Kamis, 12 November 2009

[daarut-tauhiid] Kareem Abdul Jabbar, Lompatan Iman Raja Basket

 

Kareem Abdul Jabbar, Lompatan Iman Raja Basket

Islam adalah anugerah yang tinggi dalam menunjukkan jalan kebenaran
umat manusia.

Sosok Kareem Abdul Jabbar diakui banyak pemain basket sebagai salah
satu pemain basket terbesar sepanjang masa. Shooting, Slam dunk,
rebound, block , maupun aksi lainnya, sangat memukau. Tak jarang,
lawannya dibuat kesulitan untuk membendung agresivitas pemain
bertinggi badan 2,18 meter ini.

Dengan dukungan postur tubuhnya yang sangat tinggi, Kareem Abdul
Jabbar sering kali melakukan aksi yang brilian. Lompatannya sering
mengundang kagum para penonton maupun tim lawan. Atas aksi dan
kesuksesannya membawa klubnya meraih tangga juara, Kareem Abdul Jabbar
pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik di kompetisi liga bola basket
Amerika Serikat (NBA Most Valuable Player ). Predikat itu diraihnya
sebanyak enam kali.

Selama bermain di ajang NBA, ia berhasil membukukan rekor sebagai
pencetak angka tertinggi sepanjang masa dengan 38.387 poin. Karenanya,
ia mendapat julukan 'Raja Bola Basket'. Dan berkat prestasinya ini, 19
kali ia terpilih untuk memperkuat tim NBA All-Star.

Karier pria kelahiran New York City, 16 April 1947, di ajang bola
basket Amerika dimulai ketika bermain untuk tim bola basket kampus,
Universitas California, Los Angeles (UCLA). Aksi-aksinya di tim UCLA,
mendapat perhatian serius para pelatih basket Amerika Serikat saat
itu.

Dan tahun 1969, ia mendapat tawaran bermain di level kompetisi basket
tertinggi di Amerika Serikat (NBA) dengan bergabung bersama klub
Milwaukee Bucks. Di klub barunya ini, ia turut memberi andil besar
dengan merebut juara NBA tahun 1970-1971.

Pada 1975, ia bergabung dengan tim basket asal Kota Los Angeles, LA
Lakers. Di klub inilah karier Kareem makin melesat. Ia berhasil
membawa La Lakers merebut sejumlah gelar juara untuk klubnya. Di
samping itu, ia juga berhasil merebut gelar pribadi, yakni sebagai
pemain terbaik NBA. Di klub ini, ia bermain sejak 1975-1989.

Masuk Islam
Atas aksi-aksinya yang hebat itu, Kareem menjadi salah satu pemain
andalan NBA All-Star dan Amerika Serikat dalam ajang Olimpiade. Ia
juga menjadi pemain kebanggaan negeri Paman Sam tersebut. Tak hanya
itu, ia juga merupakan pemain kebanggaan umat Islam di seluruh dunia.

Ya, pemain bernama lengkap Ferdinand Lewis Alcindor Junior (Jr) ini,
adalah salah seorang atlet NBA pemeluk Islam. Ia mendeklarasikan diri
sebagai seorang Muslim pada saat kariernya tengah menanjak.

Saat itu, seusai mempersembahkan gelar juara NBA untuk Milwaukee Bucks
tahun 1971, dan pada saat yang sama merebut gelar pemain terbaik (
Most Valuable Player , MPV) dan 'Rookie of the Year' (Pendatang baru
terbaik) di Liga NBA, Kareem menyatakan diri memeluk Islam.
Perpindahan kepercayaan dari Katolik menjadi Muslim ini, dirasakannya
sebagai sebuah lompatan tertinggi selama hidupnya.

Ayahnya, Ferdinand Lewis Alcindor Sr, dan ibunya, Cora Lilian, adalah
seorang pemeluk Katolik. Karenanya, sejak kecil ia mendapatkan
pendidikan di sekolah Katolik. Oleh kedua orang tuanya, ia dimasukkan
ke Saint Jude School. Ketika duduk di bangku SMA, ia berhasil membawa
tim basket sekolahnya menjuarai New York City Catholic Championship.

Perkenalan Kareem dengan ajaran Islam terjadi lewat salah seorang
temannya yang bernama Hamaas Abdul Khaalis. Ia mengenal Hamaas melalui
ayahnya. Seperti halnya sang ayah yang seorang musisi jazz, Hamaas
juga pernah mengeluti musik jazz. Dia adalah mantan drumer jazz. Dari
Hamaas inilah, kemudian Kareem belajar banyak mengenai Islam. Ia juga
sempat berkenalan dengan Muhammad Ali (Cassius Clay) yang sudah
menjadi Muslim.

Nama budak
Setelah banyak belajar Islam dari Hamaas, tekadnya untuk memeluk Islam
pun semakin bulat. Atas ajakan Hamaas, ia kemudian mendatangi sebuah
pusat kebudayaan Afrika di Harlem, di mana kaum Muslimin menempati
lantai lima gedung itu. ''Saya pergi ke sana dengan mengenakan jubah
Afrika yang berwarna-warni,'' terangnya.

Kepada seorang pemuda yang ditemuinya di pusat kebudayaan Afrika ini,
ia mengutarakan niatnya untuk menjadi seorang Muslim. Di hadapan
mereka, ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika pertama kali
mengucapkan kalimat syahadat, mereka memanggilnya dengan Abdul Kareem.

Namun, Hamaas berkata, ''Anda lebih tepat sebagai Abdul-Jabbar.''
Sejak saat itu, bertepatan dengan tanggal 1 Mei 1971 atau sehari
setelah Milwaukee Bucks memenangi kejuaraan NBA, ia memutuskan untuk
mengganti namanya dari Ferdinand Lewis Alcindor Jr menjadi Kareem
Abdul-Jabbar. Keputusan untuk mengganti nama tersebut, menurut Kareem,
juga didorong keinginan untuk menguatkan identitasnya sebagai orang
Afro-Amerika dan sebagai seorang Muslim.

''Saya tidak akan menggunakan nama Alcindor. Secara literal itu adalah
nama budak. Ada seorang laki-laki bernama Alcindor yang membawa
keluarga saya dari Afrika Barat ke kepulauan Dominika. Dari sana
mereka pergi ke kepulauan Trinidad, sebagai budak, dan mereka
mempertahankan namanya. Mereka adalah budak-budak Alcindor. Jadi,
Alcindor adalah nama penyalur budak. Ayah saya melacak hal ini di
tempat penyimpanan arsip,'' terangnya.

Sebagai anak satu-satunya, keputusan Kareem untuk memeluk Islam sempat
membuat khawatir kedua orang tuanya. Namun, kekhawatiran tersebut
berhasil ia tepis. ''Mereka tahu saya bersungguh-sungguh. Saya pindah
agama bukan untuk ketenaran. Saya sudah menjadi diri saya sendiri, dan
melakukan itu dengan cara saya sendiri, apa pun konsekuensinya.''

Baginya, Islam adalah anugerah dan hidayah Allah yang tertinggi dalam
menunjukkan jalan kebenaran bagi umat manusia.

Rajin Belajar

Di sela-sela kesibukannya bermain basket, Kareem masih sempat
meluangkan waktu untuk mendalami Islam. ''Saya beralih ke sumber
segala ilmu. Saya mempelajari bahasa Arab. Saya mulai membaca Alquran
dalam bahasa Arab. Saya dapat menerjemahkannya dengan bantuan kamus.
Untuk menerjemahkan tiga kalimat saya membutuhkan waktu 10 jam, tetapi
saya memahami apa yang dimaksudkan secara gramatikal,'' ujarnya.

Namun, diakui dia, cukup sulit baginya untuk bisa menunaikan kewajiban
shalat lima kali setiap hari. Kesulitan untuk menjalankan shalat lima
waktu ini, terutama dirasakan ketika ia sedang bermain. ''Saya terlalu
capai untuk bangun melakukan shalat Subuh. Saya harus bermain basket
pada waktu Maghrib dan Isya. Saya akan tertidur sepanjang siang di
mana saya seharusnya melakukan shalat Zuhur. Begitulah, saya tidak
pernah bisa menegakkan disiplin itu,'' paparnya.

Begitu juga tatkala bulan Ramadhan tiba. Aktivitasnya yang cukup padat
di lapangan, terkadang memaksanya untuk membatalkan puasa. Untuk
membayar utang puasanya ini, Kareem selalu mengeluarkan fidyah.

''Karena saya tidak dapat berpuasa di bulan Ramadhan, saya selalu
memberi makan sebuah keluarga. Saya memberi sedekah. Saya memberi uang
kepada rekan sesama Muslim dan mengatakan kepadanya untuk apa uang
itu.'' Pada 1973, Kareem mengunjungi Makkah, dan menunaikan ibadah
haji.

Pada 28 Juni 1989, setelah 20 tahun menjalani karier profesionalnya,
Kareem memutuskan untuk berhenti dari ajang NBA. Sejak berhenti
bermain, menurut Kareem, dirinya menjadi semakin baik dan dapat
menjalankan semua kewajibannya sebagai seorang Muslim.

''Saya rasa saya harus beradaptasi untuk hidup di Amerika. Yang dapat
saya harapkan hanyalah semoga pada Hari Akhir nanti Allah rida atas
apa yang telah saya lakukan,'' tukasnya.

Antara Akting, Menulis, dan Melatih

Setelah pensiun bermain basket, berbagai tawaran datang kepadanya.
Namun, bukan tawaran untuk melatih sebuah tim bola basket, melainkan
tawaran untuk beradu akting di depan kamera. Dunia akting sebenarnya
bukan merupakan hal yang baru bagi seorang Kareem Abdul-Jabbar. Ketika
masih memperkuat LA Lakers, ia pernah bermain di film Game of Death
yang dirilis tahun 1978. Di film laga ini, ia harus beradu akting
dengan Bruce Lee. Tawaran untuk bermain kedua kalinya di film layar
lebar datang di tahun 1980. Saat itu ia harus memerankan tokoh kopilot
Roger Murdock dalam film komedi Airplane! .

Penampilan Kareem di layar televisi dan film tidak berhenti sampai di
situ. Ia tercatat pernah bermain di sejumlah serial televisi di
Amerika Serikat. Di antaranya adalah serial komedi situasi Full
House, Living Single, Amin, Everybody Loves Raymond, Martin, Different
Strokes, The Fresh Prince of Bel-Air, Scrubs , dan Emergency! . Dia
juga muncul di film televisi Stepen King's The Stand dan Slam Dunk
Ernest . Di serial Full House , ia harus beradu akting dengan anaknya
sendiri, Adam.

Pada 1994, Kareem juga menjajal peruntungannya di balik layar dengan
menjadi co-producer eksekutif dari film televisi The Vernon Johns
Story . Kemudian pada 2006, ia tampil dalam acara The Colbert Report
. Pada 2008 ia berperan sebagai seorang manajer panggung dalam Nazi
Gold .

Di luar dunia akting, ternyata ayah dari Habiba, Sultana, Kareem Jr,
Amir, dan Adam ini memiliki bakat yang lain, yakni dalam bidang tulis
menulis. Selain dikenal sebagai pemain basket dan bintang film, Kareem
juga dikenal sebagai seorang penulis buku. Ia sudah menulis sedikitnya
tujuh buku yang kesemuanya best seller .

Buku-buku hasil karyanya, antara lain Giant Steps yang ditulisnya
bersama Peter Knobler (1987), Kareem (1990), Selected from Giant
Steps (1999), Black Profiles in Courage: A Legacy of African-American
Achievement yang ditulisnya bersama Alan Steinberg (1996), A Season
on the Reservation: My Sojourn with the White Mountain Apaches yang
ditulisnya bersama Stephen Singular (2000), Brothers in Arms: The
Epic Story of the 761st Tank Battalion dan WWII's Forgotten Heroes
yang ditulisnya bersama Anthony Walton (2005), dan On the Shoulders
of Giants: My Journey Through the Harlem Renaissance yang ditulisnya
bersama Raymond Obstfeld (2007).

Kendati demikian, olahraga basket tidak bisa dipisahkan dari diri
Kareem. Salah satu keinginan terbesarnya saat ini adalah bisa melatih
salah satu klub NBA. Setelah memutuskan berhenti bermain, posisi
tertinggi Kareem hanya sebagai asisten pelatih sejumlah klub NBA. Los
Angeles Clippers dan Seattle SuperSonics menggunakan jasanya untuk
melatih center muda Michael Olowokandi dan Jerome James.

Pada 2005, ia kembali ke Lakers sebagai asisten khusus pelatih kepala
Phil Jackson. Tugasnya mengasah kemampuan center muda Lakers, Andrew
Bynum. Ia dinilai berhasil dengan semakin meningkatnya performa Bynum.
Musim lalu, Kareem berjasa mengantarkan Lakers juara NBA dengan
kontribusi 14 poin dan delapan rebound per game .

Ia juga pernah menjadi pelatih kepala, tapi hanya di tim sekelas
Oklahoma Storm. Tim ini bermain di United States Basketball League
pada 2002, sebuah liga kelas bawah tempat para pemain mengasah
kemampuan sebelum berkiprah di NBA atau liga-liga lain. dia/sya/taq

Biodata :

Nama Asli : Ferdinand Lewis Alcindor Jr
Nama Muslim : Kareem Abdul Jabbar
Masuk Islam : 1971
Lahir : New York City, 16 April 1947
Orang Tua : Ferdinand Lewis Alcindor Sr dan Cora Lilian
Klub Pertama : Tim Basket UCLA

Klub Profesional :
- Milwaukee Bucks (1969-1975)
- LA Lakers (1975-1989)

Penghargaan:
- Enam kali NBA MPV (1971-1972, 1974, 1976-1977, 1980)
- 19 kali menjadi tim NBA All Star (1970-1977 dan 1979-1989).
- Dua kali Finalis NBA MPV (1971, 1985)
- 10 kali All-NBA Team (1971-1973, 1974, 1976-1977, 1980-1981, 1984, 1986).
- Lima kali All-NBA Second Team (1970, 1978-1979, 1983, 1985).
- Lima kali NBA All-Defensive First Team (1974-1975, 1979-1981)
- Enam kali NBA All-Defensive Second Team (1970-1971, 1976-1978, 1984).
- NBA Rookie of The Year (1970)
- NBA All-Rookie Team (1970); dan banyak lagi

Prestasi :
- Juara NBA (1971) bersama Milwaukee Bucks
- Juara NBA (1980, 1982, 1985, 1987, 1988) bersama LA Lakers

sumber:
http://www.republika.co.id/berita/88926/Kareem_Abdul_Jabbar_Lompatan_Iman_Raja_Basket

__._,_.___
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
.

__,_._,___

Tidak ada komentar: