Berkaca pada Para Nabi; Malu!
Penulis : Bayu Gawtama
KotaSantri.com : Memang saya tak setampan Nabi Yusuf alaihi salam, yang pesonanya membuat
Zulaikha tergila-gila kepadanya dan belasan wanita cantik lainnya rela mengiris
tangannya tanpa sadar lantaran tersihir keelokan wajah putra Ya'kub itu.
Ketampanan Yusuf bukan semata fisik, melainkan cahaya di hatinya yang
memancarkan kemuliaan. Bandingkan dengan diri ini, tak seujung kelingking pun
ketampanan saya bisa menyaingi Nabi mulia itu..
Saya pun tak sesabar Nabi Ibrahim alaihi salam, berdakwah hingga usianya lebih
seabad namun hanya sedikit pengikutnya. Yang bersabar hingga hari tuanya untuk
bisa menimang putra tercinta Ismail. Coba lihat diri ini, sering tergesa-gesa
tak sabaran
Sosok ini pun tak setaat Ismail putra Ibrahim, yang ikhlas
menjalankan perintah Allah meskipun harus disembelih oleh ayahnya sendiri.
Bahkan Ismail tak bergeming saat setan menggodanya. Hmm, mudah sekali rasanya
setan-setan menggoda diri ini. Mungkin karena saya belum benar-benar taat
kepada-Nya.
Diri ini jelas-jelas tak setabah Nabi Ayub alaihi salam
dalam menjalani cobaan dari Allah. Ayub yang bertahun-tahun diuji Allah dengan
penyakit, tak sedikit pun mengeluh. Justru sebaliknya, ia merasa ujian itu
adalah cara Allah mendekatinya. Sedangkan saya, baru kena flu saja sudah
uring-uringan, bagaimana diberi penyakit yang lebih parah? Bisa-bisa jadi alasan
untuk malas beribadah.
Saya juga tak sehebat Nabi Daud alaihi salam,
yang meski bertubuh kecil sangat pemberani melawan Raja Jalut. Begitupun Nabi
Musa alaihi salam yang tak gentar berhadapan dengan penguasa paling lalim
sepanjang masa, Firaun. Ia berani mengungkapkan kebenaran dengan nyawa
taruhannya. Duh, jika saya berada pada posisi seperti itu, sanggupkah? Bahkan
menegur sahabat yang berbuat salah pun terasa berat lidah ini mencobanya.
Ironisnya, saya sering bersembunyi, pura-pura buta setiap kali kemungkaran
berlaku di depan mata ini.
Hati ini tak setegar Nabi Nuh alaihi salam
yang tetap tersenyum mendapati ejekan dari kaumnya, termasuk isteri dan anaknya
sendiri. Bahkan ketika air bah dating, Nuh tetap mengajak kaum yang sebelumnya
tak henti mengejeknya sebagai orang gila. Andaikan saya yang diejek, emosi lah
yang didahulukan. Kalau perlu saya menantang siapapun penghina itu untuk
berkelahi, saling menumpahkan darah. Saya mudah marah, gampang tersulut
emosinya, mudah terprovokasi, ah jauhlah dari sifat Nabi Nuh.
Akal
pikiran ini tak secerdas Nabi Harun alaihi salam, yang karena kecerdasannya ia
diperintah Allah menemani Musa menghadapi Firaun sekaligus menghadapi para
pengikutnya. Kejernihan pikirannya, menjadikan ia teramat mudah mendapat hikmah
dari Allah. Saya benar-benar iri kepada Nabi Harun yang tak pernah berhenti
belajar. Berbeda dengan saya yang terkadang sudah merasa cukup pintar, sering
berpikir bahwa diri ini sarat ilmu pengetahuan.
Saya benar-benar tak
sebijak Nabi Sulaiman alaihi salam, dalam segala hal. Ia yang mampu mendengar
suara semut yang ketakutan akan derap pasukan Sulaiman, bahkan sangat kasih
terhadap makhluk yang sangat kecil itu. Karena kebijaksanaannya itulah, ia
dicintai oleh segenap makhluk di bumi, dari bangsa manusia hingga jin, dari
hewan di darat, udara sampai di dalam lautan. Sulit rasanya saya sekadar mencoba
berlaku bijaksana dan adil. Saya masih egois, melihat untung rugi dalam berbuat,
mengedepankan siapa yang dekat dengan saya dan siapa yang saya suka, bukan siapa
yang benar dan berbuat kebaikan.
Nabi Isa alaihi salam mengajarkan
tentang kelembutan hati. Tentang berbagi, membantu sesama, menolong orang tanpa
pamrih, meringankan beban kaum dhuafa, menyediakan tangannya untuk orang-orang
yang kesusahan, dan mengobati yang sakit. Hatinya selalu menangis melihat
orang-orang yang menderita, dirinya selalu berada di sekeliling kaum dhuafa.
Sedangkan saya, berkali-kali menyaksikan fenomena kemiskinan, kesusahan,
penderitaan di berbagai tempat, tetap saja hati ini sekeras batu,.Tak gampang
menangis jika bukan diri ini sendiri yang mengalami kesusahan.
Bagaimana
dengan Rasulullah Muhammad Sallallaahu alaihi wassallaam? Sungguh, beliaulah
teladan seluruh manusia. Tentang cinta, kasih sayang kepada sesama, urusan rumah
tangga, kelembutan sikap, kemuliaan akhlak, tutur kata, persahabatan,
persaudaraan, kepemimpinan, berwirausaha, seluruhnya sempurna. Tak cukup jutaan
lembar kertas untuk menuliskan keindahan pribadinya, diperlukan samudera tinta
guna melukiskan kemuliaan akhlaknya.
Tetapi saya? Tak berani menyebut
satu saja keunggulan pribadi diri ini. Sebab, satu terbilang, maka seratus
keburukan segera terucap. Andaikan saya setampan Yusuf, mungkin saya akan
sombong dan tak bersyukur. Misalkan saya sepemberani Daud, belum tentu digunakan
untuk membela kebenaran. Adapun saya pernah membantu seseorang, pamrih, ujub,
riya pun mengiringi perbuatan itu.
Jangankan untuk meniru sifat para
Nabi dan Rasul, mendekatinya pun tak mungkin. Jangankan menyamai pribadi mereka,
mengikuti jejak para sahabatnya pun tak sanggup. Berkaca pada manusia-manusia
pilihan-Mu ya Rabb, saya malu, teramat malu.
Jika demikian adanya, di
pintu mana saya boleh mengetuk surga-Mu?
Beranda @ KotaSantri.com
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi Anti-Virus dan Anti-Adware gratis.
Download Yahoo! Toolbar sekarang.
http://id.toolbar.
[Non-text portions of this message have been removed]
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar