Messages In This Digest (16 Messages)
- 1a.
- Re: [Kelana] Arisan Seru => Mbak Indah IP From: APRILLIA
- 2a.
- Re: Spirit Ngeblog From: APRILLIA
- 3.
- [KELANA LEBARAN] Nostalgia in Lebaran From: zahrotun nisa
- 4a.
- Re: [catcil] Hiatus dan Rasa Bersalah From: febty f
- 4b.
- Re: [catcil] Hiatus dan Rasa Bersalah From: Novi Khansa
- 5a.
- Re: [Kelana] Arisan Seru From: febty f
- 6a.
- (humor) HOT SPOT KAMPUS SEBELAS From: fiyan arjun
- 6b.
- Re: (humor) HOT SPOT KAMPUS SEBELAS From: Lia Octavia
- 6c.
- Re: (humor) HOT SPOT KAMPUS SEBELAS >> mas Fiyan From: APRILLIA
- 7.
- (rampai) MAAF BILA AKU TAK SEPERTI YANG KAU HARAP From: fiyan arjun
- 8a.
- Re: [catcil] Motivasi dari Ketegaran Pohon From: Novi Khansa
- 9.
- [info] Buku Pintar Ekonomi Syariah From: Ahmad Ifham
- 10a.
- (Catatan Kecil) Kabar Jagoan Kecilku! From: Elisa Koraag
- 10b.
- Re: (Catatan Kecil) Kabar Jagoan Kecilku! >>bunda Icha From: APRILLIA
- 10c.
- Re: (Catatan Kecil) Kabar Jagoan Kecilku! From: Novi Khansa
- 10d.
- Re: (Catatan Kecil) Kabar Jagoan Kecilku! From: Lia Octavia
Messages
- 1a.
-
Re: [Kelana] Arisan Seru => Mbak Indah IP
Posted by: "APRILLIA" april_reto@yahoo.com april_reto
Mon Nov 9, 2009 8:41 pm (PST)
Penyambutan? hmmm, menarik-menarik ayoooo
Kumpul-kumpul dimana gtu, setelah mbak Indah datang ke Sby call kita-kita mbak
salam,
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Siwi LH <siuhik@...> wrote:com
>
> Selamat datang mbak di Surabaya, semoga betah... cepet aja mbak gabung ma kita bulan Desember, tapi ati2 ya mbak karena warna aslinya tak seindah tulisannya, huahaha...
>
> Perlu penyambutan ta mbak? Dulu waktu P Suhadi dateng ada penyambutan khusus lo? Gimana teman2?
>
> Salam Hebat Penuh Berkah
> Siwi LH
> cahayabintang. wordpress.com
> siu-elha. blogspot.com
> YM : siuhik
>
>
>
>
> _____________________ _________ __
> From: indah ip <indahip@...>
> To: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
> Sent: Mon, November 9, 2009 7:11:32 PM
> Subject: Re: [sekolah-kehidupan] [Kelana] Arisan Seru
>
>
> asiik,..semoga desember nanti udah dapat rumah di surabaya!
>
> halo teman2 di surabaya, kami warga baru euy,..baru 3 mingguan, dan masih bolal-balik jakarta-sby, masih nyari2 sekolah TK anak2 (meski kelihatannya udah ada yang lumayan cocok) dan rumah kontrakan juga(nah yang ini belum kelihatan yang cocok) ,.. ya masih berkelana ke sana-ke mari nyari info-lah intinya..
> semoga ada kesempatan juga nanti mengenal sahabt2 SK di jawa timur yaa
>
> salam,
> indah ip
>
> www.kiraziya. blogspot. com
> www.asifortwins. multiply. com
> www.indahip. blogspot. com
> www.jejakindah. blogspot. com
>
>
>
> 2009/11/9 Sugeanti Madyoningrum <ugikmadyo@gmail. com>
>
> Arisan Seru
> >
> >
> >> Ssttt⦠SK jatim punya acara sebulan sekali loh.
>
> Yang mungkin
> >>
> >desember ada rencana ke jatim kabar-kabar ya, siapa tahu bisa ikut
> >>arisan seru kita ;)
> >
>
- 2a.
-
Re: Spirit Ngeblog
Posted by: "APRILLIA" april_reto@yahoo.com april_reto
Mon Nov 9, 2009 9:24 pm (PST)
Setuju! Ayo ngeblog sampai mati :D
Kalau tulisan itu berguna buat orang lain, alhamdulillah, iku senang :)
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , ukhti hazimah <ukhtihazimah@com ...> wrote:
>
> tulisannya memancing...udah lama nih gak nulis, bahkan ngreview...dan emang bener, nulis kalo gak diasah lama-lama jadi tumpul...kayak sekarang neh, jadi bingung aja kalo mau ngreview buku
- 3.
-
[KELANA LEBARAN] Nostalgia in Lebaran
Posted by: "zahrotun nisa" resyekgirl2005@yahoo.com resyekgirl2005
Mon Nov 9, 2009 9:26 pm (PST)
Attachment(s) from zahrotun nisa
1 of 1 File(s)
- 4a.
-
Re: [catcil] Hiatus dan Rasa Bersalah
Posted by: "febty f" inga_fety@yahoo.com inga_fety
Mon Nov 9, 2009 9:34 pm (PST)
terjawab juga kenapa akhir-akhir ini jarang baca postingan mas dani.
semanagt lagi yuk..
kadang juga sering merasa seperti mas dani.
salam untuk mbak endah dan nibras.
salam,
fety
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Kang Dani <fil_ardy@..com .> wrote:
>
> Hiatus dan Rasa Bersalah
> ~Dani Ardiansyah~
>
>
> Belakangan ini, kegiatan menulis yang saya lakukan sangat terbatas. Bahkan hampir hilang sama-sekali dalam rutinitas keseharian yang saya lakukan. Bukan tanpa sebab memang, karena kondisi yang ada dan terjadi akhir-akhir ini, mendorong saya untuk lebih fokus dan menucurahkan perhatian pada hal lain yang --dalam benak saya-- dapat mendatangkan profit yang lebih real dalam kehidupan nyata sebagai seorang kepala keluarga. Kebutuhan hidup yang terus mendesak, duedate Endah yang sudah tidak lama lagi, persiapan operasi cesar, pasca operasi dan lain-lain adalah sebagian besar --yang saya jadikan alasan-- penyebab saya tidak lagi produktif menulis. Dengan kata lain, hal-hal itu membuat saya lebih berfikir materialistis. Bahwa setiap hal yang saya lakukan harus menghasilkan profit demi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut.
>
>
> Maka mulailah saya meninggalkan hal-hal yang saya anggap kontraproduktif (dalam keadaan seperti ini, saya mengartikan kontraproduktif adalah semua kegiatan yang tidak menghasilkan uang) termasuk menulis. Pun jika saya tetap harus menulis, haruslah ada imbalan untuk tulisan-tulisan tersebut. Saya mulai fokus pada hal-hal yang saya prediksikan akan menghasilkan keuntungan dan bisa menambah pundi-pundi paman gober. Sofar so good. Saya tidak merasa ada yang salah dengan keputusan saya tersebut. Tentu saja tidak, di mana letak salahnya? Saya hanya mencoba menjadi seorang ayah yang baik, seorang suami yang bertanggung jawab, seorang kepala rumah tangga yang dapat memenuhi semua kebutuhan rumah tangga keluarganya. Dan salah satu caranya yaitu dengan cara memakai kacamata profit oriented.
>
>
> Dalam beberapa hal, pandangan itu cukup berhasil dan terbutkti mendatangkan keuntungan. Transaksi yang saya lakukan dengan beberapa orang menyisakan saldo --meski tak seberapa-- di rekening. Pun hanya sekedar lewat dan menggantikan angka-angka yang hilang prematur. (Uang yang habis sebelum waktunya).
>
>
> Berkutat dengan pandangan tersebut, ternyata membuat satu sisi kehidupan saya yang lainnya terbengkalai. Moment-moment yang menurut hati kecil saya layak diabadikan, terlewat tanpa dapat saya rekam dengan baik. Komunitas-komunitas maya yang eksistensinya tergambar lewat tulisan terlupakan begitu saja. Meski saya masih menyempatkan berinteraksi dengan membaca setiap tulisan-tulisan di dalamnya.
>
>
> Ketika setiap kali saya membaca tulisan-tulisan mereka, yang saya anggap semakin hari semakin matang dan semakin produktif, ada semacam perasaan iri dan rasa bersalah. Iri karena melihat mereka yang juga berkutat dengan waktu tetapi masih dapat selalu menyempatkan merekam hati dan perasaannya serta berbagi. Iri karena mendapati saya yang tercukupi kesempatan untuk dapat melakukan hal yang sama, justru malah bersembunyi di balik alasan-alasan yang sebenarnya tidak masuk akal untuk melegalisasi kefakuman saya selama ini.
>
>
> Merasa bersalah karena selama ini, saya menilai diri dari apa yang saya pikir bisa lakukan, padahal orang lain menilai saya dari apa yang sudah saya lakukan. Dan selama berhiatus ria, saya merasa tidak melakukan apa-apa. Pun saya tidak terlalu antusias mendapatkan penilaian-penilaian tersebut, tapi, bukankah hidup sebagian kecilnya adalah branding?
>
>
> Entah sejak kapan saya harus merasa bersalah, ketika mengabaikan sesutau yang saya anggap penting dan tidak menuangkannya pada tulisan. Yang pasti, setiap kali saya membaca tulisan-tulisan Sahabat saya yang menceritakan keseharian, berbagi hikmah, atau apapun itu, saya semakin merasa tidak berlaku adil pada satu sisi hidup saya yang lain. Saya merasa sudah menyia-nyiakan kesempatan berbagi hikmah pada orang-orang yang saya anggap layak menerimanya. Perasaan berdosa itu semakin besar, ketika saya mereview kembali target-target saya agar di tahun-tahun mendatang saya sudah melahirkan buku setiap kali tahun berganti. Target yang sebetulnya sudah saya kubur dalam-dalam ketika ritme hidup saya lebih rumit daripada biasanya.
>
>
> Terlebih, dengan berada dalam mode hiatus menjadikan saya seorang manusia yang banyak menanggung hutang. Hutang kepada beberapa sahabat yang meminta saya mengomentari cerpen-cerpennya, esainya, puisi dan banyak lagi, yang ketika mereka mengajukan tulisan-tulisan itu, saya menyanggupi dengan ringan. Tapi mode hiatus benar-benar membuat saya lalai melunasi hutang-hutang tersebut. Semoga mereka punya segudang stok pemakluman.
>
>
> Semakin lama, perasaan bersalah itu mendorong saya untuk segera menakhiri puasa ini. Puasa dari kegiatan tulis menulis, berkomunitas, berinteraksi di milist dan lain-lain. Ya, saya memutuskan untuk menjaalani saja kerumitan hidup ini seperti biasa. Tanpa meninggalkan teraphy jiwa yang sudah sejak lama saya lakukan. Menulis. Tho dengan tetap menulis, setidaknya saya bisa banyak bercerita tentang bagaimana bangganya saya menjadi seorang Ayah. Satu sisi kecil yang membuat saya selalu tampak sumeringah, pun beban semakin menghimpit.
>
> Jakarta, 09 November 2009,
>
> Dani Ardiansyah
>
> http://www.JasaPenerbitan.com
> http://www.CatatanKecil.multiply. com
> http://www.Bloggaul.com/catatankeci l
> http://www.KangDani.wordpress. com
> http://www.facebook.com/catatankeci l
> http://www.CatatanKecil.blogdetik. com
>
- 4b.
-
Re: [catcil] Hiatus dan Rasa Bersalah
Posted by: "Novi Khansa" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Mon Nov 9, 2009 10:52 pm (PST)
kang Daniiii
tulisan ini aja udah jadi hikmah...
baca tulisan ini aja udah enak, ngalir, dan khasnya kang dani abis :D
hehehe, samaaa, pernah ngalemin hal kayak gitu. Mau gimana lagi, tuntutan hidup selalu menanti, belum lagi banyak hal, tapi... emang betul nulis jadi terapi. Nulis bisa jadi obat, sarana berbagi, rihlah sesaat dari kepenatan yang hadir dan banyak lagi...
Nangis dan ketawa saat menulis, atau sedikit senyuman saat menulis benar-benar menggambarkan kalau apa yang ditulis benar-benar dari hati...
Ditunggu ya share-nya, kang dani
salam buat Mbak Endah, Niblas dan calon dedenya... :)
Moga sehat selalu
UDah lama uy, ga main ke sana...
salam
Novi
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Kang Dani <fil_ardy@..com .> wrote:
>
> Hiatus dan Rasa Bersalah
> ~Dani Ardiansyah~
>
>
> Belakangan ini, kegiatan menulis yang saya lakukan sangat terbatas. Bahkan hampir hilang sama-sekali dalam rutinitas keseharian yang saya lakukan. Bukan tanpa sebab memang, karena kondisi yang ada dan terjadi akhir-akhir ini, mendorong saya untuk lebih fokus dan menucurahkan perhatian pada hal lain yang --dalam benak saya-- dapat mendatangkan profit yang lebih real dalam kehidupan nyata sebagai seorang kepala keluarga. Kebutuhan hidup yang terus mendesak, duedate Endah yang sudah tidak lama lagi, persiapan operasi cesar, pasca operasi dan lain-lain adalah sebagian besar --yang saya jadikan alasan-- penyebab saya tidak lagi produktif menulis. Dengan kata lain, hal-hal itu membuat saya lebih berfikir materialistis. Bahwa setiap hal yang saya lakukan harus menghasilkan profit demi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut.
>
>
> Maka mulailah saya meninggalkan hal-hal yang saya anggap kontraproduktif (dalam keadaan seperti ini, saya mengartikan kontraproduktif adalah semua kegiatan yang tidak menghasilkan uang) termasuk menulis. Pun jika saya tetap harus menulis, haruslah ada imbalan untuk tulisan-tulisan tersebut. Saya mulai fokus pada hal-hal yang saya prediksikan akan menghasilkan keuntungan dan bisa menambah pundi-pundi paman gober. Sofar so good. Saya tidak merasa ada yang salah dengan keputusan saya tersebut. Tentu saja tidak, di mana letak salahnya? Saya hanya mencoba menjadi seorang ayah yang baik, seorang suami yang bertanggung jawab, seorang kepala rumah tangga yang dapat memenuhi semua kebutuhan rumah tangga keluarganya. Dan salah satu caranya yaitu dengan cara memakai kacamata profit oriented.
>
>
> Dalam beberapa hal, pandangan itu cukup berhasil dan terbutkti mendatangkan keuntungan. Transaksi yang saya lakukan dengan beberapa orang menyisakan saldo --meski tak seberapa-- di rekening. Pun hanya sekedar lewat dan menggantikan angka-angka yang hilang prematur. (Uang yang habis sebelum waktunya).
>
>
> Berkutat dengan pandangan tersebut, ternyata membuat satu sisi kehidupan saya yang lainnya terbengkalai. Moment-moment yang menurut hati kecil saya layak diabadikan, terlewat tanpa dapat saya rekam dengan baik. Komunitas-komunitas maya yang eksistensinya tergambar lewat tulisan terlupakan begitu saja. Meski saya masih menyempatkan berinteraksi dengan membaca setiap tulisan-tulisan di dalamnya.
>
>
> Ketika setiap kali saya membaca tulisan-tulisan mereka, yang saya anggap semakin hari semakin matang dan semakin produktif, ada semacam perasaan iri dan rasa bersalah. Iri karena melihat mereka yang juga berkutat dengan waktu tetapi masih dapat selalu menyempatkan merekam hati dan perasaannya serta berbagi. Iri karena mendapati saya yang tercukupi kesempatan untuk dapat melakukan hal yang sama, justru malah bersembunyi di balik alasan-alasan yang sebenarnya tidak masuk akal untuk melegalisasi kefakuman saya selama ini.
>
>
> Merasa bersalah karena selama ini, saya menilai diri dari apa yang saya pikir bisa lakukan, padahal orang lain menilai saya dari apa yang sudah saya lakukan. Dan selama berhiatus ria, saya merasa tidak melakukan apa-apa. Pun saya tidak terlalu antusias mendapatkan penilaian-penilaian tersebut, tapi, bukankah hidup sebagian kecilnya adalah branding?
>
>
> Entah sejak kapan saya harus merasa bersalah, ketika mengabaikan sesutau yang saya anggap penting dan tidak menuangkannya pada tulisan. Yang pasti, setiap kali saya membaca tulisan-tulisan Sahabat saya yang menceritakan keseharian, berbagi hikmah, atau apapun itu, saya semakin merasa tidak berlaku adil pada satu sisi hidup saya yang lain. Saya merasa sudah menyia-nyiakan kesempatan berbagi hikmah pada orang-orang yang saya anggap layak menerimanya. Perasaan berdosa itu semakin besar, ketika saya mereview kembali target-target saya agar di tahun-tahun mendatang saya sudah melahirkan buku setiap kali tahun berganti. Target yang sebetulnya sudah saya kubur dalam-dalam ketika ritme hidup saya lebih rumit daripada biasanya.
>
>
> Terlebih, dengan berada dalam mode hiatus menjadikan saya seorang manusia yang banyak menanggung hutang. Hutang kepada beberapa sahabat yang meminta saya mengomentari cerpen-cerpennya, esainya, puisi dan banyak lagi, yang ketika mereka mengajukan tulisan-tulisan itu, saya menyanggupi dengan ringan. Tapi mode hiatus benar-benar membuat saya lalai melunasi hutang-hutang tersebut. Semoga mereka punya segudang stok pemakluman.
>
>
> Semakin lama, perasaan bersalah itu mendorong saya untuk segera menakhiri puasa ini. Puasa dari kegiatan tulis menulis, berkomunitas, berinteraksi di milist dan lain-lain. Ya, saya memutuskan untuk menjaalani saja kerumitan hidup ini seperti biasa. Tanpa meninggalkan teraphy jiwa yang sudah sejak lama saya lakukan. Menulis. Tho dengan tetap menulis, setidaknya saya bisa banyak bercerita tentang bagaimana bangganya saya menjadi seorang Ayah. Satu sisi kecil yang membuat saya selalu tampak sumeringah, pun beban semakin menghimpit.
>
> Jakarta, 09 November 2009,
>
> Dani Ardiansyah
>
> http://www.JasaPenerbitan.com
> http://www.CatatanKecil.multiply. com
> http://www.Bloggaul.com/catatankeci l
> http://www.KangDani.wordpress. com
> http://www.facebook.com/catatankeci l
> http://www.CatatanKecil.blogdetik. com
>
- 5a.
-
Re: [Kelana] Arisan Seru
Posted by: "febty f" inga_fety@yahoo.com inga_fety
Mon Nov 9, 2009 9:41 pm (PST)
Wuahhh seru..seru...
salam,
fety
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Sugeanti Madyoningrum <ugikmadyo@.com ..> wrote:
>
> Arisan Seru
>
>
> Ssttt SK jatim punya acara sebulan sekali loh. Ada kumpul-kumpul,
> ada jalan-jalan dan yang pasti makan-makan. Kayaknya seneng-seneng
> saja ya? Tapi tidak. Setiap akhir pertemuan kita selalu membawa
> pulang `sesuatu' yang insyaAllah lebih baik dari sebelumnya. Dan yang
> pasti jalinan silaturahim kita jadi semakin kuat. Kenapa sih ada
> arisan segala? Seperti Mak-Mak saja. Awalnya arisan ini dilakukan
> tanpa sengaja. Berawal dari acara buka puasa bersama di rumah Pak
> Suhadi pada bulan Agustus. Setelah ngobrol panjang lebar. Baru
> ketahuan kalau sebenarnya anggota SK Jatim itu banyak. Hanya saja
> mayoritas pasif di milist. Sebenarnya mereka sering `main' ke milist,
> tapi hanya sekedar membaca saja.
> Mbak Siwi melontarkan ide bikin arisan, sehingga setiap sebulan
> sekali kita bisa bertemu secara rutin. Meski kita tidak bisa bertemu
> di dunia maya, paling tidak kita bisa bertemu di dunia nyata. Untuk
> lebih mengenal sosok satu dengan yang lain. Kita sepakati uang arisan
> sebesar sepuluh ribu sebagai biaya konsumsi, agar tidak memberatkan
> tuan rumah. Bagi yang menerima arisan maka dialah yang akan menjadi
> tuan rumah bulan depan. Sampai dengan bulan ini sudah arisan ke 3
> kalinya. Setiap kali arisan saya selalu mempunyai kisah yang seru.
> Arisan kedua dirumah Mbak Wiwik di Krian. Saya berboncengan
> dengan April, mengikuti Mbak Siwi yang memacu kencang motornya.
> Meskipun harus berusaha keras melawan angin kencang, tapi perjalanan
> terasa menyenangkan. Mata ini terhibur oleh hamparan sawah dan sosok
> gunung yang menjulang dikejauhan. Apalagi ketika sampai di rumah Mbak
> Wiwik. Rumahnya teduh dengan berbagai pohon di halaman depan dan
> belakang rumah yang luas. Sayang sekali waktu itu belum musim mangga,
> sayapun hanya bisa menahan liur menatap mangga-mangga kecil yang
> bergantungan. Kalaupun sudah musim mangga, mungkin kita memilih arisan
> dibawah pohon mangga sambil membawa pisau tiap orang. Wadyuh kasihan
> Mbak wiwik nanti nggak kebagian mangga hehe.
> Sewaktu pulang sempat terjadi salah komunikasi antara saya dan Mbak
> Siwi. Ketika mau pulang mbak Siwi sudah berpesan
> "Nanti mampir POM dulu ya. Bensinku mepet."
> "Ok Mbak." Sayapun memilih untuk `berjalan` dibelakang Mbak Siwi.
> Tengah asyik melaju kencang, tiba-tiba Mbak Siwi berhenti.
> Saya pikir Mbak Siwi terima telfon atau membetulkan tas. Saya yang
> terlanjur kencang tidak mungkin rem mendadak. Akhirnya saya salip
> sambil mengurangi kecepatan pelan-pelan. Merasa Mbak Siwi lama tidak
> menyusul, kami putuskan berhenti. Kami tunggu 5 menit tidak muncul
> juga. Kami mulai was-was. April menghubungi mbak Siwi nada sibuk yang
> membalas. Jangan-jangan ada masalah dengan motornya. Kami putuskan
> putar balik. Tiba-tiba terlihat motor Mbak Siwi melaju kencang.
> Berhubung jalan ramai saya tidak bisa langsung putar balik. Saya
> tanjap gas maksimal mengejar setelah berada dijalur yang sama. Sayang
> mbak Siwi sudah tidak kelihatan. Kita memutuskan untuk melambat di
> setiap SPBU tapi hasilnya nihil. Sayapun melaju lebih kencang untuk
> menyusul. Berhubung angin kencang dan kami hampir jatuh `dipukul'
> angin. Sayapun memutuskan untuk mengurangi kecepatan dan berdoa
> sepanjang jalan semoga Mbak Siwi baik-baik saja. Baru ketika sampai
> Surabaya saya SMS Mbak Siwi. Ternyata beliau berhenti mendadak untuk
> beli bensin eceran di pinggir jalan karena kuatir tidak akan cukup
> sampai SPBU terdekat. Mbak Siwi mengira sudah saya tinggal maka beliau
> memacu kencang motornya. Kami cuma bisa ketawa saja dengan
> kesalahapamanan ini.
> Pada waktu masuk surabaya saya dan april mengalami insiden
> konyol. Kami memilih memutar lewat jl Akhmad Yani. Siapa tahu masih
> bisa bertemu Mbak Siwi. Berhubung bensin mepet, saya mengisi bensin
> disalah satu ruasnya. Ketika akan masuk antrian, April tidak bisa
> turun dari motor, kakinya kesemutan. Setelah berusaha untuk kedua kali
> akhirnya April bisa turun. Saya tak bisa menahan ketawa melihat April
> terhuyung-huyung, begitu juga dengan april. Setelah puas ketawa
> berdua. Giliran saya bermasalah. Saya kesulitan turun dan melepas
> sarung tangan karena paha dan telapak tangan kesemutan. Wadyuh kualat
> nih. Bukannya berusaha mengatasi masalah kita berdua malah ketawa-tawa
> sendiri. Setalah isi bensin kita putuskan untuk istirahat sejenak.
> Nongkrong di SPBU sambil ngobrol dan ngikik-ngikik mengenang kedodolan
> kita barusan. Hiya mengenang :">.
> Ternyata arisan bulan ini juga seru. Kebetulan yang dapet
> arisan Mbak Lilik. Sesuai kesepakatan awal. Kalau yang dapat masih
> ngekos, arisan dilakukan di tempat wisata atau area publik. Mbak Lilik
> menawarkan untuk arisan di Kebun Raya Purwodadi, yang berdekatan
> dengan tempat kosnya. Langsung kita semua sepakat bulat. Setujuh
> *pake `h' biar mantap :D*. hari baik sudah dipilih. 8 November kita
> akan berkumpul lagi. Malam sebelum hari H. Saya, April dan Mbak Anik
> janjian berangkat bareng naik bis. Setelah sholat subuh saya
> memutuskan untuk tidur sejenak setelah begadang sampai dinihari. Jam 7
> saya baru bangun lagi, padahal kita bertiga janjian jam 8 di Terminal
> Bungurasih. Bagus. Padahal perjalanan dari rumah ke Bungurasih sekitar
> 1 jam. Saya langsung kirim SMS ke April kalau datang terlambat. Dalam
> perjalanan ke tempat pangkalan bemo (angkot) Fauzi telfon kalau sudah
> sampai lokasi. Langsung terbayang wajah capek Fauzi, yang habis memacu
> motor kesayangannya Surabaya - Purwodadi. Hadooh. Saya memutuskan naik
> taxi saja biar lebih cepat bisa lewat tol, 20 menit saja sampai
> Bungurasih. Begitu Mbak Anik mengusulkan naik bis patas. Saya langsung
> setuju. Fauzi tunggu kita ya Rencana saya mau melanjutkan tidur di
> bis, lumayan 1,5 jam. Kamipun memilih tempat duduk paling belakang.
> Sampai Porong saya terbangun karena Pak Sopir mengerem mendadak
> berkali-kali. Ternyata kami terjebak macet dan kantuk saya hilang
> sudah. Saya memilih mengamati tanggul Porong sambil membalas SMS
> Rahma yang juga sudah tiba di lokasi.
> Ketika sampai di Kebun Raya Purwodadi suasana sudah ramai.
> Kebetulan ada acara gathering indofood dan rombongan Bromo Tour yang
> baru datang. Di gerbang kami bertemu Mas Dayat dan Budi. Keduanya
> memilih langsung masuk sementara kami bertiga tetap di tempat. Kami ke
> kamar mandi dulu sekalian makan bakso, mbak Anik dan April sudah
> kelaparan karena belum sarapan. Mohon maaf yang nunggu kita, daripada
> nanti mereka berdua pingsan dan saya harus gendong mereka berdua. Gak
> mungkin kan? Hehe. Begitu masuk ke Kebun Raya kita bertiga berdiri
> lama dipinggir pertigaan. Pesan dari Rahma, "kalau ada pertigaan
> pertama langsung belok kanan aja". Baru beberapa langkah dari pos
> karcis, kami sudah sampai dipertigaan. Di rerumputan sebelah kanan
> memang ada banyak rombongan yang lesehan diatas tikar. Tapi kok tidak
> ada penampakan yang kita kenal. Daripada balik jalan, saya memilih
> untuk diam ditempat :D. Saya telfon lagi Rahma untuk memastikan
> lokasinya. Tiba-tiba ada makhluk biru berdiri dikejauhan. Saya telfon
> Rahma kembali untuk memastikan apakah makhluk biru itu dia, eh tenyata
> benar. Horey horey kita selamat. Halah. Lebay.
> Lega rasanya ketika kita naik ke hamparan rumput disambut
> Jundi dan Rafa *duh.. hiperbola nih*. Mereka sudah duduk santai
> ditambah dengan Pak Suhadi sekeluarga, Candra dan Lilik. Wah ternyata
> kita datang paling akhir. Malunya hiks. Berhubung sudah masuk Dhuhur
> kami memutuskan untuk sholat dahulu. Nah ini dilemma buat kita.
> Mushola terletak nun jauh didekat kamar mandi. Ini berarti harus
> berjalan lagi ke dekat pintu masuk. Kebetulan saya dan Mbak Anik
> bertugas menjaga tempat, lumayan bisa menselonjorkan kaki. Sementara
> semua berjalan beriringan ke mushola, Budi, dayat dan Fauzi memilih
> sholat di tempat. Budi dan Dayat kecapekkan karena sebelumnya bolak
> balik 2 kali (pulang dan pergi maksudnya :P) kearah kamar mandi.
> Kebetulan didekat kami ada pancuran. Budi dan dayat menyiapkan tempat
> untuk sholat berjamaah. Sementara Fauzi ambil wudhu, lama tidak
> kembali. Aku sempat deg-degan. Kemana nih anak? Tersesatkah? Tidak
> berselang lama Fauzi telfon. Dia menemukan mushola yang lain,
> lokasinya lebih dekat. Budi sudah tidak kuat jalan. Maka Dayat
> menemani Budi berjamaah ditempat. Semenatara saya dan Mbak anik
> ngobrol seru forum ibu-ibu. Masih terbayang wajah Budi yang bengong
> mendengarkan percakapan kita, seusai dia sholat. Maafkan kami ya Nak
> hihihi.
> Acara segera dimulai setelah semua berkumpul. Pembahasan
> serius tapi santai tentang SK Jatim, juga rencana-rencana kita
> kedepan. Sembari diskusi kita melahap makan siang dari Mbak Lilik.
> Celetukan segar Budi sepanjang pertemuan membuat saya berjuang ekstra
> menahan hasrat ke kamar kecil. Jaraknya yang jauh membuat saya segan
> kesana. Saya pikir, nantilah sekalian saja dengan pulang. Kan searah
> jalannya hehe. Kalau Bandung punya Pak Hadian, Surabaya ada Budi yang
> sukses membuat pipi pegal ngikik maraton. Saya curiga mereka berdua
> ini kembar yang sengaja dipisahkan. Piss Pak Had :D. Kebetulan juga
> kita mendapat lokasi yang strategis. Beberapa pasangan memilih
> `ngetem' didekat kita. Pada awalnya saya tidak menyadari hal ini,
> sampai Mbak Anik mencolek saya.
> "Mereka tuh ngapain ya tiduran di rumput. Gak gatel ta?" Saya
> mengikuti arah pandangan Mbak Anik kearah dua sejoli disebelah kanan
> kita. Sayapun hanya bisa ngikik. Fauzi kemudian nimbrung kalau
> gara-para pasangan itu, dia harus berpindah tempat. Yah mau gimana
> lagi. namanya juga tempat umum mana bisa kita mengontrol yang berada
> didekat kita. Yang saya kuatirkan hanya Rafa dan Jundi, sedari datang
> mereka bermain dan berlarian bebas. Semoga saja mereka tidak melihat
> pemandangan-pemandangan ajaib.
> Bagaimanapun, acara arisan ketiga ini tetap saja seru. Bukan
> arisan biasa. Tak salah kalau saya ingin menyebutnya arisan seru hehe.
> Selalu meninggalkan banyak kesan yang tak terlupakan. Dan yang paling
> berkesan cerita Candra di FB, sewaktu pulang dia menyempatkan untuk
> naik kereta kelinci bareng Rahma dan Lilik. Huaa aku lupa. Waktu awal
> datang dah niat pengen naik kereta kelinci. Ya sudah lah. Lain waktu
> semoga bisa naik kereta kelinci hehe. Eh bulan desember arisan kita
> di Malang, Budi yang dapet arisan. Hmm Budi kan ngekos. Wah kemana
> kita nanti ya? Berhubung Budi belum menentukan hari baik dan lokasi
> arisan. Jadi penasaran nih. Budi aku menunggu kejutanmu. Yang mungkin
> desember ada rencana ke jatim kabar-kabar ya, siapa tahu bisa ikut
> arisan seru kita ;)
>
>
> Sugeanti Madyoningrum (Ugik)
> YM : sinkzuee
> http://ugik.multiply. com
> Ketika kata tak bisa terucap, maka tinta yang akan menorehkannya
>
- 6a.
-
(humor) HOT SPOT KAMPUS SEBELAS
Posted by: "fiyan arjun" fiyanarjun@gmail.com
Mon Nov 9, 2009 10:39 pm (PST)
*Hot Spot Kampus Sebelah*
Bicara hot spot atau WI-FI gratis sekarang ini tidak lepas dari diri gue.
Karena kenapa? Hot spot atau WI-FI gratis bagi gue sekarang ini adalah suatu
berkah yang susah di dapat pada zaman sekarang yang serba apa-apa bayar.
Cuman kentut aja yang nggak dikenai pajak. Alias, nggak bayar!
Bukan itu aja berkah dari hot spot dan WI-FI gratisan yang gue dapat selain
itu gue bisa browsing gratisan cari-cari bahan untuk ujian kuliah yang perlu
persiapan. Karena dalam waktu dekat ini gue mau kuis dan UTS. Nah, ini nih
yang buat gue agak shocked padahal gue baru tiga minggu kuliah dan baru
masuk kembali ke kampus tahu-tahunya langsung kuis dan disusul sama UTS. Oh
my God ini yang salah gue apa kampusnya ya? Belum apa-apa sudah kuis sama
UTS aja dan belum tentu mata kuliah yang disampain dosen gue pada paham
semua apalagi nyangkut di otak gue. Nasib-nasib beginilah jadi mahasiswa
yang usianya sudah kadal..kadaluarsa.Ha-ha-ha.
Tapi perlu diingat nih perjuangan gue dapat hot spot secara gratis juga
penuh perjuangan. Tapi sayangnya yang namanya gratisan tak selamanya melulu
memuaskan. Tak seperti punya sendiri. Mau pake tinggal cari tempat. Atau,
tinggal buka notebook. Mau di taman kampus silakan, di cafe ayo terus dimana
lagi ya? Di WC (Water Closet)? Yee jadi mahasiswa juga nggak lemot-lemot
amat kali kayak begitu. Apalagi bagi yang memiliki fasilitas di notebooknya
punya modem berjalan tentu fun-fun aja. Beda bagi yang nggak punya semacam
kayak gue. Gue harus menerima ujian dan cobaan berat dulu. Apalagi harus
minta izin lebih dulu untuk bisa mengaksesnya biar semua proses berjalan
lancar. Deu...beginilah lagi-lagi nasib orang yang mengejar hot spot dan
WI-FI gratisan nasibnya tiada akhir...
Dan hal ini pun gue alami juga saat gue pulang kuliah malam hari. Maklum gue
kuliah malam. Atau, jargon yang gue sering bilang mahasiswa ampasyang
kuliahnya hanya bisanya malam aja. Atau, yang mau kuliah lagi tapi ngambil
waktu kuliahnya malam hari walaupun semua mata kuliah di sampaikan sama
dosen nggak ada yang nyangkut. Karena saking penat dan menguap melulu di
dalam kelas. Nggak gue ya kawan sebangku gue. Begitulah seterusnya
bergantian. Terkadang ada juga yang dari tempat kerjaan langsung ke kampus
dan sampai di kampus bukannya tepat waktu malah terlambat datang lagi.
Hmm...beginilah nasib mahasiswa ampas. Tiada akhir deritanya....(Kayak
slogannya Pangeran Babi si Pangeran Cinta Pat Kay kalo udah keluar
sentimentilnya).
"Pak, hot spotnya bisa diakses nggak di sini," tanya gue sama satpam kampus
pas sampai di muka gerbang kampus dengan ramah. Begini ini nih tampang gue
kalo ada maunya pasang muka seramah mungkin. Nggak mau menahu kalo satpamnya
bete saat itu. Bagi gue itu bukan urusan gue. Urusan gue hanya mau main hot
spot gratisan. Itu aja. Karena gue pernah berikrar dalam diri gue biar
bagaimana pun gue nggak boleh ikut urusan privacy orang lain walau pun itu
kawan sendiri. Begitu juga sama satpam kampus tadi.
"Coba aja Mas! Tapi kayaknya bisa sih."
Bagai dapat angin dari surga gue melayang-layang ketika gue dapat jawaban
seperti itu dari satpam kampus. Hot spot gratisan yang gue incar ternyata
ada di kampus yang saat itu gue datangi.
"Terima kasih, ya, Pak!" seru gue dengan semangat dan langsung ambil PW
(Posisi Wuenak) untuk segera main hot spot secara membabi buta. Alias,
sepuas mungkin. Mumpung gretongan...He-he-he.
Tiga jam sudah gue main hot spot grtisan di kampus itu. Tanpa nggak sadar
tiga jam gue main hot spot ternyata gue di tungguin sama satpam kampus.
Memang sih pas gue main di kampus jam digital di hape gue sudah menujukan
pukul setengah sepuluh malam. Itu kampus gerbangnya mau di tutup dan juga
mahasiswa yang masuk kelas malam di kampus itu juga udah pada pulang semua.
Nah hanya gue aja yang belum, masih asyik cekakak-cekikik sama kawan gue di
facebook. Dan dengan pedenya gue tanpa sadar bahwa kampus saat itu ternyata
sudah sepi.
"Mas, mainnya jam berapa?" tegur satpam kampus menyakan berapa lama gue main
hot spot. (Suer dalam kondisi seperti itu gue lupa waktu, ruang dan tempat
apalagi ada gempa...He-he-he)
Gue yang di tegur kayak begitu jadi nggak konsen ketika teguran itu melimpah
ke gue. Niatnya mau berselancar ke dunia lain. Ke dunia Maya (Estianti). Atau,
Luna Maya. Eh, ini malah akhirnya berselancar ke dunia nyata. Dunia gue kena
tegur satpam kampus.
"Sebentar lagi, Pak!" tukas gue singkat. Mood gue jadi ilang.
"Ya, udah terusin aja, Mas."
Gue yang dapat jawaban kayak begitu jadi malas nerusin berhot spot ria lagi
karena gue sudah nggak konsen dan ilfil. Dan itu semua gara-gara satpam
kampus nggak senang ngeliat orang bahagia sejenak barang sedikit pun ini
malah secara halus ngusir gue.
Tidak berapa lama gue pun beberes. Gue tutup notebook gue walau
ada kawan gue yang masih doyan nyela gue waktu gue ceritain di via FB. Bahwa
gue habis di tegur sama satpam kampus gara-gara main hot spot gratis karena
udah terlalu malam.
Sori bro gw bhenti dl. Krn gw diusir sm satpam kmpus krn gw main hot spotny
udah tll mlm.
Apa jawaban kawan gue lagi di FB-nya.
Muka lo sih emang pntas yg gretongan...he-he-he.
Kawan bahagia diatas penderitaan gue.
Gue yang dicela abis sama kawan gue nggak abis akal untuk
ngejawab pesan dari kawan gue itu.
Bkn muka gw yg pntas gretongan, bro! Tp gw aja yg gak tau dr bkn
mhsiswa kmpus di tmpt itu gw main hot spot pede BGT. Gw pake hot spot kmpus
seblah dekat kmpus gw bro. Dan ini gw mlah dgn seenak udel gw main dan gak
ngliat waktu lg. Udah mlm msh main hotspot.
Mau tahu apa balas kawan gue lagi di FB-nya?
Wkwkwkwkwkwk....
Puas ngetawain gue lagi tanpa perasaan.()
*Ulujami-Pesanggrahan,
7 November 2009*
- 6b.
-
Re: (humor) HOT SPOT KAMPUS SEBELAS
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Mon Nov 9, 2009 10:52 pm (PST)
yah kalau mas fiyan ke kantorku juga udah bisa internetan pake laptop karena
di sini juga udah dipasangin wi-fi hehehe... ^^*
met belajar ya...
salam
lia
2009/11/10 fiyan arjun <fiyanarjun@gmail.com >
>
>
> *Hot Spot Kampus Sebelah*
>
>
>
> Bicara hot spot atau WI-FI gratis sekarang ini tidak lepas dari diri gue.
> Karena kenapa? Hot spot atau WI-FI gratis bagi gue sekarang ini adalah suatu
> berkah yang susah di dapat pada zaman sekarang yang serba apa-apa bayar.
> Cuman kentut aja yang nggak dikenai pajak. Alias, nggak bayar!
>
>
>
>
> Bukan itu aja berkah dari hot spot dan WI-FI gratisan yang gue dapat selain
> itu gue bisa browsing gratisan cari-cari bahan untuk ujian kuliah yang perlu
> persiapan. Karena dalam waktu dekat ini gue mau kuis dan UTS. Nah, ini
> nih yang buat gue agak shocked padahal gue baru tiga minggu kuliah dan baru
> masuk kembali ke kampus tahu-tahunya langsung kuis dan disusul sama UTS. Oh
> my God ini yang salah gue apa kampusnya ya? Belum apa-apa sudah kuis sama
> UTS aja dan belum tentu mata kuliah yang disampain dosen gue pada paham
> semua apalagi nyangkut di otak gue. Nasib-nasib beginilah jadi mahasiswa
> yang usianya sudah kadal..kadaluarsa.Ha-ha-ha.
>
>
>
>
> Tapi perlu diingat nih perjuangan gue dapat hot spot secara gratis juga
> penuh perjuangan. Tapi sayangnya yang namanya gratisan tak selamanya melulu
> memuaskan. Tak seperti punya sendiri. Mau pake tinggal cari tempat. Atau,
> tinggal buka notebook. Mau di taman kampus silakan, di cafe ayo terus dimana
> lagi ya? Di WC (Water Closet)? Yee jadi mahasiswa juga nggak lemot-lemot
> amat kali kayak begitu. Apalagi bagi yang memiliki fasilitas di notebooknya
> punya modem berjalan tentu fun-fun aja. Beda bagi yang nggak punya
> semacam kayak gue. Gue harus menerima ujian dan cobaan berat dulu. Apalagi
> harus minta izin lebih dulu untuk bisa mengaksesnya biar semua proses
> berjalan lancar. Deu...beginilah lagi-lagi nasib orang yang mengejar hot
> spot dan WI-FI gratisan nasibnya tiada akhir...
>
>
>
>
> Dan hal ini pun gue alami juga saat gue pulang kuliah malam hari. Maklum
> gue kuliah malam. Atau, jargon yang gue sering bilang mahasiswa ampasyang
> kuliahnya hanya bisanya malam aja. Atau, yang mau kuliah lagi tapi ngambil
> waktu kuliahnya malam hari walaupun semua mata kuliah di sampaikan sama
> dosen nggak ada yang nyangkut. Karena saking penat dan menguap melulu di
> dalam kelas. Nggak gue ya kawan sebangku gue. Begitulah seterusnya
> bergantian. Terkadang ada juga yang dari tempat kerjaan langsung ke kampus
> dan sampai di kampus bukannya tepat waktu malah terlambat datang lagi.
> Hmm...beginilah nasib mahasiswa ampas. Tiada akhir deritanya....(Kayak
> slogannya Pangeran Babi si Pangeran Cinta Pat Kay kalo udah keluar
> sentimentilnya).
>
>
>
> "Pak, hot spotnya bisa diakses nggak di sini," tanya gue sama satpam kampus
> pas sampai di muka gerbang kampus dengan ramah. Begini ini nih tampang gue
> kalo ada maunya pasang muka seramah mungkin. Nggak mau menahu kalo satpamnya
> bete saat itu. Bagi gue itu bukan urusan gue. Urusan gue hanya mau main
> hot spot gratisan. Itu aja. Karena gue pernah berikrar dalam diri gue biar
> bagaimana pun gue nggak boleh ikut urusan privacy orang lain walau pun itu
> kawan sendiri. Begitu juga sama satpam kampus tadi.
>
>
>
> "Coba aja Mas! Tapi kayaknya bisa sih."
>
>
>
> Bagai dapat angin dari surga gue melayang-layang ketika gue dapat jawaban
> seperti itu dari satpam kampus. Hot spot gratisan yang gue incar ternyata
> ada di kampus yang saat itu gue datangi.
>
>
>
> "Terima kasih, ya, Pak!" seru gue dengan semangat dan langsung ambil PW
> (Posisi Wuenak) untuk segera main hot spot secara membabi buta. Alias,
> sepuas mungkin. Mumpung gretongan...He-he-he.
>
>
>
> Tiga jam sudah gue main hot spot grtisan di kampus itu. Tanpa nggak sadar
> tiga jam gue main hot spot ternyata gue di tungguin sama satpam kampus.
> Memang sih pas gue main di kampus jam digital di hape gue sudah menujukan
> pukul setengah sepuluh malam. Itu kampus gerbangnya mau di tutup dan juga
> mahasiswa yang masuk kelas malam di kampus itu juga udah pada pulang semua.
> Nah hanya gue aja yang belum, masih asyik cekakak-cekikik sama kawan gue di
> facebook. Dan dengan pedenya gue tanpa sadar bahwa kampus saat itu ternyata
> sudah sepi.
>
>
>
> "Mas, mainnya jam berapa?" tegur satpam kampus menyakan berapa lama gue
> main hot spot. (Suer dalam kondisi seperti itu gue lupa waktu, ruang dan
> tempat apalagi ada gempa...He-he-he)
>
>
>
> Gue yang di tegur kayak begitu jadi nggak konsen ketika teguran itu
> melimpah ke gue. Niatnya mau berselancar ke dunia lain. Ke dunia Maya
> (Estianti). Atau, Luna Maya. Eh, ini malah akhirnya berselancar ke dunia
> nyata. Dunia gue kena tegur satpam kampus.
>
>
>
> "Sebentar lagi, Pak!" tukas gue singkat. Mood gue jadi ilang.
>
>
>
> "Ya, udah terusin aja, Mas."
>
>
>
> Gue yang dapat jawaban kayak begitu jadi malas nerusin berhot spot ria lagi
> karena gue sudah nggak konsen dan ilfil. Dan itu semua gara-gara satpam
> kampus nggak senang ngeliat orang bahagia sejenak barang sedikit pun ini
> malah secara halus ngusir gue.
>
>
>
> Tidak berapa lama gue pun beberes. Gue tutup notebook gue
> walau ada kawan gue yang masih doyan nyela gue waktu gue ceritain di via FB.
> Bahwa gue habis di tegur sama satpam kampus gara-gara main hot spot gratis
> karena udah terlalu malam.
>
>
>
> Sori bro gw bhenti dl. Krn gw diusir sm satpam kmpus krn gw main hot spotny
> udah tll mlm.
>
>
>
> Apa jawaban kawan gue lagi di FB-nya.
>
>
>
> Muka lo sih emang pntas yg gretongan...he-he-he.
>
>
>
> Kawan bahagia diatas penderitaan gue.
>
>
>
> Gue yang dicela abis sama kawan gue nggak abis akal untuk
> ngejawab pesan dari kawan gue itu.
>
>
>
> Bkn muka gw yg pntas gretongan, bro! Tp gw aja yg gak tau dr
> bkn mhsiswa kmpus di tmpt itu gw main hot spot pede BGT. Gw pake hot spot
> kmpus seblah dekat kmpus gw bro. Dan ini gw mlah dgn seenak udel gw main dan
> gak ngliat waktu lg. Udah mlm msh main hotspot.
>
>
>
> Mau tahu apa balas kawan gue lagi di FB-nya?
>
>
>
> Wkwkwkwkwkwk....
>
>
>
> Puas ngetawain gue lagi tanpa perasaan.()
>
>
>
> *Ulujami-Pesanggrahan,
> 7 November 2009*
>
>
>
- 6c.
-
Re: (humor) HOT SPOT KAMPUS SEBELAS >> mas Fiyan
Posted by: "APRILLIA" april_reto@yahoo.com april_reto
Mon Nov 9, 2009 11:50 pm (PST)
Lain kali kalo malam2 mo gretongan lagi, bawain satpamnya jajan mas :D
Or bilang ke bapaknya, "Saya temenin njaga pak."
hehehe
salam,
April
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , fiyan arjun <fiyanarjun@com ...> wrote:
>
> *Hot Spot Kampus Sebelah*
>
>
>
- 7.
-
(rampai) MAAF BILA AKU TAK SEPERTI YANG KAU HARAP
Posted by: "fiyan arjun" fiyanarjun@gmail.com
Mon Nov 9, 2009 10:39 pm (PST)
Maaf Bila Aku Tak Seperti yang Kau Harap
:OR
Maaf itu yang akan aku katakan kepada kau
Walau aku tahu kau pernah melukaiku
Sakit, itu yang aku rasakan
Pedih, itu yang aku terima
Kecewa, itu yang aku alami
Tapi aku tak ingin hal itu terus berlarut
Maaf itu yang aku ingin kuucapkan kepada kau
Maaf bila Aku tak seperti kau harap
Karna aku bukan malaikat
Tanpa nafsu dan ambisi
Hingga patuh kepada Tuhan-Nya
Karena aku hanyalah seorang musafir
Yang terus menjalani dunia dan kehidupannya
Maaf itu yang sekali lagi aku ucapkan kepada kau
Ya, aku tahu kau sakit
pedih
kecewa
Karna aku bukan seperti yang kau harap
Maaf kau ucapkan kepadaku
Maaf aku pun begitu
Aku tahu kau dan aku samasama merasakannya
Karna kita bukanlah manusia yang sempurna
Maaf aku aku tak bisa seperti yang kau harap
BSD, 09 November 2009
Diruang yang penuh kehidupan.
- 8a.
-
Re: [catcil] Motivasi dari Ketegaran Pohon
Posted by: "Novi Khansa" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Mon Nov 9, 2009 10:46 pm (PST)
TFS, pril
pas banget, deh :)
jadi penasaran pengen liat pohon itu, :)
salam
Novi
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Aprillia EkaSari <april_reto@com ...> wrote:
>
> Judul di atas saya dapatkan dari sebuah buku berjudul âTuhan Kuatkan Imankuâ karya Anneke Putri an Amalia Zahra. Dari semua kumpulan tulisan yang ada dalam buku itu, memang saya paling menyukai tulisan yang berjudul âKetegaran Pohonâ ini. Isinya memotivasi saya untuk selalu tegar ketika menghadapi cobaan.
> Â
> Ketegaran Pohon menceritakan tentang arti ketegaran manusia yang dianalogikan dengan ketegaran sebuah pohon yang tumbuh di California Selatan. Pohon ini sering dikunjungi oleh wisatawan karena bentuknya yang unik. Bukan karena bagus, namun sebaliknya, karena tidak sedap dipandang. Tinggi pohon itu kurang dari dua meter dengan batang pipih dan melintir. Cabang-cabang pohonnya kebanyakan gundul tanpa dedaunan.
> Â
> Menurut sejarah, beberapa tahun lalu sebutir biji pohon terbawa angin dan jatuh ke cela-cela batu granit. Biji itu kemudian tumbuh. Tapi, tiap batangnya muncul langsung hancur diterpa angin pasifik yang kencang. Kadang dia bisa tumbuh agak besar tapi kemudian terjangan ombak, badai, angin memorak-porandakannya. Meski demikian, akarnya juga tumbuh terus ke tanah sampai dalam. Sementara batangnya, lama-kelamaan juga tumbuh terus sampai akhirnya besar meski bentuknya tak karu-karuan. Menariknya, hingga sekarang pohon itu masih hidup.
> Â
> ***
> Cerita mengenai pohon itu mengajarkan untuk selalu sabar dan bangkit setiap kali manusia menghadapi berbagai cobaan hidup. Dalam tulisan itu, penulisnya (kalau tak salah, si Amalia Zahra) juga menceritakan bahwa setiap dirinya mengeluh, selain mengingat cerita itu, ia juga selalu ingat nasehat bundanya, âDi luar sana masih banyak yang lebih menderita daripada kita, Nak. Lalu mengapa kita tidak bersyukur saja?â
> Â
> Saya menyukai kalimat nasehat itu, terutama pada bagian â Lalu mengapa kita tidak bersyukur saja?â
> Â
> Mungkin ada sebagian orang yang tak percaya pada motivasi, tapi bagi saya, cerita motivasi semacam itu bagi sebagian orang, cukup membantu untuk bangkit ketika âjatuhâ. Memang sudah jalan-Nya, man purpose, God dispose, tapi harapan bahwa Tuhan akan memberi pertolongan-Nya adalah yang paling penting.
> Â
> Seorang teman berkata kepada saya, âTuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, tapi berikan penghapusmu kepada Allah, karena Dia yang akan menghapus bagian yang salah dan mengganti dengan rencana-Nya yang lebih indah dalam hidupmu.â Satu lagi, kalimat motivasi menarik. Dan membaginya dengan orang-orang lain adalah hal paling menyenangkan. Karena dengan begitu saya tahu, saya tak sendirian berdoa dan berharap. Di luar sana, orang-orang pun berdoa dan berharap.
> Â
> Semangat!
> Â
> -Aprillia Ekasari-
> http://sukmakutersenyum.multiply. com
> Â
>
> Aprillia Ekasari
> 081 793 222 06
>
>
> _____________________ _________ _________ _________ __
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
- 9.
-
[info] Buku Pintar Ekonomi Syariah
Posted by: "Ahmad Ifham" ahmadifham@yahoo.com
Mon Nov 9, 2009 10:46 pm (PST)
Dear All,
Kami memperoleh masukan berharga dari Pak Wandi (Direktur, Gramedia Pustaka Utama) untuk menulis sebuah buku ekonomi syariah yang lengkap, sehingga bisa dijadikan rujukan bagi tema apapun terkait konsep dan praktek ekonomi syariah. Alhamdulillah, buku ini sudah dalam tahap editing, sehingga insya Allah bisa beredar sekitar awal tahun 2010.
Profil Buku:
Judul : Buku Pintar Ekonomi Syariah
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : Lebih dari 2.100.000 karakter no space atau sekitar 700 - 1600 halaman (tergantung lay out)
Harga : Belum ditentukan
Format : Definisi atas Istilah disusun secara Alfabetis (seperti kamus)
Isi : Lebih dari 5.600 Istilah arab dan definisi dari: bidang Ekonomi Syariah, Pemikir Ekonomi Syariah, Sejarah Ekonomi Syariah, Produk Bank syariah (pendanaan, pembiayaan, jasa, istrumen terkait, dll), Operasional Bank Syariah (Akuntansi, Sistem & Distribusi Bagi Hasil, Manajemen Risiko, Audit, IT, Marketing, SDM, Analisis Pembiayaan, Pembiayaan Bermasalah, Pajak, Laporan Keuangan, GCG, DSN, DPS, dll), Asuransi syariah (Produk dan Operasional), Reasuransi Syariah (Produk dan Operasional) , MLM Syariah, Investasi Syariah (pasar modal, reksa dana, obligasi, saham, surat berharga, sukuk, dll), Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), Koperasi Syariah, BMT, Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf, Modal Ventura Syariah, Regulasi, dll
Pembaca : Akademisi (Pelajar, Mahasiswa S1 - S3, Santri di Pondok Pesantren), Praktisi Lembaga Keuangan Konvensional, Praktisi Lembaga Keuangan Syariah, Praktisi Hukum, Entrepreneur, Masyarakat Umum
Profil Penulis:
Nama : Ahmad Ifham Sholihin
Vitae : Madrasah Ibtidaiyyah Raudhatusysyubban Tawangrejo (6 tahun)
Madrasah Diniyyah Raudhatusysyubban Tawangrejo (6 tahun)
Madrasah Tsanawiyyah Negeri Winong (3 tahun)
SMU Negeri 1 Pati (3 tahun)
Fakultas Psikologi UGM Jogjakarta (4 tahun)
KARIM Business Consulting (3,5 tahun)
Batasa Tazkia Consulting (1 tahun)
PT Multipolar Tbk. (1 tahun)
PT Anabatic Teknologi Indonesia (Maret 2009 - sekarang).
Pekerjaan terakhir:
Business Consultant/Analyst untuk aplikasi Core Banking System bank syariah (T24 TEMENOS), saat ini sedang implementasi di dua Bank Umum Syariah milik BUMN.
Semoga buku ini bisa bermanfaat dan barakah muthlaq. Amin.
Regards,
Ahmad Ifham Sholihin
Business Consultant - Business Solution Integrated Banking System
PT Anabatic Teknologi Indonesia
http://anabatic.co.iddan http://temenos.com
- 10a.
-
(Catatan Kecil) Kabar Jagoan Kecilku!
Posted by: "Elisa Koraag" elisa201165@yahoo.com elisa201165
Mon Nov 9, 2009 11:08 pm (PST)
KABAR JAGOAN KECILKU
Icha koraag
Kondisi Bas hari ke hari membaik. Dia emang jagoan. Aku dan Frisch yang tiap hari mules rasanya, melihat Bas. Tapi Bas easy going saja. Kruk yang dulu pernah kami beli (Waktu kaki Bas masuk jari-jari motor) kembali di pakai. Bas kelihatannya gak merasa kesakitan.
Padahal aku mengira akan menjaga Bas yang akan merintih kesakitan karena reaksi dari benturan maupun jahitan. Kenyataannya, ia tampak kuat bahkan kembali usil terhadap si Van. Bila Van marah, ia mengancam akan membukan verban di muka Bas. Bas hanya senyum-senyum nakal!
Justru yang mengkhawatirkan adalah kondisis kejiwaan papanya yang nampak sangat terpukul. Sehingga menjadi agak-agak over protective. Padahal anaknya santai banget. Ada sekitar 17 jahitan di bokongnya tapi Bas seenaknya saja melempar tubuhnya di kasur. Tinggal papanya yang meringis.
Kecelakaan itu terjadi tgl 24 Oktober dan tgl 27 Oktober aku harus Dinas keluar kota. Perasaanku bimbang antara keawjiban sebagai pegawai dan tanggung jawab sebagai ibu. Tapi dukungan Frisch memang sangat besar. Ia meyakinkan aku, mampu menjaga Bas dan Van. Biasanya juga aku percaya. Tapi baru 3 hari lalu Bas celaka dan kini aku harus meninggalkannya. Selain itu aku tahu Frisch akan kecil hati mengantar Bas cek ke RS. Namun dengan menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan, aku tetap berangkat ke Palembang.
Secara rutin aku memonitor Bas walau hanya lewat telephone.Frisch mengantar Bas mengganti verban, belum buka jahitan. Frisch tetap menunggu aku untuk mengantar Bas buka jahitan. Sabtu 31 Oktober aku pulang dan keesokannya aku menemani Bas. 13 jahitan yang di buka mampu membuatku pening. Bahkan Frisch sempat bilang, "kok yah aku jadi makin khawatir dengan anak-anak. Kitakan tidak bisa menjaga mereka 24 jam!" Dengan santai kujawab. "Percayakan saja sama Tuhan. Kita bisa apa?"
Minggu aku menemani Bas buka Jahitan. Semua sudah bagus, Bas sudah kuat dan besok hari Senin sudah bisa kembali ke sekolah. Satu minggu istirahat total di rumah dan besok Bas mulai mengejar ketertinggalannya. Aku berpesan agar papanya menemani Bas ke sekolah dan meyakinkan Bas semua OK. Bas sempat "mogok" karena merasa wajahnya cacat. Ia ke sekolah dengan verban memenuhi sebagian dahi, pipi dan bagian sekitar bibir atas.
Selasa, 3 Oktober. aku bertugas ke Bandung. Saat aku di Bandung, seharusnya giliran Frisch menemani Bas melanjutkan buka jahitan.Tapi Frisch tidak berani. 2 hari kemudian sekembalinya aku dari Bandung (5 Nov 2009), hari masih sore, Bas baru bangun tidur siang tapi ia menolak ke RS. Padahal pagi tgl. 6 Oktober aku harus berangkat ke Pekan Baru.
Terpaksa aku katakan pada suamiku. Memang kamu yang harus menemani Bas. Tapi dari cerita Vanessa, papanya tidak mampu menemani Bas dan Vanessalah yang mendampingi Bas buka jahitan pada Jumat tgl. 6 Nov. Itupun baru 10 jahitan karena Bas merasa sakit. Namun antibiotik dan obat pengurang rasa sakit masih diberikan.
Minggu 8 Oktober sekembalinya aku dari Pekan Baru, langsung ke RS. Kali ini 17 jahitan di bokongnya yang di buka. Bas menangis, aku menggenggam tangannya dan membisikkan kata-kata penguatan. "Nangislah nak, kalau memang sakit. Pegang kuat-kuat tangan mama. mama ada disini menemani kamu!" Tangisan dan jeritan Bas rupanya juga merisaukan Vanessa. Van yang dua hari lalu mampu menguatkan Bas, hari Minggu ini, Van menangis di pundakku. Sementara papanya di luar menjauh, menahan rasa ngilu mendengar tangis Bas.
Total sudah 40 jahitan yang dibuka, tinggal yang di wajah. (Di 3 bagian: dahi, pipi dan di atas bibir) Aku sedang mengatur jadwal agar bisa disesuaikan dengan jadwal dokter kulit. Walau semua meyakinkan jahitan tak akan membekas, hati ini tetap risau. Bas sudah kembali ceria. Walau jalannya masih pincang karena masih ada luka di lutut dan di dekat telapak kaki. Terlepas dari semua itu Bas sudah banyak tertawa dan tak ada lagi rasa malu dengan verban di mukanya.
Minggu malam, sepulang dari RS, kami mampi di rumah orang tuaku. Mamiku nyaris tak sanggup melihat tapi aku katakan, ini sudah jauh lebih baik dan rapi. Bahkan Baspun tak lagi kesakitan.
Masih tersisa satu PR lagi bagiku untuk menuntaskan pengobatan Bas. Tapi menjaga, mengasihi dan menyertainya masih akan terus sepanjang jiwa ini masih bersatu dengan raga. Aku bersyukur masih punya rasa sakit dan rasa takut. Semoga ini meningkatkan kewaspadaan aku dan Frisch dalam mengasuh kedua buah hati kami. Kecelakaan bisa terjadi dimana saja, bisa karena kami lengah tapi bisa juga karena faktor lain. Hanya berserah pada yang kuasa, aku percaya kami mampu melalui hari-hari yang akan datang( HO Bintaro, 10 Nov 2009)
- 10b.
-
Re: (Catatan Kecil) Kabar Jagoan Kecilku! >>bunda Icha
Posted by: "APRILLIA" april_reto@yahoo.com april_reto
Mon Nov 9, 2009 11:56 pm (PST)
Semoga jagoan kecilnya lekas sembuh bund. Saya ikut mendoakan. Semoga hikmah terindah yang didapat bunda dan keluarga.
salam,
April
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Elisa Koraag <elisa201165@com ...> wrote:
>
>
> KABAR JAGOAN KECILKU
> Icha koraag
>
>
- 10c.
-
Re: (Catatan Kecil) Kabar Jagoan Kecilku!
Posted by: "Novi Khansa" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Tue Nov 10, 2009 12:39 am (PST)
Moga Bas segera pulih, ya, bun
ga kebayang deh dengan jahitan-jahitan itu.. *_*
Belum lama, Fahimah ponakanku tangannya patah, jadi harus di-gips. Katanya cukup sebulan, tapi ga tahunya sampe sebulan lebih, kata dokter, belum bisa... tangannya bengkok... tapi katanya lagi, karena masih kecil moga bisa balik lagi kayak asal...
Dan, sama bun...
dalam kondisi kayak gitu, tetep aja anak-anak mah anak-anak.... LAri ke sana kemari, lompat-lompat, ga bisa diem, deh...
Jadi, mikir, kita yang was-was kayak apa, mereka ya biasa aja, jalanin hari-hari mereka yang penuh keceriaan... Patut dicontoh, ya, bun... :)
walau tetep sih tetap ketar-ketir juga...
Salam buat Van dan Bas ya, bun
Novi :)
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Elisa Koraag <elisa201165@com ...> wrote:
>
>
> KABAR JAGOAN KECILKU
> Icha koraag
>
> Kondisi Bas hari ke hari membaik. Dia emang jagoan. Aku dan Frisch yang tiap hari mules rasanya, melihat Bas. Tapi Bas easy going saja. Kruk yang dulu pernah kami beli (Waktu kaki Bas masuk jari-jari motor) kembali di pakai. Bas kelihatannya gak merasa kesakitan.
>
> Padahal aku mengira akan menjaga Bas yang akan merintih kesakitan karena reaksi dari benturan maupun jahitan. Kenyataannya, ia tampak kuat bahkan kembali usil terhadap si Van. Bila Van marah, ia mengancam akan membukan verban di muka Bas. Bas hanya senyum-senyum nakal!
>
> Justru yang mengkhawatirkan adalah kondisis kejiwaan papanya yang nampak sangat terpukul. Sehingga menjadi agak-agak over protective. Padahal anaknya santai banget. Ada sekitar 17 jahitan di bokongnya tapi Bas seenaknya saja melempar tubuhnya di kasur. Tinggal papanya yang meringis.
>
> Kecelakaan itu terjadi tgl 24 Oktober dan tgl 27 Oktober aku harus Dinas keluar kota. Perasaanku bimbang antara keawjiban sebagai pegawai dan tanggung jawab sebagai ibu. Tapi dukungan Frisch memang sangat besar. Ia meyakinkan aku, mampu menjaga Bas dan Van. Biasanya juga aku percaya. Tapi baru 3 hari lalu Bas celaka dan kini aku harus meninggalkannya. Selain itu aku tahu Frisch akan kecil hati mengantar Bas cek ke RS. Namun dengan menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan, aku tetap berangkat ke Palembang.
>
> Secara rutin aku memonitor Bas walau hanya lewat telephone.Frisch mengantar Bas mengganti verban, belum buka jahitan. Frisch tetap menunggu aku untuk mengantar Bas buka jahitan. Sabtu 31 Oktober aku pulang dan keesokannya aku menemani Bas. 13 jahitan yang di buka mampu membuatku pening. Bahkan Frisch sempat bilang, "kok yah aku jadi makin khawatir dengan anak-anak. Kitakan tidak bisa menjaga mereka 24 jam!" Dengan santai kujawab. "Percayakan saja sama Tuhan. Kita bisa apa?"
>
> Minggu aku menemani Bas buka Jahitan. Semua sudah bagus, Bas sudah kuat dan besok hari Senin sudah bisa kembali ke sekolah. Satu minggu istirahat total di rumah dan besok Bas mulai mengejar ketertinggalannya. Aku berpesan agar papanya menemani Bas ke sekolah dan meyakinkan Bas semua OK. Bas sempat "mogok" karena merasa wajahnya cacat. Ia ke sekolah dengan verban memenuhi sebagian dahi, pipi dan bagian sekitar bibir atas.
>
> Selasa, 3 Oktober. aku bertugas ke Bandung. Saat aku di Bandung, seharusnya giliran Frisch menemani Bas melanjutkan buka jahitan.Tapi Frisch tidak berani. 2 hari kemudian sekembalinya aku dari Bandung (5 Nov 2009), hari masih sore, Bas baru bangun tidur siang tapi ia menolak ke RS. Padahal pagi tgl. 6 Oktober aku harus berangkat ke Pekan Baru.
>
> Terpaksa aku katakan pada suamiku. Memang kamu yang harus menemani Bas. Tapi dari cerita Vanessa, papanya tidak mampu menemani Bas dan Vanessalah yang mendampingi Bas buka jahitan pada Jumat tgl. 6 Nov. Itupun baru 10 jahitan karena Bas merasa sakit. Namun antibiotik dan obat pengurang rasa sakit masih diberikan.
>
> Minggu 8 Oktober sekembalinya aku dari Pekan Baru, langsung ke RS. Kali ini 17 jahitan di bokongnya yang di buka. Bas menangis, aku menggenggam tangannya dan membisikkan kata-kata penguatan. "Nangislah nak, kalau memang sakit. Pegang kuat-kuat tangan mama. mama ada disini menemani kamu!" Tangisan dan jeritan Bas rupanya juga merisaukan Vanessa. Van yang dua hari lalu mampu menguatkan Bas, hari Minggu ini, Van menangis di pundakku. Sementara papanya di luar menjauh, menahan rasa ngilu mendengar tangis Bas.
>
> Total sudah 40 jahitan yang dibuka, tinggal yang di wajah. (Di 3 bagian: dahi, pipi dan di atas bibir) Aku sedang mengatur jadwal agar bisa disesuaikan dengan jadwal dokter kulit. Walau semua meyakinkan jahitan tak akan membekas, hati ini tetap risau. Bas sudah kembali ceria. Walau jalannya masih pincang karena masih ada luka di lutut dan di dekat telapak kaki. Terlepas dari semua itu Bas sudah banyak tertawa dan tak ada lagi rasa malu dengan verban di mukanya.
>
> Minggu malam, sepulang dari RS, kami mampi di rumah orang tuaku. Mamiku nyaris tak sanggup melihat tapi aku katakan, ini sudah jauh lebih baik dan rapi. Bahkan Baspun tak lagi kesakitan.
>
> Masih tersisa satu PR lagi bagiku untuk menuntaskan pengobatan Bas. Tapi menjaga, mengasihi dan menyertainya masih akan terus sepanjang jiwa ini masih bersatu dengan raga. Aku bersyukur masih punya rasa sakit dan rasa takut. Semoga ini meningkatkan kewaspadaan aku dan Frisch dalam mengasuh kedua buah hati kami. Kecelakaan bisa terjadi dimana saja, bisa karena kami lengah tapi bisa juga karena faktor lain. Hanya berserah pada yang kuasa, aku percaya kami mampu melalui hari-hari yang akan datang( HO Bintaro, 10 Nov 2009)
>
- 10d.
-
Re: (Catatan Kecil) Kabar Jagoan Kecilku!
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Tue Nov 10, 2009 1:26 am (PST)
Aku sungguh kagum pada Bunda Icha - yang banyak mengingatkanku pada mamiku
sendiri - yang begitu kuat dan tabah mendampingi dan memberi kekuatan bukan
hanya buat Bas, tapi juga buat anggota keluarga yang lain: suami Bunda Icha,
Van, dan kerabat yang lain.
Yang sangat membuatku makin salut, Bunda Icha mampu langsung menuliskan
semua yang terjadi. Waktu adikku dulu kecelakaan, aku begitu takut dan aku
baru bisa menuliskan kejadiannya (itu juga dalam bentuk cerpen yang sudah
kusensor dan kuedit) dua setengah tahun setelah kejadian itu....
Semoga cepat sembuh, Bas, dan selamat menjadi dewasa dan bijak bagi kita
semua dengan peristiwa ini...
Salam sayang
Lia
2009/11/10 Elisa Koraag <elisa201165@yahoo.com >
>
>
>
> *KABAR JAGOAN KECILKU*
> *Icha koraag*
> **
> Kondisi Bas hari ke hari membaik. Dia emang jagoan. Aku dan Frisch yang
> tiap hari mules rasanya, melihat Bas. Tapi Bas easy going saja. Kruk yang
> dulu pernah kami beli (Waktu kaki Bas masuk jari-jari motor) kembali di
> pakai. Bas kelihatannya gak merasa kesakitan.
>
> Padahal aku mengira akan menjaga Bas yang akan merintih kesakitan karena
> reaksi dari benturan maupun jahitan. Kenyataannya, ia tampak kuat bahkan
> kembali usil terhadap si Van. Bila Van marah, ia mengancam akan membukan
> verban di muka Bas. Bas hanya senyum-senyum nakal!
>
> Justru yang mengkhawatirkan adalah kondisis kejiwaan papanya yang nampak
> sangat terpukul. Sehingga menjadi agak-agak over protective. Padahal anaknya
> santai banget. Ada sekitar 17 jahitan di bokongnya tapi Bas seenaknya saja
> melempar tubuhnya di kasur. Tinggal papanya yang meringis.
>
> Kecelakaan itu terjadi tgl 24 Oktober dan tgl 27 Oktober aku harus Dinas
> keluar kota. Perasaanku bimbang antara keawjiban sebagai pegawai dan
> tanggung jawab sebagai ibu. Tapi dukungan Frisch memang sangat besar. Ia
> meyakinkan aku, mampu menjaga Bas dan Van. Biasanya juga aku percaya. Tapi
> baru 3 hari lalu Bas celaka dan kini aku harus meninggalkannya. Selain itu
> aku tahu Frisch akan kecil hati mengantar Bas cek ke RS. Namun dengan
> menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan, aku tetap berangkat ke
> Palembang.
>
> Secara rutin aku memonitor Bas walau hanya lewat telephone.Frisch mengantar
> Bas mengganti verban, belum buka jahitan. Frisch tetap menunggu aku untuk
> mengantar Bas buka jahitan. Sabtu 31 Oktober aku pulang dan keesokannya aku
> menemani Bas. 13 jahitan yang di buka mampu membuatku pening. Bahkan Frisch
> sempat bilang, "kok yah aku jadi makin khawatir dengan anak-anak. Kitakan
> tidak bisa menjaga mereka 24 jam!" Dengan santai kujawab. "Percayakan saja
> sama Tuhan. Kita bisa apa?"
>
> Minggu aku menemani Bas buka Jahitan. Semua sudah bagus, Bas sudah kuat dan
> besok hari Senin sudah bisa kembali ke sekolah. Satu minggu istirahat total
> di rumah dan besok Bas mulai mengejar ketertinggalannya. Aku berpesan agar
> papanya menemani Bas ke sekolah dan meyakinkan Bas semua OK. Bas sempat
> "mogok" karena merasa wajahnya cacat. Ia ke sekolah dengan verban memenuhi
> sebagian dahi, pipi dan bagian sekitar bibir atas.
>
> Selasa, 3 Oktober. aku bertugas ke Bandung. Saat aku di Bandung, seharusnya
> giliran Frisch menemani Bas melanjutkan buka jahitan.Tapi Frisch tidak
> berani. 2 hari kemudian sekembalinya aku dari Bandung (5 Nov 2009), hari
> masih sore, Bas baru bangun tidur siang tapi ia menolak ke RS. Padahal pagi
> tgl. 6 Oktober aku harus berangkat ke Pekan Baru.
>
> Terpaksa aku katakan pada suamiku. Memang kamu yang harus menemani Bas.
> Tapi dari cerita Vanessa, papanya tidak mampu menemani Bas dan Vanessalah
> yang mendampingi Bas buka jahitan pada Jumat tgl. 6 Nov. Itupun baru 10
> jahitan karena Bas merasa sakit. Namun antibiotik dan obat pengurang rasa
> sakit masih diberikan.
>
> Minggu 8 Oktober sekembalinya aku dari Pekan Baru, langsung ke RS. Kali ini
> 17 jahitan di bokongnya yang di buka. Bas menangis, aku menggenggam
> tangannya dan membisikkan kata-kata penguatan. "Nangislah nak, kalau memang
> sakit. Pegang kuat-kuat tangan mama. mama ada disini menemani kamu!"
> Tangisan dan jeritan Bas rupanya juga merisaukan Vanessa. Van yang dua hari
> lalu mampu menguatkan Bas, hari Minggu ini, Van menangis di pundakku.
> Sementara papanya di luar menjauh, menahan rasa ngilu mendengar tangis Bas.
>
> Total sudah 40 jahitan yang dibuka, tinggal yang di wajah. (Di 3 bagian:
> dahi, pipi dan di atas bibir) Aku sedang mengatur jadwal agar bisa
> disesuaikan dengan jadwal dokter kulit. Walau semua meyakinkan jahitan tak
> akan membekas, hati ini tetap risau. Bas sudah kembali ceria. Walau jalannya
> masih pincang karena masih ada luka di lutut dan di dekat telapak kaki.
> Terlepas dari semua itu Bas sudah banyak tertawa dan tak ada lagi rasa malu
> dengan verban di mukanya.
>
> Minggu malam, sepulang dari RS, kami mampi di rumah orang tuaku. Mamiku
> nyaris tak sanggup melihat tapi aku katakan, ini sudah jauh lebih baik dan
> rapi. Bahkan Baspun tak lagi kesakitan.
>
> Masih tersisa satu PR lagi bagiku untuk menuntaskan pengobatan Bas. Tapi
> menjaga, mengasihi dan menyertainya masih akan terus sepanjang jiwa ini
> masih bersatu dengan raga. Aku bersyukur masih punya rasa sakit dan rasa
> takut. Semoga ini meningkatkan kewaspadaan aku dan Frisch dalam mengasuh
> kedua buah hati kami. Kecelakaan bisa terjadi dimana saja, bisa karena kami
> lengah tapi bisa juga karena faktor lain. Hanya berserah pada yang kuasa,
> aku percaya kami mampu melalui hari-hari yang akan datang( HO Bintaro, 10
> Nov 2009)
>
>
>
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
MARKETPLACE
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
1 komentar:
ok juga tulisannya.
Mampir ke situsku dong
Posting Komentar