Rabu, 17 Maret 2010

[daarut-tauhiid] Islam Agama Cinta

*Islam Agama Cinta*

Ketika perang Qadisiyyah meletus, Khalifah 'Umar bin Khattab menulis surat
kepada panglimanya, Sa'ad bin Abi Waqqas, supaya menaklukkan Hilwan, sebuah
propinsi di Irak. Maka dikirimlah 300 personel kavaleri di bawah komando
Nadhlah bin Mu'awiyah al-Ansari. Hari itu, setelah dengan mudah menguasai
seluruh propinsi, mereka menyaksikan suatu kejadian luar biasa. Saat itu
masuk waktu maghrib dan Nadhlah pun naik ke sebuah tempat yang agak tinggi
di lereng bukit untuk mengumandangkan azan. Anehnya, setiapkali Nadhlah
selesai mengumandangkan kalimat azannya, spontan terdengar suara seseorang
menjawabnya. "Allahu akbar!" laung Nadhlah, "Kabbarta kabiran, ya Nadhlah!"
sahut orang itu. "Asyhadu alla ilaha illa Allah" dijawab dengan "Kalimatul
ikhlas, ya Nadhlah!". Lalu ketika dilaungkan "Asyhadu anna Muhammadan
Rasulullah", suara misterius itu menyahut, "Huwa ad-dinu, wa huwa alladzi
basysyarana bihi 'Isa ibnu Maryam 'alayhima as-salam, wa 'ala ra'si ummatihi
taqumu as-sa'ah!" Nadhlah menyambung azannya, "Hayya 'ala ash-shalah!" lalu
dijawabnya, "Thuba liman masya ilayha wa waazhaba 'alayha!", sedangkan
"Hayya 'ala al-falah!" dijawab dengan "Qad aflaha man ajaaba Muhammadan
shallallahu 'alayhi wa sallam, wa huwa al-baqa' li ummatihi". Dan laungan
"La ilaha illa Allah" disambut dengan "Akhlashta al-ikhlash, ya Nadhlah,
faharrama Allah jasadaka 'ala an-naar!"

Selesai azan, Nadhlah yang tentu saja tidak gentar, meskipun cukup heran,
lantas berseru: "Siapakah engkau, hai orang yang dikasihi Allah!? Apakah
engkau Malaikat, jin penghuni di sini, atau seorang hamba Allah (dari
golongan manusia)? Engkau telah memperdengarkan pada kami suaramu, maka
tunjukkanlah pada kami dirimu! karena kami ini datang atas perintah Allah
dan Rasulullah saw. dan atas instruksi Umar bin Khattab!" Lalu tiba-tiba
terdengar suara gemuruh seperti gempa bumi kemudian bukit itu terbelah, dan
dari situ muncul seorang berambut dan berjenggot serba putih. Setelah
memberi salam, orang misterius tersebut memperkenalkan dirinya: "Saya Zurayb
bin Bartsamla, orang yang disuruh tinggal di bukit ini oleh hamba yang saleh
'Isa bin Maryam alayhima as-salam dan didoakan oleh beliau dapat berumur
panjang untuk menunggu turunnya beliau dari langit, dimana beliau akan
memusnahkan babi, menghancurkan salib dan berlepas diri dari agama kaum
Nasrani (yatabarra' mimma nahalathu an-nashara)."

Kisah sejarah ini diriwiyatkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibnu 'Arabi dalam
kitabnya, al-Futuhat al-Makkiyyah, bab 36 (fi ma'rifat al-Isawiyyin wa
aqthabihim wa ushulihim). Lalu apa relevansi kisah tersebut? Menurut Ibnu
Arabi, berdasarkan riwayat ini jelas sekali bahwa pengikut Nabi Isa yang
murni tidak hanya mengimani kenabian Muhammad saw. tapi juga beribadah
menurut syari'atnya. Ini karena dengan kedatangan sang Nabi terakhir,
syari'at agama-agama sebelumnya otomatis tidak berlaku lagi. Fa inna
syari'ata Muhammad saw. naasikhah!, tegas Ibnu Arabi, seraya mengutip hadis
Rasulullah,

*"Law kana Musa hayyan ma wasi'ahu illa an yattabi'ani)."*

*"Seandainya Nabi Musa hidup saat ini, maka beliau pun tidak dapat tidak
mesti mengikutiku" *

Di sini nampak cukup jelas sikap dan posisi Ibnu Arabi terhadap agama
pra-Islam.

Ironisnya, sejak beberapa dekade yang lalu hingga sekarang, tokoh Sufi yang
berasal dari Andalusia ini oleh sementara 'kalangan' acapkali 'diklaim'
sebagai pelopor gagasan Islam inklusif. Nama beliau kerap 'dicatut' untuk
menjustifikasi ide pluralisme agama. Tidak hanya itu, Syaikh tasawuf ini
bahkan 'dijadikan bemper' untuk melegitimasi asumsi para penganut 'agama
perennial' (religio perennis) bahwa dalam aspek esoteris dan pada dataran
transenden, semua agama adalah sama, karena semuanya sama benarnya, sama
sumbernya (Tuhan), dan sama misinya (pesan moral, perdamaian, dsb).

Dengan kata lain, seperti diungkapkan oleh Nurcholish Madjid (dalam kata
pengantarnya untuk buku Tiga Agama Satu Tuhan, hal. xix), "Setiap agama
sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama."
Sebagaimana kita ketahui, pemahaman semacam ini dipopulerkan oleh F. Schuon,
S.H. Nasr, W.C. Chittick dalam tulisan-tulisan mereka yang kini nampak mulai
mendapat tempat di Indonesia. Untuk mendukung klaimnya, biasanya 'kalangan'
ini mengutip tiga bait puisi Ibn Arabi dalam karya kontroversialnya,
Tarjuman al-Asywaq, yang berbunyi: "Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk
dan rupa; ia merupakan padang rumput bagi menjangan, biara bagi para rahib,
kuil anjungan berhala, ka'bah tempat orang bertawaf, batu tulis Taurat, dan
mushaf bagi al-Qur'an. Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti
kemanapun langkahnya; demikianlah agama dan keimananku."

Seolah membenarkan asumsinya sendiri (self-fulfilling prophecy), Nasr
menyimpulkan bahwa disinilah Ibnu Arabi "came to realize that the divinely
revealed paths lead to the same summit" (Lihat: Three Muslim Sages [Delmar,
New York: Caravan Books, 1964], hlm.118).

Sekilas memang nampak meyakinkan. Akan tetapi sebenarnya kaum
transendentalis [sengaja?] tidak mengemukakan—kalau bukan justru
menyembunyikan—fakta bahwa Ibnu Arabi telah menjelaskan maksud semua
ungkapannya dalam syarah yang ditulisnya sendiri, yaitu Dzakha'ir al-A'laq
syarh Tarjuman al-Asywaq (ed.Dr.M.'Alamuddin asy-Syaqiri, Cairo: Ein for
Human and Social Studies, 1995, hlm.245-6). Di situ dinyatakan bahwa yang
beliau maksudkan dengan 'agama cinta' adalah agama Nabi Muhammad saw.,
merujuk kepada firman Allah dalam al-Quran Ali Imran:31

*"Katakanlah [hai Muhammad!], kalau kalian betul-betul mencintai Allah, maka
ikutilah aku!—niscaya Allah akan mencintai kalian." *

Dan memang dalam kitab Futuhat-nya (bab 178, fi Maqam al-Mahabbah), Ibn
Arabi dengan gamblang menerangkan apa yang beliau fahami tentang cinta dalam
ayat tersebut. Berdasarkan objeknya, terdapat empat jenis cinta, kata
beliau: (1) cinta kepada Tuhan (hubb ilahi); (2) cinta spiritual (hubb
ruhani); (3) cinta alami (hubb thabi'i); dan terakhir (4) cinta material
(hubb 'unsuri).

Setelah menguraikan tipologi cinta tersebut, Ibn Arabi dengan tegas
menyatakan bahwa cinta kepada Tuhan harus dibuktikan dengan mengikuti
syari'at dan sunnah Rasul-Nya saw (al-ittiba' li-rasulihi saw. fima
syara'a). Jadi, 'agama cinta' yang beliau maksudkan adalah Islam, yaitu
agama syari'at dan sunnah Nabi Muhammad saw., dan bukan 'la religion du
coeur' versi Schuon dan para pengikutnya itu.

Selain bait puisi di atas, kaum Transendentalis juga giat mencari
pernyataan-pernyataan Ibn Arabi yang dapat di'plintir' to serve their own
purposes. Ini biasanya disertai dengan tafsiran seenaknya yang sesungguhnya
merupakan ekspresi ke'sok tahu'an belaka dan murni reka-reka (conjecture) ,
sebagaimana terungkap dalam kalimat "perhaps Ibn Arabi would also accept",
"may be that", "Ibn Arabi might reply" dsb. (Lihat Chittick, "A Religious
Approach to Religious Diversity" dalam buku Religion of the Heart: Essays
presented to Frithjof Schuon on his eightieth Birthday, ed. S.H. Nasr dan W.
Stoddart, Washington, D.C.: Foundation for Traditional Studies, 1991).

Lebih parah lagi—dan ini yang perlu diwaspadai dan dikritisi—adalah praktek
menggunting dan membuang bagian dari teks yang tidak mendukung asumsi
mereka. Sebagai contoh, ketika mengutip sebuah paragraf dari Futuhat (bab)
yang mengungkapkan pendapat Ibnu Arabi mengenai status agama-agama lain
dalam hubungannya dengan Islam, Chittick tidak memuatnya secara utuh.

"All the revealed religions (shara'i') are lights. Among these religions,
the revealed religion of Muhammad is like the light of the sun among the
lights of the stars. When the sun appears, the lights of the stars are
hidden, and their lights are included in the light of the sun. Their being
hidden is like the abrogation of the other revealed religions that takes
place through Muhammad's revealed religion. Nevertheless, they do in fact
exist, just as the existence of the light of the stars is actualized. This
explains why we have been required in our all-inclusive religion to have
faith in the truth of all the messengers and all the revealed religions.
They are not rendered null (batil) by abrogation—that is the opinion of the
ignorant." (Lihat: Imaginal Worlds: Ibn Arabi and the Problem of Religious
Diversity, New York: State University of New York Press, 1994, hlm.125).

Dengan [sengaja?] berhenti di situ, Chittick memberi kesan seolah-olah Ibnu
Arabi menolak pendapat mayoritas kaum Muslimin bahwa semua agama samawi
pra-Islam dengan sendirinya terabrogasi dengan datangnya Islam. Padahal
maksud pernyataan Ibn Arabi adalah semua agama dan kitab suci yang dibawa
oleh para rasul pada zaman dahulu harus diakui kebenarannya dalam konteks
sejarah masing-masing—yakni sebelum Nabi Muhammad saw. muncul. Dan ini
merupakan bagian dari rukun iman. Akan tetapi tidak berarti bahwa validitas
tersebut berkelanjutan setelah kedatangan Rasulullah saw. atau bahkan sampai
sekarang. "Nabi Isa pun, seandainya sekarang ini turun, niscaya tidak akan
mengimami kita kecuali dengan mengikut sunnah kita [Ummat Muhammad], dan
tidak akan memutuskan suatu perkara kecuali dengan syari'at kita." (Wa hadza
'Isa idza nazala ma ya'ummuna illa minna, ay bi sunnatina, wa la yahkumu
fina illa bi syar'ina), demikian tegas Ibn Arabi (Lihat: Futuhat, bab 36).

Lebih jauh, dengan kutipan yang tidak komplit itu Chittick berusaha
menggiring pada para pembaca agar meyakini bahwa Ibnu Arabi adalah seorang
penganut pluralisme dan transendentalist seperti dirinya.

Sambungan pernyataan Ibnu Arabi yang dipotong oleh Chittick dalam kutipan
tersebut di atas berbunyi: "Maka berbagai jalan [agama] semuanya bermuara
pada jalan [agama] Nabi [Muhammad] saw. Karena itu, seandainya para rasul
berada di zaman beliau, niscaya mereka mengikuti beliau sebagaimana syari'at
mereka ikut syari'at beliau" (Fa raja'at ath-thuruq kulluha nazhiratan ila
thariq an-Nabiy shallallahu 'alayhi wa sallama, fa law kanat ar-rusul fi
zamanihi latabi'uhu kama tabi'at syara'i'uhum syar'ahu).

Bagaimana dengan ayat yang mengatakan bahwa Allah telah menciptakan syari'at
dan jalan untuk masing-masing kalian (al-Ma'idah:48)

*"Likullin ja'alna minkum syir'atan wa minhajan". *

Menurut Ibnu Arabi, kata ganti orang kedua dalam bentuk jamak ("kum") dalam
konteks ayat tersebut merujuk kepada para Nabi, bukan umat mereka. Sebab
jika ia ditujukan kepada umat mereka, niscaya Allah tidak mengutus lebih
dari seorang rasul untuk suatu umat. Dan jika kata "kalian" disitu difahami
sekaligus untuk para rasul serta umat mereka, maka kita telah
menta'wilkannya secara gegabah. Jadi maksud ayat tersebut, menurut Ibnu
Arabi, bukan membenarkan semua jalan menuju Tuhan, atau menyamakan status
semua agama. Sebaliknya, terdapat garis demarkasi yang jelas antara hak dan
batil, iman dan kufur, tawhid dan syirik, dst. Kalau tidak, lanjut Ibnu
Arabi, niscaya Nabi saw. tidak akan berdakwah mengajak orang masuk Islam,
niscaya orang yang pindah agama (yartadid 'an dinihi) tak disebut kafir
(2:217) dan niscaya tidak keluar perintah membunuh orang yang murtad
(hadits: "man baddala dinahu fa-qtuluhu").
Oleh sebab itu, Ibnu Arabi menambahkan, orang Yahudi atau Nasrani yang masuk
Islam tidak dikatakan murtad, karena ajaran murni agama mereka memang
mengharuskan beriman kepada dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw.
(Selengkapnya dapat dilihat di Futuhat, bab 495, fi Ma'rifati hal quthb kana
manziluhu "wa man yartadid minkum 'an dinihi fayamut wa huwa kafir").


Posted By *Al-Ikhwan.net* On 6 Desember 2009 @ 16:56 In *Raddusy Syubuhat* |
*No Comments<http://www.al-ikhwan.net/islam-agama-cinta-3332/print/#comments_controls#comments_controls>
*
------------------------------

*http://www.al-ikhwan.net/islam-agama-cinta-3332/*


--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.
N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs.
im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können.
>> al-Ra'd [13]: 28


[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: