Messages In This Digest (13 Messages)
- 1a.
- Re: (Bukan Sekedar Resensi Film) EMAK INGIN NAIK HAJI From: galih@asmo.co.id
- 2.
- [Catcil] Kita, Handphone dan Fakir Missed Call From: Nursalam AR
- 3.
- (Ruang Musik) Ayuku - Music by Ramaditya From: Ramaditya Skywalker
- 4.
- Malu Dan Keutamaannya, Menganjurkan Untuk Berakhlak Dengan Sifat Mal From: Mujiarto Karuk
- 5.
- (Kelana) Reguk INdahnya Lebaran Tanpa Mudik From: avicena rahmah
- 6.
- Artikel: Kemana Lift Kehidupan Kita Menuju? From: Dadang Kadarusman
- 7.
- KELANA LEBARAN - by arikunto From: kunto arybowo
- 8.
- (Catcil) Menjadi Tua From: Indarwati Indarpati
- 9.
- (KELANA LEBARAN) Indahnya Kemenangan From: Sismanto
- 10.
- (KELANA LEBARAN) Ketika Lebaran Ada di Hati From: Sismanto
- 11.
- [KELANA LEBARAN] Pelangi Pati From: Mimin
- 12.
- [LOMBA KELANA LEBARAN] Deadline-nya Diundur :D From: naskah lomba penerbitan eska
- 13.
- (Lonceng) Talk Show Seputar Alkohol di Bahana FM 101,80 Jakarta Sela From: Elisa Koraag
Messages
- 1a.
-
Re: (Bukan Sekedar Resensi Film) EMAK INGIN NAIK HAJI
Posted by: "galih@asmo.co.id" galih@asmo.co.id
Mon Nov 16, 2009 3:03 am (PST)
Cerita filmnya cukup menyentuh. Karakter emak menurut saya cukup pas dan
sesuai dengan kehidupan nyata.
Tapi endingnya kurang "ngegigit" alias biasa aja.
Secara keseluruhan saya menikmati film ini.
Bagus Fiyan telah mengupas tentang film ini.
Salam,
Galih
bujang kumbang <bujangkumbang@yahoo.co. >id
Sent by: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
11/14/2009 10:31 PM
Please respond to
sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
To
pembacaasmanadia@yahoogroups. com
cc
sekolah-kehidupan@yahoogroups. , flpdki@yahoogroups.com com
Subject
[sekolah-kehidupan] (Bukan Sekedar Resensi Film) EMAK INGIN NAIK HAJI
Judul Film : Emak Ingin Naik Haji
Pemain : Atik Cancer, Reza Rahadian, Didi Petet, Ninik
L. Karim, Ayu Pratiwi, Cut Memey, Henidar Amroe, Helsi Herlinda dll
Sutradara : Aditya Gumay
Produksi : Mizan dan Smaradhana Pro
Skenario ; Adenin Adlan
Rilis : 12 November 2009
Mak
rumah mimpi
entah kapan kupersembahkan
tapi ia selalu ada dalam doaku
Opening dibuka dengan sebuah kain kanvas yang sedang dilukis oleh Zein
(Reza Rahadian). Di kain kanvas itu pulalah terlukis Ka'bah Al-Mukaramah
dengan begitu indah dan mengharukan.
Begitulah kegiatan (aktivitas) yang dilakukan oleh Zein sebagai anak
semata wayang Emak(Atik Cancer)—yang masih hidup setelah ayah dan kakaknya
itu tenggelam di lautan lepas. Dan tinggalah Zein sebagai pelindung Emak
seusai ia terpisah dari mantan istrinya (Helsi Herlinda). Pun dengan Emak
yang kesehariannya sebagai penjual kue bertahun-tahun yang bertempat
tinggal padat penduduk. Sehari-hari hidupnya hanya menjual kue lalu
dijajaki ke warung-warung tradisional kadang pula untuk acara pesta. Lalu
hasilnya pun ia sisihkan untuk niatnya yang suci.
Emak ingin naik haji.
Walau lima tahun Emak berhasil menyisihkan uang dagangan kuenya yang sudah
terkumpul lima juta. Namun lagi-lagi itu hanya tinggal keinginan Emak yang
suci. Walau ia tahu uang yang dikumpulkannya tak mencukupi untuk niatnya
pergi naik haji. Hanya tingal keinginan.
Apalagi suatu hari Emak berkata kepada anaknya, Zein."Kalo pergi haji
ongkosnya berapa, ya, Zein. Emak ingin banget ke sana."
Hingga perkataan itu membuat Zein—sebagai seorang anak yang ingin berbakti
kepada Emak merasa bersalah. Ia tak bisa membahagiakan Emaknya. Walau
hasil menjajakan lukisannya tak pernah mencukupi dirinya. Terlebih masalah
datang secara tubi-tubi ketika bekas istrinya memberitahukan bahwa anaknya
harus segera dioperasi. Hingga akhirnya jalan satu-satunya uang hasil
tabungan Emak dijadikan dewa penolong untuk anaknya yang sedang
membutuhkan dana untuk operasi. Tapi Emak tetap Emak ia memiliki hati
terbuat emas.
Berbeda dengan kehidupan tetangga dekatnya. Juragan Haji Saun (Didi Petet)
dan istrinya Hj. Markonah (Niniek L. Karim) bersama keluarganya dengan
mudahnya pergi haji dan umroh berkali-kali dan kapan saja mereka inginkan.
Terlebih ketika keluarga H. Saun akan melakukan umrah kembali membuat Zein
merasa cemburu. Kini tinggal Zein yang berupaya untuk menggantikan uang
Emak—yang sudah dikumpulkan untuk membiayai operasi anaknya yang sedang
sakit itu. Hingga jalan pintasnya teringat rumah H. Saun—yang akan
berumrah lagi Zein berniat mencuri harta benda milik H. Saun.
Dilain cerita ternyata bukan hanya Emak ssja yang berkeinginan naik haji
tetapi ada pula Pak Joko yang niat pergi haji hanya sekedar tuntutan gelar
belaka dibelakang, haji. Itu pun hanya untuk menjaga gengsi dalam
pemilihan wali kota dengan cara pergi haji bukan karena niat dan tujuan
semestinya.
Ya, begitu kontras memang antara kehidupan Emak bersama anaknya, Zein
dengan kehidupan keluarga H. Saun dan Pak Joko. Lalu apakah niat Zein
untuk mencuri berhasil? Apakah uang Emak bisa tergantikan? Dan dapatkah
Emak pergi naik haji? Mungkin disinilah rasa emosi penonton dikuras saat
menyaksikan film besutan karya Aditya Gumay yang telah lebih dahulu
mengorbitkan Olga, Ruben Onsu, Okky Lukman dalam "Lenong Bocah"nya—dengan
diangkat dari cerpen asli karya penulis muslimah yang cantik dan smart,
Asma Nadia.
Namun sayang lagi-lagi cerita yang dengan begitu bagusnya tidak dibandingi
oleh akting para pemainnya yang tidak semaksimalkan mungkin. Hanya tokoh
Emak (Atik Cancer) dan Zein (Reza Rahadian) yang begitu memakau. Ya, walau
dari segi akting tak perlu diragukan lagi untuk seorang Atik Cancer
sebagai sineas film atau sinetron untuk sepesialis peran-peran orang-orang
marginal (baca: miskin). Begitu pun akting Reza Rahadian sebagai orang
baru di dunia film cukup menyedot perhatian. Terlebih ketika perannya di
film besutan Hanung Bramantyo dalam film "Perempuan Berkalung Sorban"
sebagai suami Ravelina S. Temat (Anissa) yang arogan begitu memakau dan
menghayati.
Itulah yang saya lihat ketika mata saya menjelajahi para akting-akting
mereka dalam film "Emak Ingin Naik Haji." Atau, memang mungkin akting
tokoh kedua itu diporsibesarkan dari tokoh selain tokoh utama Emak dan
Zein saja? Atau....lebih jelas klik situs dibawah ini:
(
http://www.facebook.com/profile. php?ref=profile& id=1298556971# /notes/fiyan- arjun/bukan- sekedar-resensi- emak-ingin- naik-haji/ 175962902907
)
Terima kasih.
Lebih aman saat online.
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan
untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!
- 2.
-
[Catcil] Kita, Handphone dan Fakir Missed Call
Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com
Mon Nov 16, 2009 8:13 am (PST)
*Kita, Handphone dan Fakir Missed Call*
*Oleh Nursalam AR*
Menjadi fakir itu tidak enak. Dalam terminologi ilmu fiqh, "fakir" adalah
derajat lebih rendah dari "miskin". Istilah dalam bahasa Indonesia yang
biasa kita kenal yakni "fakir miskin" menyimbolkan kondisi kenestapaan
seorang insan. Dalam konteks yang lain, kerapkali para ulama besar--sekadar
contoh -- K.H Abdullah Syafi'i, seorang ulama Betawi pendiri Perguruan Islam
Asy-Syafi�iyah dan guru K.H Rahmat Abdullah, sang *syaikhut-tarbiyah*--
membahasakan diri sebagai "Al faqir", sebagai simbol kerendahan hati.
Fakir *Missed Call*?
Ah, ini juga tidak enak. Bayangkan sebuah situasi, misalnya, kita mendapat
penawaran order bisnis via sms oleh salah satu kolega. Penawaran itu harus
dijawab cepat jika tidak alamat disambar pesaing lain. Sementara pulsa
terbatas. Dan kita tak cukup bermuka tembok untuk pinjam pulsa orang.Mungkin
karena kita terlalu sering "fakir pulsa". Alhasil, jadilah kita fakir *
missed-call* yang setia. Meski cara ini tak layak direkomendasikan untuk
berbisnis.
"Halo?" Terdengar suara kolega di seberang sana. HP pun ditutup. Si
fakir *missed
call* berharap sang kolega akan menelepon balik. Tapi kok beliau tak
menelepon balik?
Dicoba sekali lagi, dengan menahan malu (jika stoknya masih ada). Tapi
lagi-lagi tak ada balasan. Tapi, tunggu dulu, menjerit sebuah sms. Pas
dibuka. Isinya: "Maaf, Mas, pulsa saya tiris. Via sms aja ya..."
Aarrgh! Ternyata kolega kita bahkan lebih fakir dari seorang fakir *missed
call* seperti kita.
Seorang teman secara serampangan -- seribu maaf kepada Ibu Nisrina Nur Ubay
dan Pak Anton Hilman -- menerjemahkan "*missed call*" sebagai "panggilan
rindu". Katanya, "*Miss*" kan "rindu" dan "*call*" artinya "panggilan". Jadi
maksudnya "panggilan rindu". Ah, mohon jangan dituruti ya fatwa sesat
tersebut. Karena "*missed*" bermakna "kekeliruan atau kesalahan�. Atau
bentuk negatif dari suatu kata kerja atau kata benda. Seperti halnya kata "*
misbehave*" yang maknanya "berperilaku tidak baik". Tapi, secara sosiologis,
bisa jadi benar. Karena para pecinta yang berkasih-kasihan kadang saking
kangennya hingga menjadi fakir *missed call* bahkan fakir pulsa karena
bertelpon-telponan setiap malam.
Dalam perspektif yang lebih canggih, seperti yang pernah diungkapkan Zaim
Uchrowi, bahwa penggunaan telepon genggam (telgam) kadang meruyak kehidupan
privasi kita. Kita menjadi amat sangat bergantung pada benda temuan abad
millenium ini. Hingga kadang kita merasa sangat sengsara ketika kehabisan
pulsa atau, lebih parah lagi, kehilangan telgam kita. Sehingga menjadi fakir
*missed call* pun serasa lebih nestapa ketimbang fakir amal. Karena tak
jarang kita berboros-boros pulsa sementara banyak kebutuhan hidup orang lain
dalam sebulan sama nilainya dengan belanja pulsa kita dalam sepekan. Atau
nilai pulsa kita sepekan sama nilainya dengan dua buah buku yang bisa kita
sumbangkan untuk program donasi buku amal untuk kalangan dhuafa yang
menganggap buku sama mewahnya seperti membeli baju.
Sudahkah kita menghitung-hitungnya? Masalahnya, bukanlah haram untuk
memiliki pulsa berlimpah, jika memang sesuai keperluan. Namun, "mubazir
pulsa" juga kata yang perlu direnungkan, dan seberapa banyak proporsinya
terhadap kontribusi infaq dan shodaqoh kita untuk --bahasa heroiknya--
memberantas kemiskinan. Atau dalam bahasa santunnya, "untuk berbagi dengan
orang lain". Bukankah orang terbaik di antaramu adalah orang yang paling
bermanfaat untuk orang lain alias yang paling kontributif? *The best amongst
you is the most contributive one*. Demikian kata tokoh dunia yang
berdasarkan survei oleh Michael Hart sebagai orang nomor satu berpengaruh di
dunia, Nabi Muhammad SAW. Persis di atas Isaac Newton.
"Jika kemiskinan itu berwujud seorang manusia maka akan aku tebas batang
lehernya!" fatwa Ali bin Abi Thalib. Jika kita merasa miskin dengan menjadi
fakir *missed call* barangkali patut kita menengok riwayat Kerajaan Bhutan
di lereng Himalaya yang menetapkan pencapaian keberhasilan pembangunannya
dengan standar *Gross Happiness Index* (Indeks Kebahagiaan) dan bukan semata
dengan indikator-indikator ekonomi klasik semacam *Gross National
Product*atau tingkat pendapatan per tahun. Cukup
menarik bukan?
Menjadi fakir *missed call* memang tidak enak (barangkali lebih karena
faktor kebiasaan semata). Tapi juga tidak berdosa. Karena adakalanya belanja
pulsa kita justru memakan hak orang lain dalam harta kita sehingga
menyebabkan hilangnya keberkahan dalam usaha dan asset kita. *Inna lillahi
wa inna ilahi raji'un*.
--
"There is no life without risks"
Nursalam AR
Translator - Writer - Trainer
0813-10040723
021-92727391
Facebook: www.facebook.com/nursalam. ar
Blog: www.nursalam.multiply. com
- 3.
-
(Ruang Musik) Ayuku - Music by Ramaditya
Posted by: "Ramaditya Skywalker" ramavgm@gmail.com
Mon Nov 16, 2009 3:56 pm (PST)
Sobat,
Mungkin tak pernah terbayangkan oleh kalian bagaimana seorang
tunanetra, yang tak dapat melihat, mampu mendeskripsikan keindahan,
kesucian, dan keagungan makhluk Tuhan yang kita kenal dengan sebutan
"wanita."
Mungkin tak pernah terbayangkan oleh kalian bagaimana tunanetra, yang
tak dapat melihat, mampu memandang paras rupawan, terpukau oleh rambut
yang berkilau, atau tertarik pada busana yang dikenakan makhluk Tuhan
yang kita kenal dengan sebutan "wanita."
Mungkin tak pernah terbayangkan oleh kalian bagaimana seorang
tunanetra, yang tak dapat melihat, mampu mencurahkan semuanya lewat
sebuah maha karya. bukan lewat goresan pena, tapi lewat melodi lagu.
Ya, ketika piano, flute, violin, dan rekan-rekannya memberi deskripsi
visual tentang makhluk Tuhan yang kita kenal dengan sebutan "wanita."
...dan tunanetra itu adalah aku...
--------------------
Download lagu terbaruku: Ayuku
(Ketika tunanetra sepertiku bercerita tentang cantik, manis, indah,
suci, dan agungnya wanita. Bukan lewat mata, tapi lewat nada.)
http://www.fileden.com/files/ 2008/6/4/ 1945085/ramadity a_-_ayuku. mp3
--
"Ramaditya Skywalker: The Indonesian game music lover"
- Eko Ramaditya Adikara
http://www.ramaditya.com
- 4.
-
Malu Dan Keutamaannya, Menganjurkan Untuk Berakhlak Dengan Sifat Mal
Posted by: "Mujiarto Karuk" mkaruk@yahoo.com mkaruk
Mon Nov 16, 2009 7:31 pm (PST)
Assalamualaikum
Wr Wb
Bissmillahirrohmaanirrohiim
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim,
Ishaq dan Yakub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu
yang tinggi, Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan
kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada
negeri akhirat, Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk
orang-orang pilihan yang paling baik, Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa' dan
Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik, Ini adalah kehormatan
(bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar
(disediakan) tempat kembali yang baik, QS. Shaad (38) : 45.- 49 (pen)
679.
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan
melalui seorang lelaki dari golongan kaum Anshar dan ia sedang menasihati
saudaranya tentang hal sifat malu - yakni malu mengerjakan kejahatan. Kemudian
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Biarkanlah ia, sebab sesungguhnya sifat malu
itu termasuk dari keimanan." (Muttafaq 'alaih)
Malu
itu ada yang baik dan ada yang jelek. Malu menjalani sesuatu kemunkaran dan
kemaksiatan atau umumnya larangan agama atau hal-hal yang syubhat adalah
terpuji dan sangat baik. Tetapi malu menjalankan ketaatan kepada Allah,
misalnya malu melaksanakan shalat karena baru saja menyadari kebenaran beragama, malu
pergi ke masjid, malu kalau tidak suka diajak berdansa-dansi, malu kalau
menolak berjabatan tangan dengan wanita (bagi seorang lelaki), semuanya itu
adalah tercela dan tidak ada kebaikannya samasekali.
Dalam
hal ini ada sebuah Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari yang diterima dan' Abu
Mas'ud yaitu Uqbah al-Anshari, mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, "Sesungguhnya
di antara hal-hal yang ditemui (didapatkan) dari ucapan kenubuwatan yang
pertama ialah: Apabila kamu tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang kamu
kehendaki."
Adapun
Hadis di atas itu mengandung pengertian sebagai ancaman atau untuk
menakut-nakuti pada seseorang yang hendak berbuat semau-maunya. Jadr maksudnya
ialah: "Kalau kamu tidak malu kepada Allah dalam melakukan kemunkaran
dan kemaksiatan itu, terserahlah, kamu boleh melakukan apa-apa yang kamu
inginkan dan sesuka hatimulah. Tetapi ingatlah bahwa setiap sesuatu itu ada
balasannya, baik di dunia ataupun di akhirat."
Ada
pula sebagian alim-ulama yang berpendapat bahwa maksud Hadis di atas itu adalah
untuk menunjukkan kebolehan sesuatu kelakuan. Jelasnya: "Kalau kamu hendak
melakukan sesuatu, sekiranya kamu tidak malu kepada Allah dan para manusia,
sebab memang bukan larangan agama, baik sajalah kamu lakukan. Tetapi sekalipun
agama membolehkan, kalau kamu malu, tidak kamu lakukanpun baik juga jikalau hal
itu termasuk sesuatu yawaz (yakni bukan hal yang wajib atau sunnah). Jadi baik
dilakukan atau ditinggalkan sama saja bolehnya."
680.
Dari Imran bin Hushain radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah
s.a.w. bersabda: "Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan
kebaikan." (Muttafaq 'alaih)
Dalam
riwayat Muslim disebutkan: "Sifat malu itu baik seluruh
akibatnya." Atau beliau s.a.w. bersabda: "Malu itu semuanya baik
akibatnya."
Yang
dimaksud itu ialah malu mengerjakan kejahatan atau hal-hal yang tidak sopan
menurut pandangan umum. Adapun malu mengerjakan kebaikan, maka amat tercela dan
tidak dibenarkan oleh agama.
681.
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Keimanan
itu ada tujuhpuluh lebih - tiga sampai sembilan -atau keimanan itu cabangnya
ada enampuluh lebih - tiga sampai sembilan. Seutama-utamanya ialah ucapan La
ilaha illallah dan serendah-rendahnya ialah menyingkirkan apa-apa yang
berbahaya -semacam batu, duri, lumpur, abu kotoran dan Iain-Iain sebagainya
-dari jalanan. Sifat malu adalah suatu cabang dari keimanan itu."
(Muttafaq 'alaih)
682.
Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. itu lebih
sangat sifat malunya daripada seorang perawan dalam tempat persembunyiannya -
yakni perawan yang baru kawin dan berada dalam biliknya dengan suami yang belum
pernah dikenalnya. la amat sangat malu kepada suaminya itu. Jikalau beliau
s.a.w. melihat sesuatu yang tidak disenangi, maka kita dapat melihat itu tampak
di wajahnya." (Muttafaq 'alaih)
Para
alim-ulama berkata: "Hakikat sifat malu itu ialah suatu budipekerti yang
menyebabkan seseorang itu meninggalkan apa-apa yang buruk dan menyebabkan ia
tidak mau lengah untuk menunaikan haknya seseorang yang mempunyai hak."
Kami meriwayatkan dari Abul Qasim al-Junaid rahimahullah, katanya: "Malu
ialah perpaduan antara melihat berbagai macam kenikmatan atau karunia dan
melihat adanya kelengahan, lalu tumbuhlah di antara kedua macam sifat yang di
atas tadi suatu keadaan yang dinamakan sifat malu."
Wallahu
a'lam.
Wassalamualaikum Wr Wb
Nasehat : Imam Nawawi dalam Riyadhus
Shalihin BAB 84
- 5.
-
(Kelana) Reguk INdahnya Lebaran Tanpa Mudik
Posted by: "avicena rahmah" cewekpurwokerto@yahoo.com cewekpurwokerto
Mon Nov 16, 2009 7:34 pm (PST)
KELANA LEBARAN
REGUH NIKMATNYA LEBARAN TANPA MUDIK
Sudah
jadi tradisi bahwa setiap lebaran selalu diisi dengan mudik dan kemeriahan
handai taulan lainnya tapi rasanya tradisi tersebut sedikit berbeda dengan tradisi
lebaran keluarga saya. Bagaimana tidak?
Mama asli dari Bengkulu sementara papa asli Solo dan kita tinggal di kota
Purwokerto. Jarak Purwokerto-Solo enam
jam perjalanan darat sementara jarak Purwokerto-Bengkulu sudah hamper seharian
perjalanan udara. Yang terakhir bukan
karena pesawatnya yang lama tapi lagi-lagi karena di Purwokerto tidak ada
bandara dan artinya harus ke bandara Jakarta dulu (enam jam dari Purwokerto)
plus tambahan menunggu di stasiun atau bandara.
Mungkin sederhana, hanya enam jam atau sehari perjalanan mudik tapi bagi
kami itu lebih dari sederhana. Jangankan
untuk mudik tahunan menengok nenek di Bengkulu atau berkumpul bersama keluarga besar papa di Solo, untuk
sekadar berkunjung pun rasanya sulit. Segi
biaya yang teramat berat untuk menanggung enam keluarga besar kami yang membuat
kami tidak pernah mudik. Maklum, bukan
mudik bagi kami kalau hanya satu dua orang saja yang mudik. Terhitung hanya dua
kali kami mudik lebaran itupun ke Solo, yang pertama waktu papa masih punya
mobil sementara yang kedua waktu kesehatan mama papa bagus sehingga kami
ramai-ramai naik motor ke Solo. Selebihnya, kami tidak pernah mudik ke Bengkulu
dan hanya mama papa yang ke Bengkulu saat kakek meninggal atau saat nenek
sakit. Jadi, sisanya lebaran selalu kami rayakan di rumah, istana kami.
Jika orang lain akan merasakan
ramainya lebaran dengan kunjungan keluarga besar atau sanak saudara, maka
lebaran kami berbeda. Tidak ada
kunjungan sanak keluarga karena semua keluarga besar kami ada di dua kota lain
tersebut, kota yang jauh dari rumah kami.
Jika
orang lain merasakan ramainya lebaran dengan suara anak-anak kecil berlarian,
kami berbeda. Di keluarga kami sudah
tidak ada anak kecil lagi sehingga keramaian itu tidak ada. Keramaian layaknya lebaran pun kami adakan
sendiri. Kami menyiapkan lembaran uang
baru dan kami yakin anak-anak di sekitar kompleks kami akan mencium bau uang
baru tersebut. Dan seperti biasa, di
malam takbiran ratusan massa anak kecil akan hadir di rumah kami. Keramaian yang kami buat dengan menyediakan
uang baru tersebut berhasil. Kebiasaan
meminta "fitrah" alias "infak lebaran" dengan bergerombol datang dari rumah ke
rumah itu pun pernah saya lakoni waktu kecil dulu. Bersama dua adik perempuan saya yang masih SD
dan belum sekolah, kami akan mengetok tiap pintu rumah. Awalnya dimarahin papa dan mama kalau
ketahuan bahkan kami pernah sampai diuber-uber dan disuruh pulang karena tetep ngeyel.
"Gak
sopan…"
"Yang
lain juga sama tue ma…" yang ini ujar saya
"Malu
sama tetangga…"
"Anak-anak
tetangga juga ikut kok…" ini ujar adik pertama saya
"Malu-maluin
papa…"
"Yang
lainnya malah didukung dikasih sangu jajanan gitu pa…" ini ujar adik kedua
sambil manyun.
"Kalian
itu dibilangin bandel…" papa sudah kehabisan kata-kata.
"Kan
melatih keberanian pa…" yang ini jelas kata-kata saya yang saya heran kok bisa
ya dulu saya kritis seperti itu padahal hanya masalah "minta fitrah" saja. Akhirnya kata-kata pamungkas tadi bikin papa
nyerah dan mungkin tersenyum bangga.
Sikap
demokratis yang papa mama terapkan terkadang memang jadi bumerang buat papa dan
mama sendiri. Kami yang masih kecil
selalu saja punya argument bila kami
merasa tidak setuju dengan apa yang diungkapkan papa mama. Tapi untuk urusan meminta-minta "fitrah",
saat itu saya tidak berpikir malu atau membuat papa malu. Saya hanya merasa senang
ketika mengetuk pintu rumah dan diberi uang receh ratusan. Sama menyenangkannya bukan dengan anak-anak
ngamen di jalanan yang dapat receh.
Yah…ternyata pikiran saya waktu SD memang sangat sederhana. Saat itu satu lembar uang seribuan sudah
sangat besar nominalnya dan kami jarang mendapatkan uang seribuan. Yang terbesar saat itu satu lembar uang
500-an yang sekarang sudah ditarik peredarannya. Kami berjingkrak bila dapat 500-an.
Saat
itu saya menjadi komando bagi pasukan cewek untuk pasukan "fitrah". Bila sudah mendapat banyak recehan, kami
pergi ke surau kecil di samping sungai. Surau
satu-satunya di kompleks saya itu berukuran 5x7 meter dan berdiri tepat di
samping sungai. Untungnya dipasang
tanggul sehingga bila air sedang tinggi tidak sampai menenggelamkan surau saya.
Suara derasnya aliran sungai membuat saya betah di surau tersebut belum lagi suara
teman-teman masa kecil saya. Alih-alih
kami bertakbiran bersama dengan menggunakan pengeras suara dari surau, kami pun
menghitung penghasilan "fitrah" kami. Saya
masih ingat saat itu saya dapat 7.000 rupiah yang mungkin sekarang setara
dengan 70.000 rupiah. Jumlah yang tidak
begitu banyak namun kami pun akan sangat gembira dengan uang tersebut di
tangan. Kami bertakbiran makin keras…dan
suasana di surau pun makin ramai apalagi saat ibu-ibu kompleks mulai
berdatangan mengantarkan camilan lezat buat kami.
Sekarang,
setelah lima belas tahun berlalu, masa kanak-kanak itu pun terputar kembali
tapi bukan saya dan adik-adik yang menjalaninya sekarang. Anak-anak kecil di kompleks itulah yang
membuat suasana kembali terasa seperti lebaran.
Mereka bergerombol mengetuk tiap pintu dan menengadahkan tangannya
sambil berteriak "fitrahnya mba…fitrahnya bu…".
Sama persis dengan saya dulu.
Bedanya, sekarang sudah tidak berlaku lagi recehan seperti zaman saya
kecil dulu. Sehingga uang kertas baru
lah yang dipakai. Setiap gerombolan
biasanya terdiri dari dua puluh anak kecil dan akan ada lebih dari lima
gerombolan datang. Saya juga kaget dan
tidak menyangka kompleks kami melahirkan anak kecil sebanyak ini. Beberapa di antaranya saya kenal karena
wajahnya tidak asing ikut ngaji di surau tiap sore. Tapi ternyata masih lebih banyak wajah
anak-anak yang tidak saya kenal. Mereka
siapa?anaknya siapa?apa dari daerah sini saja? terkadang pertanyaan tersebut
muncul di benak saya. Dan akhirnya saya
hanya bisa bilang "maaf, fitrahnya habis" untuk gerombolan yang tidak
kebagian"fitrah". Benar-benar gila…dulu saya dan gerombolan hanya 15-an anak
dan itupun kami hanya satu kloter, berangkat bersama dan pulang bersama. Tapi sekarang…wow…perkembangbiakan yang
sangat cepat dalam 15 tahun terakhir. Teori deret ukur Malcow benar-benar
terbukti sekarang.
Ah…berkeliaran
meminta "fitrah" membuat saya jadi kangen dengan teman-teman masa kecil saya
itu. Sampai detik ini pun saya masih
sering bertemu mereka namun sebagian besar dari mereka sudah menikah bahkan
beberapa di antarnya menikah muda umur 16an. Ada juga malah yang putus SMPnya karena harus
menikah. Berbeda dengan saya yang sampai
detik ini harus menuntut ilmu, mereka sekarang sudah menggendong anak bahkan
tidak hanya satu jumlahnya. Miris
rasanya melihat teman-teman masa kecil saya tidak lagi menuntut ilmu lantaran
perekonomian. Masih teringat jelas waktu
kecil kita pernah bermain bersama, bermimpi bersama. Bahkan kita pernah
membayangkan akan ada pangeran yang menjemput kita dengan kereta kuda saat
mereka melamar nantinya. Khayalan
anak-anak banget kan. Namun ternyata
pangeran berkuda kita berbeda. Mungkin
bukan pangeran berkuda tepatnya karena sebagian dari teman-teman kecil saya
terpaksa menikah lantaran sudah ada benih di dalam rahim mereka. Rasanya mengenaskan, mendengar orang-orang
yang datang di perkawinan mereka harus berbisik-bisik tidak enak di belakang
mereka. Rasanya menyesakkan juga, mereka
teman masa kecil saya, teman ngaji waktu kecil, juga teman berkeliling mencari
"fitrah" di malam takbiran. Saya merasa
tidak dekat lagi dengan mereka lantaran saya sekolah setinggi langit sementara
mereka sibuk dengan dunia rumah tangga mereka.
Ah…saya jadi teringat kisah di kompleks saya ini. Dahulu waktu usai zaman kemerdekaan, daerah
tempat saya tinggal ini ternyata adalah salah satu kompleks wanita tuna
susila. Saya sempat terkejut bahkan
tidak habis pikir dengan cerita yang baru saya tahu dua tahun yang lalu dan
itupun dari orang di luar kompleks saya.
Bagaimanapun kesalahan yang
pernah diperbuat oleh teman-teman masa kecil saya, toh mereka tetap teman-teman
saya yang setiap lebaran akan saya lihat muka-muka cerahnya.
Memang
benar adanya, saya bertemu dengan teman-teman kecil saya saat lebaran. Pagi
setelah kita Sholat Ied, setiap warga di kompleks saya akan berkumpul di
pinggir-pinggir jalan. Kita akan membuat
satu barisan panjang yang nantinya akan berputar saling bersalaman. Para sesepuh kompleks kami akan berdiri di
bagian panjang tersebut dan kita yang masih muda yang akan berputar bersalaman
dengan mereka. Namun ada kalanya yang
tua pun ikut berputar bila terlambat tidak mendapatkan satu baris panjang
tersebut. Suasana inilah yang saya rindukan
bila lebaran datang. Saya dapat menatap
kembali wajah-wajah teman kecil saya "yang
kini terasa jauh lebih dewasa".
Melihat mereka menggendong satu anak di depan dengan tangan lain
menggandeng anak kedua, rasanya menggembirakan.
Meihat anak-anak mereka tumbuh lucu ternyata dapat mengobati kekecewaan
saya dengan apa yang sudah terjadi pada mereka.
Terselip doa untuk anak-anak mereka semoga menjadi anak sholeh dan
sholehah yang dapat membanggakan teman-teman masa kecil saya.
Bersalaman
dengan satu kompleks juga membuat saya tahu bila ada warga baru termasuk salah
satu di antaranya adalah istri dari teman kecil yang dulu pernah taksir-taksiran
dengan saya. Hahaha…awalnya terasa aneh
harus bersalaman dengan wanita yang sudah merebut tambatan hati saya dulu.
Jangankan bersalaman dengan istrinya, bahkan bersalaman dengan teman "taksiran"
masa kecil saya itupun terkadang masih membuat canggung.
"Kok
bisa saya naksir dia ya"
"Kok
bisa dia naksir saya dulu ya"
Akhirnya,
suasana reunian secara tidak langsung di setiap lebaran itu memutar kembali
ingatan masa kecil saya. Ternyata waktu
memang satu hal yang tidak dapat dikompromi, dia berjalan begitu cepat
tanpa terasa sudah puluhan tahun terlewati, ribuan hari berlalu, puluhan ribu
jam melayang, dan mungkin jutaan detik saya habiskan dengan sesuatu yang
terkadang saya tidak pahami hingga akhirnya saat ini saya berdiri di sini.
Dan…sama
seperti kebiasaan lebaran tiap tahun di rumah saya, seminggu sebelumnya jangan
harap kita disibukkan oleh baju baru, roti lebaran, atau tiket mudik. NO-seminggu sebelum lebaran adalah hari yang
akan sama dengan hari-hari kita seperti biasanya hanya bedanya di hari Ramadhan
ini kami berlomba-lomba mengkhatamkan
Al-Qur'an. Selalu ada bonus fitrahan untuk setiap kali khatam. Kita bisa berkali-kali khatam saat kecil dulu. Namun sekarang, di tengah rutinitas koas dan membantu
dokter di salah satu rumah sakit, khatam sudah tidak banyak seperti dulu.
Untuk
baju baru, roti lebaran bahkan hal remeh temeh lainnya saat lebaran datang
sudah tidak dipikirkan. Kita tidak
pernah beli baju baru karena baju yang kita beli berdasarkan kebutuhan. Bila bukan di waktu lebaran mama punya
rezeki, akan ada baju baru untuk saya kuliah.
Sementara adik-adik saya lebih suka membeli baju mereka sendiri yang
sesuai dengan model. Saya pribadi menerima semua baju pilihan mama karena saya
memang bukan shoppingholic yang bisa
betah melihat ratusan gantungan baju.
Oh…itu bukan saya banget. Bahkan
tak jarang bila adik-adik dapat jatah beli baju (ini pun bisa dihitung paling
banyak dua kali setahun) maka saya minta jatah mentahnya untuk beli buku.
Masalah
roti dan sajian lebaran lainnya pun tidak begitu kami pikirkan karena sudah ada
jatah ala kadarnya dari kantor papa dan mama juga terkadang ada beberapa parcel
pemberian orang. Hanya saja, mama
tampaknya sudah perpengalaman dengan hobi nyemil
kami sehingga mama selalu punya tempat khusus untuk menyimpan roti
lebaran. Yah… setiap roti yang sudah
disiapkan sebelum hari H akan cepat sekali ludes dicemil oleh kami. Prinsip kami, suguhan yang ada di meja tamu
adalah milik semua orang termasuk kami yang setiap harinya pura-pura menjadi tamu di rumah sendiri. Tempat penyimpanan ini baru diketahui waktu
hari H lebaran dan selalu berganti tempat tiap tahunnya. Dan mama adalah orang yang sangat "rimpen"
bila membuat tempat persembunyian itu karena jarang dari kita yang
menemukannya.
Tidak
ada pula acara masak besar-besaran sebelum lebaran karena kita memang bukan
keluarga besar. Hanya enam orang dalam keluarga kami dan benar-benar tidak ada
yang berbeda. Paling, menu makanan saya
yang sedikit berbeda. Bila setiap
harinya kami jarang makan opor ayam atau ikan gurame goreng, maka minimal
setahun sekali kami bisa menyantap salah satu menu itu saat lebaran. Biasanya papa yang berinisiatif membeli
seluruh bahan mentahnya bahkan terkadang papa pula yang masak. Maklum, dua hari sebelum lebaran papa sudah
dapat jatah libur berbeda dengan anak-anaknya yang masih disibukkan dengan
kuliah dan pasien. Dan masakan papa
memang yang terenak. Itulah kenapa
lebaran di rumah kami selalu jadi enak bila papa turun tangan memasak
semuanya.
Bahkan
lebaran terasa lebih nikmat lagi karena setelah sholat Ied kami mempunyai waktu
khusus "pengakuan dosa". Beruntung walau
tanpa keluarga besar, keluarga inti kami masih diberi kesempatan untuk
berkumpul bersama. Bersungkem di kaki
papa dan mama adalah moment terpenting dari lebaran. Menyaksikan mama dan papa berpelukan minta
maaf juga mengharukan, ternyata kemesraan itu tetap ada walau sudah ada uban di
antara mereka. Jadi membuat pikiran saya
melayang apakah nanti pendamping hidup saya akan selalu di samping saya walau
ada uban di antara kita.
Lebaran
memang waktu yang special untuk kami sekeluarga walau jarang dirayakan dengan
mudik bertemu keluarga besar kami.
Sekadar mengunjungi teman-teman lama dan tetangga sudah membuat kami
begitu menikmati lebran kami. Walau
tidak dirayakan secara ramai, namun bagi kami, diberikan waktu dan kesempatan
untuk masih dapat melihat papa dan mama dalam kondisi sehat sudah merupakan
anugerah besar. Walaupun papa dan mama
kami tidak dapat melihat kedua orang tua mereka, menjenguk dan memeluk mereka
seperti halnya saya memeluk papa mama namun lebaran selalu terasa
berharga. Melihat anak-anak sudah besar
dan terus berjuang mewujudkan cita-citanya ternyata membuat papa dan mama
bangga.
"Sebentar
lagi papa akan lihat ada dokter yang ikhlas menolong pasien, ada ahli hukum
yang membela kebenaran dan rakyat kecil, ada ahli pangan yang dapat menemukan
bahan pangan bermanfaat, juga kyai baru untuk anak muda" kalimat wajib itu
selalu kami dengar dan kami yakin kalimat itu doa untuk keempat anak papa
supaya menjadi orang yang bermanfaat nantinya.
"Sesibuk
apapun…jaga sholatmu nak" dan ini kalimat wajib dari mama yang tidak prnah
bosan mengingatkan sholat kami. Pangkat setinggi apapun di dunia, kemewahan
sekemilau apapun tidak akan ada artinya bagi mama bila sholat kami tidak tepat
waktu. Lebaran selalu menjadi waktu untuk intropeksi bagi kami sekeluarga. Membicarakan rencana-renaca setahun ke depan
juga menjadi obrolan khas kami. Walau teradang
saya sebagai anak sering kali melakukan kesalahan yang sama setelah lebaran
berlalu. Walau rasanya juga ingin mudik
lebaran ke rumah keluarga besar layaknya orang berlebaran. Yah…saya termasuk beruntung tidak perlu repot-repot
mudik bukan karena dapat masih satu rumah dan selalu ketemu papa dan mama
setiap lebaran. Termasuk beruntung
karena masih dapat mengabadikan setiap kenangan sederhana kami di setiap
lebarannya. Syukuri apa yang ada…karena belum tentu lebaran tahun depan saya
masih dapat bertatap muka dengan papa dan mama.
171109_Avis_Di salah satu
sudut rumah sakit, mengingat indahnya lebaran
www.happywithavis.multiply. com
- 6.
-
Artikel: Kemana Lift Kehidupan Kita Menuju?
Posted by: "Dadang Kadarusman" dkadarusman@yahoo.com dkadarusman
Mon Nov 16, 2009 7:35 pm (PST)
Artikel: Kemana Lift Kehidupan Kita Menuju?
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Kita semua tentu mengenal lift. Dengan alat itu kita bisa naik atau turun tingkat pada sebuah gedung tinggi. Jika kita ingin naik, tinggal menekan tombol naik; lalu lift membawa badan kita naik. Jika kita ingin turun, tinggal pencet tombol turun; lalu lift itu dengan patuh membawa tubuh kita turun. Secara kasat mata, lift membawa kita naik atau turun. Namun, apakah lift juga bisa membawa 'diri' kita menuju ke tingkat yang kita inginkan?
Saya pernah berkantor di sebuah gedung perkantoran yang langka di jantung kota Jakarta. Gedung itu bernama GKBI yang letaknya persis diseputaran jembatan Semanggi. Mengapa saya sebut langka, karena gedung itu memiliki lift yang unik. Pada kebanyakan gedung bertingkat lain, jika kita ingin menuju ke lantai tertentu, kita cukup menekan tombol up atau down saja. Jika ada orang lain yang sudah menekan tombol itu, maka kita tidak usah bersusah repot lagi untuk menekannya. Istilahnya, kita bisa nebeng kepada usaha orang lain, untuk tiba di tingkat yang kita inginkan. Ketika salah satu pintu lift akan terbuka. Lalu kita memasukinya. Didalam lift itu, barulah kita menekan tombol nomor lantai yang hendak kita tuju. Jika ada orang lain yang sudah menekan ke lantai yang kita ingin tuju, kita boleh berdiam diri saja. Kita sebut saja system seperti ini sebagai lift konvensional.
Di gedung GKBI tidak bisa begitu. Karena untuk menuju ke lantai tertentu kita harus 'terlebih dahulu' menekan nomor lantai yang kita inginkan secara digital 'diluar lift'. Setelah itu, sistem canggih tersebut memilihkan untuk kita lift mana yang akan membawa kita ke lantai yang kita inginkan. Contohnya, kita menekan angka 1 dan 0 untuk menuju ke lantai 10. Maka sistem itu akan mengarahkan kita kepada lift P, misalnya. Dan itu berarti bahwa kita harus menggunakan lift P untuk bisa sampai ke tempat yang akan dituju.
Ketika pintu lift yang bukan P terbuka, maka kita diam saja. Sekalipun lift itu masih kosong. Sekalipun kita sedang terburu-buru, kita tetap tidak memasukinya. Mengapa? Karena lift itu tidak akan membawa kita ke Lt 10 yang kita tuju. Dan karenanya kita akan tetap fokus kepada lift P. Dan kita hanya akan memasuki lift P, seperti niat kita semula. Ketika pintu lift P terbuka, kita memasukinya tanpa harus menekan apapun lagi. Karena, lift itu akan membawa kita ke lantai 10 yang kita pilih diawal tadi. Saya menyebutnya lift kontemporer.
Lift konvensional versus lift kontemporer. Di lift konvensional, kita boleh saja menyerahkan tujuan hidup kita kepada arus yang diciptakan oleh orang lain. Kita boleh ikut orang lain yang sudah terlebih dahulu menekan tombol. Tidak masalah apakah tujuan orang itu sama dengan tujuan kita atau tidak. Begitu tombol up atau down ditekan oleh orang lain, maka kita tinggal mengikuti arusnya saja.
Di lift kontemporer, kita tidak bisa lagi melakukan hal itu. Artinya, kita tidak bisa mengikuti saja apa yang orang lain lakukan dengan lift itu tanpa tahu tujuannya terlebih dahulu. Kita boleh mengikuti orang itu, hanya jika kita tahu persis bahwa tujuan orang itu adalah lantai yang sama dengan yang ingin kita tuju. Anda tidak boleh mengikuti orang lain jika tujuannya berbeda dengan Anda. Bahkan, Anda pun tidak boleh mengikuti orang lain dan menyerahkan tujuan Anda kepada orang lain yang Anda tidak tahu apakah tujuannya sama dengan Anda atau tidak.
Lift konvensional versus lift kontemporer. Di lift konvensional, kita tidak perlu merencanakan, kemana kita akan pergi. Di lift kontemporer, kita harus merencanakan, kemana kita akan pergi. Sebab, jika kita tidak merencanakan kepergian kita, maka begitu memasuki lift kontemporer ini, kita akan langsung tersesat. Sebab, lift itu tidak membawa kita ke tempat yang ingin kita tuju. Melainkan tempat antah berantah yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Jika lantai yang ingin kita tuju itu adalah 'tujuan hidup' kita. Dan jika kehidupan kita ini adalah sebuah lift yang akan membawa kita kepada tujuan hidup yang ingin kita capai itu, maka kiranya layak jika kita mengajukan 3 pertanyaan ini:
Pertama, "Apakah kita bisa mengandalkan dan menyandarkan diri kepada orang lain yang belum jelas kemana arah tujuannya?"
Kedua, "Apakah kita bisa memasuki pintu lift peristiwa kehidupan mana saja, yang tidak jelas ke lantai kehidupan mana dia akan menuju?"
Ketiga, "Apakah kita bisa membiarkan diri kita dibawa oleh lift kehidupan itu tanpa harus menentukan terlebih dahulu, lantai dimana tujuan kehidupan kita didefinisikan?"
Kita tidak selama-lamanya berhadapan dengan lift kehidupan konvensional hingga kita boleh saja menyerahkan seluruh kepentingan hidup dan tujuan hidup kita kepada orang lain yang sudah terlebih dahulu men-set lift itu. Sebab, ada kalanya kita berhadapan dengan lift kehidupan kontemporer. Sehingga kita harus benar-benar melakukan sendiri, dan menentukan sendiri; tujuan yang ingin kita capai dalam hidup kita.
Kita tidak selama-lamanya berhadapan dengan lift konvensional hingga kita boleh saja memasuki lift kehidupan manapun yang terbuka lebih dahulu. Sebab, ada kalanya kita berhadapan dengan lift kehidupan kontemporer. Sehingga kita harus benar-benar fokus, hanya kepada lift kehidupan yang akan membawa kita kepada tempat tujuan yang sudah kita rencanakan saja.
Kita tidak selama-lamanya berhadapan dengan lift kehidupan konvensional hingga boleh-boleh saja jika kita tidak menekan dan merencanakan tombol tujuan kehidupan sebelum memulai perjalanan ini. Karena didalam lift kehidupan konvensional, 'akan ada kesempatan' untuk menekan tombol itu. Nanti didalam lift. Namun, ada kalanya kita berhadapan dengan lift kehidupan kontemporer. Sehingga untuk bisa sampai kepada tujuan hidup yang kita inginkan; kita harus memulainya dengan merencanakannya terlebih dahulu. Sebab, didalam lift kehidupan kontemporer 'tidak akan ada lagi kesempatan' untuk menekan tombol itu. Semuanya serba terlambat. Dan kita akan segera tersesat.
Namun demikian, lift kehidupan konvensional dan lift kehidupan kontemporer memberi kita inspirasi untuk menentukan; kapan saatnya kita boleh mengikuti arus yang dibuat oleh orang lain. Dan kapan saatnya untuk mengandalkan kemampuan diri kita sendiri.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator
http://www.dadangkadarusman. com/
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
Catatan Kaki:
Kita tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa tak satupun dari pencapaian yang kita raih tanpa campur tangan orang lain. Namun, tidaklah masuk akal jika kita menyerahkan arah masa depan kita kepada orang lain.
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul "Belajar Sukses Kepada Alam" versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@yahoo.com
- 7.
-
KELANA LEBARAN - by arikunto
Posted by: "kunto arybowo" arikunto@gmail.com
Mon Nov 16, 2009 8:07 pm (PST)
[Attachment(s) from kunto arybowo included below]
Assalamu'alaikum wr.wb.
Saya ingin berparisipasi dalam Lomba Kelana Lebaran yang diadakan oleh milis
Sekolah Kehidupan.
Berikut biodata saya.
Nama : Kunto Arybowo
Alamat : Jl. Raya Pondok Gede No. 38 (Samping POM Bensin). RT 02/01- Kel.
Lubang Buaya, Jakarta 13810
Email : arikunto@gmail.com , masarkun09@yahoo.com
No. Telepon / HP : 021-98646520 / 081380390922
Blog : arikunto.multiply.com
Demikian yang dapat disampaikan.
Jazakallah...
Wassalamu'alaikum wr.wb.
-arikunto
Attachment(s) from kunto arybowo
10 of 17 Photo(s) (View all Photos)
1 of 1 File(s)
- 8.
-
(Catcil) Menjadi Tua
Posted by: "Indarwati Indarpati" patisayang@yahoo.com patisayang
Mon Nov 16, 2009 10:41 pm (PST)
Menjadi Tua
Menonton film Elegy
yang dibintangi Penelope Cruz dan Ben Kingsley aku mau tak mau jadi berpikir
menjadi tua dan bagaimana melalui proses itu semua.
Ada banyak
alasan yang medasarinya.
Pertama, ubanku yang mulai berani menampakkan diri. Dulu dia
hanya ada beberapa, bersembunyi dengan manisnya di kelebatan rambut hitam.
Namun akhir-akhir ini, tanpa perlu menyibak si hitam, helai yang telah
kehilangan pigmen warnanya itu dengan teramat berani menampakkan diri.
Kelakarku dengan suami, 5 atau 10 tahun lagi, mungkin aku menjadi kakak
perempuannya. Mantan pacarku itu rambutnya masih hitam lebat bergelombang, ikal
menggodaku untuk selalu mengelusnya dan melarang untuk memotongnya--yang
membuatnya tak enak hati sama teman-teman kantor dan bosnya.
Dulu kami memiliki kebiasaan yang membuatku senang dan
nyaman tak kepalang. Saat si uban belum banyak berombongan seperti sekarang,
suami suka mencabutinya. Aku tiduran di pahanya atau dengan beralas bantal lalu
sembari berbincang tentang banyak hal dia akan mengambili satu-satu si uban
nakal. Begitu dapat, diserahkannya ke aku yang lalu kujajarkan untuk dihitung
nantinya. Biasanya mereka banyak bersembunyi di sekitar pelipis kanan dan kiri.
Tanpa adanya asisten rumah tangga seperti sekarang ritual kemesraan itu tak
sempat lagi kami lakukan..
Kedua, yang juga banyak menyita pikiranku akhir-akhir ini
adalah kedua orang tuaku. Saat mencuci pakaian, mencuci piring, masak, dan
melakukan tugas kerumahtanggaan lainnya, aku banyak teringat mereka. Sebagai
orang tua, aku mendapat ilmu tentang semua itu dari mereka berdua. Aku bahkan
masih ingat sekali nasehat Pae untuk tak lupa merogoh kolong-kolong tempat
tidur dan meja kursi saat menyapu. Padahal jelas waktu itu lantai rumah kami
masih tanah saja. Mereka juga yang mengajariku untuk mulai mencuci baju sendiri
yang pada saat bersamaan mengingatkanku saat-saat kami masih terlampau kecil
utnuk melakukan itu semua, mereka melakukannya malam-malam—satu waktu yang
tersisa setelah menyiapkan dagangan untuk dijual esok harinya--berdua, di sumur
gowak yang kami punya.
Mengingat mereka saat masih muda dan gesit, aku
membandingkan dengan sekarang. Ibu sangat kesulitan untuk berjalan. Bagian
badan kiri terutama, kaku dan berat untuk digerakkan. Entah penyebab pastinya
apa, yang jelas beberapa pengobatan untuk mengembalikan kemampuannya seperti
sedia semula menemui kegagalan. Jika merunut ke belakang, ibu dulu sering
terjatuh, beberapa diantaranya saat membawa beban berat. Dokter mencurigai, ada
something wrong pada sarafnya. Sementara
Pae, hampir 1 bulan ini baru keluar dari RS. Bronkitis akut, tifus, dan entah
apa lagi membuatnya terbaring lemah hampir seminggu di rumah sakit. Akhir-akhir
ini beliau baru bisa berjalan sendiri. Itupun masih pelan.
Dua orang tua itu, yang dulunya gesit melakukan apapun demi
anak-anaknya, sekarang tak berdaya. Mengambil air wudhu pun perlu dibantu.
Hatiku ngilu. Proses merenta itu terjadi. Meski sebenarnya tak ingin merepotkan
anak-anaknya, pada kenyataannya, seorang tua tak bisa memenuhi kebutuhannya
sendiri. Sedikit berbeda dengan Mbah Mi, nenek dari pihak ibu yang masih bisa
melakukan apa-apa sendiri dan hanya perlu beberapa hari tak berdaya sebelum
Malaikat Maut menjemput beliau. Proses tua, menjadi lemah dan tak berdaya itu
tak terlalu kentara pada Mbah Mi.
(Ya, Allah, aku menangis mengingat 3 orang ini. Ya Allah,
ampunilah dosa-dosa mereka. Mbah Mi, Bue, Pae….)
Aku jauh dari mereka, Bue Pae yang masih ada.
Aku terseret pada anganku sendiri, bagaimana tua nanti,
akankah merepotkan anak-anakku? Akankah mereka ikhlas menjagaku? Ataukah justru
tak perlu melalui proses itu lantaran ajal menjemput terlebih dulu? Tiba-tiba
saja, aku takut menjadi tua.
Tanah Baru, 17/11/09 12.49
Indarwati
penulis novel Lintang Gumebyar dan editor lepas plus irt
curhatan http://lembarkertas.multiply. com
kreasi tangan http://www.kedaicraft.com
FB: indar7510@yahoo.com
- 9.
-
(KELANA LEBARAN) Indahnya Kemenangan
Posted by: "Sismanto" sirilwafa@gmail.com
Mon Nov 16, 2009 11:12 pm (PST)
*(KELANA LEBARAN) *
* *
*Indahnya kemenangan*
*~ Sismanto ~*
Email: sirilwafa@gmail.com
* *
Seperti tahun-tahun sebelumnya setiap bulan ramadhan aku tidak pernah ada di
rumah, menjalankan ibadah puasa bersama dengan Bapak Ibu juga
saudara-saudaraku di rumah. Sejak tamat SMP aku sudah merantau ke kota lain
untuk mencari ilmu disebuah Madrasah Aliyah Negeri di daerah Kudus Jawa
Tengah dan disana aku tinggal disebuah Pondok Pesantren yang bernama Darut
Taqwa yang diasuh oleh seorang ulama dengan julukan �Kitab Berjalan�. Sebuah
julukan yang diberikan oleh masyarakat Kudus kepada seorang ulama yang mampu
menggabungkan ilmu fiqh dan ilmu falak, beliau adalah KH. Turaichan Tadjus
Sharof yang dijadikan rujukan penanggalan penerbit Menara Kudus sampai
dengan sekarang.
Setelah lulus sekolah aku pindah ke Malang untuk melanjutkan studiku ke
jenjang yang lebih tinggi, yaitu di Universitas Muhammadiyah Malang dan di
sana aku juga tinggal dalam Pondok Pesantren yang mempunyai nama Miftahul
Ulum. Dalam pondok pesantren, terutama pondok pesantren yang berciri khas
tradisional, kegiatan setiap bulan puasa sangat padat dari khataman
Al-Qur�an, mengaji kitab kuning, sholat tarawih berjama�ah, dan sholat malam
berjama�ah. Kegiatan ini dilakukan selama satu bulan penuh dalam bulan puasa
dan para santri baru diizinkan pulang setelah melaksanakan sholat Idul
Fitri.
Malam itu malam terakhir di bulan suci Ramadhan dan setiap malan teakhir di
bulan Ramadhan selalu dikumandangkan alunan takbir, tahmid dan tahlil di
setiap masjid di seluruh penjuru dunia. Malam itu aku bersama dengan
teman-temanku tidak mau ketinggalan untuk ikut serta bersama-sama dengan
warga kampung Jetis berkumpul di Masjid Baiturrahman untuk mengumandangkan
irama-irama Ilahi. Suasana di Masjid itu sangat ramai karena banyak sekali
penduduk sekitar masjid yang datang untuk memeriahkan malam kemenangan itu,
dari bapak-bapak sampai anak-anak ikut ambil bagian. Ada yang memimpin
takbiran, ada yang mengiringi takbir, ada yang menabuh bedug dan ada yang
ikut membantu panitia Zakat Fitrah. Kegiatan di masjid itu berakhir sampai
pukul setengah dua belas malam dan semua penduduk kembali ke rumah
masing-masing.
Setelah kegiatan di masjid selesai aku bersama teman-temanku kembali ke
pondok. Sesampai di pondok kami tidak langsung istirahat tapi masih ada
kegiatan yang lain yang kami lakukan. Ada yang setrika, ada yang
menyelesaikan tugas kuliah dan ada juga yang cuma ngobrol. Saat itu aku
bersama temanku yag lain mempersiapan perbekalanku untuk pulang besok dan
setelah itu aku ikut nimbrung bersama temanku, bercerita tentang kondisi
lebaran di daerah masing-masing. Setelah ngobrol kesana-kemari satu persatu
dari kita akhirnya tertidur.
Tidak terasa pagipun tiba dan kami bangun dari tidur untuk mandi dan
menjalankan sholat shubuh berjamaah. Setelah selesai sholat shubuh aku
bersama dengan teman-teman saling bermaaf-maafan melebur semua dosa dan
kesalahan yang sudah kita perbuat selama ini. Sesudah bermaaf-maafan sesama
santri kita dengan dipimpin ketua pondok sowan ke rumah kyai atau pengasuh
pondok pesantren, di kediaman beliau kami mendapatkan banyak nasehat, salah
satu nasehat beliau kita harus selalu menjaga akhlak kita ketika nanti kita
sudah kembali ke kampung halaman masing-masing.
Setelah dari rumah pengasuh pondok kita bersama-sama berjalan menuju masjid
Baiturrahman untuk melaksanakan sholat Idul Fitri yang dilaksanakan tepat
pukul tujuh pagi. Selesai sholat Id kami tidak langsung pulang tapi kami
masih melakukan kunjungan beberapa rumah di sekitar masjid dan temapt yang
kami kunjungi itu adalah rumah para ustad-ustad yang mengajar kami di pondok
pesantren. Kemudian setelah selesai semua kamipun pulang ke pondok dan saat
itulah, saat-saat yang paling menyenangkan bagiku karena aku sudah bisa
pulang ke kampung halamanku dan berkumpulan bersama bapak, ibu dan
saudara-saudaraku di rumah.
Dalam perjalanan pulang aku naik bis jurusan Surabaya dari terminal Arjosari
dan turun di terminal Bungurasih Suarabaya. Perjalanan kemudian aku
lanjutkan ke arah Semarang naik bus Jaya Utama yang kebetulan sedang mangkal
menunggu antrean penumpang yang ingin naik di hari lebaran menuju tujuannya
masing-masing. Setelah turun dari bis aku langsung ojek ke arah desaku,
dalam perjalanan naik ojek itu banyak sekali yang aku bayangkan dari
masakan yang di masak ibu di rumah dan baju bru yang dibelikan untukku di
bulan Ramadhan kali ini. Lama aku membayangkan hal itu sampai akhirnya
bayangan itu buyar kemudian dibuyarkan oleh anak kecil yang
memanggil-manggil namaku yang tak lain adalah adikku sendiri bahwa aku
sampai di rumah yang aku tuju. Aku bergegas menuju ke rumahku, di sana aku
langsung menemui ibu bapakku dan meminta maaf segala kesalahan dan
kekhilafan yang sudah aku perbuat selama ini dan mereka menyambut gembira
kedatanganku lalu mempersilahkan aku untuk makan dan beristirahat karena
nanti malam selepas Magrib aku akan diajak ibu bapakku untuk berkunjung ke
rumah nenekku di kampung.
Setelah beberapa hari di rumah sampailah waktuku untuk kembali lagi ke
Malang karena aku harus masuk kuliah lagi dan mengikuti kegiatan pondok
pesantren. Sebenarnya aku sangat sedih karena aku masih kangen dengan
keluarga tapi harus bagaimana lagi karena itu sema adalah kewajibanku untuk
mencari ilmu dengan berat hati akupun meninggalkan kampung halamanku, aku
pamit pada ibu bapakku dan juga saudara-saudaraku.
Sismanto
*�menjadi guru sendiri, sebelum menjadi guru orang lain�*
http://mkpd.wordpress. com
- 10.
-
(KELANA LEBARAN) Ketika Lebaran Ada di Hati
Posted by: "Sismanto" sirilwafa@gmail.com
Mon Nov 16, 2009 11:28 pm (PST)
*(KELANA LEBARAN)
*
*Ketika Lebaran Ada di Hati*
Penulis: Sismanto
Email: sirilwafa@gmail.com
Lebaran tahun ini sangatlah menyenangkan karena saya bisa rehat dari kerja
dan mengambil cuti selama sebulan penuh. Di samping cuti kerja saya juga
bisa mudik ke kampung halaman berbeda dengan tahun sebelumnya yang tidak
bisa mudik lantaran tidak punya waktu untuk cuti. Namun, keinginan mudik ke
kampung halaman tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu
berkumpul dengan keluarga besar saya di Pati Jawa Tengah.
Satu masa merenung dalam kesendirian tidak mudik, bertepatan dengan hari
pertama hari raya idhul fitri 2008, ada satu SMS yang cukup unik dari
seorang sahabat di Jawa Timur. SMS itu menggugah saya yang sengaja tidak
pulang kampung untuk merayakan mudik bersama keluarga di rumah. Tidak
seperti tahun-tahun sebelumnya saya dan juga adik-adik saya berada di rumah
untuk merakannya bersama keluarga.
�*Saya bersyukur punya momen mudik & lebaran tempat bersatunya hati dan rasa
untuk pulang, pulang untuk menjadi sebaik-baiknya umat, selamat idhul fitri
mohon maaf lahir dan bathin*� (isi pesan SMS dari seorang sahabat).
Meski saya tidak pulang kampung, saya merasakan juga mudik meski
tidak di kampung halaman dan tempat yang saya tuju adalah Balikpapan, Kota
Beriman dan Malang � Kota Pendidikan. Perjalanan mudik inilah yang nantinya
akan saya ceritakan dalam tulisan ini. Bagaimana jalan ceritanya, dan
mengapa itu bisa terjadi?
Cukup unik, perjalanan darat Sangatta � Balikpapan yang ditempuh
selama delapan jam memberikan dinamika tersendiri bagi saya. Khususnya saya
yang duduk di sebelah sopir travel. Saya dan beberapa teman yang kebetulan
satu travel menunggu jemputan travel sekitar pukul 20.00 waktu setempat.
Lama kami menunggu travel datang, namun tak kunjung datang menghampiri
sampai akhirnya ada SMS masuk ke inbox HP saya.
�*Bapak/Ibu penumpang, mohon maaf karena keberangkatan travel mamal ini
terpaksa kami tunda jam 22.00 karena keterlambatan mobil dari Balikpapan,
mohon pengertiannya*� (SMS dari travel)
Saya memaklumi SMS tersebut, sehebat dan setangguh apapun mobil travel yang
akan membawa saya dan teman-teman merupakan barang yang lama-kelamaan akan
rusak juga.
Tidak mengherankan acap kali lebaran datang, ribuan bahkan ratusan ribu
penduduk di seluruh pelosok Indonesia ingin pulang ke kampung halamannya.
Banyak alasan mengapa mereka rela berdesak-desakkan, dorong-dorongan ataupun
sikut-sikutan hanya untuk pulang ke kampung halaman. Namun, tahun ini saya
ikut euforia sebagai pemudik yang harus pulang ke kampung halaman. Mengingat
delapan bulan ini saya mengalami masa transisi manakala saya harus menjalani
takdir sebagai guru di perusahaan pertambangan batu bara. Delapan bulan
berselang akhirnya saya mendapatkan cuti liburan dan saya pergunakan untuk
liburan ke kampung halaman.
Jadwal perjalananan sudah saya susun jauh hari, tanggal 21 bulan enam tahun
2008 saya tiba di bandara Juanda tepat pukul tujuh waktu setempat, setalah
penat dalam perjalanan kurang lebih dua puluh-an jam lamanya. Delapan jam
saya habiskan di travel (perjalanan darat), karena jatah pesawat dari
perusahaan yang sudah saya pesan tiga bulan sebelumnya digagalkan secara
sepihak. Dua belas jam saya habiskan untuk silaturrahim dan jalan-jalan di
Balikpapan, dan beberapa jam terakhir saya habiskan di perjalanan udara.
Tujuan saya tidak langsung pulang kampung halaman di daerah Pati, kampung
halaman saya. Saya ingin melanjutkan perjalanan ke Malang, pondok pesantren
yang sembilan tahun saya huni dan geluti sebagai pelampiasan sebelum pulang
ke Pati. Namun, malam itu saya masih benar-benar letih, stamina drop lantas
saya mencari penginapan untuk sejenak melupakan penat di sekitar terminal
Bungurasih Surabaya. Penginapan di sekitar terminal Bungurasih ini saya
pilih dengan harapan keesokan harinya saya langsung menuju terminal untuk
menuju Malang.
Di pesantren saya hanya berharap akan bertahan dua atau tiga hari, namun
sampai satu minggu saya betah juga di sana. Barangkali saya sangat kangen
dengan kehidupan Islami di sana yang di Sangatta tidak saya temukan.
Beberapa sahabat yang masih berada di sana menerima saya dengan hangat. Pun
demikian dengan Mbah Yai (sebutan untuk ulama di pondok pesantren oleh
santrinya).
Sebuah transisi saya kira, dari sebuah penjara suci yang bernama pondok
pesantren yang selama 17 tahun lamanya saya belajar agama di sana. Hampir
tidak ada orang yang menyadarkan saya dari kejauhan gegap gempita
suara-suara Tuhan, suara yang selama 17 tahun saya kenali dan saya ikuti
arahnya.
Memang saya akui dalam kehidupan minipolitan Sangatta, ketika
makhluk-makhluk yang berada di bumi Sangatta, daerah �*remote area*�, yaitu
salah satu daerah marginal yang secara *social capital* kurang punya akses
dan andil besar, tapi hal itu tidak menyurutkan minat dan libido warga
Sangata untuk mengkapitalisasi Sangata. Ekspansi besar-besaran secara
ekonomi yang dibubuhi dengan budaya instan dan siap saji semakin menjadikan
SDM kurang paham akan makna edukasi.
Delapan bulan belakangan ini ketika saya di daerah perantauan, saya
kerapkali meninggalkan dan bahkan melalaikan panggilan-panggilan subuh itu
menuju rumah-rumah peribadatan kaum muslim, rumah bagi siapapun yang berada
di dalamnya akan aman. Entah mengapa bisa terjadi demikian? 17 tahun di
pondok pesantren tidak bisa dijadikan jaminan bagi seseorang untuk istiqomah
mendengar dan memeriahkan panggilan-panggilan itu menuju rumah Nya. Bisa
jadi 17 tahun di pesantren terhapus dengan lingkungan Sangatta yang kurang
mendukung. Semoga saja asumsi saya salah.
*�Yaa Allah kembalikan kepekaan mata batin hamba Mu ini menuju jalan Mu,
jalan lurus Mu, jalan sirathal mustaqim�.*
*�Gerakkanlah kaki hamba Mu ini menuju rumah-rumah Mu, ketika saya di
sangata hampir melalaikan rumah Mu�*
Kini, waktu satu minggu ini, di pesantren ini saya menemukan suara-suara Mu
ketika subuh tiba sudah mengelus dan membelai telingaku untuk menuju rumah
Mu. Suara yang berasal dari surau (musholla) kecil yang berada di depan
gerbang pesantren semakin memantapkan eksistensi pesantren ini yang
digunakan oleh hamba-hambaMu untuk mengajarkan dan mengenalkan tentang Mu.
Surau yang di dalamnya ada makam pendiri pesantren ini juga mengingatkan
perjuangan Mbak KH. Qomaruddin Arif untuk mengIslamkan Jetis dari para kaum
Jahiliyah menjadi kaum yang beradab. Terima kasih yaa Allah Engkau telah
memberi kesempatan bagi saya untuk mampir ke pesantren ini, saya anggap
bahwa waktu satu minggu ini sebagai liburan sekolah dan juga liburan
spiritual bagi saya. Meskipun saya tidak sampai merasakan lebaran di kampung
seperti tahun-tahun biasanya, tapi cukup bagiku untuk seminggu di Malang.
Salam,
Sismanto**
*�Jadilah guru diri sendiri, sebelum menjadi guru orang lain�*
http://mkpd.wordpress. com
- 11.
-
[KELANA LEBARAN] Pelangi Pati
Posted by: "Mimin" minehaway@gmail.com mine_haway
Tue Nov 17, 2009 12:15 am (PST)
[Attachment(s) from Mimin included below]
*Pelangi Pati
Oleh : Mimin Ha Way*
Keberkahan bulan Ramadhan aku rasakan hingga akhir bulan. Dari rangkaian
buka bersama sampai dapat THR ekstra dari seorang dermawan. Satu hal yang
telah kutahan begitu lama, akhirnya terkabul jua. Sepasang lensa kacamata
baru menambah cerah dunia ini. Sebelum mudik, aku sempatkan diri ke Pondok
Indah Mall untuk ganti lensa setelah empat tahun lamanya tertunda. Sekaligus
transfer uang ke rekening boss. Syukur lensa itu bisa sehari jadi. Belum
sampai di kos, SMS teman masuk.
Nduk, kita berangkat jam 15.30 WIB, tak tunggu di kosku.
Aku baca SMS itu di tempat tukang jahit yang telah kupaksa mengganti
resleting tas yang mulai nggak normal.
�Sepertinya tas ini menyimpan banyak kenangan ya mbak.�
�Kok tahu, Mas.�
�Sudah 2 kali Mbak nya kesini cuman ganti resleting tas ini.�
�Iya, itu pemberian Bapak saat aku masih SMU.� Tiba-tiba hatiku galau,
mengingat sosok kocak itu. Entah kenapa mulutku begitu lancar bercerita
tentang tas kesayangan itu pada tukang jahit yang ternyata juga asli jawa.
Obrolan selanjutnya memakai Bahasa Jawa, dan pelan-pelan keakraban itu
tercipta.
Sampai di kos, aku masukkan barang-barang yang ingin kubawa pulang, lalu
mandi dan sholat. Persiapan selesai, tapi masih menunggu teman sekamar.
Hingga jam setengah lima lebih baru jalan. Kupikir kita sudah ketinggalan,
tapi ternyata bis yang akan kita tumpangi belum datang karena macet di
Cikampek Kulayangkan pandang keseluruh penjuru Lebak Bulus, kutemukan
wajah-wajah resah dan jenuh menunggu kedatangan bis. Ada yang duduk di
beranda Masjid, emperan, dekat toilet dan seluruh sudut-sudut Lebak Bulus
yang bisa digunakan untuk duduk dan istirahat sejenak. Antrian di loket
sangat panjang dan berdesakan. Aku pun menjadi bagian dari mereka. Tasku
yang cukup gemuk sampai terdorong dan hampir jatuh. Untung sudah berbuka
puasa, sehingga keseimbangan tubuh tetap terjaga dan adegan jatuh di selokan
tidak terjadi. Dua temanku tergelak melihat kejadian itu.
Satu dua jam, bis K 1688 belum datang juga. Karena keterlambatan itulah, aku
bisa ikutan sholat tarawih terakhir di Masjid Lebak Bulus. Sempat
meninggalkan masjid setelah sholat isya� karena ingin mengecek bis K 1688
sudah datang atau belum. Samar-samar terdengar percakapan dua orang yang
menuju masjid.
�Ke masjid dulu yuk, ini kan sholat tarawih terakhir kita.� Mendengar suara
itu aku berjalan setengah berlari menuju masjid. Ini kesempatan langka
jelang akhir Ramadhan, pikirku.
Kurang lebih jam sembilan malam, bis yang kita tunggu-tunggu sudah datang,
kami pun bersorak mengucap syukur. Mudik tahun lalu aku bertemu teman SMU
dan kebetulan satu kursi. Mudik tahun ini, bertemu dia lagi. Tapi kali ini
dia tidak satu bis lagi.
�Yakin nggak mau pindah bis?� Teman kantor meledekku.
�Apaan sih?� Jawabku tersipu.
Lalu kami berempat naik bis dan menikmati perjalanan menuju rumah cinta.
Sedikit sendau gurau sopir dan teman-teman mengiringi perjalanan ini.
Tentunya ditambah iringan musik dangdut khas bis jurusan Pati. Ada
kenikmatan yang tak terungkapkan dengan kata-kata, tatkala bis melaju dengan
lancar hingga para penumpang sudah mulai tertidur pulas. Tapi tidak
denganku, mata ini terpejam tapi banyak bayangan hilir mudik melewati mata.
**
*Pulang kapan, Min? Nggak bareng Likmu?*
SMS dari kakak sepupu itu sudah dua kali ini masuk inbox HPku. Memang enak
mudik bareng Pak Lik, selain gratis transportasi, gratis makan nya juga.
�Dua ratus enam puluh ribu buat beli sirup bisa buat renang lho.� Kata Lik
ku bercanda.
Satu alasan kuat kenapa aku memilih pulang bareng teman-teman karena aku
inginkan kenyamanan. Sehingga aku berani bayar mahal untuk sebuah
kenyamanan. Meskipun harus rela dianggap kelebihan uang. Setahun sekali
beramal untuk sopir dan pemilik bis kupikir nggak berlebihan. Harga tiket
bis dua kali lipat wajar saja, mengingat waktu tempuhnya juga dua kali lipat
dari biasanya.
Sudah menjadi berita basi, jika mudik lebaran mengalami kemacetan. Begitu
pula dengan bis K 1688, tidak bergerak sama sekali di Cikamurang dan Sadang
selama kurang lebih lima jam. Sebelumnya dipaksa sahur jam dua pagi di rumah
makan Padang. Aku pilih makan rendang biar punya persediaan protein cukup di
perjalanan. Siang hari baru sampai Losari.
Sampai di Semarang pas waktu buka. Seteguk air dan keripik pohung
membatalkan puasa. Kami berhenti dulu di Demak. Makan di warung Padang lagi,
kali ini aku pilih makan bareng lele. Sampai di halte Puri, ternyata Pak�e
sudah menungguku. Setengah jam kami sudah sampai di kampung halaman,
disambut gema takbir keliling. Ada ondel-ondel, replika masjid, hewan dan
lain-lain hingga jalanan macet. Aku pun harus berbaur dengan mereka biar
bisa sampai ke rumah cinta.
Di rumah gelap sepi, seperti tak berpenghuni.
�Assalamu�alaikum, anak emasmu pulang Bu.� Tidak ada jawaban.
Kata tetangga, Bu�e sedang jualan es degan (kelapa muda). Sempat
kucing-kucingan dengan Bu�e. Saat aku mandi, Bu�e pulang. Selesai mandi,
Bu�e menghilang lagi. Ternyata Bu�e mengambilkan segelas degan untukku.
Sambutan yang benar-benar hangat dan nikmat. Ada ikan gurame bakar yang
dibeli khusus untuk menyambutku. Sayang perut masih kenyang, jadi dimakan
keesokan harinya.
Tiga hari lebaran sibuk silaturahmi ke rumah saudara dan tetangga. Lebaran
pertama, tetanggaku memberi seekor bebek untuk disembelih dan dimasak
sendiri. Rica-rica bebek ala Bu�e siap disantap saat makan siang. Lebaran
kedua, giliran simbah menyembelih ayam, opor ayam ala simbah pun memenuhi
perutku.
*Rabu, 23 Oktober 2009*
Bu�e mengajakku ke Sendang Sani yang sekarang dikenal dengan Sendang Tirta
Marta Sani. Sekaligus setor kelapa muda ke pelanggan yang punya rumah makan
di sana. Kita bebas dari pungutan tiket masuk, karena niatnya jualan kelapa
muda. Ada beberapa saung yang melingkari kolam pemancingan. Dulu kolam itu
berfungsi sebagai kolam renang. Terakhir maen di Sendang Sani saat aku masih
SD. Jadi surprise melihat kondisi Sendang Sani sekarang ini. Sebelahnya ada
waterboom dengan tiket masuk Rp. 12.500. Cocok sekali untuk tempat rekreasi
keluarga. Sambil memancing bisa menikmati hiburan yang disajikan. Sayangnya
kita tidak diperkenankan bawa makanan, minuman dan alat pancing. Kita wajib
beli makanan dan minuman di rumah makan Sendang Sani dan sewa alat pancing
disana.
Disebelahku duduk seorang Bapak yang sedang mancing. Beberapa menit, kailnya
ditarik keatas karena merasa ada ikan yang nyangkut. Karena terlalu kuat
menarik, ikan berhasil meloloskan diri dan kailnya nyangkut di pohon. Mataku
tak pernah lepas dari pemandangan menarik itu. Alat pancingnya diputar,
digerakkan kanan kiri atas bawah. Tapi tetap tidak bisa lepas dari jeratan
dahan pohon itu. Bahkan lilitannya bertambah rumit. Sampai aku pulang, alat
pancing itu belum berhasil diselamatkan.
Sebelum sampai rumah, Pak�e menuruti keinginan Bu�e beli bakso tangkar di
daerah Kajar. Keinginan yang telah lama ditahan karena belum diizinkan beli.
Ternyata memang nunggu anaknya pulang biar bisa makan bakso bareng. Selama
dua tahun merantau di Jakarta, belum pernah kutemukan pengganti bakso
tangkar ini. Baksonya empuk, dagingnya terasa banget, kuahnya mantap,
pokoknya maknyus. Itulah salah satu hal yang membuatku kangen pulang ke
Pati.
*Kamis, 24 Oktober 2009*
Pak Lik mengajak makan di RM. Sumber Rezeki. Rumah makan pemancingan itu
selalu dipadati pembeli. Bahkan kita harus booking tempat terlebih dahulu.
Itupun masih menunggu saung yang kosong. Pak Lik memesan gurame bakar tapi
tinggal sisa dua ekor. Sebagai penggantinya mereka mengusulkan ikan nila.
Senang sekali bisa makan bareng keluarga Pak Lik, simbah putri, dan dua
teman kantorku.
Kita bisa memancing sendiri ikan yang ingin disantap. Ada empat kolam
pemancingan dengan label ikan yang berbeda. Jika kita ingin makan gurame,
maka cari kolam yang diberi label gurame. Mengamati satu kolam bersama adik
sepupu, ada satu kolam yang dialiri air. Tujuannya agar ada arus air di
dalam kolam yang bisa mengantisipasi ikan mati.
*Sabtu, 25 Oktober 2009*
Sabtu itu, rasa haru menyelimutiku. Pak�e membeli sandal jepit untukku.
Warnanya hijau dengan sentuhan mawar disebelah kanannya, manis. Semakin
terharu saat baca SMS pak�e di bis, *jaga sandalnya baik-baik, kalau ke
mushola dibawa masuk, hati-hati dijalan, moga selamat sampai tujuan*. Begitu
berartikah sandal ini bagi mereka. Aku juga nggak mau menjadi orang yang
takut kehilangan barang. Seperti tahun sebelumnya, sandal pemberian Bu�e
hilang di masjid. Sedih juga karena dengan sandal itu aku merasa dekat
dengan mereka.
*Untaian kata pengganti kamera**
*
*Mengabadikan kenangan indah bersama ayah bunda**
**Warna warni rasa ini**
**Laksana pendar pelangi mewarnai Pati**
**Keindahannya tak tertandingi*
--
http://minesweet.co.cc
http://minehaway.com
Attachment(s) from Mimin
3 of 3 Photo(s)
- 12.
-
[LOMBA KELANA LEBARAN] Deadline-nya Diundur :D
Posted by: "naskah lomba penerbitan eska" antologi.penerbitan@gmail.com
Tue Nov 17, 2009 12:49 am (PST)
[LOMBA KELANA LEBARAN] Deadline-nya diundur :D
Assalamu'alaykum Wr. Wb
Lomba Kelana Lebaran yang deadilne-nya hari ini (17 November 2009) diundur
menjadi *30 November 2009.
*Bagi yang mau ikutan masih terbuka kesempatan...
Lebaran oh lebaran...
Kenanganmu takkan terlupakan...
Jalan-jalan asyik, mudik...
Bertemu handai taulan...
Sekaranglah saatnya...
Ceritakan ceria lebaranmu
- Dari mulai mudik bareng
keluarga<http://akunovi.multiply. >com/photos/ hi-res/90/ 38
- Mudik dengan kapal, pesawat, motor, dll
- Perjuangan cari tiket mudik...
- Silaturahim dari kota A, B hingga C, D
- Mengisi lebaran dengan wisata kuliner, traveling
- Jalan-jalan lebaran ke beberapa tempat wisata�
- dan banyak lagi�
<http://akunovi.multiply. >com/photos/ hi-res/90/ 15
Abadikan dalam sebuah foto, kisah...
Nggak perlu soal mudik juga, kok...
Nggak ada ukuran jauhnya perjalanan
Nggak usah jauh-jauh, deh :D
Karena apapun bentuk perjalanan itu...
akan selalu memberi banyak pelajaran :)
<http://akunovi.multiply. >Siapkan cerita lebaranmu,com/photos/ hi-res/90/ 15
rekam semua itu dalam sebuah tulisan
Lengkapi dengan foto-foto*
tuangkan kisah seru, indah, menyenangkan dan penuh hikmah...
Dalam lomba [KELANA LEBARAN]
*tidak mutlak, hanya pelengkap
BATAS PENGIRIMAN NASKAH
Naskah dapat dikirimkan mulai tanggal 17 Oktober sampai *30 November 2009*
HADIAH
Juara 1 Uang Tunai Rp200.000,- + Produk buku dari sponsor
Juara 2 Uang Tunai Rp150.000,- + Produk buku dari sponsor
Juara 3 Uang Tunai Rp100.000,- + Produk buku dari sponsor
PERSYARATAN PESERTA
1. Peserta dari semua kalangan dan sudah terdaftar di milis
sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
2. Isi naskah sesuai dengan tema �Travelling Lebaran�
3. Tulisan berjumlah 5-10 halaman, kertas A4, Font Times New
Roman 12, Spasi 2. Bila ada foto, kirimkan dalam bentuk attachment dengan
ukuran kb tidak lebih dari 500 kb.
4. Peserta boleh mengirimkan maksimal 2 (dua) naskah.
5. Peserta lomba menyertakan identitas penulis: nama, alamat, email, dan
nomor telp/hp yang dapat dihubungi. Naskah dikirimkan ke
antologi.penerbitan@ gmail. com cc ke sekolah-kehidupan @ yahoogroups. com
(hilangkan spasi) dengan menuliskan label [KELANA LEBARAN] pada subjek
email.
Misalnya: [KELANA LEBARAN] Yogya, Aku Datang! atau [KELANA LEBARAN] Wisata
Kuliner ke Bandung atau [KELANA LEBARAN] Jalan-Jalan ke Dufan, yuk, coy!.
<http://akunovi.multiply. >com/photos/ hi-res/90/ 15
6. Naskah yang masuk menjadi hak panitia. Jika naskah diterbitkan, maka
setiap penulis yang naskahnya masuk akan mendapatkan satu bukti terbit.
Royalti dan honor yang didapatkan dari penerbitan buku tersebut menjadi hak
milik Komunitas Sekolah-Kehidupan.com dan akan digunakan untuk mendanai
kegiatan-kegiatan Komunitas Sekolah-Kehidupan.com.
7. Naskah yang didaftarkan tidak sedang diikutkan pada lomba lainnya.
Info:
*Novi: novi_ningsih@ yahoo.com (hilangkan spasi), YM: novikhansa
Sinta: sinthionk @ gmail.com (hilangkan spasi), YM: sinthionk*
Sponsor:
<http://akunovi.multiply. >com/photos/ hi-res/1M/ 1567
<http://akunovi.multiply. ><http://akunovi.com/photos/ hi-res/90/ 15 multiply. >com/photos/ hi-res/90/ 15
<http://akunovi.multiply. >com/photos/ hi-res/1M/ 1575
Novi Khansa - Ukhti Hazimah - Hamasah Putri - Listya
Departemen Penerbitan dan kepustakaan Komunitas Sekolah Kehidupan
http://sekolah-kehidupan. com/
http://groups.yahoo.com/ group/sekolah- kehidupan/
http://sekolahkehidupan.multiply. com/
Wassalamu�alaykum Wr. Wb
- 13.
-
(Lonceng) Talk Show Seputar Alkohol di Bahana FM 101,80 Jakarta Sela
Posted by: "Elisa Koraag" elisa201165@yahoo.com elisa201165
Tue Nov 17, 2009 12:50 am (PST)
Hai,
saya cuma mau info acara di radio.
Bukan saya pembicaranya tapi saya mau kasih tahu. Di Buku Bahaya Alkohol dan Cara Mencegah kecanduannya. Ada kontribusi tulisan saya. Mengenai pengalaman saya mencoba tuak (Alkohol loka), hasil obrolan saya dengan mantan pecandu tuak
--- On Mon, 11/16/09, Hartati Nurwijaya <tatia30@yahoo.com > wrote:
From: Hartati Nurwijaya <tatia30@yahoo.com >
Subject: [penulislepas] (INFO) Talk Show Seputar Alkohol di Bahana FM 101,80 Jakarta Selasa jam 9.oo WIB
To: penulislepas@yahoogroups. , penulisbestseller@com yahoogroups. , wordsmartcenter@com yahoogroups. , "mediacare" <mediacare@yahoogroucom ps.com >, "milis" <aksek_tarakanita@yahoogroups. >, "milis" <buku-islam@yahoogrocom ups.com >, "milis" <Forum-Pembaca-Kompas@yahoogrou >, "milis" <pembacaasmanadia@ps.com yahoogroups. >, "milis" <ResensiBuku@com yahoogroups. >, "milis apresiasisastra" <Apresiasi-Sastra@com yahoogroups. >, "milis bicara" <bicara@yahoogroups.com com >, "milis dunia ibu" <dunia-ibu@yahoogroups.com >, "milis hanya wanita" <hanyawanita@yahoogroups. >, "milis indokarlmay" <indokarlmay@com yahoogroups. >, "milis kampung ugm" <kampung-ugm@com yahoogroups. >, "milis minang" <rantaunet@googlegrocom ups.com >, "milis pasarnaskah" <pasarnaskah@yahoogroups. >, "milis sosiologi ugm" <sosiologi-ugm@com yahoogroups. >, "milis supermidpower" <supermindpower@com yahoogroups. >, "milis wanita muslimah" <wanita-muslimah@com yahoogroups. >, "akarrumput" <akarrumput@yahoogrocom ups.com >,
lisi@yahoogroups.com
Cc: "alumni sospol" <alumni_fisipol_ugm@yahoogroups. >, sman4jkt@yahoogroupcom s.com
Date: Monday, November 16, 2009, 10:36 AM
Dear all yang baik,
Setelah sukses diserbu banyak sms dan berbagai pertanyaan oleh pendengar Geronimo FM dan Delta FM (Deltanesia) , Selasa jam 9 pagi WIB akan bincang secara live dari Yunani dan Yogyakarta di Radio Bahana FM 101,80 Jakarta bersama saya dan Prof. Zullies.
Dipastikan bahan perbincangan selalu segar dan belum pernah diungkap sebelumnya. Bagi yang berpartisipasi akan mendapat hadiah buku Bahaya Alkohol dan Cara Mencegah kecanduannya.
Untuk pendengar di wilayah Yogyakarta dsktnya pada hari yang sama sore harinya Selasa 17 Nopember Guru besar Fak Farmasi Prof Zullies juga akan muncul di radio UNISI FM104,75 dan Trijaya FM Rabu malam tgl 18 Nopember 2009.
Stay tune di 101,80 Bahana FM Jakarta.
http://bahaya- alkohol.blogspot .com
Hartati Nurwijaya in Megara Greece
[Non-text portions of this message have been removed]
1 of 1 File(s)
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
MARKETPLACE
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe













Tidak ada komentar:
Posting Komentar