Jumat, 13 November 2009

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2880

Messages In This Digest (20 Messages)

Messages

1a.

Re: [catcil] Motivasi dari Ketegaran Pohon

Posted by: "diva p" diifaa_03@yahoo.com   diifaa_03

Thu Nov 12, 2009 5:23 am (PST)




saya sangat suka dengan kalimat yang ini "Tuliskan rencanamu dengan sebuah
> pensil, tapi berikan penghapusmu kepada Allah, karena Dia yang akan
> menghapus bagian yang salah dan mengganti dengan rencana-Nya yang lebih
> indah dalam hidupmu."
mengingatkanku bahwa kita sebagai manusia harus berusaha sebaik mungkin sisanya serahkan pada yang di atas, karena dengan begitu kita akan selalu siap dengan keadaan apapun yang akan menyapa kita
thanks ya pril sudah berbagi,

salam

Wiwik Hafidzoh
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Aprillia EkaSari <april_reto@...> wrote:
>
> Judul di atas saya dapatkan dari sebuah buku berjudul “Tuhan Kuatkan Imanku” karya Anneke Putri an Amalia Zahra. Dari semua kumpulan tulisan yang ada dalam buku itu, memang saya paling menyukai tulisan yang berjudul “Ketegaran Pohon” ini. Isinya memotivasi saya untuk selalu tegar ketika menghadapi cobaan.
>  
> Ketegaran Pohon menceritakan tentang arti ketegaran manusia yang dianalogikan dengan ketegaran sebuah pohon yang tumbuh di California Selatan. Pohon ini sering dikunjungi oleh wisatawan karena bentuknya yang unik. Bukan karena bagus, namun sebaliknya, karena tidak sedap dipandang. Tinggi pohon itu kurang dari dua meter dengan batang pipih dan melintir. Cabang-cabang pohonnya kebanyakan gundul tanpa dedaunan.
>  
> Menurut sejarah, beberapa tahun lalu sebutir biji pohon terbawa angin dan jatuh ke cela-cela batu granit. Biji itu kemudian tumbuh. Tapi, tiap batangnya muncul langsung hancur diterpa angin pasifik yang kencang. Kadang dia bisa tumbuh agak besar tapi kemudian terjangan ombak, badai, angin memorak-porandakannya. Meski demikian, akarnya juga tumbuh terus ke tanah sampai dalam. Sementara batangnya, lama-kelamaan juga tumbuh terus sampai akhirnya besar meski bentuknya tak karu-karuan. Menariknya, hingga sekarang pohon itu masih hidup.
>  
> ***
> Cerita mengenai pohon itu mengajarkan untuk selalu sabar dan bangkit setiap kali manusia menghadapi berbagai cobaan hidup. Dalam tulisan itu, penulisnya (kalau tak salah, si Amalia Zahra) juga menceritakan bahwa setiap dirinya mengeluh, selain mengingat cerita itu, ia juga selalu ingat nasehat bundanya, ”Di luar sana masih banyak yang lebih menderita daripada kita, Nak. Lalu mengapa kita tidak bersyukur saja?”
>  
> Saya menyukai kalimat nasehat itu, terutama pada bagian ” Lalu mengapa kita tidak bersyukur saja?”
>  
> Mungkin ada sebagian orang yang tak percaya pada motivasi, tapi bagi saya, cerita motivasi semacam itu bagi sebagian orang, cukup membantu untuk bangkit ketika ”jatuh”. Memang sudah jalan-Nya, man purpose, God dispose, tapi harapan bahwa Tuhan akan memberi pertolongan-Nya adalah yang paling penting.
>  
> Seorang teman berkata kepada saya, ”Tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, tapi berikan penghapusmu kepada Allah, karena Dia yang akan menghapus bagian yang salah dan mengganti dengan rencana-Nya yang lebih indah dalam hidupmu.” Satu lagi, kalimat motivasi menarik. Dan membaginya dengan orang-orang lain adalah hal paling menyenangkan. Karena dengan begitu saya tahu, saya tak sendirian berdoa dan berharap. Di luar sana, orang-orang pun berdoa dan berharap.
>  
> Semangat!
>  
> -Aprillia Ekasari-
> http://sukmakutersenyum.multiply.com
>  
>
> Aprillia Ekasari
> 081 793 222 06
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>

2.

[Info] Majalah Sastra Horison - November 2009

Posted by: "gerai buku" epri_tsi@yahoo.com   epri_tsi

Thu Nov 12, 2009 5:30 am (PST)



<http://geraibuku.multiply.com/photos/hi-res/1M/155>

Majalah Sastra Horison edisi November 2009 kembali hadir di tengah anda para
penikmat sastra di mana saja berada khususnya di tanah air Indonesia.

Kali ini Catatan Kebudayaan ditulis oleh Wan Anwar, salah satu Redaksi
Horison.

Kenangan tentang Rendra kembali ditulis dalam bentuk esai oleh kawannya
sesama sastrawan, kali ini oleh AJip Rosidi si penggagas Anugrah Ranca Ekek
ini. Selain itu Agus R. Sardjono juga tak mau ketinggalan menuliskan catatan
tentang Rendra.

Kolom puisi diisi oleh penyair Musthofa Aldo dan Rahmat Heldi HS. Sementara
Cerpen diisi oleh karya Agus Noor dan Hasan Al Banna.

Di kolom kaki langit, kali ini menampilkan sastrawan Iwan Simatupang
termasuk karya cerpennya. Ulasan cerpennya ditulis oleh Cecep Syamsul Hari.
Kisah proses kreatif Iwan Simatupang dan riwayat hidupnya ditulis oleh
Korrie Layun Rampan. Sementara kali ini karya siswa-siswi SMU Negri 1
Jatiwangi menghiasi sajak dan cerpen kaki langit dengan ulasan dari Jamal D.
Rahman dan Joni Ariadinata.

Yang berminat silahkan kontak geraibuku.com ke [021] 3099 8655 atau email ke
geraibuku@gmail.com Harga majalah Rp 12.500

tersedia juga bundel tahunan majalah horison kali ini harganya sudah naik
menjadi Rp 200.000 untuk tahun 2005, 2006 dan 2007.

Salam sastra!

*www.geraibuku.com*
3.

[Puisi] Lukisan Senja (menjelang) Basah

Posted by: "deesiey" deesiey@gmail.com   deesiey

Thu Nov 12, 2009 8:28 am (PST)



Tetes aku bertetesan.
Hembus aku berhembusan.
Saat kulewati detak.

Meranggas ia meninggalkan dewa.
Di pinggir pilar ia bersinar mungil.

Semua berpacu.
Semua beradu.
Mengejar waktu yang tak pernah berhenti.

Di temaram senja telah kulukiskan.
Sebuah getar yang berwana jingga.
Di saat putaran roda menjelang tiba.

11 Nov 09
saat senja berhias mendung

--
http://sampiran.blogspot.com/
4.

(Lonceng) MINTA DOANYA UNTUK SEMUANYA AGAR PUISI2 ANAK SK TERPILIH D

Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id   bujangkumbang

Thu Nov 12, 2009 8:29 am (PST)



AssalamualAikum...

Minta doanya ya buat puisi anak-anak SK agar masuk di final antologi puisi gempa sumbar di millis Apsas. Amin

Dedy Tri Riyadi

Menjarakkan Peristiwa,

Mendekatkan Rasa

 

Saya berusaha menggali kembali kenangan pada peristiwa Gempa tanggal 30 September 2009 yang terjadi di Padang Pariaman yang tentu saja meninggalkan duka yang mendalam bagi sebagian dari kita di Indonesia, khususnya masyarakat Minangkabau yang juga tersebar di belahan dunia lainnya. Kenangan tersebut tentunya sangat berkaitan dengan duka yang terasa. Sebagai manusia biasa melihat saudara atau teman yang tertimpa musibah, pastinya saya bisa turut merasakan kepedihan. Walaupun tidak seperti orang lain yang punya kerabat di sana, apalagi yang kerabatnya mengalami musibah tersebut.

 

Akan tetapi, gempa bumi belum berakhir di daerah Padang dan Pariaman, karena ternyata, seperti kita ketahui bersama, gempa juga masih terus bergerak di beberapa tempat di Indonesia. Oleh karena itu, saya cenderung lebih memilih untuk mencari puisi-puisi yang telah diciptakan khusus untuk "Antologi Bersama  Padang Pariaman 7,6 skala Richter" ini sebagai puisi yang bisa juga dirasakan sebagai kedukaan yang sama apalagi terjadi gempa bumi di lain tempat di Indonesia bahkan di negara lain.

 

Jadi, saya melonggarkan kaitan faktual dalam memilih puisi-puisi teman-teman penyair ini bukan untuk alasan yang sentimentil atau menganggap remeh urusan fakta peristiwa dari puisi tersebut, tetapi lebih kepada pencarian rasa duka yang mendalam yang dapat ditimbulkan oleh puisi-puisi tersebut. Dengan cara itulah, saya mencoba untuk lebih berempati dan bersimpati dengan korban bencana gempa ini.

 

Saya cenderung memilih puisi teman-teman ini sesuai dengan apa yang sudah saya paparkan di atas. Sebagai pendahuluan, saya mengucapkan turut berbelasungkawa atas sanak keluarga dan handai taulan teman-teman penyair yang menjadi korban dalam gempa di Padang Pariaman beberapa waktu lalu.

 

 

Jakarta, 12 November 2009.

 

PUISI-PUISI TERPILIH

- di luar puisi saya sendiri

 

Abdullah Khusairi

Senja Bergetar

 

keindahan itulah yang bergetar

sebelum malam menjemput pulang

semua berantakan luluh lantak

jiwa kami retak

hati kami pecah

runtuh sudah harapan

sejuta harap kepada tuan

tapi tak juga datang

kegelapan itu menghanyutkan

air mata jatuh ke dalam

                                    Proklamasi, 30 Oktober 2009

 

Abdullah Khusairi

Hantu Tanah

 

siapa di bawah sana

mengguncang tanah

tak tenang lagi hidup kami

anak-anak kami ketakutan

ibu-ibu mereka memeluk erat

hingga kini jatuh sakit

perih

patah mematah jiwa kami

takut datang lagi guncangan itu

telah kami matikan televisi

tapi cerita belum juga berhenti

luluh lantak negeri ini siapa mengerti

kenapa nyawa kami jadi taruhanmu

jika kau sedang bermain dadu

setelah guncangan itu

angka kematian kau harap juga

sedang jantung kami berderak

patah

                                    Balaibaru, 11 Oktober 2009

 

Asep Sambodja

Narasi Gempa

Kun fayakun

maka yang terjadi, terjadilah...

 

ketika kata menjelma gempa

dan tubuh menjadi luka

maka gedung-gedung pun runtuh

bukit-bukit longsor menguruk

dan airmata mengalir tak terbendung

 

jika ini takdir

sudah ribuan takdir mengakhiri

perjalanan hamba-hambaMu

jika ini kutukan

sudah berabad lalu

orang-orang tertimbun tanah pijakan

 

"Kepunyaan Allah di timur dan barat

maka kemana pun kamu menghadap

di situlah wajah Allah." *)

 

barangkali kita harus terus berdoa

tak sedetik pun luput dari doa

karena ajal tak berjarak

dan kapan saja mengada

di depan kita

hingga tak ada lagi ruang tuk bergerak

 

"Almutu ayatul hubmis sadiq

Maut adalah alamat cinta yang sejati." **)

 

aku pahami puing-puing

aku berdoa untuk serpihan tubuh

yang remuk

demi menjaga jiwa ini

agar tak terguncang lindu

 

Citayam, 10 Oktober 2009

 

*)  Surat Al Baqarah ayat 115. Kun fayakun pada puisi di atas dikutip

     dari Surat Al Baqarah ayat 117.

**) Dari sebuah tulisan Buya Hamka.

 

Asep Sambodja

Kitab Gempa

 

sejarah luka termaktub dalam kitab gempa

jutaan orang telah membacanya

tapi ada yang mencoba menyungsang

dan mengingkarinya

 

kitab gempa luth menggoyang

laki-laki yang tak bisa mencintai perempuan

dan perempuan yang tak bisa mencintai laki-laki

 

kitab gempa musa mengguncang

orang-orang yang menyembah karyanya sendiri

dan abai padaNya

 

Tuhan,

tutuplah kitab-kitab gempa ini

dan cukupkan sampai di sini

 

Citayam, 10 Oktober 2009

 

 

Asma Sembiring

Imaji Surau

 

Ikhlaskan yang terkubur.

Bumi akan menjaga mereka

Malaikat 'kan menuntun

Ke Jannah, syurga Allah

Mereka tidak menderita

Pertanyaan bagi yang hidup adalah,

Akan dimanfaatkan apa sisa hidup ini ?

Engku Guru Pian terus berbicara

Menguatkan, mendorong, menggebah emosi jiwa setiap orang

Dalam tenda penampungan,

Dengan kondisi serba seadanya.

 

Buyung pandangi semuanya

Bingung, linglung

Ia tak paham maksud Engku Guru

 

Dari balik plastik terpal tempat bernaung

Dalam tetesan hujan yang menderas

Buyung pahami satu hal

Sementara waktu, ia takkan kemana-mana

Juga ke surau

Pandangannya lekat pada dua gundukan bulat kubah

Yang terkapar sejajar tanah

 

 

Bayu Gautama

Bertanya Pada Alam

 

Tanah, kenapa tak beritahu aku

Jika akan kau luluhkan semua beban di pundakmu?

Padahal adik baru saja dapat sepeda baru

Hadiah ulang tahun dari ibu

Marah kah kau pada kami?

Karena ibu beli sepeda dari hasil jual kayu?

 

Batu, kenapa kau buat kami menangis

Pecahkan rumah kecil kami,

yang ayah bangun belasan tahun dengan asa

Tak punya rasa kah kau batu?

Merobek mimpi ribuan orang sekali sentak?

 

Angin, tolong beritahu kami

Dimana kami selanjutnya harus tinggal?

Sementara rumah,

hanya tinggal puing-puing batu?

 

Budhi Setyawan

Kampung Kampung Terluka Lagi

 

dalam bayang langit hitam pertiwi

tiga puluh september tikam

putaran jarum titian waktu tujuh belas enam belas

 

mata senja berkaca kaca

menampung curah kepedihan anak anak negeri

yang direkam bulir mendung

 

bukit gugur

runtuhlah ribuan sungai air mata

menjelma gerimis kelam di labirin doa

 

jorong cimanak gunung tigo balantiak tandikek

gunung padang alai kudo gantiang limo paruik

lantak lenyap oleh lidah bencana

 

gigir barat andalas kini tersayat

labirin duka berundak undak

serial tak usai negeri terkoyak

 

hujan lumuri memar malam

menguyupi bangkai bangkai harapan

melengkapkan beku muram

 

drama masih saja bawakan kegelapan

meruncing menusuk lekuk tubuh

kampung berdarah terluka dalam

 

            Bekasi, 4 Oktober 2009

 

Budhi Setyawan

Padang 7,6 Skala Richter

 

seribu ketakjuban mimpi taman nirwana

tumbang dalam rinai guncang

terbelah belah untai kisah

 

keelokan senja tergores

derak luka memanjang

berkelebat di lembaran roman

 

siti nurbaya terhisap mukanya ke dalam muram

bedak beterbangan di udara kecemasan

nada nada saluang mengirimkan luka

membasah di sembilan penjuru

ke lembah ke ngarai

ke bukit ke pantai

ke dalam catatan harian anak negeri yang masai

 

rendang terbakar kegetiran kata

menghitam dalam kepahitan cerita

 

nestapa nganga di setapak sejarah

bumi onak langit duri

darah di pengap kamar silsilah

 

danau danau pedih

terbata mengeja riwayat kehilangan

 

pesta tabuik di lingkar kelam

tari piring di tebing miring

segala waktu menjelma malam

semua pantun merupa kering

 

            Bekasi, 5 Oktober 2009

 

Cunong  N. Suraja

Adakah yang Tersisa Pagi Ini?

 

dari pendaran elektron layar kaca mewartakan kesedihan tanpa tara

rekah tanah longsoran bumi basah serta mie instan dijarah

 

dari pendaran peristiwa melintas segala imaji luka bumi dan negeri

ketika alam meregang maka nyawa melayang dalam timbunan seketika

 

dari cerita burung menyeruak lewat mulut serak

selalu mereka menawar itu sebagai peringatan bukan perusakan

 

dari duka maha dalam

hanya tangan terkatup pasrah atas kehendakNya

 

Dani Kisai

Penyair, Gempa Itu Puisimu!

 

kami masih membaca riwayat tentang hijaunya waktu dan silau senja dari kaca jendela petang ini, saat kanak-kanak dan para orangtua dalam puisimu berlari menyelamatkan diri. sejak kemarin sampai pagi tadi kami tak tahu apa yang diam-diam kau tuliskan. mungkin geliat bumi atau pahatan kata sarat misteri, kami tak pernah mengerti

 

juga tak ada yang mampu menafsir putihnya mimpi. dalam puisimu petang ini, jemari tangan kami turut memungut nama-nama satu per satu, menghitung dan melarungnya ragu per ragu, di batas segumpal ruh di getas tubuh kami

 

kami masih membaca riwayat tentang hijaunya waktu dan silau senja dari kaca jendela, atau pun segala kata yang kau tuliskan, penyair. walau dada ini sudah tak sanggup lagi menampung sajak-sajakmu, walaupun kedua mata ini tak kuat lagi melayat getaran hebat di sepenggal petang rabu itu

 

nah penyair, inilah puisimu. satu dua bait gelombang di atas tanah terbelah yang kau tuliskan dengan indah. di buku mana akan kau selipkan, silsilah padang berbukit dan lautan airmata ini. sedang kami masih ingin membaca riwayat tentang hijaunya waktu dan silau senja dari kaca jendela sekali lagi, terakhir kali

 

Bekasi, Oktober 2009

 

Dani Kisai

Ratok Bumi Minang

 

petang rapuh itu

waktu luluh runtuh

bumi masih setia

menghitung debar

kau dan rangkuman kenangan

adalah tubuhtubuh

tak berpenghuni

hilang ke ruang bayang

jatuh ke dalam

ratok paling samar

di tendatenda pengungsian

di sisi mimpimimpi

yang tumbang

tak ada lagi tersisa

selain rengkah tanah

dan selaput kabut

yang melayutkan

arah pandangan

 

Oktober 2009

 

Dian Hartati

Di Atas Kampung

 

aku melihat

tanah itu jadi gelombang

merayap, melepas apa yang ingin digetarkan

dari atas

aku lihat kampung luluh lantak

          semua tumpah berserak

apakah ini kabut

yang menjadikan segalanya suram

di sini

 

aku melihat

pohon tumbang, jala ingatan mengabur

akuarium pecah, airnya muncrat

tanah terbelah

dan kau

tak juga mengerti

hanya berlari

terbirit dan berpaling

dan kau tak juga mengerti

sedang aku terus saja menyusun rencana

 

Sudut Bumi, Oktober 2009

 

Donny P. Herwanto

Berapa Bayangan Sudah Tuan Hitung

 

tuan pun lupa menghitung berapa bayangan yang aku tinggalkan

di lantai waktu dan di dinding batu

tuan telah menghitung berapa telur yang menggelinding di pipa-pipa rindu?

 

- selalu seperti itulah bisu

 

sayap di kepala tuan pun seperti dua pedang

yang siap menikam bayangan itu.

lagi-lagi, tuan hanya terdiam

dan asik bercanda dengan sepi

 

gadis telanjang dalam bingkai,

sayap merah tak berbayang

 

tak butuh kalkulator untuk menjumlah sunyi

pun tak butuh secarik kertas untuk muntahkan lelap

hanya resah yang melangit ketika gerak tanah menusuk kaki tuan

 

2009

 

Eddy Saputra

Ku Ajak Engkau Wahai Kawan

 

kau meronta mengerang, menerjang

dan menjerit sejadi jadinya bak lupa

darah dan air mata kau jadikan alasan

puing menusuk pori dan tulang yang terkoyak

 

benar  ragamu hancur luluh di sabu goncangan

benar sawah ladangmu lenyap seketika

benar darahmu terserak ke bumi yang gelisah

benar dan aku bersaksi atas kejadian itu sore

 

kawanku, kita bukan siapa siapa

kawanku, kita tidaklah  punya kita

kawanku, bertelanjang kedatangan kita

kawanku, aku tahu itu dan ingin memberi tahumu

 

aku harap luka di kaki itu tidak melukai jiwa

karna kutahu dan ingin berbagi suka denganmu

beranda yang poranda sebagai  tanda cinta-Nya

ingin kumengajakmu, mari  maknai Redho dan Ikhlas

 

sudahlah, sekalah air mata itu dengan kain yang tersisa

patah tumbuh hilang berganti, mari bangkitkan Rohani

dalam perenungan pelajari siapa kita dan -Dia

kawanku, kita termasuk Beruntung dan Tak merugi.

 

Sadari itu agar engkau tersadar lagi

PadaNya jua tempat kembali

 

27/10/09

 

Faisal N Faridduddin

Batu Gundah

 

batu gundah

di tanah belah

ratapan Ibu Malin

menangisi lain

yang berpulang

terlampau serupa arak-arakan

dihantar lindu ke arah Tuhan

 

Fiyan Arjun

Sajak Untuk Negeri Yang Berduka

 

Belum habis kecupanku bersandar

di dinding gadang

Kini sudah  terukir petuah menyayatnyayat

di bilik hati anak-cucucucuku

 

Belum habis bibir ini kering terucap

Kini sudah terdengar genderang luka

di selaput telingaku

 

Tersiar  kabar negeriku

yang sedang luluh lantak

Tak berdaya!

 

Fredy Pengembara

Tubuh Alam

 

:gempa

 

Alam maafkan aku telah membencimu

Menginjak-menginjak hulu hatimu.

 

Berjalan tinggalkan telapak kehidupan.

Kau menangis tak ada yang tahu. Tubuh kita

pernah menyatu, sebelum akhirnya benar bersatu.

Guguran pasir bukit itu menyisakan kisah.

 

Alam, tubuhmu wangi hingga aku harus meminta maaf.

Merogoh matamu, membanjiri rumah sanak saudaraku.

 

Jatinangor. 2009

 

Faisal Syahreza

Rumah Kenangan

 

di sini kami menetaskan kesunyian

menjadi doa dan harapan

dengan malam kami bersepakat

saling berjaga dari kelam

begitu juga dengan senja

kami mencintai hidup

yang tak mungkin kekal

di balik atap kami bersembunyi

dan di lantai kami berbaring

musim dan cuaca kadang

kami saksikan bersenggama

dan kami turut suka cita

di dalamnya

kini, tinggal puing cahaya

dinding yang dahulu

memaku banyak rindu

juga tiang-tiang penyangga

cinta, lenyap sudah

segala yang berdiri

kini rata dengan tanah

tinggal kenang-kenangan

yang mampu kita banggakan

sambil mengusap airmata

dan bercerita tentang

masa dahulu kala

keindahan harus tetap ada

di jiwa yang terluka, sekalipun

 

Oktober 2009

 

Irna Syahrial

Senja Kelu

 

Rintihan sayup terdengar

Di malam pekat, di tengah hujan

Sepuluh jam setelah gempa dahsyat 7.6 skala richter itu

 

Tolong aku, aku haus!

 

Itu suaramu, anakku!

Harapanku membuncah

 

Lidahku terasa kelu

Aku mendengarmu anakku

Kita tidak berjarak

Ingin kupecah beton ini dengan tanganku;

Dengan tubuh dan jiwaku

 

Tolong aku

Jilbabku menggenang darah

Belakang kepalaku mungkin terbelah

Terasa ada dua tubuh, mungkin teman sekelasku

Menghimpitku;

Dingin dan beku

 

Berjam-jam berlalu, kembali tanpa suaramu

Getar pedih dari jiwa

Dalam duka yang bersabda

 

Rintihan sayup kudengar lagi

Harapanku timbul tenggelam

 

Ibu;

Perdengarkan padaku

Kaset murotalku, aku rindu!

 

24 jam aku menunggu

Seiring syahdu murotalmu

Mereka mengangkat tubuh kecilmu;

Terbujur kaku

 

Rabbi...!

Ikhlaskan aku

Melepas gadis kecilku.

Di senja kelu nan bisu

 

Bogor , 23 Oktober 2009

 

Indah IP

Mungkin Tak Kan Mampu

 

dik,

mungkin tak kan mampu uni*) pijakkan kaki kembali

di tanah itu

 

di tempat mana pernah kita kunyah beruas-ruas tebu sambil

tertawa

memandang polah beruk pemetik kelapa,

di dekat mana puluhan jenjang berlumut pernah bolak-balik kita

turuni

menuju mata air jernih di samping surau tua,

di sisi mana pernah tertancap tiang-tiang kokoh penyangga atap

bergongjong yang kini rubuh dan tertanam dalam bersamamu

 

31 Oktober 2009, 24.00

                                          

*) Uni= kakak perempuan

 

Jack  Efendi

Ya Allah, Apakah Kami Ini

Tukang Obat di Perempatan Jalan?

 

Masihkah Engkau belum puas bercanda dengan kami?

Sehingga Engkau mencolek kami dengan bencana-Mu di negeri ini?

Atau Engkau murka melihat tingkah laku kami?

Yang selalu membicarakan tentang Agama-Mu

Di seminar-seminar, di diskusi panel atau diforum-forum

Namun sikap kami terkadang masih terbalik dengan apa yang kami yakini

 

Kami mengaku menyembah-Mu, lewat sholat dan puasa yang Engkau Wajibkan

Namun kami juga masih mempercayai tentang hal-hal yang klenik

Bahkan tindakan-tindakan yang dianggap pamali oleh adat kami

Jelas klenik dan pamali tidak ada dalam agama-Mu

Tapi kami takut untuk meninggalkan klenik itu

 

Atau Engkau sudah muak dengan sikap kami?

Sehingga Engkau murka kepada tanah dan negeri kami?

Ataukah memang kami yang terlalu tak mengerti makna dari Wahyu-Mu?

Kami hanya bisa membaca Al-Qur'an tapi tak paham kandungannya

Ya Allah.....apakah sikap kami ini seperti tukang obat yang dipinggir jalan-jalan?

Yang menawarkan obat dengan berbagai khasiat yang terkandungnya

Mengajak orang-orang lain untuk meminum obat, namun aku tak meminumnya

Menyuruh orang beramal, sholat, zakat dan sebagainya.

Namun aku selalu mengharapkan amplop ketika aku habis menjual ayat-ayat-Mu

 

Lalu Engkau menampar kami lewat Wahyu-Mu

(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.".

 

Engkau menyindirku dengan perkataan-Mu, aku tak tahu itu

Padahal aku sering mendengar orang-orang membaca ayat itu

Namun otakku yang terlalu dungu tak menjangkau makna yang masih membisu

Sekarang Engkau membuktikan segala Firman-Mu

 

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

 

Semua memang kami yang telah lalai dan terlalu sombong dengan setitik ilmu yang Engkau Anugrahkan kepada kami

 

Jakarta, 12 Oktober 2009

 

Jun An Nizami

Sajak-Sajak Yang Terisak

 

/1/

tanpa firasat, aku gantungkan sajak-sajakku di ranjang karatan ini. di sebuah negeri yang cantik, di sebuah kota yang resik

 

yang kami kira tak akan tergapai angker merah petaka, dan kami kira tak seburuk rupa dosanya amerika..yang diincar kutuk ratusan bendera!

 

dan yang kami kira tak seburuk malam kota jakarta, yang mulai batuk-batuk, juga mulai renta

 

/2/

Ia tahu kami tengah onani di ranjang yang mulai reyot ini, yang tiangnya entah tertancap dimana, dan tujuh lapisannya tiba-tiba tipis terasa

 

ketika itu, kepala kami Ia belai, lalu telinga kami Ia sentil, kemudian ranjang ini tiba-tiba digoyang-goyangNya!

 

Kami berhambur, sehambur-hamburnya! sama-sama melarikan diri. sendiri-sendiri. lari seegois-egoisnya diri

 

aku ke arah utara lapang terbuka, yang selainku entah lari kemana

 

mungkin ini dia masa! ketika penyair-penyair terpisah dari sajak yang tengah disusuinya, juga ketika para pengarang merasakan nyata imajinasi-imajinasinya

 

lari, selari-larinya. tapi lari kemana? ketika adanya kesempatan dan tak tersedianya keselamatan tak sesenti pun jaraknya

 

/3/

detik arloji, jam dinding di lantai, terus saja menyudutkan hati kami, atas separuh jaman yang kami gadai pada kesia-siaan. padahal kami tahu, jarum suntik dan cairan kematian selalu mengintai lewat pintu belakang

 

di sinilah kami, di pengungsian. dengan harus mengakui bahwa aku dan perilaku, terus saja melumuri luka hati ibu dengan garam dan cairan cuka baru

 

meski ibu yang lebar mulutnya

 

dan inilah anak-anak kami, anak hasil perselingkuhan orangtua-orangtua, yang di keningnya memilih tatto tanda seru ketimbang tanda tanya

 

Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com
5a.

Met MIlad Kang DAni

Posted by: "yan_ku" yayan_unj@yahoo.com   c_al_iyan

Thu Nov 12, 2009 1:20 pm (PST)



Assalamu'alaykum Wr Wb,

Met milad ya kang DAni
Sukses selalu dan terus memotivasi semua
masyarakat eska pada umumnya dan saya pada khususnya
he he he

Weleh-weleh
kadonya gratisan tiket seminar boleh ya (sambil berdoa)????
kalau angkat-angkat (bantu-bantu maksudnya) bisa insyaAllah.

Wassalamu'alaykum Wr Wb,

-------------------------------------
Yayan Supardjo

http://ya2nya2n.multiply.com
mobile: +628159518816
flexy: 021-33810886
voiprakyat: +62 188 1001 83595
email: yayan_unj@yahoo.com

Bagi yang ingin dapat harga pulsa SUPER MURAH klik saja:
www.tombolpulsa.com
http://tombolpulsa.multiply.com

Message: "If you continually give, you will continually have"

----------------------------------------------------------

Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/
5b.

Re: Met MIlad Kang DAni

Posted by: "beni jusuf" kangbeni@gmail.com

Thu Nov 12, 2009 7:57 pm (PST)



Buat Bos Dani,
semoga makin jaya. Semoga panjang umur dan dilimpahi selaksa keberkahan.
Mantabs bos.

Wassalam

Beni Jusuf
www.lorongcahaya.multiply.com

2009/11/13 yan_ku <yayan_unj@yahoo.com>
>
>
>
> Assalamu'alaykum Wr Wb,
>
> Met milad ya kang DAni
> Sukses selalu dan terus memotivasi semua
> masyarakat eska pada umumnya dan saya pada khususnya
> he he he
>

6a.

[catcil] Nonton Emak Ingin Naik Haji

Posted by: "Novi Khansa" novi_ningsih@yahoo.com   novi_ningsih

Thu Nov 12, 2009 7:03 pm (PST)



Akhirnya, nonton lagi...
Bisa diitung pakai jari berapa kali aku nonton bioskop, bahkan sejak tahun 2002/2003, aku baru nonton bioskop pas Laskar Pelangi, dan kini Emak Ingin Naik Haji.
Mungkin karena bukan tipe yang nggak terlalu suka nonton dan nggak suka masuk bioskop :D

Pas kemarin, 12 November, nonton bareng teman-teman di Metropole XXI Emak Ingin Naik Haji, lumayan jauh sama rumah, dengan perjuangan yang cukup seru :D
Hujan deras sempat membuatku ganti ojek ke bajaj, tapi serunya, si tukang ojek yang nyariin bajajnya :D, hehe...
Alhamdulillah, sampai di tempat sebelum mulai :)

Secara keseluruhan ceritanya sederhana, tapi mendalam, mengharukan. Terpikir pasti banyak banget emak-emak yang punya mimpi yang sama, naik haji. Sesuatu yang rasanya jauuuuuh banget dengan biaya yang terus naik tiap tahunnya.

Subhanallah, kehidupannya aja itu benar-benar sederhana, kontras dengan tetangganya yang keluarga kaya. Kayanya juga kaya banget. Gambaran masyarakat sekarang... yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Di sini aku baru bisa sedikit cerita, jadi ini ini emang bukan review, tapi curhat, hehe....

Yang jelas, di film ini juga diangkat isu-isu sosial, tentang tujuan ibadah haji, umrah, yang seolah-olah cuma jadi gaya hidup atau asal keren aja... sementara ada orang yang sedemikian tulusnya mengusahakan ke sana. Banyak kejadian yang bikin gemes, geram, tapi ada juga yang lucu, yang jelas juga bikin nangis...

Memberi begitu banyak pelajaran berharga, bahwa, rezeki itu di tangan Allah, kalau Allah berkehendak itu akan terjadi, dan... subhanallah, pintu-pintu untuk menuju rumah-Nya bisa lewat apa aja... Aku percaya itu... karena aku ngalamin sendiri ketika diizinkan mengunjungi rumah-Nya di Baitullah lima tahun silam untuk umroh dengan gratis...

Apa yang dialamin emak dan Zein pun amazing... kayaknya apa mungkin? Tapi emang hal itu bisa terjadi... Allah itu memang maha segala-galanya.... :)

Memberi banyak pelajaran untuk terus berjuang dalam hidup....

Jangan menyerah... jangan menyerah... :)

Nyok nabung, nyok...
biar bisa pergi haji, pasti ada jalannya deh kalau ada kemauan dan niat :)
kayak si emak :)

Recomended, deh
Nonton, yah :)

Dari kemarin (12 Nov), serentak diputar di bioskop-bioskop :)

6b.

Re: [catcil] Nonton Emak Ingin Naik Haji

Posted by: "anty th" anty_th@yahoo.com   anty_th

Thu Nov 12, 2009 9:34 pm (PST)



Di Medan belum tayang ......
hiks hiks

yang masih nagkring tu malah hantu kuntilanak
huaaaaa

Emak mu ini pengen nonton Nov ...
^_^

salam
anty

7.

(Catatan kecil) Anak-anakku Jacko Mania!

Posted by: "Elisa Koraag" elisa201165@yahoo.com   elisa201165

Thu Nov 12, 2009 7:15 pm (PST)



Note:
Aku yang belum sempat memenuhi keinginan Bas dan Van untuk menonton This is it!
 
Anak-anakku Jacko Mania!
Icha Koraag
 
Sebagai ibu, istri dan perempuan pekerja, waktuku sebagian besar tersita untuk urusan pekerja. Mulai bangun pukul 04.30, mempersiapak keperluan anak dan suami, termasuk masak untuk sarapan dan bekal mereka.  Berangkat pk. 7.30 sampai rumah kembali sekitar pk. 19.00. Nyaris setengah hari di luar rumah untuk urusan pekerjaan.
Dan biasanya kalau sudah pulang, bersih-bersih diri, istirahat sambil ngobrol dengan Bas dan Van juga papanya, lalau menyiapkan makan malam. Pokoknya lewat pk. 21.00 aku nyaris kehabisan energy. Mau menulis?  Begitu banyak yang ingin di tulis. Tapi kalau aku mengikuti keinginanku menulis, aku mengabaikan rasa lelah dan anak-anak terutama si kecil Van. Yang menjelang tidur masih memerlukan aku. Selain itu terkadang kalau Van sudah tidur, aku masih harus mengintip  computer untuk mengevaluasi kerjaan. Biasanya pukul 22. 15 mataku benar-benar mulai sulit di buka. Dan jadwal itu berputar 5 hari. Sabtu dan Minggu agak lumayan bisa bangun lewat dari pukul 7. Karena di jam-jam itu kedua anakku sudah pasti minta susu atau sarapan.
Menulis bagiku adalah salah satu wujud kesenangan maka aku mengalahkan kesenanganku itu dengan merelakan diri bersenda gurau atau ngobrol dengan Bas dan Van menjelang mereka tidur. Dan biasanyapun aku ikut tertidur. Esok pagi, pk. 4.30 aku sudah harus bangun. Pendek kata agak sulit menyisihkan waktu untuk menulis.
Sebenarnya bukan aku mengabaikan menulis. Kadang tulisanku hanya tertuang sebagai catatan harian tanpa sempat aku postingkan di milis atau di blog. Sekarang aku mau sedikit bercerita mengenai dua malaikat kecilku Bas dan Van.
Kematian tragis King of Pop Michael "Jacko" Jackson turut menjadi perhatian Bas dan Van. Ini tak lepas dari peran media yang hingga lebih dari seminggu pemakaman Jacko, beritanya masih mewarnai televisi. Papanya anak-anak yang juga penggemar music, banyak bercerita pada Bas dan Van melengkapi berita seputar Jacko. Soalnya saat Jacko mengguncang dunia, aku dan suami  masih duduk di SMA. (Waktu itu belum saling mengenal) Bahkan papanya anak-anak mampu menyanyikan syair lagu-lagu Jacko dengan baik.
Saat menjelang tidur, Van dan Bas dengan antusias menceritakan kembali apa yang didengar dari tv maupun dari papanya. Mereka berdua mampu bercerita seakan mereka yang berada di situasi saat Jacko mendunia. Ah dasar anak-anak. Jiwa dan pikiran mereka memang seperti spon, yang dengan cepat menyerap hal-hal baru, apalagi kalau mereka suka.
Keduanya memang  sangat menyukai music. Buatku hal itu menyenangkan saja. Hampir sepanjang kegiatan mereka, aku melihat mereka selalu bersenandung. Bagiku sebagai satu pertanda perasaan mereka nyaman. Karena tidak ada seorangpun kalau susah hati atau tidak nyaman lalu bersenandung. Selain itu aku juga suka melihat mereka mengganti syair seiring dengan kegiatan yang mereka lakukan. Aku tahu untuk yang satu itu mereka meniru aku.

Saat Bas dan Van masih balita. Jika aku membawa mereka untuk menyikat gigi, aku selalu bernyanyi dari lagu "Kakak Mia" yang syairnya aku ganti.
Wahai kuman...wahai kuman
Jangan suka kamu sembunyi.
Itu yang gendut  yang warna hitam
Ayo keluar dari gigiku.
Kerapkali aku melihat kalau Bas dan Van sedang bercanda, mereka berbalas syair dengan mengganti syair semau-mau mereka. Kadang mereka cemberut kalau syairnya tidak bagus tapi sering juga mereka tertawa tergelak-gelak. Itu juga tanda yang meyakinkan aku, mereka berbahagia.
Lebih dari 2 jam mereka bisa asik mengulang-ulang nonton VCD Michael Jackson. Dan sesekali mengikuti gaya Jacko menari. Aku sempat geli ketika ngobrol dengan papanya anak-anak.
"Pa,,,edan juga si Jacko bisa lentur begitu menarinya!"
"Itu karena dia menekuninya dengan serius!´ Jawab suamiku
"Mungkin juga karena berkulit hitam kali....kan disana AfroAmerica memang pandai menari semua!" ujarku lagi
"Ya, enggaklah, Jacko berlatih sudah sejak usia 5 tahun, ma!´ bantah suamiku. Tiba-tiba Van angkat bicara.
"Iya ma, Jacko itu seperti aku, sejak 5 tahun sudah berlatih menari!´ Ujar Van serius.
Aku menahan senyum sambil bertukar pandang dengan suamiku. Jujur, geli benar mendengar Van berkata demikian.  Saat itu lagu Heal the world berkumandang. Kembali Van berkomentar.
"Ini lagu aku suka banget. Suara piano dan gitarnya membuatku nyaman. Jacko menyanyikannya juga bagus banget!" Ujar Van . Aku jadi seriues mendengarkan, apa iya piano dan gitarnya terdengar nyata? Bagiku musiknya gabungan tapi memang Heal The world terasa menyihir pendengarnya.
Usai lagu itu, papanya anak-anak menterjemahkan syair Heal the world dan sedikit latar belakang mengapa lagu itu tercipta. Bas dan Van diam. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan namun aku tahu ada sesuatu yang mereka tangkap dan pahami. Ya, dari seorang King of Pop Michael Jackson banyak yang bisa kita pelajari. Pesannya lewat karya musiknya patut kita tiru. Hidupnya didedikasikan untuk music dengan membawa pesan perdamaian. Musik memang bahasa yang universal. Warna kulit boleh berbeda, warna rambut boleh berbeda tapi music perdamaian mampu menembus semua dinding perbedaan untuk wujudkan  dunia menyadi tempat yang lebih baik untuk aku dan kamu..! 14 Juli 2009. Icha Koraag (Di sela-sela makan siang)

Aku ngeblog maka aku bahagian
http://elisakoraag.blogspot.com/

8a.

(Rampai) Mencintaimu.

Posted by: "Elisa Koraag" elisa201165@yahoo.com   elisa201165

Thu Nov 12, 2009 7:27 pm (PST)



 
MENCINTAI KAMU
Icha Koraag
 
 
Mencintai kamu
adalah membiarkan getaran elektronik mengirim strom
ke sudut-sudut jiwaku,
membiarkan getaran itu melenakanku antara sadar dan tidak.
 
Mencintai kamu
Adalah membiarkan logika tak terpakai
Dan mengizinkan sebuah ketidakpastian  akan sebuah rasa
Mempermainkan emosi ini
 
Mencintai kamu
Adalah melihat awan dilangit selalu dihiasi pelangi
Walau kenyataannya hanya awan abu-abu penuh petir menakutkan
Namun aku tetap tersenyum
 
Mencintai kamu
Menepiskan kesadaran akan ketidak sadaran pada lingkungan sekitar
Dan memaksakan semua sealur dengan pikirku.
Untuk serasa bersamaku dalam ceria
 
Mencintai kamu
Adalah sebuah kebahagiaan semu yang dipaksa menjadi nyata
Sehingga tak tahu dimana yang nyata
Cuma satu uang pasti, aku bahagia
 
Mencintai kamu
Selalu ada kehangatan di hati ini.
Membuat hidup ini lebih berarti.
Karena ku tahu engkaupun mencintaiku.
 
HO Bintaro
20 Oktober 2009
 
Aku ngeblog maka aku bahagia.
http://puisinyaicha.blogspot.com/2009/11/mencintai-kamu-icha-koraag-mencintai.html

8b.

Re: (Rampai) Mencintaimu.

Posted by: "punya_retno" punya_retno@yahoo.com   punya_retno

Thu Nov 12, 2009 9:02 pm (PST)



mencintai kamu
adalah sejenak jeda
di selipan daftar monoton rutinitas yang melelahkan

mencintai kamu
adalah pembanding suatu parameter kesabaran
saat saya siap meledak memuntahkan lahar

mencintai kamu
adalah sekalimat mantra
yang terus menerus dirapal, saat saya butuh untuk dikuatkan

mencintai kamu
adalah sebentuk ingatan samar,
yang hadir kala serangan itu datang, dan saya kembali meregang

mencintai kamu
adalah secercah pelita semangat dan harapan
kala saya mulai payah, dan kaki terseok siap menyerah

mencintai kamu
adalah seuntaian doa
agar saya diberikan perpanjangan waktu satu hari lagi
untuk mencintai kamu
seperti ini

-retno-
ps: peluk cium utk bas dan van, bunda icha :)

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Elisa Koraag <elisa201165@...> wrote:
>
>  
> MENCINTAI KAMU
> Icha Koraag
>  
>  
> Mencintai kamu
> adalah membiarkan getaran elektronik mengirim strom
> ke sudut-sudut jiwaku,
> membiarkan getaran itu melenakanku antara sadar dan tidak.
>  
> Mencintai kamu
> Adalah membiarkan logika tak terpakai
> Dan mengizinkan sebuah ketidakpastian  akan sebuah rasa
> Mempermainkan emosi ini
>  
> Mencintai kamu
> Adalah melihat awan dilangit selalu dihiasi pelangi
> Walau kenyataannya hanya awan abu-abu penuh petir menakutkan
> Namun aku tetap tersenyum
>  
> Mencintai kamu
> Menepiskan kesadaran akan ketidak sadaran pada lingkungan sekitar
> Dan memaksakan semua sealur dengan pikirku.
> Untuk serasa bersamaku dalam ceria
>  
> Mencintai kamu
> Adalah sebuah kebahagiaan semu yang dipaksa menjadi nyata
> Sehingga tak tahu dimana yang nyata
> Cuma satu uang pasti, aku bahagia
>  
> Mencintai kamu
> Selalu ada kehangatan di hati ini.
> Membuat hidup ini lebih berarti.
> Karena ku tahu engkaupun mencintaiku.
>  
> HO Bintaro
> 20 Oktober 2009
>  
> Aku ngeblog maka aku bahagia.
> http://puisinyaicha.blogspot.com/2009/11/mencintai-kamu-icha-koraag-mencintai.html
>

8c.

Re: (Rampai) Mencintaimu.

Posted by: "anty th" anty_th@yahoo.com   anty_th

Thu Nov 12, 2009 9:31 pm (PST)



bunda dan mbak retno
*anty meleleh*
hiks hiks

salam sayang
anty

9.

(Catatan Kecil) Semangkuk Mie ayam ...............

Posted by: "Elisa Koraag" elisa201165@yahoo.com   elisa201165

Thu Nov 12, 2009 7:34 pm (PST)



SEMANGKUK MIE AYAM TERBAYAR LUNAS
DENGAN SEBUAH PELUKKAN.
Icha Koraag
 
Di lemari es, ada kornet ayam, kentang, daun bawang dan telur. Maka akupun membuat perkedel karena aku tahu suamiku menyukai perkedel apalagi jika di temani semangkuk sup sayuran. Sementara Bas dan Van lebih menyukai sup sayuran dengan ikan atau telur. Ya, aku akan membuat perkedel, telur dadar, telur ceplok dan sepanci sup sayuran, untuk makan malam. Setoples kerupuk udang sudah di goreng.
Masing-masing anggota keluargaku punya selera.  Bas lebih suka telur di kocok (dadar) sementara Van lebih suka di ceplok (Mata sapi). Mengenali jenis-jenis makanan/masakan yang mereka sukai adalah seni tersendiri. Ada kepuasan yang tak terlukiskan dengan kata, manakala mereka mengucapkan terima kasih sambil berkata "Masakan mama top!"
Selalu ada kehangatan yang merembes ke sudut hati, manakala suami dan anak-anakku menyukai masakanku. Tapi ada juga rasa jengkel kalau mereka memilih. Maksudku, mereka mengenal masakanku dan ada beberapa yang mereka suka dan yang tidak di suka. Berbahan dasar sayurlah yang cenderung tidak di suka. Jadi terkadang sayuran yang sudah dimasak tak tersentuh karena memang dihindari.
Tapi aku, ibu yang cerewet untuk urusan makanan. Tak ada istilah menawar untuk makanan berbahan dasar sayur. Sayuran wajib di makan. Tapi sesekali papanya suka mengikuti kemauan anak-anak. Bas sudah semakin besar, disekolah ada pelajaran mengenal makanan sehat. Maka sekarang Bas  di beri sayur apa saja tidak menolak, kecuali aku memberi pilihan. Misalnya dengan pertanyaan "Mau makan apa?"  Soalnya, senang juga loh bisa memenuhi keinginan mereka. Sementara Van, jauh lebih gampang dalam hal makan.
Bila kami akan berpergian, aku harus memastikan Bas sudah dalam kondisi kenyang makan. Karena Bas tidak mudah makan. Sementara Van bisa menikmati hampir semua jenis makanan. Baik itu somay, gado-gado atau lemper.
Terkadang aku suka memberi kejutan kecil. Kalau hari Sabtu atau Minggu, seperti  minggu lalu. Pagi-pagi aku ke pasar dan berbelanja. Sepulang dari pasar Bas menyongsongku depan pintu dan bertanya, "Mama, masak apa hari ini?" Sambil tersenyum aku mengdipkan sebelah mata "Itu rahasia!´ Jawabku.
Biasanya Bas akan mengekor di belakangku dan mendesak "Masak apa ma?" tanyanya penasaran. "Pokoknya yang enak-enak!" Jawabku.  "Oh....!" Cuma itu jawab Bas lalu meninggalkan dapur. Aku mengeluarkan ayam, mie, jamur, daun bawang, bakso dan pangsit. Aku berniat membuat mie ayam kesukaan Bas. Bakso dan pangsit pelengkap mie ayamku , Van dan papanya.
Setelah ayam kubersihkan, kupisahkan daging, tulang dan kulit. Kulit ayam kulelehkan untuk mendapatkan minyaknya. Sedang daging ayam, di potong kotak-kota, begitu pula jamur kancing lalu di tumis dengan bawang putih, sedikit minyak wijen, merica, dan garam. Lalu aku membuat kaldu ayam dari sisa tulang dan dan sedikit dagingnya. Tak sampai setengah jam, mie ayam siap tersaji. Belum sempat ku letakkan di meja makan. Bas sudah ke dapur mengikuti aroma yang mengundang.
"Aku lapar!" Ujar Bas.
"Mama tahu, mie ayam sudah siap!" Jawabku sambil membawa dua mangkok mie ayam ke meja.
"Asyik...! Sudah lama banget lloh mama gak masak mie ayam.!" Ujar Bas dengan gembira. Lalu  berlari, kudengar ia melaporkan pada papanya dan  mengajak Vanessa makan. Tak lama Bas kembali mendekatiku
"Terima kasih mama!" Ujar Bas sambil memelukku. Ada kehangatan  yang mengalir di dada ini. Mie ayam buatanku tentu tak seenak Bakmie Ayam Gajah Mada, atau Mie Ayam Bangka atau Mie Ayam yang terkenal lainnya tapi  Mie ayam penuh cinta  buatanku terbayar lunas dengan sebuah pelukan.  Bas dan Van, mama selalu mencintai kalian. (HO Bintaro 12 Nov 2009)
Aku ngeblog maka aku bahagia.
http://elisakoraag.blogspot.com
 

10.

Menemukan kembali Sekolah Besar Kehidupan..........

Posted by: "humairayusuf" humaira_ys@yahoo.com   humaira_ys

Thu Nov 12, 2009 8:06 pm (PST)





Ketika Pendidikan hanya menghasilkan air mata,

Aku ingin menemukan kembali "Sekolah Besar Kehidupan".....

 

Tulisan di atas adalah penggalan bait puisi dari seorang Andreas
Harefa,...renungan beliau tentang kondisi perjalanan pendidikan dan kondisi
sekolah di Indonesia...Bagi
yang berprofesi sebagai guru,..kepala sekolah atau pemilik sekolah atau
pemerhati dunia pendidikan, Tulisan dari andreas harefa ini...sangat
menginspirasi untuk menjadi lebih baik dalam memandang sebuah proses
pendidikan. Karena Pendidikan sejatinya adalah Educare dan Enlightment.

 

Berikut tulisan lengkap itu...

 

KETIKA PENDIDIKAN HANYA MELAHIRKAN AIR MATA

Oleh Andreas Harefa

Aku mencoba melacak kembali asal usul sekolah

Aku memikirkan ulang peran dan tanggungjawab orang tua dan masyarakat

Aku mencoba mengurai peran dan tanggungjawab pengajar persekolahan

Dan mempertanyakan peran "makhluk" yang bernama Kepala Sekolah

Khususnya dalam wacana otonomi pendidikan yang membingungkan itu

 

Ketika pendidikan hanya menghasilkan air mata

Aku ingin menemukan kembali " Sekolah Besar Kehidupan "

Di mana anak-anak diterima dan dicintai apa adanya

Di mana anak-anak tak lagi dilarang bermain dan bercanda

Dimana anak-anak tak lagi dikorbankan oleh ambisi gila para orang tua

Di mana anak-anak tak lagi "dibuang" ke keranjang "Sekolah
dan "Kursus"

Di mana anak-anak tak lagi stress dan tertekan oleh segudang "pelajaran"

 

 

Di mana orangtua berhenti menghukum anaknya untuk "belajar"

Di mana orangtua bersedia belajar bersama anak-anaknya

Di mana orangtua mendampingi anaknya "bergaul" dengan khaliknya

Di mana orangtua mendemonstrasikan kerukunan diantara mereka

Di mana orangtua sadar, tak ada pihak yang dapat menggantikan mereka
sepenuhnya

 

Ketika pendidikan hanya menghasilkan air mata

Aku rindu pengajar-pengajar yang ramah namun berwibawa

Yang tak sudi lagi ditumpulkan otaknya oleh penatar-penatar pesanan

Yang tak perlu dipaksa-paksa untuk belajar mengikuti perkembangan ilmu

Yang tak lagi berselingkuh dengan penerbit buku ajaran untuk dapat obyekan

yang tak menerima lagi gajinya disunat sesuka hati birokrat penghianat

Yang tak takut ujian ulang untuk mendapatkan lisensi mengajar
terstandarisasi baik mutunya

 

Yang cintanya pada murid-murid itu tak kalah dengan cinta ibu pada anak
kandungnya

Yang tahu bahwa keunggulan otak bukanlah segala-galanya, meski mungkin
penting

Yang sadar bahwa manusia yang satu tidak pernah unggul dengan yang lainnya

Yang percaya bahwa setiap murid itu punya fitrah, homo imago dei

Yang hanya ingin membantu murid menemukan jatidirinya sebagai manusia

 

Yang mampu mendampingi ank-anak itu mengenal bakat dan keunikannya
masing-masing.

Yang memberikan teladan hidup bersama dalam kerukunan di tengah sejuta
perbedaan

Yang kerelaannya berkorban tak lagi boleh dimanipulasi leh pejabat birokrasi

Yang iman dan ketakwaannya mempesona setiap pribadi anak didiknya

Yang selalu mengajar belajar dan bukan mengajar menghafal saja

 

KETIKA PENDIDIKAN HANYA MENGHASILKAN AIR MATA

AKU MENCARI-CARIMAKHLUK YANG BERNAMA KEPALA SEKOLAH

Dan bertanya-tanya apa saja yang mereka lakukan selama ini ?

Adakah mereka berusaha memahami kebutuhan masyarakat sekitarnya ?

Adakah mereka selalu mencari masukan dari lingkungan di sekitar sekolah ?

Adakah mereka punya keberanian untuk memulai pembaharuan ?

Adakah mereka menyadari pentingnya mitra sekolah dan komite sekolah ?

Dan adakah tekad bulat untuk menjadikan sekolahnya otonom, tanpa banyak
cincong ?

Serta adakah inisiatif-kreatif untuk tidak lagi menunggu petunjuk dari pusat
?

 

 

Tulisan andreas harefa adalah sebuah tulisan yang bisa jadi dapat menjadi
motivasi perubahan dalm memandang sebuah sekolah, belajar, anak didik,
pendidikan., proses belajar....Bukan sebuah kebenaran yang pasti, tapi sebuah
renungan dari realita kekinian tentang pendidkan anak bangsa.....

 

Karena pada hakekatnya belajar itu adalah :

 

Learning to know : Penguasaan yang dalam dan luas akan bidang ilmu tertentu,
termasuk di dalamnya Learning to How

 

Learning to do   : Belajar untuk mengaplikasi ilmu, bekerja sama dalam
team, belajar memecahkan masalah dalam berbagai situasi

 

learning to Be   : belajar untuk dapat mandiri, menjadi orang yang
bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.

 

Learning to live together      : Belajar memhami dan
menghargai orang lain, sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya.

 

 

Sekilas renungan dalam meniti perjalanan menjadi pendidik dan pemerhati
dunia pendidikan menjadi lebih baik..!

Maju terus Pendidikan Indonesia.....!!!

 

 

 Mira Humaira

http://syifahumaira.multiply.com

http://inspirasiguru.wordpress.com

 

11a.

di lima waktu

Posted by: "rahma" rachma_dewod1981@yahoo.com   rachma_dewod1981

Thu Nov 12, 2009 8:07 pm (PST)



di lima waktu

Dalam Lembutnya suara azan subuh,
aku berharap kemahaluasan rahmat mu ya allah..
tentang segala bentuk kebaikan nasib untuk semuanya..

Dalam hangatnya dhuha yang cerah..
aku berharap kemahakayaan mu ya allah..
tentang segala kecukupan hidup di dunia dan akhirat untuk semua makhluk mu ya allah..

Dan dalam semangatnya dhuhur yang terik..
aku berharap kemahakuatan mu ya allah
tentang segala kemampuan semua makhlukmu
untuk melewati kesulitan dan godaan hidup ini
dengan cara yang iklas, yang membawa kebaikan untuk semua makhluk
yang masih ingat akan sujut di kala terik ini..

Lalu Ketika Asar mu yang tenang dalam kelelahan
dalam sujut ku aku berharap kemahaluasan ilmu mu ya allah..
tentang semua pelajaran hidup ini..tentang kebaikkan, keiklasan, dan kesabaran..
untuk semua makhluk mu yang tetap sujut di sore ini..

dan dalam temaramnya magrib yang pikuk..
aku berharap kemahalembutan mu ya allah..
untuk memahami segala salah dan hilaf hidup ini
tentang segenap ampunan mu yang maha luas ya allah..
untuk semua makhluk mu yang masih ingat terpanggil
sujut di azan magrib ini..

Dalam merdunya azan isya yang penat..
yang terbaring oleh ribuan kepanatan atau yang masih berpindah
mengais setiap tapak rezeki.. demi kemualian hidup
atau demi keluarga yang menunggu..
aku berharap kemaharahmanan mu ya allah..
tentang segala sisi hidup yang kami banyak lalai
kerena tak henti mengejar dunia ..
aku berharap tentang kasih sayang mu yang tak bertepi ya allah..
untuk semua makhluk mu..yang masih iklas sujut di isya ini..

dan dalam ketinggian sepertiga malam mu wahai yang maha tinggi..
aku berharap tangan mu yang selalu membimbing ku
tentang mata mu yang selalu menatap lembut ketika tangan ku masih berbuat dosa..
tentang kasih sayang mu yang masih mengelilingi ku
ketika aku masih terpingkal-pingkal dalam kekhilafan..
ampun kan aku wahai rabb yang maha perkasa..
pilihlah aku menjadi wakil-wakil mu yang menyebarkan rahmat dan kebaikan
percayakan lah pada ku segala kebaikan ilmu dan manfaat.
dan syahidkan lah aku di jalan yang engkau ridhoi..yang rindu bersimpuh di kaki mu..
ya allah..ampun kan setiap dosa yang menempel di tubuh ini..
yang berbekas di hati ini..
yang bernoda di fikiran ini..
bimbing aku dan semuanya ya allah..
untuk selalu di jalan mu..

Dewod..

11b.

Re: di lima waktu

Posted by: "anty th" anty_th@yahoo.com   anty_th

Thu Nov 12, 2009 9:30 pm (PST)



^_^

Akhirnya gabung juga nih wi ...
Kasi salam kenal dlu donk ke temen2 SK ^_*

salam sayang
anty

11c.

Re: di lima waktu

Posted by: "APRILLIA" april_reto@yahoo.com   april_reto

Thu Nov 12, 2009 11:17 pm (PST)



LIKE THIS! (gambar jempol :D )

salam kenal,
April

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "rahma" <rachma_dewod1981@...> wrote:
>
> di lima waktu
>
> Dalam Lembutnya suara azan subuh,
> aku berharap kemahaluasan rahmat mu ya allah..

11d.

Re: di lima waktu

Posted by: "rahma dewi" rachma_dewod1981@yahoo.com   rachma_dewod1981

Thu Nov 12, 2009 11:38 pm (PST)



^.^ salam kenal juga april..

12.

Posted by: "rahma dewi" rachma_dewod1981@yahoo.com   rachma_dewod1981

Thu Nov 12, 2009 11:39 pm (PST)



Asslm..wr wb.

salam kenal buat semuanya..
hari ini saya mulai bergabung di milis ini..
banyak kisah menarik yang sarat hikmah di dalam milis ini
yang menjadikan saya tertarik untuk ikut bergabung...

Jabat Erat

Rahma Dewi

13a.

Re: menangkap maksud

Posted by: "Den Bagusnya" milis75@yahoo.com.sg   milis75

Fri Nov 13, 2009 12:16 am (PST)



Mas Abir,

sepertinya saya belom pernah mengalaminya,
soalnya saya tipe orang yg gak gampang tersinggung
dikata2in aja kadang gak tersinggung
apa lagi cuma disindir & tidak disengaja

biarin lah kalo cuma pribadi yang omel2in
toh awalnya juga gw dulu bukan apa2

CMIiW

D Bey
http://www.facebook.com/group.php?gid=247721620555

Recent Activity
Visit Your Group
Biz Resources

Y! Small Business

Articles, tools,

forms, and more.

Yahoo! Groups

Mental Health Zone

Mental Health

Learn More

Yahoo! Groups

Parenting Zone

Community resources

for parents

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web

Tidak ada komentar: