Rabu, 15 Oktober 2008

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2302

Messages In This Digest (25 Messages)

1a.
Re: [Kelana] Bukittinggi Dalam Cinta From: Lia Octavia
1b.
Re: [Kelana] Bukittinggi Dalam Cinta From: Lia Octavia
1c.
Re: [Kelana] Bukittinggi Dalam Cinta From: Cahaya
2a.
Re: (Catcil) Pagi ini di Kota Seribu Daun From: inga_fety
2b.
Re: (Catcil) Pagi ini di Kota Seribu Daun From: inga_fety
2c.
Re: (Catcil) Pagi ini di Kota Seribu Daun From: inga_fety
2d.
Re: (Catcil) Pagi ini di Kota Seribu Daun From: inga_fety
3.
[Artikel] RUU Pornografi?? Teteeeeep!! From: ukhti hazimah
4.
[catcil] Tulisan ttg Bapak ("BUKAN DENGAN PENYESALAN") From: novi khansa'
5.
Bls: [sekolah-kehidupan] [catcil] Tulisan ttg Bapak ("BUKAN DENGAN P From: dyah zakiati
6.
Bls: [sekolah-kehidupan] Re: (Catcil) Pagi ini di Kota Seribu Daun From: dyah zakiati
7a.
Re: Selamat untuk Nopi From: ukhti hazimah
8a.
Re: Proyek "Laskar Pelangi" dan Buku Kumcer "IBUNDA" -> Pak Sinang From: fil_ardy
8b.
Re: Proyek "Laskar Pelangi" dan Buku Kumcer "IBUNDA" From: yudhi mulianto
9.
Bls: [sekolah-kehidupan] Selamat untuk Nopi From: dyah zakiati
10.
Bls: [sekolah-kehidupan] Re: Proyek "Laskar Pelangi" dan Buku Kumcer From: dyah zakiati
11a.
Re: Menempatkan Gerobak di Muka Kuda From: ukhti hazimah
12a.
Re: (Rampai) Kinestetis Lensa Cinta From: ukhti hazimah
13a.
[prestasi] Pemenang resensi maximum ride??? From: ukhti hazimah
13b.
Re: [prestasi] Pemenang resensi maximum ride??? From: Rini Agus Hadiyono
14.
Nderek Nepangaken From: supriyadi_karanganyar
15a.
Keajaiban Penyembuhan Alami dari Dalam Diri From: karina.biodi
16a.
Kolom Kamisan: GANTI GIGI From: hasan aspahani
17.
(Artikel)  "LASKAR PELANGI"  karya Andrea Hirata From: yudhi mulianto
18.
[rampai]Di Sepanjang Lekuk Puri From: fla cheya

Messages

1a.

Re: [Kelana] Bukittinggi Dalam Cinta

Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com   octavialia

Tue Oct 14, 2008 7:58 pm (PDT)

Alhamdulillah, makasih ya Pak Sinang.
Semoga bila ada waktu & kesempatan bisa berkunjung ke sana ya, Pak... ^_^

Salam
Lia

2008/10/10 Pandika Sampurna <pandika_sampurna@yahoo.com>

> Lia,
>
> Kalau baca ceritanya, kayak saya sendiri yang jalan-jalan.
> Sungguh menarik, apalagi kalau saya sendiri yang ke sana.
> Kapan ya?
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com<sekolah-kehidupan%40yahoogroups.com>,
> "Lia Octavia"
> <liaoctavia@...> wrote:
> >
> > *Bukittinggi Dalam Cinta*
>
> >
> >
> >
> > Oleh Lia Octavia
> >
> >
> >
> >
> >
> > Belum lengkap rasanya bila berkunjung ke Sumatera
> Barat tetapi
> > belum mengunjungi Bukittinggi. Kota yang dikelilingi oleh berbagai
> tempat
> > wisata di setiap sudutnya telah memanggil saya untuk menjejakkan
> langkah di
> > sana. Di hari keempat saya berada di negeri yang dikelilingi oleh
> > pasak-pasak buminya yang berselimut awan, Mbak Uri memutuskan
> mengajak saya
> > untuk menikmati kota Bukittinggi.
> >
> >
> >
> > Matahari sudah hampir di atas kepala hari itu ketika
> saya bangun
> > dari tidur nyenyak saya. Udara dingin disertai dengan hujan rintik-
> rintik
> > membuat saya kembali terlelap setelah bersujud pada Sang Maha
> Cinta dan
> > bersama-sama riuh itik di halaman serta daun-daun yang meneteskan
> embun,
> > menyongsong fajar di hari kedua kemenangan Cinta. Tidur yang benar-
> benar
> > berkualitas, setidaknya begitu menurut saya. Lelap. Tanpa mimpi.
> Mungkin
> > karena hari-hari sebelumnya saya kurang tidur selama di Jakarta.
> Mungkin
> > juga karena beban pikiran saya sudah terbang terbawa angin dari
> lereng
> > gunung Merapi dan gunung Singgalang yang merengkuh saya dalam
> kehangatan
> > cinta sebuah keluarga yang membuat saya benar-benar merasa berada
> di rumah.
> > Di dalam rengkuhan orang-orang yang mencintai saya dan menerima
> saya apa
> > adanya.
> >
> >
> >
> > "Hari ini kita akan berkunjung ke rumah sahabatku di
> Pasar. Lalu
> > kita ke Bukittinggi bersama-sama dengan temanku naik mobil," ujar
> Mbak Uri
> > ketika ia melihatku sudah terbangun. Pasar adalah pusat kota
> Payakumbuh.
> >
> >
> >
> > "Oh gitu. Naik mobil ya? Wah asyik! Kita bisa melihat
> jam gadang
> > ya, Mbak!" jawabku sambil merenggangkan otot-otot tubuhku dan
> menghirup
> > udara segar yang berhembus dari balik jendela kamar. Segar sekali.
> Saya
> > seperti terlahir kembali.
> >
> >
> >
> > Setelah sarapan pagi yang begitu nikmat, kami pun
> segera
> > bersiap-siap. Kedua saudara sepupu Mbak Uri sudah menanti kami
> berdua dengan
> > sepeda motor masing-masing. Siap membawa kami mengarungi
> petualangan baru
> > hari ini. Di Payakumbuh, motor merupakan kendaraan yang paling
> disukai oleh
> > penduduknya. Selain lebih praktis dan cepat, motor dapat mendaki
> jalan-jalan
> > yang menanjak atau yang menurun di lereng-lereng gunung. Segera
> kami berpacu
> > di atas motor kami masing-masing. Sawah, sungai, kelokan,
> berkelebat bersama
> > angin yang bermain-main di ujung kibaran kerudung saya. Awan
> berarak turut
> > berlari-lari di atas kepala kami. Sungguh, ngebut di atas motor di
> > Payakumbuh merupakan suatu kenikmatan tersendiri. Saya tidak perlu
> > mengenakan saputangan penutup hidung dan mulut karena tidak ada
> polusi dan
> > asap tebal kendaraan yang menyesakkan pernapasan. Ngebut dengan
> pemandangan
> > indah yang meliuk-liuk dan berkelebat di sekitar saya, membuat
> saya selalu
> > merindukan saat-saat seperti ini.
> >
> >
> >
> > Kami tiba di Pasar dalam waktu kurang dari tiga puluh
> menit. Uni
> > Diana, sahabat Mbak Uri, sudah menyambut kami dengan ramah di
> depan rumahnya
> > yang besar dan asri. Juga suami dan putranya, Zidane, yang biasa
> dipanggil
> > Zizou, turut menemani kami mengobrol sembari bermaaf-maafan dan
> melepas
> > kerinduan serta bertukar cerita. Seusai makan siang yang nikmat,
> kami segera
> > berangkat ke Bukittinggi. Hujan mulai turun di halaman rumah Uni
> Diana yang
> > luas dan berlari-lari di atas atap mobil yang kami tumpangi.
> >
> >
> >
> > Jalan-jalan sudah mulai dipenuhi kendaraan dan orang-orang yang
> hendak
> > bepergian bersilaturahim dengan sanak keluarga mereka. Anak rantau
> yang
> > sudah kembali ke pelukan kampung halaman tercinta. Dan di sela-
> sela jalan
> > menuruni gunung yang berkelok-kelok serta rimbunnya pohon-pohon di
> sisi kiri
> > kanan jalan, saya dapat melihat pendar Cinta di hari nan fitri itu
> bercahaya
> > di setiap jabat tangan dan pelukan kerinduan mereka. Mereka yang
> rela
> > berlelah-lelah menghabiskan waktu berjam-jam di atas kendaraan
> bahkan
> > berhari-hari demi mencapai tanah kelahiran. Mereka yang rela
> mengeluarkan
> > seluruh simpanan hasil kerja selama setahun di tanah rantau demi
> berjumpa
> > dengan sanak keluarga. Mereka yang mengorbankan begitu banyak
> waktu dan
> > tenaga, demi mengucapkan selamat Idul Fitri, memohon maaf lahir
> batin, dan
> > memulai segalanya dari titik nol. Arti mudik yang sesungguhnya,
> yang hanya
> > baru terasa apabila kita sudah mengalaminya sendiri. Tidak ada
> yang dapat
> > membeli cinta. Cinta pada keluarga. Cinta pada kampung halaman.
> Tidak uang.
> > Tidak pekerjaan. Tidak waktu. Tidak tenaga. Tidak juga seluruh
> harta duniawi
> > di jagat raya ini.
> >
> >
> >
> > Cinta itu pulalah yang kemudian membawa kami memasuki kota
> Bukittinggi
> > dengan selamat. Bukittinggi yang ramai dikunjungi orang dari
> berbagai asal,
> > bukan saja dari tanah air, melainkan juga dari mancanegara. Sejauh
> mata
> > memandang, hanya keindahan alam yang mampu terekam oleh
> penglihatan dan
> > seluruh indera saya. Kota yang ramai dengan kendaraan itu
> dikelilingi
> > berbagai tempat wisata di setiap sudutnya. Ngarai Sihanuk di
> sebelah kiri,
> > kebun binatang di sebelah kanan, museum rumah Jepang jaman dahulu
> di bagian
> > depan saya, dan jam gadang; yang merupakan ikon kota ini berdiri
> megah di
> > jantung kota.
> >
> >
> >
> > Dengan penuh cinta, di bawah siraman hujan lebat, kami berlari-
> lari dari
> > tempat parkir mobil menuju menara jam gadang. Saya sudah tidak
> begitu
> > memedulikan lagi apakah saya akan basah kuyup atau tidak. Saya
> juga tidak
> > memedulikan lagi apakah pilek saya akan bertambah parah atau
> tidak. Yang
> > saya tahu, berhujan-hujan dengan Mbak Uri, Uni Diana beserta suami
> dan si
> > kecil Zidane, adalah sebuah cinta. Tanpa menghiraukan ketipak kaki
> kuda yang
> > menyeret bendi berisikan orang-orang yang dipenuhi dengan cinta,
> kami
> > menembus keramaian jalan-jalan kota dan menuju jam gadang. Menara
> jam gadang
> > yang berdiri tegak. Bercat putih biru pada dinding-dinding
> menaranya dan
> > penunjuk waktu yang tepat. Beratap awan yang berarak tak jauh dari
> kepala
> > saya yang seakan memanggil saya untuk meraihnya dan Ngarai Sihanuk
> yang
> > mengelilinginya di kejauhan.
> >
> >
> >
> > Banyak orang berjualan buah tangan di sekitar jam gadang itu.
> Walau hujan
> > terus mengguyur, kami tetap bersemangat membeli beberapa buah
> tangan dengan
> > harga yang relatif murah sambil sesekali saya membersitkan hidung
> dan
> > berusaha meredam pilek yang masih terus mengucur dari hidung saya.
> Saya
> > tidak memakan obat pilek sedikit pun sejak saya terserang batuk,
> pilek, dan
> > sakit tenggorokan sebelum saya ke Padang. Biarlah kali ini saya
> membebaskan
> > tubuh saya dari anti biotik dan obat-obatan yang membuat kepala
> pusing dan
> > tidur yang penuh dengan bunga mimpi yang aneh. Walau sebelumnya
> kondisi
> > tubuh saya boleh dikatakan tidak terlalu kuat. Bila saya kecapaian
> atau
> > kurang tidur atau kurang istirahat atau terlalu sering tidur larut
> malam,
> > saya sering jatuh sakit. Demam, sakit tenggorokan, batuk, pilek,
> sudah
> > menjadi hal yang tidak mengherankan lagi. Parahnya, selama di
> Jakarta, demam
> > saya itu tidak dapat sembuh bila saya biarkan saja tanpa pergi ke
> dokter.
> > Dan boleh dikatakan, hampir setiap bulan saya pasti jatuh sakit
> dan harus
> > menghabiskan anti biotik dan obat-obatan untuk menurunkan demam
> saya. Kali
> > ini berbeda. Saya bertekat tidak akan meminum obat pilek dan sakit
> > tenggorokan. Dan saya tidak akan membiarkan pilek saya menghalangi
> saya
> > untuk menari di haribaan Cinta pada liburan kali ini.
> >
> >
> >
> > Setelah membeli buah tangan di lapak-lapak yang
> bertebaran di
> > samping luar jam gadang, kami harus segera kembali ke Payakumbuh
> karena
> > hujan turun makin deras dan agar tidak kemalaman di jalan. Jalan-
> jalan
> > Bukittinggi yang macet serta jalan-jalan berkelok menuju
> Payakumbuh yang
> > padat serta nyaris sulit untuk bergerak ditambah dengan jarak
> pandang yang
> > hanya berkisar satu meter saja, justru membuat cinta semakin
> berpendar.
> > Sambil sesekali membersihkan kaca mobil yang buram oleh hembusan
> udara
> > dingin serta melemparkan senyum pada orang-orang yang lewat, di
> situlah
> > Cinta menautkan hati-hati kami semua, yang membuat Bukittinggi
> semakin
> > hangat di dalam dekapan-Nya. Dan karena Cinta di Bukittinggi
> itulah, saya
> > tidak mengalami demam di malam harinya. Tidur lelap di dalam
> kelembutan
> > malam, yang mengelus awan-awan yang berarak, dan meliputi setiap
> > gunung-gunung di sana. Di dalam keheningan yang damai.
> >
> >
> >
> >
> >
> > Bukittinggi, Jumat, 3 Oktober 2008
> >
> >
> >
> >
> >
> > *********
> >
> >
> > http://mutiaracinta.multiply.com
> >
>
>
>
1b.

Re: [Kelana] Bukittinggi Dalam Cinta

Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com   octavialia

Tue Oct 14, 2008 8:05 pm (PDT)

hahahahaha... Pak Sis ini bisa ajah... bisa-bisa abis baca tulisanku
langsung berobat ke dokter kulit ya, Pak? ^_^

thanks ya Pak Sis

salam
Lia

2008/10/10 sismanto <siril_wafa@yahoo.co.id>

> Apalagi saya pak, saya dari kemarin menyimak perjalanan dari Bu Lia
> ini...sungguh perjalanan cinta. apalagi sampai batuk, pilek, demam,
> gatal-gatal, panu, kudis, kurap dan lain-lain ^_^
>
> -sis-
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "Pandika Sampurna"
> <pandika_sampurna@...> wrote:
> >
> > Lia,
> >
> > Kalau baca ceritanya, kayak saya sendiri yang jalan-jalan.
> > Sungguh menarik, apalagi kalau saya sendiri yang ke sana.
> > Kapan ya?
> >
> > --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "Lia Octavia"
> > liaoctavia@ wrote:
>
>
>
1c.

Re: [Kelana] Bukittinggi Dalam Cinta

Posted by: "Cahaya" fikrikibar@gmail.com   fikrikibar

Tue Oct 14, 2008 11:59 pm (PDT)

Wah... tnyata fikri termasuk beruntung pernah besar di Kota bukittinggi.
Katanya, Kota ini ideal banget untuk masa remaja. :) mentang2 orang
bukittinggi

udaranya dingin dan bersih (seperti bandoeng tempo doeloe), rekreasi dan
pemandangan alamnya bagus, makanannya enak2, orang2nya baik dan ramah, dst
dst....

Pas pulang kampung kemaren, merasakan keliling kota dg vespa ga perlu pakai
tutup / pelindung debu. udaranya bersih banget (duh kentara bedanya ma
jakarta ). hanya di bukittinggi saya bisa senang saja bersebelahan sama
perokok.

Fikri

2008/10/9 Lia Octavia <liaoctavia@gmail.com>

>
>
>
>
>
> *Bukittinggi Dalam Cinta*
>
>
>
> Oleh Lia Octavia
>
>
>
>
>
> Belum lengkap rasanya bila berkunjung ke Sumatera Barat tetapi
> belum mengunjungi Bukittinggi. Kota yang dikelilingi oleh berbagai tempat
> wisata di setiap sudutnya telah memanggil saya untuk menjejakkan langkah di
> sana. Di hari keempat saya berada di negeri yang dikelilingi oleh
> pasak-pasak buminya yang berselimut awan, Mbak Uri memutuskan mengajak saya
> untuk menikmati kota Bukittinggi.
>
>
>
> Matahari sudah hampir di atas kepala hari itu ketika saya
> bangun dari tidur nyenyak saya. Udara dingin disertai dengan hujan
> rintik-rintik membuat saya kembali terlelap setelah bersujud pada Sang Maha
> Cinta dan bersama-sama riuh itik di halaman serta daun-daun yang meneteskan
> embun, menyongsong fajar di hari kedua kemenangan Cinta. Tidur yang
> benar-benar berkualitas, setidaknya begitu menurut saya. Lelap. Tanpa mimpi.
> Mungkin karena hari-hari sebelumnya saya kurang tidur selama di Jakarta.
> Mungkin juga karena beban pikiran saya sudah terbang terbawa angin dari
> lereng gunung Merapi dan gunung Singgalang yang merengkuh saya dalam
> kehangatan cinta sebuah keluarga yang membuat saya benar-benar merasa berada
> di rumah. Di dalam rengkuhan orang-orang yang mencintai saya dan menerima
> saya apa adanya.
>
>
>
> "Hari ini kita akan berkunjung ke rumah sahabatku di Pasar.
> Lalu kita ke Bukittinggi bersama-sama dengan temanku naik mobil," ujar Mbak
> Uri ketika ia melihatku sudah terbangun. Pasar adalah pusat kota Payakumbuh.
>
>
>
> "Oh gitu. Naik mobil ya? Wah asyik! Kita bisa melihat jam
> gadang ya, Mbak!" jawabku sambil merenggangkan otot-otot tubuhku dan
> menghirup udara segar yang berhembus dari balik jendela kamar. Segar sekali.
> Saya seperti terlahir kembali.
>
>
>
> Setelah sarapan pagi yang begitu nikmat, kami pun segera
> bersiap-siap. Kedua saudara sepupu Mbak Uri sudah menanti kami berdua dengan
> sepeda motor masing-masing. Siap membawa kami mengarungi petualangan baru
> hari ini. Di Payakumbuh, motor merupakan kendaraan yang paling disukai oleh
> penduduknya. Selain lebih praktis dan cepat, motor dapat mendaki jalan-jalan
> yang menanjak atau yang menurun di lereng-lereng gunung. Segera kami berpacu
> di atas motor kami masing-masing. Sawah, sungai, kelokan, berkelebat bersama
> angin yang bermain-main di ujung kibaran kerudung saya. Awan berarak turut
> berlari-lari di atas kepala kami. Sungguh, ngebut di atas motor di
> Payakumbuh merupakan suatu kenikmatan tersendiri. Saya tidak perlu
> mengenakan saputangan penutup hidung dan mulut karena tidak ada polusi dan
> asap tebal kendaraan yang menyesakkan pernapasan. Ngebut dengan pemandangan
> indah yang meliuk-liuk dan berkelebat di sekitar saya, membuat saya selalu
> merindukan saat-saat seperti ini.
>
>
>
> Kami tiba di Pasar dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.
> Uni Diana, sahabat Mbak Uri, sudah menyambut kami dengan ramah di depan
> rumahnya yang besar dan asri. Juga suami dan putranya, Zidane, yang biasa
> dipanggil Zizou, turut menemani kami mengobrol sembari bermaaf-maafan dan
> melepas kerinduan serta bertukar cerita. Seusai makan siang yang nikmat,
> kami segera berangkat ke Bukittinggi. Hujan mulai turun di halaman rumah Uni
> Diana yang luas dan berlari-lari di atas atap mobil yang kami tumpangi.
>
>
>
> Jalan-jalan sudah mulai dipenuhi kendaraan dan orang-orang yang hendak
> bepergian bersilaturahim dengan sanak keluarga mereka. Anak rantau yang
> sudah kembali ke pelukan kampung halaman tercinta. Dan di sela-sela jalan
> menuruni gunung yang berkelok-kelok serta rimbunnya pohon-pohon di sisi kiri
> kanan jalan, saya dapat melihat pendar Cinta di hari nan fitri itu bercahaya
> di setiap jabat tangan dan pelukan kerinduan mereka. Mereka yang rela
> berlelah-lelah menghabiskan waktu berjam-jam di atas kendaraan bahkan
> berhari-hari demi mencapai tanah kelahiran. Mereka yang rela mengeluarkan
> seluruh simpanan hasil kerja selama setahun di tanah rantau demi berjumpa
> dengan sanak keluarga. Mereka yang mengorbankan begitu banyak waktu dan
> tenaga, demi mengucapkan selamat Idul Fitri, memohon maaf lahir batin, dan
> memulai segalanya dari titik nol. Arti mudik yang sesungguhnya, yang hanya
> baru terasa apabila kita sudah mengalaminya sendiri. Tidak ada yang dapat
> membeli cinta. Cinta pada keluarga. Cinta pada kampung halaman. Tidak uang.
> Tidak pekerjaan. Tidak waktu. Tidak tenaga. Tidak juga seluruh harta duniawi
> di jagat raya ini.
>
>
>
> Cinta itu pulalah yang kemudian membawa kami memasuki kota Bukittinggi
> dengan selamat. Bukittinggi yang ramai dikunjungi orang dari berbagai asal,
> bukan saja dari tanah air, melainkan juga dari mancanegara. Sejauh mata
> memandang, hanya keindahan alam yang mampu terekam oleh penglihatan dan
> seluruh indera saya. Kota yang ramai dengan kendaraan itu dikelilingi
> berbagai tempat wisata di setiap sudutnya. Ngarai Sihanuk di sebelah kiri,
> kebun binatang di sebelah kanan, museum rumah Jepang jaman dahulu di bagian
> depan saya, dan jam gadang; yang merupakan ikon kota ini berdiri megah di
> jantung kota.
>
>
>
> Dengan penuh cinta, di bawah siraman hujan lebat, kami berlari-lari dari
> tempat parkir mobil menuju menara jam gadang. Saya sudah tidak begitu
> memedulikan lagi apakah saya akan basah kuyup atau tidak. Saya juga tidak
> memedulikan lagi apakah pilek saya akan bertambah parah atau tidak. Yang
> saya tahu, berhujan-hujan dengan Mbak Uri, Uni Diana beserta suami dan si
> kecil Zidane, adalah sebuah cinta. Tanpa menghiraukan ketipak kaki kuda yang
> menyeret bendi berisikan orang-orang yang dipenuhi dengan cinta, kami
> menembus keramaian jalan-jalan kota dan menuju jam gadang. Menara jam gadang
> yang berdiri tegak. Bercat putih biru pada dinding-dinding menaranya dan
> penunjuk waktu yang tepat. Beratap awan yang berarak tak jauh dari kepala
> saya yang seakan memanggil saya untuk meraihnya dan Ngarai Sihanuk yang
> mengelilinginya di kejauhan.
>
>
>
> Banyak orang berjualan buah tangan di sekitar jam gadang itu. Walau hujan
> terus mengguyur, kami tetap bersemangat membeli beberapa buah tangan dengan
> harga yang relatif murah sambil sesekali saya membersitkan hidung dan
> berusaha meredam pilek yang masih terus mengucur dari hidung saya. Saya
> tidak memakan obat pilek sedikit pun sejak saya terserang batuk, pilek, dan
> sakit tenggorokan sebelum saya ke Padang. Biarlah kali ini saya membebaskan
> tubuh saya dari anti biotik dan obat-obatan yang membuat kepala pusing dan
> tidur yang penuh dengan bunga mimpi yang aneh. Walau sebelumnya kondisi
> tubuh saya boleh dikatakan tidak terlalu kuat. Bila saya kecapaian atau
> kurang tidur atau kurang istirahat atau terlalu sering tidur larut malam,
> saya sering jatuh sakit. Demam, sakit tenggorokan, batuk, pilek, sudah
> menjadi hal yang tidak mengherankan lagi. Parahnya, selama di Jakarta, demam
> saya itu tidak dapat sembuh bila saya biarkan saja tanpa pergi ke dokter.
> Dan boleh dikatakan, hampir setiap bulan saya pasti jatuh sakit dan harus
> menghabiskan anti biotik dan obat-obatan untuk menurunkan demam saya. Kali
> ini berbeda. Saya bertekat tidak akan meminum obat pilek dan sakit
> tenggorokan. Dan saya tidak akan membiarkan pilek saya menghalangi saya
> untuk menari di haribaan Cinta pada liburan kali ini.
>
>
>
> Setelah membeli buah tangan di lapak-lapak yang bertebaran di
> samping luar jam gadang, kami harus segera kembali ke Payakumbuh karena
> hujan turun makin deras dan agar tidak kemalaman di jalan. Jalan-jalan
> Bukittinggi yang macet serta jalan-jalan berkelok menuju Payakumbuh yang
> padat serta nyaris sulit untuk bergerak ditambah dengan jarak pandang yang
> hanya berkisar satu meter saja, justru membuat cinta semakin berpendar.
> Sambil sesekali membersihkan kaca mobil yang buram oleh hembusan udara
> dingin serta melemparkan senyum pada orang-orang yang lewat, di situlah
> Cinta menautkan hati-hati kami semua, yang membuat Bukittinggi semakin
> hangat di dalam dekapan-Nya. Dan karena Cinta di Bukittinggi itulah, saya
> tidak mengalami demam di malam harinya. Tidur lelap di dalam kelembutan
> malam, yang mengelus awan-awan yang berarak, dan meliputi setiap
> gunung-gunung di sana. Di dalam keheningan yang damai.
>
>
>
>
>
> Bukittinggi, Jumat, 3 Oktober 2008
>
>
>
>
>
> *********
>
>
> http://mutiaracinta.multiply.com
>
>
>
2a.

Re: (Catcil) Pagi ini di Kota Seribu Daun

Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com   inga_fety

Tue Oct 14, 2008 8:50 pm (PDT)

Sint, kata-katamu benar keindahan selalu muncul jika kita berfikir
positif. ayo sint beli sepeda. Di Chiba kemana-mana naik sepeda,
padahal sejak tamat SMU naik sepeda hampir tidak pernah. Tapi di sini,
pengendara sepeda didulukan. tempat mengendarainya aja cuku lebar. Ayo
sint beli sepeda:)

miss u too,
fety

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, ukhti hazimah
<ukhtihazimah@...> wrote:
>
> Kisah yang indah mbak :)jadi menambah minatku buat beli sepeda,
waaaaaahhh....pasti seru tuh klo pagi-pagi mengayuh sepeda keliling
perumahan sembari menghirup udara pagi.
> miss u!!:sinta:
> Keindahan selalu muncul saat kepala manusia berpikir positif
> ^_^
>
> www.sinthionk.rezaervani.com
> www.sinthionk.multiply.com YM: sinthionk
>
> --- On Wed, 10/15/08, inga_fety <inga_fety@...> wrote:
> From: inga_fety <inga_fety@...>
> Subject: [sekolah-kehidupan] (Catcil) Pagi ini di Kota Seribu Daun
> To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
> Date: Wednesday, October 15, 2008, 1:02 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Terinspirasi dengan tulisan retno dan mbak ugik tentang
pagi, hari ini
>
> saya ingin juga menulis tentang pagi. thanks untuk mbak ugik dan retno
>
> yang mengingatkan bahwa menikmati pagi itu adalah indah:)
>
>
>
> ****
>
>
>
> Pagi ini diChiba, saya menjulukinya kota Seribu Daun, langit agak
>
> mendung. Dingin tetap menyapa. Hari-hari musim gugur, biasanya
>
> temperatur udara sekitar 18 derajat Celcius. aku mengendarai sepeda
>
> pergi kekampus. Terasa bahagia bisa menghirup udara segar, mengisi
>
> pori-pori. Di bibirku pun tetap terselip sebuah senyum, juga untuk
>
> sapa ketika berjumpa dengan seorang mahasiswi Indonesia di jalan.
>
>
>
> Pagi ini adalah pagi yang indah. Di sepanjang jalan mata bisa menatap
>
> hijaunya daun, bunga-bunga musim gugur yang mulai mekar, langit biru
>
> putih kelabu, burung-burung yang bergerak mencari makan, semilir angin
>
> yang menggigit dingin menyelip di sela-sela sweater. Tanpa ada polusi
>
> udara. tanpa ada kebisingan suara klakson kendaraan bermotor. Tanpa
>
> ada bau asap yang mengundang tangan menutup lubang hidung. Ah, pagi
>
> yang indah di kota seribu daun.
>
>
>
> Menjelang pintu masuk kampus, dari arah yang sama denganku, terlihat
>
> sebuah sepeda melintas, menuju ke halaman kampus. Sepasang suami
>
> istri. Berkulit putih, sepertinya mereka adalah bukan pendatang. Sang
>
> suami mengayuh sepeda sedangkan sang istri duduk di belakang sambil
>
> memegang tas dan buku kuliah. Mungkin mereka adalah sama-sama
>
> mahasiswa di kampusku. Berangkat bersama mengendarai sepeda, kendaraan
>
> wajib di negeri sakura. Terlihat sang suami mengayuh sepeda dengan
>
> agak berat. Ban sepeda merekapun terlihat agak mengempes menanggung
>
> beban. Tapi, sebuah cinta memberikan kekuatan untuk mengayuh sepeda
>
> setahap demi setahap. Pemandangan itu membuat saya tertegun sesaat.
>
> Sambil mengayuh sepeda saya, saya berdoa semoga suatu saat saya juga
>
> akan menikmati momen itu, bersama suami tercinta. Ah, pagi yang indah.
>
>
>
> Nishi Chiba, Oktober 2008
>
>
>
> http://ingafety. wordpress. com
>

2b.

Re: (Catcil) Pagi ini di Kota Seribu Daun

Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com   inga_fety

Tue Oct 14, 2008 8:52 pm (PDT)

Nia, kota seribu daun itu kayaknya hanya mba fety deh yang julukinnya,
karena nama Chiba berasal dari huruf kanji seribu dan huruf kanji
daun. Jadinya, mba fety julukin kota seribu daun deh:D

salam,
fety

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "Nia Robiatun Jumiah"
<musimbunga@...> wrote:
>
> makasih ya mba fety...
> Chiba, kota Seribu Daun.. aku rekam2 di otak, siapa tau tiba2 dapet
> kesempatan ke Jepang, walaupun pake pintu doraemon hi..hi..
> gak dink.. aku emang lagi berusaha mengingat nama-nama kota dan
> pendeskripsian, letak dan segala yang berhubungan dengan geografi
coz aku
> kalo ilmu IPS terutama geografi dudul banget...
> nanti cerita tentang kota lainnya ya mba:)
>
> makasih.
> salam,
> nihaw..
> kangeun juga euy...
>
> Pada 15 Oktober 2008 08:02, inga_fety <inga_fety@...> menulis:
>
> > Terinspirasi dengan tulisan retno dan mbak ugik tentang pagi,
hari ini
> > saya ingin juga menulis tentang pagi. thanks untuk mbak ugik dan retno
> > yang mengingatkan bahwa menikmati pagi itu adalah indah:)
> >
> > ****
> >
> > Pagi ini diChiba, saya menjulukinya kota Seribu Daun, langit agak
> > mendung. Dingin tetap menyapa. Hari-hari musim gugur, biasanya
> > temperatur udara sekitar 18 derajat Celcius. aku mengendarai sepeda
> > pergi kekampus. Terasa bahagia bisa menghirup udara segar, mengisi
> > pori-pori. Di bibirku pun tetap terselip sebuah senyum, juga untuk
> > sapa ketika berjumpa dengan seorang mahasiswi Indonesia di jalan.
> >
> > Pagi ini adalah pagi yang indah. Di sepanjang jalan mata bisa menatap
> > hijaunya daun, bunga-bunga musim gugur yang mulai mekar, langit biru
> > putih kelabu, burung-burung yang bergerak mencari makan, semilir angin
> > yang menggigit dingin menyelip di sela-sela sweater. Tanpa ada polusi
> > udara. tanpa ada kebisingan suara klakson kendaraan bermotor. Tanpa
> > ada bau asap yang mengundang tangan menutup lubang hidung. Ah, pagi
> > yang indah di kota seribu daun.
> >
> > Menjelang pintu masuk kampus, dari arah yang sama denganku, terlihat
> > sebuah sepeda melintas, menuju ke halaman kampus. Sepasang suami
> > istri. Berkulit putih, sepertinya mereka adalah bukan pendatang. Sang
> > suami mengayuh sepeda sedangkan sang istri duduk di belakang sambil
> > memegang tas dan buku kuliah. Mungkin mereka adalah sama-sama
> > mahasiswa di kampusku. Berangkat bersama mengendarai sepeda, kendaraan
> > wajib di negeri sakura. Terlihat sang suami mengayuh sepeda dengan
> > agak berat. Ban sepeda merekapun terlihat agak mengempes menanggung
> > beban. Tapi, sebuah cinta memberikan kekuatan untuk mengayuh sepeda
> > setahap demi setahap. Pemandangan itu membuat saya tertegun sesaat.
> > Sambil mengayuh sepeda saya, saya berdoa semoga suatu saat saya juga
> > akan menikmati momen itu, bersama suami tercinta. Ah, pagi yang indah.
> >
> > Nishi Chiba, Oktober 2008
> >
> > http://ingafety.wordpress.com
> >
> >
> >
>

2c.

Re: (Catcil) Pagi ini di Kota Seribu Daun

Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com   inga_fety

Tue Oct 14, 2008 8:52 pm (PDT)

ayo, mbak ugik datang ke sini. ada nasmah loh:D

salam,
fety

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "ugik madyo" <ugikmadyo@...>
wrote:
>
> Amin...
> Semoga doanya terkabulkan ya >:D<
> Terimakasih Fey.. atas tulisannya yang indah :)
>
> Pagi yang Indah dengan seribu daun
> Jadi kangen sama Chiba nih hehe
> Setiap pagi selalu indah kan?
>
> Ugik Madyo
>
> 2008/10/15 inga_fety <inga_fety@...>
>
> > Terinspirasi dengan tulisan retno dan mbak ugik tentang pagi,
hari ini
> > saya ingin juga menulis tentang pagi. thanks untuk mbak ugik dan retno
> > yang mengingatkan bahwa menikmati pagi itu adalah indah:)
> >
> > ****
> >
> > Pagi ini diChiba, saya menjulukinya kota Seribu Daun, langit agak
> > mendung. Dingin tetap menyapa. Hari-hari musim gugur, biasanya
> > temperatur udara sekitar 18 derajat Celcius. aku mengendarai sepeda
> > pergi kekampus. Terasa bahagia bisa menghirup udara segar, mengisi
> > pori-pori. Di bibirku pun tetap terselip sebuah senyum, juga untuk
> > sapa ketika berjumpa dengan seorang mahasiswi Indonesia di jalan.
> >
> >
>

2d.

Re: (Catcil) Pagi ini di Kota Seribu Daun

Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com   inga_fety

Tue Oct 14, 2008 8:55 pm (PDT)

benar nov, hari pertama aku naik sepeda ke kampus malamnya kakiku
pegal-pegal semua, jadinya pas tidur kakinya harus diangkat ke atas
deh dan dibaluri minyak kayu putih. tapi lebih mendingan aku naik
sepeda daripada jalan kaki. Lebih cepat nyampainya dari pada jalan
kaki:D apalagi kampusku yang lumayan besar.

salam,
fety

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "novi_ningsih"
<novi_ningsih@...> wrote:
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "inga_fety" <inga_fety@>
> wrote:
> >
> JAdi kangen sepedaku, Fet
> dan anehnya pas tidur aku mimpi naik sepeda jalan2 dan berasa pegelnya
> (lho :D)
> Hampir sebulan aku ga pake sepeda... :D, bannya jadi kempes
>
> Bayangin Fety yang lagi naik sepeda dengan penuh semangat, moga
> someday, tercapai apa yang diinginkan fety ya :) aamiin
>
>
> salam
> noVi
>
>
>
> > Terinspirasi dengan tulisan retno dan mbak ugik tentang pagi, hari ini
> > saya ingin juga menulis tentang pagi. thanks untuk mbak ugik dan retno
> > yang mengingatkan bahwa menikmati pagi itu adalah indah:)
> >
> > ****
> >
> > Pagi ini diChiba, saya menjulukinya kota Seribu Daun, langit agak
> > mendung. Dingin tetap menyapa. Hari-hari musim gugur, biasanya
> > temperatur udara sekitar 18 derajat Celcius. aku mengendarai sepeda
> > pergi kekampus. Terasa bahagia bisa menghirup udara segar, mengisi
> > pori-pori. Di bibirku pun tetap terselip sebuah senyum, juga untuk
> > sapa ketika berjumpa dengan seorang mahasiswi Indonesia di jalan.
> >
> > Pagi ini adalah pagi yang indah. Di sepanjang jalan mata bisa menatap
> > hijaunya daun, bunga-bunga musim gugur yang mulai mekar, langit biru
> > putih kelabu, burung-burung yang bergerak mencari makan, semilir angin
> > yang menggigit dingin menyelip di sela-sela sweater. Tanpa ada polusi
> > udara. tanpa ada kebisingan suara klakson kendaraan bermotor. Tanpa
> > ada bau asap yang mengundang tangan menutup lubang hidung. Ah, pagi
> > yang indah di kota seribu daun.
> >
> > Menjelang pintu masuk kampus, dari arah yang sama denganku, terlihat
> > sebuah sepeda melintas, menuju ke halaman kampus. Sepasang suami
> > istri. Berkulit putih, sepertinya mereka adalah bukan pendatang. Sang
> > suami mengayuh sepeda sedangkan sang istri duduk di belakang sambil
> > memegang tas dan buku kuliah. Mungkin mereka adalah sama-sama
> > mahasiswa di kampusku. Berangkat bersama mengendarai sepeda, kendaraan
> > wajib di negeri sakura. Terlihat sang suami mengayuh sepeda dengan
> > agak berat. Ban sepeda merekapun terlihat agak mengempes menanggung
> > beban. Tapi, sebuah cinta memberikan kekuatan untuk mengayuh sepeda
> > setahap demi setahap. Pemandangan itu membuat saya tertegun sesaat.
> > Sambil mengayuh sepeda saya, saya berdoa semoga suatu saat saya juga
> > akan menikmati momen itu, bersama suami tercinta. Ah, pagi yang indah.
> >
> >
> >
> >
> > Nishi Chiba, Oktober 2008
> >
> > http://ingafety.wordpress.com
> >
>

3.

[Artikel] RUU Pornografi?? Teteeeeep!!

Posted by: "ukhti hazimah" ukhtihazimah@yahoo.com   ukhtihazimah

Tue Oct 14, 2008 9:29 pm (PDT)

artikel yang sangat menarik!!...baca deh ^_^sedikit membuka pikiran, menurutku seh ;P
:sinta:
Keindahan selalu muncul saat kepala manusia berpikir positif
^_^

www.sinthionk.rezaervani.com
www.sinthionk.multiply.com YM: sinthionk

--- On Tue, 10/14/08, Putu Wijaya <wijaya.putu@gmail.com> wrote:
From: Putu Wijaya <wijaya.putu@gmail.com>
Subject: Re: [ac-i] Debat Publik RUU Pornografi, Mari Berdemokrasi....
To: artculture-indonesia@yahoogroups.com
Date: Tuesday, October 14, 2008, 7:08 AM

Putu Wijaya

MENGUJI UJI COBA RUU PORNOGRAFI

Yang semula bernama RUU APP (Rencana Undang-Undang Anti Pornografi
Pornoaksi) dan kini bernama RUU P (Rencana Undang-Undang Pornogragi)
telah menjadi bahan pertengkaran. Di tengah berbagai kesulitan hidup
yang menerpa tak putus-putusnya, RUU tersebut sudah ikut membelah
masyarakat dan bangsa Indonesia. Demo dari yang pro dan yang kontra
terjadi di seluruh kawasan Nusantara. Tetapi seperti seperti pelari
marathon yang tangguh, RUU itu terus meluncur hendak menyarangkan
dirinya di gawang pengesahan dari orang nomor satu Indonesia.

Mengambil tempat di Ruang Kartini, Kemeneg Pemberdayaan Perempuan,
Rebo 17 September, diadakaj Uji Publik yang dibanjiri oleh para
peminat yang tak semua diprkenankan masuk. Dimulai dengan penjelasan
bagaimana perjalanan panjang RUU itu sampai ke draft ketiga, kini
ditanggung tidak lagi akan menjegal kebebasan seniman, tidak akan
menodai kebhinekaan adat dan tradisi, berpihak pada perempuan dan
membela anak-anak. Saran-saran dan kritik sudah diserap dengan
mengubah redaksi dan memperbaiki pasal-pasal yang kini dapat dianggap
sebagai sudah menampung baik suara yang pro maupun yang kontra.

Penyair dan budayawan Taufiq Ismail kemudian membuka acara tanya jawab
dengan dua lembar pendapatnya yang menjelaskan bagaiman bahayanya
pornografi dan betapa rawannya sudah masyarakat Indonesia
diobrak-abrik oleh jaringan yang memakai lokomotof neo-liberalisme
itu. Aliran SMS (Sastra Mashab Selangkang), angkatan FAK (Fiksi Alat
Kelamin) dalam Gerakan Syahwat Merdeka telah membuat "anak-anak kita
jadi sasaran dan korban dalam skala sangat besar". Empat koma dua juta
situs porno dunia dan seratus ribu situs porno Indonesia di internet
adalah bagian air bah pornografi yang merajalela karena adanya
dukungan dari kelompok permisif dan adiktif.

"Seniman tidak perlu mengeluh bila merasa terkekang karenanya,"tulis
penyair penulis lirik lagu Panggung Sandiwara itu, "Tuangkan
kreativitas menggarap tema kemiskinan, kebodohan dan ketdiak-adilan di
negeri kita. Ketiga tema besar ini jauh lebih urgen digarap bersama
dan bermanfaat bagi bangsa, ketimbang tema syahwar yang destruksinya
(bersama komponen-komponen lain) ternyata luar biasa.

Pembicara berikutnya mengeritik cara-cara melakukan uji coba yang
dianggapnya tidak layak itu. Materi RUU yang hendak dibicarakan tidak
digelar secukupnya sehingga mayorits yang hadir tak memiliki apa yang
mau dibicarakan. Definisi pornografi yang sejak awal sudah dianggap
cacad dan biang pertikaian masih belum sempurna. Pasal-pasal yang
kabur dan mengandung kemungkinan banyak interpretasi seharusnya
dikupas satu per satu. Perempuan yang konon hendak dilindungi justru
diancam dengan berbagai hukuman. Kemungkinan masyarakat berperan-serta
di dalam pencegahan pornografi akan membuat pembenaran beberapa
kalangan melakukan tindakan main hakim sendiri sebagai selama ini
sudah kerap terjadi. "RUU yang belum naik kelas ini mestinya
dibicarakan secara terbuka bukannya buru-buru diresmikan," ujarnya.

Kesan yang muncul dari pertemuan Uji Coba itu adalah bahwa pornografi
memang harus dilawan,.dibendung dan dihabisi karena sangat berbahaya.
Tapi satu pihak menganggap bahwa jalan yang terbaik ke arah itu adalah
dengan cepat-cepat mengesahkan RUU Pornografi yang sudah panjang
perjalanannya itu. Pihak lain menyambut bahwa tidak seorang pun yang
membela pornografi. Tetapi tanpa adanya RUU Pornografi pun, tindakan
tegas pemberantasan pornografi sudah memiliki landasan hukuman,
tinggal eksekusi yang belum sungguh-sungguh secara jelas dan
berkesinambungan dilakukan. Bagi mereka masalahnya bukan RUU-nya,
tetapi rumusasn RUU itu menjebak dan menggiring kea rah mono kultur
yang bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika.

Persoalan pro dan kontra pornografi tidak sama dengan persoalan pto
dan kontra RUU Pornografi. Yang pertama adalah masalah moral. Ini
menyangkut ruang privat. Bila negara sudah ikut mengurusi ruang
privat, sementara begitu banyak persoalan ruang publik yang
terbengkalai, itu hanya akan berarti mengelakkan diri dari
tanggungjawab yang sebenarnya. Ruang privat sudah ada pengaturnya
sendiri yakni agama dan pendidikan. Mari kita percayakan kepada para
pemukanya untuk membereskan iman dari para warganya. Kalau memang
sudah terjadi kebejatan, baru kalau ulah pribadi itu sampai mengganggu
ruang publik, negara bertindak. Dan sudah ada beberapa undang-undang
yang dapat dijadikan landasan hukum untuk tindakan mengayomi rakyat
itu. Kalau toh mau menambah dengan yang baru (RUU P) penambahan itu
tidak boleh melempas isinya.

Sementara RUU Pornografi adalah taktik dan strategi negara dalam
mengeksekusi tindakan pengamanan. Bila dalam hajat itu terjadi
perbedaan pendapat, harus dibicarakan secara proposional dan kepala
dingin di mana letak perbedaannya. Tak ada kaitannya lagi dengan pro
dan kontra pornografi, sebab pornografi memang sepakat mau dilawan.
Jangan sampai kita salah pukul atau sengaja salah memukul. Apalagi
digiring orang untuk bukan memukul yang hendak kita pukul, tetapi
sesuatu yang seharusnya kita hormati bersama, misalnya keberagaman.
Uji coba mestinya diartikan duduk bersama dan saling mendengarkan.
Mengupas satu per satu pasal-pasal RUU Pornografi di samping
mengevaluasi mengapa kita masih memerlukan sebuah undang-undang lagi.
Kalau memang kuat alasannya, mengapa tidak. Tetapi masyarakat berhak
untuk diyakinkan. Tetapi kalau memang tidak perlu, karena, masalahnya
bukan belum ada atau kurang undang-undang tetapi hanya tidak ada
tindakan pelaksanaan (memberantas pornografi), kenapa mesti membuat
undang-undang baru? Jangan jangan ada udang di balik baru. Seperti ada
penumpang gelap di dalam kasus RUU Pornografi ini. Untuk itu harus ada
investigasi.

Selaku pribadi, saya sangat berterimakasih pada Taufiq Ismail yang
mengingatkan serta meyakinkan saya bahwa pornografi adalah kejahatan
yang terorganisir secara rapih sehingga bukan saja harus dilawan
dengan keras tetapi juga cerdas, taktis dan lihai. Untuk itu jangan
sampai langkah kita terbelokkan menjadi saling menikam, sehingga kita
lalai bagaikan Niwatakawaca yang akhirnya terbunuh saat ketawa
terbahak-bahak karena menang. Betul sekali, seniman tak perlu merasa
terkengkang, jangankan selangkangan dan syahwat, kemiskinan dan
ketidakadilan tak boleh dibicarakan pun– seperti di masa Orde Baru -
seniman yang kreatif masih tetap bisa menghasikan master piece. Untuk
itu mari kita buat definisi pornografi yang afdol.

Juga saya harus berterimakasih pada mereka, saudara-saudara saya yang
menentang RUU Pornografi dan melakukan demo di Bali, Papua dan
sebagainya. Mereka mengingatkan saya bahwa kewajiban negara untuk
melindungi rakyatnya jangan sampai menjarah ruang privat. Apalagi
bertindak main hakim sendiri terhadap apa yang tidak berkenan pada
adat dan tradisi serta keyakinannya, karena itu menodai kesepakatan
hidup damai berdampingan dalam perbedaan. Karena itu mari kita usir
semua penumpang gelap yang ingin menyelusuf di seluruh aspek kehidupan
kita jedok apa pun yang dipakainya.

RUU Pornografi generasi ketiga yang diuji coba masih memerlukan pembahasan.

Jakarta 18 September 2008

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya
Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya
Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan
memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang
mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

4.

[catcil] Tulisan ttg Bapak ("BUKAN DENGAN PENYESALAN")

Posted by: "novi khansa'" novi_ningsih@yahoo.com   novi_ningsih

Tue Oct 14, 2008 9:37 pm (PDT)

Assalamu'alaykumIni tulisan yang aku ikutkan pada lomba menulis tentang bapak. Tulisan ini aku buat tahun lalu, sekitar bulan Juli 2007 dan ini re-posting di milis ESKA. Sebelumnya memang sudah pernah aku posting di sini.
Untuk Fety, selamat membaca :)semoga bermanfaat
Kangen Fety, euy :)

wassalam

Novi :)

BUKAN DENGAN PENYESALAN Noviyanti Utaminingsih       Andai aku tahu kalau momen wisuda adalah momen membanggakan terakhir dalam hidupnya... Andai aku tahu keluarnya aku dari pekerjaan adalah sesuatu yang menyakitkan bagi dia... Andai aku tahu naskah-naskah yang ditulisnya malam itu adalah naskah terakhirnya... Andai aku tahu pada hari itu adalah pernyataan maaf terakhirnya kepada ibu...   Andai aku tahu......... ***   Bila kutahu bapak sangat bahagia ketika aku  diwisuda... Aku
akan terus memerhatikan mimik dan cara dia menatapku dengan kebanggaan,
menyimpan momen itu dalam salah satu lembaran terindah dalam hidupku...   Bila kutahu ketika kuputuskan keluar dari pekerjaan adalah hal yang menyakitkan... Aku
tak akan keluar dari pekerjaan, menyingkirkan rasa egois dan bertahan
di tempat yang kurang aku sukai demi senyuman kebanggaannya...   Bila kutahu naskah itu adalah naskah terakhirnya... Aku
akan memegang erat naskah itu dan menuliskan dengan sebaik yang aku
bisa. Tak akan menunda tugas-tugas yang diberikannya dan berusaha untuk
tidak mengecewakan karena keegoisan dan kemalasanku...   Bila kutahu ucapan maaf pada ibu adalah pertanda... Aku akan memeluknya erat dengan penuh rasa cinta kasih dan tidak akan membiarkan dia pergi...   Tapi aku tak tahu dan tak pernah tahu kalau hari itu dia akan pergi untuk selamanya...     ***  "Bapak,
sudah meninggal, Nop" Ujar buleku saat itu di ruang resustasi, IGD,
RSCM Jakarta. Baru saja aku mengambil sarung di tas yang aku letakkan
di sudut ruang itu, bapak sudah menghembuskan napasnya untuk terakhir
kali. Aku cuma diam tak percaya, seolah bumi berputar begitu cepat.
Ingin rasanya pingsan. Aahhh..., tapi belum berapa detik aku merasa
terhempas dari tubuhku, kakak perempuanku, mbak pipit, sudah memanggilku  "Nop,
ibu, Nop...." Aku pandangi ibu yang terus berucap "Bapak baik, ya Nop,
bapak baik..." Aku hampiri beliau yang tengah terduduk. Menenangkan
dirinya. Saat itu, aku seperti tidak punya waktu sendiri tenggelam
dalam kesedihanku. Aku melihat semua orang di ruang itu, ibu, bude,
pakdeku, kakakku yang tengah bersedih dan terisak-isak.... Aku seperti
tidak bisa merasakan kesedihanku. Aku dalam kesadaran menatap semua
orang menangis, aku sendiri seperti tidak mampu. Ya Allah kuatkan
aku... Ya Allah, beliau benar-benar sudah pergi... begitu cepat, sangat cepat padahal baru tadi pagi bapak berpamitan... ***   "Nov, ayo makan" ujar tetanggaku. Dari semalam aku sudah tak makan. Aku tidak bisa makan. Kuterima makanan itu dan mencoba  melahapnya. Sesekali teman-teman menghiburku dan mengajakku bicara. "Lihat Novi begini, jadi tenang..." "Alhamdulillah, lihat Novi kuat, ya.." ujar temanku saat itu. Seandainya
kamu tahu, kawan...hati ini begitu rapuh, tak kuat, bukannya aku tak
rela, tapi aku justru merasa bersalah karena telah banyak mengecewakan
beliau... ahhhh seandainya waktu bisa terulang, harapku. ***   Sepeninggal bapak, hari-hari yang kulalui terasa panjang, setiap detik waktu yang kulalui hanya berisi penyesalan. Kalau
di mata orang aku sepertinya sanggup dengan ketegaranku. Dalam
kesendirian, aku benar-benar terpuruk, aku mengingat dan terus
mengingatnya... Iseng-iseng menelpon ke hp-nya dengan sebelumnya
mematikan hp tersebut agar aku bisa mendengar suaranya pada mailbox. Terbayang wajahnya,  senyumnya, ketegasannya dengan sangat jelas. Terbayang
dirinya yang tengah bekerja, pulang pergi dengan motornya ke sekolah
tempat beliau mengajar. Terbayang dirinya tengah menulis naskah, duduk
di depan meja, sambil sesekali membaca dan bertanya. Terbayang dirinya
ketika kami solat berjamaah, terbayang dirinya dengan baju koko, sarung
dan peci menuju masjid, tak pernah ketinggalan mengikuti jamaah solat
wajib. Sosoknya
benar-benar selalu hadir, semangatnya pun masih bisa kurasakan. Bekerja
sebagai guru SD hingga uban mulai memenuhi rambutnya, menjalankan usaha
bisnis buku pelajaran yang akhirnya gulung tikar, menulis
berpuluh-puluh naskah buku pelajaran, walau ada beberapa tanpa namanya,
mengkoordinir para guru untuk menulis, berceramah di masjid, bersekolah
S1 di usianya yang sudah tidak lagi muda. Aktif di beberapa organisasi.
Pergi malam-malam untuk belajar bahasa arab dan segala kegiatan
lainnya... Wajahnya
yang begitu keras namun penuh dengan kewibawaan, berkesan galak dengan
alis tebalnya yang menghias wajahnya namun juga penuh senyuman..... Dia
bapakku, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, aku begitu
mengaguminya dan mencintainya, walau aku sadar kalau aku pernah tidak
menyukainya karena kegoisanku. Kini, aku hanya bisa menyesal, ternyata
aku pun banyak mengecewakannya. Waktu menjawab kalau dia menginginkan
yang terbaik untuk aku, untuk kami... Kenapa aku baru menyadari semua yang telah beliau lakukan pada kami setelah dia pergi... Kenapa aku tak pernah memberikan yang terbaik untuknya, aku lebih sering menuntut dan menuntut... Kenapa, ya Allah... ***   Hingga setahun setelah kematiannya... Nanar
mata ini menatap perempatan Jalan Matraman dari jendela bis saat lampu
merah. Kalau kemarin, ketika aku harus memburu waktu, aku akan kesal
dengan lampu merah yang seolah cepat sekali datang. Akan tetapi, hari
ini...kubiarkan diriku larut dalam lamunan menatap secara detail jalan,
sisi jalan, trotoar sambil terus berpikir. Dimana dia? Bagaimana bisa
terjadi? Fiyuhhh......setahun
sudah kejadian itu, masih saja aku larut dalam rasa sesal...rasa sedih
dan rasa kehilangan... terus kuperhatikan jalan itu, trotoar pemisah
jalan...4 arah yang mengelilingi jalan... Di sinilah bapak mengalami
kecelakaan...yang merengut nyawanya... ya Allah.....membayangkannya
saja membuat hati ini makin sakit, mengingatnya membuat hati terasa
tercekik dan aaah.... aku tak kuasa menetes air mata, menebak-nebak
kejadian itu. Siapa yang sangka setahun setelah kejadian, aku harus
melalui jalan ini dua kali sehari setiap harinya. Kenapa Allah membiarkan aku terus mengingat dia dalam rasa sesal, terus menunjukkan kehadirannya dengan rasa sedih ***  "Di
depan mataku, Nov, ayah kena serangan jantung, aku sama ibu bingung, di
depan mata aku saat kita sarapan" ujar temanku bercerita tentang
ayahnya yang meninggal belum lama ini. Ya
Allah, ujianku tak seberapa, tak Kau biarkan aku melihat bapak dalam
kesakitan, tak Kau biarkan aku melihat dia dalam keadaan seperti itu...
Kau justru memperlihatkan kepadaku ketika dia tersenyum...              Aku
pun teringat ucapan ibu, "Kasihan kalau anak-anak masih pada kecil pas
ditinggal bapaknya. Alhamdulillah anak-anak sudah besar-besar, sudah
pada kerja..." Aku teringat temanku yang ditinggal bapaknya ketika
masih kecil. Sama sekali tak dirasakan kasih sayang seorang ayah dan
aku pun mengingat kembali cerita-cerita teman-teman yang ditinggal
orang tuanya... Kami
sangat beruntung, masih merasakan limpahan kasih sayang dan materi dari
bapak. Aku dan kedua kakakku bisa kuliah dan kehidupan kami, insya
Allah berkecukupan, bapak selalu berusaha keras untuk itu. Bahkan,
hingga hari ini royalti buku pelajaran yang bapak tulis 4 tahun lalu
masih mengalir kepada kami, mampu membantu kakak operasi sesar, menjadi
modal usahaku kerja di rumah dan membiayai kuliah kakak laki-lakiku di
Solo. Subhanalloh.....Astaghfirulloh......
Dia pergi dengan senyum, dia pergi sehabis menjalankan tugas mulia di
sebuah LPPTKA, dia pergi dengan mudah tanpa harus berlama-lama
kesakitan ditempeli berbagai alat kedokteran, dia pergi meninggalkan
kami tidak hampa dan yang terpenting dia meninggalkan dengan begitu
banyak pelajaran untuk aku, untuk kami. Tak
ada yang perlu disesali dengan kepergiannya. Bukankah hari ini aku
telah mampu merasakan semangat dan cintanya dalam belajar, berkarya dan
bekerja. Saat
ini aku telah bekerja, pekerjaan yang tak pernah jauh dari hal yang
berhubungan dengan pengelolaan naskah, mengingatkanku pada semangat
beliau menulis naskah buku pelajaran hingga larut, mengingatkanku pada
saat aku mendampinginya, mengetik naskahnya, dan sedikit membantu
mengeditnya. Mengingatkan aku pada ucapan beliau kepada ibu  beberapa
waktu sebelum meninggal, ketika hingga malam, bapak masih saja berkutat
dengan naskahnya... "Yang penting saya prestasinya aja." Subhanallah,
pak rupanya bapak tengah menghimpun bekal, mengumpulkan prestasi. Moga
aku juga mampu. Tanpa rencana, aku diberi kempatan untuk kuliah  agama
di sebuah pesantren terbuka, merasakan semangat belajar beliau semasa
hidup hingga ajal menjemputnya. Begitu mudah kudapatkan buku-buku
langka yang kubutuhkan dalam lemari bukunya. Tak seharusnya aku mengingat beliau dengan penyesalan...   ***   Kau
biarkan aku selalu mengingatnya bukan untuk menyesal, tak rela dan
terus menangisi kepergiannya, tapi kau biarkan aku untuk bersyukur
karena pernah mendapat limpahan kasihnya yang selalu membekas di hati. Kau biarkan aku terus mengingatnya  ketika aku belajar, bekerja dan berkarya dengan semangat dan cintanya *** Andai ku tahu... mungkin aku tidak akan sanggup berdiri tegak saat itu, mungkin aku tak akan mampu merelakan kepergiannya, mungkin aku tak akan bisa mengambil hikmah atas semua, mungkin aku tak akan mendapat pelajaran paling berharga dalam hidupku betapa cinta dan kasihnya begitu tulus dan mulia....   ---Selesai---
tulisan ini diikutkan lomba ini
http://bundaelly.multiply.com/journal/item/109/Menulis_Tentang_Bapak_Yuk

novi_khansa'kreatif
~Graphic Design 4 Publishing~
YM : novi_ningsih
http://akunovi.multiply.com
http://novikhansa.rezaervani.com/

5.

Bls: [sekolah-kehidupan] [catcil] Tulisan ttg Bapak ("BUKAN DENGAN P

Posted by: "dyah zakiati" adzdzaki@yahoo.com   adzdzaki

Tue Oct 14, 2008 9:45 pm (PDT)

Noviiii
tulisan kamu mengharubirukan hatiku. Hiksssss

----- Pesan Asli ----
Dari: novi khansa' <novi_ningsih@yahoo.com>
Kepada: sekolah kehidupan <sekolah-kehidupan@yahoogroups.com>
Terkirim: Rabu, 15 Oktober, 2008 11:37:19
Topik: [sekolah-kehidupan] [catcil] Tulisan ttg Bapak ("BUKAN DENGAN PENYESALAN")

Assalamu'alaykum
Ini tulisan yang aku ikutkan pada lomba menulis tentang bapak. Tulisan ini aku buat tahun lalu, sekitar bulan Juli 2007 dan ini re-posting di milis ESKA. Sebelumnya memang sudah pernah aku posting di sini.

Untuk Fety, selamat membaca :)
semoga bermanfaat

Kangen Fety, euy :)

wassalam

Novi :)

BUKAN DENGAN PENYESALAN
Noviyanti Utaminingsih



Andai aku tahu kalau momen wisuda adalah momen membanggakan terakhir dalam hidupnya...
Andai aku tahu keluarnya aku dari pekerjaan adalah sesuatu yang menyakitkan bagi dia...
Andai aku tahu naskah-naskah yang ditulisnya malam itu adalah naskah terakhirnya. ..
Andai aku tahu pada hari itu adalah pernyataan maaf terakhirnya kepada ibu...

Andai aku tahu........ .
***

Bila kutahu bapak sangat bahagia ketika aku diwisuda...
Aku
akan terus memerhatikan mimik dan cara dia menatapku dengan kebanggaan,
menyimpan momen itu dalam salah satu lembaran terindah dalam hidupku...

Bila kutahu ketika kuputuskan keluar dari pekerjaan adalah hal yang menyakitkan. ..
Aku
tak akan keluar dari pekerjaan, menyingkirkan rasa egois dan bertahan
di tempat yang kurang aku sukai demi senyuman kebanggaannya. ..

Bila kutahu naskah itu adalah naskah terakhirnya. ..
Aku
akan memegang erat naskah itu dan menuliskan dengan sebaik yang aku
bisa. Tak akan menunda tugas-tugas yang diberikannya dan berusaha untuk
tidak mengecewakan karena keegoisan dan kemalasanku. ..

Bila kutahu ucapan maaf pada ibu adalah pertanda...
Aku akan memeluknya erat dengan penuh rasa cinta kasih dan tidak akan membiarkan dia pergi...

Tapi aku tak tahu dan tak pernah tahu kalau hari itu dia akan pergi untuk selamanya...

__________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
6.

Bls: [sekolah-kehidupan] Re: (Catcil) Pagi ini di Kota Seribu Daun

Posted by: "dyah zakiati" adzdzaki@yahoo.com   adzdzaki

Tue Oct 14, 2008 9:52 pm (PDT)

Setujuuuu ^_^ nanti kalau aku ke Bandung aku pinjam ya Sin. Mungkin di Chiba sana lebih kondusif naik sepeda ke kampus ya mbak Fety. Aku jadi ingat dari Matraman pertama kali bisa naik sepeda langsung nekat ke Kampus di Rawamangun. Aseeeep euy, debu. Plus diklaksonin sama kendaraan di belakang yang benar-benar ndak sabaran di tengah rimba kota. Makanya sejak itu aku paling ndak suka mengklakson orang kalau naik Columbus (secara klaksonnya juga rusak kayaknya ^_^)

----- Pesan Asli ----
Dari: inga_fety <inga_fety@yahoo.com>
Kepada: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Terkirim: Rabu, 15 Oktober, 2008 10:50:13
Topik: [sekolah-kehidupan] Re: (Catcil) Pagi ini di Kota Seribu Daun

Sint, kata-katamu benar keindahan selalu muncul jika kita berfikir
positif. ayo sint beli sepeda. Di Chiba kemana-mana naik sepeda,
padahal sejak tamat SMU naik sepeda hampir tidak pernah. Tapi di sini,
pengendara sepeda didulukan. tempat mengendarainya aja cuku lebar. Ayo
sint beli sepeda:)

miss u too,
fety

--- In sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com, ukhti hazimah
<ukhtihazimah@ ...> wrote:
>
> Kisah yang indah mbak :)jadi menambah minatku buat beli sepeda,
waaaaaahhh.. ..pasti seru tuh klo pagi-pagi mengayuh sepeda keliling
perumahan sembari menghirup udara pagi.
> miss u!!:sinta:
> Keindahan selalu muncul saat kepala manusia berpikir positif
> ^_^
>
> www.sinthionk. rezaervani. com
> www.sinthionk. multiply. com YM: sinthionk
>
> --- On Wed, 10/15/08, inga_fety <inga_fety@. ..> wrote:
> From: inga_fety <inga_fety@. ..>
> Subject: [sekolah-kehidupan] (Catcil) Pagi ini di Kota Seribu Daun
> To: sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com
> Date: Wednesday, October 15, 2008, 1:02 AM
>
>
>

__________________________________________________________
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
7a.

Re: Selamat untuk Nopi

Posted by: "ukhti hazimah" ukhtihazimah@yahoo.com   ukhtihazimah

Tue Oct 14, 2008 9:56 pm (PDT)

telat gak seh ngucapin sekarang?? baru rajin lagi nengokin milis neh ^_^sist, selamat yah...dikau makin keren ajah, tambah sulit neh ngejarnya ;P
:sinta:
Keindahan selalu muncul saat kepala manusia berpikir positif
^_^

www.sinthionk.rezaervani.com
www.sinthionk.multiply.com YM: sinthionk

--- On Tue, 10/14/08, Rini Agus Hadiyono <rinurbad@yahoo.com> wrote:
From: Rini Agus Hadiyono <rinurbad@yahoo.com>
Subject: [sekolah-kehidupan] Selamat untuk Nopi
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Tuesday, October 14, 2008, 5:12 AM

Selamat, Nopi, atas prestasimu meraih juara 2 Lomba Menulis Tentang

Bapak.

maaf nggak bisa posting panjang lebar, kuota terbatas nih:)

semoga Nopi makin semangat berkarya, amin.

terus menulis ya,

Rinurbad















8a.

Re: Proyek "Laskar Pelangi" dan Buku Kumcer "IBUNDA" -> Pak Sinang

Posted by: "fil_ardy" fil_ardy@yahoo.com   fil_ardy

Tue Oct 14, 2008 10:10 pm (PDT)

Lapor Pak Sinang, Ketua SK ke 2 sedang terbaring lemah tak berdaya.
Sudah 3 hari ini saya terserang diare, badan lemas, mual, kepala
pusing dan lain-lain.

Selepas mudik dari Ponorogo. saya masih harus menyesuaikan ritme
pekerjaan di kantor yang menumpuk dan menunggu untuk diselesaikan,
sehingga tidak bisa begitu responsip atas issue hangat di SK. Dan
pekan kedua setelah lebaran malah terserag diare, sudah 2 hari nggak
masuk kantor.

Tapi walau bagaimana, saya tetap menerima laporan dari sekretaris SK.
Sehingga saya bisa terus memantau. Untuk proyek2 yang Bapak usulkan,
insyaAllah kami akan kordinasikan dengan departemen Penerbitan dan
kepustakaan SK yang dikepalai oleh Mbak Novi. Karena bagaimanapun,
kepengurusan SK juga sudah membuat planning-planing sputar itu.

Jawaban ini sekaligus instuksi kordinasi dari ketua SK kepada
departemen penerbitan dan kepustakaan SK untuk mengagendakan hal,
tersebut.

Mohon doa dari sahabat SK semuanya agar saya segera pulih dan bisa
kembali beraktifitas sebagaimana biasanya.

Hatur nuhun.

DANI

In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "Pandika Sampurna"
<pandika_sampurna@...> wrote:
>
> Apa kabar Bang Nursalam?
>
> Ini Ketua ESKA Pertama lebaran kemana aja ya, kalau ditantang baru
> deh muncul. Ya silahkan mendaftar, saya yakin pasti bakal muncul
> novel hebat.
>
> Ngomong-ngomong Ketua ESKA Kedua kemana aja ya. Nada-nadanya masih
> asyik berlebaran di kampung.
> Eh Kang Dani cepetan kita atur program buat novel perdana anak-anak
> ESKA. Bisa kan?
>
> Saya usul juga bagaimana dalam rangka memperingati hari ibu tgl. 22
> Desember nanti kita luncurkan buku kumcer dengan judul "IBUNDA".
> Buku ini baiknya berisi 20 cerita terpilih tentang ibu-ibu kita
> semua.
> Bagaimana anak-anak ESKA, silahkan buat cerita nyatanya masing-
> masing. Nanti Kang Dani dan yang lain-lain akan mengatur semua dan
> siapa saja yang berkenan untuk menseleksinya.
>
> Bagaimana Kang Teha, Lia, Retno, dan lain-lain?

8b.

Re: Proyek "Laskar Pelangi" dan Buku Kumcer "IBUNDA"

Posted by: "yudhi mulianto" yudhi_sipdeh@yahoo.com   yudhi_sipdeh

Wed Oct 15, 2008 1:53 am (PDT)


Semoga Kang Dani lekas sembuh :-)
dan bisa lebih aktif lagi.

Proyek buku yang Pak Sinang usulkan sangat menarik sekali untuk diwujudkan.

Saya mendukung usul Bapak tersebut.

salam

yudhi

On Wed, 10/15/08, fil_ardy <fil_ardy@yahoo.com> wrote:

From: fil_ardy <fil_ardy@yahoo.com>
Subject: [sekolah-kehidupan] Re: Proyek "Laskar Pelangi" dan Buku Kumcer "IBUNDA" -> Pak Sinang
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Wednesday, October 15, 2008, 1:10 AM

Lapor Pak Sinang, Ketua SK ke 2 sedang terbaring lemah tak berdaya.̢۬Sudah 3 hari ini saya terserang diare, badan lemas, mual, kepala̢۬pusing dan lain-lain.̢̢۬۬Selepas mudik dari Ponorogo. saya masih harus menyesuaikan ritme̢۬pekerjaan di kantor yang menumpuk dan menunggu untuk diselesaikan,̢۬sehingga tidak bisa begitu responsip atas issue hangat di SK. Dan̢۬pekan kedua setelah lebaran malah terserag diare, sudah 2 hari nggak̢۬masuk kantor.̢̢۬۬Tapi walau bagaimana, saya tetap menerima laporan dari sekretaris SK.̢۬Sehingga saya bisa terus memantau. Untuk proyek2 yang Bapak usulkan,̢۬insyaAllah kami akan kordinasikan dengan departemen Penerbitan dan̢۬kepustakaan SK yang dikepalai oleh Mbak Novi. Karena bagaimanapun,̢۬kepengurusan SK juga sudah membuat planning-planing sputar itu. ̢̢۬۬Jawaban ini sekaligus instuksi kordinasi dari ketua SK kepada̢۬departemen penerbitan dan kepustakaan SK untuk mengagendakan hal,̢۬tersebut.̢̢۬۬Mohon doa
dari sahabat SK semuanya agar saya segera pulih dan bisa̢۬kembali beraktifitas sebagaimana biasanya.̢̢۬۬Hatur nuhun.̢̢۬۬DANI̢̢۬۬In sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com, "Pandika Sampurna"̢۬pandika_sampurna@ ...> wrote:̢۬
Apa kabar Bang Nursalam?̢۬
Ini Ketua ESKA Pertama lebaran kemana aja ya, kalau ditantang baru ̢۬deh muncul. Ya silahkan mendaftar, saya yakin pasti bakal muncul ̢۬novel hebat.̢۬
Ngomong-ngomong Ketua ESKA Kedua kemana aja ya. Nada-nadanya masih ̢۬asyik berlebaran di kampung.̢۬Eh Kang Dani cepetan kita atur program buat novel perdana anak-anak ESKA. Bisa kan?̢۬
Saya usul juga bagaimana dalam rangka memperingati hari ibu tgl. 22 ̢۬Desember nanti kita luncurkan buku kumcer dengan judul "IBUNDA".̢۬Buku ini baiknya berisi 20 cerita terpilih tentang ibu-ibu kita ̢۬semua.̢۬Bagaimana anak-anak ESKA, silahkan buat cerita nyatanya masing-̢۬masing. Nanti Kang Dani dan yang lain-lain akan mengatur semua dan ̢۬siapa saja yang berkenan untuk menseleksinya.̢۬
Bagaimana Kang Teha, Lia, Retno, dan lain-lain?

--- Pada Sen, 13/10/08, Pandika Sampurna <pandika_sampurna@ yahoo.com> menulis:
Dari: Pandika Sampurna <pandika_sampurna@ yahoo.com>
Topik: [sekolah-kehidupan] (Tantangan): Proyek "Laskar Pelangi"
Kepada: sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com
Tanggal: Senin, 13 Oktober, 2008, 12:31 PM

Teman-teman ESKA Yth.,

Berikut saya sampaikan 2 (dua) buku yang bagus untuk memulai belajar
menulis (bagi pemula), dan memperlancar strategi penulisan novel
bagi yang sudah mahir, yaitu:

1. "How to write and market a novel": Panduan bagi Novelis,
Pendidik, dan Industri Penerbitan.
Penulis: - R. Masri Sareb Putra
- Yennie Hardiwidjaja
Penerbit: Kolbu
Jln. Geger kalong Girang Baru No. 4
Bndung Telp. 022-2003235
email: editorialmqs@ mq.co.id

2. "Mencipta Sosok Fiktif" Yang Memikat dan Dipercaya Pembaca
Penulis: Orson Scott Card
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: MLC
Jln. Golf Barat X No. 2
Bandung Telp. 022-7103950
email: penerbit@mizanlc. com
Pemasaran: MIZAN

Silahkan, siapa yang sudah mulai tertarik untuk membuat novel atau
untuk menambah pengetahuan agar lebih lancar membuat novel, agar
mendaftar untuk mendapatkannya. Berhubung mungkin sulit untuk
mendapatkan secara langsung di toko buku di Jakarta, alangkah
baiknya teman-teman ESKA di Bandung dapat membantu mencarikan atau
menghubungi penerbit tersebut di atas.

Untuk yang siap membuat novel, silahkan mendaftar langsung ke email
saya atau Pengurus ESKA. Bilamana memungkinkan kita akan berikan
buku-buku panduan ini secara gratis.

Terima kasih.

Salam Hormat,
Pandika Sampurna

====

[sekolah-kehidupan] (Tantangan): Proyek "Laskar Pelangi
Dari: Pandika Sampurna <pandika_sampurna@ yahoo.com>
Topik: [sekolah-kehidupan] (Tantangan): Proyek "Laskar Pelangi"
Kepada: sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com
Tanggal: Senin, 9 Oktober, 2008, 12:31 PM

pandika_sampurna@ ...> wrote:

Para anggota Milis ESKA Yth.,
 
Sudah lebih dua tahun milis kita berjalan, ribuan tulisan berupa cerpen, nonfiksi, fiksi, dan cerita lainnya sudah bertaburan di milis ini. Enam buku antologi puisi dan cerita pendek sudah terbit, dan akan menyusul lebih banyak lagi ke depan.
 
Sekarang ada buku novel best seller "Laskar Pelangi" dan filmnya yang digandrungi oleh banyak orang untuk ditonton.
 
Bagaimana dengan anak-anak ESKA?
Mampukah membuat novel?
Mampukan menjadi penulis novel best seller?
 
Saya mencatat, sudah beberapa penulis di Milis ESKA yang membuat novel.
Tetapi bagaimana dengan yang lain?
 
Sekarang, kita bikin NOVEL yuk!
Setuju?
 
Ini TANTANGAN buat penulis ESKA semua.
Ini TANTANGAN buat Pengurus ESKA 2008-2010
 
Saya memimpikan satu atau dua tahun ke depan:
1. Sebagian besar penulis ESKA sudah membuat novel baik fiksi maupun nonfiksi.
2. Ada beberapa Penulis dari Milis ESKA yang membuat Novel Best Seller.
3. Paling tidak ada satu novel Penulis ESKA yang dibuat menjadi film.
4. Film tersebut bakal laris seperti kacang goreng.
 
Bagaimana, apakah siap?
Kalau semua setuju, baru bersama-sama kita akan atur bagaimana rencana pelaksanaannya, serta bagaimana agar proyek ini terlaksana dengan baik.
 
Meminjam judul novel dan film yang laris, dan menilai penulis ESKA yang banyak dan dengan kemampuan yang beragam, maka bagaimana kalau kita sebut pryoyek penulisan ini sebagai: Proyek "Laskar Pelangi".
 
Silahkan didiskusikan dan dibicarakan bersama.
 
Salam,
Pandika Sampurna

9.

Bls: [sekolah-kehidupan] Selamat untuk Nopi

Posted by: "dyah zakiati" adzdzaki@yahoo.com   adzdzaki

Tue Oct 14, 2008 10:14 pm (PDT)

Ikutan deh ^_^
Selamat ya Noviiiiiii tulisan kamu mang kereeeen. Aku terharu bangeeett. Selamat eeeuuuyyy

----- Pesan Asli ----
Dari: ukhti hazimah <ukhtihazimah@yahoo.com>
Kepada: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Terkirim: Rabu, 15 Oktober, 2008 11:56:00
Topik: Re: [sekolah-kehidupan] Selamat untuk Nopi

telat gak seh ngucapin sekarang?? baru rajin lagi nengokin milis neh ^_^
sist, selamat yah...dikau makin keren ajah, tambah sulit neh ngejarnya ;P

:sinta:

Keindahan selalu muncul saat kepala manusia berpikir positif
^_^

www.sinthionk. rezaervani. com
www.sinthionk. multiply. com
YM: sinthionk

--- On Tue, 10/14/08, Rini Agus Hadiyono <rinurbad@yahoo. com> wrote:

From: Rini Agus Hadiyono <rinurbad@yahoo. com>
Subject: [sekolah-kehidupan] Selamat untuk Nopi
To: sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, October 14, 2008, 5:12 AM

Selamat, Nopi, atas prestasimu meraih juara 2 Lomba Menulis Tentang
Bapak.

maaf nggak bisa posting panjang lebar, kuota terbatas nih:)

semoga Nopi makin semangat berkarya, amin.

terus menulis ya,
Rinurbad

__________________________________________________________
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
10.

Bls: [sekolah-kehidupan] Re: Proyek "Laskar Pelangi" dan Buku Kumcer

Posted by: "dyah zakiati" adzdzaki@yahoo.com   adzdzaki

Tue Oct 14, 2008 10:17 pm (PDT)

Syafakallah kang Dani. Semoga lekas sembuh. Semoga nanti tanggal 19 bisa datang ^_^.
Setuju euy ada proyek buku itu. Tapi harus kejar tayang sepertinya.

----- Pesan Asli ----
Dari: fil_ardy <fil_ardy@yahoo.com>
Kepada: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Terkirim: Rabu, 15 Oktober, 2008 12:10:52
Topik: [sekolah-kehidupan] Re: Proyek "Laskar Pelangi" dan Buku Kumcer "IBUNDA" -> Pak Sinang

Lapor Pak Sinang, Ketua SK ke 2 sedang terbaring lemah tak berdaya.
Sudah 3 hari ini saya terserang diare, badan lemas, mual, kepala
pusing dan lain-lain.

Selepas mudik dari Ponorogo. saya masih harus menyesuaikan ritme
pekerjaan di kantor yang menumpuk dan menunggu untuk diselesaikan,
sehingga tidak bisa begitu responsip atas issue hangat di SK. Dan
pekan kedua setelah lebaran malah terserag diare, sudah 2 hari nggak
masuk kantor.

Tapi walau bagaimana, saya tetap menerima laporan dari sekretaris SK.
Sehingga saya bisa terus memantau. Untuk proyek2 yang Bapak usulkan,
insyaAllah kami akan kordinasikan dengan departemen Penerbitan dan
kepustakaan SK yang dikepalai oleh Mbak Novi. Karena bagaimanapun,
kepengurusan SK juga sudah membuat planning-planing sputar itu.

Jawaban ini sekaligus instuksi kordinasi dari ketua SK kepada
departemen penerbitan dan kepustakaan SK untuk mengagendakan hal,
tersebut.

Mohon doa dari sahabat SK semuanya agar saya segera pulih dan bisa
kembali beraktifitas sebagaimana biasanya.

Hatur nuhun.

DANI

In sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com, "Pandika Sampurna"
<pandika_sampurna@ ...> wrote:
>
> Apa kabar Bang Nursalam?
>
> Ini Ketua ESKA Pertama lebaran kemana aja ya, kalau ditantang baru
> deh muncul. Ya silahkan mendaftar, saya yakin pasti bakal muncul
> novel hebat.
>
> Ngomong-ngomong Ketua ESKA Kedua kemana aja ya. Nada-nadanya masih
> asyik berlebaran di kampung.
> Eh Kang Dani cepetan kita atur program buat novel perdana anak-anak
> ESKA. Bisa kan?
>
> Saya usul juga bagaimana dalam rangka memperingati hari ibu tgl. 22
> Desember nanti kita luncurkan buku kumcer dengan judul "IBUNDA".
> Buku ini baiknya berisi 20 cerita terpilih tentang ibu-ibu kita
> semua.
> Bagaimana anak-anak ESKA, silahkan buat cerita nyatanya masing-
> masing. Nanti Kang Dani dan yang lain-lain akan mengatur semua dan
> siapa saja yang berkenan untuk menseleksinya.
>
> Bagaimana Kang Teha, Lia, Retno, dan lain-lain?

Jatuh cinta itu seperti apa ya rasanya? Temukan jawabannya di Yahoo Answers!
11a.

Re: Menempatkan Gerobak di Muka Kuda

Posted by: "ukhti hazimah" ukhtihazimah@yahoo.com   ukhtihazimah

Tue Oct 14, 2008 11:50 pm (PDT)

hehehe...agak susah mencerna tulisannya, dan aku butuh membaca beberapa kali [ato aku yang rada oon]. Akhirnya sebuah kata muncul di kepala "OPTIMIS", just make sure, apakah maksud dari tulisan ini untuk membangkitkan keoptimisan dalam hidup??Tapi yang tetap jadi pertanyaan, hubungan antara ungkapan dan isi tulisannya apa ya??tfs mbak bella [cewek kan? ;P]
:sinta:
Keindahan selalu muncul saat kepala manusia berpikir positif
^_^

www.sinthionk.rezaervani.com
www.sinthionk.multiply.com YM: sinthionk

--- On Mon, 10/13/08, Bella Lamonde <bellalamonde@yahoo.com> wrote:
From: Bella Lamonde <bellalamonde@yahoo.com>
Subject: [sekolah-kehidupan] Menempatkan Gerobak di Muka Kuda
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Monday, October 13, 2008, 8:07 AM

Menempatkan Gerobak di Muka Kuda

 

"Anda tidak menyanyi karena Anda bahagia; Anda bahagia karena Anda
menyanyi?"

 

Apa makna ungkapan itu? Cara kita merasakan sesuatu sampa batas yang
sangat besar bisa menentukan cara kita bertindak. Dengan kata lain, sebagai
individu, kita memiliki daya untuk mengubah dan memperbaiki keadaan yang
terus-menerus kita hadapi dalam kehidupan. Ini disebut Hukum Konsistensi. Hukum
ini akan bekerja jika kita menetapkan perubahan yang ingin kita capai, lalu
kita mengembangkan sikap mental untuk menanggapi keadaan baru yang ingin kita
alami. Ini seperti "menempatkan gerobak di muka kuda". Misalkan, kita
menetapkan sasaran perbaikan pada kondisi keuangan kita. Untuk menyiapkan
memperkuat gambaran mental yang kita siapkan tentang keadaan yang lebih baik,
keluarkanlah uang sedikit lebih banyak untuk membeli sesuatu daripada yang
biasanya kita keluarkan. Kadang-kadang kita perlu menikmati makan siang yang
sedikit lebih mahal. Ini merupakan tindakan positif yang akan membuktikan bahwa
kita yakin hasil yang kita inginkan pasti tercapai.

 

Sambil merenungkan nasihat di atas, klik www.hp.co.id/ supplies2point4

 

Salam,















12a.

Re: (Rampai) Kinestetis Lensa Cinta

Posted by: "ukhti hazimah" ukhtihazimah@yahoo.com   ukhtihazimah

Tue Oct 14, 2008 11:58 pm (PDT)

WOW!! mas, lulusan IPA ya? ato guru IPA? kayaknya seru kalo dipertemukan ma Agus Musthofa [yang penulis Pusaran Energi Ka'bah hehehe...]:sinta:

Keindahan selalu muncul saat kepala manusia berpikir positif
^_^

www.sinthionk.rezaervani.com
www.sinthionk.multiply.com YM: sinthionk

--- On Mon, 10/13/08, setyawan_abe <setyawan_abe@yahoo.com> wrote:
From: setyawan_abe <setyawan_abe@yahoo.com>
Subject: [sekolah-kehidupan] (Rampai) Kinestetis Lensa Cinta
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Monday, October 13, 2008, 7:56 AM

Bayangmu ada tepat di titik fokus hatiku

Nyata, tegak, diperbesar,

Maksimus.

Menuntut pantulan cahaya mencahaya berenergi,

Cintaku lebih besar dari bilangan

avogadro. Asbab dilimit milliu terdorong paksa.********

Walau jarak kita bagai Bumi dan Pluto saat

aphelium. Amplitudo resonansi hatimu

berinterfensi pada hatiku Seindah harmoni

Harapkan pada gaya
dengan kecepatan angular yang tak

terbatas.********

Mekanika energi cintaku tak terbendung hatta oleh friksi.

Energi potensial cintaku akankah terekspresi

yang tak terpengaruh oleh

tetapan gaya
kecuali gayaNya (?)Energi kinetik cintaku pada cita = -mv~Asakan hukum kekekalan energi sunatullahMenandingi hukum kekekalan diantara kita*********
Assalamu'alaikum
Arief















13a.

[prestasi] Pemenang resensi maximum ride???

Posted by: "ukhti hazimah" ukhtihazimah@yahoo.com   ukhtihazimah

Wed Oct 15, 2008 1:49 am (PDT)

Selamaaaaaaaaaaatttt buat Mbak Rini!! Dikau memang keren. Kenapa keren?? Karena menang resensi buku Maximum Ride [yang suka novel fantasi, daku rekomendasiin nih buku ;P]Dan Taraaa....mau donk voucher bukunya hihihihihi:sinta:Keindahan selalu muncul saat kepala manusia berpikir positif
^_^

www.sinthionk.rezaervani.com
www.sinthionk.multiply.com YM: sinthionk

13b.

Re: [prestasi] Pemenang resensi maximum ride???

Posted by: "Rini Agus Hadiyono" rinurbad@yahoo.com   rinurbad

Wed Oct 15, 2008 2:34 am (PDT)

Hehehe..Sinta nan hueboh dan ceria,
makanya jangan kelamaan nongkrongin si kuning..baca, Non:p

Makasih makasih banyak ya..
bagi vouchernya? Aku juga rebutan nih sama Mas Agus.

hayuk..!! membaca lagi, menulis lagi..

14.

Nderek Nepangaken

Posted by: "supriyadi_karanganyar" supriyadi_karanganyar@yahoo.co.id   supriyadi_karanganyar

Wed Oct 15, 2008 1:53 am (PDT)

My name is Supriyadi. I was born on 8th of June 1980. I live in
Semarang, but I was staying in one boarding house in Solo. When I
was 9 months old, my parents divorced. My father is now stay in his
hometown Purwokerto with my grandmother. My mother stay in Bali with
her new husband and children.
After my parents divorced, I live with my uncle. When I was
graduated from Junior High School, my uncle told that i could not
continue my study because he did not have money. After that I asked
my teacher, and I get information if I would go to study in Senior
High School, I could go to orphanage in Solo. After this I live in
orphanage and I studying in Senior High School. I graduated from
Senior High School in 1999. Because I didn't have much money for
enrolling to University, I was applying as customer service in one
of supermarket in Yogyakarta. In 2001, two years after I graduated
from Senior High School, I was going to collage in Islamic State
Universiy of Yogyakarta and graduated in 2005.
Rightnow, I am stay in Semarang because I get the job in one of
Education NGO in Semarang as an ICT Assistant, InsyaAlloh until
2010. After this, I will come to Solo for teaching in one of
favorite elemenetary school in Solo. I hope I get married soon,
because I am 28 years old and all my friend have already married an
have children. He he he. Thanks for reading my live story.

15a.

Keajaiban Penyembuhan Alami dari Dalam Diri

Posted by: "karina.biodi" karina.biodi@yahoo.com   karina.biodi

Wed Oct 15, 2008 1:53 am (PDT)

Keajaiban Penyembuhan Alami dari Dalam Diri

------------ --------- --------- --------- --------- --------- ------
Kutipan :
"The natural healing force within each of us is the greatest force in
getting well." -Hippocrates-
(terjemahan bebas: Kekuatan penyembuhan yang terjadi secara alami
dari dalam diri adalah kekuatan terbesar untuk mendapatkan kesembuhan)
------------ --------- --------- --------- --------- --------- ------

Sudah berapa lamakah penyakit yang diderita tidak kunjung hilang?
Seberapa pentingkah arti kesehatan & kebugaran untuk kita?

Kutipan dari Hipocrates di atas mengingatkan bahwa tubuh kita
sebenarnya mampu menyembuhkan diri sendiri (self healing) secara
alami, dan kekuatan itulah ternyata yang terbesar.

Perusahaan kami menyediakan solusi paduan teknologi nano & scalar,
yang dikemas dalam bentuk Benda Mineral (ditemukan oleh Prof.dr.Ian
Lyons, seorang ilmuwan & dokter ahli bedah dari Jerman), untuk
membantu agar tubuh bisa kembali secara alami memperbaiki sendiri
(Self Healing) bagian2 tubuh yang terkena berbagai gangguan, seperti: alergi, asam
lambung, migrain, autis, gangguan ginjal, diabetes, kolesterol, asam urat, gangguan
jantung, hipertensi, kanker, tumor, stroke, anemia, dan berbagai jenis
gangguan tubuh lainnya.

Terbuat dari mineral2 alam yang telah dilebur tingkat tinggi dan
diikat dalam kaca Schott. Telah teruji secara medis serta mendapatkan
sertifikasi secara internasional dari Prognos Jerman, IHM Masaru Emoto / Jepang, PSB
Singapore, Holistic Center Dr. med. Manfred Doepp / Jerman.

Cara Penggunaan :
------------ --------- -
1. Pada tubuh: letakkan Benda Mineral pada bagian tubuh yang
sakit atau masukkan dalam saku baju/celana.
Kegunaan : Membantu tubuh untuk bisa Self Healing (menyembuhkan diri
sendiri)
2. Pada air/cairan: tempelkan atau tuangkan air melalui Benda
Mineral.
Kegunaan : Merubah struktur molekul air menjadi air ber-energi yang
memiliki resonansi sama dengan air2 penyembuh di dunia.
3. Pada makanan: letakkan makanan (termasuk sayuran/buah2an) di
atas Benda Mineral.
Kegunaan : Membuang zat2 yang tidak berguna dari
makanan

Manfaat keseluruhan :
- Membantu mempercepat proses penyembuhan
- Membersihkan racun2 dari dalam tubuh
- Melancarkan peredaran darah
- Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
- Memperbaiki metabolisme
- Meningkatkan stamina
- Menyeimbangkan energi dalam tubuh
- Mengurangi stress
- Meningkatkan kualitas tidur
- Menyegarkan kulit
- Meningkatkan kualitas makanan dan minuman
- Merubah air dan makanan menjadi lebih ber-energi

Spesifikasi Produk :
- Bentuk : Kaca Bundar Lempeng
- Ukuran : Diameter 9 cm, ketebalan 10mm
- Buatan : Jerman
- Sertifikasi : Prognos (Jerman), IHM Masaru Emoto (Jepang), PSB (Singapore), Holistic
Center (Jerman)

Hubungi : 021-70440712 atau 081-399-828841
(Dibuka kesempatan utk jadi Distributor di bbrp kota besar)

Disediakan THERAPY GRATIS hanya untuk yang membutuhkan.

16a.

Kolom Kamisan: GANTI GIGI

Posted by: "hasan aspahani" hasanaspahani@yahoo.com   hasanaspahani

Wed Oct 15, 2008 1:53 am (PDT)

Ganti Gigi

Kolom Kamisan
Oleh Hasan Aspahani
Pemimpin Redaksi Batam Pos

SAYA bukan manajer yang baik bagi gigi-gigi saya. Manajemen pergigian saya kacau. Tidak, saya bukan ingin bikin pengakuan bahwa saya orang yang malas menggosok gigi. Saya menggosok gigi sama dengan orang lain. Tapi saya harus akui bahwa gigi saya bukanlah bagian yang bisa saya banggakan.
Sejak kecil gigi susu saya sudah tidak beres. Ini pasti gara-gara keseringan menggugut tebu. Di kampung dulu kami makan tebu dan mangga dengan langsung mengupasnya dengan gigi, tanpa pisau, lalu mengunyahnya langsung seperti mesin giling. Bayangkan kulit tebu yang keras itu beradu dengan gigi-gigi susu kami. Lama-lama rompal juga. Kebiasaan menggugut tebu dan mangga berlanjut sampai gigi-gigi baru kami tumbuh dan hasilnya sama saja, lapiran email gigi pun lama-lama menipis dan jebol juga akhirnya.
Kondisi pergigian kami pun tambah buruk karena bagi kami yang tinggal di kampung kawasan pesisir dulu tak ada pilihan untuk berkumur dan menyikat gigi kecuali air sumur yang payau atau air hujan. Karena berkumur dengan air payau sungguh tak nyaman, rasanya gigi tak kunjung bersih, pilihannya sering kali jatuh pada air hujan yang nol kalsium dan dengan kejam menggerus lapisan gigi. Akibatnya, ya sama juga, rata-rata orang kampung kami giginya tidak beres.
Gigi dewasa saya mulai tampak rapuh sejak SMA, dan ketika kuliah saya harus mengenakan gigi palsu. Gigi depan saya yang asli patah ketika mengudap tempe goreng bersalut tepung. Ini makanan murah dan gurih plus lauk yang bergizi. Sebenarnya alasan utama jatuh pada tempe karena ya murahnya itu. Mungkin karena keseringan makan tempe gigi saya protes, maka patahlah dia. Gigi saya yang patah itu sesungguhnya masih bisa ditambal karena patahnya kurang lebih separo saja. Tapi uang kuliah dan fotokopi diktat lebih penting daripada gigi. Biaya menambal gigi waktu itu sama dengan SPP setahun. Maka, dicarilah alternatif termurah: bikin gigi palsu. Patahan gigi yang tersisa dipotong habis tanpa dicabut. Saya harus membolos kuliah dua hari sampai gigi palsu itu jadi. Pada hari pertama dengan gigi baru itu, saya melangkah ke kampus sambil menghibur diri dengan mengatakan bahwa Ratu Elizabeth I dari Inggris dan Presiden George Washington dari Amerika Serikat adalah
tokoh yang memakai gigi palsu juga.
Bertahun-tahun saya hidup dengan satu gigi tambahan yang saya dapat dari tukang gigi di Bogor itu, sampai hari ini. Nah, sementara itu kerusakan pada gigi-gigi saya menjalar. Dua geraham bawah masing-masing di kiri dan kanan sudah lama dicabut juga. Kini dua geraham kiri atas dan dua geraham kanan atas juga tak bisa diselamatkan lagi.
Dan minggu-minggu ini saya pun berada di ruang dokter gigi lagi. Tak baik menakut-nakuti orang, tapi saya harus bilang berada di ruang dokter gigi itu seperti nonton film horor yang pemain korban utamanya kita sendiri. Dua kali kunjungan saya belum diperkenankan mencabut gigi sebab tekanan darah saya tinggi sekali. Mungkin karena tegang membayangkan bagian tubuh saya dilepas paksa, tekanan darah saya naik sampai 170. Setelah ditenangkan pun hanya turun sampai 150. Padahal saya punya kecenderungan darah rendah. Dua bulan sebelumnya, ketika cek tekanan darah saya hanya 90.
Bayangkan adegan 'horor' ini: saya hanya terbaring, dengan sorot lampu terang yang memaksa kita harus memejamkan mata - saya kira itulah fungsi utamanya, membuat silai pasien dan bukan untuk menerangi lorong mulut -, dengan mulut terbuka, dan terus terbuka selama gigi-gigi saya digarap. Saya tak bisa menyaksikan bagaimana alat-alat itu menjelajah gigi-gigi dan mulut saya. Saya hanya bisa mendengar suara bor, dan suara gigi dicongkel, dikerik, dan suara pengisap jika cairan di mulut saya telah penuh. Suara-suara menyeramkan itu, sialnya, terdengar amat jelas, sebab terjadinya di rongga kepala yang sama dan hanya beberapa senti dari gendang telinga.
Untungnya dokter dan asistennya yang mengurus gigi-gigi saya sekarang bisa mengurangi atmosfer horor itu. Sepanjang dua jam lebih berbaring - untuk menambal dua gigi pada kunjungan kedua saya malam kemarin - mereka ngobrol dan bertukar cerita macam-macam sambil sesekali menyebut-nyebut istilah medis yang tak saya mengerti tapi saya pastikan itu berkaitan dengan kondisi parah gigi-gigi saya. Komunikasi saya dengan mereka selama itu hanya dengan mengangkat tangan bila bor telah menyentuh ujung syaraf dalam gigi dan saat itulah terasa ngilu. Istri saya bilang, para dokter itu memang begitu. Ia dapat pengalaman itu dari dua kali operasi caesar. Pada operasi kedua, dia dibius separo. Dokter Iman T Rahman dan Dokter Joni Kurnadi (alm), sambil membedah malah ngobrol tentang orang demo dan akhirnya ngomong tentang makanan. Istri saya heran, di depan darah dan tembuni - yang lebih 'horor' itu - kok membicarakan makanan.
Dua jam setengah? Ya, itulah waktu yang diperlukan untuk menambal dua gigi depan saya. "Lama, Pak ya? Allah sekali kun fayakun jadi deh semua gigi kita, bagus lagi," kata Dokter Reffi yang seperti maestro seniman patung merekonstruksi gigi saya itu. Dalam hati saya, "ya, bagus dan Allah menggratiskan pula gigi-gigi bagus itu!" Ah, jadi ingat sebuah ayat Quran yang berulang-ulang menyebut, "nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?" Lewat nikmat gigi saja, saya tak akan pernah cukup mengucapkan rasa syukur.
Urusan gigi saya masih jauh dari beres. Saya harus beberapa kali lagi datang ke Apotik Vitka Farma tempat praktek dokter tersebut. Dan nanti setelah gigi terakhir yang harus disingkirkan telah dicabut, maka saya harus menunggu dua minggu sebelum merancang pelat gigi palsu yang baru.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya hidup pada tahun-tahun sekitar 700 SM. Pada tahun itulah, menurut penelusuran pada dan catatan sejarah gigi palsu mulai dikenal. Pada masa itu gigi palsu terbuat dari gading, tulang ikan paus atau tulang kudanil.
Ada pada suatu masa, ketika orang miskin yang putus asa menjual gigi aslinya, untuk dibeli dan dijadikan gigi palsu oleh orang kaya yang kebetulan gigi aslinya tanggal, atau patah. Jual beli ini tidak langsung, sangat mungkin lewat semacam pialang atau calo gigi yang saya bayangkan untung besar. Beli dari orang miskin dengan harga murah, jual ke orang kaya dengan harga tinggi. Kepada orang kaya tentu dia akan mengarang cerita siapa pemilik asli gigi asli itu - yang pasti tidak akan dimiskin-miskinkan amat. Supaya harga komoditi giginya melonjak tinggi. Oh, ya kadang pialang gigi palsu tapi asli itu juga mendapat pasokan dari gigi mayat korban perang. Huh, tak terbayang kalau saya memakai gigi palsu dari mayat korban perang.
Gigi palsu dan ban mobil ternyata bersaudara. Tak percaya? Ini ceritanya. Gigi palsu yang murah dan nyaman seperti sekarang diciptakan pada 1839 oleh Nelson Goodyear. Nelson membuat gigi dari karet keras atau vulcanite. Dia ini orang Amerika dan bersaudara kandung dengan Charles Goodyear - pengusaha yang terkenal dengan pabrik ban Goodyear-nya. Gigi palsu made in Nelson laku keras dan dibuat besar-besaran dan Nelson kaya raya dari royalti atas paten atas ciptaannya ini. Tapi hak paten itu dilepaskan saja oleh Nelson pada tahn 1881 setelah pengacaranya Josiah Bacon tewas di tangan seorang dokter gigi yang kesal karena sang pengacara kelewat rajin menagih royalti.
Saya tentu tak perlu membayangkan gigi baru saya nanti terbuat dari gading, tulang ikan paus, tulang kuda nil, dan tak perlu pula saya membayar royalti pada Nelson Goodyear. Saya juga tak akan memilih emas untuk gigi baru saya itu. Dulu di kampung orang-orang Bugis suka memakai gigi emas. Sampai timbul seloroh, kalau musim laut ganas, maka gigi emas itu digadaikan karena kebanyakan pendatang Bugis di kampung saya hidup sebagai nelayan. Bila musim angin selatan, ombak besar, mereka tak bisa melaut. Saya tak tahu apakah Pegadaian sekarang mau menerima gigi emas untuk digadaikan.
Emas atau bukan emas, gigi itu mahal. Apalagi kalau gigi inplant seperti pernah saya baca dari tulisan Pak Dahlan Iskan beberapa tahun lalu jauh sebelum dia ganti hati, setelah dia sendiri menjalani proses ganti gigi di China.
Zig Ziglar bahkan menyebut gigi-gigi yang rata adalah aset sejati. Maka, dia pun tak pernah merasa rugi berinvestasi bagi gigi-giginya dan gigi-gigi empat anaknya. Investasi itu dia sebut dalam buku kecilnya "Something Else to Smile About" berupa kawat gigi. Dia sampai pada sebuah kesimpulan (saya setuju 100 persen pada kesimpuan ini) begini: "Luruskan gigi Anda maka Anda akan memiliki senyum kemenangan. Luruskan dan kuatkan karakter Anda, maka kehidupan akan tersenyum kepada Anda".***

baca di www.hasanaspahani.blogspot.com

__________________________________________________________
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

17.

(Artikel)  "LASKAR PELANGI"  karya Andrea Hirata

Posted by: "yudhi mulianto" yudhi_sipdeh@yahoo.com   yudhi_sipdeh

Wed Oct 15, 2008 1:53 am (PDT)



Ngomong-ngomong soal Laskar pelangi.

Mungkin kita bisa belajar dari tulisan di bawah ini untuk menilai atau mencari tahu mengapa tulisan dan film LASKAR PELANGI bisa menarik hati berjuta-juta orang.

Sehingga kita bisa juga membuat karya yang serupa (menarik hati)

Berikut ulasan kritik yang bisa kita cermati :-)

Mengantar dari Luar*̢۬
Oleh Puthut EA̢̢۬۬

Sedianya, tulisan ini akan menjadi semacam pengantar pada buku kecil yang telah kelar ditulis oleh sahabat saya, Nurhady Sirimorok, yang jika tidak ada aral akan diterbitkan oleh Penerbit Insist Press di bulan ini dengan judul Laskar Pemimpi. Tetapi atas beberapa alasan, saya membatalkan pemuatan tulisan ini di buku tersebut.̢۬

̢۬Alasan saya sederhana belaka. Pertama, saya merasa bahwa tanpa tulisan ini, buku hasil karya Ady, begitu biasa saya panggil si penulis, lebih bisa hadir secara mandiri. Tulisan yang baik, menurut hemat saya, tidak perlu dikukuhkan oleh tulisan yang lain. Bahkan pada banyak hal, tulisan pengantar malah bisa menghambat dan mereduksi substansi yang ingin ditatahkan oleh si penulis.̢۬

̢۬Alasan kedua, sebagai seorang kawan yang diminta menyunting buku tersebut, mau tidak mau saya perlu memberikan apresiasi. Sebagai penyunting, sebagaimana yang pernah saya tulis di lain naskah, merupakan keberuntungan sebab saya telah dipercaya menjadi bagian dari̢۬pembaca pertama. Namun saya berpendapat, mungkin ada baiknya jika semacam pengantar ini tersebar dengan cara tersendiri, sebelum buku tersebut terbit dan tidak harus menjadi bagian dari buku tersebut. Anggaplah tulisan ini semacam hidangan pembuka, yang tidak harus dikudap tepat di acara makan bersama.̢۬

̢۬Laskar Pemimpi menyorot isi novel Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi dan kemudian melihat pula novel-novel hasil karya Andrea yang lain sebagai sekuel dari Laskar Pelangi yakni Sang Pemimpi dan Edensor. Pemilihan judul yang dilakukan oleh Ady, boleh jadi berusaha̢۬menggabungkan dua hal: substansi kritik Ady atas ketiga novel tersebut, sekaligus menggabungkan dua kata kunci yang tersurat dari judul-judul trilogi Andrea.̢۬

̢۬Saya sendiri tidak membaca ketiga tulisan Andrea. Laskar Pelangi, pernah saya coba baca, tetapi baru sampai pada halaman-halaman awal, kemudian tidak saya lanjutkan. Ini hambatan yang wajar dari seorang penulis ketika membaca tulisan penulis lain. Secara teknis, kecerdasan anak-anak kecil di luar kewajaran yang ada pada Laskar Pelangi, telah mengganggu saya. Namun saya sadar betul, hambatan saya di dalam membaca novel tersebut tidak harus ada atau dialami oleh pembaca yang lain. Setiap pembaca punya kuasa.̢۬

̢۬Jika kemudian Laskar Pelangi menarik perhatian saya, bukan karena kemudian novel ini menjadi buku yang sangat laris. Tetapi justru karena hal lain yang bersifat personal: ibu saya. Ibu saya adalah seorang pembaca yang tekun. Dia tinggal di kampung, di mana suplai bahan-bahan bacaannya berasal dari buku-buku yang saya belikan. Di kampung saya, tidak ada toko buku. Sejauh yang bisa saya ingat, jarang sekali ibu saya meminta judul buku atau nama pengarang tertentu, agar saya mengirimkannya ke rumah. Hanya ada dua nama yang langsung pernah ditunjuk oleh ibu saya agar saya mengusahakan untuk mengirimkan ke kampung: NH Dini dan Andrea Hirata.̢۬

̢۬Kalau soal NH Dini, saya tidak akan kaget. Ibu saya pernah lama menjadi guru, dan kemudian bekerja di kantor Depdiknas setingkat kecamatan. Nama NH Dini, sudah menjadi pocapan yang lama terdengar bagi para guru, pengarang perempuan yang sangat terkemuka. Saya terperanjat ketika ibu saya menyebut nama Andrea Hirata, dan dengan fasih menyebut pula judul bukunya:

Laskar Pelangi.̢۬

̢۬Saya mencoba mengusut bagaimana bisa ibu saya mendengar nama Andrea. Lalu ibu saya bercerita, suatu saat di kantornya geger oleh sebuah obrolan. Hal tersebut dikarenakan banyak di antara orang-orang di kantor ibu saya bekerja, telah menonton sebuah acara televisi dengan̢۬tajuk Kick Andy. Karena tahu persis saya selalu melunasi setiap permintaan ibu saya jika berhubungan dengan buku-buku, warga kantor tersebut meminta ibu saya agar saya mengirim buku tersebut. Dan saya dengan senang hati meluluskan permintaan itu.̢۬

̢۬Saya memang melakukan serangkaian analisa mengapa buku tersebut segera menyita perhatian para pegawai kantor yang berurusan dengan banyak guru itu. Sebab kalau alasannya sekadar menonton acara Kick Andy, terlalu lemah untuk kemudian meletupkan gairah mereka untuk segera membaca novel itu. Di sebuah kecamatan yang tidak ada toko buku, di tengah-tengah komunitas para pengajar, sebuah buku yang mereka lihat dari acara televisi yang kemudian segera memantik rasa ingin tahu banyak orang di sana, pastilah bukan sembarang buku. Sayang, analisa saya tentang fenomena tersebut tidak bisa saya ujar di sini, akan terlalu panjang dan mungkin agak kurang relevan.

̢۬Hanya saja yang jelas, ibu saya membaca tuntas Laskar Pelangi, teman-temannya juga membaca tuntas, dan mereka suka sekali dengan buku itu. Sebagai seorang penulis, saya sempat iri kepada Andrea karena ia telah membahagiakan ibu saya dan teman-temannya. Tetapi rasa iri itu tertutupi karena sekaligus saya merasa bahagia sebab bisa membuat ibu saya dan teman-temannya bahagia dengan cara yang sangat sederhana: mengirim sebuah novel ke kampung halaman.̢۬

̢۬Dengan demikian, pengalaman saya menyangkut Laskar Pelangi, hanya sederhana saja. Pertama, saya tahu kalau novel itu laris manis. Kedua, saya pernah membacanya walau hanya pada halaman-halaman awal. Dan ketiga, karena ibu saya.

̢̢۬۬Hingga kemudian, Laskar Pelangi meruyak kembali ke pikiran saya dikarenakan dua hal: saat beberapa bulan yang lalu saya secara tidak sengaja menonton acara bincang-bincang di televisi dengan bintang tamu para penulis, yang kalau tidak salah: Andrea Hirata, Moammar Emka dan Helvy Tiana Rosa. Dan yang kedua, saat Ady mengirim draf tulisannya.̢۬

̢۬Perbincangan di televisi itu, sebagaimana perbincangan yang pernah saya ikuti di dalam dunia sastra, nyaris tidak menarik secara intelektual. Mereka antara lain berdebat soal definisi sastra. Saya, sudah sejak lama punya kesimpulan soal tema itu: definisi sastra itu soal kuasa. Definisi selalu diperebutkan, dan oleh karena itu tidak pernah selesai diperdebatkan. Setiap kelompok atau penulis, berhak membuat definisi tentang sastra, dan hal itu berkaitan dengan̢۬kekuasaan. Sudah tentu, kekuasaan di sini tidak persis sama artinya dengan kekuasaan politik.̢۬

̢۬Saya sering menyitir contoh yang mudah dan gamblang. Dulu, ketika Politik Etis tengah mengalami masa panen dari program tersebut, pernah muncul yang namanya Bacaan Liar. Salah satu cirinya adalah dengan munculnya karya-karya novel berbahasa Melayu Pasar, dan dengan tema-tema yang dianggap tidak adiluhung. Tema-temanya berputar soal kriminalitas, seks, dan tentu saja soal politik. Oleh agen Kolonial yang berniat `menjaga' selera orang-orang di bawah dominasi mereka, karya tersebut sering dibilang sebagai sastra rendah, cabul, dan tidak punya selera, atau kalau dalam bahas sekarang disebut ecek-ecek. Tetapi bagi mereka yang mengusung dan memasukkan diri mereka di dalam pergerakan politik, tema tersebut merupakan bagian dari pemberontakan, termasuk pemberontakan selera yang melenakan anak bangsa.̢۬

̢۬Contoh lain yang mudah adalah saat karya-karya WS Rendra disebut sebagai pamflet, bukan sajak. Saat itu, karya yang dianggap bercitarasa adalah karya-karya yang personal, susah dipahami, dan oleh karena itu layak untuk dianggap bercitarasa tinggi. Konteks sosial saat itu, Orde Baru sedang membungkam suara rakyatnya. Kalau masih belum jelas, karya Pramodya Ananta Toer menjadi contoh yang lain. Saat Orde Baru berkuasa, karya-karya Pram tidak dianggap sastra. Tetapi saat Orde baru rontok, karya Pram kembali dielu-elukan sebagai karya̢۬sastra.̢۬

̢۬Sayangnya, sampai sekarang, jika kita mengikuti perdebatan sastra, pertanyaan soal apa itu sastra menjadi begitu penting, dan masing-masing kelompok maupun orang membuat definisi yang acakadut. Seakan-akan definisi itu patuh rumus, jumud dan pasti.̢۬

̢۬Demikian juga perdebatan antara ketiga pelaku sastra di televisi. Baik Helvy, Andrea dan Moammar berdebat soal definisi. Moammar dan Andrea berada di satu kubu, sementara Helvy di kubu yang berseberangan. Kira-kira saat itu perdebatannya seperti ini: Helvy punya definisi̢۬yang adiluhung soal sastra, tetapi Moammar dan Andrea menganggap bahwa apa yang mereka tulis merupakan sastra. Moammar, tentu Anda tahu, sering menulis tema-tema yang diangap saru. Pada titik itu, perdebatan tidak menarik karena tidak ada di antara mereka yang mencoba̢۬menyatakan bahwa definisi apapun itu, termasuk di dalam sastra, adalah soal perebutan kekuasaan. Dan karena itu definisi selalu diperebutkan karena berbagai kepentingan.̢۬

̢۬Pada bagian akhir acara itu, barulah muncul hal yang menarik. Yakni ketika Andrea dan Moammar, dengan agak mengeluh merasa bahwa mereka berdua tidak dimasukkan dalam kategori `sastrawan'. Dan pada saat yang sama, Helvy mengeluarkan keluhan yang hampir sama yakni soal: mafia sastra.̢۬

̢۬Pikiran saya langsung tercekat mendengar soal itu. Bukan soal apa-apa. Hanya soal yang sederhana: mengapa orang seperti Moammar dan Andrea masih perlu untuk dikategorikan sebagai sastrawan? Dan kenapa seseorang yang punya `kekuasaan' cukup besar seperti Helvy yang merupakan dosen sastra sekaligus penggiat kelompok sastra yang nisbi besar yakni kelompok Lingkar Pena, mengeluh soal mafia sastra?̢۬

̢۬Di sinilah ketaksaan terjadi, tidak bertemunya antara definisi dengan posisi. Mereka bertiga, secara tidak langsung telah mempraktikkan perebutan definisi sastra, tetapi di saat yang hampir bersamaan, membicarakan posisi. Hal tersebut tentu saja ganjil adanya. Kalau saja̢۬mereka menyadari soal perebutan definisi, pastilah mereka juga menyadari adanya perebutan posisi. Soal apa itu sastra selalu mempunyai hubungan dengan cap siapa saja yang berhak dianggap sastrawan.̢۬

̢۬Saya tidak akan memperdalam soal tersebut. Saya hanya mencoba memaparkan hal-hal yang bisa ditangkap sekelabatan saja, soal lapis-lapis yang melingkupi dunia sastra. Sekali lagi, maaf saja, saya ambil gampangnya saja. Kita tentu sudah mulai meraba perihal sastra dan kekuasaan. Baik yang berada di internal sastra, yakni kekuasaan di dunia sastra, maupun yang ada hubungannya dengan dunia di luar sastra.̢۬

̢۬Kalau kita sadar bahwa sastra itu punya dimensi politik, sebagai sebuah kapital yang bisa memperkuat dan melemahkan kekuasaan, maka kita selalu sadar bahwa dunia sastra adalah sebuah medan pertarungan politik dan kekuasaan. Pada sisi yang lain, kalau kita sepakat bahwa sastra mempunyai dimensi ekonomi, sebab buku diperdagangkan, maka kita sadar betul bahwa sastra juga merupakan telatah pertarungan ekonomi. Dan kalau kita mafhum bahwa ada hubungan yang kuat antara ekonomi dan politik, maka kita akan menganggukkan kepala: sastra bukan wilayah yang benar-benar otonom, suci dari urusan politik dan ekonomi.̢۬

̢۬Tentu saja, karut-marut masalah itu tidak sederhana. Diperlukan kehati-hatian tingkat tinggi untuk menganalisa sengkarut masalah dalam dunia sastra. Ada kalanya, pertarungan yang terjadi dalam dimensi politik dalam dunia sastra, sama persis dengan pertarungan di dimensi̢۬ekonomi. Tetapi ada kalanya tidak.

̢۬Saya akan memberi sedikit contoh. Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya adalah contoh di mana pada awalnya, dimensi politik sastra tidak ada hubungannya dengan dimensi ekonomi sastra. Penguasa Sastra, sebutlah begitu tetapi mohon tidak dipahami sebagai kekuasaan tunggal dan monolitik, tidak menganggap Andrea sebagai sastrawan, dan Laskar Pelangi sebagai karya sastra. Tetapi dimensi ekonomi mengatakan hal yang berbeda: Laskar Pelangi laris-manis, dan Andrea dielu-elukan di mana-mana. Hal yang sama pernah dialami oleh Moammar Emka. Sebagai contoh lain, saat terjadi merebak dan larisnya teenlit dan chicklit̢۬sekitar dua atau tiga tahun yang lalu.̢۬

̢۬Tetapi ada kalanya, dimensi politik sastra berhubungan secara langsung dengan dimensi ekonomi. Kita misalkan saja, sekali lagi ini misal, kekuatan politik sastra di Indonesia dikuasai oleh dua kelompok. Sebutlah misalnya kelompok pertama adalah kelompok Islam dan sebutlah misalnya kelompok kedua adalah kelompok Liberal. Jika petanya kita sepakati saja sebagai mudahnya seperti itu, maka berhasilnya novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman secara ekonomis, pastilah ada hubungannya dengan dimensi politik. Hal yang sama juga bisa kita andalkan untuk melihat sisi keberhasilan Ayu Utami dengan karya-karyanya.̢۬

̢۬Udaran secukupnya di atas, berusaha memaparkan dengan sederhana soal-soal di dalam sastra, yang berhubungan dengan dimensi politik dan ekonomi. Kalau kita tilik lebih jauh lagi, lebih dalam dan lebih hati-hati, maka kita akan dihadapkan pada panorama sastra yang cukup̢۬mencengangkan. Mereka yang berpikir bahwa sastra adalah hal yang otonom, dunia sunyi yang jauh dari tangan-tangan kepentingan, lebih baik menyimpan paham itu di museum bersama tulang-belulang binatang masa lalu.̢۬


Sayang sekali, kita kekurangan peneliti yang andal untuk melihat panorama tersebut. Dan karena itu, setiap kali kita hadir di wahana sastra, masih banyak orang yang ribut soal definisi sastra: yang itu sastra, yang ini bukan... Pak Itu sastrawan dan Bu Ini bukan sastrawan…


̢۬Hal tersebut di atas, agak lain soal dengan hal tersebut di bawah ini. Ketika Ady mengirimi saya draf karya tulisnya, barulah saya belajar dari sana mengenai isi Laskar Pelangi. Jadi, isi Laskar Pelangi saya pelajari bukan dari novelnya, melainkan dari karya Ady.̢۬

̢۬Tulisan Ady menyorot ke soal isi Laskar Pelangi. Itu artinya, di dalam tulisannya, Ady tidak membedah dimensi ekonomi dan politik novel Laskar Pelangi, melainkan bedah isi. Tetapi apakah betul di dalam isi sebuah novel tidak ada dimensi politiknya? Saya pribadi berpendapat:̢۬ada. Dari sebuah novel, seorang pembaca bisa dan berhak menafsir paradigma apa yang digotong dan diedarkan oleh si penulis.̢۬

̢۬Tetapi hal tersebut bukan berarti tidak kalah rumit dibanding yang telah saya paparkan dengan sederhana di atas. Sekali lagi, saya ambil gampangnya saja. Tetapi mohon dicatat, saya bukan orang yang ahli dalam hal ini. Seorang penulis ingin menyampaikan sesuatu, dan dia memakai alat bernama bahasa. Dan bahasa, kita tahu, adalah gugus nalar sekaligus alat untuk mendekati kenyataan. Karena kenyataan itu didekati, maka tidak ada jaminan bahwa yang didekati sama persis dengan yang mendekati. Itu baru dari segi produksi yakni dari sisi kreator atau penulis. Sementara dari segi konsumsi, setiap pembaca mempunyai pengalaman sosial sendiri, dan bukan seseorang yang dengan mudah didikte oleh keinginan sang kreator yang memaparkan gagasan-gagasannya. Si pembaca `memainkan' sendiri partitur yang ditulis oleh si kreator, tidak sama persis, dan mustahil memang sama persis. Seorang pembaca mempunyai hak yang sama dengan hak seorang kreator di dalam mencerna dan
menafsir sebuah tulisan.̢۬

̢۬Ady telah memenuhi haknya sebagai pembaca, dan ia menafsiri karya Andrea dengan pikirannya sendiri. Ia berusaha membongkar paradigma apa yang ngendon di novel-novel karya Andrea. Kelak bisa Anda baca, kira-kira kesimpulan Ady adalah di karya-karya Andrea, virus modernitas mengambil peran yang sangat penting. Benar tidaknya hal itu ada pada niatan Andrea, sudah tidak penting lagi. Sebab Andrea sudah kehilangan otoritasnya sebagai seorang pengarang, begitu Ady membaca karya Andrea. Dalam melihat bentuk tulisan seperti ini, yang penting adalah menyimak keruntutan nalar Ady di dalam menyampaikan gagasan-gagasannya. Tetapi harap diingat, ini seperti efek-bola-salju- tafsir, Anda yang membaca karya Ady, punya otoritas yang sama seperti yang dimiliki oleh Ady ketika membaca karya Andrea. Ady dan Andrea, bagi kita sebagai pembaca, sama-sama tidak penting.̢۬

̢۬Modernitas memang menjadi sesuatu yang tak pernah sepi dari perdebatan, apalagi di dalam konteks Indonesia sebagai negara bekas jajahan. Kesadaran atas bangsa yang terjajah mendapatkan momentum pentingnya justru di saat Politik Etis mulai dijalankan oleh pihak̢۬kolonial. Pendidikan yang pada mulanya ditujukan agar pihak kolonial mampu mendapatkan tenaga-tenaga kerja murah, selain tentu saja desakan etis dari kelompok di lingkar penjajah sendiri, membuahkan senjata bermata dua. Di satu sisi, imajinasi atas modernitas mulai merasuki kaum terpelajar Indonesia dan di sisi yang lain, sebagai senjata perlawanan karena memasok kesadaran atas keterjajahan.̢۬

̢۬Penggambaran yang paling jitu atas kondisi di atas sebetulnya bisa kita lihat pada Tetralogi Buru karya Pram. Bumimanusia, novel pertama, dibuka dengan terpukaunya si sosok protagonis, Minke, atas modernitas. Eropa beserta ilmu pengetahuan dan teknologinya, dikonsumsi dan jadi imajinasi bagi Minke. Dari mana ia mendapatkan imajinasi itu? Dari̢۬sekolah tentu saja. Sekolah siapa? Sekolah kolonial tentu saja. siapa saja agennya? Buku-buku dan para guru, yang utama pastinya.̢۬

̢۬Tetapi di adikaryatama itu pula, kalau kita jeli, polemik modernitas mulai meruyak di diri Minke. Bahasa yang digelutinya, dipakainya, yakni bahasa Belanda, harus menghadapi tantangan politis, sehingga ia memutuskan untuk menulis dalam bahasa Melayu. Nilai-nilai modern yang menghiasi pikiran Minke, harus dibenturkan dengan kasunyatan yang harus dihadapinya: penjajahan yang penuh dusta. Kesetaraan, kebebasan individu, pada akhirnya harus patuh pada gembok kolonialisme. Tetapi di sanalah ironi bersemayam, pada tahap selanjutnya, alat perlawanan modern menjadi senjatatama untuk melawan: organisasi modern, alat propaganda modern, cara berpikir dan bertindak modern.̢۬

̢۬Modernitas, sejak mula di tanah Indonesia, mengukuhkan ironi besar. Maka, di perkembangan selanjutnya, perdebatan soal modernitas menjadi wacana penting. Soal Barat dan Timur, sejak awal adalah persoalan yang tidak mudah.̢۬

̢۬Tetapi sayang, perdebatan penting itu kemudian harus berganti atmosfer. Kemenangan politik Orde baru, membuat segala hal nyaris tidak memiliki lawan baku tanding. Termasuk di antaranya adalah imajinasi atas modernitas. Mantra pembangunan, lepas landas, mengejar̢۬ketertinggalan, jauh di atas segalanya. Tanpa perlu memikir dan memilah, apa yang harus dikejar, dan apa yang tertinggal.̢۬

̢۬Pada konteks itulah, Ady dengan ciamik, memaparkan bagaimana imajinasi modernitas menyebar laksana virus supercepat, bebas hambatan, dan menjadi faktor penggerak penting di dalam novel-novel Andrea. Modernitas di Era Orde Baru adalah papan jungkat-jungkit yang berat sebelah. Sekolah itu penting, kemajuan itu penting, penaklukan itu penting. Yang tidak sekolah itu bodoh, yang tidak maju itu tertinggal, dan udik itu memalukan.̢۬

̢۬Laskar Pemimpi, menurut hemat saya, bukan semata-mata mengkritik habis karya Andrea. Bukan itu persoalannya. Tetapi Ady berusaha menyodorkan hasil analisa yang tajam, dari sesuatu yang telah lama tidak disentuh dalam dunia sastra. Menurut hemat saya, Ady hanya meminjam novel-novel Andrea untuk menjelaskan apa yang merisaukan hatinya. Ady berusaha̢۬membersihkan kacamata kita yang telah buram karena terlewat asyik menyimak pandangan-pandangan yang homogen.̢۬

̢۬Saya tidak ingin menambah problema dunia sastra kita. Tetapi memang telah lama kita kehilangan kekayaan analisa. Debat dan kritik sastra mengarah ke hal yang itu-itu saja, diulang-ulang, membosankan. Dunia sastra, sebagaimana cerminan dunia sosial kita, telah lama kehilangan gairah, kesegaran dan sifat kritis.̢۬

̢۬Rampungnya tulisan Ady, dan semoga segera diikuti dengan selesainya proses cetak, membuat saya mempunyai gairah baru. Semoga akan ada banyak karya yang mengkritisi isi produk sastra kita, dan semoga ada yang punya waktu luang, kesabaran dan keberanian untuk membeberkan dimensi politik dan ekonomi sastra kita. Tanpa pengetahuan soal itu, para pelaku sastra ibarat bermain pedang di lanskap gelap. Sibuk bergerak, menebas ke kanan dan ke kiri, kehilangan alasan utama mengapa dan untuk apa seseorang menulis, kehilangan peta dan kompas sehingga tidak tahu sedang berada di mana, dan yang paling memprihatinkan tentu saja kehilangan alasan etisnya.̢۬

̢۬* tulisan semacam pengantar menjelang terbitnya buku baru INSISTPress̢۬berjudul LASKAR PEMIMPI; Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi.̢۬Karya Nurhadi Sirimorok.̢۬

salam

yudhi

18.

[rampai]Di Sepanjang Lekuk Puri

Posted by: "fla cheya" fla_cheya@yahoo.com   fla_cheya

Wed Oct 15, 2008 2:53 am (PDT)


Kata siapa aku memenjarakanmu disepanjang lekuk puri
nafasku masih disini
ia terpaut wangi yang bersembunyi dari bilikmu
tatapku masih berkelana
ia terdura untuk jiwa yang merajut sebuah kisah
pendengaranku masih berikan sinyal
ia mendengar bibirmu yang terdiam
 
Siapa aku hingga letakkan sebuket luka
sungguh duriku enggan kuberi
siapa aku ingin rebut asamu selamanya
pahamilah... aku mengajarimu sesuatu pujangga
 
Cinta tumbuh dipilar-pilar hati
cerahkan... gelapkan... cerahkan... gelapkan...
ketika ia rela luluh lantakkan jiwa
bukan pertanda aku tak memiliki hati
ketika ia berteriak ditengah dunia
bukan pertanda aku tak melihat
karena cinta itu rasa...
 
@reply for adhetya

Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Files to share?

Send up to 1GB of

files in an IM.

Yahoo! Groups

Discover healthy

living groups and

live a full life.

Health Groups

for people over 40

Join people who are

staying in shape.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web

Tidak ada komentar: