http://www.dakwatun
Tazkiyatun Nafs
29/9/2008 | 28 Ramadhan 1429 H | Hits: 847
Silaturahim: Biarkan Hadiah Bicara
Oleh: Muhammad Nuh
dakwatuna.com - "Sambunglah orang yang memutus silaturahim denganmu.
Berilah hadiah kepada orang yang enggan memberimu. Dan jangan hiraukan
orang yang menzalimi kamu." (HR. Ahmad)
Jangan biarkan kebencian berkelanjutan
Selalu saja ada sisi positif dan negatif sebuah interaksi. Positif
ketika interaksi memunculkan rasa cinta dan sayang, kuatnya
persaudaraan, tolong menolong sesama mukmin. Dan negatif, saat
interaksi meletupkan bunga-bunga api kekecewaan. Kebencian pun tak
terelakkan.
Kebencian karena persoalan teknis semisal salah paham, emosi dadakan,
mestinya hanya bertahan beberapa hari. Karena prinsipnya setiap mukmin
punya satu ikatan: akidah Islam. Sehingga persoalan teknis di lapangan
bisa cair sendiri bersama waktu dan kesibukan. Setelah itu, muncul
lagi kerinduan.
Namun, begitulah setan. Emosi yang labil menjadi alat efektif pintu
setan untuk mengobrak-abrik persaudaraan. Sesama mukmin menjadi
marahan. Bahkan, pada dosis tertentu, marahan bisa diwariskan ke anak
cucu. Na'udzubillah. Rasulullah saw. bersabda, "Cinta bisa
berkelanjutan (diwariskan) dan benci pun demikian." (HR. Al-Bukhari)
Putus persaudaran bukan hanya dilakoni para pelaku. Tapi, bisa
diwariskan dari generasi ke generasi. Suatu hal yang mestinya tidak
mungkin terjadi dalam diri seorang mukmin.
Siram api dengan air, bukan dengan api
Jika marah diibaratkan sebagai api, maka airlah yang paling cocok agar
api segera padam. Tidak mungkin api akan padam dengan api. Dan air
adalah perumpamaan yang pas buat silaturahim.
Sekeras apa pun sebuah kebencian, boleh jadi rapuh dengan beberapa
celah kasih sayang dan sentuhan persaudaraan. Orang yang diumbar marah
dan benci sebenarnya sangat membutuhkan perhatian. Tidak jarang,
kebencian bisa luluh hanya dengan perhatian dan sapaan yang tulus.
Banyak kisah menarik di masa Rasulullah saw. tentang hal itu. Abu
Sufyan mungkin orang yang paling sadis permusuhannya dengan Rasul.
Siang malam, dia mengatur siasat bagaimana menghancurkan Rasulullah
dan umat Islam. Tapi, justru Abu Sufyanlah yang paling mendapat
kehormatan dari Rasul ketika Mekah diambang penaklukan. "Siapa yang
masuk ke masjidil haram mendapat keamanan. Dan siapa yang berkumpul di
rumah Abu Sufyan, juga mendapat keamanan." Begitulah kira-kira
pengumuman Rasul kala itu.
Bayangkan, seperti apa hati Abu Sufyan mendengar itu. Bingung, takjub,
dan akhirnya luluh seratus persen. Dia pun berbalik menjadi orang yang
siap membela perjuangan Rasulullah saw. di Mekah dan sekitarnya.
Sungguh sebuah cara meluluhkan kebencian yang paling efektif tanpa
menimbulkan kebencian baru.
Hadiah sebagai pelunak kekakuan
Ketika kles terjadi, yang mendominasi diri setelah itu adalah ego.
Diri merasa paling benar, paling mampu, dan sebagainya. Kekakuan pun
muncul begitu saja. Seolah, dalam dirinya cuma ada ego; tidak ada
nalar, empati, apalagi kasih sayang sesama saudara seiman.
Jika tidak ada inisiatif mencari jalan damai, kekakuan terus
berlanjut. Bahkan, bisa terwariskan ke anak cucu.
Sebenarnya, ada ruang-ruang dalam diri yang sejalan dengan waktu
membutuhkan perhatian, kasih sayang, kerinduan. Terlebih sesama
mukmin. Baik buruk sebuah hubungan persaudaraan bisa berbanding lurus
dengan tingkat keimanan. Semakin kuat cahaya iman bersinar, rasa kasih
sayang mulai mengganti ego dan benci. Lahirnya keharmonisan cuma
tinggal menunggu momentum. Dan hadiah merupakan alat efektif
menumbuhkan momentum itu.
Rasulullah saw. bersabda, "Hendaknya kamu saling memberi hadiah.
Sesungguhnya pemberian hadiah itu dapat melenyapkan kedengkian." (HR.
Attirmidzi dan Ahmad)
Selalu pada komunikasi
Bisa dibilang, sebagian besar sebab munculnya kebencian karena salah
menafsirkan sebuah ucapan. Atau, sebab molornya perseteruan karena
tertutupnya peluang berkomunikasi.
Yang pertama memperlihatkan ketidakmampuan seseorang mengungkapkan
maksud baik. Plus, tidaksanggupan pihak lain menahan diri membuat
kesimpulan negatif. Ketidakmampuan mengutarakan maksud dan sifat
reaktif di pihak lain menjadi perkara paling rawan munculnya kles.
Dengan begitu, saling membuka komunikasi adalah langkah paling tepat
memperbaiki ketidakharmonisan. Dan itu akan berjalan efektif jika dua
belah pihak siap saling mendengarkan. Sulit memunculkan keadaan saling
pengertian seperti itu jika tidak dikondisikan dengan situasi yang
penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Dan silaturahim adalah cara yang
paling pas.
Kasus Hathib bin Abi Balta'ah di masa Rasul bisa menjadi pelajaran.
Para sahabat termasuk Rasulullah saw. kaget ketika tahu siapa pembocor
rahasia penyerangan ke Mekah. Orang itu bernama Hathib. Kontan saja,
Umar bin Khattab minta izin ke Rasul agar bisa menghukum Hathib. Tapi
Rasul menolak. Beliau saw. meminta sahabat memanggil Hathib.
Penjelasan pun disampaikan Hathib. Sahabat yang masih punya keluarga
di Mekah ini pun mengungkapkan keterpaksaannya demi keselamatan
keluarga di sana. Itu saja. Tidak ada maksud membocorkan rahasia ke
tangan musuh. Akhirnya, Rasul memaafkan Hathib.
Harus ada prakarsa agar kebencian tidak berlanjut. Dan yang terbaik
adalah mereka yang lebih dulu mengawali kunjungan. Indahnya sebuah
nasihat Rasullah saw., "Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi
(memutuskan hubungan) dengan saudaranya melebihi tiga malam. Hendaklah
mereka bertemu untuk berdialog, mengemukakan isi hati. Dan yang
terbaik, yang pertama memberi salam (menyapa)." (HR. Al-Bukhari)
Naskah Terkait:
* Salam: Jika Kamu Melakukannya Kamu Saling Mencintai
* Humanisme Islam; Refleksi di Bulan Syawal
* Silaturahim (Bagian 2)
* Silaturahim (Bagian 3)
* Silaturahim (Bagian 1)
http://www.dakwatun
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar