Kamis, 12 November 2009

[daarut-tauhiid] AL-GHAZALI DIMATA M. NATSIR

AL-GHAZALI DIMATA M. NATSIR

Dr. Adian Husaini
Peneliti INSISTS

Mohammad Natsir (1908-1993) dikenal sebagai pejuang Islam Indonesia
yang pada 2008 mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional. Natsir
juga seorang pemikir dan pelopor pendidikan Islam. Tulisan-tulisannya
yang dihimpun dalam buku Capita Selecta menunjukkan ketinggian
keilmuan M. Natsir. Meskipun hanya mengenyam pendidikan formal
setingkat AMS ( Algemene Middelbare School), setingkat SMA sekarang,
tetapi Natsir memiliki kacintaan yang sangat tinggi dalam mencari
ilmu.

Tumbuh dalam asuhan pendidikan keagamaan oleh A. Hassan, seorang tokoh
modernis, Natsir mampu mengembangkan pemikirannya jauh melampui
lingkungan pendidikan formalnya. Pada sekitar tahun 1930-an, dalam
usia sekitar tiga puluhan, Natsir telah aktif menulis tentang berbagai
persoalan keilmuan dan terlibat dalam perdebatan ilmiah dengan
berbagai kalangan. Melalui tulisan-tulisannya, ketika itu, tampak
Natsir sudah membaca berbagai literatur tentang aqidah, sejarah, ilmu
kalam, tasawuf, filsafat, syariah, perbandingan agama, dan sebagainya.
Hampir dalam setiap tulisannya, Natsir mampu meramu dengan baik,
sumber-sumber dari kalangan Muslim maupun karya-karya orientalis
Barat. Ambillah satu contoh sebuah artikel berjudul "Muhammad
al-Ghazali (450-505 H, 1058-1111)", yang dimuat di majalah Pedoman
Masyarakat, April 1937.

Dalam artikel ini, Natsir memaparkan keagungan pemikiran dan kiprah
al-Ghazali dibandingkan dengan prestasi ilmuwanilmuwan Barat. Kitab
Maqashidul Falasifahnya al-Ghazali, misalnya, sudah diterjemahkan oleh
Dominicus Gundisalvus ke bahasa Latin pada abad ke-12 M. Di sini,
Natsir juga menguraikan teori kausalitas al-Ghazali yang mendahului
teori David Hume (1711-1776) tujuh ratus tahun sebelumnya. Natsir
membantah bahwa David Hume lah sarjana pertama yang mengungkap teori
kausalitas ( causaliteitleer). Natsir tidak menolak jasa David Hume
dalam soal ini. Tetapi, tulisnya, "jangan dilupakan, bahwa 700 tahun
sebelum David Hume, telah pernah seorang filosof Muslim di daerah
Timur yang mengupas masalah ini dalam Kitabnya, Tahafutul Falasifah."

Setelah mengupas sedikit teori kausalitas al-Ghazali, Natsir
mengingatkan: "Aneh! Hal ini rupanya tidak hendak diingat orang. Dan
kalau kita ketahui bahwa seorang filosof Barat sebagai Immanuel Kant
mengakui, bahwa David Hume-lah yang membukakan matanya, dapatlah kita
mengira-ngirakan betapa besar kadarnya kekuatan ruhani Ghazali
dibandingkan dengan filosof-filosof yang masyhur di Barat itu."

Kemudian, secara khusus, Natsir memberi komentar terhadap pemikiran
al-Ghazali: "Kalau Imam Ghazali oleh karena ini tidak dinamakan
seorang filosof-'aqli, maka itu tidak berarti bahwa akalnya kurang
dipakai dibandingkan dengan filosof yang lain-lain. Tak kurang
Al-Ghazali mengupas falsafah Socrates, Aristoteles dan
memperbincangkan pelbagai masalah yang sulit-sulit dengan cara yang
halus dan tajam sekali dalam kitabnya yang tersebut di atas. Tak
kurang ia membentangkan ilmu mantik dan tak kurang pula menyusun
ilmu-ilmu yang tahan uji dibandingkan dengan karangankarangan filosof
yang lain. Semua ini menunjukkan ketajaman akalnya dan memakai akal
itu sebagai salah satu nikmat yang dikurniakan Allah kepada manusia.
Tapi dalam pada itu ia tidak hendak lupa, bahwa akal ini pun dapat
bekerja hanya sampai kepada suatu batas yang tak dapat dilampaui.
Apabila filosof yang lain masih terus juga menurunkan akal itu ke
mana-mana, di bawa oleh akal itu sendiri, walaupun sudah bukan medan
pekerjaannya lagi, serta menjadikan akal sebagai hakim yang
menghabiskan dalam semua hal —, pada saat yang demikian itu Imam
Ghazali tidak enggan berkata dengan khusyu' "wallahu a'lam!" – "Allah
yang lebih mengetahui!" dan kembali kepada Kitab (Al-Quran), Yang tak
syak lagi menjadi petunjuk bagu mereka yang takwa."

Melalui artikel yang pendek tersebut, Natsir menguraikan jasa-jasa
besar al-Ghazali bagi umat Islam, disamping juga kontroversi terhadap
pemikirannya dan apresiasi para ilmuwan Barat terhadapnya. Terhadap
kontroversi terhadap pemikiran al-Ghazali, Natsir menulis, bahwa itu:
"... ialah suatu hal yang galib diterima oleh setiap orang yang
berjalan di muka bumi merintis jalan baru, yang mendengarkan suara
keyakinan yang teguh yang berbisik di dalam hati, dan tidak hendak
turut-turut ke hilir ke udik, seperti pucuk aru dihembus angin."

Penguasaan Natsir terhadap pemikiranpemikiran para pemikir Muslim
klasik bisa dilihat dalam berbagai artikelnya dalam buku Capita
Selecta yang mengupas sosok dan pemikiran Ibnu Thufail, Ibnu Sina,
Ibnu Maskawaih, Abu Nasr Al-Farabi, Ikhwan as-Shafa, juga kupasannya
tentang aliran Mutazailah dan Ahli Sunnah. Meskipun sangat memahami
seluk beluk peradaban Barat, melalui berbagai tulisannya yang mengupas
keagungan sejarah peradaban dan pemikir Muslim, Natsir menyampaikan
pesan yang jelas kepada kaum Muslim: Jangan merasa rendah diri melihat
kehebatan peradaban Barat!


sumber:
http://www.republika.co.id/koran/0/88786/AL_GHAZALI_DIMATA_M_NATSIR


------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: