بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Jiwa-jiwa pada tanaman-tanaman dan binatang-binatang tak dikenai pertanggungjawaban,
hingga tiada perlu menyesal saat jiwa-jiwa itu meninggalkan dunia fana.
Beda halnya dengan jiwa-jiwa yang diturunkan ke dunia
melalui pertautannya menyatu pada raga dan akal-pikiran manusia
akan dikenai pertanggungjawaban bagaimana memanfaatkan raga tubuh
dan akal-pikiran itu selama hidup sementara di dunia.
Itu mengapa tak masalah kapan, dimana, atau oleh apa manusia dimatikan,
tapi "apa yang dibawa" atau "tidak dibawa" oleh jiwa-jiwa itu saat datangnya kematian; Maka beruntunglah jiwa yang bawa amal-amal saleh dan bukan dosa-dosa, berarti jiwa itu telah memanfaatkan akal-pikiran dan raganya sebagaimana mestinya sesuai amanat-Nya
Maka selamat sentosa damai bahagia-lah jiwa-jiwa itu, sepenuhnya rela-ikhlas, tiada sedikitpun kekuatiran, kekecewaan ataupun penyesalan
saat dan sesudah dicabut..., melewati lorong-lorong terang gerbang Kematian.
Hanya amal-amal saleh yang dilakukan dengan niat ikhlas terbawa,
sedang amal-amal yang semata harap keuntungan duniawi tertinggal di dunia.
*Dikutip dari Catatan Harian Membuka Hati
Mas Yos Wiyoso Hadi, Pegawai Negeri di
Ditjen Pajak, Departemen Keuangan RI;
Pendiri bersama Komunitas SUARA, dan
Penggiat GIMSHS ( Gerakan Inklusif Moral
Komunitas Milist SuaraHati SUARA ).
[ Diteruskan dari Bapak Rohmad S. ]
PH PRO
Indonesia
Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web. Gunakan Wizard Pembuat Pingbox Online. http://id.messenger
[Non-text portions of this message have been removed]
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar