Kamis, 12 November 2009

[daarut-tauhiid] Konsep Ilmu Menurut al-Ghazali dan Ibn Taimiyyah

Konsep Ilmu Menurut al-Ghazali dan Ibn Taimiyyah

Nashruddin Syarief MPd
Alumnus Program Kaderisasi Ulama DDIIUIKA Bogor

Al-Ghazali dan Ibn Taimiyyah merupakan dua orang ulama yang memiliki
peranan besar dalam sejarah peradaban Islam. Salah satu yang menjadi
bukti peran mereka adalah pembelaan mereka atas pemikiran Islam dari
serangan-serangan filosof yang destruktif. Al-Ghazali merumuskan
pembelaannya dalam karyanya, Tahâfut al-Falâsifah (kerancuan para
filosof), sementara Ibn Taimiyyah menyusun karya bantahannya terhadap
serangan-serangan filsafat Islam dalam Dar` Ta'ârud al-'Aql wa al-Naql
au Muwâfaqah Shahîh al-Manqûl li Sharîh al-Ma'qûl (menepis anggapan
bahwa akal dan naql bertentangan, atau kepastian sesuainya manqul yang
shahih dan akal yang sharih). Dalam kedua karya tersebut, al-Ghazali
dan Ibn Taimiyyah telah berhasil menguraikan dengan sangat ilmiah
kesalahan-kesalahan keilmuan yang terjadi di kalangan filosof. Maka
dari itu menggali lebih jauh konsep ilmu mereka akan mengantarkan kita
pada sebuah timbangan untuk menentukan benar dan tidaknya sebuah
pemikiran.

Baik al-Ghazali ataupun Ibn Taimiyyah, kedua-duanya jauh dari sikap
skeptis atau relativis terhadap kebenaran. Dalam kedua karya mereka,
di samping karya-karya mereka yang lain, mereka membangun
teori-teorinya di atas sebuah keyakinan bahwa kebenaran itu ada, tidak
sulit untuk didekati sebagaimana diasumsikan oleh kaum skpetis,
demikian juga tidak relatif adanya sebagaimana diyakini oleh kaum
relativis. Jika al-Ghazali dan Ibn Taimiyyah menganggap kebenaran
relatif, tentu mereka tidak akan menyusun karya ilmiah sampai
beribu-ribu jumlahnya, dan tidak akan menguras tenaga untuk membantah
asumsi para filosof yang destruktif.

Dalam kaitan ini, Ibn Taimiyyah pernah menyatakan: "Sesungguhnya ilmu
itu adalah yang bersandar pada dalil, dan yang bermanfaat darinya
adalah apa yang dibawa oleh Rasul. Maka sesuatu yang bisa kita katakan
ilmu itu adalah penukilan yang benar (al-naql al-mushaddaq) dan
penelitian yang akurat (al-bahts almuhaqqaq). (Majmû' Fatâwâ Syaikh
al-Islâm Ahmad ibn Taimiyyah, jilid 6, hlm. 388)

Dengan definisi ini, Ibn Taimiyyah mengakui dua jenis keilmuan; ilmu
keagamaan dan keduniaan. Ilmu yang pertama mutlak harus bersandar pada
apa yang dibawa oleh Rasul, sedangkan yang kedua tidak harus selalu
dirujukkan pada Rasul. Al-Ghazali sendiri, setelah menguraikan
bermacam-macam definisi dan jenis ilmu, ia sampai pada kesimpulan
bahwa pada intinya ilmu itu mengandung tiga unsur, yaitu: keyakinan,
mengerjakan, dan meninggalkan. Aspeknya juga bisa dalam hal keagamaan
ataupun keduniaan, yang diungkapkan oleh al-Ghazali dengan syar'iyyah
dan ghair syar'iyyah. Yang jelas, ilmu itu dapat menuntun seseorang
untuk meyakini sesuatu yang benar dan salah, mengerjakannya atau
meninggalkannya (Abu al-Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, Ihyâ`
'Ulûm al-Dîn, Mesir: Maktabah Mesir, 1998, juz 1, hlm. 27).

Ini bisa dijadikan standar acuan bahwa Islam tidak mengakui adanya
dikotomi ilmu; yang satu diakui, yang lainnya tidak. Yang
logis-empiris dikategorikan ilmiah, sedangkan yang berdasarkan pada
wahyu tidak dikategorikan ilmiah. Semua jenis pengetahuan, apakah itu
yang logisempiris, apalagi yang sifatnya wahyu (revelational), diakui
sebagai sesuatu yang ilmiah. Dalam khazanah pemikiran Islam yang
dikenal hanya klasifikasi (pembedaan) atau diferensiasi (perbedaan),
bukan dikotomi seperti yang berlaku di Barat.

Klasifikasi seperti ini penting untuk diterapkan agar tidak terjadi
"kekacauan ilmu". Ketika agama diukur oleh akal dan indera (induktif),
maka yang lahir adalah sofisme modern. Sehingga adanya Ahmadiyah dan
aliran-aliran sesat tidak dipahami sebagai sebuah "kesalahan",
melainkan sebuah pembenaran bahwa Islam itu warna-warni. Demikian
juga, ketika sains dicari-cari pembenarannya dari dalil-dalil agama,
maka yang lahir kelak pembajakan dalil-dalil agama. Sehingga langit
yang tujuh dipahami sebagai planet yang jumlahnya tujuh, seperti
pernah dikemukakan oleh sebagian filosof Muslim di abad pertengahan

Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat juga dari pendapat Ibn Taimiyyah
tentang thuruq al-'ilm (saluran-saluran ilmu). Menurut Ibn Taimiyyah,
thuruq al-'ilm itu ada tiga: khabar, akal dan indera. Ibn Taimiyyah
kemudian membagi indera pada indera lahir, yakni panca indera yang
kita maklumi, dan indera batin, yakni intuisi hati (Dar` Ta'ârud
al-'Aql wa al-Naql, jilid 1, hlm. 178 dan jilid 7, hlm. 324). Terhadap
teori kasyf (iluminasionisme), Ibn Taimiyyah menyatakan
kemungkinannya. Hanya menurutnya pengetahuan yang diperoleh lewat
ilhâm tersebut tidak boleh bertentangan dengan khabar yang statusnya
lebih kuat. Karena selain sama-sama berasal dari Allah swt, khabar ini
juga disampaikan kepada manusia pilihan-Nya, yaitu para Nabi. Sehingga
jelas apa yang disampaikan Allah swt kepada para Nabi lebih kuat
kedudukannya ketika berbenturan dengan ilham yang banyak di antaranya
hanya berupa lintasan-lintasan hati biasa dan tidak bisa
dipertanggungjawabkan (Dar` Ta�farud, jilid 8, hlm. 46).

Al-Ghazali menyampaikan pendapat yang sama. Menurutnya, hakim dalam
makna pemutus benar tidaknya sesuatu itu ada tiga, yaitu hissi
(indera), wahmi (intuisi), dan aqli (akal). Menurut al-Ghazali, ketika
hakim wahmi itu terkadang bertentangan dengan akal dan indera yang
kuat, padahal di sisi lainnya terdapat peringatan tentang adanya yang
melintas di dalam hati ini berupa bisikan syetan, maka al-Gha zali
hanya mengakui saluran wahmi dari orang yang dikuatkan oleh Allah swt
dengan taufiq-Nya, yakni orang yang dimuliakan Allah swt disebabkan
orang yang bersangkutan hanya menempuh jalan yang haqq (Miyar al-Ilm
fi Fann al-Mantiq, hlm. 2-3). Tidak menyebutkannya al-Ghazali
kedudukan wahyu secara tegas, bukan berarti ia tidak mengakuinya.
Karena di dalam berbagai karyanya, termasuk dalam menentang para
filosof melalui Tahafut al-Falasifah, al-Ghazali melandaskannya pada
dalil-dalil wahyu. Itu semua dikarenakan yang menjadi titik tekan
al-Ghazali dalam pembahasannya ini adalah hakim dari diri manusia
sendiri, bukan dari luar.

Uraian ini menguatkan pernyataan Ibn Taimiyyah sebelumnya bahwa ilmu
yang bermanfaat itu adalah yang datang dari Rasul saw. Artinya, segala
sesuatu yang berkaitan dengan ilmu, tidak boleh bertentangan dengan
yang dibawa oleh Rasul saw (agama). Meminjam penjelasan al-Attas,
menurutnya, hubungan antara kedua kategori ilmu pengetahuan, antara
ilmu agama dan dunia, sangat jelas. Yang pertama menyingkap rahasia
Being dan Eksistensi, menerangkan dengan sebenar-benarnya hubungan
antara diri manusia dan Tuhan, dan men jelaskan maksud dari mengetahui
sesuatu dan tujuan kehidupan yang sebenarnya.

Konsekuensinya, kategori ilmu pengetahuan yang pertama harus
membimbing yang kedua. Jika tidak, ilmu pengetahuan kedua ini akan
membingungkan manusia dan secara terus menerus menjebak mereka dalam
suasana pencarian tujuan dan makna kehidupan yang meragukan dan salah.
Mereka yang dengan sengaja memilih cabang tertentu dari kategori kedua
dalam upaya meningkatkan kualitas diri mereka, al-Attas menegaskan
ulang, harus dibimbing oleh pengetahuan yang benar dari kategori
pertama (Lihat, Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat Pendidikan al-Attas,
hlm. 158).


sumber:
http://www.republika.co.id/koran/0/88787/Konsep_Ilmu_Menurut_al_Ghazali_dan_Ibn_Taimiyyah


------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: