ADA APA DENGAN CINTA PADA SANG IBU??
Oleh : Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc.
------------
"Nina bobo', o Nina
bobo', kalau tidak bobo' digigit nyamuk." Sedih juga rasanya mendengar
kalimat-kalimat itu, mengingatkan kita pada perngorbanan ibu saat
membesarkan kita, sewaktu mengandung, melahirkan, menyusui, sampai kita
menjadi besar. Kasih sayang ibu masih terasa sampai sekarang.
Bertahun-tahun
telah berlalu, semakin banyak orang yang melupakan ibunya, melupakan
jasa-jasanya.
diperbuat pada sang ibu. Akan tetapi, ibu selalu sabar, tabah dan
mendoakan kebaikan pada anaknya.
Begitu menyayat di hati, begitu
pekak di telinga, begitu menusuk di mata, ketika melihat dengan mata
kepala sendiri seorang anak berbicara kasar pada ibunya, memakinya,
menghinanya bahkan sampai memukulnya. Inikah ang dinamakan balas budi?
Allah
ta'ala berfirman :
فلاتقل لهما اف
Artinya : "Janganlah kamu
katakan pada mereka berdua uf (ah)!"(QS Al-Isra' :23)
Ungkapan ah
yang dianggap remeh oleh manusia ternyata telah dinilai suatu
kedurhakaan oleh Allah, apalagi sampai memakinya dan memukulnya.
Diriwayatkan
dari Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam :
الجنة تحت اقدام
الامهات
Artinya : "Surga di bawah telapak kaki ibu." Tapi sayang
hadits ini sangat lemah (dha'if jiddan).[1] Jika diartikan bahwa dengan
berbakti kepada ibu dapat memasukkan orang ke surga, maka hadits di atas
memiliki banyak pendukung. Rasulullah r bersabda :
رغم انف ثم رغم
انف ثم رغم انف من ادرك ابويه عند الكبر احدهما او كلاهما فلم يدخل الجنة
Artinya
: "Sungguh hina/sungguh rendah/sungguh merugi orang yang hidup bersama
orangtuanya yang sudah lanjut usia, salah satu atau kedua-duanya, tapi
tidak masuk kedalam surga." (Muslim)
'Irafah bin Iyas berkata,
"Saya melihat Al-Harits Al-Akali di dekat kubur ibunya sedang menangis,
kemudian dia ditanya, "Kamu menangis?" Dia menjawab, "Bagaimana tidak,
sebuah pintu dari pintu-pintu surga telah ditutup bagiku."[2]
Jihad
atau berbakti pada orang tua?
'Abdullah bin Mas'ud t berkata,
"Saya bertanya kepada Rasulullah r "Amalan apa yang paling dicintai oleh
Allah? Beliau menjawab, "Shalat pada waktunya." Saya berkata, "Kemudian
apa?" Beliau menjawab, "Berbakti pada kedua orangtua." Saya bertanya
lagi,"Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah."
(Muttafaqun 'alaih)
Allah lebih mencintai bakti kepada orangtua
dibanding seseorang berjihad di jalan Allah sedang orang tuanya
membutuhkannya. Hal itu juga dengan tegas dinyatakan oleh Rasulullahh r
ketika menolak salah seorang sahabat yang tidak mendapatkan izin dari
orangtuanya dan menyuruhnya kembali ke orangtuanya karena di keduanya
terdapat jihad. Begitu juga terdapat atsar dari 'Umar t dan yang lain.
Ada
apa dengan cinta pada ibu?
Cinta pada sang ibu lebih diutamakan
daripada ayah. "Untuk ibu tiga perempat bagian dari kebaikan," kata Imam
Ahmad.[3]hal ini dikarenakan ibu adalah orang yang paling dengan dengan
anaknya dan paling banyak mengorbankan waktunya dibandingkan dengan
ayah.
Kebanyakan tindakan durhaka terjadi pada sang ibu. Ibu
adalah seorang wanita dan wanita itu lemah dari segi fisik dan perasaan.
Ketika seorang anak sudah merasa besar dan cukup dewasa, bisa saja dia
melawan ibunya dengan lisannya atau dengan fisiknya.
Penulis
pernah mengunjungi suatu desa. Di desa itu seolah-olah anak laki-laki
sudah biasa berkata kasar pada ibunya, membantahnya dan tidak patuh.
Akan tetapi,, terhadap ayahnya dia bisa berbicara sopan, patuh dan
tunduk. Hati ibu mana yang tidak sakit jika diperlakukan seperti itu?
Al-jaza'u
min jinsil'amal (Balasan itu semisal dengan perbuatan), ini adalah
salah satu kaidah di dalam agama kita. Apabila seorang anak durhaka pada
orangtuanya, maka dia harus bersiap-siap untuk didurhakai oleh
anak-anaknya. "Telah banyak cerita-cerita nyata di antara manusia, siapa
yang berbakti pada orangtuanya, maka anak-anaknya juga berbakti
padanya. Demikian pula dengan perbuatan durhaka. Seseorang yang durhaka
pada orangtuanya, maka anak-anaknya akan mendurhakainya," kata Syaikh
Ibnu Al-'Utsaimin.[4] Maukah kita didurhakai oleh anak-anak kita?
Mulai
detik ini dan seterusnya mari kita menghitung berapa banyak kesalahan
yang telah kita perbuat pada kedua orangtua kita terutama pada sang ibu.
Entah itu berupa perbuatan, perkataan atau bahkan ejekan kita di dalam
hati.
Taat kepada orangtua merupakan ketaatan pada Allah ta'ala.
Sudah semestinya kita membahagiakan hati mereka dan tidak melukainya.
Muhammad
bin Al-Munkadir berkata,"Saya pernah semalaman memijat-mijat kaki ibuku
sedangkan pamanku mengisi malamnya dengan shalat.Tapi malamnya itu
tidak sesenang malamku (bersama ibuku-pent)."[5]
Adz-dzahaby
menceritakan tentang Ibnu 'Aun,"Suatu saat ibunya memanggil, dan dia pun
menyahut panggilan itu. Akan tetapi, suaranya lebih keras dari suara
ibunya maka dia pun memerdekakan dua orang budaknya."[6]
Penulis
terkesan setelah mendengar cerita dari seorang teman (guru TPA), dia
mengisi kajian anak-anak TPA di suatu desa tentang wajibnya berbakti
pada orangtua. Setelah kajian anak-anak TPA itu kembali ke rumahnya
masing-masing dan dengan segera menjabat tangan orangtuanya dan meminta
maaf pada keduanya. Mereka itu adalah anak-anak yang notabene belum
dibebani hekum syar'i (gairu mukallaf), bagaimana dengan kita?
Demikian
jangan sampai air susu dibalas dengan air tuba. Na'udzu billahi
mindzalik.
رب اغففرلي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا
[1]
Musnad Asy-Syihab :119, disanadnya ada Manshur bin Al-Muhajir dan Abu
An-Nadhar al-Abar keduanya majhul. Lihat Biirrulwallidain li
Ath-Tharthusyi, muhaqqiq Muhammad bin Al-Hakam Al-Qadhi hal. 70
[2]
Birrulwalidain li Ibnu Aljauzi hal. 78
[3] Jami'uladab li Ibnu
Al-Qayyim Al-Jauziyyah jilid IV hal. 179
[4] Makarimulakhlak hal.
41
[5] Al-adab asy-syar'I li Ibnu Muflih Al-Maqdisy jilid II
hal. 83
[6] Siyar A'lam An-Nubala' jilid VI hal. 366 dan Aina
nahnu min akhlaqissalaf hal. 107
http://kajiansaid.
============
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]
[Non-text portions of this message have been removed]
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar