mudah buang duit," ujar Teguh, 52
tahun, pimpinan Srimulat Jakarta, yang kini main di Taman Ria
Remaja Senayan. Srimulat kini punya 2 cabang, Surabaya dan Sala.
Tapi tetap saja, "penonton di Surabaya tetap yang paling
banyak," kata Teguh lagi --- dibanding dengan Jakarta. Itu
berarti bahwa bukan faktor 'suka buang duit' itu benar yang jadi
ukuran. Yang agak sepi Srimulat cabang Sala, meski penanggung
jawabnya Djudjuk sendiri, sang primadona yang juga istri Teguh
itu.

Menurut Teguh, merosotnya penggemar teater tradisional seperti
Ngesti Pandowo sebetulnya, antara lain, karena pertunjukannya
yang monoton. Hampir tidak pernah melakukan pembaruan. Juga
kurang menampilkan ekspresi. Pemain yang menangis misalnya,
cukup menutup muka dengan selendang, sementara sang dalang
bercerita bahwa sang tokoh sedang menangis.

Dengan kata lain, sementara zaman berubah, pembaruan telah
mandek di Ngesti Pandowo. Sebab jangan dilupakan, grup inilah
yang -- misalnya--tercatat pertama kali menyuguhkan adegan
terbang untuk Gatutkaca misalnya, di aman ketika adegan terbang
dalam film pun belum populer. Atau menyuguhkan barisan prajurit
lengkap dengan pasukan gajah bikinan, diiringi gending yang
hebat. Nartosabdho, di samping juga Sastro Sudirdjo, ambil
peranan dalam berbagai pembaruan itu.

Sekarang memang tetap ada Gatutkaca terbang. Tapi apa lagi
anehnya, di tahun 1982 ini? Dengan kata lain, seperti juga
ditulis budayawan Umar Kayam di harian Kompas, yang dibutuhkan
grup yang mau bertahan tak kurang dari tenaga-tenaga 'pemikir'.

Untunglah akhirnya Gubernur Supardjo Roestam turun tangan.
Bahkan Wallkota Semarang Imam Suparto menjanjikan anggaran
khusus lewat APBD, mulai tahun depan, untuk Ngesti Pandowo.
"Setiap bulan akan saya bantu Rp 2.500 setiap orang."

Namun bagi Supangat, 42 tahun, pimpinan wayang orang Bharata,
Jakarta, bantuan seperti itu 'kan tidak mungkin diterima
terus-menerus. "Bahkan dengan mendapat bantuan, para seniman
tidak bisa kreatif," katanya. Meski begitu cepat-cepat
ditambahkannya: "Tapi sesungguhnya saya ngiri juga, mengapa cuma
Ngesti yang diperhatikan."

8.

(Renungan) Bersyukurlah

Posted by: "setyawan_abe" setyawan_abe@yahoo.com   setyawan_abe

Fri Jul 11, 2008 11:12 pm (PDT)

Ingatlah untuk sebisa mungkin menghabiskan makananmu … 1 butir nasi
yg kau buang adalah setumpuk penderitaan buat saudara2 kita yg
kekurangan. Bersyukurlah bagi kita yg masih bisa menikmati makanan
lengkap dan meminum minuman yg beraneka rasa dan warna.
9.

(Diary) Jalan-Jalan ke Cirebon

Posted by: "sbondan34" sbondan34@yahoo.com   sbondan34

Sat Jul 12, 2008 12:00 am (PDT)

Dear all,

Review Arie tentang Cirebon ini benar2 bikin kangen pulang kampung...
:)
Jadi tergelitik untuk berkomentar tentang Nasi Jamblang Pelabuhan, ini
adalah tempat sarapan favorit papa, mama dan adik saya. Karena mama
saya sibuk dan ga sempat masak, tiap hari mereka muter2 tempat makan di
Cirebon untuk cari makan pagi, siang dan malam... Yang seru adalah tur
mencari tempat makan pagi untuk sarapan dan makan siang (biasanya
sekalian beli), karena harus yang buka sebelum jam 7 pagi. Salah
satunya adalah nasi jamblang pelabuhan ini. Seperti review dari Arie,
pilihan lauknya memang menggoda banget, bikin laper mata. Fave saya
adalah sambel dan juga perkedelnya, bisa habis beberapa potong karena
ukurannya yang imut.

Selain nasi jamblang (yang sudah populer di kalangan para 'turis' :) )
ada juga tempat makan yang menjual makanan sarapan buat warga Cirebon
(yang pagi-pagi pun udah makan nasi plus lauk lengkap buat sarapan).
Salah satunya adalah sebuah warung kecil (tepatnya mungkin gerobak
makanan plus kursi-kursi makan) di Jl. Merdeka. Ini ga ada plangnya,
tapi orang-orang menyebutnya Emma (nama yang punya). Makanan yang dijual
adalah makanan-makanan ala rumahan seperti sop, macam-macam pepes,
sambel goreng, macam-macam semur, goreng ikan, ayam, oreg tempe,
perkedel dll. Tiap pagi pasti ramai dari jam 6 pagi oleh ibu-ibu,
bapak-bapak sampai oma2 yang tidak sempat masak dirumah (like my
mother...). Masakannya sederhana saja, tapi cukup oke dan taste nya
beda sama warung2 di Jakarta.

Satu lagi adalah nasi sambel goreng kikil di Jl. Pertatean. Bentuknya
gerobak juga, tidak ada plangnya. Nah kalau yang ini cukup unik karena
yang dijual hanya nasi, sambel goreng kikil, semur telur/tahu dan mie
goreng (saya menyebutnya mie goreng ala kampung yg ga pake daging cuma
sayur2 an saja dan dibuat dari mie basah). Meskipun penampilannya ga
meyakinkan tapi sambel goreng kikil (sapi) nya mantep banget, pedes
(agak sedikit manis) dan kikil yang sudah dipotong kotak2 rasanya
kenyal2 dan memberi rasa gurih.

Satu lagi (sebenarnya masih banyak banget), nasi langgi di jl.
pekalangan. Lagi-lagi ga ada plang. Nasi langgi ini dijual di sebuah
rumah makan (ga kaya rumah makan, lebih kaya toko kecil) oleh Tante
(mama saya tau namanya, saya kok lupa ya...). Jualaannya hanya nasi
langgi, dibungkus daun pisang isinya nasi (nasinya harum banget padahal
nasi putih biasa), sambel goreng, dendeng (di cirebon dendeng bentuknya
lebih mirip rendang minus pedas) yang empuk banget, oreg tempe kering,
perkedel, irisan telur dadar (yang tipis-tipis dan rapih banget), abon
dan serbuk ebi. Ini yang paling saya suka, serbuk ebi yang hanya
sejumput kecil membuat nasi langgi ini jadi istimewa. Saking
istimewanya, katanya banyak yang membawa untuk oleh2 sampai dibawa
keluar negri.

10a.

Re: (Joke) Cerita burung

Posted by: "setyawan_abe" setyawan_abe@yahoo.com   setyawan_abe

Sat Jul 12, 2008 12:07 am (PDT)

Jadi inget lagu kaporit ku waktu masih umur..hmmm yah sekitar 4-5 thn
lah, iya lagu ntuh tuh...

Burung kakak, Tua
Hinggap di jendela
Nenek sudah tua, giginya tinggal dua
Tek dung.. tek dung.. tekdung lalala 3x
Burung kakak, Tua

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Elisa Koraag
<elisa201165@...> wrote:
>

>
> Muka lelaki tua itu makin merah. Ia jadi makin gugup. Tapi karena masih
> penasaran dan gusar, ia bertanya lagi, "Maaf sekali lagi, bukan ke
arah itu
> pertanyaan saya. Maksud saya adalah, siapa yang pernah lihat burung
saya?"
> Lalu… Isteri lelaki itu pun pun berdiri… dan dua orang perempuan lain…
> Maka kali ini muka sang isteri yang jadi merah padam. Lelaki itu pun
> terpaksa melarikan diri… Menyesal dia bertanya.
>
> Peace......
>

11a.

[Jokes] Speaker Mode On

Posted by: "april_reto" april_reto@yahoo.com   april_reto

Sat Jul 12, 2008 12:26 am (PDT)

Kebiasaanku setiap hari Senin-Jumat pukul 06.30-10.00 adalah
mantengin salah satu acara di radio yang dipandu oleh duo penyiar
kocak. Begitu pula Rabu (9/7) kemarin, aku stay tune di gelombang
radio yang kumaksud, di kantor, dengan menggunakan fasilitas radio di
handphone. Pakai earphone, of course.

Waktu berjalan, aku masih setia memukul-mukul tuts keyboard dengan
jari-jariku. Sesekali cengar-cengir sendiri, tertawa-tawa sendiri,
karena selain kedua penyiarnya mbanyol abis, acara radio yang
kudengarkan mengadakan perlombaan nyanyi jingle iklan salah satu kolam
renang terbesar di Surabaya tapi diiringi dengan lagu Jawa, campursari.

Tiba-tiba, aku merasa posisi monitorku nggak nyaman di mata. Sehingga
kuputuskan menggesernya ke kiri. Tak sengaja, kabel penghubung ke CPU
lepas. Itu artinya, aku harus berdiri dari dudukku untuk
memperbaikinya. Kulepas earphone dari kedua telingaku.

Tapi...
Lho kok, musik campursarinya masih bunyi. "Ah mungkin tadi aku belum
ngelepas earphone," pikirku dejavu. Tapi, ternyata kulihat tuh
perangkat sudah ada di tanganku. Dan musiknya masih jelas terdengar.

Nah lho, ternyata sedari tadi kondisi handphoneku speaker on, bukan
earphone on. Lha, aku gak nyadar.

Mati deh aku. Mana volumenya lumayan, dan pas waktu sebelum nyadar
itu pak Direktur Keuangan dan Direktur salah satu bidang sempat
beberapa kali menyambangi meja teman-teman bagian keuangan yang
seruangan denganku. Sejak seminggu lebih ini, aku memang pindah meja
ke ruang keuangan, setelah sebelumnya seruangan dengan para programmer.

Saat aku bertanya ke teman meja sebelahku, "Why dia nggak ngingetin
aku kalau speakerku nyala keras?" Dia menjawab, "Kirain kamu sengaja..."

So does seorang teman lagi yang yang duduknya sederet, dua meja di
sebelahku, menurutnya "Takkirain kamu sengaja..."

Wuaaaaaaaahhh, ya nggak lha. Mana berani aku nyetel radio keras-keras,
kalau ruanganku sekarang di ruang keuangan? Kalau aku di ruangan
programmer masih berani.

Dua hari sesudah itu, baru teman-teman penghuni ruang keuangan
membahas masalah itu. "Tumben pak A nggak marah pas denger suara
berisik itu?"

Aku hanya bisa menjawab, "Pasti karena pak A, ternyata penggemar acara
radio yang sama denganku."

Dan semua orang tertawa. Kecuali seorang programmer yang dengan
"sengit"-nya bertanya, "Kamu itu lugu apa bego?"

Hmppppfffffffffhhhh...

Oke, have a nice day...
-Aprillia Ekasari-

YM: april_reto
FS: april_reto@yahoo.com
Sok ngeBlog: http://sukmakutersenyum.multiply.com

11b.

Balasan: [sekolah-kehidupan] [Jokes] Speaker Mode On

Posted by: "teha sugiyo" sinarning_rat@yahoo.co.id   sinarning_rat

Sat Jul 12, 2008 2:06 am (PDT)

hallo april, sudah selesai main petak umpetnya? ato dapat kesibukan sebagai karyawan baru? hwahwahwa, kita mendukung april untuk jadi ketua eska yang baru lho... hayooo semangat!

april_reto <april_reto@yahoo.com> wrote: Kebiasaanku setiap hari Senin-Jumat pukul 06.30-10.00 adalah
mantengin salah satu acara di radio yang dipandu oleh duo penyiar
kocak. Begitu pula Rabu (9/7) kemarin, aku stay tune di gelombang
radio yang kumaksud, di kantor, dengan menggunakan fasilitas radio di
handphone. Pakai earphone, of course.

Waktu berjalan, aku masih setia memukul-mukul tuts keyboard dengan
jari-jariku. Sesekali cengar-cengir sendiri, tertawa-tawa sendiri,
karena selain kedua penyiarnya mbanyol abis, acara radio yang
kudengarkan mengadakan perlombaan nyanyi jingle iklan salah satu kolam
renang terbesar di Surabaya tapi diiringi dengan lagu Jawa, campursari.

Tiba-tiba, aku merasa posisi monitorku nggak nyaman di mata. Sehingga
kuputuskan menggesernya ke kiri. Tak sengaja, kabel penghubung ke CPU
lepas. Itu artinya, aku harus berdiri dari dudukku untuk
memperbaikinya. Kulepas earphone dari kedua telingaku.

Tapi...
Lho kok, musik campursarinya masih bunyi. "Ah mungkin tadi aku belum
ngelepas earphone," pikirku dejavu. Tapi, ternyata kulihat tuh
perangkat sudah ada di tanganku. Dan musiknya masih jelas terdengar.

Nah lho, ternyata sedari tadi kondisi handphoneku speaker on, bukan
earphone on. Lha, aku gak nyadar.

Mati deh aku. Mana volumenya lumayan, dan pas waktu sebelum nyadar
itu pak Direktur Keuangan dan Direktur salah satu bidang sempat
beberapa kali menyambangi meja teman-teman bagian keuangan yang
seruangan denganku. Sejak seminggu lebih ini, aku memang pindah meja
ke ruang keuangan, setelah sebelumnya seruangan dengan para programmer.

Saat aku bertanya ke teman meja sebelahku, "Why dia nggak ngingetin
aku kalau speakerku nyala keras?" Dia menjawab, "Kirain kamu sengaja..."

So does seorang teman lagi yang yang duduknya sederet, dua meja di
sebelahku, menurutnya "Takkirain kamu sengaja..."

Wuaaaaaaaahhh, ya nggak lha. Mana berani aku nyetel radio keras-keras,
kalau ruanganku sekarang di ruang keuangan? Kalau aku di ruangan
programmer masih berani.

Dua hari sesudah itu, baru teman-teman penghuni ruang keuangan
membahas masalah itu. "Tumben pak A nggak marah pas denger suara
berisik itu?"

Aku hanya bisa menjawab, "Pasti karena pak A, ternyata penggemar acara
radio yang sama denganku."

Dan semua orang tertawa. Kecuali seorang programmer yang dengan
"sengit"-nya bertanya, "Kamu itu lugu apa bego?"

Hmppppfffffffffhhhh...

Oke, have a nice day...
-Aprillia Ekasari-

YM: april_reto
FS: april_reto@yahoo.com
Sok ngeBlog: http://sukmakutersenyum.multiply.com





---------------------------------
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. br>Cepat sebelum diambil orang lain!
12.

(Selingan) Great Story

Posted by: "teha sugiyo" sinarning_rat@yahoo.co.id   sinarning_rat

Sat Jul 12, 2008 1:34 am (PDT)

Selingan

Sahabat, menemani akhir pekan kita, Ruth Indirayani Manurung mengirimkan kisah ini kepada saya.Sayang jika kisah bagus ini tidak kita nikmati sambil merenungkannya bersama. Yuuukkk!
Great Story
Di Balik Kisah Pedonor Sumsum Tulang Belakang
Pada salah satu kolom koran Itali, ada sebuah berita tentang pencarian orang yang istimewa. 17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 kota Wayeli, seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang kulit hitam. Tak lama kemudian, sang wanita melahirkan seorang bayi perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja menerima tanggung jawab untuk memelihara anak ini.Sayangnya, sang bayi kini menderita leukemia (kanker darah). Dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera. Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Berharap agar pelaku pada waktu itu saat melihat berita ini, bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth, berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya. Masalahnya adalah apakah orang hitam ini berani muncul. Padahal jelas ia akan menghadapi kesulitan besar. Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah hukum, dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri.
Jika ia tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang tak terampuni.
Bagaimanakah kisah ini akan berakhir?
Seorang anak perempuan yang menderita leukimia ternyata menyimpan suatu kisah yang memalukan di suatu perkampungan Itali. Martha, 35 thn, adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia dan suaminya Peterson adalah warga kulit putih, tetapi diantara kedua anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik perhatian setiap orang di sekitar mereka untuk bertanya, Martha hanya tersenyum kecil, berkata pada mereka bahwa nenek berkulit hitam, dan kakeknya berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan seperti ini.
Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami demam tinggi. Terakhir, Dr. Adely memvonis Monika menderita leukimia. "Harapan satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang belakang yang paling cocok untuknya." Dokter menjelaskan lebih lanjut. "Diantara mereka yang ada hubungan darah dengan Monika merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan pedonor tercocok. Harap seluruh anggota keluarga kalian berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang."
Raut wajah Martha berubah, tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani pemeriksaan. Hasilnya tak satu pun yang cocok. Dokter memberitahu mereka, dalam
kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok sangatlah kecil
kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, yaitu Martha
dan suaminya kembali mengandung anak lagi. Dan mendonorkan darah anak untuk
Monika. Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi panik, dan berkata tanpa
suara "Tuhan.. kenapa menjadi begini?" Ia menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa. Peterson mengerutkan keningnya berpikir. Dr. Adely berusaha menjelaskan pada mereka, "saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukimia, lagi pula cara ini terhadap bayi yang baru dilahirkan sama sekali tak ada pengaruhnya." Hal ini hanya didengarkan oleh pasangan suami istri tersebut, dan termenung begitu lama. Terakhir mereka hanya berkata,
"Biarkan kami memikirkannya kembali."
Malam kedua, Dr. Adely tengah bergiliran tugas, tiba-tiba pintu ruang kerjanya
terbuka, masuk pasangan suami-istri tersebut. Martha menggigit bibirnya keras, suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata serius pada dokter.
"Ada suatu hal yang perlu kami beritahukan kepada Anda, Dokter! Tapi harap Anda berjanji untuk menjaga kerahasiaan ini, karena ini merupakan rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun." Dr. Adely menganggukkan kepalanya.
Lalu mereka bercerita: "10 tahun lalu, Martha ketika pulang kerja telah diperkosa seorang remaja berkulit hitam. Saat Martha sadar, dan pulang ke rumah dengan
tergesa-gesa, waktu telah menunjukkan pukul 1 malam. Waktu itu aku bagaikan
gila keluar rumah mencari orang hitam itu untuk membuat perhitungan. Tapi telah
tak ada bayangan orang satu pun. Malam itu kami hanya dapat memeluk kepala
masing-masing menahan kepedihan. Sepertinya seluruh langit runtuh."
Bicara sampai sini, Peterson telah dibanjiri air mata, Ia melanjutkan kembali.
"Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat
ketakutan, kuatir bila anak yang dikandungnya merupakan milik orang hitam
tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku masih mengharapkan
keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi kami. Begitulah, kami
ketakutan menunggu beberapa bulan.
Maret 1993, Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami
begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti asuhan.
Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih lagi
bagaimana pun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah nyawa. Aku
dan Martha merupakan warga yang taat pada iman kami, pada akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama Monika."
Mata Dr. Adely juga digenangi air mata. Pada akhirnya ia memahami kenapa bagi
kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal yang sangat
menguatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukkan kepala berkata, "Memang jika demikian, kalian melahirkan 10 anak sekalipun akan sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk Monika."
Beberapa lama kemudian, ia memandang Martha dan berkata "Kelihatannya, kalian harus mencari ayah kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnya cocok untuk Monika. Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan
kalian ?"
Martha berkata, "Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya."
Dr. Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu.
Martha dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya memutuskan memuat berita pencarian ini di koran dengan menggunakan nama
samaran. November 2002, di koran Wayeli termuat berita pencarian ini, seperti yang digambarkan sebelumnya. Berita ini memohon sang pelaku pemerkosaan waktu
itu berani muncul, demi untuk menolong sebuah nyawa seorang anak perempuan
penderita leukimia! Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu
menggemparkan. Kotak surat dan telepon Dr. Adely bagaikan meledak saja,
kebanjiran surat masuk dan telepon, orang-orang terus bertanya siapakah wanita
ini. Mereka ingin bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan padanya.
Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin mengungkapkan
identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas Monika sebagai anak hasil
pemerkosaan terungkap. Seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana
cerita ini berakhir.
Orang hitam itu akan munculkah?
Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita sekarang menilainya? Akankah menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk masa lalunya, ataukah ia harus menerima pujian karena keberaniannya hari ini?
Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporakporandakan perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia seorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki lembaran terkelam merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu.
Ia adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorang pun menyangka, Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring panggilan. Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak ia masih muda, ia yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja sejak dini. Ia yang begitu pandai dan cekatan, berharap dirinya sendiri bekerja dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari orang lain. Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu mendiskrimi-nasikannya. Tak peduli segiat apa pun dirinya, bos selalu memukul dan memakinya.
17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20. Ia berencana untuk pulang kerja lebih awal merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, di tengah kesibukan ia memecahkan sebuah piring.
Sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili
begitu marah dan memukul sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran.
Di tengah kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih. Malam berhujan lebat, tiada seorang pun lewat, dan di parkiran ia bertemu Martha. Untuk membalaskan dendam akibat pendiskriminasian, ia pun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini.Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu juga ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju Napulese,
meninggalkan kota ini.
Di Napulese, ia bertemu keberuntungannya. Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar di restoran milik orang Amerika. Kedua pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi kemampuannya, dan menikahkannya dengan anak perempuan mereka, Lina. Pada akhirnya mereka juga mempercayainya untuk mengelola toko mereka.
Beberapa tahun ini, ia yang begitu tangkas, tak hanya memajukan bisnis toko
minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu. Di mata pekerja lainnya
dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang baik, suami yang baik, ayah yang baik. Tapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya. Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi wanita yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup damai dan tentram. Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorang pun.
Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus mempertimbang-kan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. Sedikit pun ia tak pernah membayangkan bahwa wanita malang itu mengandung anaknya, bahkan menerima
tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya bukanlah miliknya. Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi nomor telepon Dr. Adely. Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, ia telah menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya ini, anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan kehilangan keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akan kehilangan penghormatan masyarakat di sekitarnya. Semua yang ia dapatkan ini berkat kerja kerasnya bertahun-tahun.
Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha. Sang istri, Lina berkata, "Aku sangat mengagumi Martha . Bila aku di posisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian."
Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba mengajukan
pertanyaan, "Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu?"
"Sedikitpun aku tak akan memaafkannya!!! Waktu itu ia sudah membuat kesalahan, kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut! Ia benar-benar seorang pengecut!" Demikian istrinya menjawab dengan dipenuhi api kemarahan.
Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan kenyataan pada istrinya.
Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel tak bersedia tidur. Untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata, "Kau ayah yang jahat, aku tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi ayahku".
Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya, ia pun memeluk erat-erat sang anak dan berkata: "Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang salah, maafkan papa ya."
Sampai sini, Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru berkata padanya untuk menenangkan ayahnya, "Baiklah, kumaafkan. Guru TK ku bilang, anak yang baik adalah anak yang mau memperbaiki kesalahannya."
Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Di matanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras itu, dan bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit tangis wanita itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri : "Aku ini sebenarnya orang baik, atau orang jahat ?"
Mendengar bunyi napas istrinya yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri. Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan adanya ketidakberesan pada dirinya, memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah. Dan ia mencari alasan tak enak badan untuk meloloskan dirinya. Pagi hari pada jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah, "Selamat pagi, manager !" Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia merasa dirinya hampir menjadi gila saja rasanya.
Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat lagi terus diam saja, ia pun menelepon Dr. Adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang, "Aku ingin mengetahui keadaan anak malang itu."
Dr. Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr.Adely menambahkan kalimat terakhirnya berkata, "Entah apa ia dapat menunggu hari kemunculan ayah kandungnya." Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling
dalam, suatu perasaan hangat sebagai sang ayah mengalir keluar, bagaimana pun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri ! Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika. Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini.
Malam hari itu juga, ia pun mengobarkan keberaniannya sendiri untuk memberitahu sang istri tentang segala rahasianya. Terakhir ia berkata, "Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah Monika. Aku harus menyelamatkannya."
Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak marah, "Kau PEMBOHONG !"
Malam itu juga ia membawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah ayah
ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan kedua
suami-istri tersebut dengan segera mereda. Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka menasehatinya, "Memang benar, kita patut marah terhadap segala tingkah laku Ajili di masa lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia dapat mengulurkan dirinya untuk muncul, perlu berapa banyak keberanian besar. Hal ini membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur. Apakah kau mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tapi kini bersedia memperbaiki dirinya, ataukah seorang suami yang selamanya menyimpan kebusukan ini didalamnya ?"
Mendengar ini Lina terpekur beberapa lama. Pagi-pagi di hari kedua, ia langsung kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan, Lina menetapkan hatinya berkata, "Ajili, pergilah menemui Dr. Adely! Aku akan menemanimu !"
3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr. Adely. 8 Februari, pasangan
tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA Ajili. Hasilnya Ajili
benar-benar adalah ayah Monika. Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam
pemerkosanya itu pada akhirnya berani memunculkan dirinya, ia pun tak dapat
menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia terus memendam dendam kesumat
terhadap Ajili, namun saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu. Segalanya berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi pasangan Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan keadaan sebenarnya. Mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung Monika telah ditemukan.
Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini. Mereka terus-menerus menelepon, menulis surat pada Dr. Adely, memohon untuk dapat menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus penghormatan mereka padanya. Mereka berpendapat, "Barangkali ia pernah melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan!"
10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat bertemu muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk menemui mereka, namun
pada permohonan ketiga Martha, ia pun menyetujui hal ini. 18 Februari, dalam
ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu langsung dengan Ajili.
Ajili baru saja memangkas rambutnya, saat ia melihat Martha, langkah kakinya
terasa sangatlah berat, raut wajahnya memucat. Martha dan suaminya melangkah
maju, dan mereka bersama-sama saling menjabat tangan masing-masing, sesaat
ketiga orang tersebut diam tanpa suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya air
mata mereka bersama-sama mengalir. Beberapa waktu kemudian, dengan suara serak Ajili berkata, "Maaf... mohon maafkan aku! Kalimat ini telah terpendam dalam hatiku
selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya
langsung kepadamu." Martha menjawab, "Terima kasih kau dapat muncul.
Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum tulang belakangmu dapat menolong
putriku".
19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili. Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika. Sang dokter berkata dengan antusias, "Ini suatu keajaiban !"
22 Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya terkabulkan.
Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika telah
melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika boleh keluar RS dengan sehat
walafiat. Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus
mengundang Ajili dan Dr. Adely datang ke rumah mereka untuk merayakannya.
Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon agar Dr. Adely membawa suratnya bagi mereka. Dalam suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya berkata,
"Aku tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap
Monika berbahagia selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian
menghadapi kesulitan bagaimana pun, harap hubungi aku, aku akan berusaha sekuat
tenaga untuk membantu kalian".
"Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan untuk menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia pada separoh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku !"

***

Komentar Italia Post
Terkadang dosa-dosa masa lalu kita masih terus membayangi kita. Walaupun mungkin kita sudah bahagia dengan kehidupan kita yang sekarang, tetapi selalu
saja terbayang dosa-dosa masa lalu kita. Yang menjadi bahan renungan dari cerita ini : Jika pada saatnya Tuhan membuka kesempatan bagi aku untuk meminta maaf atas segala dosa-dosaku, apakah aku akan berani seperti Ajili ini untuk mengakui semua dosa-dosaku, walaupun dengan taruhan aku akan kehilangan semuanya. Tuhan itu begitu baik ... pada saat Dia mengetahui bahwa kita masih menderita akan dosa-dosa masa lalu kita, Dia membuka jalan bagi kita untuk meminta maaf dan membersihkan hati kita, yang memungkinkan kita untuk menyambut masa depan tanpa ada rasa terbeban lagi dalam hati kita.

Regards


Live as you were to die tomorrow
Learn as you were to live forever.
(Mahatma Gandhi)


---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers
13a.

Re: (seni & sastra) A2C, Bukan Ayat-Ayat Cinta

Posted by: "setyawan_abe" setyawan_abe@yahoo.com   setyawan_abe

Sat Jul 12, 2008 4:17 am (PDT)

Antara Dua Cinta, Suit...suit...

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, r widhiatma
<r_widhiatma@...> wrote:
>

>
>
> Antara Dua Cinta
> apa yang ada jarang disyukuri
> apa yang tiada sering dirisaukan
> nikmat yang dikecap
> baru kan terasa bila hilang
> apa yang diburu timbul rasa jemu
> bila sudah di dalam genggaman
>
> dunia ibarat air laut
> diminum hanya menambah haus
> nafsu bagaikan fatamorgana di padang pasir
> panas yang membahang disangka air
> dunia dan nafsu bagai bayang-bayang
> dilihat ada ditangkap hilang
>
> Tuhan leraikanlah dunia
> yang mendiam di dalam hatiku
> kerana di situ tidakku mampu
> mengumpul dua cinta
> hanya cinta-Mu kuharap tumbuh
> dibajai bangkai dunia yang kubunuh
>
> - The Zikr -
>
>
>
> original version by The Zikr.
> lagu (nasyid) dengan konsep minimalis
> Antara Dua Cinta - The Zikr
>
>
> cover version by Saujana.
> di aransemen ulang dengan lagu yang lebih nge-beat, & instrumen
musik yg lebih kaya
> terdapat penyesuaian beberapa kata/kalimat pada liriknya
> mungkin disesuaikan dengan karakter Saujana sendiri & segmennya
yaitu anak muda
> Antara 2 Cinta - Saujana
>
>
> cover version (atau lebih tepatnya remake) by Raihan
> karena Raihan dahulunya adalah The Zikr
> musik juga sama dengan perkusi seperti original version tapi
terdengar agak lebih "modern"
> Antara 2 Cinta - Raihan
>

Recent Activity
Visit Your Group
Sell Online

Start selling with

our award-winning

e-commerce tools.

Yahoo! Groups

Stay healthy

and discover other

people who can help.

All-Bran

Day 10 Club

on Yahoo! Groups

Feel better with fiber.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
MARKETPLACE

Attention, Yahoo! Groups users! Sign up now for a one-month free trial from Blockbuster. Limited time offer.

Tidak ada komentar: