Untuk Siapa Kita Berjuang?
Oleh: Iman Santoso, Lc
________________________________
Dari Abdullah Bin Zaid, bahwa Rasulullah saw., saat menaklukkan
Hunain, membagi-bagikan ganimah (harta pampasan perang). Beliau
memberi orang-orang yang hatinya sedang dijinakkan (muallafatu
qulubuhum). Lalu sampai (berita) kepada beliau bahwa orang-orang
Anshar pun ingin memperoleh apa yang diperoleh orang lain. Maka
bangkitlah Rasulullah saw. berkhutbah seraya memuji dan menyanjung
Allah lalu mengatakan, "Wahai segenap orang Anshar, bukankah dahulu
aku menemukan kalian dalam keadaan tersesat lalu Allah memberi
petunjuk kepada kalian dengan perantaraanku; kalian papa lalu Allah
memberi kalian kecukupan dengan perantaraanku; kalian terpecah-belah
lalu Allah mempersatukan kalian dengan perantaraanku?" Mereka
menjawab, "Allah dan Rasul-Nyalah yang paling banyak jasanya." (Shahih
Muslim juz II: 738)
Kemenangan yang diraih dalam perjuangan dapat menggoda sebagian orang
untuk mengklaim –baik secara eksplisit maupun implisit– bahwa
dirinyalah yang paling berjasa untuk kemenangan itu. Atau, kalaupun
bukan merasa yang paling berjasa, paling tidak mengklaim bahwa dirinya
berada dalam jajaran orang-orang berjasa. Dan karenanya, jama'ah
dakwah diuntungkan dan berhutang jasa terhadap dirinya. Dalam
perasaannya, wajar –bahkan ada yang menganggap harus– bila jam'ah
dakwah memberikan kompensasi-kompensasi atas perjuangannya itu.
Tampaknya perasaan semacam itu manusiawi. Buktinya hal itu pernah pula
terjadi pada masyarakat Islam terbaik yakni generasi sahabat
Rasulullah saw. Hadits yang tertulis di atas adalah bagian dari
nasihat yang disampaikan Rasulullah saw. kepada kaum Anshar. Secara
lebih lengkap, Ibnu Hisyam dalam kitab sirahnya mencatat sebagai
berikut:
Berawal dari cara Rasulullah saw. membagi-bagikan ganimah (harta
rampasan perang) Hunain. Beliau membagi justru kepada orang-orang yang
baru masuk Islam pada saat penaklukan Makkah (Fathu Makkah), yang
notabene belum banyak perngorbanannya. Bahkan pada perang Hunain itu
justru merekalah yang pertama lari tunggang-langgang saat mendapat
gempuran awal dari musuh. Sedangkan orang-orang yang sudah sejak awal
turut berjuang dan malang-melintang dalam kancah jihad, kaum Anshar,
tidak mendapatkan sedikit pun dari ganimah itu. Sampai-sampai
seseorang dari kalangan Anshar berkata kepada sesama mereka, "Sekarang
Rasulullah saw. sudah bertemu dengan kaumnya."
Desas-desus itu akhirnya sampai kepada Rasulullah saw. Beliau kemudian
meminta pimpinan mereka, Sa'ad Bin Ubadah untuk mengumpulkan seluruh
kaum Anshar itu di satu tempat. Setelah berkumpul, Rasulullah saw.
datang untuk menasihati mereka. "Apa desas-desus yang berkembang di
tengah-tengah kalian? Apa perasaan-perasaan yang ada di hati kalian
terhadapku?" kata Rasulullah membuka khutbah, setelah bertahmid dan
menyanjung Allah swt. "Bukankah aku datang kepada kalian dalam keadaan
kalian tersesat lalu Allah memberi kalian petunjuk? Kalian miskin lalu
Allah memberi kalian kecukupan? Kalian bermusuhan lalu Allah memadukan
hati kalian?" Mereka mengatakan, "Benar, Allah dan Rasul-Nyalah yang
paling berjasa dan paling utama." Rasulullah saw. melanjutkan, "Wahai
kaum Anshar, mengapa kalian tidak menjawabku?" Mereka menjawab, "Ya
Rasulullah, dengan apa kami menjawab engkau? Allah dan Rasul-Nyalah
yang paling berjasa dan paling utama." Rasulullah saw. mengatakan,
"Demi Allah, kalau kalian mau pasti kalian mengatakan –dan kalian
pasti berkata jujur dan dapat dipercaya: 'Engkau datang kepada kami,
wahai Rasulullah, dalam keadaan didustakan lalu kami mempercayai
engkau. Engkau datang dalam keadaan dihinakan lalu kami membela
engkau. Engkau datang kepada kami dalam keadaan terusir lalu kami
melindungi engkau. Engkau datang kepada kami dalam keadaan sengsara
lalu kami membantu engkau'. Wahai kaum Anshar, apakah hati kalian
lebih mencintai kemilau dunia yang dengannya aku menjinakkan hati
sebagian orang agar teguh dalam Islam padahal aku mengandalkan kalian
pada keislaman kalian?" Dan pada akhirnya kaum Anshar menyadari
kekeliruan mereka dalam memposisikan diri mereka dan memandang
Rasulullah saw. Mereka menangis sejadi-jadinya hingga janggut-janggut
mereka basah dengan air mata seraya mengatakan, "Kami puas dengan
Rasulullah saw. sebagai bagian kami."
Rasulullah saw. mengingatkan kepada kita bahwa manakala kita mendapat
hidayah Allah swt. untuk masuk dalam barisan Islam, menjadi prajurit
Allah, lalu melakukan perjuangan dan pengorbanan untuk Islam, maka
sesungguhnya itu bukanlah jasa kita untuk perjuangan Islam. Melainkan
justru jasa dan karunia Allah kepada kita sekalian. Tanpa hidayah
Allah itu kita hanya akan menjadi manusia dengan kualitas benda mati
semacam kayu (khusyubum-musannadah), bahkan bagaikan binatang ternak
(kal-an'am). Dan tanpa terlibat dalam perjuangan, kita hanya akan
menjadi orang-orang yang tidak punya apa pun untuk menjawab pertanyaan
Allah swt. saat kita menghadap-Nya: apa yang telah kau lakukan di
dunia?
Sungguh, perjuangan kita untuk menegakkan Islam di muka bumi ini sama
sekali bukan jasa untuk Allah swt. Karena Dia, tanpa bantuan manusia,
mampu menegakkan Islam dengan tangan-Nya sendiri. Dan Allah tidak
mendapat keuntungan sedikit pun dari ketaatan manusia. Sebaliknya Dia
juga tidak rugi sedikit pun bila seluruh manusia ingkar pada-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan) sekalian alam. Dan
firman-Nya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun
dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan.
Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan
lagi Sangat Kokoh." (Adz-Dzariyaat: 56-58)
Bukan pula perjuangan kita untuk membela dan menguntungkan Rasulullah
saw. Karena, pertama kita sudah jauh dari masa hidup Rasulullah saw.
Dan kedua, para sahabat yang nyata-nyata terlibat dalam perjuangan dan
pengorbanan bersama Rasulullah saw. saja pun hakikatnya bukan membela
Rasulullah saw. Karena tanpa bantuan kaum Muslimin pun Rasulullah saw.
sudah nyata-nyata dibela oleh Allah swt. Kepada para sahabat yang
habis-habisan membela dan berjuang untuk Islam bersama Rasulullah saw.
itu Allah swt. berfirman: "Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad),
maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang
kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia
salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di
waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah berduka cita,
sesungguhya Allah bersama kita". Maka Allah menurunkan ketenangan
kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak
melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang
rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana." (At-Taubah: 40)
Lalu, apakah perjuangan dan pengorbanan kita menguntungkan Islam?
Islam tanpa kita, akan ada orang lain yang memperjuangkannya. Allah
swt. menegaskan hal itu dengan ayat-Nya: "Hai orang-orang yang
beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka
kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka
dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap
orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir,
yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang
yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa
yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha
Mengetahui." (Al-Maidah: 54)
Rasulullah saw. pun bersabda, "Akan senantiasa ada sekelompok dari
umatku yang menegakkan kebenaran tanpa terganggu oleh orang yang
menghinakan dan menentang mereka, hingga datang kemenangan dari Allah
dan mereka tetap dalam keadaan demikian." (Muslim)
Jadi harus kita sadari, sesungguhnya segala yang kita lakukan dalam
perjuangan dengan segala macam bentuk pengorbanan adalah jasa kita
untuk diri kita sendiri. Untuk diri kita saat menghadap Allah swt.
Sebab, setiap kita hanya akan memperoleh apa yang kita lakukan di
dunia. "Dan seseorang tidak akan memperoleh selain dari apa yang telah
dia usahakan." Iman, hijrah, jihad dengan harta dan jiwa, itulah yang
akan menghantarkan kita menjadi orang yang sukses sejati, sebagaimana
yang Allah jelaskan: "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta
berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah
lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang
mendapatkan kemenangan." (At-Taubah: 20). Allahu a'lam.
http://www.dakwatuna.com/2007/untuk-siapa-kita-berjuang/
------------------------------------
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar