Sentuhan-sentuhan Tarbiyah: Hakikat Dakwah Islam
Al-Ikhwan.net | 15 Juli 2008 | 12 Rajab 1429 H | 1.788 views
Penterjemah:
Abu Ahmad
________
Bahwa diantara hakikat dakwah Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah
saw dan para sahabatnya adalah dalam rangka mewujudkan kesejahtaraan
umat baik di dunia dan di akhirat, dengan bermanhajkan Islam,
berpedoman pada Al-Qur'an dan sunnah. Dan tentunya, selain mewujudkan
itu, bahwa hakikat dakwah juga ingin memberikan kontribusi perbaikan;
terutama pada tiga pokok penting, yaitu:
1. Menyeru kepada manusia seluruhnya dan umat Islam secara khusus
untuk berserah diri (beribadah) secara total kepada Allah SWT Yang
Maha Esa dan tidak mempersekutukan-Nya dengan tidak menjadikan selain
Allah sebagai sesembahan.
2. Menyeru kepada mereka yang telah beriman kepada Allah untuk selalu
ikhlas dalam berbuat, dan selalu membersihkan diri dari segala kotoran
dzahir dan bathin serta dari perbuatan yang bertentangan dengan ajaran
Islam.
3. Menyeru kepada manusia untuk melakukan revolusi menyeluruh terhadap
sistem dan rezim pemerintahan konvensional yang bathil yang selalu
melakukan kedzaliman dan kerusakan di muka bumi ini, melepas diri
mereka dari belenggu monotheisme ideologi dan praktek-praktek yang
menjurus pada perbuatan dosa dan keji, untuk selanjutnya diserahkan
kapada hamba Allah yang salih dan yang beriman kepada Allah dengan
ikhlas dan kepada hari akhir, serta berpegang teguh kepada agama yang
benar dan tidak berbuat sombong dan dzalim.
Tiga hakikat diatasn merupakan prinsip yang sangat gamblang dan terang
seterang sinar mentari di siang bolong. Namun ironisnya cahaya ini
lambat laun meredup, hakikat kebenarannya telah terhijab seiring
dengan menjamurnya kebodohan, kejumudan dan keterbelakangan, hingga
akhirnya umat Islam membutuhkan kembali akan pencerahan dan sentuhan
Islam nan agung, baik dari segi visi dan misinya, yang tentunya akan
memperlambat jalannya da'wah untuk kalangan non muslim dan kepada
mereka yang belum tersentuh akan cahaya dan hidayah Islam.
Sesungguhnya penghambaan diri kepada Yang Maha Esa yang selalu
diserukan oleh Islam, bukan sekedar mengajak mereka untuk beribadah
dan menghambakan diri kepada Allah SWT, namun di luar itu, mereka juga
diseru untuk merasa bebas dan lepas dari ikatan selain Islam seperti
yang pernah dilakukan oleh umat jahiliyah dahulu. Dan tidak menyeru
mereka untuk hanya mengakui bahwa Allah SWT Pencipta alam semesta ini,
Pemberi rizki kepada seluruh makhluk-Nya, sehingga Dia patut disembah
tanpa mengakui-Nya dan menjadikan-Nya sebagai Penguasa kehidupan dari
segala permasalahan yang ada di muka bumi ini. Kita ketahui bahwa
kehidupan dunia dan problematikanya terbagi pada dua bagian penting :
1. Kehidupan yang berhubungan dengan agama.
2. Kehidupan yang bukan saja terbatas pada hubungan agama namun juga
meliputi kehidupan dunia dan segala permasalahannya.
Dan seorang muslim pada bagian pertama dituntut untuk mengabdikan
dirinya kepada Allah semata yang melingkupi segi aqidah, ibadah dan
segala sesuatu yang memiliki hubungan dengan kehidupan individu dan
problematikanya.
Adapun pada bagian kedua mencakup pada kehidupan duniawi dan
cabang-cabangnya seperti pembangunan, kehidupan politik, sosial,
akhlak, dan lain-lain yang pada kebanyakan orang menganggapnya tidak
memiliki hubungan dengan Allah dan hukum-hukum-Nya, sehingga mereka
bisa berbuat semaunya dan sekehendaknya, tanpa mengindahkan hukum dan
syariat Allah, membuat undang-undang atau hukum yang bertentangan
dengan syariat Allah. Persepsi ini merupakan kesalahan yang sangat
fatal. Namun bagi para aktivis da'wah di negeri ini –dan tentunya yang
berada diseluruh penjuru dunia, karena memang agama Islam adalah satu,
tidak ada perbedaan sedikitpun, Kitabnya satu yaitu Al-Quran, yang
tidak ada kebatilan sedikitpun, baik di hadapan dan di belakangnya-
menganggap bahwa persepsi mereka adalah salah dan menyimpang dari
ajaran Islam, dan harus diberantas sampai ke akar-akarnya, karena
pengertian ubudiyah secara parsial akan mengaburkan keabsahan dan
kemurnian ajaran Islam dan menghilangkan ideologi Islam yang benar.
Adapun pendapat dan keyakinan kami adalah seperti yang akan selalu
kami serukan kepada seluruh umat manusia dimuka bumi ini; bahwa
ubudiyah kepada Allah yang telah dibawa dan diserukan oleh nabi Adam
AS hingga Rasulullah SAW adalah peng-ikraran diri bahwa tidak ada
tuhan selain Allah SWT, tempat bergantung semua makhluk, pembuat
keputusan/undang-undang (hakim), Dzat yang wajib ditaati, Pemilik dan
Pengatur segala urusan makhluk-Nya, Maha mengetahui segala perkara
mereka, baik yang tersembunyi maupun yang tampak, Yang berhak
memberikan ganjaran setiap amal dan perbuatan hamba, sehingga para
makhluk-Nya patut tunduk dan meyerahkan diri kepada-Nya, ikhlas dalam
menganut ajaran-Nya, tunduk terhadap kebesaran-Nya, segala urusan dan
perkaranya diserahkan kepada-Nya, baik individu ataupun sosial, yang
berkaitan dengan akhlak, politik, ekonomi, maupun sosial. Sebagaimana
yang tertera dalam perintah Allah SWT :
"Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian kedalam agama Islam
secara totalitas". (QS 2 : 208)
yaitu perintah untuk memeluk agama Islam secara kaffah (totalitas),
dengan seluruh kehidupan, tidak melakukan bantahan sedikitpun, dan
tidak menduakan Kekuasaan dan Kerajaan Allah pada makhluk lainnya.
Tidak menganggap bahwa ada sisi kehidupan yang terlepas dari pantauan
Allah sehingga bisa bebas berbuat dan membuat undang-undang
sekendaknya, atau memilih dan mengekor pada sistem dan undang-undang
atau hukum konvensional yang bathil sekehandaknya.
Inilah maksud dari pengertian ubudiyah (penghambaan diri) kepada Allah
yang hendak kami sosialisasikan dan kami syiarkan dan da'wahkan kepada
seluruh umat manusia, kaum muslimin dan umat lainnya, sehingga mereka
mau beriman dan mengakui akan kekuasaan Allah dan tunduk kepada-Nya.
"Kami menginginkan kepada mereka yang mengaku dirinya beriman kepada
islam dan berpegang teguh kepada iman, untuk selalu mentazkiyah
(mensucikan) dirinya dari sifat kemunafikan dan perbuatan yang
bertentangan dengan ajaran Islam".
Maksud nifaq disini adalah mengaku dirinya beriman kepada sistem
tertentu dan loyal kepadanya, berpegang teguh kepada
prinsip-prinsipnya, namun pada sisi lain dia merasa tenang dan rela
denga sistem yang bertentangan dengan yang semula diyakini. Dan tidak
berusaha atau bersungguh-sungguh untuk merubah sistem tersebut kepada
yang lebih baik, dengan mengerahkan tenaga dan potensi yang dimiliki
guna menghancurkan segala sistem kebatilan hingga keakar-akarnya, atau
adanya kebatilan yang ada dtengah-tengah masyarakatnya namun dia
merasa hidup tenang dan tentram tanpa ada usaha sedikitpun
memperbaikinya.
Sikap diatas merupakan contoh orang munafik, karena pada satu sisi
beriman kepada suatu sistem, namun pada sisi lain merasa tenang
terhadap kemungkaran dan kebatilan yang terjadi. Padahal diantara
tuntutan keimanan adalah memiliki keinginan yang kuat dalam
sanubarinya untuk menegakkan kalimatullah (agama Allah) dan menjadikan
agama dan segala urusannya hanya untuk Allah SWT, memberantas segala
kekuasaan yang bertentangan dengan Islam, dan siap mengemban amanah
da'wah Islam untuk disebarkan kepada segenap manusia, hatinya tidak
merasa tenang dan tentram jika agamanya dilecehkan orang.
Begitupaun hendaknya, jika keimanan telah terpatri dalam hati;
memiliki kecemasan dan kekhawatiran serta tidak merasa tenang sebelum
keadilan kembali tegak dan kokoh dibawah panji-panji Islam, atau
sebelum ajaran Islam diterapkan oleh seluruh umat manusia. Namun jika
merasa ridla atau puas dengan keadaan hidupnya di bawah sistem dan
undang-undang konvensional yang bathil, dan tidak berusaha menerapkan
ajaran Islam kecuali pada permasalahan yang terbatas seperti
pernikahan, thalak dan warisan saja, -jika keadaannya demikian-
sungguh hal ini merupakan kemunafikan yang nyata, keislamannya hanya
sebatas KTP saja, yang tercatat dicatatan sipil, namun diluar itu, ia
enggan menerapkan Islam dan tidak mau tunduk pada syari'at-Nya,
kecuali hanya berpura-pura, hanya karena ingin mengharap kesenangan
hidup di dunia yang fana.
Harapan kami adalah agar mereka yang beriman kepada Allah dan
berpegang teguh kepada keimanannya untuk selalu membersihkan diri
mereka dari sifat kemunafikan dan prilaku yang bertentangan dengan
ajaran Islam. Sesungguhnya diantara hak keimanan adalah –setidaknya-
memiliki cita-cita yang tertanam dalam lubuk hati untuk menjadikan
sistem kehidupan, ekonomi dan sosial dan politik seperti yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah SAW tegak kembali, mulia dan tinggi, dan
diaplikasikan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa ada seorangpun
yang menentangnya, atau menjadi penghalang akan perjalanannya.
Bagaimana mungkin seseorang bisa hidup dan rela di tengah kehidupan
yang memiliki sistem yang bathil ? bagi mereka yang berani menegakkan
bendera kebatilan sungguh merupakan kesesatan yang sangat nyata, dan
penyimpangan yang melampaui batas serta pembangkangan yang amat besar.
Semoga Allah SWT melindungi kita dari keburukan seperti hal diatas.
Adapun maksud dari kontradiksi yang dituntut untuk dihindari –tanpa
ada perbedaan antara umat islam yang kental agamanya dengan orang yang
baru tersentuh ajaran Islam- adalah adanya pertentangan antara
perkataan dan perbuatan. Sebagaimana yang dimaksud disini adalah
bertentangannya aktivitas sehari-hari dengan kegiatan yang lain.
Karena Islam tidak mengajarkan kepada umatnya untuk mentaati perintah
dan berpegang teguh pada ajaran-ajarannya secara parsial, sehingga
pada sisi lain boleh melakukan apa saja yang bertentangan dengan
ajaran Islam, atau berbuat maksiat dan melanggar konstitusi Allah.
Sebagaimana tuntutan lainnya adalah menyerahkan seluruh jiwa raganya
dan kehidupannya untuk Allah SWT, tidak pernah melakukan pelanggaran
terhadap segala yang telah diperintahkan, dan tidak mengambil
undang-undang apapun kecuali undang-undang Allah SWT yang universal,
dan mencelupkan dirinya dengan celupan Allah, tidak terkontaminasi
dengan kehidupan dunia yang fana. Selalu memohon ampun kepada Allah
dan bertaubat kepada-Nya saat dirinya tercebur ke dalam perbuatan
salah dan maksiat, atau terjerumus ke dalam jurang yang menyesatkan.
Orang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah SWT, mendirikan
shalat, berpuasa dan menunaikan ajaran-ajaran Islam lainnya, namun
pada sisi lain merasa merdeka dan tidak memiliki ikatan terhadap hukum
dan syari'at Allah SWT, maka yang demikian disebut dengan pertentangan
yang dapat menafikan nilai-nilai ubudiyah. Mengaku beriman kepada
Allah dan loyal kepada ajaran-ajaran-Nya, tapi saat bergelut dalam
kehidupan duniawi, dan berkecimpung dalam kehidupan berpolitik,
ekonomi dan sosial, tidak ada sama sekali ajaran Islam yang menjadi
pegangan hidup dan memberikan pengaruh pada dirinya apalagi
menampakkan dirinya sebagai penganut Islam sejati.
Cela dan kehinaan mana yang lebih besar dari yang demikian ? mereka
berikrar setiap pagi dan sore : "Bahwa kami tidak menyembah kecuali
kepada Allah dan memohon pertolongan kecuali kepada-Nya". Namun
setelah itu sama sekali tidak ada atsar (pengaruh) akan ikrarnya, baik
dalam dirinya dan kehidupannya sehari-hari. Padahal segala teori
ataupun ideologinya haruslah tunduk pada ketentuan yang Maha Perkasa
dan Maha Sombong di muka bumi ini, seluruhnya tanpa terkecuali harus
berserah diri kepada-Nya dan tunduk pada keperkasaan-Nya.
Itulah maksud dari kontradiksi dan tanda-tandanya, dan inilah dasar
dari penyakit yang banyak menimpa kaum muslimin baik secara moral dan
sosial. Selama penyakit moral ini masih melekat dalam diri umat Islam,
maka sangat sulit diharapkan untuk dapat menghindar dari kehinaan,
kemerosotan dan kejumudan, dan penyakit ini akan terus menjalar dan
menular kepada generasi selanjutnya, hingga akhirnya mengarah pada
titik kejatuhan dan kehancuran.
Dan yang lebih ironi lagi adalah para ulama dan masyaikh yang tidak
menyadari akan krisis tersebut, mereka hanya mengajarkan bahwa dalam
hidup beragama hanyalah terbatas pada kalimat syahadat, mendirikan
shalat, berpuasa dan menunaikan ibadah ritual lainnya. Mereka
berkeyakinan setelah memenuhi ajaran tersebut dirinya akan terjamin
dari azab dan siksa neraka, bahkan akan mendekatkan dirinya pada pintu
surga dan tidak jauh darinya, walaupun pada sisi lain dia melakukan
kemungkaran dan kemaksiatan, atau mengikuti pemimpin yang mereka sukai
walaupun mereka kafir dan sesat, atau memilih ideologi dan
pandangan-pandangan palsu yang sesuai dengan hawa nafsu mereka.
Sungguh sangat berani melecehkan agama Islam dengan hanya memandang
bahwa agama hanya terbatas pada kehidupan ritual belaka, menganggap
bahwa dengan menggunakan nama Islam akan diakui oleh catatan sipil
sebagai orang Islam sudah cukup, seakan mereka seperti orang yang
dimaksudkan Allah SWT dalam firman-Nya
Mereka berkata : "kami sama sekali tidak akan disentuh api neraka
kecuali hanya beberapa hari saja". (QS. 2 : 80)
Diantara hasil dari menyebarnya penyakit menular ini dapat dilihat
dalam ruh dan tubuh kaum muslimin; ada diantara mereka yang menganut
ajaran komunis, nazi, borjouis, demokratis dan ajaran-ajaran
konvensional bathil lainnya yang diimpor dari Timur dan Barat. Banyak
diantara mereka –baik dari kalangan pejabat, pemimpin dan masyarakat-
yang tidak sadar ataupun sadar sedang menapaki jalan kesesatan dan
kekufuran, bahkan ada diantara mereka yang bangga dan dengan angkuh
dan sombong berdiri dijalan kesesatan tersebut tanpa ada alasan yang
benar.
Hal tersebut merupakan fenomena yang harus diberantas dalam rangka
mewujudkan dan mengaplikasikan nilai ubudiyah (pengabdian) kepada
Allah secara kaffah (menyeluruh), tulus dalam menjalankan
ajaran-ajaran Islam karena Allah SWT, bersegera membersihkan diri dari
segala kemunafikan dan ajaran-ajaran yang bertentangan dan
berseberangan dengan ajaran Islam, dan tentunya –tidak bisa dipungkiri
memang- tidak akan terwujud kecuali dengan melakukan revolusi secara
menyeluruh terhadap sistem dan menajemen hidup yang dikelilingi oleh
kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, sistem dikuasai oleh mereka yang
selalu berbuat penyimpangan terhadap ajaran dan syariat Allah SWT dan
sunnah Rasulullah SAW, lalai dalam beribadah dan berprilaku congkak.
Selama krisis ini masih menyelimuti dunia, dan pemerintahan masih
dipegang oleh mereka, selama bidang keilmuan dan science, etika
(adab), pengetahuan, undang-undang pemerintahan dan sistem kenegaraan,
industri, perdagangan dan kekayaan, masih berada di bawah pengaruh dan
tangan mereka, maka sulit bagi seorang muslim untuk hidup dengan
tenang dalam rangka menjalankan prinsip yang mereka yakini sesuai
dengan manhaj rabbani, bahkan sulit bagi mereka untuk
mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata mereka kecuali akan menemui
berbagai benturan dan rintangan.
Mustahil bagi seorang muslim menyebarkan agama Islam yang komprehensip
dengan segala ketentuan dan cabang-cabangnya, sedang ia masih hidup di
tengah negara yang menggunakan undang-undang selain undang-undang
Allah, dan berjalan bukan pada manhaj yang di ridlai Allah SWT. Bahkan
sangat sulit baginya untuk mentarbiyah keluarganya dengan
ajaran-ajaran dan prinsip-prinsip agama Allah (Islam), membina dengan
Akhlak dan etika islam yang murni. Karena rezim kekafiran tidak akan
pernah rela terhadapnya dan akan terus berusaha menghalangi langkah
mereka dalam menjalankan dan mengaplikasikan apalagi menyebarkan
ajaran Islam, bahkan dengan cara membunuhpun akan mereka lakukan,
kecuali mereka mau tunduk dan patuh kepada aturan yang mereka buat,
berprilaku seperti mereka, sehingga secara berangsur-angsur –jika
menuruti kemauan mereka- akan lepas atribut Islam yang mereka sandang,
akhlak mereka hancur sementara mereka tidak sadar.
Realisasinya adalah bahwa seorang muslim yang mukhlis harus
membersihkan dirinya dari benih-benih kemungkaran dan kedzaliman
dengan cara mengaplikasikan hukum dan undang-undang dan syariat Islam
secara adil, lurus dan benar.
Sekali lagi saya katakan, bahwa semua ini tidak akan terealisir dan
hanya akan menjadi impian belaka selama dunia ini masih berada di
bawah kendali para penguasa dzalim dan suka berbuat makar, berbuat
kerusakan di muka bumi, dan menjalankan pemerintahan sekehendak dan
hawa nafsu mereka. Fakta yang telah kita alami memang demikian, bahwa
saat para pengusasa dzalim menguasai pemerintahan, maka orang nomor
satu akan yang menjadi penghalang perkembangan ajaran Islam adalah
mereka, merekalah yang akan selalu menghalangi terwujudnya perdamaian
dan keadilan.
Kita sadari memang sulit menggapai cita-cita dalam memperbaiki dunia,
mengembalikan segala urusan dunia ke jalan menuju cahaya ilahi, selama
para tughat dan pembuat makar menguasai dan memegang tampuk
pemerintahan, baik yang berskala kecil ataupun besar.
Karena itu diantara tuntutan, realisasi dan wujud pengabdian kita
terhadap Allah dan Islam adalah bersungguh-sungguh dan giat
mengerahkan segala potensi yang kita miliki secara berkala dan
berkesinambungan untuk menghancurkan pemerintahan yang kufur, sesat
dan dzalim hingga keakar-akarnya dan menggantinya dengan pemimpin yang
adil dan pemerintahan yang baik dan benar.
Kemungkinan sebagian kita ada yang bertanya-tanya : bagaimana caranya
merevolusi kekuasaaan dan pemerintahan tersebut ? dapat kami jawab,
bahwa pada dasarnya usaha ini tidaklah teralisir melalui angan-angan
dan mimpi saja, dan merupakan sunnatullah yang ada di muka bumi ini
bahwa ada diantara manusia yang selalu berbuat kemungkaran dan
kedzaliman, dan memegang pemerintahan dengan cara batil.
Usaha ini tentunya memerlukan strategi dan energi, perlu adanya
karakter yang tangguh dan akhlak yang mulia pada setiap orang yang
siap mengemban amanah ini, sehingga ia dapat menjalankan roda
pemerintahan secara adil dan bijaksana.
Dan merupakan sunnatullah juga bahwa Allah akan mengutus seseorang
yang dikehendaki yang memiliki sifat terpuji dan akhlak yang mulia
serta kemampuan yang memadai untuk mengemban amanah da'wah dan
memangku jabatan dalam pemerintahan. Namun jika ada sekelompok umat
yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, memiliki sifat
(karakteristik) dan akhlak yang mulia, namun tidak pandai
mengoperasikan urusan dunia. Dan pada sisi lain ada sekelompok manusia
yang tidak memiliki akhlak dan sifat terpuji, suka berbuat kedzaliman,
dan sombong, namun memiliki kapabilitas dalam memangku jabatan dan
mengopersikannya, maka tetap tidak menganggapnya sebagai sunnatullah
(hukum alam), karena pada akhirnya nanti mereka akan selalu
menyebarkan kefasikan dan kedzaliman dan kerusakan di muka bumi,
berbuat sesuai dengan hawa nafsu.
Adapun cara merevolusi yang kami maksudkan adalah dengan mempersiapkan
jamaah yang shaleh, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, berpegang
teguh kepada akhlak yang mulia, memiliki sifat dan karakteristik yang
terpuji sebagai syarat utama dalam mengoprasikan urusan dunia secara
adil, memiliki izzah dan wibawa saat berhadapan dengan pemimpin yang
kafir dan sesat beserta antek-anteknya yang telah berperan aktif dalam
menyebarkan krisis multidimensi di seluruh dunia, dan memiliki
kemampuan, keterampilan dan kompetensi yang lazim dalam memegang
tampuk kekuasaan.
_________________________________________________
Makalah ini adalah bagian dari ceramah ust. Abul A'la Al-Maududi yang
berjudul "Ad-Da'wah Al-Islamiyah Fikrotan wa Manhajan –da'wah Islam
secara fikrah dan manhaj-" pada acara pertemuan jama'ah Islamiyah yang
diadakan di desa "Darul Islam di India" pada bulan April, tahun 1945
M, yang dihadiri oleh sekuruh anggota jamaah Islamiyah di India saat
itu.
http://www.al-ikhwan.net/sentuhan-sentuhan-tarbiyah-hakikat-dakwah-islam-2008/
------------------------------------
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
mailto:daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar