Rabu, 18 November 2009

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2886[8 Attachments]

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (16 Messages)

Messages

1.

[Kelana Lebaran]Lebaran Sebagai Proses Pembelajaran Membangun Keluar

Posted by: "Sri Wahyuni" mbakyun38@yahoo.co.id   mbakyun38

Tue Nov 17, 2009 6:57 am (PST)

[Attachment(s) from Sri Wahyuni included below]



LEBARAN SEBAGAI PROSES PEMBELAJARAN

MEMBANGUN KELUARGA KECIL

 

            Ramadhan itu terasa cepat berlalu,
padahal aku masih ingin berlama-lama menjalaninya, mengharap ridho-Nya, memohon
ampunan-Nya, terlebih mengharap hidayah-Nya. 
Dan…. gema takbir, tahmit, tahlil yang berkumandang di masjid dan surau
menandakan Ramadhan itu, sebuah bulan yang penuh mahfiroh, segera berlalu, dan
umat muslim yang berjuang selama kurang lebih satu bulan segera merayakan
kemenangan.  Lebaran itu telah tiba,
saatnya umat muslim saling bermaaf-maafan.   

Tiba-tiba rasa sedih menyengat ulu hatiku.  Aku menanggung sebentuk kerinduan.  Rindu pada kampung halaman, rindu pada rumah
tua yang menyimpan sejuta kenangan kala aku masih kanak-kanak.  Bahkan satu hal yang amat mendesak rasaku,
aku amat merindukan sosok tua yang bertahun-tahun memperjuangkan hidupku hingga
aku bisa seperti ini.  Dialah Ibu.  Tujuh tahun aku meninggalkannya,  sebuah waktu yang cukup lama untuk menahan
kerinduan akan belaian lembutnya. 

            Ya…ini adalah lebaran ketujuh aku
merayakannya di Papua, bersama suami dan anak laki-lakiku yang berumur 4,5
tahun.  Sedih memang, karena sampai detik
ini aku belum bisa merayakannya bersama keluarga besarku.  Namun, aku bisa memaknai lebaran ini sebagai
bentuk perjuangan membentuk keluarga kecilku. 
Aku sadar, usia keluarga kecilku masih amat muda, masih perlu belajar
tentang segala hal.  Terbayang beberapa
tahun lalu, ketika aku harus meninggalkan pulau Jawa, meninggalkan segala
kenangan tentang kotaku.  Aku harus pergi
mengikuti suami yang seorang tentara dan ditugaskan di Papua.  Hanya lambaian tangan dan derai air mata ibu
yang mengiringi kepergianku.  Selebihnya
hanya petuah atau wejangannya yang sesekali kudengar lewat gagang telpon. 

Aku memulai hidup baru dari nol, dari yang sama sekali tidak tahu apa-apa
sampai sekarang ini, dan alhamdulilah keluarga kecilku bahagia.  Dan inilah sebuah bentuk pembelajaran dalam
hidupku.  Lebaran salah satunya. 

            Perayaan Idul Fitri di Papua, memang
sedikit berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia.  Apakah ini sebuah kebiasaan ataukah hanya
penerapan di satu wilayah saja, aku tidak tahu. 
Terlebih aku yang asli Jawa Timur, agak sedikit kaget dan canggung
ketika merayakan lebaran di Papua.  Dulu,
ketika masih di Jawa, lebaran itu dimaknai dengan saling berkunjung, bermaafan
sembari bersilahturahmi ke kerabat, tetangga, teman dan handai taulan.  Si empunya rumah hanya menyajikan kue-kue
kering ala kadarnya ditambah dengan minuman. 
Bahkan yang sampai sekarang masih kuingat, suguhan jenang, wajik ketan,
wajik hias, dan madumongso, seolah lekat dengan suguhan masyarakat
pedesaan.  Kalaupun ada makan berat,
mereka hanya menyiapkan untuk kerabat dekatnya saja.  Menunya juga amat sederhana.  Nasi, sayur lodeh, ayam goreng, sambal goreng
kentang, serundeng, krupuk.  Itu
saja.  Sedangkan waktu untuk
bersilahturahmi seolah tak terbatas, sepanjang bulan syawal (kurang lebih satu
bulan) masih bisa dilaksanakan.  Setiap
hari tamu itu selalu datang silih berganti, dan kita bergantian saling
mengunjungi.  Sementara di hari ketujuh
lebaran, biasanya masyarakat Jawa menamainya dengan "Kupatan' (lebaran
ketupat).  Umat muslim merayakan lebaran
ketupat dengan memasak ketupat dilengkapi dengan sayur lodeh, bubuk kedelai dan
sambal kelapa.  Huiih nikmat sekali. 

            Sementara di Papua, seolah lebaran hanya
berlaku dua hari saja, bahkan lebaran ketupat hanya dirayakan oleh sebagian
kecil umat muslim.  Bulan September 2003 aku
datang ke Papua.  Karena suamiku seorang
tentara otomatis aku tinggal di asrama.  Beberapa
bulan kemudian aku menghadapi lebaran yang perayaannya sungguh belum pernah kubayangkan
sebelumnya.  Kebetulan suamiku seorang
perwira yang anggotanya satu asrama (satu detasemen), otomatis aku harus
mengadakan "open house". 

Hari pertama lebaran, setelah selesai melaksanakan sholat Id, semua
anggota dan keluarganya berbondong-bondong ketempat yang telah disiapkan.  Biasanya hari itu akan diambil Komandan untuk
menjamu seluruh anggotanya.  Tersedia
beberapa menu yang disajikan, seperti opor ayam, bakso, gulai sapi dilengkapi
dengan es kopyor dan buah.  Sedangkan
untuk anak-anak anggota masing-masing dibagikan uang selembar sepuluh ribuan
dan snack yang telah dibungkus plastik ulang tahun.  Setelah bersalam-salaman, seluruh anggota
langsung mencicipi hidangan yang telah disediakan.  Waktu yang disediakan untuk menikmati
hidangan lebaran kurang lebih dua jam.

Setelah acara bersalam-salaman di dalam asrama selesai, selanjutnya kita
berkunjung ke kediaman para pejabat Kodam, dimulai dari Pangdam, Kasdam,
Asisten dan sebagainya.  Biasanya yang
berkunjung, Komandan, seluruh perwira dan keluarga, serta bila ada permintaan
sejumlah anggota.  Di kediaman
pejabat-pejabat tersebut juga menyediakan hidangan yang bervariasi, seperti
bakso, sate, tekwan, soto, siomay, empek-empek, opor dan lain-lain.  Tinggal pilih sesuai selera saja.  Bahkan untuk yang membawa anak-anak juga
disediakan amplop berisi uang dan snack dalam plastik ulang tahun.  Pokoknya di hari pertama lebaran kita bakalan
kenyang oleh jamuan yang bermacam-macam jenis dan rupanya.

Satu hal yang menarik, disepanjang jalan banyak kujumpai anak-anak Papua
yang membawa karung.  Rupanya karung itu
berisi bungkusan plastik snack dan minuman kaleng.  Seolah kaki mereka sudah terbiasa berjalan
jauh, panas terik pun juga sudah biasa. 
Mereka berjalan bergerombol dari satu rumah ke rumah lain yang merayakan
lebaran, berharap dapat seplastik snack dan sekaleng minuman.  Bayangkan seandainya sepuluh rumah yang
mereka kunjungi dan masing-masing memberi jatah seperti itu, jadilah karung
beras 25 kiloan itu penuh.   Sayangnya sebagian anak-anak itu berlaku
curang.  Yah…namanya juga anak-anak, di
Jawa pun juga berlaku yang sama.  Bila
snack yang diberikan terlihat banyak isinya maka anak-anak itu akan
berulangkali datang ke rumah tersebut, berharap dapat bungkusan yang banyak
jumlahnya.  Jadi ingat lebaran waktu
kecil di Jawa.  Kebetulan waktu itu Ibu
ada rejeki, jadi ingin berbagi.  Ketika
anak-anak datang bertamu, Ibu selalu menyuruhnya makan kue, setelah selesai dan
mereka berpamitan pulang, Ibu membagikan selembar uang seribuan kepada mereka.  Karena hanya ditempatku saja yang melakukan
hal seperti itu, akhirnya banyak anak kecil yang berdatangan ke rumah berharap
selembar uang seribu.  Oooh…masa kecil
yang menggelikan.  Dan sekarang, setelah
melihat kejadian itu, rasanya geli juga.   
Sampai akhirnya sebuah tanda yang menyita perhatianku.  Segerombolan anak yang baru saja keluar dari
salah satu rumah, jari kelingkingnya sebelah kiri diberi tinta seperti habis
ikut pemilu.  Aku sempat berpikir, apakah
ada pemilu susulan di Papua?  Setelah kuselidiki,
ternyata si empunya rumah merasa jengkel dengan ulah anak-anak yang bolak-balik
datang kerumahnya sampai lima
kali.  Akhirnya untuk mengantisipasi agar
anak-anak yang sudah datang kerumahnya tidak datang lagi mengambil snack,
diterapkanlah peraturan itu.  Bagi
anak-anak yang sudah mempunyai tanda di kelingking kirinya sudah tidak bisa
lagi mengambil snack, karena jatah snack untuk satu orang anak adalah satu
plastik.  Wah, ide bagus juga pikirku.  Yah, itu adalah perayaan lebaran
pertama.  Dari pertama kali aku
menginjakkan kaki di Papua sampai sekarangpun kebiasan itu masih tetap berlaku.

Ketika memasuki hari kedua lebaran, saatnya aku mempersiapkan diri
melaksanakan "open house" di rumah. 
Biasanya seluruh anggota dan keluarganya yang tinggal di dalam asrama
berdatangan ke rumah, disamping ada juga teman-teman dari satuan lain yang
berdatangan.  Mereka berdatangan dari
sore sampai malam hari, kadang sekali datang sampai dua puluh orang.  Inilah yang membuatku kewalahan melayani
mereka.  Setiap lebaran, pertama sekali
yang kupikirkan adalah merencanakan menu. 
Aku memang sengaja menyediakan menu yang berbeda-beda dari tahun ke
tahun.  Dari lebaran pertama sampai
lebaran ketujuh kemaren, menu yang kusajikan bergantian.  Soto babat, soto ayam bening, siomay, bakwan malang, bakso kikil,
tekwan, empek-empek, dan opor ayam. 

Menurutku lebaran tahun ini terasa sangat beda dan berkesan.  Bayangkan, sejak sebelum puasa aku
merencanakan ingin menyajikan tekwan. 
Dari hasil bertanya kesana kemari, akhirnya jadilah masakan tekwan.  Bakso ikan tengiri, bihun, kembang tahu,
bunga sedap malam, potongan bengkoang, jamur, daun bawang, bawang goreng,
sambal ditambah kuah bakso yang diberi skengkel atau tulangan.  Benar atau tidak resepnya, yang jelas menuku
kali ini membuat semua orang penasaran. 
Bahkan ada yang sempat nyeletuk, "ini masakan apa sih", atau "kok aneh
ya masakannya apalagi campurannya, saya baru kali ini makannya."

Alhasil karena semua orang penasaran, semuanya mencicipi, bahkan ada yang
nambah.  Persediaan yang tadinya kukira
cukup atau melebihi ternyata meleset total. 
Semuanya habis, mulai dari bunga sedap malam, kembang tahu, jamur,
potongan bengkoang, bihun, bahkan baksonya juga nyaris habis.  Beruntunglah aku bikin kuah banyak
sekali.  Akhirnya dengan setengah
kelabakan, aku minta tolong anggota bujangan untuk membelikan bahan-bahan yang
habis.  Sementara itu persediaan
mangkokku juga habis.  Dengan terpaksa
aku meminta bantuan satu orang anggota bujangan lagi untuk membantu menyuci
mangkok yang kotor.  Aduh, kelabakan tapi
menyenangkan.  Bayangkan, disaat
pelengkap tekwan sepeti jamur dan kawan-kawannya habis, masih banyak tamu yang
berdatangan.  Dengan terpaksa mereka
kusuruh mencicipi baksonya saja.  Saat
mau merasakan nikmatnya kuah bakso, ternyata mangkoknya habis, sementara
persediaan kursi tamu juga sedang dipenuhi oleh anggota yang belum selesai
menikmati tekwan.  Jadilah tamu-tamuku
yang baru berdatangan menunggu mangkok yang masih dicuci, dan pelengkap tekwan
yang baru saja dibeli dan sedang direbus, sambil duduk di lantai.  Aduh, kasihan sekali melihat mereka. Tapi
seperti itulah keadaannya, dan mereka juga nyaman dengan keadaan seperti itu.Lucunya, ketika banyak tamu yang berdatangan, harusnya aku menyambutnya
didepan pintu seraya bersalaman.  Setelah
itu mempersilahkan tamu untuk langsung mencicipi hidangan makan berat, minum
atau hanya snack yang di meja tamu.  Tapi
berhubung aku tidak mempunyai pembantu, akhirnya ketika tamu berdatangan, aku
dan suamiku hanya menyalaminya, setelah itu mempersilahkan mencicipi
hidangannya.  Selebihnya aku dan suamiku
sibuk di dapur, merebus bakso, jamur, bunga sedap malam, kembang tahu atau
bihun.  Setelah pelengkap itu masak,
barulah suamiku mengangkatnya dan menuangkannya di meja hidangan, sambil
sesekali melihat-lihat apa saja yang perlu di tambah.  Bila tamu telah mencicipi hidangan dan
berniat berpamitan, barulah aku dan suamiku keluar dari dapur, kembali
menyalaminya. Wah seru deh pokoknya. 
Jadilah aku dan suamiku si tuan rumah yang melayani tamunya.  Sepertinya kejadian semacam ini selalu
kualami setiap aku merayakan lebaran di rumah dinasku.  Sibuk dan capek memang.  Tapi ini hanya berlangsung satu hari saja,
selebihnya, untuk hari ketiga dan seterusnya aku hanya menghidangkan
snack-snack kering di atas meja tamu dilengkapi dengan minuman kaleng.  Bicara soal minuman kaleng, anak-anak paling
suka mengumpulkan minuman kaleng.  Kadang
mereka membawa tas kresek waktu bertandang dari rumah ke rumah.  Unik kan.
Bisa jadi lebaran tahun ini adalah lebaran terakhir aku dan suamiku
merayakannya di Papua.  Karena tidak lama
lagi kami akan meninggalkan tanah Papua sehubungan dengan berakhirnya tugas
suamiku di pulau paling ujung ini.  Satu
hal yang bisa kupetik dari perayaan lebaran di Papua yang telah kujalani selama
tujuh tahun adalah kemandirian.  Sejak
awal aku datang ke Papua, sengaja aku dan suami sepakat untuk membangun sebuah
keluarga kecil bersama-sama tanpa campur tangan pihak lain.  Kami berusaha mengerjakan segala sesuatunya
sendiri, walau pada awalnya aku merasa berat melakukannya.  Namun berkat kesabaran dan ketelatenan,
bahkan teladan dari ibu aku bisa melaluinya dengan baik.  Meski kepedihan itu selalu kurasakan saat
lebaran,  saat aku tidak bisa berkumpul
bersama keluarga besarku atau sungkem pada ibu bahkan mertua, karena aku sadar
bahwa seorang prajurit dan keluarganya tidak bisa cuti sembarangan.  Sedih memang. 
Namun, berkat acara "open house" yang tujuh kali kujalani, rasa itu
sedikit terobati, karena aku harus melayani tamu dan memasak sendiri.Bahkan berkat perayaan lebaran ini, aku jadi tahu menu-menu masakan,
bumbunya, bahkan cara memasaknya.  Bila
kuingat, pertama kali yang kulakukan setelah menikah adalah bengong, karena bingung
harus melakukan apa.  Untuk urusan
memasakpun aku kurang piawai, sampai aku pernah berpuasa seharian gara-gara
tidak bisa memasak, belum tahu warung nasi, belum kenal tetangga, sementara
suami berangkat ke kantor.  Culun!   Dan sekarang, aku hanya bisa berkata…terima
kasih ya Allah, Engkau telah memberikan aku sebuah pengalaman yang sangat
berharga yang mungkin belum tentu kudapatkan di daerah lain.  Terlebih, Engkau telah membantuku merubah
jalan hidupku untuk mewujudkan keluarga kecilku yang bahagia.  Amin.
Jayapura,   
Nopember 2009

"Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!
http://id.mail.yahoo.com"

Attachment(s) from Sri Wahyuni

2 of 2 Photo(s)

2 of 2 File(s)

2.

Berbagi Ilmu Penulisan

Posted by: "Anwar Holid" wartax@yahoo.com   wartax

Tue Nov 17, 2009 12:12 pm (PST)



Berbagi Ilmu Penulisan
---Anwar Holid

Writing is a journey to the unknown.
--Charlie Kaufman

Selama tiga bulan terakhir ini saya menjadi guru workshop penulisan di sebuah yayasan di Bandung. Workshop tersebut berlangsung tiap Sabtu, akan berakhir pada Sabtu, 20 November 2009 nanti, ditandai dengan acara nonton bareng film tentang penulis---kami masih menimbang apa akan nonton tentang Beatrix Potter atau Harvey Pekar. Sekitar dua bulan sebelumnya saya juga menjadi instruktur kelas serupa di visikata.com. Namun karena gagal berkomitmen, saya mengundurkan diri dua minggu sebelum program tersebut akan selesai.

Sebenarnya saya enggan menjadi guru, sebab kemampuan pedagogi saya boleh dibilang nol. Yang lebih membuat saya suka ialah pengalaman berbagi dengan para peserta. Momen itu sangat berharga, dari sanalah saya bisa menyerap ilmu dan pengetahuan milik orang lain. Lepas dari kekurangan sebagai instruktur menulis, entah kenapa saya bersemangat sekali ingin merenung setelah workshop itu selesai. Ada apa dengan kemampuan menulis? Ini bisa jadi sangat terkait dengan kebiasaan baca juga.

Agak mengherankan ada peserta yang ikut pada pertemuan pertama, tapi setelah itu tak pernah muncul kembali. Atau sebaliknya, awalnya tampak bersemangat, menunggu-nunggu, bahkan janji akan terus hadir selama masa workshop, tapi begitu dimulai tak sekali pun batang hidupnya tampak. Ada juga yang persis tahu workshop sedang berlangsung, tapi ternyata dia memilih aktivitas lain. Kejadian ini membuktikan ternyata tak semua niat kuat itu akhirnya terlaksana. Ini mirip dengan sesal sebagian orang yang gagal membaca tumpukan buku, meskipun dia semangat berniat menghabisinya, tapi waktunya ternyata habis buat kerja dan merokok, sementara sampul bukunya terus tertutup rapat. Bisa jadi kemampuan retorika saya buruk dan ilmu saya cetek, jadi gagal menjadi guru menulis dengan pesona seperti magnet dan mampu memikat banyak peserta. Tapi bagaimana lagi, justru dengan berbagi ilmu itulah saya pun mendapat pengetahuan baru.

Kejutan lain ialah ternyata ada peserta yang benar-benar mengaku tidak bisa menulis apa-apa (blank), bingung cara memulainya, meskipun dia merasa ada sesuatu di dalam kepalanya yang ingin ia tumpahkan. Seseorang mengaku baru bisa menulis bila ada pendapat yang merangsang pengetahuannya, jadi tulisannya merupakan respons dan sumber polemik. Ada lagi peserta lain yang tampak mampu menulis, punya banyak pemikiran dan pendapat, berpengalaman membaca banyak literatur, namun merasa tidak punya waktu untuk menulis, dan Tuhan tampak belum menakdirkannya untuk menulis. Dia percaya sebagian penulis memang sengaja diberi waktu khusus untuk menulis, seperti Buya Hamka yang baru bisa menulis tafsir Al Quran ketika di penjara. Teman saya ini mengaku kehabisan waktu menulis karena kegiatannya tersita untuk mengurus warung. Dia agak yakin bahwa sebagian karya tulis itu seolah-olah lahir dari keadaan "terpaksa" kalau bukan memang sudah dirancang seperti itu. Dugaan ini
benar. Sejumlah buku atau karya tulis tampaknya tidak lahir dari tangan, tetapi dari mulut pengarangnya. Contoh terkemuka dari "menulis" model ini ialah ribuan puisi Jalaluddin Rumi, yang konon lahir begitu saja dari ucapan beliau ketika dalam keadaan ekstase spiritual. Para muridnya yang mendengar itu langsung "mengikat puisi itu" dengan mencatatnya. Di Bandung, keprolifikan Jalaluddin Rakhmat salah satunya berkat rutinitas ceramah mingguan di masjid samping rumahnya. Koleganya---kalau bukan putranya sendiri---lantas mentranskripsi sekaligus mengedit hasil ceramah dan tanya jawab itu menjadi sejumlah buku dengan tema tertentu. The Autobiography of Malcolm X awalnya merupakan penuturan Malcolm X kepada penulis Alex Haley, dan akhirnya menjadi buku monumental. Jelaslah bahwa buku tidak mesti lahir dari tulisan atau ketikan, ia juga bisa lahir dari rekaman dan ucapan.

Belajar dari pengalaman, saya cukup percaya bahwa menulis berawal dari kebiasaan yang diteguhkan lewat disiplin. Kebiasaan bisa jadi bermula dari keberanian. Saya juga yakin bahwa menulis merupakan keahlian (kemampuan) yang bisa dipelajari. "Kamu hanya butuh alat, bukan aturan," demikian tegas Roy Peter Clark dalam bukunya Writing Tools. Alat menulis ialah bahasa dan seluruh unsurnya, alat untuk menyampaikan pesan dan luapan pesan sepenuh perasaan dan tepat seperti keinginan kita. Saya berpegang bahwa awal menulis bisa dipicu dengan adagium KEEP YOUR HAND MOVING dari Natalie Goldberg. Meski Alfathri Adlin, seorang teman saya, bilang yang lebih mendasar ialah KEEP YOUR MIND THINKING. Itu benar. Menulis maupun membaca merupakan keterampilan yang harus dipelajari manusia. Ia bukan bawaan orok. Dulu kita semua buta huruf dan buta menulis. Baru setelah belajar a-b-c, kita jadi bisa menyampaikan pesan lewat pernyataan.

Jadi lebih dari sekadar bisa menulis dengan baik, orang ingin mewujudkan isi kepala jadi tulisan persis sesuai keinginannya. Mungkin itu sebabnya sebagian mahasiswa heran kenapa dia pernah bisa menulis paper atau skripsi, tapi bingung dengan isinya, atau tulisan itu betul-betul buruk sampai malu bila harus dibaca kembali. Ini persis kata Joe Elliot, vokalis Def Leppard, yang pernah berseloroh begini: "Saya harus mabuk dulu kalau mau mendengarkan album pertama kami." Orang bisa geleng-geleng kenapa dahulu dia bisa menulis secara ajaib---baik bagus ataupun buruk. Penulis hanya perlu mengakui bahwa itu memang karyanya. Setelah itu lupakan atau lanjutkan. Kehidupan jalan terus, pikiran lain mendesak, emosi perlu diluapkan.

Selama workshop, saya menyadari bahwa mayoritas peserta sebenarnya sudah punya kebiasaan dan kemampuan menulis yang bagus, berani berekspresi dan bereksperimen, punya kebiasaan menulis yang hebat, bahkan sebagian dari mereka sudah berprestasi, misalnya memenangi sayembara penulisan. Sebagian orang punya blog yang rutin dia isi dan ternyata jadi favorit banyak orang. Bila dia menulis, tanggapan orang bersahut-sahutan. Peserta lain jadi redaktur buletin internal yayasan. Saya pikir itu tanda bahwa mereka telah jadi penulis. Di sisi lain ada juga teman yang masih ragu untuk berani mengirimkan tulisan ke media massa semata-mata dia merasa pemikirannya bertentangan dengan arus utama saat itu, meskipun argumennya kuat dan jelas. Fenomena ini muncul berbagai kesempatan workshop penulisan yang pernah saya hadiri. Jadi apa kekurangan mereka? Yang paling utama ialah mereka buta akan aturan umum (standar) menulis yang berlaku di media massa atau digunakan oleh
penerbit yang bagus. Ini lebih dari sekadar menguasai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dengan baik, melainkan menulis secara efektif, hemat, fokus, tegas, langsung pada sasaran. Menguasai EYD tentu bisa membuat tulisan kita rapi, tapi belum menjamin tulisan kita "bernyawa" dan punya "suara" sendiri, yang kuat, mampu mempesona pembaca dari awal sampai akhir.

Ini persis kriteria Hetih Rusli terhadap tokoh cerita yang kuat. "Yang terpenting ialah meniupkan nyawa ke dalam diri si tokoh. Tokoh tersebut harus hidup, bergerak, dan bernapas pada saat kita membacanya. Si tokoh harus hidup dalam bentuk tiga dimensi di benak pembaca, bukan cuma tertulis di atas kertas." Hal serupa berlaku pada tulisan nonfiksi. Feature profil orang dan biografi hebat pasti punya tokoh yang mengesankan.

Wajar kalau begitu banyak orang mampu menulis namun dia heran sendiri kenapa tulisannya diabaikan orang lain atau ditolak media massa. Perhatikan blog, zine, atau media tertentu lain. Mereka suka menulis suka-suka, sehendak hati, tak peduli apa orang lain kesulitan dengan cara berbahasanya. Ini membuktikan sebenarnya menulis sangat personal, khas, sesuai maksud masing-masing---sementara industri, akal sehat, kesepakatan umum, dan keinginan menyetarakan cara berpikir memunculkan standardisasi. Sejumlah orang mampu menulis di luar standar dan ternyata baik-baik saja. Saya pernah bertemu mahasiswa yang menerbitkan zine tapi buta EYD. Bagi dia yang penting ekspresinya terlampiaskan dan pikirannya tersampaikan.

Itu sebabnya saya berpendapat bahwa persoalan terbesar menulis ada pada proses editing (penyuntingan). Saat itu penulis harus berjarak dari karyanya dan tulisan mulai hendak menyapa pembaca luas. Jernihkah maksudnya? Mau apa dia dengan tulisannya? Bisakah tulisan itu dibaca? Bagaimana bahasanya? Kepaduan paragrafnya? Apa persis sesuai keinginan penulis? Adakah emosi mengalir di sana? Ketika diedit, tulisan dinegosiasikan. Saya pernah menghabiskan empat kali pertemuan hanya untuk membahas editing satu karya sebelum penulisnya benar-benar siap mengirimnya ke media massa. Apalagi saya ternyata bukan tipe editor killer yang tega main babat kalimat kabur tanpa diskusi lebih dulu. Di fase inilah berkah lain muncul, yaitu saya jadi membuka-buka rujukan baru. Mizan mengirimi Quantum Writer (Bobbi DePorter), dari Herry Mardian saya memfoto kopi Writing Tools (Roy Peter Clark) dan On Writing Well (William Zinsser), Ignatius Haryanto mengirimi The Quotable Book
Lover (Ben Jacobs & Helena Hjalmarsson, eds.) dan Menuju Jurnalisme Berkualitas. Semua merupakan pustaka berharga.

Persoalan editing juga yang saya kemukakan kepada bang Mula Harahap waktu dia menelepon saya membicarakan sekolah tulis-menulis yang sedang dia rancang di kepalanya. "Iseng-iseng aku search tentang sekolah menulis, ternyata muncul nama kau," katanya. Wah, senangnya ditelepon senior ramah seperti dia. Sudah lama kami tak kontak.

Setelah workshop penulisan selesai, saya harus segera meneruskan order yang terbengkalai karena berhari-hari berkutat menyiapkan materi. Rekan kerja saya sampai penasaran karena saya membiarkan respons editannya. "Apa pembicaraan kita mengenai teks itu sudah berhenti? Saya harap tak ada salah paham di antara kita." Ah, tidak, jawab saya. Saya hanya sebentar teralihkan ke subjek yang juga penting untuk dikaji dengan sungguh-sungguh.

Entah kapan dan di mana lagi saya punya kesempatan berbagi ilmu penulisan.[]

Anwar Holid sehari-hari bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

3.

[KELANA LEBARAN] Di Pinggiran Kota Hingga Yang Hampir Terlupa

Posted by: "Lala Sari" sary_orange@yahoo.com

Tue Nov 17, 2009 12:12 pm (PST)

[Attachment(s) from Lala Sari included below]

Di Pinggiran Kota Hingga Yang Hampir Terlupa
Oleh: Umi Laila Sari
Sejak ibu meninggal, banyak
kebiasaan lebaran yang tidak lagi dilakukan keluarga saya. Sebenarnya bukan hal
yang sengaja tidak melanjutkan tradisi tersebut. Hanya saja, kami
–anak-anaknya—tidak cukup telaten dengan berbagai pernak-pernik lebaran. Jadilah, lebaran hanya ditandai dengan
sholat ID di pagi hari. Selebihnya, nyaris sama dengan hari-hari lainnya.
Tidak ada ketupat dan ayam opor yang dimasak sehari sebelum lebaran. Juga
tak ada kue kering apalagi kue basah menghiasi meja. Kalaupun ada, hanya kue
yang dibeli jadi sekedar satu atau dua toples untuk menyenangkan hati adik
kecil kami. Terlebih untuk baju baru yang sebelumnya tidak pernah terlewatkan
di setiap lebaran, tapi kini tersisa hanya cerita.
Aktifitas di hari lebaran bahkan
pada beberapa kali kesempatan jadi sangat membosankan. Saya dan adik-adik melalui
waktu hanya dengan menonton TV di sela menjamu tetangga yang silaturrahim. Paman dan Bibi dari pihak Bapak memang
semuanya tinggal di kota yang sama dengan kami. Tetapi, saya sangat jarang menyempatkan waktu untuk
bertandang ke rumah mereka.
Padahal, sewaktu kecil, saya cukup dekat dengan para sepupu. Kesibukan
kuliah dan mengajar senantiasa menjadi alasan ketidaksempatan saya untuk sanjo. Hal yang memalukan memang, ketika
setelah lebih dari setahun, Mang Cik,
adik Bapak, pindah rumah, saya tidak pernah tahu dimana rumah paman saya itu.
Sementara kerabat dari pihak Ibu,
semuanya di luar kota.
Sejak keluarga saya memutuskan hijrah ke Palembang,
puluhan tahun silam, saya hanya dua atau tiga kali 'mudik'. Tapi, keadaan
demikianlah yang akhirnya membiasakan saya rajin menulis surat, walau itupun akhir-akhir ini memudar
dengan kehadiran HP.
Sepertinya, saya mulai merasakan keterasingan
sebagai bagian dari keluarga besar. Saat bertemu atau menyapa mereka seolah hanya
ucapan basa-basi. Tidak lebih dari orang yang kebetulan dikenal. Sekedar say hello! Klimaksnya tentu yang saya
rasakan pada hari-hari lebaran.
Saya tidak menemukan derai tawa lepas seperti obrolan adik-kakak atau
paman-keponakan. Pengulangan jawaban yang sama saja untuk semua pembicaraan. "Bagaimana
kuliahmu? Oh iya, ambil jurusan apa? Adikmu sudah kelas berapa? Dia nakal
tidak?" Dan pertanyaan sejenis lainnya.
Ah, saya jadi jengah, sampai
akhirnya lebaran tahun ini menjadi begitu berbeda. Hari kedua lebaran, saya
sudah harus pergi ke pasar tradisional yang tak jauh dari rumah. Ingat kan, kalau di keluarga
saya tidak ada persiapan makanan bertumpuk untuk lebaran. Meski belum begitu banyak pedagang, saya masih
dapat berbelanja sayur dan lauk. Saat hampir makan siang, Bibi datang.
"Lo sendirian, Bi?" saya bertanya karena memang biasanya beliau datang
bersama yuk If, anaknya satu-satunya.
Semenjak Bibi bercerai, mereka hanya tinggal berdua.
"Iya, sengaja mau jemput kamu dan adik-adikmu. Katanya mau main ke rumah Mang Cik. Nah, kita ke rumah Bibi dulu
baru nanti bareng yuk If ke tempat Mang Cik." Kata Bibi menjelaskan sambil
terus memperhatikan saya yang sibuk masak-memasak. Benar juga, saya belum tahu
rumah mereka. Dari cerita yang saya dengar, kami akan dua kali naik angkot
dilanjutkan berjalan kaki dengan jarak lumayan jauh. Lokasi rumah Paman dan
Bibi sudah di pinggiran kota.
Transportasi ke sana tidak selalu ada, hanya sampai pukul 5 sore. Itupun hanya berhenti di jalan
besar. Jadi, untuk bisa ke sana perlu dijadwalkan secara khusus.
"Ya, Bi, sebentar lagi kan dzuhur. Nah, kami mandi dulu, makan, sholat, baru kita pergi," Saya mengusulkan
dan langsung dianggukan Bibi dan adik-adik. "Izin
dulu sama Bapak!" Adik perempuan saya mengingatkan.
"Iya, tahu kok!" Kalau urusan negosiasi sama Bapak, saya selau didaulat
oleh adik-adik untuk melakukan tugas tersebut.
***
Awalnya ketiga adik saya semuanya ikut. Tapi ternyata Iim, adik saya
kedua, diajak teman-temannya silaturahim, jadilah saya dan kedua adik yang
mengekor mengikuti Bibi. Ada uang transport yang sempat diberikan Bapak sebelum kami pergi, lumayan THR yang
telah lama tidak pernah kami dapatkan lagi.
Saya pikir, saya sudah berada di desa nan jauh sekali dari rumah. Untuk
bisa tiba di rumah Bibi, kami harus melewati jalan setapak yang hampir hilang
diantara ilalang-ilalang rimbun. Terlihat beberapa seng rumah penduduk yang
saling berjauhan. Rumah Bibi sendiri di ujung jalan terakhir.
"Sabar, itu sebentar lagi sampai," ucap Bibi karena adik saya yang kecil
terus bertanya dimana rumah Bibi. "Nanti Bibi buatkan sirup merah tapi tidak menyebabkan
penyakit. Ada lontong, pudding, trus kacang,…." Bagitu Bibi menghibur dia. Dan benar, saat tiba di rumah beliau, adik
saya langsung teriak kegirangan karena ada banyak makanan. Bibi dan yuk If semangat menyuguhkan makanan pada
Didik.
Saya takjub memandangi pemandangan sekelilingi rumah bibi. Ada sumur yang serupa
kolam kecil di samping kanan halaman. Karena airnya jernih, beberapa ikan
terlihat jelas dari atas. Juga dipercantik dengan tangkai dan bunga teratai
yang terapung di permukaannya.
Barisan rumpun bunga Roselah bermekaran juga menyemarakkan pemandangan.
Saya baru tahu kalau bunga itulah yang Bibi bilang sirup merah tapi tidak menyebabkan
penyakit. Setelah direbus dengan air dan ditambah gula, rasa dan warna bunga
tersebut serupa sirup. Lebih istimewa lagi, sirup Roselah merupakan obat alami guna menyembuhkan
berbagai gejala panas dalam.
"Kalau mau nanem, Bibi ambilkan
bibitnya. Gak susah kok menanamnya.
Biji-bijinya yang sudah tua ditaburkan ke tanah nanti tumbuh sendiri."
"Boleh, kebetulan Iim senang berkebun.
Kata Bapak, tangan Iim dingin. Kalau dia menanam, selalu tumbuh subur." Jawab
saya sambil terus menyantap pudding susu. Pohon pisang, alvokat, dan buah-buahan lainnya juga mengambil bagian di
setiap halaman rumah Bibi. Memang belum ada yang panen karena Bibi baru dua
tahunan pindah ke sana.
Beberapa bulan lebih cepat dari kepindahan Mang
Cik.
Usai makan-makan dan menunggu yuk If bersiap-siap, kami berangkat ke rumah Mang
Cik. Tak lupa saya menyempatkan diri berpose dengan latar semak dan ilalang
di samping rumah Bibi. "Ye…, nanti ngomong sama teman-teman liburan ke gunung
Dempo," komentar yuk If yang tahu benar saya kagum dengan suasana desa di rumahnya. Gunung
Dempo adalah tujuan wisata alam favorit warga Sumatera Selatan, berjarak
sekitar 4 jam perjalanan mobil dari pusat kota Palembang.
Jalan setapak menuju rumah Mang Cik ternyata lebih jauh dari jarak jalan setapak di rumah Bibi, meski suasananya
hampir serupa. Di sepanjang jalan,
selain pohon yang memang ditanam pemilik tanah, ilalang serta rumput liar, saya
menjumpai banyak pohon minyak kayu putih. Mulai dari yang masih setinggi
semeteran hingga yang lebih tinggi dari tiang listrik.
"Untuk apa, Mi?" tanya yuk If
saat saya memetik dahan kecil pohon kayu putih.
"Untuk kenang-kenangan. Tanda bukti sudah sampai di hutan pinggiran kota Palembang. He… he… Sekalian, siapa tahu, mau bisnis jadi
produsen minyak kayu putih." Dua cabang pohon telah ada digenggaman tangan
saya.
Bibi dan lainnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah saya. Tak
cukup hanya itu, saya pun memetik bunga liar entah apa namanya yang juga banyak
tumbuh di pinggir jalan setapak. "Semoga tidak mencuri, ini kan tanaman liar yang tumbuh bebas," guman
saya dalam hati.
Hari telah sore saat kami tiba di rumah Mang Cik.
"Waduh, ada tamu jauh. Na, Lia, Ndah, jingok,
siapa yang datang!" Bik Cik yang
pertama menyapa kami di pintu depan sambil memanggil tiga gadisnya. "Ayo masuk, beginilah rumah Mang Cik kau ni. Sayang, Mang Cik belum pulang."
Kejadian tahun-tahun lalu adalah bahasan tak habis untuk kami
perbincangkan. Sudah begitu lama kah kami berpisah hingga bertumpuk banyak hal
yang ingin saling kami ketahui. Sudah terlupakah saya bahwa memiliki para
sepupu yang kini telah tumbuh menjadi gadis cantik. Saya tak ingat, kapan
terakhir dapat berbicara hangat dengan Bibi dan Paman. Saya mungkin telah berpindah zaman.
Tugas kuliah, rapat organisasi,
kegiatan kampus, deretan agenda untuk target-target hidup yang telah terprogram
secara ketat. Semuanya menyesaki hari-hari saya. Huh, saya melupakan lembaran
indah semasa kecil bersama para sepupu. Kami begitu semangat adu cepat naik
pohon jambu. Sepakat untuk main di genangan air sisa banjir. Asyik hingga lupa
waktu untuk 'sekedar' main masak-masakan di belakang rumah.
Saya melupakan keceriaan bersama Paman dan Bibi. Bermain Bom-bom Car di
Timezone. Diajak nonton di bioskop untuk pertama kalinya. Keliling taman ria di
malam tujuhbelasan. Ah, semua tidak akan terulang tapi bukankah semua dapat tetap terjaga? Kehangatan, keceriaan,
kebersamaan sebagai keluarga besar. Tidak dengan menenggelamkan diri di dunia
yang memang telah kami miliki masing-masing.
"Mi, pulangnya sudah magrib bae.
Sholat dulu. Lagian jam segini, angkot sudah ngak ada lagi." Bik Cik berujar sebab sayup terdengar
suara tilawah dari corong masjid.
"Trus, kami pulangnya gimana Bik?"
Saya baru sadar, kalau angkot di sini tidak seperti di pusat kota yang masih bisa ditemui sampai pukul 9
malam.
"Ada tetangga sebelah kok yang bisa mengantar kalian sampai simpang depan. Kalian
tinggal nyambung naik angkot sekali lagi." Bibi menunjukkan kamar mandi. Saya
berwudhu, adzan sudah terdengar.
"Ya Allah, terima kasih atas anugerah ini," doa saya dipenghujung munajad
senja.
***
Seperti kesepakatan tadi, ada satu ojek sukarela yang bersedia
mengantarkan kami ke tempat menunggu angkot jurusan rumah saya. Yuk If dan Bibi menginap di rumah Mang Cik. Saya dan adik-adik tidak bisa
menginap karena izin dengan Bapak hanya
sampai sore.
Satu motor dinaiki empat orang. Kakak baik hati itu, saya dan kedua adik.
Belum pernah saya melakukan hal ini sebelumnya. Megegangkan, sebab saya duduk
di posisi paling belakang dengan rute jalan yang banyak 'polisi tidur'.
Bersyukur, setelah tiba di simpang
empat, angkot yang kami tunggu tidak terlalu lama datang juga.
"Yuk, cape'!" Didik mulai mengeluh.
"Iya, kita sudah mau pulang kok! Nanti langsung istirahat." Saya
tersenyum pada Si kecil. "Jangankan dia, saya saja sudah lelah banget." Saya membatin. "Semoga tidak
telalu macet, biar cepat sampai di rumah."
"Oh ya, Yuk, nanti beli sate
dulu ya!"
"Sate?" Saya heran. Pikiran saya, ia lelah eh tapi masih ingat makanan.
Uh, dasar anak-anak.
"Beres, nanti kita beli sate," Iya, adik saya satunya, cepat membalas.
***
Tak ada aktifitas lain saya lakukan sesampai di rumah. Mandi, sholat,
makan dan langsung tidur. Badan saya sudah sangat letih. Mungkin tidak terbiasa
lagi berjalan kaki dengan jarak yang jauh. Pengalaman tentang sanjo hari ini akan saya ceritakan ke
Bapak esok hari saja. Adik-adik sudah lebih dulu terlelap di tempat tidur. Hari
yang melelahkan memang. Tapi, sangat menyenangkan. Memasuki dunia lama yang
sempat terlupakan sejenak.
"Sekali lagi, terima kasih ya Allah," ucapan yang sama saya lafadzkan
sebelum menutup mata. Dan, mungkin lebaran tahun ini adalah lebaran terindah
setelah delapan tahun kepergian Ibu.
***

Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Attachment(s) from Lala Sari

3 of 3 Photo(s)

1 of 1 File(s)

4.

(oot) butuh fotografer dan kameramen junior

Posted by: "__MTA@photography__" made.t.artiana@gmail.com

Tue Nov 17, 2009 12:15 pm (PST)



Guys,

aku butuh kameramen (bisa MD1000) dan photographer (bisa pakai DSLR tentunya
) junior nih
berstatus mahasiswa juga boleh :-)
untuk beberapa kerjaan berbudget mini
yang berminat silakan email ke teddyartiana_photography@yahoo.com

--
salam,
MTA

[ My Photography PORTFOLIO ]
# Commercial Photography #
http://companyprofile.multiply.com
http://withbobsadino.multiply.com

# Wedding Special Photography #
Pernikahan Agung Puteri Sri Sultan Hamengku Buwono X
GRAJ Nurkamnari Dewi & Jun Prasetyo MBA
http://nurkamnaridewi.multiply.com

# Prewedding Photography #
http://theanonymouslove.multiply.com/
http://loveforallseasons.multiply.com/
http://outdoorprewedding.multiply.com
http://prewedding.multiply.com
http://prewedding1.multiply.com
http://prewedding2.multiply.com
http://prewedding3.multiply.com

# Wedding Photography #
http://candidwedding.multiply.com
http://weddingcandid.multiply.com
5a.

Re: KELANA LEBARAN - by arikunto

Posted by: "Novi Khansa" novi_ningsih@yahoo.com   novi_ningsih

Tue Nov 17, 2009 1:41 pm (PST)



Pak Ari, naskahnya juga di-copas di badan e-mail. Biar teman-teman di sini juga bisa membaca :)

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, kunto arybowo <arikunto@...> wrote:
>
> Assalamu'alaikum wr.wb.
>
> Saya ingin berparisipasi dalam Lomba Kelana Lebaran yang diadakan oleh milis
> Sekolah Kehidupan.
> Berikut biodata saya.
>
> Nama : Kunto Arybowo
> Alamat : Jl. Raya Pondok Gede No. 38 (Samping POM Bensin). RT 02/01- Kel.
> Lubang Buaya, Jakarta 13810
> Email : arikunto@..., masarkun09@...
> No. Telepon / HP : 021-98646520 / 081380390922
> Blog : arikunto.multiply.com
>
> Demikian yang dapat disampaikan.
>
> Jazakallah...
>
> Wassalamu'alaikum wr.wb.
> -arikunto
>

6.

[catcil] Friday the 13th

Posted by: "novi khansa'" novi_ningsih@yahoo.com   novi_ningsih

Tue Nov 17, 2009 1:52 pm (PST)



Saya tak percaya dengan tanggal sial, keramat, klenik dan hal lainnya.
Jadi, tulisan ini tak ada hubungannya dengan bau-bau itu, hehe. Ini
hanya pengalaman saya sepanjang tanggal 13 November. Salah satu hari
yang tak terlupakan bagi saya. ^_^

Dari pagi saya memang sudah
meniatkan mencuci baju, beres-beres rumah dan kemudian ke kantor dan
kuliah. Hari sudah siang ketika saya berangkat ke kantor. Dasar norak
kali, ya, saya mencuci baju yang banyak ditambah handuk-handuk, alat
sholat, dll yang membuat saya kelelahan, padahal masih banyak agenda
yang harus saya kerjakan. ~_~ Maklum mesin cuci baru, baru nyicil
maksudnya *_*

Saya hanya mampir sebentar mengambil naskah dan
menyerahkan CD dan segera meluncur, berangkat kuliah. Ujian tengah
semester hari terakhir. Terpikir untuk praktis naik ojek, tapi
mengingat jumlah rupiah dalam tas yang pas-pasan, saya coba-coba
mencari alternatif angkutan sambil meng-SMS teman saya. Moga bisa telat
~_^

Gelisah pastinya, tegang juga hingga lupa makan. Sambil membaca bahan ujian berulang-ulang. Sudah diulang dari kemarin-kemarin, tapi ya tetap aja yang nyangkut nggak banyak,
hehe.

Saya perhatikan jalan terus, hingga masih jauh dari tujuan saya berdiri. Agak lupa kalau harus lewat jalan yang tak biasa. Hingga ketika saya turun dari Patas, dengan suksesnya saya menjatuhkan tas selempang saya ke jalan raya yang padat. Saat itu saya membawa
dua tas. Satu tas selempang dan satunya kantong isi naskah. Kantong isi
naskah aman, tas selempang melayang... "Kok dibuang," ujar si kernet. Heh, bukan dibuang, Pak, tapi jatuh... jatuh nggak sengaja, karena saya lupa menyelempangkan tas saya ke bahu *_*

Saya cuma bisa memandangi tas saya meluncur ke bawah dan tergeletak
di atas jalan raya. Melihatnya terlindas mobil. Saya segera turun dari
bus, berlari dan menyetop mobil belakangnya dan memungut tas saya dan
segera menyebrang. Hmmm, alhamdulillah kondisi jalan raya sedang
merayap, kalau nggak, nggak tahu nasib tas saya beserta isinya. Lemas,
pastinya, tapi saya masih bisa
memeriksa isi tas yang kotor dan melihat HP saya terbuka.
Alhamdulillah, tidak rusak... Baru saya ketahui kemudian, kancing tas
rusak dan gantungan kunci yang ada dalam tas hancur. *_*

Sambil
menenteng tas yang masih kotor, saya susuri jalan menuju kampus dengan
perasaan beraneka ragam. Sempat membuat 'rusuh' kelas dengan cerita
sedikit pengalaman saya. Teman-teman sempat mengkhawatirkan hingga
kemudian kami kembali tenggelam dalam soal-soal ujian.

Ujian
selesai, saya harus pulang. Sempat mengambil uang di sebuah ATM dan
kembali menyusuri jalan. Belum hujan, masih rintik-tintik, tapi tak
lama kemudian hujan deras mengguyur. Saya berlari ketika menyebrang
jalan dan berteduh. Hujan makin deras hingga ketika ada patas, saya
nekat berbasah kuyup agar bisa menaikinya. Hari itu memang hujan cukup
deras, banyak air menggenang di mana-mana, dingin.

Dengan
keadaan basah kuyup saya masih sempat mampir ke sebuah toko. Ada
keperluan yang harus saya beli. Tak disangka di sana saya malah
mendapat kenalan baru. Dian namanya, mahasiswa semester satu di sebuah
kampus yang bekerja sampingan sebagai penjaga toko. Kami saling cerita
banyak hal. Lucunya hal itu bermula dari bros angklung yang saya pakai.
Dia tertarik dan ketika saya katakan tentang Sekolah Kehidupan, dia
makin tertarik dan banyak bertanya.

Akhirnya, saya sampai
rumah. Masih ada satu ember cucian yang harus saya bilas dan tentunya
menjadi dua ember yang harus saya jemur. Lelah pastinya, hingga ketika
ingin menjemur pakaian saya menemukan sebuah kenyataan baru *halah,
lebay. Air menggenang di ruang tengah lantai atas rumah saya. Cukup
banyak dan membuat basah kasur yang ada di atas lantai. Tugas menanti
kembali, mengepel dan berusaha mengeringkan lantai ~_~. Aduh, mak...
saya lupa, ada masalah dengan saluran air di balkon rumah. Kalau hujan
deras kami harus antisipasi untuk membendung air kalau nggak mau air
itu masuk ke dalam.

Fuuuuuuuuh... seolah tak selesai, tak lama
kemudian, motor yang harusnya saya bawa ke toko tak jua mau nyala
mesinnya. Mungkin karena jarang dipakai dan dia kedinginan, halah *_*
Yang jelas malam itu, saya dan kakak
saya terus men-starter motor, menggoes, ah entah istilahnya apa, tapi
tak jua mesinnya menyala hingga tetangga saya menolong dan mesin motor
pun menyala. Meluncur dengan indahnya menuju toko... masih tersisa
gerimis malam itu.

Alhamdulillah,
segalanya selesai. Setelah menaruh motor, saya dan kakak saya meluncur
menuju Pondok Gede. Menyusuri malam tanpa bintang setelah hujan
mengguyur dengan derasnya Jakarta dan sekitar. Saya hanya ingin tidur
malam itu, hingga... saat pergantian hari sebuah kejutan istimewa
datang... ^_^

***

"Anda adalah cermin dari pikiran-pikiran Anda Sendiri"
(Syekh Muhammad Al Ghazali)

***

novi_khansa'kreatif
~Graphic Design 4 Publishing~
YM : novi_ningsih
http://akunovi.multiply.com
http://novikhansa.wordpress.com/

7.

[Info] Simfoni 2 - Subagio Sastrowardoyo

Posted by: "gerai buku" epri_tsi@yahoo.com   epri_tsi

Tue Nov 17, 2009 3:16 pm (PST)



*
Sajak*

Apakah arti sajak ini.
Kalau anak semalam batuk-batuk,
bau vicks dan kayu putih
melekat di kelambu.
Kalau istri terus mengeluh
tentang kurang tidur, tentang
gajiku yang tekor buat
bayar dokter, bujang dan makan sehari.
Kalau terbayang pantalon
sudah sebulan sobek tak terjahit.
Apakah arti sajak ini
kalau saban malam aku lama terbangun:
hidup ini makin mengikat dan mengurung
apakah arti sajak ini:
Piaraan anggerek tricolor di rumah atau
pelarian kecut ke hari akhir

Ah, sajak ini,
mengingatkan aku kepada langit dan mega.
Sajak ini mengingatkan kepada kisah dan keabadian.
Sajak ini melupakan aku kepada pisau dan tali.
Sajak ini melupakan kepada bunuh diri.

(Simfoni Dua, 1999: hal : 23)

Simfoni Dua merupakan kumpulan sajak karya Subagio Sastrowardoyo yang
keenam, diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta, 1990 dan yang tersedia di
Geraibuku.com saat ini adalah Cetakan ke 5 tahun 1999 dengan penerbit yang
sama.

Kumpulan sajaknya yang pertama berjudul Simphoni (1957), kedua Daerah
Perbatasan (1970), ketiga Keroncong Matinggo (1975), keempat Buku Harian
(1979), kelima berjudul Hari dan Hara (1982).

Anda yang menyukai sajak-sajak Subagio bisa memesan buku ini melalui
geraibuku.com via email ke geraibuku@gmail.com atau sms ke [021] 3099 8655.
Harga buku edisi baru ini adalah Rp 25.000 dan ongkos kirimnya adalah Rp
5000 untuk anda yang tinggal di Jakarta. Mohon maaf persediaan terbatas.

------------

Tentang Subagio Sastrowardoyo :

Subagio Sastrowardoyo dilahirkan di Madiun (Jawa Timur) tanggal 1 Februari
1924. Dalam sastra Indonesia Subagio Sastrowardoyo
lebih dikenal sebagai penyair meskipun tulisannya tidak terbatas pada puisi.
Nama Subagio Sastrowardoyo dicatat pertama kali dalam peta perpuisian
Indonesia ketika kumpulan puisinya Simphoni terbit tahun 1957 di
Yogyakarta.Ia ditulis oleh seorang yang tidak memberi aksentuasi pada gerak,
pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya.

Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan
di luar sebab Subagio Sastrowardoyo memilih diam dan memenangkan diam. a
meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 18 Juli 1996 dalam usia 72 tahun.
Pendidikan Subagio dilakukan di berbagai tempat, yaitu HIS di Bandung dan
Jakarta. Pendidikan HBS, SMP, dan SMA di Yogyakarta.
Pada tahun 1958 berhasil menamatkan studinya di Fakultas Sastra,
Universitas Gadjah Mada dan 1963 meraih gelar master of art (M.A.) dari
Department of Comparative Literature, Universitas Yale, Amerika Serikat.
Subagio pernah menjabat Ketua Jurusan Bahasa Indonesia B-1 di Yogyakarta
(1954�1958). Ia juga pernah mengajar di almamaternya, Fakultas Sastra, UGM
pada tahun 1958�1961. Pada 1966�1971 ia mengajar di Sekolah Staf Komando
Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung .

Selanjutnya, tahun 1971�1974 mengajar di Salisbury Teacherrs College,
Australia Selatan, dan di Universitas Flinders, Australia Selatan tahun
1974�1981. Selain itu, ia juga pernah bekerja sebagai anggota Dewan Kesenian
Jakarta (1982�1984) dan sebagai anggota Kelompok Kerja Sosial Budaya
Lemhanas dan Direktur Muda Penerbitan PN Balai Pustaka (1981).

http://geraibuku.multiply.com/photos/album/115
8a.

[Ruang Baca] Whoever You Are, I Love You, Mom

Posted by: "Rini" rinurbad@yahoo.com   rinurbad

Tue Nov 17, 2009 3:45 pm (PST)



Sub judul: Kisah Nyata 116 Anak Perempuan Tentang Suka-duka Hubungan Mereka dengan Sang Ibu

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit: Serambi

Tebal: 319 halaman

Cetakan: ke-2, Desember 2008

Beli di: HM Books (second)

Harga baru: Rp 47.900,00

"Kehidupan akan mendatangkan berbagai cobaan yang tak terelakkan, namun kamu tidak boleh hancur oleh hantaman dari luar. Kuatkan batinmu. Kamulah yang memegang kendali bagi kebahagiaanmu sendiri." (hal. 43-44)

Layaknya pernikahan dan kisah cinta, hubungan anak perempuan dan ibu kandung tidak selalu semanis permen atau mengalir seiring sejalan. Duri-duri itu dikemukakan dalam kejujuran yang lembut oleh Iris Krasnow, dimulai dari kisahnya sendiri. Iris tidak pernah bisa merengkuh ibunya, wanita yang keras diakibatkan perjuangan bertahan hidup dan meloloskan diri dari Holocaust. Helene, sang ibu, mengganti nama dan menyamarkan identitas demi keselamatan. Ia memulai hidup baru di tanah yang sama sekali asing, namun kurang berhasil menjadi ibu yang penuh kasih. Maka, sebagaimana kebanyakan anak perempuan di dunia, Iris lebih dekat dengan ayahnya dan merasakan pukulan hebat tatkala lelaki itu meninggal dunia.

..Menurunkan harapan dapat mewujudkan kebahagiaan jangka panjang (hal. 45).

Orang bilang, dua orang perempuan yang sama-sama sudah dewasa sulit berbagi di bawah satu atap. Buku Iris mengukuhkan pameo tersebut. Sebagai makhluk yang sensitif dalam segala liku dan perilakunya, tidaklah mengherankan apabila seorang wanita kerap sukar berinteraksi sehat dengan ibunya. Bahkan sejak memasuki usia remaja, seorang anak perempuan acap kali mengalami letupan dan benturan dengan sang ibu.

Mengapa banyak sekali responden yang digamit Iris untuk menuangkan kisah? Di samping membuka hatinya sendiri, Iris mengemas dengan sedemikian rupa sehingga pengalaman narasumber yang berlainan latar belakang dan persoalan tersebut tidak berjejalan. Namun tidak pula sekadar beda-beda tipis belaka. Salah satu kontributor cerita ialah Chynna Phillips, penyanyi populer sampai awal tahun 90-an dengan duo Wilson-Phillips dan juga istri Billy Baldwin.

Iris tidak semata memberi ruang untuk menghamparkan kisah demi kisah. Ia menyelipkan renungan, petikan dari berbagai buku yang memperkaya cerita, ditambah pelajaran yang diraup bahkan oleh dirinya pribadi. Maka pengalaman dan tuturan para kontributor ditaut dengan empuk dan enak dibaca, ditambah bahasa yang bening menentramkan [tentu tak lepas dari peran Rahmani Astuti, sang penerjemah kampiun].

..bentakan seorang ibu bisa menarik otot-otot perut seorang anak, sedemikian rupa sehingga dia tidak bisa makan. (hal. 101).

Tidak semua anak dapat membicarakan ibu mereka dengan senyum dan kenangan manis. Ada ibu yang tidak pernah memuji atau membesarkan hati, dengan dalih ingin menguatkan mental anaknya. Ada ibu yang asyik dengan diri dan cita-citanya pribadi. Ada ibu yang gemar menghardik dan memberikan hukuman fisik. Ada ibu yang kerap dibanding-bandingkan oleh anaknya dengan ibu temannya. Ada pula ibu yang sampai lanjut usia pun masih mengkritik dan mencoba ikut campur urusan rumah tangga putrinya, seolah-olah ia anak kecil.

Menjadi ibu memang bukan tugas mudah. Ditambah berbagai perkara menyangkut keluarga yang tidak jarang menambah 'beban'. Misalnya dalam buku ini, ada ibu yang bercerai setelah menikah selama dua puluh lima tahun. Alhasil, anak perempuannya menangkap pengertian lain tentang cinta. Ia menilai tak ada cinta yang sejati dan patut diperjuangkan, maka ia memilih untuk melajang seumur hidup. Ketika seorang ibu tidak sengaja membunuh kucing kesayangan putrinya, sang anak tidak sanggup berkonfrontasi dan hanya berlari sambil meneriakkan isi hati keluar rumah. Hatinya terluka parah sebab sang ibu tidak menunjukkan penyesalan, apalagi minta maaf.

..kehidupan manusia dipenuhi dengan penderitaan karena kita cenderung menginginkan apa yang tidak kita miliki (hal. 119).

Apakah Iris mengajak pembaca menghakimi para ibu dan menyalahkannya sampai liang lahat? Menyalakan api kebencian dan tak pernah memadamkannya? Tidak. Iris menyodorkan realita bahwa hubungan yang berjarak dan tidak kompak melulu itu lumrah saja. Kita melipur batin dengan berbagai cara, untuk melakukan pemenuhan akan lapar emosional. Ada yang sempat mengalami gangguan pencernaan [dan jumlah kasus ini cukup signifikan], ada yang bergantung pada suami 'keibuan', ada yang meluangkan lebih banyak waktu untuk menyenangkan diri dan utamanya, melupakan. Karena memaafkan amatlah berat, jika tak hendak mengatakan 'mustahil'.

Seyogyanya, kita mengibaskan ekspektasi akan profil ibu yang serba ideal. Ibu yang mau mendengarkan setiap waktu, ibu yang menjaga privasi kita, ibu yang melontarkan dukungan positif, sekiranya itu tak dapat diperoleh. Beberapa responden mengambil keputusan untuk menjadikannya cermin. Bukan sebagai latar balas dendam, melainkan untuk memperoleh pelajaran berharga akan apa yang tidak sepatutnya dilakukan ketika mereka menjadi ibu pula.

..jangan menunggu kehidupan terjadi padamu, kamu harus keluar dan membuat hidup terjadi. (hal. 215-216).

Menerima diri sendiri dengan segala keterbatasannya [serta kelebihan yang perlu disadari pula] adalah sikap menyehatkan guna membenahi hubungan dengan ibu kita. Tidak usah lagi rendah diri karena ibu jauh lebih terampil, lebih tangkas, lebih pandai bergaul, dan sebagainya. Setiap individu dilahirkan berbeda, yang sedarah sekalipun.

Tentu saja buku ini memuat sisipan-sisipan dari psikolog dan psikiater terkemuka. Namun di tangan Iris, nukilan pemikiran Jung dan Freud diejawantahkan secara cair dan tidak mengusik kenikmatan mencerna. Kadang-kadang Iris menghadirkan sudut pandang ibu, mencuplik tokoh-tokoh dalam novel yang relevan, sehingga karyanya yang dialihbahasakan dari I am My Mother's Daughter ini kian berbinar.

Inilah satu dari sedikit buku parenting yang menonjol dan istimewa, di tengah riuhnya genre bacaan menyangkut pengasuhan anak, pendidikan dan kewanitaan. Menyeruak dalam berbagai buku yang mencitrakan ibu selaku sosok agung, serta menggedor mata hati. Sebab bagaimanapun juga, seorang ibu tetap manusia yang tidak luput dari khilaf.

Peace,
Rinurbad

8b.

Re: [Ruang Baca] Whoever You Are, I Love You, Mom

Posted by: "febty f" inga_fety@yahoo.com   inga_fety

Wed Nov 18, 2009 12:27 am (PST)





mbak rini, makasih reviewnya. bertambah lagi nih isi jurnal review di MP mbak rini :)

Suka kutipan ini:
> "Kehidupan akan mendatangkan berbagai cobaan yang tak terelakkan, namun kamu tidak boleh hancur oleh hantaman dari luar. Kuatkan batinmu. Kamulah yang memegang kendali bagi kebahagiaanmu sendiri." (hal. 43-44)
>

juga yang ini
> ..Menurunkan harapan dapat mewujudkan kebahagiaan jangka panjang (hal. 45).
>

dan yang ini
> ..kehidupan manusia dipenuhi dengan penderitaan karena kita cenderung menginginkan apa yang tidak kita miliki (hal. 119).
>

dan semakin menguatkan pendapat pribadi kalau menjadi bahagia adalah pilihan :)

salam,
fety

8c.

Re: [Ruang Baca] Whoever You Are, I Love You, Mom

Posted by: "Rini" rinurbad@yahoo.com   rinurbad

Wed Nov 18, 2009 1:07 am (PST)



Alhamdulillah.
Banyak sekali kutipan berharga dari buku itu, Fety..tapi kalau kumasukkan semua nanti jadi tenggelam:)
Terima kasih banyak sudah membaca, ya.

Peace,
Rinurbad

9.

[Ruang Baca} Whoever You Are..ada yang tertinggal

Posted by: "Rini" rinurbad@yahoo.com   rinurbad

Tue Nov 17, 2009 3:53 pm (PST)



Maaf, saya lupa karena copas dari blog.
Nama penulisnya adalah Iris Krasnow.

Peace,
Rinurbad

10.

[ Catcil ]MOMENT TERINDAH DALAM HIDUP

Posted by: "Jadikan Hidupmu Seindah Pelangi" rah_ma18@yahoo.co.id   rah_ma18

Tue Nov 17, 2009 9:00 pm (PST)



Sepulang ngajar adek menyodoriku dengan sepucuk undangan, katanya tadi ada mas-mas yang ngasih undangan itu untukku. Senyumku merekah saat kutau itu undangan pernikahan seorang teman. Sudah lama aku dapat kabar kalau dia akan menikah tapi ntah kapan hari dan waktunya, kulingkari tanggalnya dan kumasukkan dalam schedule agendaku.

Malamnya aku dapat sms dari seorang teman satu aktivitas, dia ingin meminjam handycam mungkin ada temen yang punya dan boleh dipinjam (heee… bagi yang dapat sms dariku tentang ini, sekarang tau kan apa alasannya) tapi sampai saat ini aku belum mendapatkannya, ada yang punya dan bersedia dipinjamkan? :D Dia kebetulan teman ngajar juga, biasa hidung detektifku sudah tak sabar untuk beraksi, ketika kutanya "butuh handycam buat apa?" dia hanya diam tersenyum. Aku mulai menatap matanya tajam penuh dengan tanda tanya, satu kata muncul dalam pikiranku, tapi aku tak kuasa untuk mengucapkannya, kugoda-goda akhirnya dia membawaku pada salah satu sudut ruangan (baca:mojok) tetep aja dia tak mau ngaku, ntahlah tiba-tiba pikiran yang tadinya sempat membuatku tak berani berucap akhirnya kuucapkan juga, "untuk acara pernikahan ya ukh?" sambil menatap matanya yang tiba-tiba berubah menjadi tersipu malu. Eee… dia ngaku juga, hari sabtu kemarin ada seorang ikhwan ( laki-laki ) yang menanyakannya dirinya dan tiga minggu lagi mereka akan menikah. Subhanallah aku begitu kagum dengan pertemuan mereka yang tak memakan banyak waktu, spontan kuajukan diriku untuk membantunya, aku bisa merasakan betapa susahnya mempersiapkan pernikahan dalam jangka waktu tiga minggu, itu bukanlah hal yang mudah. Dia harus lari sana sini, mengurus surat-surat, mempersiapkan catering, baju pengantin, format acara,dsb aku aja yang membayangkan pastinya ribet. Semoga diberi kemudahan. Dia memintaku untuk mengurusi masalah souvenir dan jadi penerima tamu diacaranya (nah kejawab kan bukan aku yang mau merid, siapa ya yang kemarin nuduh? ). Aku sms beberapa teman menanyakan mungkin ada channel untuk masalah souvenir, ternyata juga banyak yang nggak tau, tapi syukur dech dua hari kemudian aku dapat info percetakan yang menangani khusus souvenir di daerah Mojokerto.

Sore harinya dipertemuan salah satu Club Remaja aku disodori undangan pernikahan lagi, busyet!! Untung waktunya gak bersamaan. Aku ikut senang ketika melihat teman-temanku sudah menemukan pendamping hidupnya. Jadi bertanya pada diri sendiri, "kapan giliranku" (heee…) bisa jadi perjalan hidupku mencari pasangan hidup seperti salah satu temanku, tak lama-lama memakan waktu. Semoga hubungan suci yang terbingkai dalam pernikahan mereka bisa langgeng selamanya, bisa melahirkan generasi-generasi yang berintelijensi tinggi dan merubah negeri ini menjadi lebih baik lagi, tidak hanya mereka tapi juga kita yang mampu merubah dunia jadi lebih bermoral dan bermartabat.

Untuk semua teman-teman yang sedang merayakan hari bahagianya SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU :D

11.

Pendidikan sebagai bagian kehidupan

Posted by: "agus_salims" agus_salims@yahoo.com   agus_salims

Tue Nov 17, 2009 9:01 pm (PST)




Pendidikan sebagai bagian kehidupan

 

Oleh Wishnu iriyanto

 

Sadar bahwa ayahnya semakin tua, anak seorang pencuri
berkata,” ayah, ajarkanlah kepadaku kepandaianmu, sehingga
kalau ayah berhenti bekerja saya dapat meneruskan tradisi
keluarga.”

 

Ayah itu tidak menjawab, tetapi malam itu ia membawa anaknya ikut
membobol rumah. Sesudah berada didalam, ia membuka kamar mandi dan minta
kepada anaknya untuk melihat apa yang ada didalamnya. Segera sesudah
anak itu masuk, ayah itu membanting dan mengunci pintu kamar mandi itu
dengan suara keras sehingga seluruh isi rumah dibangunkan. Lalu ia
sendiri menyelinap dengan tenang.

 

Anak itu ketakutan dikamar mandi, marah dan bingung mencari cara untuk
melarikan diri. Lalu ia mendapat akal. Ia mulai membuat suara seperti
kucing. Karena itu seorang pelayan menyalakan lilin dan membuka pintu
untuk mengeluarkan kucing itu. Segera sesudah pintu kamar mandi
terbuka, anak itu melompat keluar. Semua orang mengejarnya. Ketika ia
melihat ada sumur di pinggir jalan, ia melemparkan batu besar
kedalamnya dan bersembunyi dalam kegelapan. Lalu ia lari ketika para
pengejarnya  melihat kedalam sumur karena mengira pencuri itu
tercebur kedalamnya.

 

Ketika anak itu sampai dirumah kembali, ia sudah lupa akan rasa
marahnya karena sangat ingin menceritakan kisahnya. Akan tetapi ayahnya
berkata,” untuk apa menceritakan kepada saya? Engkau ada
disini. Itu cukup. Engkau sudah mewarisi kepandaianku.”

(Doa sang katak 2, Anthony de Mello SJ)

======================================================================

Pernah bayangkan nggak kalau ada sebuah pusat pendidikan pelatihan
tentara seperti  modelnya AKABRI di Indonesia yang kemudian
menghasilkan tentara tentara yang mungkin saja memiliki pengetahuan
tentang seni bertarung dan berperang tetapi lulusannya ternyata takut
mati ?

 

Tentu saja itu artinya, sekolah tersebut tidak mencapai misinya yaitu
mencetak tentara yang tangguh dan berkepahlawanan.

 

Sebelum anda tersenyum membayangan kemungkinan diatas, anda harus juga
fair membayangkan bahwa sebagian besar sekolah bisnis, yang mungkin
saja mengajarkan teori teori kelas tinggi tetapi gagal dalam
menghasilkan lulusan yang tidak takut rugi.

 

Seorang tentara yang berpengetahuan tetapi takut mati adalah kesalahan
fundamental, sederajat ironisnya dengan seorang lulusan sekolah bisnis
yang pintar tetapi takut rugi.

 

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara ideal mencetak tentara
yang tidak takut mati atau seorang pebisnis yang tidak takut rugi?

Apakah itu artinya matakuliah seperti fear management atau risk
management harus diperbanyak ?

 

Cerita diatas menawarkan pendekatan yang menurut saya layak
dipertimbangkan.

Sekolah hanya bisa sukses mencetak lulusan bisnis yang tidak takut rugi
bila menjadikan rugi itu bagian dari kehidupan itu sendiri.

 

Ada salah kaprah yang besar yang terjadi didunia pendidikan, banyak
orang mengira bahwa pendidikan adalah persiapan untuk hidup, tetapi
kebenarannya adalah, pendidikan itu seharusnya menjadi  hidup itu
sendiri.

 

Pendidikan tentara bukan saja merupakan persiapan menghadapi kehidupan
yang dibayang-bayangi oleh kematian, tetapi bayang bayang kematian itu
haruslah  menjadi kehidupan dalam masa pendidikan itu sendiri.

Pendidikan bisnis bukan saja merupakan persiapan menghadapi kehidupan
yang dibayang bayangi oleh kerugian, tetapi bayang bayang rugi itu
haruslah merupakan bagian dari kehidupan pendidikan.

 

Kalau ini bisa dicapai dan direalisasikan, Indonesia tidak akan pernah
kekurangan pebisnis yang bisa menggerakkan ekonomi dan mensejahterakan
bangsa.

http://wishnuiriyanto.blogspot.com

12.

(KELANA LEBARAN) - Serasa Mimpi ada di MANDIRANCAN...

Posted by: "kunto arybowo" arikunto@gmail.com

Tue Nov 17, 2009 9:02 pm (PST)



*(KELANA LEBARAN) � **Serasa Mimpi Ada di MANDIRANCAN�*

**
**
*Oleh : arikunto*
* *
**
*PUASA MUDIK KE MANDIRANCAN*

�*Puasa Mudik*�. Tepatnya saya lakukan selama tiga tahun ini. Kenapa bisa
demikian? Alasannya sederhana. Dalam tiga tahun terakhir, saya dikaruniai
dua orang anggota keluarga baru. *Hilya (3 tahun)* dan *Kaysan (1,5 tahun)*.
Dan terakhir kami mudik ke Mandirancan � Jawa Barat, tepatnya empat tahun
lalu. Saat itu, baru punya tiga orang anak perempuan, *Hanina, Fadwa dan
Nuha* yang saat itu masih berusia balita. Bukan main repotnya kami dalam
perjalanan. Yang satu minta susu, yang satu minta mainan, lompat ke kursi
depan dan belakang mobil. Belum lagi kalau sudah �mewek� dan berkelahi. Wah�
pusyinggg. Perjalanan yang harusnya bisa 5-6 jam. Bisa molor, tambah 2-3
jam, karena terlalu banyak berhenti di tempat peristirahatan. Sebenarnya
seru juga, tapi begitu sampai di kampung, kami langsung �ngeblak� dan teriak
dengan penuh syukur. Alhamdulillah� akhirnya sampai juga! Nah, karena
pengalaman ini, meyebabkan kami berfikir dua kali jika akan mudik.

Lalu bagaimana dengan tahun ini? Sempat saya putuskan untuk puasa mudik
kembali. Minimal mudik tahun depan, ketika dua balita saya, sudah lebih
besar lagi. Namun, begitu melihat orang tua dan kakak yang memboyong
keluarganya mudik. �*Ngiler*� juga kami dibuatnya. Terbayang indahnya
suasana dan hangatnya lebaran di Mandirancan. Hu.. hu�

�*Gimana, berani nerima tantangan nggak?*� tanya saya pada *Neng, *istri
saya.

�*Siapa takut!*� jawabnya mantap.

Dan begitulah. Akhirnya kita berdua tergoda untuk membatalkan puasa mudik
tahun ini. Itu artinya, kami siap menanggung resiko membawa �*lima** kurcaci
kecil�* yang dua diantaranya masih balita. *Saya, Neng, Hanina* (9 tahun) si
kembar *Fadwa dan Nuha* (7,5 tahun), *Hilya dan Kaysan*.

*Cirebon**, Mandiancan� We�re cominggg!* Doooh, segitu hebohnya! Padahal
mudik jarak dekat, kan ya? Hehe, nggak apa-apa. Walaupun dekat, kami yakin
tantangannya pasti sangat luar biasa.

Terus naik apa? Naik kereta? Bus? Nggak lah. Dirumah ada mobil kesayangan
keluarga kami. *Si Abu-abu. *Mobil kijang tua itu, mesinnya masih OK punya.
Tinggal di tune-up sebelum berangkat, beres deh! Resikonya hanya �*kerokan*�
saja kalau sudah sampai di tujuan, karena AC-nya memang hanya bermodal buka
jendela saja. Tapi enaknya lagi, jok tempat duduk bagian tengah bisa kami
buka, sehingga cukup untuk menggelar sebuah kasur. Jadi, hasrat anak-anak
untuk tetap loncat-locatan selama dalam perjalanan, tidak akan menemui
masalah. Hehe� asyikkk.

**

**
**
**
*HEBOHNYA MUDIK KAMI*

Sehabis sholat Jum�at kamipun berangkat. *Neng* memang hebat. Kalau sudah
niat, semua memang bisa dilakukan. Awalnya sempat �*glek*� juga waktu lihat
3 tas besar dan satu koper masuk dalam list penumpang mobil juga. Tapi
sebelum saya protes, *Neng *sudah lebih dulu nyerocos.

�*Ingat, anaknya lima, ya!*� sambil tangannya memberi aba-aba harus setuju
dan nggak ada pilihan lain.

Yoweeesss, lah! Toh mobilnya juga nggak teriak mengangkut barang-barang
sebanyak itu. Walaupun saya yakin, kalau saja boleh nyortir isi tas
tersebut, pasti nggak akan sebanyak itu deh� hehehe.

Selama di jalan, benar saja dugaan saya. Si kecil *Hilya *dan *Kaysan*,
minta duduk disebelah saya nyetir. *Neng *sudah membujuknya, tapi nggak
berhasil. Akhirnya jok depan dipenuhi empat orang. Belum lagi ulah
*Kaysan*yang sedang masanya ber�exlporasi� dengan apa yang dilihatnya.
Ndilalahnya,
barang yang paling menarik bagi *Kaysan* saat itu adalah *bantalan diujung*
*persneleng*, yang dia coba gigit bolak-balik. Terus *klakson*. Nggak
perduli kapan. Semenjak *Kaysan* tahu benda itu bisa bikin berbunyi �*tet..
tet.. tet..*�. Dia minta di pencet terus. Akibatnya kami harus menepi dulu,
menunggu si kecil puas memainkan klakson, baru setelah itu perjalanan bisa
dilanjutkan kembali. Ya, begitu lah. Sabar, sabar�

Lain *Kaysan,* lain pula *Hilya.* Diusianya ketiga tahun ini, rasa
ke�aku�annya sangat tinggi. Semua barang di klaim miliknya. Tidak terkeculai
terhadap kakak-kakanya. Makanan yang dibawa dari rumahpun, tidak boleh
disentuh tanpa persetujuan darinya. �*Punya YAYA*!� jawabnya tegas.

*Si Kembar* yang tadinya bisa menahan keinginan, akhirnya mulai hilang
kompromi dan mereka memilih �curi-curi� untuk mendapatkan makanan bawaan
mereka tersebut. Maka, sudah bisa ditebak. Aksi rebut-rebutan makanan tidak
terhindarkan. Heboh dengan sehoboh-hebonya. Untungnya kejadian tersebut
tidak berlangsung lama, berkat bantuan si* Sulung, Hanina* yang pandai
membujuk.

Kira-kira sampai di daerah *Sadang*. *Neng* minta menepi kembali. Mau
ke *minimarket
Alfa.* Saya sempat tanya, buat apa? Rasanya sewaktu berangkat tadi sudah
bawa makanan snack dan air minum cukup banyak.

�*Gimana, nggak mau cepat habis. Supirnya laper banget�*� sindir *Neng*.
Hehe, saya melengos saja, pura-pura nggak dengar, hihi.

Singkat cerita, ketika waktu Magrib, kami baru memasuki
*Cirebon**.*Perjalanan yang memakan waktu cukup lama memang, tapi
memang seperti itu
adanya. �*Neng sang navigator*� yang ada disamping saya mulai kelelahan.
Apalagi hari menjelang gelap, sehingga ia mulai panik jika ditanya ke mana
arah ke *Mandirancan*. Wew!. Akhirnya setelah tanya sana-sini. Kami sampai
di daerah *Sumber *� arah menuju *Mandirancan*. Di *Sumber* ada bubur yang
jadi makanan favorit kami. Dari rumah kami memang niat, akan mampir dan
membeli bubur Sumber tersebut. Akhirnya menepilah kami dan rehat
sejenak. *Nyam�
nyam�* Lumyan untuk melepaskan kepenatan selama perjalanan.

Sebelum memasuki wilayah Mandirancan*, Bi Parni* yang merupakan famili kami
sudah wanti-wanti berkali-kali. Dia telepon terus untuk mengingatkan. Nanti
kalau masuk perbatasan Cirebon-Mandirancan. Saya lupa namanya. Hmmm, kalau
tidak salah *Palangon*. Yang pasti, di wilayah itu ada hutan yang banyak
berkeliaran monyet-monyet disana. �*Jangan lupa untuk membunyikan klason
sebanyak tiga kali*� kata *Bi Parni*. Hihi, saya mbatin. Klaksonnya sudah �*
game-over*�, Bi! Karena dibuat main *Kaysan* sepanjang perjalanan tadi.
Kalaupun mau, pakai �perwitan� saja, gimana ya? *Prikitiw� prikitiw� *Haha.
Lagian juga tahayul, bukan? Jadi ya, di�*iya*�kan saja dan nggak perlu
dibahas lebih lajut.

Setelah merasakan perjalanan seru yang terasa lamaaaa� Alhamdulillah, kami
sampai ditempat tujuan. Disana, sudah ada *Eyang Mamah, Mang Adik *dan* Bi
Parni* yang menunggu. Suasana *rumah Eyang* yang sederhana dan nyaman,
membuat kami semua senang. Tanpa basi-basi, setelah mandi, sholat, cerita
sebentar ini itu dan �makan lagi - makan lagi�� Saya langsung tepar dan
nggak bangun bangun sampai subuh esok harinya. Pyuhhhh� capek euyyy

**
**
*WISATA DI MANDIRANCAN*

Esok hari dipagi buta, sekitar pukul 06.00 WIB. Sarapan khas daerah sudah
menanti dimeja makan. Ada serabi hangat. Biasanya di dalam serabi ini berisi
ocom atau tempe. Hmmm, yummmiii�

Sesudah puas sarapan, kami sudah tidak sabar untuk melihat panorama *Gunung
Ciremai*. Di alun-alaun, depan Masjid Agung dekat rumah, kami puas jalan
berkeliling dan memandanginya pesona gunung yang indah.

Sebelum matahari bertambah tinggi, kami pun menyempatkan menyalurkan
narisisme kami semua. Sambil main bola dan kejar-kejaran. Tidak peduli
walaupun dilihat penduduk sekiar. Biar deh! Yang penting senang dan punya
kenang-kenagan buat cerita di Jakarta nanti.

Pagi itu kami habiskan untuk menikmati sepuas-puasanya suasana kampung.
Dibelakang rumah Eyang ini, ada sebuah anak sungai. Anak-anak langsung
tertarik dn minta ke sana. Mereka ingin menangkap ikan ataupun sekedar
bermain sambil membenamkan kakinya ke dalam air . Kami semua �takjub� dan
terbawa suasana gembira.

Siang hari, setelah sholat dzuhur, kami gunakan untuk mengunjungi beberapa
kerabat yang ada di Mandirancan. Selanjutnya kami pergi ke daerah
wisata �*Linggar
Djati*�. Melihat wahana kolam renang baru, anak-anak tidak bisa menahan
keinginannya untuk berenang. Namun karena memang tidak *diprediksi*. Kami
tidak membawa perlengkapan renang. Ditambah lagi waktu yang sempit dan tidak
memungkinkan. Sayang sekali. Namun kami sudah berjanji. Lain kami pasti kami
akan mampir ke tempat ini lagi. Akhirnya kami semua menghabiskan waktu
berkeliling dan menikmati arena permainan yang lain.

**
*PERJALANAN PULANG KE JAKARTA*

Minggu pagi kami sudah berkemas dan siap kembali ke Jakarta. Takut kesiangan
dan tekena imbas arus balik, yang bisa bikin kami *senewen* nantinya.
Sebenarnya masih ingin lama lagi, namun apa daya. Senin, besok sudah hari
kerja effektif. Dalam bayangan saya, *Si - Boss* dikantor yang �*baik hati*�
sudah senyum-senyum dengan tangan �*melambai-lambai*� kearah saya. Entah,
mau memberi bonus atau mau ngasih kerjaan lagi. Hehe. Lho kok, *melambai-lambai
*bahasanya, ya? Hehe. Nggak mengerti juga tuh, kenapa? Maklum saja anak
kesayangan Boss, jadi nggak berani deh, nambah sehari saja bolos kerjanya.
*Halah banget� halah banget!

Back to story. Pukul 09.00 WIB pagi kami sudah packing dan minta ijin
kembali ke Jakarta. Kendaraan yang ke arah Cirebon ternyata sudah cukup
banyak. Berdoa, semoga nggak sepanjang jalan padat merayap. Bisa-bisa kaki
saya kena asam urat kalau harus nginjak gas dan rem sepanjang jalan. Untuk
menghemat waktu, saya memutuskan untuk masuk tol Cirebon dan akan keluar di
Palimanan. Nah, disini ada lagi kejadian uniknya. Entah karena saya meginjak
pedal terlalu keras, atau memang sudah waktunya minta ganti. Tiba-tiba saja.
*Bletak!* Wah, Nggak bisa oper gigi. Tali koplingnya putus. Wadoooh, padahal
posisi kami menjelang pintu masuk tol. Dan beberapa kendaraan dibelakang
kami sudah ikut mengantri. *Tenang, tenang*, pikir saya. Saya coba tarik
nafas panjang. Tapi yang panik malah navigator saya. Mukanya pucat.
Sepertinya takut nggak bisa pulang. Hehe

Beruntung posisi mobil saya tidak terlalau menghalangi jalan. Tapi biar
bagaimanapun saya harus menyingkirkan posisi mobil tersebut ketepi, untuk
mengechek kerusakannya. Saat itu tidak mungkin meminta pertolongan orang
lain. Karena memang posisi kami sudah masuk jalan tol. Terus siapa yang
harus mendorong *si Abu-Abu* ke bahu jalan? Apa �*Neng sang navigator*� yang
sedang panik itu? Atau para �*Kurcaci kecil*� yang sedang sibuk ngemil dan
tampangnya asyik-asyik saja? Akh, tidak mungkin� Ya sudah. Saya putuskan
saya sendiri yang akan mendorong mobil itu seorang diri.

*Neng* sang navigator saya beri tugas untuk ngambil kendali untuk nyetir.
Dia kelihatan tambah panik karenanya. Tapi mau bagaimana lagi? Dengan berat
hati dan dengan gaya kaku, ibarat orang yang baru mau ngambil SIM di Polda,
*Neng *benar-benar memberanikan diri duduk di kursi supir. �*Bismillah!*�
sambil matanya merem melek. Anak-anak yang melihat saat itu malah
teriak �*Horeee,
Ummi nyetir�!*� teriak mereka kompak. �*Diaaammm!*� jawab Neng dengan penuh
perasaan.

Dibelakang mobil saya sudah seperti �*Samson*�. Tu, wa, ga� uuuaaahhhh. Kok
berat sekali ya? Harusnya tidak seberat ini. Coba lagi ahhh. Tu, wa, ga�
akhhh. Lho kok, nggak bergerak? �*Sayang, jangan tegang yaaa..*� teriak saya
dari belakang. Neng hanya tersenyum walaupun keliatan dipaksakan. Mulai
lagi. Tu, wa, ga� hekkkzzz. Ada yang aneh, kenapa berat sekali, sih? Saya
kembali menghampiri Neng, untuk mencari tahu penyebabnya. Saya check
kembali. Posisi persneleng sudah OK. Dannn. Waw� ini dia penyebabnya. �*Sayang
kamu tahu pedal apa yang kamu injak itu?*� tanya saya penuh kesabaran. Neng
menggeleng dengan polos. �*Itu pedal rem, sayanggg. Jadi sampai �botak� aku
dorong mobil di belakang, kalau pedal itu kamu ijak, mobilnya nggak akan
maju-maju�*� jawab saya senyum-senyum menahan rasa. Neng hanya komen dengan
polosnya �*Ooo, begitu yaaa�*�. CAPEK DEH!.

Alhamdulillah, setelah itu urusan mendorong mobil tidak lagi jadi masalah.
Melihat adegan itu, para kurcaci tertawa-tawa. Neng dan saya akhirnya
nimbrung ikut tertawa juga. Dooohhh, hilang sudah ketampanan saya. Bau
wanginya hilang dan digantikan oleh kucuran keringat yang menetes sebesar
biji-biji jagung saat itu. *Hmmm, bener-benar pengorbanan seorang ayah
�judulnya��

Itulah kisah yang tidak pernah terlupakan. Akhirnya, saya berhasil
menyambung tali kopling untuk sementara. Selanjutnya acaranya mencari
bengkel mobil terdekat untuk memperbaikinya.

Singkat cerita. Perjalanan kami selanjutnya kami lalui dengan lancar,
walaupun dibeberapa titik kami mengalami juga kemacetan akibat padatnya arus
balik ke Jakarta. Tepat ketika adzan Isya berkumandang. Kami dengan selamat
sampai dirumah. Alhamdulillah. Benar-benar perjalanan seru yang
�menghebohkan�.

- - - -

Sebelum tulisan ini saya kirimkan untuk lomba. Neng sempet buka kompi dan
membaca tulisan ini. Hehe� Dia tambahan sedikit tulisannya. Dan sayapun ngikik
membacanya :

*Koment ah�.*

*Sayang, asli deh, tulisan kamu ini lucuuuuuu.. banget. Aku sampe
ketawa-ketiwi sendiri. Kalo tulisanmu ini ga menang, tapi buatku, kamulah
juaranya. Luv u�. neng.*

---------- Forwarded message ----------
From: Novi Khansa <novi_ningsih@yahoo.com>
Date: Nov 18, 2009 4:41 AM
Subject: [sekolah-kehidupan] Re: KELANA LEBARAN - by arikunto
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com

Pak Ari, naskahnya juga di-copas di badan e-mail. Biar teman-teman di sini
juga bisa membaca :)

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com<sekolah-kehidupan%40yahoogroups.com>,
kunto arybowo <arikunto@...> wrote:
>
> Assalamu'alaikum wr.wb.
>
> Saya ingin berparisipasi dalam Lomba Kelana Lebaran yang diadakan oleh
milis
> Sekolah Kehidupan.
> Berikut biodata saya.
>
> Nama : Kunto Arybowo
> Alamat : Jl. Raya Pondok Gede No. 38 (Samping POM Bensin). RT 02/01- Kel.
> Lubang Buaya, Jakarta 13810
> Email : arikunto@..., masarkun09@...
> No. Telepon / HP : 021-98646520 / 081380390922
> Blog : arikunto.multiply.com
>
> Demikian yang dapat disampaikan.
>
> Jazakallah...
>
> Wassalamu'alaikum wr.wb.
> -arikunto
>

13.

[Kelana Lebaran] Lebaran, Tak Berkelana Kemana-mana

Posted by: "Aan Diha" back2fitr@gmail.com   aansyafiqku

Tue Nov 17, 2009 11:35 pm (PST)



*LEBARAN, TAK BERKELANA KEMANA-MANA*

*Oleh : Aan Wulandari Usman*

�Hem�sudah mepet lebaran, masih ada ya, mahasiswa belum pulang kampung?�
kataku pada suami. Tampak beberapa mahasiswa di sebuah warung makan.
Pastinya, mereka membeli makanan untuk buka puasa. Hari itu, H-5 Iedul
Fitri. Perkuliahan sudah diliburkan. Normalnya, mereka sudah mudik,
berkumpul bersama keluarga menyambut hari raya. Tapi kenapa belum?

�Libur lebarannya mepet. Tanggung kali mau pulang. Apalagi, mereka baru saja
datang,� jawab si Mas.

Ya, perkuliahan dimulai lagi pada H+7 Iedul Fitri. Bagi yang rumahnya jauh
di luar Jawa sana, mungkin berpikir, waktunya nanti hanya habis di jalan.
Apalagi bagi mahasiswa baru. Awal puasa, mereka baru memulai menjadi
mahasiswa dengan kegiatan perkenalan mahasiswa. Tentu berpikir ulang untuk
mudik.

Tiba-tiba jatuh iba pada mereka. Bagaimana rasanya lebaran sendirian di
kos-kosan? Saya, sampai umur kepala tiga dan sudah berkeluarga, pasti pulang
di saat lebaran berkumpul dengan keluarga. Jangankan Iedul Fitri, bahkan
lebaran Iedul Adha pun kami usahakan selalu pulang.

Orang Jawa bilang, �jangan *mbatin*, nanti akan mengalami sendiri!�
Maksudnya, saya bisa saja mengalami lebaran tak pulang, karena pikiran saya
terhadap mahasiswa tadi. Tapi, tak pernah terpikir sama sekali, bila kami
tak mudik Lebaran. Selain jarak yang cukup dekat, Semarang-Magelang hanya
memerlukan waktu kurang dari 3 jam, rasanya jelas tidak afdhol, tidak sopan
bahkan kurangajar bila kami tak mengunjungi orangtua saat hari raya. Kami
pun merencanakan pulang saat H-2 lebaran. Beberapa hari setelah Syafiq, anak
sulung kami libur sekolah, dan hari terakhir suami masuk kerja.

Rupanya, Syafiq cukup beruntung. Dia yang selalu bosan di rumah, akhirnya
bisa mudik duluan, karena ada tantenya yang menjemput. Dia bisa liburan
lebih lama di rumah mbahnya. Sementara kami tetap pada jadwal semula.

Dan tibalah hari itu. Hari yang kami jadwalkan untuk pulang. Satu *travel
bag* penuh, ditambah beberapa tas jinjing menjadi bawaan kami. Cukup banyak.
Lebaran sering tak memungkinkan untuk mencuci baju. Jadi kami bawa baju
sejumlah kita menginap di sana. Satu hari dua baju (baju pergi dan baju
rumah) dikalikan empat orang cukup membuat semuanya perlu dijejalkan dengan
susah payah masuk dalam *travel bag* besar. Semua itu masih ditambah sebuah
sepeda! Ada sepeda yang sudah tak terpakai, dan akan kami bawa pulang
kampung. Siapa tahu di sana ada yang mau memanfaatkan.

Bawaan siap angkut. Kami menunggu adik ipar yang akan pulang bersama. Dia
berangkat dari Blora sehabis Ashar. Dan diperkirakan sampai
Semarangmenjelang Maghrib. Untung, perjalanan lancar, perkiraan waktu
itu pun tak
meleset. Namun, tak disangka dan tak seperti biasa, tiba-tiba turun hujan
deras sekali. Bahkan disusul mati listrik. Bagaimana kami memasukkan
segambreng barang bawaan dalam mobil dengan kondisi gelap-gelapan seperti
ini? Apalagi mobil tidak bisa diparkir mepet pintu.

Kami pun memutuskan menunggu hujan reda untuk berkemas. Tapi, setelah sekian
lama menunggu tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Kami pun nekad
memakai payung mengusung barang-barang itu dalam mobil. Sungguh, kali ini
hujan angin sangat tak bersahabat. Bahkan payung seolah tak punya arti.
Apalagi saat menggotong sepeda dimasukkan dalam mobil. Payung hanya bisa
melindungi kepala. Serpihan air tetap mengenai muka juga pakaian. Begitu
juga saat memasukkan tas-tas itu. Semuanya ikut basah. Untunglah semua
berlapis plastik, jadi air tak akan tembus sampai ke dalam. Akhirnya setelah
bersusah payah penuh perjuangan, semua barang pun masuk. Kami siap
berangkat. Tidak langsung pulang, karena perut baru diisi segelas sirup
segar. Rencana semula memang mau makan di luar.

Rupanya hujan deras cukup membuat jalan bagaikan sungai. Air mengalir deras
di sepanjang jalan. Untunglah tidak terlalu dalam. Tapi ini cukup
mengganggu. Terutama saat kami tiba di sebuah warung makan. Tak ada pilihan.
Rumah makan Padang tempat kami makan letaknya pinggir jalan. Mau tak mau,
begitu keluar mobil, kaki harus terkena air kotor kecoklatan.

Alhamdulillah, awalan seperti itu tak membuat perjalanan selanjutnya
bermasalah. Belum sampai seperempat jam kami berjalan, hujan reda. Bahkan
semakin jauh meninggalkan Semarang, jalanan tampak kering kerontang. Belum
pernah disentuh air hujan. Perjalanan Semarang-Magelang cukup lancar. Bahkan
di beberapa titik yang kami perkirakan macet pun, sama sekali tak ada
hambatan. Jam setengah sepuluh sudah sampai rumah dengan selamat. Istirahat,
sholat dan mengobrol sebentar, setelah itu tidur. Bangun-bangun ketika
sahur.

Sahur teramai selama Ramadhan. Ada kedua orangtua, adik dan kakak ipar
beserta keponakan-keponakan. Terasa sudah suasana mudik. Suasana Lebaran!
Berkumpul dengan seluruh keluarga. Makan bersama, bercerita, tertawa plus
sesekali anak-anak yang masih kecil bertengkar dan kemudian bercanda lagi.

Saat itulah saya menerima laporan tentang Syafiq selama di sana. Katanya,
seharian kemarin agak rewel tak seperti biasa. Sering marah-marah. Juga
menjelang sore selalu menanyakan kapan kami sampai di rumah. Sampai kemudian
dia tertidur, namun sebelumnya berpesan, �bila kami datang minta
dibangunkan.�

�Mungkin kangen,� kata mbah Putrinya.

Saya mengerutkan kening. �Kangen?� Hal yang tak biasa. Syafiq bila liburan
di rumah mbahnya seperti tak ingat kami, orangtuanya. Dia sangat *enjoy*.
Tapi, siapa tahu dia memang kangen?

Setelah itu juga laporan kalau badan Syafiq gatal-gatal.

�Gatal?� tanya saya. �Mandi nggak, Mas?� saya bertanya pada Syafiq.

�Iyalahh...!� katanya sambil merengut.

�Lha tiap hari main di kandang, bagaimana nggak gatal?� kali ini mbah Kakung
yang berbicara.

Di rumah mbahnya, banyak binatang peliharaan. Ada kambing beberapa ekor dan
domba. Juga kelinci, ayam, itik, menthok dan tentu saja ikan di kolam besar.
Wahana yang cukup menarik bagi Syafiq untuk bereksplorasi. Tentunya asik
bisa memberi makan kambing dengan rerumputan. Kelinci pun diberi makan
rumput, karena memberi beberapa ekor kelinci dengan sayuran tentu perlu cost
yang tidak kecil. Jadinya, diberilah dia rumput yang ada di sepanjang
pematang sawah. Wajar, bila rumput-rumput itu menyebabkan kulit Syafiq
gatal.

�Seharian kerjaannya ngejar-ngejar ayam. Habis itu digendong-gendong,� mbah
putri menambahkan argumen penyebab Syafiq gatal-gatal.

Saya hanya mengangguk-angguk. Bisa jadi dia gatal karena sebab yang satu
ini. Menggendong ayam. Ada induk ayam yang baru menetaskan telurnya. Di saat
seperti itu banyak serangga kecil yang cukup membuat gatal di kulit. Kita
menyebut serangga itu 'mreki'. Serangga ini tak mati hanya dengan dicuci.
Semua pakaian yang terkena, harus dimasukkan dalam air mendidih. Barulah
bisa terbebas dari *mreki* itu.

Tapi saat itu, saya masih santai-santai saja. Saya anggap, gatal hanyalah
masalah biasa. Apalagi, saya memang tidak pernah melarang Syafiq untuk
'menyatu' dengan suasana seperti itu. Saya berharap, kegiatannya itu akan
menjadi kenangan manis setelah dia dewasa nanti. Seperti saya, yang cukup
terkenang, ketika dulu waktu kecil, kakinya bentol-bentol gatal karena ikut
'tandur' (menanam padi).

Karena cuek itu, saya tidak berniat melihat lebih lanjut seperti apa
gatalnya. Apalagi saat itu, Syafiq menunjukkan salah satu kakinya yang
gatal. Hanya bentolan merah biasa. Tak perlu dikhawatirkan.

Tapi, ketika sekitar jam delapan pagi lebih, dia menggaruk-garuk lagi sambil
membuka bajunya sehingga kelihatan perutnya. Kagetlah saya. Itu sih bukan
benjol gatal. Cacar air!!

"Kalau cacar air kan disertai demam. Syafiq nggak papa, kok..." kata kakak
ipar.

"Iya, kayaknya alergi aja tuh..." Adik ipar menambahkan.

Ya, dia emang tak menunjukkan orang sakit. Tetap sehat dan lincah.
Hanya...bukankah katanya seharian dia marah-marah? Mungkin itu tanda dia tak
enak badan. Saya yakin sekali itu bentolan cacar air. Tak mau menanggung
resiko, segera saya minta suami untuk membawanya ke dokter.

Disinilah masalah dimulai. Mau ke dokter mana? Ini hari Sabtu, sudah agak
siang juga. Besok lebaran. Dokter mana yang masih buka praktik? Segera saya
telpon sana-sini bertanya-tanya. Namun, sepertinya tak ada yang tahu. Dokter
praktik biasanya sore atau pagi, sekitar jam 6 sampai jam delapan. Di atas
jam itu, semua dokter harus ke rumah sakit jadi tidak praktik di rumah.

Untunglah, saya teringat ada puskesmas di dekat rumah, hanya berjarak
beberapa km. Segera saja Syafiq dibawa ke sana. Alhamdulillah, puskesmas itu
masih buka. Dan benar saja. Kata dokternya, Syafiq terkena cacar air!!

Waduhhh....gimana ini? Bingung jadinya. Besok Iedul Fitri. Tak mungkin
membawanya ke lapangan untuk sholat Ied. Lebih tak mungkin lagi bila dia
ikut ritual lebaran, saling berkunjung ke rumah tetangga dan saudara.
Walaupun anaknya kelihatn sehat, tidak seperti orang sakit, tapi ini
penyakit menular! Masa mau bawa-bawa virus kemana-mana?? Dan tidak mungkin
juga Syafiq hanya diam saja di rumah, sementara kami bepergian. Dia pasti
tak mau ditinggal. Lagipula, di rumah juga akan banyak tamu. Tak mungkin dia
tidak menemui tamu-tamu yang bisa jadi membawa anak kecil juga. Bagaimana
kalau mereka ketularan?? Selain itu juga berpikir, bila Shofie, anak kedua
kami, terkena juga, tentunya lebih nyaman merawat anak sakit di rumah
sendiri.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan itu, kami memutuskan pulang lagi ke
Semarang keesokan harinya!! Kebetulan, adik ipar akan pulang ke Blora lagi
hari itu juga. Jadi kita bisa *nebeng* lagi sampai Semarang.

Begitulah, keesokan harinya menjelang dhuhur kami berkemas lagi. Saya
pandangi seabreg barang yang malam lalu kami bawa pulang dengan penuh
perjuangan. Kini harus diangkut lagi ke Semarang. Tanpa sempat diutak-atik,
kecuali mengambil baju untuk sholat Ied. Duh�padahal sudah susah-susah *
packing*.

Acara mudik lebaran pun gagal. Walaupun tak bisa dibilang gagal total,
karena sempat merasakan sehari mudik, tapi setelah itu harus kembali lagi.

Inilah pertama kalinya kami lebaran tinggal di rumah. Sesuatu yang tak tak
pernah kami bayangkan sebelumnya. Lebaran tapi tak pulang. Satu yang kami
syukuri, kondisi Syafiq cukup bagus. Dengan bentol-bentol di tubuhnya tampak
ceria dan lincah. Bahkan terlalu lincah. Dia hilir mudik bermain sepatu roda
di rumah. Tapi rupanya, hal ini lama-lama menimbulkan masalah. Dia mulai
bosan di dalam rumah. Minta jalan-jalan. Bagaimana mungkin? Berkali-kali
kami mengingatkan bahwa dia dalam keadaan sakit. Namun berkali-kali juga dia
minta keluar.

Pertama-tama hanya minta makan di luar. Saya katakan, �Warung makan Padang
kesukaan kita belum buka.�

�Yang lainnya, dong!�

�Sama aja. Tutup juga...�

�Masa sih, KFC tutup saat lebaran?� katanya.

�Ya, emang nggak. Tapi nggak mungkin dong ke sana. Syafiq itu masih sakit.�

�Ya sudah, main ke rumah temannya Mama deh...�

�Teman-teman Mama semuanya pulang ke rumah bapak-ibunya.�

Syafiq semakin manyun. Sesuatu yang sangat bisa kami pahami. Ya, kami juga
sebenarnya bosan di rumah. Tapi mau kemana lagi?

�Jalan-jalan ke mall aja. Mall nggak ada yang tutup kan walaupun lebaran?�
katanya masih ngeyel.

�Duhh... Syafiq itu belum sehat bener. Nih, luka gatalnya belum kering
bener. Virusnya bisa terbang kemana-mana dan menulari banyak orang.�

Memang, bila sudah sampai pada pembicaraan virus dan menularkan penyakit,
dia bisa diam, karena hal itu sudah bisa diterima akalnya.

Sungguh, kali ini memang lebaran yang bukan biasa. Bisa-bisanya, lebaran
bosan di rumah! Sesuatu yang tak akan kami alami bila di rumah orangtua.
Justru kebalikannya. Kami sangat rindu rumah. Bagaimana tidak, bila setiap
hari kami berangkat pagi mengunjungi saudara-saudara. Waktu untuk
silaturahmi sepertinya tak pernah mengenal cukup. Tahu-tahu, hari sudah
sore, padahal belum semua saudara dikunjungi. Seakan tak selesai-selasai.
Badan capai. Satu-satunya keinginan adalah bisa sampai rumah, mandi dan
istirahat. Kontras sekali dengan kondisi kami saat ini. Dan �kesibukan� itu
bisa berlangsung 3 sampai 4 hari, karena banyaknya saudara yang harus
dikunjungi, mulai dari sepupu sampai ke mbah-mbah.

Saya jadi teringat beberapa mahasiswa yang dulu saya jumpai. Ternyata, di
luar dugaan, saya pun akhirnya mengalami suasana lebaran sendirian di rumah.
Kami seperti hidup di pengasingan. Sepi. Semua tetangga tak kelihatan.Warung
makan banyak yang tutup. Tukang sayur tak datang. Duh, susahnya mencari
makan. Padahal di rumah orangtua, pasti makanan melimpah. Bila di sana,
mungkin saat ini perut kami dalam kondisi sudah tak sanggup menampung semua
makanan yang ada.

Ya, sangat tidak enak memang lebaran tidak mudik. Bila akhirnya kita
mengalami, tentu bukan karena saya dulu �ngrasani� para mahasiswa itu.
Memang sudah takdir Yang Kuasa. Pasti itu.
14.

[ Catcil ] Ku Cinta Kau

Posted by: "agus_salims" agus_salims@yahoo.com   agus_salims

Tue Nov 17, 2009 11:36 pm (PST)



Aku cinta kamu!

Berapa kali Anda mengucapkan kalimat itu kepada istri Anda dalam sehari?
Saya jelas tidak bisa menebaknya. Tapi beberapa orang suami atau istri
mungkin bertanya: perlukah kata itu diucapkan setiap hari? Apa yang
mungkin `dilakukan' kalimat itu, dalam hati seorang istri, bila
itu diucapkan seorang suami, pada saat anak ketiganya menangis karena
susunya habis? Ada juga anggapan seperti ini, kalimat itu hanya
dibutuhkan oleh mereka yang romantis dan sedang jatuh cinta, dan itu
biasanya ada sebelum atau pada awal-awal pernikahan. Setelah usia nikah
memasuki tahun ketujuh, realita dan rutinitas serta perasaan bahwa kita
sudah tua membuat kita tidak membutuhkannya lagi.

Saya juga hampir percaya bahwa romantika itu tidak akan akan bertahan di
depan gelombang realitas atau bertahan untuk tetap berjalan bersama usia
pernikahan. Tapi kemudian saya menemukan ada satu fitrah yang lekat kuat
dalam din manusia bahwa sifat kekanak kanakan —dan tentu dengan
segala kebutuhan psikologisnya—tidak akan pernah lenyap sama sekali
dan kepribadian seseorang selama apapun usia memakan perasaannya.
Kebutuhan anak-anak akan ungkapan ungkapan verbal yang sederhana dan
lugas dan ekspresi rasa cinta itu sama-sama dibutuhkan dan tidak ada
alasan untuk mengatakan bahwa yang satu Iebih dibutuhkan dan yang lain.

Perasaan manusia selamanya fluktuatif. Demikian pula semua jenis emosi
yang dianggap dalam perasaan kita. Kadar rasa cinta, benci, takut,
senangdan semacamnya tidak akan pernah sama dari waktu ke waktu. Tetapi
yang mungkin terasa sublim adalah bahwa fluktuasi perasaan itu sering
tidak disadari dan tidak terungkap atau disadari tapi tidak terungkap.

Situasi ini kemudian mengantar kepada kenyataan lain. Bahwa setiap kita
tidak akan pernah bisa mengetahui dengan pasti perasaan orang lain
terhadap dirinya. kita mungkin bisa menangkap itu dan sorotan mata,
gerak tubuh dan perlakuan umum, tapi detil perasaan itu tetap tidak
tertangkap selama ia tidak diungkap seeara verbal.

Perlukah detail perasaan itu kita ketahui, kalau isyarat isyaratnya
sudah terungkap? Mungkin ya mungkin tidak. Tapi yang pasti bahwa kita
semua, dan waktu ke waktu, membutuhkan kepastian. Kepastian bahwa kita
tidak salah memahami isyarat tersebut. Bukankah kepastian juga yang
diminta Nabi Ibrahim ketika beliau ingin menghidupkan dan mematikan?

Dan suasana ketidakpastian itulah biasanya setan memasuki dunia hati
kita. Karena salah satu misi besar setan, kata Ibnul Qoyyim al Jauziyyah
adalah memisahkan orang yang saling mencintai "Dan mereka belajar
dan keduanya sesuatu yang dengannya mereka dapat memisahkan seseorang
dan pasangannya." (QS.2:102)

Dari `bab' inilah ungkapan verbal berupa kata menemukan
maknanya. Bahkan sesungguhnya ada begitu banyak kekurangan dalam
perbuatan yang beban psikologisnya dapat terkurangi dengan kata. Ketika
Anda menolak seorang pengemis karena tidak memiliki sesuatu yang dapat
Anda sedekahkan, itu tentu sakit bagi pengemis itu. Tapi Allah menyuruh
kita `mengurangi' beban sakit itu dengan kata yang baik.
Bukankah "perkataan yang baik lebih baik dan sedekah yang disertai
cacian?"

******

Selanjutnya, perhatikan riwayat berikut ini: Suatu ketika seorang
sababat duduk bersama Rasulullah saw. Kemudian seorang sahabat yang lain
berlalu di depan mereka. Sahabat yang duduk bersama Rasulullah saw. itu
berkata kepada Rasulullah saw.

"Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai orang itu.

"Sudahkah engkau menyatakan cintamu padanya?" tanya Rasulullah
saw.

"Belum, ya Rasululllah." kata sahabat itu.

"Pergilah menemui orang itu dan katakan bahwa karena kamu
mencintainya," kata Rasulullah saw

Jika kepada sesama sahabat,saudara atau ikhwah rasa cinta harus
diungkapkan secara verbal, dapatkah kita membayangkan, seperti apakah
verbalnya ungkapan rasa cinta yang semestinya kita berikan kepada istri
kita? Apakah makhluk yang satu itu, yang mendampingi kita lebih banyak
dalam saat-saat lelah dan susah dibanding saat-saat suka dan lapang,
tidak lebih berhak untuk mendengarkan ungkapan rasa cinta itu?

Sekarang simak kisah Aisyah berikut ini:

Aisyah seringkali bermanja-manja kepada Rasulullah SAW. karena hanya
dialah satu—satunya istri beliau yang perawan. Tapi, suatu waktu
Aisyah masih bertanya juga kepada Rasulullah saw:

Jika engkau turun di suatu lembah lalu engkau lihat di situ ada rumput
yang telah dimakan —oleh gembala lain— dan ada rumput yang belum
dimakan, di rumput ,manakah gembalamu engkau suruh makan?"

Maka Rasulullah saw. menjawab,

Tentulah pada rumput yang belum dimakan (gembala lain). (HR. Bukhari).

Apakah Aisyah tidak tahu bahwa Rasulullah saw. sangat dan sangat
mencintainya? Tentu saja tahu. Bahkan sangat tahu. Tapi mengapa ia masih
harus bertanya dengan `metafor' seperti di atas, dengan
menonjolkan keperawanannya sebagai kelebihan yang membuatnya berbeda dan
istri-istri Rasulullah saw. lainnya?

Apakah ia ragu? Saya tidak yakin kalau itu dirasakan Aisyah.
Ia—dalam konteks hadits tadi— rasanya hanya menginginkan
kepastian lebih banyak, peneguhan lebih banyak. Karena kepastian itu,
karena peneguhan itu, memberinya nuansa jiwa yang lain; semacam rasa
puas — dari waktu ke waktu— bahwa `lebih' dan
istri-istri Rasulullah saw yang lain, bahwa ia lebih istimewa.

Di tengah kesulitan ekonomi seperti sekarang, tidak banyak di antara
kita yang sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga secara
ideal. Dan dalam banyak hal kita mungkin perlu untuk lebih
`tasamuh' (Toleransi/lapang dada) dalam memandang hubungan
`hak dan kewajiban' yang sering kali menandai bentuk hubungan
kita secara harfiah. Atau mungkin mengurangi efek psikologis yang
ditumbuhkan oleh ketidakmampuan kita memenuhi semua kewajibandengan
`kata yang baik.

Anda mungkin sering melihat betapa lelahnya istri Anda menyelesaikan
pekerjaan-pekerjaan rumah. Mulai dari memasak, mencuci sampai menjaga
dan merawat anak. Kerja berat itu sering kali tidak disertai dengan
sarana teknologi yang mungkin dapat memudahkannya. Setan apakah yang
telah meyakinkan kita begitu rupa bahwa rnakhluk mulia yang bernama
istri saya atau istriAnda tidak butuh ungkapan "1 love,you"
karena ia seorang `da'iyah', karena ia seorang
`mujahidah' atau karena kita sudah sama-sama tahu, sama-sama
paham, atau karena kita sudah sama-sama tua dan karenanya tidak cocok
menggunakan cara `anak-anak muda' menyatakan cinta? Setan apakah
yang telah membuat kita begitu pelit untuk memberikan sesuatu yang manis
walaupun itu hanya ungkapan kata? Setan apakah yang telah membuat kita
begitu angkuh untuk mau merendah dan membuka rahasia hati kita yang
sesungguhnya dan menyatakannya secara sederhana dan tanpa beban?

Tapi mungkin juga ada situasi begini. Anda mencintai istri Anda. Anda
juga tidak terhambat oleh keangkuhan untuk menyatakannya berluang-ulang.
Masalahnya hanya satu, Anda tidak biasa melakukan itu. Dan itu membuat
Anda kaku.Jika Anda termasuk golongan mi, tulislah pula puisi S Djoko
Damono ini dan berikanlah ia kepada istri Anda melalui putera atau
puteri terakhir Anda.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Dikutip dari Buku "Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga"
Oleh Muhammad Anis Matta (Direktur LPI Al Manar Jakarta)
Recent Activity
Visit Your Group
Share Photos

Put your favorite

photos and

more online.

Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Yahoo! Groups

Auto Enthusiast Zone

Discover Car Groups

Auto Enthusiast Zone

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web

Tidak ada komentar: