Kamis, 13 November 2008

[daarut-tauhiid] Bila Air Mata Tak Pupus Jua

Bila Air Mata Tak Pupus Jua

Penulis : Abu Aufa

--------
KotaSantri.com : Duri tajam itu
memang menyakitkan

Karenanya sedu
sedan seakan tak tertahankan

Namun...

Hidup ini pun
tak pernah berhenti pada satu titik singgah

Lalu mengapa
tak engkau hamparkan saja sajadah dan ratakan kening di atasnya?

Mohonkan ampun
dalam hamburan do'a kepada Sang Pemilik Cinta

Nanar...

Pandangannya menerawang dari balik
jendela kaca. Di luar sana, sang dewi malam masih bersinar temaram kekuningan.
Tak henti memamerkan kecantikan pada setiap makhluk yang tersentuh cahayanya.
Saat itu, dengan tangan gemetar, dielusnya perut yang tampak semakin
membesar.

Tak seindah rembulan, raut wajahnya
kuyu dan kusam. Mata pun sembab karena ruah tangisan. Kepedihan itu masih saja
menggurat, membuat tumpukan gundah dan keluh kesah yang semakin
membuncah.

Kekecewaan jelas menyelubungi jiwa dan
raganya. Kenangan itu memang sangat menyakitkan, karena telah direnggutnya
sebuah nilai kesucian. Hati kecilnya berteriak, ingin berontak. Namun, kenyataan
tak mungkin begitu mudah terhapuskan. Lelaki yang diharapkan mestinya bagaikan
Pangeran, ternyata hanyalah seorang durjana. Memetik sari bunga, kemudian
terbang entah ke mana.

Berjuta impian tentang sebuah keluarga
perlahan sirna. Mimpi akan kerinduan rumah mungil yang penuh canda tawa, hanya
sekedar khayalan. Hasrat untuk mengukir jiwa-jiwa suci dan murni seakan
tenggelam karena tiadanya pendamping seorang qawwam. Hari-hari lalu berganti
dengan derai tangisan. Memilukan, sehingga menciptakan serpihan hati yang
berserakan di mana-mana.

Perlahan, dilangkahkan kakinya ke
pembaringan. Mencoba sejenak melepaskan lelah jiwa dan raga. Dipejamkannya mata,
namun air bening tak mudah dibendungnya. Air mata itu mengalir, bahkan membasahi
sarung bantal dan kapuk di dalamnya. Tubuhnya lemah, lunglai tiada daya. Di
kesenyapan malam, isaknya masih terdengar memilukan, menyiratkan penyesalan akan
nasibnya yang telah ditoreh nista.

Esok menjelang, dan dengan rasa letih,
ia terjaga saat sinar mentari menerpa raut wajahnya. Jiwa yang rapuh itu seakan
enggan menggerakkan raga. Tak berubah, tatapan matanya lantas kosong menerawang.
Tak pula fitrah sebagai wanita menyapa kesadarannya akan detak kecil kehidupan
di alam rahimnya. Perih itu masih ada. Luka pun masih menganga. Tanpa kuasa
menahan segalanya, kembali air bening menerobos kelopak mata.

Duhai...

Apalah daya dirinya, jika kala itu
setan telah pula mengambil peran. Sepercik darah yang mestinya tersaji setelah
ikatan suci disimpulkan, tak akan pernah lagi dihidangkan. Belaian mesra yang
diharapkan saat mereguk cinta di malam pertama pun hanyalah sekedar khayalan.

Aaah...

Indah harapan terkadang sangatlah
berbeda dengan kenyataan. Namun, bila impian itu selalu saja dipenjara dalam
jiwa, apakah ada beda antara keduanya? Penyesalan yang tiada kunjung usai pun
bukankah dapat meranggas keimanan.

Duri tajam yang pernah menancap di jiwa
memang sungguh menyakitkan. Tetapi hidup juga tidak pernah berhenti pada satu
titik persinggahan. Waktu akan selalu menggulirkan siang dan malam atas titah
Sang Pemiliknya. Lalu, mengapa tak usah hiraukan saja torehannya, bila itu
justru akan membuat hidup ini akan jauh lebih berharga.

Hapuslah air mata, hentikan juga sedu
sedan. Bila akhir sepertiga malam menjelang, hamparkan sajadah dan ratakan
kening di atasnya. Kemudian, tengadahkan telapak tangan seraya memohon ampunan
dalam jutaan butir do'a. Bersimpuh, seraya merenungkan semua kekhilafan tentu
akan lebih menenangkan jiwa.

Sabarlah...

Tiada seorang jua di dunia yang bersih
dari segala dosa dan noda. Pun, masih pula tersedia banyak lembaran kertas
untuk menggoreskan kehidupan yang lebih bermakna. Tataplah keindahan alam di
luar sana, dengar dan rasakan senandung tasbih serta tahmid yang tak henti
dialunkan penghuninya. Belajarlah dari mereka yang tercipta tidak sempurna
seperti manusia, namun tak pernah berkeluh kesah akan nasibnya.

Semoga.

Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Recent Activity
Visit Your Group
New business?

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Dog Fanatics

on Yahoo! Groups

Find people who are

crazy about dogs.

Y! Groups blog

The place to go

to stay informed

on Groups news!

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: