10 November Hasil Resolusi Jihad NU
Selasa, 10 November 2009 pukul 11:32:00
BOGOR--Praktisi pendidikan Dr Nandang Najmulmunir MS mengatakan,
peristiwa bersejarah 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur,
merupakan dampak dikeluarkannya keputusan "resolusi jihad" atau seruan
perang yang dicetuskan ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU).
Dr Nandang Najmulmunir MS, Selasa (10/11), mengatakan, peristiwa 10
November sangat bersejarah bagi RI, karena momen tersebut menjadi
titik balik perjuangan bangsa Indonesia dalam memukul mundur tentara
sekutu yang ingin menduduki kembali wilayah kedaulatan NKRI yang pada
saat itu masih "seumur jagung".
"Peristiwa 10 November terjadi berkat adanya keputusan resolusi jihad
yang dikeluarkan NU. Peristiwa tersebut merupakan dampak langsung dari
dikeluarkannya keputusan ulama NU," papar praktisi pendidikan yang
menyelesaikan S1 hingga S3 di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Lebih lanjut Nandang yang juga Rektor Universitas Islam 45 (UNISMA)
Bekasi mengemukakan, resolusi jihad dikeluarkan ulama NU pada 22
Oktober 1945. Keputusan tersebut ditempuh setelah ulama-ulama dan
konsul NU berkumpul di Surabaya untuk menyikapi situasi politik
terkait dengan masuknya kembali penjajah ke Indonesia yang baru
merdeka.
Pertemuan yang berlangsung dari 21 Oktober tersebut memutuskan dua hal
penting. Pertama bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang
diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 atas dasar Pancasila dan UUD 1945
adalah sah menurut 'fikih' alias hukum Islam.
Kedua, karena itu, umat Islam diwajibkan mengangkat senjata (jihad)
untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. "Resolusi
jihad yang dikeluarkan NU telah menginspirasi segenap anak bangsa
untuk berjuang mengangkat senjata guna mengusir penjajah yang hendak
masuk kembali ke Indonesia," tutur dia.
Kontribusi NU terhadap peristiwa tersebut bukan hanya sebatas
mengeluarkan resolusi jihad yang terbukti berhasil melecut semangat
juang bangsa Indonesia, namun para ulama NU terjun secara langsung ke
medan perang dengan memimpin perlawanan mengusir penjajah.
Menurut Nandang, sebelum peristiwa 10 November meletus, Bung Tomo dan
para pejuang NU di medan perang, terlebih dahulu meminta fatwa para
ulama NU serta menunggu kedatangan mereka ke medan perang. Saat itu,
dua ulama besar NU yang ditunggu para pejuang, yakni KH Wahid Hasyim
dan KH Abbas Buntet. "Setelah dua ulama tersebut datang, barulah
terjadi perang," imbuhnya. ant/taq
sumber:
http://www.republik
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar