Messages In This Digest (10 Messages)
- 1a.
- Re: [ Catcil ] Ridentem dicere verum quid vetat..? From: febty f
- 1b.
- Re: [ Catcil ] Ridentem dicere verum quid vetat..? From: anty th
- 2a.
- Re: (catcil) Doa Senyum untuk Laki-Laki itu >> mbak Fety From: febty f
- 3a.
- Re: (catcil) Jalan cinta seorang penjual From: Jadikan Hidupmu Seindah Pelangi
- 4.
- (rampai) TAMU DI MALAM BUTA From: bujang kumbang
- 5a.
- Re: Hai salam kenal :) From: laela awalia
- 5b.
- Re: Hai salam kenal :) From: anty th
- 6.
- (Bukan Sekedar Resensi Film) EMAK INGIN NAIK HAJI From: bujang kumbang
- 7a.
- Re: menangkap maksud From: Abir Sabil
- 8.
- [Kelana] Kematian From: Aprillia EkaSari
Messages
- 1a.
-
Re: [ Catcil ] Ridentem dicere verum quid vetat..?
Posted by: "febty f" inga_fety@yahoo.com inga_fety
Sat Nov 14, 2009 4:04 am (PST)
ganti panggilan, ah :)
tetap senyum kak anthy..
lama gak chatting nih..
salam,
fety
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "anty th" <anty_th@...com > wrote:
>
> Ridentem dicere verum quid vetat..?
>
> Berkali kali tulisan itu muncul di YM ku setelah kalimat itu menjadi status di FB sahabatku itu.
> Berkali kali pula aku bilang "anty ngga faham"
> Lalu dia menuliskan :
> "What Prevents me from speaking the Truth with a Smile?"
>
> Sebuah kalimat yang membuatku tercenung karena bertubi tubi nya masalah yang menghampiri.
>
> Pekan lalu aku memang sempat "meledak" dan membuat orang yang ada di sekelilingku terperanjat. Teman kantor yang saat itu ada bersamaku bengong melihat aku bisa juga "meledak".
> Tak lama memang, namun aku tetap merasa bersalah. Dan aku harus berkali kali meminta maaf kepada teman kantorku itu karena dia harus melihat sinetron yang aku perankan saat itu.
>
> Mungkin bagi kebanyakan orang apa yang aku lakukan ini bukan hal yang luar biasa. Namun sangat luar biasa bila itu terjadi padaku yang sering ditanya :
> "Kak, kapan kakak bisa marah?"
>
> Dan ketika aku menyampaikan apa yang sudah aku lakukan kepada orang yang sering memberikan "warna" dalam alam berfikirku ini, meluncurlah kalimat :
> Ridentem dicere verum quid vetat..?
> Kalimat itu terus dihujamkan setiap aku menyampaikan apa yang ada dalam hati dan fikiranku.
>
> " Bahkan bukan mengenai "masalah" yg terjadi ma An..."
> " Penjelasan... banyak hal yg bakal harus dijelasin.."
> " Pembelaan diri.. sah sah aja klo mang porsi nya benar"
> " Masalah ??? sampe mati juga bakal ketemu yg namanya masalah to?"
> Lantas ... " Ridentem dicere verum quid vetat..?"
>
> Yah ... apa yang menghalangi ku untuk menyampaikan semua dengan senyum ?
> Apa yang menghalangi melakukan semua dengan segala ketenangan?
> Apa yang menghalangiku untuk selalu menyampaikan segala sesuatu dengan hati yang ikhlas, damai, dan penuh senyuman???
>
> " Smile With Your Heart.. Smile With Your Mind.. Smile With Your Face .. Smile With Your WORDS", ungkapnya lagi
>
> Sebuah perenungan buatku
> Akan sangat mudah tersenyum jika semua baik baik saja. Bahkan aku masih tersenyum walau hatiku gundah.
> Namun permintaan buat Smile with hearth, with mind itu jauh lebih bermakna.
> Jika Heart and Mind sudah tersenyum, maka Face and Words tentunya juga akan tersenyum.
>
> Tersentuh aku ketika status di FB ku menyiratkan nuansa hatiku yang muram,ada sebuah comment masuk :
> "k anty sayang..we always luv u. tetep tersenyum yaa..kyk di foto profil ntu"
>
> Duh ... banyak yang ingin melihatku tetap tersenyum rupanya ^_^
>
> Terima kasih atas semua dukungan, arahan , dan segenab cinta untukku.
>
> Seperti sms yang aku terima 2 hari yang lalu :
> " Kakak ngga boleh banyak fikiran, biar selalu sehat. Ning sayang ma kak anty"
>
> Hiks hiks ... terharu ... banyak cinta untukku
> So ...
> Ridentem dicere verum quid vetat..?
>
> Senyum itu indah...
> Senyum itu menyenangkan...
> Senyum itu menenangkan...
> Jadi, jangan lupa tersenyum ya sobat ... ^_*
>
> (sebuah nasehat untuk diriku tentunya ^_^)
>
> Medan, 14 November 2009
> Anty Thahir
>
- 1b.
-
Re: [ Catcil ] Ridentem dicere verum quid vetat..?
Posted by: "anty th" anty_th@yahoo.com anty_th
Sat Nov 14, 2009 7:12 pm (PST)
^_^ ganti jadi opo to mbak ....
hehehe
iya nih, lama ngga ngobrol
ngobrol yuk ...
udah an add id baru kan???
sssstttt for spesial person
wkwkwk
salam
anty
- 2a.
-
Re: (catcil) Doa Senyum untuk Laki-Laki itu >> mbak Fety
Posted by: "febty f" inga_fety@yahoo.com inga_fety
Sat Nov 14, 2009 4:12 am (PST)
hi..hi..april salah, sekarang lagi musim gugur. yang berguguran adalah daunnya. bukan bunganya :)
kata perempuan itu dan laki-laki tersayangnya, salam baik untuk april :)
salam,
fety
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "APRILLIA" <april_reto@com ...> wrote:
>
>
> wew, sakura pasti sedang berguguran di sana (iya ta? sok tahu mode on :D hihihi)
>
> wish all the best buat "laki-laki itu" dan istrinya mbak :)
>
> salam,
> April
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , febty febriani <inga_fety@> wrote:com
> >
> >
> > Doa
> > Senyum untuk Laki-Laki itu
> > Febty Febriani
> >
>
- 3a.
-
Re: (catcil) Jalan cinta seorang penjual
Posted by: "Jadikan Hidupmu Seindah Pelangi" rah_ma18@yahoo.co.id rah_ma18
Sat Nov 14, 2009 7:28 am (PST)
Tulisan bagus kayak gini katanya gak bisa nulis? piye to Mas? SIP!! Good!! Aku juga baru nyadar "Pembeli adalah Raja" tapi aku malah sering banget menawar, ya anggap aja aku raja yang sedang tak punya "kekayaan" malahan Raja sekarang kalau mau apa-apa kalau bisa gak bayar? heee... :D
Menanggapi tulisan sampeyan, jangan salah aku juga pernah jualan, emang rasa malu pada awalnya itu ada, tapi dari situlah aku banyak mensyukuri karena aku belajar untuk bisa lebih fight menjalani hidup. Aku mulai mencoba jualan ketika duduk di bangku kelas 2 SMA, waktu itu aku jual resoles dan gorengan lainnya yang kuambil dari tetangga temenku, aksiku ini gak pernah diketahui ortu, heee.... :D bahkan sampai sekarang aku tak bisa membayangkan gimana respon mereka jika tau anak termanis satu-satunya ini jualan gorengan di dalam kelas, yang mereka tau aku mengajar les privat dari rumah ke rumah.
Rasa malu memang harus dan wajib dimiliki oleh setiap manusia, jika nggak? wah bahaya tuch!!! Bisa malu-maluin :D Yaaa.... tau porsinya-lah kapan kita harus menempatkan rasa malu, untuk jualan kenapa musti malu? toh yang dijual bukan sesuatu yang haram atau melanggar norma hukum. Polisi yang ketahuan menjual miras dan togel aja bangga di ekspos di surat kabar (hee... kalau yang ini mah jangan ditiru ya?!)
Buat temen-temen yang pengen jualan silahkan jualan, apapun profesi kita tetep harus kita syukuri, jadi teringat perkataan "My Big Bos" "Apapun pekerjaan kita, kita harus bangga, kita harus tunjukkan ini lho pekerjaanku!" jangan minder OKE?!!! :D BANZAIIII!!! !
- 4.
-
(rampai) TAMU DI MALAM BUTA
Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id bujangkumbang
Sat Nov 14, 2009 7:28 am (PST)
Tamu Di Malam ButaFiyan Arjun
Tak, tik, tuk...
Tak, tik, tuk...
Tak, tik,tuk....
Kudengar suara derap sepatu tua
di muka teras
Melangkah dengan ringkih
Melewati pintu yang tak terkunci
Kucoba untuk pergi seorang diri
Ternyata tak ada orang sejak tadi
Tak, tik, tuk...
Tak, tik, tuk...
Tak, tik,tuk....
Terdengar suara berat sepatu tua itu lagi
Saat jam dinding berbunyi mengejutkan hati
Kucoba melihat seperti tadi
Sama
Tak bisa yang dapat kucari
Tak, tik, tuk...
Tak, tik, tuk...
Tak, tik,tuk....
Tibatiba datang sekelompok kupukupu
Menari
Bernyanyi
Meminta aku untuk menendendangkan
Lagu patah hati
Sampai mentari terbit esok pagi
Tak, tik, tuk...
Tak, tik, tuk...
Tak, tik,tuk....
Pagi itu kudengar suara itu lagi
Ternyata petugas PLN memberi intruksi
"Maaf listrik akan mati sampai malam
nanti"
Tak, tik, tuk...
Tak, tik, tuk...
Tak, tik,tuk....
Aku siapsiap mendengar suara sepatu tua
itu kembali
Meringkih
Ngeri
Membuat aku makin penasaran diri
Siapa (lagi) tamu yang datang malam ini
Ulujami-Pesanggrahan, 13 November 2009
Di kamar penuh inspirasi.
Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang! http://id.mail.yahoo.com
- 5a.
-
Re: Hai salam kenal :)
Posted by: "laela awalia" azkia_04@yahoo.com azkia_04
Sat Nov 14, 2009 7:29 am (PST)
waalaikumussalam...
salam kenal juga. iya boleh. aku juga masih baru...
- 5b.
-
Re: Hai salam kenal :)
Posted by: "anty th" anty_th@yahoo.com anty_th
Sat Nov 14, 2009 7:20 pm (PST)
Salam kenal kembali mbak2 and mas2
tapi napa pada singkat2 banget yah
namanya aja kita ngga tau
gimana bisa di masukin ke daftar penghuni baru nih
^_^
salam kenal dari saya
anty
- 6.
-
(Bukan Sekedar Resensi Film) EMAK INGIN NAIK HAJI
Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id bujangkumbang
Sat Nov 14, 2009 7:31 am (PST)
Judul
Film : Emak
Ingin Naik Haji
Pemain : Atik
Cancer, Reza Rahadian, Didi Petet, Ninik L. Karim, Ayu Pratiwi, Cut Memey,
Henidar Amroe, Helsi Herlinda dll
Sutradara : Aditya Gumay
Produksi : Mizan dan Smaradhana Pro
Skenario ; Adenin Adlan
Rilis : 12 November 2009
Mak
rumah mimpi
entah kapan kupersembahkan
tapi ia selalu ada dalam doaku
Opening dibuka dengan sebuah kain kanvas
yang sedang dilukis oleh Zein (Reza Rahadian). Di kain kanvas itu pulalah
terlukis Ka´bah Al-Mukaramah dengan begitu indah dan mengharukan.
Begitulah kegiatan (aktivitas) yang
dilakukan oleh Zein sebagai anak semata wayang Emak(Atik Cancer)-yang masih
hidup setelah ayah dan kakaknya itu tenggelam di lautan lepas. Dan tinggalah
Zein sebagai pelindung Emak seusai ia terpisah dari mantan istrinya (Helsi
Herlinda). Pun dengan Emak yang kesehariannya sebagai penjual kue
bertahun-tahun yang bertempat tinggal padat penduduk. Sehari-hari hidupnya
hanya menjual kue lalu dijajaki ke warung-warung tradisional kadang pula untuk
acara pesta. Lalu hasilnya pun ia sisihkan untuk niatnya yang suci.
Emak ingin naik haji.
Walau lima tahun Emak berhasil menyisihkan
uang dagangan kuenya yang sudah terkumpul lima juta. Namun lagi-lagi itu hanya
tinggal keinginan Emak yang suci. Walau ia tahu uang yang dikumpulkannya tak
mencukupi untuk niatnya pergi naik haji. Hanya tingal keinginan.
Apalagi suatu hari Emak berkata kepada
anaknya, Zein."Kalo pergi haji ongkosnya berapa, ya, Zein. Emak ingin banget ke
sana."
Hingga perkataan itu membuat Zein-sebagai
seorang anak yang ingin berbakti kepada Emak merasa bersalah. Ia tak bisa
membahagiakan Emaknya. Walau hasil menjajakan lukisannya tak pernah mencukupi
dirinya. Terlebih masalah datang secara tubi-tubi ketika bekas istrinya
memberitahukan bahwa anaknya harus segera dioperasi. Hingga akhirnya jalan
satu-satunya uang hasil tabungan Emak dijadikan dewa penolong untuk anaknya
yang sedang membutuhkan dana untuk operasi. Tapi Emak tetap Emak ia memiliki
hati terbuat emas.
Berbeda dengan kehidupan tetangga
dekatnya. Juragan Haji Saun (Didi Petet) dan istrinya Hj. Markonah (Niniek L.
Karim) bersama keluarganya dengan mudahnya pergi haji dan umroh berkali-kali
dan kapan saja mereka inginkan. Terlebih ketika keluarga H. Saun akan melakukan
umrah kembali membuat Zein merasa cemburu. Kini tinggal Zein yang berupaya
untuk menggantikan uang Emak-yang sudah dikumpulkan untuk membiayai operasi
anaknya yang sedang sakit itu. Hingga jalan pintasnya teringat rumah H. Saun-yang
akan berumrah lagi Zein berniat mencuri harta benda milik H. Saun.
Dilain cerita ternyata bukan hanya Emak ssja yang berkeinginan naik
haji tetapi ada pula Pak Joko yang niat pergi haji hanya sekedar tuntutan gelar
belaka dibelakang, haji. Itu pun hanya untuk menjaga gengsi dalam pemilihan
wali kota dengan cara pergi haji bukan karena niat dan tujuan semestinya.
Ya, begitu kontras memang antara kehidupan
Emak bersama anaknya, Zein dengan kehidupan keluarga H. Saun dan Pak Joko. Lalu
apakah niat Zein untuk mencuri berhasil? Apakah uang Emak bisa tergantikan? Dan
dapatkah Emak pergi naik haji? Mungkin disinilah rasa emosi penonton dikuras
saat menyaksikan film besutan karya Aditya Gumay yang telah lebih dahulu mengorbitkan
Olga, Ruben Onsu, Okky Lukman dalam "Lenong Bocah"nya-dengan diangkat dari
cerpen asli karya penulis muslimah yang cantik dan smart, Asma Nadia.
Namun sayang lagi-lagi cerita yang dengan
begitu bagusnya tidak dibandingi oleh akting para pemainnya yang tidak
semaksimalkan mungkin. Hanya tokoh Emak (Atik Cancer) dan Zein (Reza Rahadian)
yang begitu memakau. Ya, walau dari segi akting tak perlu diragukan lagi untuk
seorang Atik Cancer sebagai sineas film atau sinetron untuk sepesialis peran-peran
orang-orang marginal (baca: miskin). Begitu pun akting Reza Rahadian sebagai
orang baru di dunia film cukup menyedot perhatian. Terlebih ketika perannya di
film besutan Hanung Bramantyo dalam film "Perempuan Berkalung Sorban" sebagai
suami Ravelina S. Temat (Anissa) yang arogan begitu memakau dan menghayati.
Itulah yang saya lihat ketika mata saya
menjelajahi para akting-akting mereka dalam film "Emak Ingin Naik Haji." Atau, memang
mungkin akting tokoh kedua itu diporsibesarkan dari tokoh selain tokoh utama Emak
dan Zein saja? Atau....lebih jelas klik situs dibawah ini:
(http://www.facebook.com/profile. )php?ref=profile& id=1298556971# /notes/fiyan- arjun/bukan- sekedar-resensi- emak-ingin- naik-haji/ 175962902907
Terima kasih.
_____________________ _________ _________ _________ _________ _
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/
- 7a.
-
Re: menangkap maksud
Posted by: "Abir Sabil" abirsabil.81@gmail.com manhaj_fithriy
Sat Nov 14, 2009 7:06 pm (PST)
Terima kasih atas komentarnya. Saya beri pembukaan dulu ya..
Saya sekedar mencoba menuangkan pikiran (tentunya dengan tujuan saling
berbagi) tentang tema yang selama ini memang sering menjadi pusat
perhatian saya: kata dan makna.
Sebenarnya masih ada satu lagi hal yang perlu diobrolkan di samping
soal salah paham, yaitu salah bicara. Bagaimanakah tips-tips agar kita
tidak salah bicara? Jadi, judul thread ini seharusnya: mengutarakan
dan menangkap maksud.
Berbicara dan memahami pembicaraan adalah aktifitas yang sehari-hari
kita lakukan. Namun mungkin karena sudah menjadi rutinitas
sehari-hari, kita sering luput memperhatikan bagaimana membuat
aktifitas tersebut menjadi lebih baik dan berkwalitas. Tidak sekedar
tidak salah dalam memahami atau berbicara, tapi juga baik dan
berkwalitas.
Membalas komentar mba..
Apa ya maksud kecil hati itu?
Berusaha berempati dengan menempatkan diri seolah berada pada posisi
orang lain, memang sangat membantu kita memahami orang tersebut.
Tentunya, memahami tidak mesti berarti membenarkan atau menyetujui.
Komunikasi yang tidak disertai rasa empati akan cenderung terjalin
secara tidak baik. Seorang yang tiba-tiba marah kepada kita, kalau
kita tahu sebab mengapa ia marah dan kita berempati kepadanya, tentu
akan dapat kita hadapi dengan baik.
Kalau kita tidak tahu sebabnya, berhusnuzhzhon adalah cara yang paling ideal.
Berkenaan dengan memahami sesuatu dari kacamata lawan bicara, pastinya
membutuhkan kemampuan untuk "menekan ego" ya kan mba?
Abir
- 8.
-
[Kelana] Kematian
Posted by: "Aprillia EkaSari" april_reto@yahoo.com april_reto
Sun Nov 15, 2009 2:14 am (PST)
(Saat membersihkan folder-folder yang tak terpakai lagi, aku menemukan ini. Draft lama, yang sudah ada sejak Juli lalu. Hari ini aku selesaikan supaya "masa" itu tidak hilang. Karena memang tidak semua hal harus dibuang, meski di hari ini aku yakin bahwa masa lalu belum tentu lebih baik dari masa sekarang :) )
Senin, 20 Juli 2009. Aku sudah kembali dari Lembang ke Jakarta. Kali ini tidak menginap di rumah eyang di Pondok Bambu, melainkan di rumah teman (baca: kos-ap) di daerah Kuningan. Sangat dekat dengan lokasi dua hotel berskala Internasional yang meledak pada waktu itu.
Agenda hari itu adalah reuni dengan Donna (Wahyu-ap), Yusuf, Nyza, Mutia, Ary, dan "mas-mas" yang di kantor Kuningan (hahaha). Tujuan kami adalah kawasan kota tua Jakarta. Donna dan Yusuf adalah mantan teman-teman sekantorku yang kini berkarya di Jakarta, sedangkan sisanya adalah (mantan) teman kantorku yang bertugas di Jakarta. Ohya, plus ketemu seorang lagi. Namanya Puput, teman kuliahku dulu yang sekarang juga bekerja di Jakarta.
Menuju dan pulang dari kota tua, aku ditemani oleh Nety. Nety ini yang memberiku tumpangan di kosnya. Dimana aku kenal Nety? Wedew, long-long story dan mbulet.com. Tapi, yang jelas kami bersaudara sebagai sesama muslim.
Di kota tua, ternyata dari "peserta" reuni yang sudah confirm, Yusuf berhalangan hadir karena misunderstanding. Dua hari sebelumnya dia bilang akan mengunjungi saudaranya di Bogor, eh ternyata nggak jadi, dan karena aku tak menghubunginya kembali dikiranya aku sudah balik ke Surabaya. Sementara yang lain, Mutia, Ary dkk persiapan mau nonton MU main bola (yang akhirnya nggak jadi itu lho :P). Jadilah hari itu, aku hanya bereuni dengan Donna, Nety, Nyza, Puput, dan temannya Puput (kalau tak salah sih namanya Indah).
***
Selesai bersenang-senang di kota tua, masih diliputi kedongkolan karena nggak jadi ketemu Yusuf, aku dan Nety kembali ke Kuningan (padahal dah lama nggak ketemu, waktu itu tujuan utamanya sih minta ditraktir hahaha, lari deh rezekiku hehe).
Di depan jalan menuju rumah, ada yang menarik perhatianku. Bendera kuning dengan tulisan Yusuf bin ....(lupa aku) terpasang di tiang listrik. Kalau di Surabaya, bendera kuning artinya ada hajatan. Membaca nama Yusuf, langsung membuat kejengkelanku pada Yusuf muncul lagi, "Weleh, dasar dudul, pantesan nggak ngikut ke kota tua, lha wong ndek sini dia married." (hehe, dalam keadaan jengkel rupanya gurauan-ku nggak mati).
Then, saat masuk ke lingkungan kos si Nety, melewati sekumpulan bapak-bapak aku bertanya, "Siapa yang hajatan, Pak?" Mungkin si bapak shock kali ya aku bertanya begitu (keliatan dari wajahnya :P). "Ada yang meninggal, Neng," jawabnya. Hayyah. Aku lupa, kalau di Jakarta bendera kuning tuh artinya ada yang meninggal. Si Nety pun herannya tak mengingatkan atau lebih parah lagi jangan-jangan tak tahu? hahaha. Mungkin selama dia di Jakarta setahunan ini, baru kali itu dia mendapati ada tetangganya yang meninggal. Perbedaan budaya memang unik yak? Aku jadi menyesal sekaligus senyum-senyum sendiri kalau ingat kejadian itu :P.
***
Sampai rumah Nety, ternyata para penghuninya alias teman-teman se-kos Nety heboh membicarakan meninggalnya si tetangga. Maklumlah (alm) Yusuf yang meninggal itu, rumahnya persis di depan kos-kosan. Ada yang takut, ada yang menyayangkan kepergian almarhumah yang begitu cepat mengingat usianya masih sekitar 27-28 tahunan, ada yang kasihan. Macam-macamlah.
"Nanti sore melayat ya?"
"Iya. Bareng-bareng aja."
"Perlu mbawa duit atau apa gitu?"
Mereka yang rata-rata orang Jawa, terlihat bingung bagaimana caranya kebiasaan takziah orang Betawi asli (alm. Yusuf dan keluarganya adalah orang Betawi asli-ap).
Akhirnya kami (aku ya ikut-kutan) bersepakat akan ke rumah depan setelah pulang makan malam dari warung yang letaknya di jalan depan yang agak dekat ke daerah perkantoran.
***
Sepulang dari makan malam, kami langsung menuju rumah almarhum yang menurut orang sana meninggalnya karena sakit.
Di sana, jenazahnya masih terbaring di dipan. Beberapa laki-laki duduk mengelilinginya sambil membaca surat Yasin. Kain putih, dipasang sebagai pemisah ruang jenazah disemayamkan dengan ruang untuk menerima tamu.
Ibunda almarhum dan seorang tetangganya menyambut kami. Dari yang aku tahu "secara cepat" alm. Yusuf ini semasa hidupnya berbeda dari orang-orang. Kalau tak salah badannya sedikit bungkuk, membuat kepalanya tumbuh mengecil. Bicaranya sering tak jelas dan susah dimengerti. Mungkin karena itulah, orang-orang sering menganggapnya aneh.
Menurut teman-teman kos Nety, dulu sering sekali si Yusuf ini nongkrong di depan rumah, menyapa setiap orang yang lewat terutama penghuni kos depan rumahnya itu. Kadang, si Yusuf inipun sering jadi bahan olok-olokan anak-anak kecil.
"Dulu, dia lahir normal," Ibunya mulai bercerita kepada kami.
"Lalu suatu hari dia sakit dan pertumbuhan badannya mulai tidak normal. Bahkan cenderung mengecil. Tapi, di antara semua anak saya, dia yang paling sayang pada saya. Meski kondisinya seperti itu, tapi sebenarnya dia bisa mengerti apa yang kita bicarakan. Dia juga suka sekali bantu-bantu saya. Tapi, mbak, pas meninggal saya terkejut. Dia kembali normal, kelihatan ganteng sekali anak saya itu."
Menurut ibu itu, putra kesayangannya badannya kembali sehat, tidak cacat, layaknya orang normal. Beberapa kali dia mengucapkan rasa takjubnya kepada Sang Maha Pencipta. Aku, Nety, dan teman-teman kos Nety saling berpandangan. Melihat kami seolah tak percaya, ibu itu menantang kami. "Mbak mau lihat?"
Kegaduhan kecil terjadi di antara kami, "Nggak deh, nggak deh!" Rupanya ada yang takut melihat sosok kaku tanpa ruh.
"Ayo saya tunjukkan. Nggak papa," tawar ibunya kepada kami.
Aku berdiri. Entahlah, penasaran dengan sosok si Yusuf ini. Sebulan sebelumnya, budheku meninggal dan aku mengikuti semua prosesinya. Menurutku, tak ada yang perlu ditakutkan dari orang mati. Aku justru lebih takut pada orang segar bugar tapi hatinya busuk.
Si ibu, membuka kain putih pemisah tadi. Dan aku bisa melihat sosok laki-laki berkulit putih bersih, dengan wajah tenang, tersenyum, dan, yeah dia emang cakep kok, sedang terbaring. "Subhanallah, inikah laki-laki yang mereka sebut cacat itu? Dia normal kok. Seperti pangeran tidur," kataku dalam hati.
***
Sepulang dari takziah, ada satu hal yang kurenungkan. Ibu tetangga si Nety itu, mungkin sedih karena putra yang dikandung dan dilahirkannya dengan susah payah, meninggal di usia produktif. Menurut yang pernah kupelajari, orang-orang yang berbeda seperti itu memang tak akan bertahan hidup terlalu lama. Allah Maha Sayang pada makhluknya dengan jalan-Nya yang kita tidak tahu.
Ya, ibu tadi mungkin sedih, tapi kebahagiaan juga ada, saat mengetahui anaknya kembali kepada Sang Pencipta dengan keadaan "bagus" normal, ganteng. Itu hal yang kulihat dari tatapan matanya yang sembab, seolah kondisi itu amat disyukurinya.
Dan aku bersyukur pula, karena diberi Allah kesempatan melihat kematian yang indah. Membuatku bertanya-tanya pada diri sendiri apakah kelak aku akan cantik saat menghadap-Nya? Bukan secara fisik semata, tapi juga hati.
Kebonsari, 15 November 2009
Aprillia Ekasari
081 793 222 06
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar