Senin, 05 September 2011

[daarut-tauhiid] TIGA LANDASAN UTAMA DIENUL ISLAM

 

Ketahuilah, bahwa wajib bagi kita untuk mendalami empat masalah, yaitu :1.Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalilnya.2.Amal, yaitu menerapkan ilmu ini.3.Dakwah, yaitu mendakwahkan ilmu tersebut4.Sabar, yaitu tabah dan tangguh dalam menghadapi segala rintangan dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan berdakwah kepadanya.Dalilnya, firman Allah Ta'ala :"Demi masa. Sesungguhya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, melakukan segala amal shaleh dan saling nasehat-menasehati untuk (menegakkan) yang haq, serta nasehat-menasehati untuk (berlaku) sabar." (Surat al-'Ashr : 1-3).Imam Asy-Syafi'i [1] Rahimahullahu Ta'ala, mengatakan : "Seandainya Allah hanya menurunkan surat ini saja sebagai hujjah buat makhlukNya, tanpa hujjah lain, sungguh telah cukup surat ini sebagai hujjah bagi mereka."Dan imam Al-Bukhari [2] Rahimahullahu Ta'ala, mengatakan :
"Bab : ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Dalilnya firman Allah Ta'ala :"Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada sesembahan (yang haq) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu." (QS. Muhammad: 19).Dalam ayat ini, Allah memerintahkan terlebih dahulu untuk berilmu (berpengetahuan) [3]… Sebelum ucapan dan perbuatan.Dan ketahuilah, bahwa wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk mempelajari dan mengamalkan ketiga perkara ini:1. Bahwa Allah-lah yang menciptakan kita dan memberi rizki kepada kita. Allah tidak membiarkan kita begitu saja dalam kebingungan, tetapi mengutus kepada kita seorang Rasul ; maka barangsiapa mentaati Rasul tersebut pasti akan masuk Jannah (Surga), dan barangsiapa menentangnya pasti akan masuk neraka.Allah Ta'ala berfirman:"Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang Rasul yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus kapada fir'aun seorang Rasul, tetapi fir'aun mendurhakai
Rasul itu, maka kami siksa ia dengan siksaan yang berat." (QS. Al-Muzammil: 15-16).2. Bahwa Allah tidak rela, jika dalam ibadah yang ditujukan kepadaNya, Dia dipersekutukan dengan sesuatu apapun, baik dengan seorang malaikat yang terdekat atau dengan seorang Nabi yang diutus menjadi Rasul. Firman Allah Ta'ala :"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu kepunyaan Allah, karena itu janganlah kamu menyembah seorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." (QS. Al-Jin : 18).3. Bahwa barangsiapa yang mentaati Rasulullah serta mentauhidkan Allah, tidak boleh bersahabat dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasulnya, sekalipun mereka itu keluarga terdekat. Allah Ta'ala berfirman :"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasulnya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka
itulah orang-orang yang Allah telah memantapkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dariNya. Dan mereka akan dimasukkanNya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung." (Surat al-Mujaadilah: 22).Ketahuilah bahwa Islam yang merupakan tuntunan Nabi Ibrahim adalah ibadah kepada Allah semata dengan memurnikan ibadah kepadaNya, itulah yang diperintahkan Allah kepada seluruh ummat manusia dan hanya untuk itu sebenarnya mereka diciptakanSebagaimana firman Allah Subhanahu waTa'ala :"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku." (QS. Az-Zariyat : 56).Ibadah, dalam ayat ini, artinya : Tauhid. Dan perintah Allah yang paling agung adalah tauhid, yaitu memurnikan ibadah untuk Allah
semata-mata. Sedang larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu : menyembah selain Allah di samping menyembahNya.Allah Ta'ala berfirman :"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu denganNya." (QS. An-nisa; : 36).Kemudian apabila anda ditanya : apakah tiga landasan utama yang wajib diketahui oleh manusia? Maka hendaklan anda jawab : yaitu mengenal Tuhan Allah Azza wa Jalla, mengenal agama Islam, dan mengenal Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. A. MENGENAL ALLAH Azza wa JallaApabila anda ditanya : siapakah Tuhanmu?, Maka katakanlah: Tuhanku adalah Allah yang telah memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni'mat yang dikaruniakannya. Dan Dialah sembahanku, tiada bagiku sesembahan yang haq selain Dia.Allah Ta'ala berfirman :"Segala puji hanya milik Allah Pemelihara semesta alam." (QS. Al-fatihah : 1).Semua yang ada selain Allah disebut alam, dan aku adalah bagian dari semesta alam
ini.Selanjutnya, jika anda ditanya : melalui apa anda mengenal Tuhan? Maka hendaklah anda jawab : melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah : malam, siang, matahari dan bulan. Sedang diantara ciptaan-Nya ialah : tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala makhluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya."Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah (pula kamu bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu banar-benar hanya kepadanya beribadah." (QS. Fushshilat : 37).Dan firmanNya :"Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, senantiasa mengikutinya dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta
bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Maha suci Allah Tuhan semesta alam." (Surat Al-A'raf : 54).Tuhan inilah yang haq untuk disembah. Dalilnya, firman Allah Ta'ala:"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Robb) yang telah menjadikan untukmu bumi ini sebagai hamparan dan langit sebagai atap, serta menurunkan (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mngetahui." (Surat Al-Baqarah: 21-22).Ibnu katsir [4] Rahimahullahu Ta'ala, mengatakan : hanya pencipta segala sesuatu yang ada inilah yang berhak dengan segala macam ibadah. [5]Dan macam-macam ibadah yang diperintahkan Allah itu, antara lain: Islam [6], Iman, Ihsan, do'a, khauf (takut), raja' (pengharapan),
tawakkal, raghbah (penuh minat), rahbah (cemas), khusyu' (tunduk), khasyyah (takut), inabah (kembali kepada Allah), isti'anah (memohon pertolongan), isti'azah (memohon perlindungan), istighatsah (memohon pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), dzabh (menyembelih), nazar, dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Allah.Allah Subahanahu waTa'ala berfirman :"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu, janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah Allah)." (QS. Al-Jin: 18).Karena itu, barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka ia adalah musyrik dan kafir. Firman Allah Ta'ala :"Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu, maka benar-benar balasannya ada pada Tuhannya. Sungguh tiada beruntung orang-orang kafir itu." (QS. Al-Mu'minun: 117).Dalil
macam-macam ibadah:1. Dalil do'a Firman Allah Ta'ala :"Dan Tuhanmu berfirman : 'Berdo'alah kamu kepadaku niscaya akan Ku perkenankan bagimu'. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk beibadah kepadaKu pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina." (QS. Ghafir: 60).Dan diriwayatkan dalam hadits :"Do'a itu adalah sari ibadah " . [7]2.Dalil khauf (takut) Firman Allah Ta'ala :"Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS. Ali Imran: 175).3.Dalil Raja' (pengharapan) Firman Allah Ta'ala :"Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Robb-Nya." (QS. Al-Kahfi: 110).4.Dalil Tawakkal (berserah diri) Firman Allah Ta'ala :'Dan hanya kepada Allah-lah kamu betawakkal, jika kamu benar-banar orang yang beriman." (QS. Al-Maidah :
23).Dan firmannya :"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka Dialah Yang Mencukupinya." (QS. Ath-Thalaq : 3).5.Dalil Raghbah (penuh minat), rahbah (cemas) dan khusyu' (tunduk) Firman Allah Ta'ala :"Sesungguhnya mereka itu senantiasa berlomba-lomba dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan serta mereka berdo'a kepada Kami dengan penuh minat (kepada rahmat Kami) dan cemas (akan siksa Kami), sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami." (QS. Al-Anbiya' : 90).6.Dalil khasy-yah (takut) Firman Allah Ta'ala :"Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah : 150).7.Dalil inabah (kembali kepada Allah) Firman Allah Ta'a'ala :"Dan kembalilah kepada Robb kalian serta berserah dirilah kepada-Nya (dengan mentaati perintah-Nya) sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat tertolong lagi." (QS. Az-Zumar : 54).8.Dalil isti'anah (memohon pertolongan) Firman Allah Ta'ala
:"Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah : 4).Dan diriwayatkan dalam hadits :"Apabila kamu mohon pertolongan, maka memohonlah pertolongan kepada Allah" . [8]9.Dalil isti'adzah (memohon perlindungan) Firman Allah Ta'ala :"Katakanlah : Aku berlindung kepada Robb Yang Menguasai subuh." (QS. Al-Falaq : 1).Dan firmanNya :"Katakanlah : 'Aku berlindung kepada Robb Manusia, Penguasa manusia." (QS. An-Nas : 1-2).10.Dalil istighatsah (memohon pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan) Firman Allah Ta'ala :"(Ingatlah) tatkala kamu memohon pertolongan kepada Robb kalian untuk dimenangkan (atas kaum musyrikin), lalu diperkenankan-Nya bagimu." (QS. Al-Anfal : 9).11.Dalil dzabh (menyembelih) Firman Allah Ta'ala :"Katakanlah : 'Sesunggunya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Robb semesta alam, tiada sesuatupun sekutu bagi-Nya.
Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang-orang yang pertama kali berserah diri (kepadanya)." (QS. Al-An'am: 162-163).Dan dalil dari sunnah :"Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) bukan karena Allah" . [9]12.Dalil nadzar Firman Allah Ta'ala :"Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksaannya merata di mana-mana." (QS. Al-Insan : 7). B. MENGENAL ISLAMIslam, ialah berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan pada segala perintah-Nya serta menyelamatkan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang yang berbuat syirik.Dan agama Islam, dalam pengertian tersebut mempunyai tiga tingkatan, yaitu : Islam, Iman dan Ihsan; masing-masing tingkatan ada rukun-rukunnya.a. Tingkatan pertama : Islam.Adapun tingkatan Islam, rukunnya ada lima :1.Syahadat (pengakuan dengan hati dan lisan) bahwa : "Laa Ilaaha Illallaah – Muhammad Rasulullah" (Tiada sesembahan yang haq
selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).2.Mendirikan shalat.3.Menunaikan zakat.4.Puasa pada bulan Ramadhan dan5.Haji ke Baitullah Al-Haram.Dalil syahadat :Firman Alah Ta'ala :"Allah menyatakan bahwa tiada sesembahan (yang haq) selain Dia, dengan senantiasa menegakkan keadilan. (juga menyatakan yang demikian itu) para Malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tiada sesembahan (yang haq) selain dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ali-Imran : 18)."Laa Ilaaha Illallah", artinya : tiada sesembahan yang haq selain Allah.Syahadat ini mengandung dua unsur. Menolak dan menetapkan. "La Ilaaha", adalah menolak segala sembahan selain Allah, "Illallah", adalah menetapkan bahwa ibadah (penghambaan) itu hanya untuk Allah semata, tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam ibadah kepada-Nya, sebagaimanatiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam kakuasaan-Nya.Tafsir makna syahadat tersebut diperjelas oleh
firman Allah Ta'ala:"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kepada kaumnya : 'Sesungguhnya aku menyatakan lapas diri dari segala yang kamu sembah, kecuali Tuhan yang telah menciptakanku, kerena sesungguhnya Dia akan memberiku petunjuk. 'Dan (Ibrohim) mejadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka senantiasa kembali (kepada tauhid)." (QS. Az-Zukhruf : 26-28).Dan firman Allah Ta'ala :"Katakanlah (Muhammad) : 'Hai Ahli Kitab! Marilah kamu kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, yaitu : hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah'. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka : 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang muslim (menyerah diri kepada Allah)." (QS. Ali Imran : 64).Adapun dalil syahadat
bahwa Muhammad itu RasulullahFirman Allah Ta'ala :"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) untukmu, amat belas kasih lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. At-Taubah : 128).Syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah, berarti : mentaati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarang serta dicegahnya, dan beribadah kepada Allah dengan apa yang disyariatkannya.Dalil shalat, zakat dan tafsir kalimat tauhidFirman Allah Taala :"Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kapada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta mengeluarkan zakat. Demikian itulah tuntunan agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah : 5).Dalil Shiyam/PuasaFirman Allah Ta'ala :"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kepada
kamu untuk melakukan shiyam, sebagaimana telah diwajibkan kapada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah : 183).Dalil HajiFirman Allah Ta'ala :"Dan hanya untuk Allah, wajib bagi manusia melakukan haji, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan) semesta alam." (QS. Ali Imran : 97).b. Tingkatan kedua : Iman.Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling tinggi ialah syahadat. " La Ilaha Illallah", sedang cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu adalah salah satu cabangnya iman.Rukun iman ada enam yaitu :1.Iman kepada Allah.2.Iman kepada para Malaikat-Nya.3.Iman kepada kitab-kitab-Nya.4.Iman kepada para Rasul-Nya.5.Iman kepada hari akhirat, dan6.Iman kepada qadar [10] , yang baik maupun yang buruk.Dalil ke enam rukun iniFirman Allah Ta'ala
:"Berbakti (dan beriman) itu bukanlah sekedar menghadapkan wajahmu (dalam shalat) ke arah timur dan barat, tetapi berbakti (dan beriman) yang sebenarnya ialah iman seseorang kepada Allah, hari akhirat, para malaikat, kitab-kitab dan Nabi-Nabi…" (QS. Al-Baqarah : 177).Dan firman Allah Ta'ala :"Sesngguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan sesuai dengan qadar." (QS. Al-Qamar : 49).c. Tingkatan ketiga : Ihsan.Ihsan, rukunnya hanya satuDalil yaitu :"Beribadahlah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihatNya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." . [11]Dalilnya, firman Allah Ta'ala :"Sesungguhnya Allah besama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan." (QS. An-Nahl : 128 )"Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya
Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetehui." (QS. Asy-syuaraa' : 217-220)."Dalam keadaan apapun kamu berada, dan (ayat) apapun dari Al-Qur'an yang kamu baca, serta pekerjaan apapun yang kamu kerjakan, tidak lain kami adalah menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya…". (QS. Yunus : 61).Adapun dalilnya dari sunnah, ialah hadits Jibril [12] yang masyhur, yang diriwayatkan dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu :"Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya tidak tampak pada tubuhnya tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, dan berkata :"Ya Muhammad, beritahulah
aku tentang Islam!". Maka Nabi menjawab :"Yaitu : bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baiullah jika mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana."Lelaki itupun berkata :"Benarlah engkau."Kata Umar : "Kami merasa heran kepadanya, ia bertanya kepada beliau, tetapi juga membenarkan beliau." Lalu ia berkata :"Beritahu aku tentang Iman!"Beliau menjawab :"Yaitu : beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rsul-Nya dan hari akhirat serta beriman kepada qadar yang baik dan yang buruk."Orang itu pun berkata lagi : "Benarlah engkau." Kemudian ia berkata :"Beritahu aku tentang Ihsan!"Beliau menjawab :"Yaitu : beribadahlah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."Ia berkata lagi
:"Beritahulah aku tentang waktu Kiamat!"Beliau menjawab :"Orang yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu daripada orang yang menanyakannya."Maka orang itupun berkata :"Beritahulah aku (sebagian dari) tanda-tanda kiamat itu!"Beliau mejawab :"Yaitu : apabila ada budak wanita melahirkan tuan puterinya dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian sempurna, melarat lagi penggembala domba, saling bangga-membanggakan diri dalam membangun bangunan yang tinggi."Kata Umar : "Lalu pergilah orang laki-laki itu, sementara kami berdiam diri saja dalam waktu yang lama, sehingga Nabi bertanya :"Hai Umar! Tahukah kamu, siapakah orang yang bertanya itu?"Aku menjawab : "Allah dan rasulnya lebih mengetahui."Beliau pun bersabda :"Dia adalah Jibril, telah datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian." . [13]C. MENGENAL NABI MUHAMMAD Shallallahu 'alihi wa sallamBeliau adalah Muhammad bin
Abdullah, bin Abdul Mutthalib, bin Hasyim. Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab, sedang bangsa Arab termasuk keturunan Nabi Ismail, putera Nabi Ibarahim Al-Khalil. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita sebaik-baik shalawat dan salam.Beliau berumar 63 tahun; diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi Nabi dan 23 tahun sebagai Nabi serta Rasul.Beliau diangkat sebagai Nabi dengan "Iqra" [14] dan diangkat sebagai Rasul dengan Surat "Al- Mudatssir."Tempat asal beliau adalah Makkah.Beliau diutus oleh Allah untuk menyampaikan peringatan untuk menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid.Firman Allah Ta'ala :"Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu sampaikanlah peringatan. Agungkanlah Robbmu. Sucikanlah pakaianmu. Tinggalkanlah berhala-berhala itu. Dan janganlah kamu memberi, sedang kamu menginginkan balasan yang lebih banyak. Serta bersabarlah untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu." (QS.
Al-Mudatstsir : 1-7)Pengertian :"Sampaikanlah peringatan", ialah : menyampaikan peringatan untuk menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid."Agungkanlah Tuhanmu" : agungkanlah Ia dengan berserah diri dan beribadah kepada-Nya semata."Tinggalkanlah berhala-berhala itu", artinya : jauhkan serta bebaskan dirimu darinya dan orang-orang yang memujanya.Beliaupun melaksanakan perintah ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun, mengajak kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun itu, beliau dimi'rajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyari'atkan kepada beliau shalat lima waktu. Beliau melakukan shalat di Makkah selama tiga tahun. Kemudian, sesudah itu, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah.Hijrah, pengertiannya, ialah : pindah dari lingkungan syirik ke lingkungan Islami.Hijrah ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan ummat Islam. Dan kewajiban tersebut hukumnya tetap berlaku sampai hari kiamat.Dalil yang menunjukkan
kewajiban hijrah, yaitu firman Allah Ta'ala :"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan zhalim terhadap diri mereka sendiri [15], kepada mereka malaikat bertanya : 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka menjawab : 'Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)'. Para malaikat berkata : 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (kemana saja) di bumi ini?. Maka mereka itu tempat tinggalnya neraka jahannam dan jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Akan tetapi orang-orang yang tertindas diantara mereka, seperti kaum lelaki dan wanita serta anak-anak yang mereka itu dalam keadaan tidak mampu menyelamatkan diri dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), maka mudah-mudahan Allah memaafkan mereka. Dan Allah adalah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun." (QS. An-Nisa' : 97-99)Dan firman Allah Ta'ala :"Wahai hamba-hambaku yang beriman! Sesungguhnya, bumi-Ku adalah luas, maka
hanya kepadaKu saja supaya kamu beribadah." (QS. Al-Ankabut : 56).Al Baghawi [16] Rahimahullah, berkata : "Ayat ini, sebab turunnya, adalah ditujukan kepada orang-orang muslim yang masih berada di Makkah, yang mereka itu belum juga berhijrah. Karena itu, Allah menyeru kepada mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman."Adapun dalil dari sunnah yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:"Hijrah tetap akan berlangsung selama pintu taubat belum ditutup, sedang pintu taubat tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari barat.Setelah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menetap di Madinah, disyari'atkan kepada beliau zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma'ruf dan nahi mungkar serta syari'at-syari'at Islam lainnya.Beliau pun melaksanakan perintah untuk menyampaikan hal ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun. Sesudah itu wafatlah beliau, sedang agamanya tetap dalam keadaan
lestari.Inilah agama yang beliau bawa. Tiada suatu kebaikan yang tidak beliau tunjukkan kepada umatnya. Dan tiada suatu keburukan yang tidak beliau peringatkan supaya dijauhi. Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala yang dicintai dan diridhai Allah; sedang keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta segala yang dibenci dan dimurkai Allah.Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus oleh Allah kepada seluruh umat manusia, dan diwajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk mentaatinya.Allah Ta'ala berfirman :"Katakanlah : 'Wahai mausia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua." (QS. Al-A'raf : 158).Dan melalui beliau, Allah telah menyempurnakan agama-Nya untuk kita. Firman Allah Ta'ala :"Pada hari ini [17], telah aku sempurnakan untukmu agamamu dan Aku lengkapkan kepadamu ni'matKu serta aku ridhai Islam itu mrnjadi agama bagimu." (QS. Al-Ma'idah : 3).Adapun dalil yang
menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga wafat, ialah firman Allah Ta'ala:"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu nanti pada hari Kiamat berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu." (QS. Az-Zumar : 30-31).Manusia sesudah mati akan dibangkitkan kembali. Dalilnya, firman Allah Ta'ala :"Berasal dari tanahlah kamu telah kami jadikan dan kepadanya kamu kami kembalikan, serta darinya kamu akan kami bangkitkan sekali lagi." (QS. Thaha : 55).Dan firman Allah Ta'ala :"Dan Allah telah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu kedalamnya (lagi) dan (pada hari kiamat) Dia akan mengeluarkan kamu dengan sebenar-benarnya." (QS. Nuh : 17-18).Setelah menusia dibangkitkan, mereka akan dihisab dan diberi balasan sesuai dengan perbuatan mereka.Firman Allah Ta'ala :"Dan hanya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat buruk sesuai dengan perbuatan mereka dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan (pahala) yang lebih baik lagi (surga)." ( QS. An-Najm : 31).Barangsiapa yang tidak mengimani kebangkitan ini, maka dia adalah kafir.Firman Allah Ta'ala :"Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakan : 'tidaklah demikian. Demi Robbku, kamu pasti akan dibangkitkan dan niscaya akan diberitakan kepadamu apapun yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah." (QS. At-Taghabun : 7).Allah telah mengutus semua Rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.  Sebagaimana firman Allah Ta'ala :"(Kami telah mengutus) Rasul-rasul mejadi penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan, supaya tiada lagi suatu alasan bagi mausia membantah Allah setelah (diutusnya) para Rasul itu." (QS. An-Nisa' : 165).Rasul pertama
adalah Nabi Nuh 'alaihis salam [18], dan Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, serta beliaulah penutup para Nabi.Dalil yang meunjukkan bahwa Rasul pertama adalah Nabi Nuh, firman Allah Ta'ala :"Sesungguhnya Kami mewahuyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para Nabi sesudahnya…" (QS. An-nisa' :163)Dan Allah telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul, mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, dengan memerintahkan kepada mereka untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang mereka beribadah kepada thaghut.Allah Ta'ala berfirman:"Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang Rasul (untuk menyerukan) : Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu." (QS. An-Nahl :36).Dengan demikian, Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya supaya bersikap kafir kepada thaghut dan hanya beriman kepada-Nya saja.Ibnu Al-Qayyim [19] Rahimahullah
Ta'ala telah menjelaskan pengertian thaghut dengan mengatakan :"Thaghut, ialah segala sesuatu yang diperlakukan menusia secara melampaui batas (yang telah ditentukan oleh Allah), seperti dengan disembah, atau diikuti, atau dipatuhi."Thaghut itu banyak macamnya, tokoh-tokohnya ada lima :1.Iblis, yang telah dilaknat oleh Allah,2.Orang yang disembah, sedang ia sendiri rela,3.Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya,4.Orang yang mengaku tahu sesuatu yang ghaib,5.Orang yang memutuskan sesuatu tanpa berdasarkan hukum yang telah diturunkan oleh Allah.Allah Ta'ala berfirman :"Tiada paksaan dalam (memeluk) agama ini. Sungguh telah jelas kebenaran dari kesesatan. Untuk itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan iman kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang amat kuat, yang tidak akan terputus tali itu. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah ; 256).Ingkar kepada semua thaghut dan
iman kepada Allah saja, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tadi, adalah hakekat syahadat "La Ilaha Illallah".Dan diriwayatkan dalam hadits, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Pokok agama ini adalah Islam [20], dan tiangnya adalah shalat, sedang ujung tulang punggungnya adalah jihad fi sabilillah [21].Wallahu a'lam. Hanya Allahlah yang Maha Tahu. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.Tambahan Penjelasan no. 5 :1. Imam Ibnul Jauzy rahimahullahBeliau berkata dakam Zadul Masir (2/366), "Pemutus perkara dalam masalah ini adalah bahwa barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan karena juhud terhadapnya padahal dia mengetahui bahwa Allah menurunkannya, seperti yang diperbuat oleh orang-orang Yahudi maka dia kafir. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengannya karena condong kepada hawa nafsu tanpa juhud maka dia adalah orang yang zholim
lagi fasik".2. Imam Al-Qurthuby rahimahullahBeliau berkata, "Dan penjelasan hal ini adalah bahwa seorang muslim jika dia mengetahui hukum Allah -Ta'ala- pada suatu perkara lalu dia tidak berhukum dengannya maka : kalau perbuatan dia ini karena juhud maka dia kafir tanpa ada perselisihan, dan jika bukan karena juhud maka dia adalah pelaku maksiat dan dosa besar karena dia masih membenarkan asal hukum tersebut dan masih meyakini wajibnya penerapan hukum tersebut atas perkara itu, akan tetapi dia berbuat maksiat dengan meninggalkan beramal dengannya". Lihat Al-Mufhim (5/117).3. Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahBeliau berkata dalam Minhajus Sunnah (5/130) setelah menyebutkan firman Allah -Ta'ala- dalam surah An-Nisa` ayat 65, "Maka barangsiapa yang tidak komitmen dalam menerapkan hukum Allah dan RasulNya pada perkara yang mereka perselisihkan maka sungguh Allah telah bersumpah dengan diriNya bahwa orang itu tidak beriman, dan
barangsiapa yang komitmen kepada hukum Allah dan RasulNya secara bathin dan zhohir akan tetapi dia berbuat maksiat dan mengikuti hawa nafsunya (dengan meninggalkan hukum Allah-pent.) maka yang seperti ini kedudukannya seperti para pelaku maksiat lainnya (yakni masih beriman-pent.)". Lihat juga Majmu' Al-Fatawa (3/267) dan (7/312)4. Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziah rahimahullahBeliau menyatakan dalam Madarijus Salikin (1/336), "Dan yang benarnya bahwa berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan (hukumnya) mencakup dua kekafiran: ashghar (kecil) dan akbar (besar) disesuaikan dengan keadaan orang yang berhukum tersebut. Jika dia meyakini wajibnya berhukum dengan apa yang Allah turunkan dalam kejadian itu tapi dia berpaling darinya (hukum Allah) karena maksiat dan mengakui bahwa dirinya berhak mendapatkan siksaan, maka ini adalah kafir ashghar. Dan jika dia meyakini bahwa dia (berhukum dengan hukum Allah-pent.) tidak wajib dan bahwa dia diberikan
pilihan dalam hal itu (maksudnya dia meyakini bahwa boleh memilih antara menerapkan hukum Allah atau menerapkan hukum selainnya, pent.) padahal dia tahu bahwa itu adalah hukum Allah, maka ini adalah kafir akbar. Dan jika dia tidak mengetahuinya (hukum Allah) dan tersalah di dalamnya (memberi keputusan) maka ini (hukumnya) adalah orang yang tidak sengaja, baginya hukum orang-orang yang sengaja".5. Imam Ibnu Abil 'Izz Al-Hanafy rahimahullahSetelah menjelaskan pembagian kekafiran seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Qoyyim di atas, beliau dalam Syarh Al-'Aqidah Ath-Thohawiyah hal. 323-324 berkata, "… dan hal ini disesuaikan dengan keadaan orang yang berhukun tersebut : Jika dia meyakini bahwa berhukum dengan apa yang diturunkan Allah tidaklah wajib dan bahwa dia diberikan pilihan dalam hal itu atau karena dia menghinakannya (hukum Allah) dalam keadaan dia tetap meyakini bahwa hal itu adalah hukum Allah, maka ini adalah (kekafiran) akbar. Dan jika
dia meyakini wajibnya berhukum dengan apa yang Allah turunkan dan dia mengetahui hal itu (hukum Allah) dalam perkara ini, tapi dia berpaling darinya bersamaan dengan itu dia mengakui bahwa dirinya berhak mendapatkan siksaan maka dia adalah pelaku maksiat dan dikatakan kafir secara majaz (ungkapan) atau kufur ashghar. Dan jika dia tidak mengetahui hukum Allah di dalamnya (perkara tersebut) padahal dia telah mengerahkan seluruh usaha dan kemampuannya untuk mengetahui hukum perkara itu tapi dia salah, maka dia adalah orang yang tidak sengaja bersalah, baginya satu pahala atas ijtihadnya dan kesalahannya dimaafkan".Sumber: http://al-atsariyyah.comFootnote :
(1). Abu Abdillah: Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi'i Al-Hasyimi Al-Qurasyi Al-Mutthalibi (150-204H=767-820M). Salah seorang imam empat. Dilahirkan di ghaza (Palestina) dan meninggal di Cairo. Diantara karya ilmiahnya : Al-Um, Ar-Risalah dan Al-Musnad.
(2). Abu Abdillah : Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah Al-Bukari (194-256H810-870M). Seorang ulama ahli Hadits, untuk mengumpulkan hadits, ia telah menempuh parjalanan panjang; mengunjungi khurasan, Irak, Mesir, dan syam. Kitab-kitab yang disusunnya antara lain: Al-Jami' Ash-Shahih (yang lebih dikenal dengan Shaihih Al-Bukhari), At-Taarikh, Adhu'afa', Khalq af'al Al-Ibad.
(3) Al-Bukhari dalam Shahihnya, kitab Al-Ilm, bab 10
(4) Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'anul Azhim, (Cairo: Maktabah Dar At-Turats, 1400 H), jilid 1 hal, 57.
(5) Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'anul Azhim, (Cairo: Maktabah Dar At-turats, 1400 H), jilid 1 hal, 57.
(6) Islam, yang dimaksud disini, adalah: syahadat, shalat, shiyam, zakat dan haji.
(7) Hadits riwayat At-Tirmizi dalam Al-Jami' Ash-Shahih, kitab -Da'awat, bab 1. Dan maksud hadis ini: bahwa segala macam ibadah, baik yang umum maupun yang khusus, yang dilakukan seorang mu'min, seperti: mencari nafkah yang halal untuk keluarga, menyantuni anak yatim dll. Semestinya diiringi dengan permohonan ridha Allah dan pengharapan balasan ukhrawi. Oleh karena itu do'a (permohonan dan pengharapan tersebut) disebut oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai sari atau otak ibadah, karena senantiasa harus mengiringi gerak ibadah.
(8) Hadits riwayat At-Tirmizi dalam Al-Jami' Ash-Shohih, kitab syafaat Al-Qiyamah War-Raqoiq Wal-Wara', bab 59. dan riwayat Imam Ahmad Musnad (Beirut; Al-Maktab Al-Islami, 1403 H), jillid 1, hal, 293, 303, 307
(9) Hadits riwayat Muslim dalam Shohihnya, kitab Al-Adhahi, bab 8. dan riwyat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 1, hal. 108 dan 152.
(10) Qadar ialah : Takdir, ketentuan Ilahi, yaitu : iman bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah diketahui, dicatat, dikehendaki dan dijadikan oleh Allah ta'aala.
(11) Pengertian Ihsan tersebut merupakan penggalan dari hadits Jibril, yang dituturkan oleh Umar bin Al-Khattab rodhiallohu 'anhu, sebagaimana akan disebutkan.
(12) Disebutkan hadits Jibril, karena Jibrillah yang datang kepada Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam dengan menanyakan kepada beliau tentang Islam, Iman , Ihsan dan masalah hari kiamat. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan pelajaran kepada kaum Muslimin tentang masalah-masalah agama.
(13) Hadits riwayat Muslim dalam shahih-nya, kitab al-Iman, bab 1 hadits ke-1. dan diriwayatkan juga hadits dengn lafazh seperti ini dari Abu Hurairah oleh Al-Bukhari dalam shahihnya, kitab Al-Iman, bab 37, hadits ke-1.
(14) Yakni surat Al-Alaq 1-5.
(15) Yang dimaksud dengan zhalim terhadap diri mereka sendiri dalam ayat ini, ialah orang-orang penduduk Makkah yang sudah masuk Islam tetapi mereka tidak mau hijrah bersama Nabi, padahal mereka mampu dan sanggup. Mereka ditindas dan di paksa oleh orang-orang kafir supaya ikut bersama mereka pergi ke perang badar, akhirnya ada diantara mereka yang terbunuh.
(16) Abu Muhammad : Al-Husain bin Mas'ud bin Muhammad Al-Farra', atau Ibnu Al-Farra', Al-Baghawi (436-510 H = 1044-1117 M). Seorang ahli dalam bidang fiqh, hadits dan tafsir. Diantara karyanya : At-Tahdzib (fiqh), Syarh As-Sunnah (hadits), Lubab At-Tawil fi ma'alim at-tanzil (tafsir).
(17) Maksudnya, adalah hari Jum'at ketika wuquf di Arafah, pada waktu haji Wada'.
(18) Selain dalil dari Al Qur'an yang disebutkan penulis, yang menunjukkan bahwa Nabi Nuh adalah Rasul pertama, disana ada juga hadis shahih yang menyetakan bahwa Nabi Nuh adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi ini, seperti hadits riwayat Al-bukhari dalam shohih nya, kitab Al-Anbiya', bab 3, dan riwayat Muslim dalam shahihnya, kitab Al-Iman bab 84.
Adapun Nabi Adam 'alaihis salam, menurut sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar al-ghifari R.A, beliau adalah nabi pertama. Dan disebutkan dalam hadits ini bahwa jumlah para Nabi ada 124 ribu orang, dari jumlah tersebut sebagai Rasul 315 orang, dan dalam riwayat lain disebutkan lebih dari 312 orang. Lihat : Imam Ahmad, Al-Musnad, jilid 5, hal, 178, 179 dan 265.
(19) Abu Abdillah : Muhamad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa'ad Az-zur'i Ad-Dimasyqi, terkenal dengan Ibnu Al-qayyim atau Ibnu Qayim al-Jauziyah (691-751 H = 1292-1350 M). Seorang ulama yang giat dan gigih dalam mengajak ummat Islam pada zamannya untuk kembali kepada tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah serta mengikuti jejak para salafus shalih. Mempunyai banyak karya tulis, antara lain : Madarij-assalikin, Zaad Al-Ma'ad, Thariq Al-Hijratain wa Baab As-Sa'adatain, At-tibyan fi Aqsam Al-Qur'an, Miftah Dar As-sa'adah.
(20) Silahkan melihat kembali pengertian Islam yang disebutkan oleh penulis pada hal 23.(Dikutip dari terjemah kitab Ushulus Tsalatsah, edisi Indonesia Tiga Landasan Utama, karya syaikh Muhammad At-Tamimi. Diterbitkan oleh Kementrian Urusan Islam, Waqaf, Da'wah dan Penyuluhan Urusan Penerbitan & Penyebaran Saudi Arabia)Sumber: http://www.salafy.or.id

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
MARKETPLACE
A bad score is 579. A good idea is checking yours at freecreditscore.com.

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: